JOURNAL OF CIVILIUM Volume 1. Nomor 1 Maret 2025 Kajian Penerapan Konsep Green Building Dalam Konstruksi Perkotaan di Bima Israjunna Teknik Sipil-Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer-Universitas Muhammadiyah Bima email: israjunna@gmail. Abstract Rapid urban growth brings major challenges to environmental sustainability, including in Bima City. West Nusa Tenggara. This study aims to examine the application of the green building concept in urban development in Bima by highlighting the integration of local wisdom, the level of public awareness, and the challenges and opportunities for implementation. The research method used is qualitative with a case study approach through interviews, field observations, and analysis of related documents. The results of the study indicate that the application of green buildings in Bima is still very limited and has not been supported by specific However, local cultural values that prioritize energy efficiency and the use of environmentally friendly materials have become strong potential for further development. The main obstacles include low technical understanding, high cost perceptions, and minimal local government policies. This study recommends increasing education, technical training for construction actors, and formulating policies that support sustainable development based on green buildings and local culture. With this approach, development in Bima City is expected to be more environmentally friendly and in accordance with local characteristics. Keywords: Green Building. Urban Construction. Lokal Wisdom. Sustainable Development. Regional Regulation Abstrak Pertumbuhan kota yang pesat membawa tantangan besar terhadap keberlanjutan lingkungan, termasuk di Kota Bima. Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan konsep green building dalam pembangunan perkotaan di Bima dengan menyoroti integrasi kearifan lokal, tingkat kesadaran masyarakat, serta tantangan dan peluang Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui wawancara, observasi lapangan, dan analisis dokumen terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan green building di Bima masih sangat terbatas dan belum didukung oleh regulasi khusus. Namun, nilai-nilai budaya lokal yang mengedepankan efisiensi energi dan penggunaan material ramah lingkungan telah menjadi potensi kuat untuk dikembangkan lebih lanjut. Kendala utama meliputi rendahnya pemahaman teknis, persepsi biaya tinggi, dan minimnya kebijakan pemerintah daerah. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan edukasi, pelatihan teknis bagi pelaku konstruksi, serta penyusunan kebijakan yang mendukung pembangunan berkelanjutan berbasis green building dan budaya lokal. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan di Kota Bima diharapkan dapat berjalan lebih ramah lingkungan dan sesuai karakteristik lokal. Kata kunci: Green Building. Konstruksi Perkotaan. Kearifan Lokal. Pembangunan Berkelanjutan. Regulasi Daerah. Judul artikel: Kajian Penerapan Konsep Green Building Dalam Konstruksi Perkotaan di Bima http://ejournal. PENDAHULUAN Peningkatan jumlah penduduk dan urbanisasi yang cepat telah memberikan tekanan besar terhadap lingkungan perkotaan di berbagai wilayah, termasuk Kota Bima. Nusa Tenggara Barat. Kota ini, yang tengah berkembang pesat, menghadapi tantangan signifikan dalam mengelola pertumbuhan infrastruktur dan kebutuhan sumber daya secara Salah satu pendekatan strategis untuk mengatasi persoalan ini adalah melalui penerapan konsep green building atau bangunan hijau, yang mengedepankan efisiensi energi, konservasi air, pengelolaan limbah, dan kenyamanan penghuni (Gou et al. , 2. Bangunan hijau adalah sistem konstruksi yang