Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 LEMBAGA PESANTREN DI KALIMANTAN BARAT: STUDI ATAS PENDIRI. SEJARAH DAN KEGIATAN PENDIDIKAN DI PESANTREN AL-AZIZ. DESA PASAK. KUBU RAYA Wendi Parwanto* Sulaiman** *Doktor Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Dosen IAIN Pontianak. Indonesia ** IAIN Pontianak. Kalimantan Barat. Indonesia *E-mail: wendiparwanto2@gmail. **E-mail: sulaiman1234@gmail. Abstract Some researchers have researched Islamic boarding schools in West Kalimantan. However, their research tended to be descriptive-exploratory, and they did not attempt to read these themes from a social theory Therefore, this research will use social theory, namely Michel FoucaultAos genealogical theory of knowledge and Peter L. BergerAos sociological theory of knowledge. This study aims to describe the founder, history, and educational activities of the Al-Aziz Islamic boarding school in Pasak village. Kubu Raya. The type of this study is field research, employing a descriptive and analytical method. The results of this article are as follows: first, the scientific genealogy of K. Marzuki was shaped by his family environment, his teachers, life experiences, and reading sources. Second. MarzukiAos work in Al-Aziz Islamic Boarding School is summarised in the sociology of knowledge theory, which includes three variables, namely . Externalisation, this phase is the process of outpouring the knowledge that Marzuki has obtained in social and educational realities, . Objectification, is the knowledge that he has poured out in social reality entering the stage of institutionalization and legitimacy, and . Internalisation, is the process of socialization, both primary socialization . n the family environmen. and secondary . n the broader environment, including in social and educational realities and taking place continuously for a long tim. Keywords: Inisiator. History. Al-Aziz Islamic Boarding School. Kubu Raya. West Kalimantan Abstrak Beberapa peneliti telah melakukan riset atau kajian tentang pesantren di Kalimantan Barat. Namun penelitian yang mereka lakukan cenderung bersifat deskriptif-eksploratif, dan belum berusaha membaca tema-tema tersebut dengan perspektif teori sosial. Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis akan menggunakan teori sosial, yaitu teori genealogi pengetahuan Michel Foulcault dan teori sosiologi pengetahuan Peter L. Berger. Jenis penelitian ini adalah studi lapangan dengan metode deskriptif analisis. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan studi atas pendiri, sejarah dan kegiatan pendidikan di pesantren al-aziz, desa pasak, kubu raya Hasil dari artikel ini adalah: pertama, genealogi keilmuan K. Marzuki dibentuk mulai dari lingkungan keluarga, guru-gurunya, pengalaman hidupnya, hingga sumber-sumber Kedua, kiprah K. Marzuki dalam pesantren Al-Aziz terangkum dalam teori sosiologi pengetahuan, yangmencakup tiga variabel, yaitu . Eksternalisasi, fase ini adalah proses pencurahan keilmuan yang telah didapatkan oleh K. Marzuki dalam realitas sosial dan pendidikan, . Objektivikasi, adalah keilmuan yang telah beliau curahkan dalam realitas sosial memasuki tahap institusionalisasi dan legitimasi, dan . Internalisasi, adalah proses sosialisasi, baik sosialisasi primer . alam lingkungan keluarg. maupun sekunder . alam lingkungan yang lebih luas, termasuk dalam realitas sosial dan pendidikan serta berlangsung secara terus-menerus dalam waktu yang lam. Kata Kunci: Sejarah. Pendiri. Pesantren Al-Aziz. Desa Pasak. Kubu Raya. Kalimantan Barat. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Pondok Pesantren Hidayatul Muhsinin Kubu RayaAy dalam penelitian ini, ia Hidayatul Muhsinin sebagai objek Penelitian difokuskan pada formulasi dan adopsi kebijakan pendidikan di pondok Hidayatul Muhsinin dilakukan melalui enam tahapan yaitu implementasi kebijakan dan evaluasi kebijakan (Nugraha et al. , 2. Kemudian Syaiful Ilmi dan Ardiansyah, ia meneliti tentang AuPeran Pesantren dalam Mencegah Gerakan Radikalisme di Kalimantan BaratAy, dalam penelitian ini, ia menjadikan penelitian, yaitu Pesantren Darul Khairat. Pesantren Makarim al-Akhlak. Pesantren Darul Ulum dan Pesantren Darussalam. Penelitian difokuskan pada analisis strategi pesantren di Kalimantan Barat dalam menanggulangi gerakan radikalisme dengan paradigma AGIL (Ilmi & Ardiansyah, 2. Tatang Luqman Hakim dan Iwan Sopwandin, ia meneliti tentang AuPeran Kiai Dalam Pembinaan Akhlak Sanxtri di Pondok PesantrenAy, dalam penelitian ini, ia mengambil objek penelitian di pondok pesantren Manarul Huda. fokus kajian yang