Indonesian Journal for Social Responsibility (IJSR) Vol. No. 01, . , pp. https://doi. org/10. 36782/ijsr. Literasi Riset Komunikasi Secara Kuantitatif di Kalangan Remaja Sigit Pramono Hadi*. Risda Rakhmayanti. Yudha Fahrezah Program Studi Ilmu Komunikasi. Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Inter Studi. Jl. Wijaya II No. 62 Kebayoran Baru. Jakarta Selatan. DKI Jakarta, 12160. Indonesia E-mail: sigitvt35@gmail. com*, risdagalia@gmail. com, yudhafahrezah55@gmail. Received: August 31, 2023 | Revised: June 26, 2024 | Accepted: September 26, 2024 Abstrak Dunia remaja adalah dunia yang masih labil. Hal ini terkait kondisi kognitif maupun kepribadian mereka yang masih dalam taraf perkembangan. Dalam situasi tersebut, remaja terkena paparan media sosial yang sangat masif dan kondisi pergaulan sosial yang intens dengan peer group-nya. Beragam fenomena sosial dan komunikasi hadir dalam keseharian mereka sehingga dituntut memiliki kemampuan yang baik untuk memahaminya. Faktanya, banyak remaja memiliki kecenderungan bersikap asosial akibat kegagalan memahami situasi yang sebenarnya. Para remaja perlu dibekali kemampuan untuk mendapatkan data yang valid guna memahami Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan memberi literasi riset komunikasi secara kuantitatif untuk para remaja. Kegiatan dilaksanakan pada pertengahan tahun 2023 di SMA Gita Kirti 3 Jakarta Selatan, dengan kehadiran 72 siswa kelas XI. Dalam kegiatan tersebut nampak jelas fenomena kelabilan para remaja tersebut. Setelah memahami paparan tentang metode dasar pengumpulan data secara kuantitif, mereka diajak melakukan simulasi survei dengan topik yang sesuai dengan isu keseharian yang dialami khususnya fenomena sosial dan komunikasi. Survei dilakukan secara daring dan hasilnya dianalisis bersama-sama. Hasil survei sederhana ini adalah data valid yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dengan demikian mereka yakin dan percaya dengan data yang diperoleh sehingga tidak ada lagi keraguan atas realitas yang sedang terjadi. Kata kunci: Kuantitatif. Literasi Digital. Remaja. Riset Komunikasi Abstract The world of youth is a world that is still unstable. This is related to their cognitive and personality conditions which are still in the stage of development. In this situation, teenagers are exposed to massive social media exposure and conditions of intense social interaction with their peer groups. Various social and communication phenomena are present in their daily lives, so they are required to have a good ability to understand them. In fact, many adolescents have a tendency to act asocially due to failure to understand the real situation. Adolescents need to be equipped with the ability to obtain valid data in order to understand their environment. This community service activity was carried out with the aim of providing quantitative communication research literacy for youth. The activity was carried out in mid-2023 at Gita Kirti 3 High School. South Jakarta, with the presence of 72 class XI students. In these activities it was clear that the phenomenon of the youth's instability mentioned above. After understanding the explanation about the basic method of collecting data quantitatively, they are invited to carry out a survey simulation with topics that are appropriate to the daily issues experienced. Sigit Pramono Hadi. Risda Rakhmayanti. Yudha Fahrezah especially social and communication phenomena. The survey was conducted online and the results were analyzed together. The results of this simple survey are valid data that can be accounted for. Thus, they believe and believe in the data obtained so that there is no longer any doubt about the reality that is