Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan Volume 15. No. Oktober 2024 ISSN:2086-3861 E-ISSN: 2503-2283 Penapisan Fitokimia Infusa Daun Thalassia hemprichii yang Berpotensi Sebagai Antimikroba Phytochemical Screening of Thalassia hemprichii Leaf Infusion with Potential Antimicrobial Properties Suwarny. Satriani Syarif. La Ode Alrin. Program Studi DIV Teknologi Laboratorium Medis. Universitas Mandala Waluya Mahasiswa Program Studi D-IV Teknologi Laboratorium Medis. Universitas Mandala Waluya Penulis Korespondensi: email: suwarny73@gmail. (Diterima Agustus 2024 /Disetujui Oktober 2. ABSTRACT Thalassia hemprichii is a spermatophyte plant that grows in aquatic ecosystems. This plant is a type of seagrass widely distributed in the waters of Southeast Sulawesi and has long been utilized by coastal communities for various purposes, including traditional medicine. This study aims to conduct phytochemical screening of Thalassia hemprichii infusion from the waters of Tondonggeu. Southeast Sulawesi, and to assess its potential as a natural antimicrobial agent. The methods used include interviews with local communities to explore traditional knowledge about seagrass utilization, as well as phytochemical screening of Thalassia hemprichii leaf infusion. The interview results show that the Tondonggeu community utilizes various parts of the seagrass plant for medicinal purposes, including as a wound treatment, antidiarrheal, fever medicine, stomach ache remedy, and nutritional supplement. Phytochemical screening revealed the presence of alkaloids, terpenoids, saponins, tannins, and flavonoids in the T. hemprichii leaf infusion. These findings indicate a correlation between traditional uses and phytochemical content, supporting the potential of T. hemprichii as a natural antimicrobial source. This study concludes that Thalassia hemprichii has significant potential for further development as a source of natural medicine, especially in antimicrobial discovery. However, further research is needed to isolate specific active compounds and conduct clinical trials to validate its safety and efficacy. The utilization of T. hemprichii as a source of natural medicine must be balanced with conservation efforts to ensure the sustainability of this species and the seagrass ecosystem. Keywords: Thalassia hemprichii, phytochemical screening, antimicrobial. ABSTRAK Thalassia hemprichii adalah tumbuhan spermatophyta yang tumbuh pada ekosistem perairan. Tumbuhan ini merupakan salah satu jenis lamun yang tersebar di perairan Sulawesi Tenggara dan telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir untuk berbagai keperluan, termasuk pengobatan Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penapisan fitokimia infusa lamun Thalassia hemprichii dari perairan Tondonggeu. Sulawesi Tenggara, dan mengkaji potensinya sebagai antimikroba alami. Metode yang digunakan meliputi wawancara dengan masyarakat setempat untuk menggali pengetahuan tradisional tentang pemanfaatan lamun, serta skrining fitokimia infusa daun Thalassia hemprichii. Hasil wawancara menunjukkan bahwa masyarakat Tondonggeu memanfaatkan berbagai bagian tanaman lamun untuk pengobatan, termasuk sebagai obat luka, antidiare, obat demam, obat sakit perut, dan suplemen nutrisi. Skrining fitokimia mengungkapkan keberadaan alkaloid, terpenoid, saponin, tanin, dan flavonoid dalam infusa daun T. Temuan ini menunjukkan adanya korelasi antara penggunaan tradisional dan kandungan fitokimia, yang mendukung potensi T. hemprichii sebagai sumber antimikroba alami. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Thalassia To Cite this Paper : Suwarny. Syarif. Alrin, l. Penapisan Fitokimia Infusa Daun Thalassia hemprichii yang Berpotensi Sebagai Antimikroba. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 15 . : 255-261. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. hemprichii memiliki potensi signifikan untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai sumber obat alami, terutama dalam penemuan antimikroba. Namun, diperlukan penelitian lanjutan untuk mengisolasi senyawa aktif spesifik dan melakukan uji klinis guna memvalidasi keamanan dan efektivitasnya. Pemanfaatan T. hemprichii sebagai sumber obat alami harus diimbangi dengan upaya konservasi untuk menjamin keberlanjutan spesies ini dan ekosistem padang lamun. Kata Kunci : Thalassia hemprichii, skrining fitokimia, antimikroba PENDAHULUAN Lautan, yang menutupi lebih dari 70% permukaan bumi, merupakan sumber daya alam yang sangat potensial namun belum sepenuhnya dieksplorasi. Ekosistem laut menyimpan keanekaragaman hayati yang luar biasa, dengan berbagai organisme yang telah beradaptasi untuk bertahan dalam kondisi lingkungan yang unik dan seringkali ekstrem. Eksplorasi sumber daya laut tidak hanya penting untuk pemahaman ilmiah tentang biodiversitas, tetapi juga membuka peluang baru dalam penemuan senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, termasuk kesehatan, industri, dan teknologi (Kiuru et al, 2. Keanekaragaman hayati yang melimpah menjadikan ekosistem laut sebagai sumber utama untuk produk alami. Tumbuhan laut seperti lamun . merupakan salah satu contoh organisme pada ekosistem air dangkal yang dapat ditemukan di seluruh dunia. Tumbuhan lamun telah berevolusi untuk menghasilkan senyawa kimia yang membantu mereka bertahan dan beradaptasi dalam lingkungan yang ekstrim dan kompetitif. Lamun sendiri banyak digunakan untuk budidaya, produksi pakan, dan tempat berlindung bagi organisme laut, serta sebagai pertahanan pantai dari gelombang tinggi air laut (Suleria dkk. , 2015. Jo dkk. , 2. Thalassia hemprichii, yang dikenal juga sebagai "dugong grass", adalah salah satu spesies lamun yang tersebar luas di perairan tropis Indo-Pasifik, termasuk Indonesia. Spesies ini telah menarik perhatian peneliti karena beberapa alasan di antaranya yaitu kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan laut, peran ekologis penting dalam ekosistem pesisir, termasuk sebagai habitat dan sumber makanan bagi berbagai organisme laut serta indikasi awal adanya senyawa bioaktif dengan potensi farmakologis, seperti aktivitas antioksidan dan Selain beberapa fungsi tersebut, ekstrak Thalassia hemprichii memiliki potensi sebagai antijamur, antivirus, antifertilitas, antikanker, dan antidiabetes (Jafriati dkk. , 2. hemprichii yang tumbuh di perairan Tondonggeu. Sulawesi Tenggara, menawarkan peluang unik untuk mengeksplorasi variasi geografis dalam komposisi fitokimia dan potensi bioaktivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penapisan fitokimia komprehensif pada ekstrak Thalassia hemprichii yang diambil dari perairan Tondonggeu. Skrining ini akan mencakup identifikasi keberadaan kelompok senyawa bioaktif utama seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid, dan terpenoid. Identifikasi ini penting untuk memberikan gambaran awal tentang profil fitokimia T. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengevaluasi potensi T. sebagai sumber bahan aktif alami. Evaluasi ini akan mempertimbangkan jenis dan keberadaan senyawa bioaktif yang teridentifikasi, serta membandingkannya dengan literatur yang ada tentang potensi farmakologis senyawa-senyawa tersebut. Penelitian ini memiliki arti penting dalam konteks ilmu kelautan, bioteknologi, dan konservasi Dalam beberapa aspek penelitian ini memiliki arti penting, pertama, studi ini akan memperluas pengetahuan tentang kandungan kimia lamun Thalassia hemprichii dari perairan Tondonggeu. Sulawesi Tenggara. Informasi ini penting untuk memahami potensi lamun sebagai sumber bahan aktif alami. Kedua, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk pengembangan produk baru dalam industri farmasi, kosmetik, dan suplemen makanan, yang