dibidiknya adalah pada aspek peranan kiai dalam proses pembinaan akhlak santri (Adnani, 2. PENDAHULUAN Di antara elemen sentral dalam dunia atau lembaga pesantren adalah seorang kiai (Adnani, 2021. Falikul Isbah, 2. Banyak pesantren yang diawali atau dirintis seorang kiai atau guru ngaji mulai dari lembaga pendidikan Al-Qur`an yang sederhana, misalnya pengajian yang dilakukan di rumah guru. Ustadz atau kiai, sehingga lambat laun, siswa atau murid yang datang dan berminat untuk mengaji semakin banyak (Mujahid, 2021. Rahman, 2. Hingga dengan dukungan dan sokongan pendanaan, umumnya memunculkan inisiatif untuk membangun sebuah Lembaga (NiAomah et al. , 2. Demikian juga di Desa Pasak. Kubu Raya. Kalimantan Barat, dikenal seorang K. Marzuki, seorang Kyai yang dari Malang, kemudian merantau ke Kalimantan Barat, dan cukup banyak berkiprah di sejumlah lembaga pendidikan dalam historisitas Marazuki juga Pesantren Al-Aziz, di Desa Pasak. Kubu Raya. Kalimantan Barat, dan pesantren tersebut masih eksis beroprasi hingga saat ini. Sebenarnya, penelitian tentang khususnya pesantren di Kalimantan Barat telah dilakukan oleh sejumlah peneliti, di antaranya seperti penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Tisna Nugraha, dkk. Ia meneliti tentang AuFormulasi Kebijakan Pendidikan di Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Selanjutnya dunia pesantren di Kalimantan Barat juga dilakukan oleh Khairuman, dkk dengan judul AuPeran Pondok Pesantren Hidayatul Muhsinin Dalam Dunia Pendidikan di Kalimantan Barat Sejak 1998-2019Ay fokus utama yang diteliti dalam penelitian ini adalah . Bagaimanakah sejarah awal berdirinya pondok pesantren Hidayatul Muhsinin. Bagaimanakah Hidayatul Muhsinin, dan . Bagaimana pola pendidikan pondok pesantren Hidayatul Muhsinin (Jaya et al. , 2. Jadi dari empat tema penelitian tentang dunia pesantren di atas, cukup merepresentasikan bahwa belum ada menjadikan Pesantren Al-Aziz. Kubu Raya dan Kyai Marzuki sebagai objek utama kajian. Di samping itu, pada sejumlah penelitian di atas belum ada penelitian yang memotret realitas pesantren dari teori-teori filsafat sosial, karena memang yang menjadi titik fokus kajian atau penelitian yang mereka lakukan adalah sifatnya deskriptif-eksploratif. Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis berupaya mengkaji realitas sosio-biografis dan Marzuki pendekatan filsafat sosial, dengan fokus pada dua rumusan utama, yakni . mengeksplorasi bagaimana realitas sosio-biografis K. Marzuki Asad Malik dan setting historis Pesantren AlAziz. Membaca tentang bagaimana kiprah KH. Marzuki dengan . ocial constructio. yang diintrodusir oleh Peter L. Berger. Untuk masalah pertama, tentang konstruksi biografi K. Marzuki, penulis akan menggunakan teori genealogi Michel Foucault. Teori ini yang secara sederhana dapat didefiniskan bahwa Ae dalam melihat pemikiran seorang tokoh, tentunya tidak terlepas dari penelitian tentang sejumlah variabel yang ikut andil dalam membentuk karakter, pemikiran dan tingkah seperti lingkungan keluarga, sosial-kultural-keagamaan, gurugurunya, literatur bacaannya, agenagen yang ia apresiasi, pengalaman hidupnya dan sejumlah variabel linier lainnya (Michel Foulcault, 1. Oleh karena itu, dalam melihat konstruksi atau konfigurasi pemikiran K. Marzuki, penulis akan mengeksplorasi sejumlah variabel tersebut. Kemudian untuk menjelaskan dan menjawab rumusan masalah kedua, penulis akan memetakan kiprah K. Marzuki Asad Malik dengan teori Sosiologi Pengetahuan diproklamirkan oleh Peter L. Berger. Dalam teori ini, ada tiga variabel utama Eksternalisasi. Objektivikasi Internalisasi (Berger & Luckmann. Kontribusi penelitian ini adalah: Pertama penelitian ini menjadi titik beda dari penelitian yang telah dilakukan oleh sejumlah peneliti di atas tentang Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 perkembangan pesantren dan Kyai di Kalimantan Barat. Fokus kajiannya adalah pada kontribusi teori-teori filsafat sosial dalam menafsirkan wacana bahasan yang disuguhkan, karena selama ini penelitian tentang Pesantren Kalimantan Barat, cenderung berkisar pada wilayah deskriptif-eksploratif dan belum terlalu menyentuh aspek-aspek aksentuasi teori filsafat sosial dalam membidik problem yang diusung. Kedua memberikan informasi bahwa ada seorang Kyai di pedalaman Kubu Raya yang berasal dari Malang, kemudian mendirikan Pesantren Al-Aziz Ae yang pesantrennya masih eksis sampai saat Di sisi lain, tentunya pesantren tersebut dapat dijadikan studi banding dengan pesantren-pesantren lainnya, khususnya yang ada di Kalimantan Barat, baik dalam hal manajemen