happening. Keywords: Communication Research. Digital Literacy. Quantitative. Youth Pendahuluan Kasus penganiayaan sadis terhadap seorang remaja bernama David oleh remaja lain bernama Mario di Jakarta Selatan yang kini sudah bergulir di persidangan, menguak fakta yang menegaskan bahwa media sosial memang berpengaruh terhadap sikap remaja. Bersama teman-temannya dan sang korban. Mario saling berkomunikasi di media sosial dan berakhir dengan rangkaian adegan kekerasan yang terjadi secara offline (Nurcahyo & Ihsanuddin, 2. Kasus lain di Pasuruan juga bermodus serupa. Dikarenakan selalu bersikap pasif . idak pernah berkomenta. dalam sebuah grup WhatsApp (WA) pertemanan, seorang remaja SMP dihajar habis-habisan oleh teman-temannya sendiri (Darmawan, 2. Kedua kasus di atas, plus rentetan tawuran remaja yang diprovokasi berita-berita tidak benar . di media sosial yang tentu menambah panjang deretan kasus-kasus remaja yang dipengaruhi cara berpikir mereka yang minim logika. Remaja yang berkembang di lingkungan yang kurang kondusif, kematangan emosionalitasnya terhambat sehingga akan mengakibatkan tingkah laku negatif misalnya agresif dan lari dari kenyataan (Sary, 2. Menurut Hardiyanto and Romadhona . , perilaku menyimpang yang biasanya dilakukan para remaja seperti minum-minuman keras, tawuran, seks bebas, judi, membolos sekolah merupakan perwujudan dari perilaku remaja yang melanggar norma di dalam sebuah masyarakat sehingga timbul kekhawatiran akan terjadinya tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja itu sendiri. Salah satu faktor dominan dalam kehidupan remaja tentu adalah masifnya penggunaan media sosial (Doni, 2. Paparan konten yang belum tentu valid mempengaruhi logika dan pemahaman mereka. Hal ini menyebabkan perubahan signifikan di berbagai aspek kehidupan mulai dari pergaulan, konsumsi media, pendidikan hingga agama. Aneka interaksi dan komunikasi remaja dilakukan melalui media sosial sehingga seolah-olah menggantikan semua interaksi dan komunikasi secara konvensional. Menurut Putri dkk. , saat ini remaja beranggapan bahwa semakin aktif dirinya di media sosial maka mereka akan semakin dianggap keren dan gaul. Sedangkan remaja yang tidak mempunyai media sosial biasanya dianggap kuno Literasi Riset Komunikasi Secara Kuantitatif di Kalangan Remaja atau ketinggalan jaman dan kurang bergaul. Perilaku tersebut dilakukan bertujuan untuk mencari kesenangan. Salah satu cara yang dicari adalah kenyamanan fisik dimana dalam hal ini dilatar belakangi oleh sifat remaja yang akan merasa senang dan nyaman ketika dia memakai barang yang dapat membuatnya trendy (Lestarina, dkk. , 2. Menurut Fitri . remaja yang masih dalam proses transisi menuju dewasa ini berada di tahap pencarian jati diri, emosi yang masih labil, mental belum matang, emosional, dan interaksi sosial yang belum mapan. Dengan penggunaan media sosial yang tak terbatas, para remaja menunjukkan identitas dirinya dalam bentuk yang berbeda-beda baik dari segi pakaian, cara berbicara dan lainnya. Banyak pula kasus-kasus negatif yang muncul sebagai dampak hilirnya yaitu para remaja ada yang bersifat brutal, seperti contoh kasus-kasus di atas. Hal ini dikarenakan mereka belum bisa menyaring informasi-informasi yang diperoleh dari media Pada masa remaja terdapat beberapa perkembangan yang harus dihadapi, salah satunya adalah perkembangan kemandirian. Peran orang tua tidak terlepas pada pembentukan kemandirian remaja karena adanya hubungan emosional antara orang tua dan remaja (Dewi & Valentina, 2. Sebuah studi tentang remaja di Belanda memberikan gambaran bahwa untuk beberapa jenis perilaku . isalnya membolos, merokok, dan konsumsi alkoho. , interaksi sosial endogen dalam kelas sekolah bersifat kuat. untuk