selalu mencari sumber daya alam baru dengan manfaat kesehatan. Terakhir, penelitian ini dapat mendukung upaya pelestarian ekosistem lamun dengan menunjukkan nilai potensialnya. Dengan memahami manfaat lamun, kita dapat mendorong perlindungan habitat ini sambil juga memanfaatkannya secara bijak. Hal ini dapat membantu menciptakan keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi dan pelestarian alam, yang penting untuk pengelolaan wilayah pesisir yang berkelanjutan. To Cite this Paper : Suwarny. Syarif. Alrin, l. Penapisan Fitokimia Infusa Daun Thalassia hemprichii yang Berpotensi Sebagai Antimikroba. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 15 . : 255-261. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental laboratorium dengan rancangan deskriptif kualitatif untuk mengevaluasi kandungan fitokimia infusa daun Thalassia hemprichii. Populasi penelitian adalah tanaman lamun T. hemprichii yang tumbuh di perairan Tondonggeu. Sulawesi Tenggara. Sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling, dengan kriteria pemilihan berupa daun T. hemprichii yang sehat dan matang. Daun yang terkumpul kemudian dicuci dengan air laut steril dan air tawar untuk menghilangkan epifit dan kotoran, sebelum diproses lebih lanjut di Jumlah sampel ditentukan berdasarkan kebutuhan untuk analisis fitokimia, dengan mempertimbangkan prinsip konservasi untuk meminimalkan dampak pada populasi lamun. Metode infusa dipilih untuk ekstraksi karena mencerminkan cara tradisional penggunaan tanaman ini oleh masyarakat lokal. Berikut uraian prosedur kerja dalam penelitian: Preparasi Sampel Daun Lamun Thalassia hemprichii Daun lamun dicuci bersih menggunakan air mengalir, kemudian dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil. Selanjutnya potongan daun dikeringkan dalam oven pada suhu 40 Ae 50 AC hingga benar-benar kering. Daun yang telah kering kemudian dihaluskan hingga diperoleh serbuk halus. Pembuatan Infusa Infusa dibuat berdasarkan acuan sediaan herbal Badan Pengawwas Obat & Makanan (BPOM), dengan menimbang sebanyak 8 gram serbuk daun lamun T. hemprichii dan dimasukkan ke dalam air yang telah dipanaskan pada suhu 90 AC selama 15 menit (BPOM, 2. Penapisan Fitokimia Skrining fitokimia dilakukan di Laboratorium Farmasi Universitas Mandala Waluya. Penapisan fitokimia yang dilakukan meliputi uji alkaloid, terpenoid/steroid, saponin, tannin dan flavonoid. Adapun metode untuk masing-masing uji fitokimia adalah sebagai berikut: Uji Alkaloid: terdiri atas 3 metode yang terdiri atas metode Meyer, metode Wagner, dan metode Dragendorf. sampel direaksikan dengan kloroform sebanyak 5 mL dan amoniak 5 suspensi kemudian dipanaskan, dihomogenkan dan disaring. Selanjutnya ditambahkan 5 tetes H2SO4 2N pada masing-masing filtrat, lalu dihomogenkan dan didiamkan. Lapisan atas dari masing-masing filtrat diambil dan diuji dengan pereaksi Meyer. Wagner, dan Dragendorf. Hasil posistif alkaloid ditunjukkan denga terebntuknya endapan berwarna jingga, cokelat, dan putih (Mondong dkk. , 2. Uji Terpenoid/Steroid: sampel pertama ditambahkan 2 mL H2SO4 2N. kandungan steroid ditunjukkan dengan terbentuknya warna hijau atau biru. Sampel kedua ditambahkan dengan H2SO4 dan anhidrida asetat. Terbentuknya warna merah atau merah ungu menunjukkan bahwa sampel positif terpenoid (Rafiqi dkk. , 2. Uji Saponin: sampel dengan berat 0. 5 gr dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah diisi 10 mL akuades. Suspensi pada tabung dihomogenkan,kemudian ditambahkan 1 tetes HCl 2N. Suspensi didiamkan dan diperhatikan terbentuk tidaknya buih yang stabil. Hasil positif saponin, dicirikan dengan terbentuknya buih/busa yang stabil dengan ketinggian 1 Ae 3 cm selama 30 detik (Bintoro dkk. , 2. Uji Tanin: sampel ditimbang sebanyak 0. 1 gr, dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 10 mL akuades. Suspensi didiamkan selama 5 menit, lalu disaring. Hasil saringan didiamkan selama 5 menit dan kemudian ditambahkan 5 tetes larutan FeCl3 1%. Hasil positif tanin ditandai dengan terbentuknya warna bitu ataupun hijau kehitaman (Marlinda dkk. , 2. Uji Flavonoid: sampel dengan konsentrasi 100 ppm dimasukkan sebanyak 1 mL ke dalam tabung reaksi. Sampel kemudian dididihkan ke dalam penangas berisi 10 mL air. Larutan tersebut ditambahkan 100 gr serbuk Magnesium (M. terbentuknya warna merah atau kuning atau jingga menunjukkan bahwa sampel positif mengandung flavonoid (Noer dkk. To Cite this Paper : Suwarny. Syarif. Alrin, l. Penapisan Fitokimia Infusa Daun Thalassia hemprichii yang Berpotensi Sebagai Antimikroba. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 15 . : 255-261. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada tabel 1 menyajikan informasi tentang pemanfaatan lamun Thalassia hemprichii di daerah Tondongeu. Tabel ini mencakup nama bagian tanaman, pemanfaatannya, serta cara Tabel 1. Pemanfaatan lamun Thalassia hemprichii di kelurahan Tondonggeu Bagian tanaman Pemanfaatan Daun Akar/rhizoma Batang Akar Antidiare & obat Obat sakit perut & obat demam Antidiare Biji Suplemen nutrisi Obat luka & antidiare Cara pengolahan Ditumbuk dan ditempelkan pada luka. dan diminum airnya untuk antidiare Direbus dan diminum airnya Direbus dan diminum airnya Direbus dan diminum airnya Dikonsumsi langsung atau dikeringkan dan ditumbuk menjadi bubuk Sumber: wawancara warga setempat Hasil skrinning fitokimia dari daun lamun Thalassia hemprichii disajikan pada tabel 2. Tabel ini menjabarkan senyawa-senyawa yang terkandung dalam daun lamun tersebut, seperti alkaloid, terpenoid, saponin, tannin, dan flavonoid. Tabel 2. Skrining fitokimia infusa daun lamun Thalassia hemprichii Pengujian Alkaloid: Dragendorf Mayer Wagner Hasil skrining . ndapan puti. ndapan jingg. ndapan cokela. Terpenoid . erwarna mera. Saponin . etinggian buih 1 c. Tannin . erwarna bir. Gambar To Cite this Paper : Suwarny. Syarif. Alrin, l. Penapisan Fitokimia Infusa Daun Thalassia hemprichii yang Berpotensi Sebagai Antimikroba. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 15 . : 255-261. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. erwarna mera. Ekstraski daun lamun Thalassia hemprichii dalam penelitian ini menggunakan metode infusa, yaitu metode ekstraksi sederhana yang sering digunakan dalam pembuatan obat tradisional maupun ekstrak tanaman. Metode infusa ini melibatkan penyeduhan bahan tanaman dengan air panas untuk mengekstrak senyawa aktif yang larut dalam air. Thalassia hemprichii, yang dikenal sebagai dugong grass atau turtle grass, adalah spesies lamun yang tersebar luas di perairan tropis. Spesies ini memiliki peran ekologis penting dalam ekosistem laut dangkal, membentuk padang lamun yang menjadi habitat dan sumber makanan bagi berbagai organisme laut (Unsworth et al. Selain nilai ekologisnya. hemprichii telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir untuk berbagai keperluan, termasuk pengobatan tradisional. Berdasarkan hasil wawancara dengan warga setempat di kelurahan Tondonggeu. Sulawesi Tenggara, ditemukan bahwa Thalassia hemprichii memiliki beragam pemanfaatan tradisional . Daun pada umumnya mengandung konsentrasi senyawa bioaktif yang tinggi. Dalam penelitiannya. Papenbrock . menjelaskan bahwa daun lamun termasuk T. hemprichii kaya akan metabolit sekunder seperti fenol, flavonoid, dan terpenoid yang memiliki aktivitas antioksidan dan Daun lamun merupakan bagian yang paling mudah diakses dan memiliki kemampuan regenerasi yang cepat. Penelitian yang dilakukan oleh Dewi et al. menunjukkan bahwa daun lamun Thalassia hemprichii memiliki laju pertumbuhan yang relatif cepat, dan menjadikan tumbuhan lamun sebagai sumber daya yang berkelanjutan untuk penggunaan obat. Tanaman lamun seperti T. hemprichii hidup di lingkungan laut yang ekstrim. Penelitian oleh Subhashini et al. menunjukkan bahwa kondisi ini mendorong produksi senyawa bioaktif yang unik pada daunnya sebagai mekanisme pertahanan, yang berpotensi memiliki efek terapeutik pada manusia. Skrining fitokimia pada infusa daun T. hemprichii menunjukkan keberadaan berbagai senyawa bioaktif, termasuk alkaloid, terpenoid, saponin, tanin, dan flavonoid . Temuan ini konsisten dengan studi Dewi et al. , yang mengidentifikasi senyawa serupa dalam ekstrak T. hemprichii dari perairan Bali. Keberadaan senyawa-senyawa ini dapat menjelaskan efek terapeutik yang diamati dalam penggunaan tradisional. Misalnya, alkaloid dan terpenoid dikenal memiliki sifat antimikroba (Tarman et al. , 2. , yang dapat berkontribusi pada efek antidiare dan penyembuhan Korelasi antara penggunaan tradisional dan kandungan fitokimia T. hemprichii menunjukkan potensi yang menjanjikan. Penggunaan daun sebagai obat luka dapat dikaitkan dengan sifat astringen tanin dan efek anti-inflamasi flavonoid (Hidayati et al. , 2. Sementara itu, efek antidiare diperkirakan terkait dengan aktivitas antimikroba alkaloid dan terpenoid (Syahrial et al. Pemanfaatan biji sebagai suplemen nutrisi juga didukung oleh kandungan saponin yang dapat membantu penyerapan nutrisi (Xie et al. , 2. Potensi T. hemprichii sebagai sumber obat alami membuka peluang untuk pengembangan lebih Penelitian Nurilmala et al. menunjukkan aktivitas antioksidan yang signifikan dari ekstrak T. hemprichii, sementara Puspita et al. melaporkan potensi antikanker dari senyawa yang diisolasi dari spesies ini. Temuan-temuan ini memperkuat urgensi untuk melakukan penelitian lebih mendalam tentang bioaktivitas T. hemprichii dan potensi aplikasinya dalam pengembangan obat modern. hemprichii memiliki potensi signifikan sebagai sumber obat alami, didukung oleh penggunaan tradisional dan kandungan fitokimia yang beragam. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi senyawa spesifik yang bertanggung jawab atas efek terapeutik, serta uji klinis untuk memvalidasi keamanan dan efektivitasnya. Pengembangan T. hemprichii sebagai sumber obat baru harus dilakukan dengan memperhatikan aspek konservasi untuk menjamin keberlanjutan spesies ini dan ekosistem padang lamun secara keseluruhan. Cullen-Unsworth et al. menekankan pentingnya pengelolaan berkelanjutan ekosistem padang lamun mengingat perannya To Cite this Paper : Suwarny. Syarif. Alrin, l. Penapisan Fitokimia Infusa Daun Thalassia hemprichii yang Berpotensi Sebagai Antimikroba. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 15 . : 255-261. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/JSAPI http://dx. org/10. 35316/jsapi. yang vital dalam ekologi laut dan ekonomi pesisir. Oleh karena itu, pendekatan yang terintegrasi antara pemanfaatan dan konservasi sangat diperlukan untuk menjamin keberlanjutan sumber daya KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai penapisan fitokimia infusa lamun Thalassia hemprichii dari perairan Tondonggeu. Sulawesi Tenggara, dapat disimpulkan bahwa,. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa infusa daun Thalassia hemprichii mengandung berbagai senyawa bioaktif, termasuk alkaloid, terpenoid, saponin, tanin, dan flavonoid. Senyawa bioaktif yang terkandung di dalam Lamun Thalassia hemprichii memiliki potensi signifikan sebagai sumber antimikroba alami, didukung oleh kandungan fitokimia yang beragam. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada Kemdikbudristek yang telah membantu penulis dalam pendanaan penelitian ini. Ucapan terimakasih kepada Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat beserta staf LLPM yang juga telah berkontribusi banyak mulai dari rencana penulisan proposal penelitian hingga pelaksanaan penelitian. Penulis juga berterimaksih kepada reviewer yang telah memberikan masukkan untuk meningkatkan kualitas karya ilmiah ini. DAFTAR PUSTAKA