operasional, pendidikan dan lain menggunakan teori dalam ilmu filsafat pengetahuan Michel Foucault dan teori sosiologi pengetahuan Peter L. Berger. Lokasi dalam penelitian ini adalah di lembaga pendidikan Pesantren AlAziz, yang terletak di Desa Pasak, kabupaten Kubu Raya. Kalimantan Barat. Rentang waktu penelitian atau pengumpulan data lapangan dilakukan pada bulan Januari tahun 2025. Teknik wawancara tidak terstruktur, kemudian dikuatkan dengan observasi nonpartisipan dan dokumentasi (Nanang Martono, 2011. Parwanto. Wendi. Sulaiman, 2. Sumber data primer adalah tokoh-tokoh otoritatif yang berkecimpung dalam pesantren atau tokoh-tokoh kedekatan dengan sumber utama yang Sedangkan sekunder adalah sumber relevan lainnya baik cetak maupun online yang dapat memperkuat konstruksi teoritis, metodologi maupun analisis yang Teknik penentuan sumber data utama dalam kajian ini adalah dengan model purposive sampling, teknik ini dipilih adalah karena menginginkan data yang diperoleh adalah data-data yang akurat dan representatif dari sumber kredibel karena orang-orang mendalam tentang objek yang diteliti (Ramdhan, 2. Kemudian teknik penyajian data adalah: METODE Penelitian kualitatif dengan jenis penelitian Penelitian lapangan . ield researc. adalah penelitian yang dilakukan dengan pengumpulan data lapangan baik dengan wawancara, observasi dan dokumentasi (Albi Anggianto dan Johan Setiawan, 2018. Parwanto & Antika, 2. Sedangkan metode yang digunakan adalah dengan deskriptif-analisis. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Pertama. Reduksi data . eduction of dat. , yakni memilih atau memilih data serta memfokuskan pada data-data utama untuk disajikan, artinya datadata yang diperoleh di lapangan disederhanakan menjadi data utama yang siap disajikan. Jadi, dalam penelitian ini jawaban-jawaban yang diberikan oleh para narasumber dipilah dan diambil yang sesuai dengan fokus penelitian yang dilakukan. Kedua. Penyajian data . isplay of dat. , menyajikan atau mendeskripsikan data utama dalam bentuk naratif, deskriptif, tabel yang siap untuk dianalisis dengan pisau analisis yang sudah dipilih. Dalam tulisan ini, data lapangan yang sudah didapatkan Ketiga, penarikan kesimpulan . nalysis and conclusio. , melakukan analisis atau data yang disajikan dan menarik sebuah kesimpulan (Sugiyono, 2. Jadi dari data yang sudah disajikan dalam bentuk narasi deskriptif, lalu data-data tersebut dianalisis menggunakan dua pengetahuan dan konstruksi sosial. Abdullah BaAosyiban Sayyid Abdurrahim BaAosyiban b. Sayyid Abdurrahman BaAosyiban b. Sayyid Umar BaAosyiban. Sedangkan dari keturunan marga Adzmatkhon K. Marzuki Asad Malik Dahri b. Abdul Bani Mbah Fatimah Binti K. Abdul Qadir b. Maulana Sayyid Qarimullah b. Nyai Arumi Binti Syaikh Muzaki (Bujuk Batu Kolon. Syaikh Abdul Hadim Shohib Syaikh Abdul Mufid b. Syaikh Abdullah b. Syaikh Hasan b. Syaikh Abdurrahman b. Syaikh Ribet b. Pangeran Keba b. Sayyid Ali Khairul Fatihin (Sunan Kulo. Maulana Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Gir. Jadi berdasarkan rantai nasab di atas, terlihat bahwa rantai nasab keturunan KH. Marzuki Muhammad Ainul Yaqin, yaitu Sunan Giri, sedangkan rantai nasab Sunan Giri adalah bersambung kepada Rasulullah Saw dari jalur Husein b. Ali. Dengan demikian, membuktikan bahwa rantai nasab KH. Marzuki bersambung hingga Nabi Muhammad Saw. (Bibit Suprapto. Soekma Karya, 1. Marzuki Asad Malik lahir. JumAoat, 01 April 1969 di Dusun Prangas. Desa Kampung Anyar. Kecamatan Dampit. Kabupaten Malang. Beliau lahir dari pasangan Kyai Dahri dan Nyai Hajjah Ratemi. Beliau memiliki dua gelar marga yaitu BaAosyaiban dan Adzmatkhon. Beliau menggunakan marga BaAoSyiban, karena gelar ini dinisbatkan kepada orang dari pihak bapaknya. Beliau memulai HASIL DAN PEMBAHASAN Pendiri: Rantai Nasab dan SosioBiografi K. Marzuki Asad Malik Nama lengkap K. Marzuki adalah K. Marzuki Asad Malik b. Dahri b. Abdul Bani Mbah Fatimah Binti K. Abdul Qadir b. Maulana Sayyid Karimullah BaAosyiban Muhammad Ali BaAosyiban b. Sayyid Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 jenjang pendidikannya dari sekolah SR (Sekolah Rakya. setelah lulus, beliau melanjutkan jenjang pendidikan MTs dan SMA di kampung halamannya (Aziz, 12 Januari 2. Setelah KH. Marzuki menyelesaikan pendidikan tingkat atas (SMA), pendidikannya di jenjang perguruan tinggi yaitu di IKIP/PGRI Malang. Dengan masa kuliah selama empat tahun, beliau mendapatkan ijazah serta gelar akademis D2 dengan nilai yang Kemudian selang beberapa bulan kemudian, beliau melanjutkan rihlah intelektualnya dalam bidang pendidikan PPAI (Pendidikan Pondok Pesantren dan Pendidikan Agam. , lembaga pendidikan ini terletak di Desa Sukoraharjo Dusun Ketapang Kepanjen, yang didirikan dan diasuh langsung oleh K. Muhammad Said (Aziz, 12 Januari 2. Selain menimba ilmu agama. Marzuki juga mendapatkan amanah dari K. Mohammad SaAoid untuk membantu para Ustadz mengajar di pesantren tersebut, dan hal ini dilakukannya selama 15 tahun. Melihat ke-tawadhuAo-an beliau selama di pesantren tersebut, maka Ketekunan tersebut mendorong K. Mohammad SaAoid untuk menikahkan keponakan perempuannya yang bernama Nyai Ummu Kalsum dengan K. Marzuki. Kemudian pada tahun 1978. Marzuki menikah dengan Nyai Ummu Kalsum. Nyai Ummu Kalsum berasal dari Dusun Banjar Patoman. Desa Amadanom. Kecamatan Dampit. Kabupaten Malang, dan alamat ini tidak jauh dari tempat kelahiran K. Marzuki. Lalu buah dari pernikahan K. Marzuki Asad Malik BaAosyaiban dan Nyai Ummu Kalsum, keduanya dikarunia empat orang anak, tiga putra dan satu orang putri, yaitu : Burhanuddin Aziz. Badruddin Aziz. Nasyiruddin Aziz. Siti Nur Fatimatul Azizah. Putra-putra beliau tersebut lahir di Malang, kecuali Siti Nur Fatimatul Azizah, ia lahir di Dusun Pasak Piang. Desa Parit Timur. Kalimantan Barat (Aziz, 12 Januari Setelah mengabdi selama 15 tahun di PPAI Malang, maka pada tahun 1992 Marzuki merantau ke Kalimantan Barat. Selama di Kalimantan Barat, beliau sempat mengasuh lembaga pendidikan Dar Ad-Dakwah wa AlIrsyad, yang terletak di Desa Pasak. Kubu Raya. Kalimantan Barat. samping sebagai pengasuh lembaga pendidikan tersebut, beliau juga sempat melanjutkan pendidikan S1 di STAIN . ekarang IAIN) Pontianak, fakultas Tarbiyah. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Kedekatan beliau dengan para dosen maupun para pegawai STAIN beliau sempat mengajukan program kuliah dua hari yaitu. Sabtu dan Minggu. Program ini cukup lama berjalan bahkan berkembang begitu pesat sehingga banyak dari kalangan Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 mahasiswa yang ikut kuliah pada dua hari tersebut. Muhammad Said . endiri sekaligus pengasuh PPAI). Tauhid Asad Malik. Muhammad Saidi dan K. Abdullah, dan bahkan beliau sering berdiskusi atau bertanya kepada K. Tauhid Asad Malik, karena K. Tauhid Asad merupakan santri dari Syaikh Ihsan b. Dahlan pengarang kitab Siraj athThalibin. Tauhid Asad Malik memberikan pelajaran kepada K. Marzuki Asad Malik secara tatap muka (Muzammil, 13 Januari 2. Kemudian dalam kesehariannya. Marzuki Asad Malik juga menyempatkan diri untuk membaca karya atau literatur dari sejumlah ulama terkenal, baik kitab fikih, tasawuf, tafsir dan lain sebagainya, sebabnya, beliau sangat mengagumi sejumlah tokoh terkemuka seperti Imam Al-Ghozali. Imam Jalaluddin Al-Mahalli. Imam Jalaluddin As-Syuthi. Syaikh Nawawi Al-Bantani. Muhammad Arsyad AlBanjari. Muhammad SaAoid, dan Syaikh Ihsan b. Dahlan (Muzammil, 13 Januari 2. Menurut penuturan Nyai Hj. Ummi Kalsum . stri belia. bahwa K. Marzuki Asad Malik saat membaca kitab beliau sangat teliti bahkan ketika penjelasan yang dalam kitab tersebut tidak begitu beliau pahami, maka beliau mencari penjelasannya di kitab-kitab yang lain. Adapun waktu yang beliau pilih untuk membaca kitab-kitab, adalah menjelang waktu Subuh sesudah melaksanakan Shalat malam. Jadi, beliau sangat disiplin dalam mengatur Genealogi Keilmuan KH. Marzuki Asad Malik Dalam sebuah teori genealogi. Michel Foulcault mengatakan bahwa dalam melihat keilmuan seseorang, penelusuran tentang guru-gurunya, basis sosial-kemasyarakatan, sumber bacaannya, tokoh-tokoh atau agen-agen yang ia kagumi dan hal linier lainnya. Semua hal tersebut membentuk pola pikir dan pengetahuan K. Marzuki, yang kemudian memengaruhi perilaku serta pemikirannya secara mendalam (Michel Foulcault, 1976. Parwanto et al. Parwanto & Riyani, 2. Oleh karena itu, maka penting menelusuri serta melihat bagaimana konstruksi genenealogi keilmuan K. Marzuki yang nantinya akan ia realisasikan, khususnya dalam bidang lembaga pendidikan serta sistem pengajaran di Marzuki adalah seorang tokoh yang cukup luas keilmuannya, baik dalam bidang ilmu agama seperti bidang tafsir, akhlak, pendidikan dan sebagainya bahkan juga cukup piawai bidang ilmu pertanian. Keluasan ilmu yang beliau miliki tentunya tidak terlepas dari peran guru-guru beliau, sumber bacaan beliau serta peran sosiokultural Adapun sejumlah guru Marzuki Asad Malik di antaranya adalah seperti : K. Madrani BaAoSyiban . empat beliau belajar agama dan Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Ada beberapa kitab yang paling sering beliau baca, yaitu kitab Tafsir Jalalain, kitab Riyadh