perilaku lainnya, perilaku tersebut bersifat moderat atau tidak penting. Interaksi dalam gender umumnya lebih kuat dibandingkan interaksi antara anak laki-laki dan perempuan, dengan beberapa pengecualian yang menarik (Kooreman, 2. Papapolydorou . menyatakan bahwa kelas sosial terus menjadi hal yang penting dalam kehidupan remaja. Meskipun ada persinggungannya, jaringan persahabatan siswa secara dinamis dipengaruhi oleh kesenjangan kelas. Remaja perlu dibekali pengetahuan untuk memahami informasi secara tepat tentang berbagai fenomena sosial yang dilihatnya atau konten komunikasi yang diikutinya. Pemahaman yang akurat ini akan membawa mereka pada sikap yang lebih tepat pula. Pembekalan perlu dilakukan secara digital yang merupakan pemahaman natural mereka sebagai generasi digital. Secara umum literasi adalah kemampuan seseorang dalam menulis serta membaca informasi. Literasi bukan hanya tentang membaca melainkan juga mencakup visual dan digital. Literasi digital dimaknai sebagai kemampuan seseorang untuk membaca, menganalisis, menyaring, dan mengolah informasi secara digital yang tersebar melalui berbagai media yang berbasis A. Sigit Pramono Hadi. Risda Rakhmayanti. Yudha Fahrezah Sehingga seseorang disebut memiliki kemampuan literasi digital jika mampu menemukan dan memaknai informasi tersebut dengan akurat (Hadi, 2. Dalam konteks akademik, riset tentang kemampuan remaja melakukan komunikasi ilmiah sudah pernah dilakukan. Nurlaelah dkk. dalam penelitiannya menemukan bahwa kemampuan komunikasi ilmiah peserta didik pada kegiatan Karya Ilmiah Remaja (KIR) berbasis riset terintegrasi Keterampilan Proses Sains (KPS) masih belum cukup baik. Meskipun kemampuan membuat grafik cukup baik namun keberanian peserta didik dalam mengeksplorasi data yang dijumpai menjadi kalimat yang baik masih kurang. Kemampuan mereka menginterpretasi data juga masih sangat kurang. Meski demikian, kemampuan mereka cukup baik dalam membuat kesimpulan. Oleh karena itu remaja membutuhkan pembekalan untuk dapat memahami fenomena sosial maupun informasi yang diperoleh. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan alat . yang sederhana namun tetap mengikuti kaidah-kaidah ilmiah. Dari sisi praktis, penggunaan metode ilmiah yang sederhana . an mudah digunaka. dapat disarankan agar para remaja mau mencobanya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengajak remaja berpikir secara kritis memahami fenomena di sekitarnya. Tools ilmiah yang dapat digunakan remaja untuk memahami fenomena sosial dan komunikasi tentunya adalah dengan melakukan riset Agar lebih sederhana pemaknaannya maka disarankan agar mereka melakukan riset secara kuantitatif. Pendekatan ini dianggap lebih mudah dipahami oleh logika remaja karena mengedepankan pemaknaan data-data yang berupa angka . Maka tools yang dimaksud adalah riset komunikasi secara kuantitatif. Riset kuantitatif yang sederhana adalah berupa survei dimana remaja . ebagai penelit. melakukan kegiatan mengumpulkan data untuk diolah menjadi informasi yang valid. Data-data diperoleh dari para responden yang mengisi angket. Kemudian data-data tersebut diolah . dan menghasilkan angka-angka yang bisa dimaknai secara tepat. Kegiatan memaknai inilah yang mengubah data angka menjadi informasi. Berbagai topik riset sosial dan komunikasi yang dapat dilakukan oleh remaja bisa diinspirasi dari kegiatan mereka sehari-hari. Beberapa contoh diantaranya misalnya adalah pendapat remaja tentang kebiasaan belajar, main game, perilaku merokok, wisata, berita bohong, menonton film di Netflix, hingga preferensi platform media sosial yang digunakan. Jika Literasi Riset Komunikasi Secara Kuantitatif di Kalangan Remaja terkait isu yang sensitif maka para remaja