bertujuan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup manusia melalui perencanaan, pembangunan, dan operasional yang berkelanjutan (Prum, 2. Di Indonesia, konsep ini telah mulai diadopsi secara bertahap, terutama di kota-kota besar, melalui sistem penilaian seperti GREENSHIP dari Green Building Council Indonesia (GBCI), yang memberikan panduan mengenai aspek-aspek lingkungan dalam pembangunan gedung (Adi & Ernawati. Meskipun demikian, penerapan bangunan hijau di kota-kota kecil dan berkembang seperti Bima masih tergolong minim. Padahal, secara geografis dan kultural. Bima memiliki potensi untuk menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan. Misalnya, rumah tradisional masyarakat Bima telah menggunakan bahan-bahan lokal seperti bambu, kayu, dan batu alam, serta menerapkan desain struktur panggung untuk mengatasi suhu panas dan sirkulasi udara alami (Azzahra & Nurini, 2. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai lokal sebenarnya sudah mengandung prinsip bangunan berkelanjutan, hanya saja belum terdokumentasi secara sistematis dan belum tersambung dengan standar teknis modern. Studi oleh (Darmada, 2. menekankan bahwa pendekatan kontekstual dan berbasis budaya lokal dalam penerapan green building dapat meningkatkan keberhasilan implementasinya di daerah-daerah dengan keterbatasan teknologi atau sumber daya. Oleh karena itu, penting untuk menjajaki bagaimana konsep green building dapat diadaptasi dan diimplementasikan dalam konteks lokal Bima, baik melalui kebijakan pemerintah daerah, keterlibatan masyarakat, maupun pendekatan desain arsitektur yang relevan dengan kondisi iklim dan sosial-budaya setempat. Dengan latar belakang tersebut, paper ini bertujuan untuk mengeksplorasi peluang dan tantangan penerapan konsep bangunan hijau dalam pembangunan perkotaan di Bima, serta memberikan rekomendasi kebijakan dan praktik yang sesuai untuk mendorong pembangunan berkelanjutan di wilayah ini. Tabel Konsep Green Building Table 1. Konsep green building secara umum (Azzahra & Nurini, 2. Aspek Deskripsi Contoh Penerapan Efisiensi Energi Mengurangi konsumsi energi melalui Penggunaan panel surya, pencahayaan desain pasif dan teknologi efisien alami, insulasi termal, jendela ganda Konservasi Air Menghemat penggunaan air dan Sistem penampungan air hujan, toilet memanfaatkan kembali air hujan/abu- hemat air, daur ulang air limbah Material Ramah Lingkungan Menggunakan Bambu, batu alam, kayu lokal, bata terbarukan, lokal, atau hasil daur dari limbah industri Kualitas Menjaga kenyamanan dan kesehatan Ventilasi alami, bahan bangunan nonLingkungan Dalam toksik, pencahayaan alami Ruang JOURNAL OF CIVILIUM Volume 1. Nomor 1 Maret 2025 Aspek Deskripsi Contoh Penerapan Manajemen Limbah Pemilahan Mengelola limbah konstruksi dan kembali material sisa, kompos dari operasional bangunan secara efisien limbah organik Lokasi dan Transportasi Memilih lokasi strategis untuk Bangunan dekat fasilitas umum, jalur mengurangi jejak karbon dari pejalan kaki, transportasi publik Adaptasi terhadap Iklim Lokal Rumah panggung untuk iklim panas. Mendesain bangunan sesuai kondisi atap miring untuk hujan deras, fasad iklim dan geografis setempat Pemanfaatan Teknologi Hijau Smart meter listrik dan air, sistem Mengintegrasikan teknologi yang mendukung efisiensi dan monitoring kontrol suhu pintar METODE PENELITIAN Kota Bima terletak di bagian timur Pulau Sumbawa dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Bima di utara, timur, dan selatan, serta Teluk Bima di barat. Kota ini memiliki luas wilayah sekitar 222,25 kmA dan terdiri dari 5 kecamatan: Asakota. Mpunda. Raba. Rasanae Barat, dan Rasanae Timur. Gambar 1. Peta Kota Bima. Penelitian ini dilakukan