ashShalihin dan Durrah an-Nasyihin, inilah kitab-kitab yang beliau sering dibaca pada waktu subuh, biasanya dalam sekali baca, beliau membaca sekitar 3-4 halaman (Kalsum, 12 Januari 2. Jadi dari eksplorasi genealogi intelektual K. Marzuki di atas, terlihat bahwa guru-guru beliau merupakan tokoh-tokoh yang mumpuni dalam ilmu keislaman. Kemudian selain menuntut ilmu agama. Marzuki juga sempat mengabdikan diri dan pendidikan Islam, seperti pernah menjadi tenaga pendidik di PPAI dan lembaga pendidikan Dar Ad-Dakwah wa Al-Irsyad . Selain aktif sebagai pengajar, terlihat juga bahwa rutinitas keseharian beliau juga diisi dengan membaca sejumlah literatur keislaman, seperti tafsir Jalalain, kitab Riyadh ashShalihin dan kitab lainnya, yang mana kitab-kitab tersebut atau literatur tersebut sangat familiar di dunia Dengan demikian, maka wajar jika beliau termotivasi untuk membangun atau mendirikan lembaga pendidikan pesantren, karena dalam konteks sosial, budaya, dan intelektual yang beliau alami, beliau selalu berada dalam ilmu keagamaan atau pesantren, bukan hanya dari guru-guru beliau dan realitas sosio-kultural beliau, termasuk dari realitas konsumsi bacaan beliau. Maka tidak heran jika ke depannya beliau mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam, yang dikenal dengan pesantren al-Aziz, sebuah pesantren yang terletak di desa Pasak, dusun Parit Timur. Kubu Raya. Kalimantan Barat. Gambaran Umum Pesantren Al-Aziz Potret Historis Berdirinya Pondok Pesantren Al-Aziz Berdirinya tentunya memiliki cara tersendiri serta tidak bisa terlepas dari peran seorang ulama atau Kyai (Abdurrahman Wahid. Mijamil Qomar, n. Demikian juga dengan berdirinya pesantren AlAziz Ae tentunya tidak terlepas dari sejarah panjang perjuangan dan peran Marzuki Asad Malik. Motivasi awal berdirinya pesantren tersebut adalah diprakarsai oleh permintaan dari sejumlah tokoh masyarakat dan lembaga pendidikan Dar Ad-Dakwah wa Al-Irsyad (DDI), agar K. Marzuki mengelola dan sekaligus menjadi pengajar di lembaga Dar Ad-Dakwah wa Al-Irsyad , karena lembaga tersebut masih kekurangan tenaga pengajar. Pada saat itu, lembaga pendidikan Dar Ad-Dakwah wa Al-Irsyad berada di bawah yayasan Haji Baddu dan Haji YaAokub. Kemudian ketika beliau menjadi pengelola lembaga pendidikan Dar AdDakwah wa Al-Irsyad , ada beberapa murid yang mengaji kepada beliau pada waktu malam hari, sehingga muridmurid tersebut Ae biasanya menginap di tempat K. Marzuki. Lalu lambat laun Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 murid beliau semakin banyak dan mengusulkan K. Marzuki untuk mendirikan pesantren, dan usulan tersebut diterima baik oleh beliau. Selain motivasi dari masyarakat untuk mendirikan pesantren, sebelumnya juga Marzuki pernah mendapatkan isyarat dalam sebuah mimpi, beliau bermimpi bertemu dengan gurunya Alm. Muhammad Said Ae dan K. Muhammad Said berpesan kepada K. Marzuki untuk mendirikan pondok pesantren (Aziz, 12 Januari 2. Lalu pada pagi harinya. Marzuki tersebut kepada istrinya (Nyai Hj. Ummu Kalsu. mendapatkan petunjuk dari gurunya untuk membangun atau mendirikan lembaga pesantren. Mendengar cerita dari suaminya. Nyai Ummu Kalsum tidak keberatan jika suaminya ingin realitasnya bahwa keuangan mereka belum cukup untuk mendirikan lembaga pesantren tersebut. Walaupun Marzuki meyakinkan istrinya bahwa ketika mereka menolong agama Allah, pasti Allah akan mempermudah segala niat baik yang telah dicita-citakan tersebut (Aziz, 12 Januari 2. Walaupun telah mendapatkan berbagai suntikan dorongan dari berbagai pihak, hingga amanah melalui isyarat sebuah mimpi dari guru beliau (Muhammad Sai. , namun hal tersebut belum mampu membuat beliau mendirikan lembaga pesantren yang diidam-idamkannya bersama sang istri. Kesulitan tersebut terjadi karena keterbatasan dana yang mereka miliki. (Muzammil, 13 Januari Selama mengajar di lembaga Dar Ad-Dakwah wa Al-Irsyad (DDI), beliau juga mengumpulkan dana guna mendirikan pesantren. Dan setelah beberapa tahun mengabdikan diri di lembaga Dar Ad-Dakwah wa Al-Irsyad (DDI), beliau kembali mendapatkan dorongan dari Kyai Abdussalam, . eorang tokoh elit agama dari Parit Surabaya. Kubu Raya. Kalimantan Bara. untuk mendirikan sebuah lembaga pesantren di dusun Parit Timur, desa Pasak. Kubu Raya. Kebetulan tempat yang diusulkan oleh Abdussalam adalah tempat yang diyakini mitologinya oleh masyarakat sebagai tempat yang angker dan Dengan demikian, boleh jadi usulan tempat tersebut oleh K. Abdussalam adalah salah satu upaya Aokepercayaan primitifAo masyarakat saat itu Ae dan orang yang dipercayai beliau mengemban dan melakukan hal tersebut adalah K. Marzuki (Kholip, 13 Januari 2. Dengan berbagai usulan dan dorongan dari banyak pihak, dan dengan berbekal dana seadanya, maka tepatnya pada tahun 1994. Marzuki dan istrinya (Nyai Hj. Ummu Kalsu. mendirikan sebuah lembaga Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 pesantren yang nantinya diberi nama pesantren al-Aziz. Pada awal berdiri pesantren ini, bahan bangunan yang digunakan masih sederhana, yaitu alas menggunakan papan, sedangkan untuk atapnya menggunakan daun (Kalsum, 12 Januari 2. Kemudian pengistilahan nama AlAziz untuk pesantren yang didirikan oleh K. Marzuki dan istrinya adalah diberikan oleh K. Abdullah dari Malang, beliau adalah paman dari Nyai Ummu Kalsum . stri K. Marzuk. AlAziz ini diambil dari nama seorang Kyai yang sangat berpengaruh dalam mendidik dan mentransformasikan pengetahuan agamanya kepada K. Abdullah. Abdul Aziz ini adalah putra dari Kyai Samsuddin, dan K. Abdul Aziz merupakan adalah ipar dari Darwis, beliau adalah pemegang tarekat serta seorang ulama yang sangat alim (Kholip, 13 Januari 2. Jadi, kekaguman K. Abdullah . uru dari Marzuki dan Ummu Kalsu. kepada K. Abdul Aziz, maka hal itu pesantren yang didirikan oleh kedua muridnya tersebut dengan nama Pesantren Al-Aziz, dengan harapan pesantren tersebut dapat memberikan pengembangan pendidikan Islam di Kalimantan Barat, khususnya di di dusun Parit Timur, desa Pasak. Kubu Raya. Deskripsi Kegiatan Pesantren Al-Aziz Berikut tentang beberapa kegiatan yang ada di Pesantren Al-Aziz berserta para pembinanya (Kalsum, 12 Januari 2. Pertama, latihan hadrah: kegiatan latihan hadrah ini dilakukan pada hari Selasa dan Kamis, dan dilaksanakan pada pukul 15 : 30 sampai pukul 17:10 WIB, dan latihan hadrah ini dibina oleh Ustadz Jamal dan Ustadz Faizin. Kedua. Pencak Silat: kegiatan pecak silat ini sudah ada pada masa K. Marzuki Asad Malik, bahkan beliau mewajibkan kepada para santri untuk ikut dalam kegiatan tersebut. Kemudian pasca wafatnya K. Marzuki, kegiatan ini dilatih oleh Bapak Saridin, dan kegiatan pencak silat ini dilaksanakan pada hari kamis pukul 20 : 20 sampai 23 : 00 WIB. Ketiga. Kegiatan agraria . layaknya pesantren secara umum, bahwa kegiatan bertani adalah salah satu kegiatan yang biasa dilakukan oleh sejumlah pesantren yang ada di Indonesia, termasuk pesantren Al-Aziz. Kegiatan bertani di Pesantren Al-Aziz telah dilakukan sejak K. Marzuki sebagai pimpinan pondok, bahkan beliau mewajibkan kepada seluruh ladang/sawah, hal ini tentunya dilatarbelakangi oleh kepiawaian beliau dalam bertani yang beliau dapatkan dari gurunya yaitu K. Madrani BaAo Syiban, diaktualisasikannya dalam kegiatan pesantren yang beliau dirikan. Adapun jenis tanaman yang ditanam seperti sahang . dan sayur-sayuran. Pondok Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Tabel 1. Kurikulum Pembelajaran Tahun 19942012. Pengajar Materi Marzuki Asad Kitab Sullam Malik Safinatunnaja, & Tafsir Jalalain Nahwu . Kyai Efendi Shorof . Ustadz Khaliq Ilmu Musthalah alHadits Ustadz Aman Al-Qur`an dan Penjelasannya Mubadi al-Fiqh Ustadz Khairunniam Wasiah al-AbniAo Ustadz Sirli Al-Qur`an wa alNyai Ummu Qira`ah Kalsum Al-Ahklaq Kulli Banin Ustadzah Siti Mahmudah kegiatan ini dilakukan pada setiap hari Jumat pukul 05 : 30 Ae selesai. Keempat. Kegiatan Pendalaman Literatur Turats . itab Layaknya dunia pesantren secara umum, bahwa di antara basic point yang ditanamkan kepada, para santri adalah kemampuan mereka dalam memahami literatur turats. Termasuk di pesantren Al-Aziz, kegiatan pemahaman dan pendalaman literatur-literatur klasik dilaksanakan pada malam Senin. Selasa dan Rabu, pukul 21 : 00 sampai 22 : 00 yang dipimpin langsung oleh Kyai Badruddin Aziz . utra K. Marzuk. Adapun literatur serta materi yang dipelajari seperti kitab Ihya Ulum AdDin karya Imam Al-Ghazali . itab yang sering dibaca oleh K. Marzuki Ae terlihat adanya legalisasi-genealogi fase-fase berikutny. , serta materi seperti pembelajaran ilmu nahwu . , sharaf . dan fiqh (Islamic dan Kelima. Kegiatan Drum Band: Kegiatan latihan drum band dilaksanakan pada hari Jumat, pukul 15 : 10 sampai 17 : 10, dan dilatih oleh Cak Ahmad. Tabel 2. Kurikulum Pembelajaran Tahun 2012Sekarang Pengajar Materi Ubudiyah & Fiqh Kyai Badruddin Aziz Tafsir Jalalain & Kitab Kyai Efendi Bidayah al-Hidayah Nahwu. Shorof. Ustadz Burhanuddin Maqalah Aziz Ustadz Nasyiruddin Al-Qur`an dan Aziz Penjelasannya Al-Qur`an wa alNyai Ummu Kalsum Qira`ah Ustadzah Maysaroh Ilmu Tajwid. Fiqh dan Kitab Sullam Taufiq Ustadzah Siti Fashalatan & Ahklak Mahmudah Ustadzah Maysaroh Fiqh Wanita Sumber: Diolah Peneliti dari Data Lapangan. Kurikulum