perlu didampingi seorang ahli dalam melaksanakan kegiatan riset ini agar menghasilkan informasi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Riset kuantitatif adalah upaya seorang peneliti menemukan pengetahuan dengan menyuguhkan data dalam bentuk angka. Angka-angka yang diperoleh inilah yang digunakan untuk melakukan analisis keterangan (Rakhmawati, 2. Secara simpel, riset kuantitatif adalah kegiatan ilmiah secara sistematis terhadap beberapa variabel dan mencoba menemukan kausalitas untuk mengetahui keterkaitannya. Salah satu caranya adalah yang disebut survei. Sesederhana apapun, jika remaja sudah mengumpulkan data pendapat dari audiensnya, maka dia dianggap sudah melakukan kegiatan riset. Metode survei ini menggunakan kuesioner sebagai instrumen untuk mengumpulkan data. Dengan menggunakan metode ini maka peneliti mengambil jarak terhadap subjek penelitian sehingga dengan demikian data yang diperoleh adalah murni merupakan pendapat subjek tanpa campur tangan dari peneliti. Sedangkan yang disebut instrumen adalah angket (Hadi. Dalam riset kuantitatif ini diperlukan pemahaman tentang populasi dan sampel. Populasi adalah data-data homogen yang tergabung menjadi satu himpunan dan kelak akan menjadi wilayah generalisasi hasil riset. Sampel merupakan bagian dari populasi sehingga memiliki karakteristik yang identik dengan populasi. Jadi karakteristik sampel identik dengan karakteristik populasi. Jika populasi merupakan himpunan data yang besar, maka biasanya peneliti tidak mampu untuk melakukan riset di wilayah tersebut. Oleh karenanya, peneliti kemudian memilih sampel yang jumlahnya lebih sedikit tetapi representatif . ewakili populas. agar kegiatan riset menjadi lebih simpel dan memungkinkan untuk dilakukan. Hal penting lain dalam riset kuantitatif adalah terkait teknik memilih responden . , yang biasanya disebut sebagai teknik sampling. Ada dua jenis teknik sampling yaitu secara acak . dan tidak acak . Teknik sampling atau secara acak adalah memilih sampel dengan cara memberi peluang yang sama kepada seluruh anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Sedangkan teknik sampling secara tidak acak adalah sebaliknya. Caracara ini nanti akan berdampak pada cara memahami kesimpulannya. Jika secara acak, maka kesimpulan riset akan menggambarkan keadaan seluruh populasi . ukan hanya segelintir sampel saj. Jika secara tidak acak, maka kesimpulan akan menggambarkan keadaan sampel A. Sigit Pramono Hadi. Risda Rakhmayanti. Yudha Fahrezah Jadi secara umum riset secara kuantitatif berbeda dengan riset secara kualitatif. Ada beberapa perbedaan pokok diantara keduanya. Menurut (Barlian, 2. beberapa karakteristik riset kuantitatif adalah: Mengukur fakta dengan alat ukur yang standar: alat ukur dalam riset kuantitatif adalah berupa angket. Angket harus divalidasi agar menghasilkan data yang valid. Fokus pada variabel . alam topi. yang telah dipilih: variabel harus dapat diukur . enggunakan angke. Alat ukur harus konsisten: dilakukan uji reliabilitas untuk menentukan apakah alat ukurnya konsisten atau tidak. Topik bersifat bebas nilai . ari nilai-nilai moral dan buday. Tidak tergantung dari konteks topik tersebut. Terdiri atas subjek yang banyak: menggunakan responden dalam jumlah yang banyak, jumlahnya tergantung dari kebutuhan atas topik yang dipilih. Menggunakan sampel dan analisis statistik: data dari sampel dianalisis dengan menggunakan statistik yang sesuai. Hasilnya bisa digeneralisasi: meskipun pengukuran dilakukan di level sampel, namun hasilnya bisa mewakili kondisi di level populasi. Metodologi Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan literasi melakukan riset komunikasi secara kuantitatif di kalangan remaja. Seperti disebutkan dalam