pada Kota Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat Pendekatan: Kualitatif Karena paper ini mengeksplorasi fenomena sosial, budaya, dan teknis dalam konteks Kualitatif digunakan untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang praktik, persepsi, dan kondisi di lapangan. (Darmada, 2. Metode Pengumpulan Data: Judul artikel: Kajian Penerapan Konsep Green Building Dalam Konstruksi Perkotaan di Bima http://ejournal. | 11 Jenis Data Wawancara semiterstruktur Observasi langsung Dokumentasi Studi pustaka Sumber Dinas PUPR, arsitek lokal, kontraktor, tokoh adat, masyarakat Proyek bangunan hijau di Bima . ika ad. , atau bangunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), peraturan daerah, foto bangunan, laporan teknis Literatur tentang green building, kearifan lokal, dan arsitektur Metode pengumpulan data merujuk pada standar GBCI Indonesia (Adi & Ernawati, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Penerapan Green Building di Bima Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa penerapan konsep green building di Bima masih dalam tahap awal dan sporadis. Belum ada regulasi khusus di tingkat daerah yang mewajibkan atau mendorong pembangunan hijau. Namun, terdapat beberapa inisiatif proyek pembangunan yang secara tidak langsung telah menerapkan prinsip-prinsip bangunan hijau, baik melalui adaptasi budaya lokal maupun inisiatif individu/komunitas. Contohnya: Sebuah pusat kegiatan masyarakat di Kecamatan Mpunda dibangun dengan ventilasi silang alami, pencahayaan matahari maksimal, dan penggunaan bahan lokal . ayu dan batu ala. Beberapa sekolah negeri mulai menggunakan sistem penampungan air hujan sederhana untuk digunakan sebagai sumber air cadangan. Integrasi Kearifan Lokal dan Green Building Masyarakat Bima secara tradisional telah menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan, walaupun tidak menyebutnya dengan istilah green building. Desain rumah panggung tradisional Bima memungkinkan aliran udara yang optimal sehingga mengurangi kebutuhan pendingin buatan. Material lokal seperti bambu, kayu, dan jerami digunakan secara luas karena tersedia di sekitar lingkungan dan mudah diperbarui. Bentuk atap pelana atau limasan memudahkan pembuangan air hujan dan meningkatkan pencahayaan serta sirkulasi udara. Namun, modernisasi gaya hidup dan peralihan ke material beton telah menggeser praktik Banyak rumah baru dibangun dengan bahan yang tidak efisien energi . emen, seng pana. , tanpa mempertimbangkan aspek lingkungan. JOURNAL OF CIVILIUM Volume 1. Nomor 1 Maret 2025 Persepsi dan Pemahaman Masyarakat Berdasarkan wawancara dengan masyarakat, kontraktor lokal, dan Dinas PUPR Kota Bima, ditemukan bahwa: Mayoritas masyarakat belum memahami istilah Augreen buildingAy, namun banyak yang mendukung efisiensi energi dan air jika diberi pemahaman manfaatnya. Kontraktor dan tukang bangunan cenderung fokus pada kecepatan dan biaya murah, bukan aspek lingkungan. Tidak ada pelatihan atau sosialisasi teknis dari pemerintah daerah terkait konstruksi ramah lingkungan Kendala dan Tantangan Implementasi Beberapa tantangan utama yang ditemukan di lapangan: Kategori Regulasi SDM Ekonomi Sosialbudaya Uraian Kendala Belum ada Perda atau kebijakan teknis yang mengatur atau mendorong green building Rendahnya kapasitas teknis arsitek, tukang, dan pelaku konstruksi tentang desain hijau Persepsi bahwa bangunan hijau membutuhkan biaya tinggi dan tidak cocok untuk masyarakat berpenghasilan rendah Kurangnya kesadaran dan masih dominannya desain modern yang tidak adaptif terhadap iklim lokal Potensi dan Peluang Pengembangan Meski banyak kendala, terdapat beberapa peluang strategis: Ketersediaan material lokal seperti bambu, batu alam, dan