Pelajaran Agama di Pondok Pesantren Al-Aziz dalam Lintas Generasi Berikut penulis sajikan kurikulum pelajaran beserta pengajarnya di Pesantren Al-Aziz dari generasi ke generasi dalam bentuk tabel: Membaca Kiprah K. Marzuki Asad Malik dalam Lembaga Pendidikan Pesantren Berdasarkan eksplorasi tentang kiprah K. Marzuki Asad Malik di atas, baik kiprahnya dalam setting historis-biografinya maupun kiprahnya dalam realitas Pesantren Aziz, maka penulis akan menyuguhkan potret Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 kiprah beliau tersebut dengan kacamata teori sosiologi pengetahuan yang diintroduksi atau diproklamirkan oleh Peter L. Berger. Berger merupakan salah satu pemikir cerdas dalam melihat relasi antara pemikiran manusia dengan konteks sosial di mana pemikiran itu lahir, berkembang, dan dilembagakan. Menurutnya, masyarakat yang hidup melakukan proses interaksi secara bersamaan dengan lingkungannya (Berger & Luckmann, 1966. Sulaiman. Melalui proses interaksi, manusia mempunyai dimensi kenyataan sosial ganda yang bisa saling membangun, tetapi juga bisa saling meruntuhkan. Masyarakat hidup pada dimensidimensi dan realitas objektif yang Ketiga elemen tersebut akan senantiasa berproses secara Proses dialektika pada yang terjadi pada tiga elemen di atas dapat dipahami dalam konteks sebagai berhasil, maka tidakan yang dilakukan itu akan diulang-ulang (Berger & Luckmann, 1966. Geger Riyanto, 2. Jadi jika melihat kiprah K. Marzuki Asad Malid di atas maka bagian eksternalisasinya adalah ketika beliau mulai bersentuhan dengan realitas dunianya, baik realitas lingkungan pengalaman hidupnya. Latar belakang kehidupan K. Marzuki bahwa beliau lahir dari rahim keluarga yang agamis, sehingga wajar selain menekuni bidang mendalami pengetahuan agama. Ketertarikannya dengan ilmu agama, membuatnya merasa nyaman dan cenderung melakukan kontinuitas kiprahnya dalam bidang keagamaan. Dengan berbekal pengalaman dan pendidikan yang telah beliau lalui. Tindakan ini menunjukkan konsistensinya dalam bidang yang menjadi minatnya, yaitu pendidikan keislaman, yang terus ia tekuni sepanjang hidupnya, karena beliau lahir dari realitas keluarga agamis, berguru dengan sejumlah Kyai, nyantri, maka hal tersebut yang memberikan stimulus dan motivasi beliau untuk melakukan kecenderungan akademik yang beliau Eksternalisasi Eksternalisasi merupakan suatu pencurahan diri manusia secara terus menerus ke dalam dunia, baik dalam aktivitas fisik maupun mentalnya. Eksternalisasi juga berarti proses penyesuaian diri dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia. Dalam proses eksternalisasi, mula-mula manusia menjalankan tindakan, bila tindakan tersebut dirasa tepat dan Objektivikasi Setelah Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 konsisten, kesadaran logis manusia akan merumuskan bahwa fakta tersebut terjadi karena ada kaidah yang mengaturnya, sehingga muncullah Objektivikasi adalah proses interaksi sosial dalam dunia intersubjektif yang telah dilembagakan dan mengalami proses institusionalisasi . dan legitimasi (Berger & Luckmann, 1966. Riyanto, 2. Jadi dalam melihat kiprah K. Marzuki pada fase objektivikasi adalah Ae bagaimana keilmuan yang telah ditekuni oleh beliau ditempatkan dalam dua variabel objektivikasi, yaitu pada aspek institusionalisasi dan legitimasi. Pertama, . adalah objektivikasi yang dibuat dan dibangun oleh manusia, di mana proses produk-produk aktivitas manusia yang dieksternalisasikan itu memperoleh sifat objektif (Berger & Luckmann, 1966. Riyanto, 2. Jadi pada fase ini, keilmuan yang telah ditekuni oleh K. Marzuki Praktik tersebut dilakukan secara konsisten . , artinya bahwa setelah beliau menimba ilmu di sejumlah lembaga pendidikan Islam, beliau juga mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan Islam, khususnya dunia Konsistensi kiprah keilmuan Marzuki memberikan dorongan dalam ruang intersubjektif, yang mendirikan Pesantren Al-Aziz. Dengan artinya bahwa, proses institusionaliasi . Pesantren Al-Aziz merupakan buah dari interaksi dan konsistensi dari aktualiasasi keilmuan perjalanan karir intelektual beliau. Kedua, legitimasi . objektivikasi-institusionalisasi, artinya membenarkan makna objektivikasiinstitusionalisasi adalah dengan melalui agen-agen atau tokoh-tokoh yang dipercaya dan dinilai legitimatif serta memiliki wewenang, seperti tokoh agama, budaya dan sebagainya (Berger & Luckmann, 1966. Geger Riyanto. Jadi pada fase legitimasi ini bahwa institusionalisasi dalam bentuk pesantren yang didirikan oleh K. Marzuki memiliki dasar legitimasi dari agen-agen otoritatif keagamaan, dalam hal ini adalah guru-guru beliau. Dengan demikian, kiblat legitimasi lembaga yang beliau dirikan bergenealogi ditransformasikan oleh guru-guru beliau sehingga hal ini memantapkan hati beliau untuk mendirikan lembaga Internalisasi Internalisasi adalah peresapan kembali realitas oleh manusia, dan mentransformasikannya sekali lagi dari struktur-struktur dunia objektif ke dalam struktur-struktur kesadaran Dalam proses internalisasi ini tidak bisa terlepas dari proses Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 sosialisasi, baik sosialisasi primer (Berger Luckmann, 1966. Riyanto, 2. Sosialiasi primer ini telah dilakukan selama seseorang berada dalam lingkungan yang kecil, misalnya sosialisasi sekunder adalah proses sosialisasi yang lebih luas dan panjang, dan nantinya bukan hanya melibatkan diri individu, tetapi termasuk juga jaringan sosialisasi antar individu. Jadi penyerapan kembali dari dua realitas proses sebelumnya . ksternalisasi dan objektivikas. sehingga membentuk jaringan semula . Berdasarkan paparan tersebut, maka dalam melihat peran K. Marzuki pada fase internalisasi ini kehidupan beliau dalam dua bentuk sosialisasi dalam internalisasi, yaitu, sosialisasi primer dan sosialisasi Pertama, sosialisasi primer. dalam sosialisasi primer tentunya pihak keluargalah yang memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk pola pikir dan perilaku anaknya. Dengan demikian, maka penekunan disiplin ilmu keislaman yang dilakukan oleh Marzuki tidak bukan adalah karena beliau dilahirkan dalam ruang keluarga yang agamis, yang kemudian ditopang oleh sejumlah sejumlah guruguru beliau yang merupakan orang yang cukup berperan penting dalam membentuk pemikiran dan kepribadian Kedua, sosialisasi sekunder. digembleng dalam tahap sosialisasi primer, maka K. Marzuki memasuki tahap sosialisasi sekunder , artinya bahwa Ae bagaimana beliau melakukan sosialisasi pada tahap yang lebih luas dan berkelanjutan. Jadi dalam hal ini, keilmuan yang telah beliau dapatkan beliau sosialisasikan Ae termasuk dengan Kemudian dalam lembaga pesantren tersebut terdapat sejumlah pengajar baik dari lingkungan keluarga pendiri maupun orang lain termasuk santrisantri. Proses dialektika dan relasi antara pengajar dan santri akan terus terjadi secara berulang-ulang dalam jangka waktu yang panjang, walaupun pendiri pesantren tersebut telah Namun, proses sosialisasi sekunder akan terus berjalan dan berlangsung, yang pada akhirnya membentuk corak yang beragam dalam realitas dan lintas waktu yang di laluinya, sehingga kembali lagi para proses eksternalisasi, yaitu suatu proses penyesuaian diri dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN 2548-9232. EISSN 2775-3573 Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 yang lam. Kemudian pada akhirnya kembali membentuk formasi semula, yaitu tahap eksternalisasi. Studi ini diharapkan dalam menambah khazanah pengetahuan para pembaca tentang perkembangan dan historisitas salah satu pesantren yang ada di Desa Pasak, kabupaten Kubu Raya. Kalimantan Barat serta dapat menjadi rujukan dan referensi bagi para pengkaji berikutnya untuk memotret sejumlah pesantren yang ada di Kalimantan Barat Rekomendasi selanjutnya dapat memperluas cakupan penelitian di Kalimantan Barat, baik dalam konteks dunia pesantren ataupun dalam lingkup keagamaan secara luas, karena Kalimantan Barat memiliki banyak objek penelitian yang bisa dikaji dengan berbagai teori yang Kajian tentang dunia pesantren, khususnya di Kalimantan Barat atau umumnya di Indonesia masih cukup layak dikaji dengan tawaran teori-teori dan pendekatan yang mutakhir sehingga hasil yang didapatkan akan lebih menarik dan representatif. KESIMPULAN Marzuki Asad Malik lahir. Jumat, 01 April 1969 di Dusun Prangas. Desa Kampung Anyar. Kecamatan Dampit. Kabupaten Malang. Konstruksi genealogi keilmuan beliau, dalam hal Pesantren Al-Aziz adalah terbentuk mulai dari lingkungan keluarga beliau yang agamis, kemudian dari sejumlah guru-guru beliau, realitas pengalaman dan karier intelektual beliau, termasuk sumber-sumber Selanjutnya, potret kiprah beliau dalam teori sosiologi pengetahuan Pater Berger adalah : . Eksternalisasi, fase ini adalah proses pencurahan keilmuan yang telah didapatkan oleh K. Marzuki dalam ruang sosial, . Objektivikasi, adalah keilmuan yang telah beliau curahkan dalam ruang sosial memasuki tahap institusionalisasi dan legitimasi, dan . Internalisasi, adalah proses sosialisasi, baik sosialisasi alam lingkungan keluarg. maupun sekunder . alam lingkungan yang lebih luas dalam berlangsung secara terus-menerus dalam waktu DAFTAR PUSTAKA