artikel rujukan bahwa remaja memiliki kepribadian yang belum stabil adalah nyata betul terlihat dalam pertemuan di SMA Gita Kirtti 3 Jakarta yang berlokasi di Radio Dalam. Jakarta Selatan. Di dalam kelas gabungan yang sudah disiapkan, mereka masih bercanda ria meskipun kepala sekolah dan guru sudah mengatur ruangan dengan rapi dan meminta para siswa untuk Mereka mudah sekali terpancing gangguan dari teman-temannya. Dari kalimat-kalimat yang diucapkan masih terkesan daya kognitif yang lemah dan belum matangnya kepribadian. Format kegiatan ini adalah pemaparan materi tentang riset kuantitatif, tanya jawab dan kemudian praktek. Pemaparan didahului dengan beberapa contoh fenomena sosial yang terjadi di kalangan remaja untuk menarik perhatian mereka. Fenomena-fenomena tersebut merupakan hal-hal yang terjadi dalam keseharian para remaja. Kemudian peserta diajak untuk bernalar memaknai kejadian-kejadian tersebut menurut versi mereka. Keragaman pendapat Literasi Riset Komunikasi Secara Kuantitatif di Kalangan Remaja yang mengemuka akhirnya memunculkan suasana pro-kontra yang membuat suasana riuh. Kemudian peserta diajak untuk memahami pentingnya data yang valid guna memahami fenomena tersebut, karena dengan data yang valid maka semua pihak seharusnya memiliki pemahaman yang sama. Dan akhirnya dipaparkan alat sederhana untuk mendapatkan data valid tersebut, yaitu survei yang pada hakekatnya adalah merupakan kegiatan riset kuantitatif. Pada sesi tanya jawab sebetulnya cukup banyak peserta yang ingin memperoleh gambaran lebih lengkap tentang teknis melaksanakan survei ini. Namun memang tidak mudah memaparkan metode survei secara detail dan lengkap dalam waktu yang sangat singkat. Maka paparan lebih difokuskan pada hal-hal mendasar yang mencakup inti bagaimana melakukan riset secara kuantitatif. Setelah selesai tanya jawab, peserta diajak melakukan sebuah survei sederhana dengan topik yang menarik, yaitu bagaimana pendapat mereka jika kelas dipisah berdasar jenis kelamin. Kemudian juga, supaya pendapat terbelah secara ekstrem, ditanyakan bagaimana pendapat mereka jika kegiatan belajar mengajar dipindah dari jam pagi-siang ke jam sore-malam hari. Pendapat peserta dikirimkan ke sebuah tautan Google Form, lalu dianalisis bersama-sama. Hasil dan Pembahasan Mencoba memahami logika berpikir para remaja sebenarnya gampang-gampang sulit. Disebut gampang karena kemampuan nalar mereka memang belum stabil dan masih mudah dipengaruhi pendapat orang lain. Namun memahami nalar para remaja juga sering sulit karena mereka terkadang lebih percaya pada lingkungannya terutama sahabat dekatnya . eer Menurut (Utama, 2. di negara-negara berkembang seperti Indonesia masih banyak remaja yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal. Sebagian masih tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi. Oleh karena itu diperlukan data-data valid untuk mengajak mereka memahami realitas yang sedang terjadi. Dalam pertemuan di dalam kelas SMA Gita Kirtti 3 Jakarta, para siswa berkomunikasi satu sama lain dalam suasana saling berbisik, ada yang bercanda, saling mengejek, dan bahkan saling bersahutan dari kejauhan. Bentuk komunikasi-komunikasi ini merupakan refleksi alamiah dan keseharian mereka yang tidak jarang kemudian berkembang menjadi perselisihan. Demikian juga ketika dilontarkan isu-isu yang menyentuh kejadian keseharian mereka A. Sigit Pramono Hadi. Risda Rakhmayanti. Yudha Fahrezah kemudian saling berpolemik. Disinilah kemudian diperlukan alat untuk menengahi pendapat yang pro-kontra, yaitu berupa data. Data yang meyakinkan mereka adalah data berupa angka. Hal ini sesuai dengan pendapat Permana dan Fatmawati . yang menyatakan bahwa pemahaman literasi remaja masih rendah namun terkait metode ilmiah secara umum sudah cukup tinggi. Sesaat kemudian para siswa diajak untuk melihat contoh-contoh data kuantitatif dari fenomena kejadian sehari-hari. Dengan pemahaman kognitif atas data-data tersebut, perlahan-lahan mereka bersepakat dan mulai memahami dengan benar. Dari sini kemudian mereka diajak untuk bersimulasi mendapatkan data bersama-sama dengan dipandu Isu yang diangkat adalah keseharian mereka sebagai pelajar sehingga mudah memahami dan bisa memberikan pendapat. Isu tersebut yaitu bagaimana pendapat mereka jika kelas dipisah berdasar jenis kelamin. Lalu juga bagaimana pendapat mereka jika kegiatan belajar mengajar dipindah dari pagi-siang ke sore-malam hari. Pendapat peserta dikirimkan ke sebuah tautan Google Form, lalu dianalisis bersama-sama. Para siswa diminta memberikan pendapatnya dengan mengirimkannya ke sebuah tautan Google Form. Seluruh pendapat ditampung, kemudian hasilnya diperlihatkan kepada para siswa dimana mereka bisa melihat nama masing-masing responden beserta pendapatnya. Seluruh pendapat tersebut kemudian diperlihatkan hasil perhitungannya berupa visual grafikgrafik yang mencantumkan angka-angka persentase. Kemudian mereka diajak bersama-sama untuk memaknai angka-angka persentase tersebut secara tepat agar tidak terjadi kesalahan. Dengan demikian mereka mengalami sendiri bagaimana memaknai data-data yang diperoleh sehingga hasilnya adalah sebuah makna yang menggambarkan realitas yang bisa dipercaya dan menjadi rujukan. Tabel 1 menunjukkan perbandingan kognitif audiens sebelum dan setelah kegiatan diskusi. Tabel 1. Analisis Perbandingan Kognitif Audiens Sebelum dan Setelah Kegiatan Topik Pemahaman Isu-isu yang pro-kontra Melihat data kuantitatif Sebelum Acara Saling tidak percaya Memaknai sesuai pendapat pribadi Setelah Acara Kesepahaman bersama Memaknai sesuai makna data Bisa membuat sendiri pengambilan data kuantitatif Pengambilan data kuantitatif Belum bisa Literasi Riset Komunikasi Secara Kuantitatif di Kalangan Remaja Dari Tabel 1 dapat diamati bagaimana perubahan yang terjadi dalam aspek kognitif audiens saat mengikuti acara yang dilaksanakan. Dari berpendapat secara subjektif mereka kemudian dapat memilliki pemahaman yang sama terhadap isu-isu pro-kontra yang dibahas. Kemudian mereka dapat memahamai bagaimana memaknai sebuah data dengan cara pandang yang objektif. Dan akhirnya mereka dapat membuat sendiri daftar beberapa pertanyaan sederhana, yang kemudian dijadikan alat . untuk memperoleh data untuk kemudian disajikan dalam bentuk-bentuk grafik yang mudah dipahami. Kesimpulan Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan di SMA Gita Kirtti 3 Jakarta ini telah berhasil memberikan literasi kepada para remaja bagaimana melakukan sebuah kegiatan riset kuantitatif berupa survei untuk mendapatkan informasi yang valid terkait isu-isu sosial dan komunikasi yang menjadi keseharian mereka. Informasi yang valid ini dapat dipergunakan para remaja sebagai rujukan dalam berinteraksi dengan teman-temannya maupun untuk mengambil sikap yang benar terkait isu-isu yang lebih serius atau bahkan sensitif. Sangat disarankan agar para remaja didampingi ahli dalam menjalankan kegiatan survei ini terlebih jika menyangkut isu-isu yang penting atau sensitif sehingga mereka dapat melaksanakannya dengan benar. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan dan Manajemen SMA Gita Kirti 3 Jakarta Selatan atas berkenannya memberikan kesempatan kepada kami melaksanakan kegiatan pembangunan literasi siswa-siswi didik berpikir kritis untuk memaknai berbagai fenomena di masyarakat. Semoga kelak mereka akan tumbuh menjadi insan nasional yang maju, selalu kritis dan kontributif dalam pembangunan negara. Daftar Pustaka