kayu, yang ramah lingkungan dan murah. Budaya lokal yang masih mengakar pada prinsip hidup selaras dengan alam. Minat komunitas dan LSM lokal terhadap isu lingkungan dapat menjadi mitra penggerak edukasi bangunan hijau. Kawasan rawan air membuat konservasi air menjadi kebutuhan praktis, yang sejalan dengan prinsip green building. Judul artikel: Kajian Penerapan Konsep Green Building Dalam Konstruksi Perkotaan di Bima http://ejournal. | 13 Hasil Analisis Tematik Dari seluruh data yang dihimpun, hasil analisis menghasilkan 5 tema utama: Tema Kesadaran Berbasis Nilai Lokal Kesenjangan Pemahaman Teknis Ketidakhadiran Kebijakan Lokal Persepsi Biaya Tinggi Potensi Adaptasi dan Edukasi Berbasis Komunitas Keterangan Kearifan lokal sudah mengandung prinsip green building, walau belum diformalkan Arsitek & tukang belum dilatih dalam desain hijau secara modern Tidak ada aturan atau insentif yang mendorong green building secara sistematis Masyarakat menganggap bangunan hijau mahal dan sulit dijangkau Komunitas lokal bisa jadi motor edukasi jika dilibatkan secara aktif Penerapan Konsep Green Building di Kota Bima Aspek Penelitian Hasil Temuan Rendah Ae belum ada regulasi khusus, masih terbatas Tingkat Implementasi pada inisiatif pribadi atau komunitas kecil. Cukup tinggi secara tradisional Ae desain rumah Pemanfaatan Kearifan Lokal panggung, ventilasi alami, dan penggunaan bahan lokal menunjukkan prinsip green building. Rendah Ae sebagian besar belum mengenal istilah green Kesadaran Masyarakat building, tapi memiliki pemahaman nilai efisiensi dan kenyamanan jika dijelaskan secara praktis. Terbatas Ae tukang dan kontraktor belum mendapatkan Pemahaman Teknis (SDM) pelatihan atau edukasi tentang desain bangunan hijau. Tidak adanya kebijakan daerah, keterbatasan dana. Tantangan Utama kurangnya SDM terlatih, persepsi biaya mahal, dan dominasi gaya modern konvensional. Potensi besar pada: bahan lokal melimpah . Peluang Pengembangan batu ala. , warisan budaya ramah lingkungan, dan adanya komunitas lingkungan aktif. Beberapa sekolah menggunakan penampungan air Contoh Praktik Green Building hujan. balai warga memakai ventilasi silang dan pencahayaan alami. Minim Ae belum ada Perda atau inisiatif kebijakan yang Peran Pemerintah Daerah mengarahkan pembangunan ramah lingkungan. Fokus pada efisiensi biaya jangka pendek, belum Sikap Pelaku Konstruksi mempertimbangkan efisiensi energi atau keberlanjutan. Beberapa aspek seperti efisiensi air dan material lokal Kesesuaian cocok, namun belum terpenuhi secara menyeluruh GREENSHIP dalam kriteria resmi GBCI. JOURNAL OF CIVILIUM Volume 1. Nomor 1 Maret 2025 KESIMPULAN Penerapan konsep green building di Kota Bima masih berada pada tahap awal dan belum terintegrasi secara sistematis dalam kebijakan pembangunan daerah. Meskipun demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Bima, seperti penggunaan bahan bangunan alami, desain rumah tradisional yang ramah iklim, serta prinsip efisiensi energi dan air, sejatinya telah mencerminkan semangat pembangunan Sayangnya, rendahnya pemahaman teknis di kalangan pelaku konstruksi, minimnya regulasi dan dukungan dari pemerintah daerah, serta persepsi masyarakat terhadap tingginya biaya pembangunan hijau menjadi hambatan utama dalam implementasi konsep Studi ini menegaskan bahwa Kota Bima memiliki potensi besar untuk mengembangkan green building berbasis budaya lokal jika didukung oleh kebijakan yang tepat, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan partisipasi aktif masyarakat. Upaya edukasi, pelatihan teknis, serta penyusunan regulasi yang mendukung pembangunan hijau merupakan langkah penting untuk mewujudkan kota yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA