Wiwin Nur Istiqomah At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 1 No. Maret 2024 Hal: 1-11 Implementasi Pendidikan Karakter untuk Menanamkan Nilai Peduli Sosial Sesama Berdasarkan Hadits di SD Islam Aulia Sidoarjo Wiwin Nur Istiqomah STAI Sabilul Muttaqin Mojokerto e-mail: wiwinnur237@gmail. ABSTRACT This research wasbased on the problem of how to instill social caring aharacters in schools and how teachers implement social values based on hadith. From the problems that arise, the aim is to familiarize students with implementing the value of social care in their living environment. This type of research uses descriptive qualitative, namely research that contains information about student character education in instilling social care based on hadiththe data sources in this research include primary data and secondary Primary data includes ustadz/ustadzah and students at Aulia Islamic Elementary School. Sidoarjo. The result of the research carried out ae character education implemented by ustadz/ustadzah to instill a spirit of social care for others with the habit of praying. Then, implementing social care character education is by filling the donation can every day after the dhuha prayer. Student are instilled with the values of howimportant and beneficial giving is. Furthermore, in instilling the value of hadiths about shodaqoh, the teacher provides routine habits for students recite hadithsincluding shodaqoh hadiths every day accompanied by reciting short letters and daily prayers. Apart from that, the homeroom teacher and accompanying teachers always provide motivation to continue learning to become people who like to pray and continue to spread kindness to others. Keywords: Education. Character Values Social Care. Shodaqoh Hadith ABSTRAK Penelitian ini diambil berdasarkan permasalahan tentang bagaimana penanaman karakter peduli sosial disekolah dan bagaimana implementasi guru dalam menanamkan nilai-nilai sosial berdasarkan hadits. Dari permasalahan yang muncul bertujuan untuk membiasakan siswa-siswi mengimplementasikan nilai peduli sosial dalam lingkungan hidupnya. Jenis penelitian menggunakan deskriptif kualitatif yakni penelitian yang mengandung informasi tentang pendidikan karakter siswa dalam menanamkan peduli sosial berdasarkan hadits. Adapun sumber data dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer meliputi ustadz/ustadzah dan siswa-siswi di SD Islam Aulia Sidoarjo. Hasil dari penelitian yang dilakukan adalah pendidikan karakter yang diterapkan ustadz/ustadzah untuk menanamkan jiwa karakter peduli sosial sesama dengan pembiasaan bershodaqoh. Kemudian dalam mengimplementasikan pendidikan karakter peduli sosial yaitu dengan mengisi kaleng infak setiap hari yang dilakukan setelah sholat dhuha. Siswa ditanamkan nilai-nilai akan betapa penting dan manfaatnya berinfak. Selanjutnya dalam penanaman nilai hadits tentang shodaqoh bahwasanya guru memberikan pembiasaan rutin ke siswa untuk melafalkan hadits hadits termasuk hadits shodaqoh setiap hari disertai dengan melafalkan surat-surat pendek, dan doAoa sehari-hari. Selain itu, wali kelas dan guru pendamping selalu memberikan motivasi untuk terus belajar menjadi orang-orang yang gemar bershodaqoh dan terus menyebar kebaikan terhadap sesama. Kata Kunci:Pendidikan. Karakter Nilai Peduli Sosial. Hadits Shodaqoh Hal 1 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Wiwin Nur Istiqomah PENDAHULUAN Pendidikan karakter adalah suatu proses utuk pembentukan karakter dan membantu siswa menjadi sebisa mungkin beradaptasi terhadap lingkungan sehingga terjadi perubahan dalam diri mereka yang memungkinkan mereka untuk berinterksi dengan baik dalam kehidupan sosial (Arif et al. , 2. Pendidikan tentang karakter harus mempraktikkan tidak hanya disekolah tetapi juga harus diterapkan di rumah bahkan di lingkungan masyarakat. Pendidikan karakter dalam menanamkan nilai peduli sosial membutukan upaya kerja sama atau kolaborasi antara tiga pilar utama yaitu pendidikan dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga pilar tersebut sangat berperan penting tetapi memiliki peran yang berbeda (Lestari & Handayani, 2. Jika kerja sama ini berhasil pendidikan karakter akan mencapai cita-cita luhur sebagaimana dimaksud. Oleh karena itu sudah sepatutnya semua pihak memperhatikan pendidikan karakter siswa. Karakter dalam peduli sosial termasuk salah satu dari delapan belas dari nilai karakter yang tercantum dalam pendidikan sosial (Octavia, 2. Peduli sosial merupakan sikap dan tindakan yang senantiasa ingin memberikan bantuan kepada orang lain dan masyarakat yang Implementasi dari peduli sosial dituangkan berdasarkan bahwa manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia membutuhkan orang lain, baik untuk memenuhi kebutuhannya maupun untuk saling berinteraksi satu sama lain, sehingga ada sifat saling tergantung antara satu individu dengan individu yang lainnya (TabiAoin, 2. Upaya implementasi nilai karakter peduli antar sesama diberikan kepada peserta didik di Sekolah Dasar dapat berupa kegiatan sederhana di dalam kelas ataupun di luar kelas. Kegiatan itu akan menjadi sebuah kebiasaan yang melekat pada diri sesorang sehingga akan membentuk kepekaan terhadap sesama. Hal ini dapat kita lihat dari sebagian peserta didik SDI Aulia Sidoarjo masih kurang baik dalam menerapkan nilai karakter peduli sosial antar sesama, seperti peserta didik masih sering terlihat berkelahi dan enggan melerai perkelahian tersebut, saling mengejek antar teman, enggan bergabung saat ada belajar kelompok, enggan menyapa ketika bertemu guru, acuh tak acuh kepada teman yang mengalami kesusahan/musibah dan enggan mengeluarkan sebagian uang saku untuk berinfak. Permasalahan tersebut dapat terjadi karena dipengaruhi oleh faktor ekstern atau faktor dari luar peserta didik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri Melati bahwa, ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu faktor intern . ingkungan keluarg. dan faktor ekstern . ingkungan masyarakat atau teman bermai. (Nur Anggraini et al. , 2. Berkaitan dengan hubungan masyarakat dan teman bermain. Islam memiliki pegangan Al-QurAoan dan Hadits dalam menjaga kerukunan umat Islam. Manusia tak lepas dari saling Hal 2 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Wiwin Nur Istiqomah tolong menolong satu sama lain. oleh karena itu manusia harus melatih diri dengan bershodaqoh karena dengan bershodaqoh manusia terhindar dari musibah (BalaA. hadits riwayat Bukhari Muslim. Salah satu cara melatih peserta didik untuk bershodaqoh adalah dengan dimulai dari bershodaqoh ringan dulu seperti tersenyum, berbicara baik, mengucapkan salam, dan meminjamkan sesuatu kepada sesama (Sari & Yulianawati, 2. Sedangkan shodaqoh berat dilakukan dengan cara menyisihkan sebagian harta yang dimiliki. Rasululloh bersabda "Barang siapa yang menginfakan kelebihan hartanya di jalan Allah SWT, maka Allah akan melipatgandakannya dengan tujuh ratus . ali lipa. , dan barang siapa yang berinfak untuk dirinya dan keluarganya, atau menjenguk orang sakit, atau menyingkirkan duri maka mendapatkan kebaikan dengan 10 kali lipatnya (Sulaiman Slamet, 2. Berdasarkan hadits di atas menunjukkan bahwa prilaku shodaqoh begitu luar biasa dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu pembiasaan bershodaqoh diterapkan di sekolah SDI Aulia Sidoarjo yang merupakan sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Pembentukan karakter diawali dengan jati diri dan watak yang melekat pada setiap individu dengan cara menumbuhkan akhlakul karimah . khlak muli. , yaitu usaha dalam mentransformasikan nilainilai hadits Rasululloh sebagai masyarakat rahmatan lil aalamin . ahmat bagi seluruh alam semest. yang mengedepankan aspek emosional, sosial, intelektual dan spiritual. Tak hanya itu. Islam menyakini bahwa moral merupakan identitas manusia yang diaplikasikan dalam dunia nyata. Oleh karena itu Allah SWT menyatakan bahwa orang yang berakhlak mulia adalah orang yang shalih . aat dengan segala perintahny. yang diimplementasikan dengan sikap, perkataan, dan tindakan yang baik (S. Siregar & Lessy, 2. Dalam penelitian ini bertujuan untuk menanamkan nilai peduli sosial berdasarkan Akibat pesatnya teknologi, pendidikan mengalami kelunturan akan karakter peserta didik yang disebabkan oleh perkembangan rasa apatisme, individualisme, acuh tak acuh, mudah suudzon terhadap sesama bahkan saling membenci satu sama lain. penanaman karakter nilai sosial terhadap sesama manusia berpengaruh pada kualitas pendidikan lembaga sekolah, karena bagaimanapun, hendak seperti apa masa depan peserta didik diukur dari seberapa maksimal keberhasilan proses pendidikan (Octavia, 2. Sejalan dengan penelitian (Himmah et al. , 2. bahwa pendidikan karakter peduli sosial ditanamkan pada pembelajaran IPS yaitu. dengan berbagi kegiatan sosial, meminjamkan alat pada teman yang tidak punya, memelihara kebersihan, keindahan dan kelestarian alam, bertindak santun, toleransi terhadap perbedaan dan mampu bekerjasama. Selain itu guru IPS juga mengintegrasikan materi IPS dengan nilai-nilai peduli sosial. Budaya sekolah yang ditanamkan berawal dari kegiatan rutin peserta didik, kegiatan spontan dan keteladanan. Hal 3 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Wiwin Nur Istiqomah Sedangkan penelitian (Zaenuri & Muqowim, 2. lebih menekankan pada pendidikan karakter dalam menanamkan nilai peduli lingkungan kebersihan sekolah melalui hadits. Karakter yang dilakukan adalah cara menjaga kebersihan ketika pembelajaran dikelas, adanya pembiasaan siswa untuk membuang sampah pada tempatnya dan melafalkan hadits kebersihan setiap hari jumAoat serta murojaAoah hafalan surat-surat pendek. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengkaji implementasi pendidikan karakter untuk menanamkan nilai peduli sosial sesama berdasarkan hadits di SD Islam Aulia Sidoarjo. METODE Metode dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk mendapatkan informasi terkait pendidikan karakter siswa dalam menanamkan nilai peduli sosial sesama berdasarkan hadits. Deskriptif merupakan pengambaran suatu fenomena dengan data yang akurat yang diteliti secara sistematis yang diaplikasikan dengan kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang diamati. Sedangkan penelitian kualitatif ini diambil dari perspektif teori yang menganut aliran fenomenalogis yaitu sebuah penelitian yang meneliti gejala sosial, persepsi tidak hanya dari apa yang dipikirkan peneliti tentang gejala dan fakta akan tetapi juga diambil dari objek yang diteliti (Sahir, 2. Sumber data dalam penelitian ini meliputi sumber primer dan sekunder. Sumber primer disini yaitu Ustadz/Ustadzah di SDI Aulia Sidoarjo. Tujuan peneliti memilih informan tersebut adalah untuk mendapatkan informasi dari sumber sehingga data yang diperoleh dapat diakui Data ini diperoleh dalam bentuk verbal atau kata-kata lisan dari subjek . yang berkaitan dengan implementasi dalam menanamkan nilai peduli sosial sesama berdasarkan hadits shodaqoh. Data sekunder merupakan sumber yang tidak secara langsung memberikan data kepada pengumpul data. Data sekunder ini meliputi jurnal dan buku dan penelitian sebelumnya yang relevan. Penelitian ini dimulai pada tanggal 25 Oktober 2023 sampai dengan 29 Maret 2024. Selama penelitian tersebut, peneliti langsung menyusun hasil penelitian dan menganalisis data yang diperoleh selama waktu penelitian. Kemudian hasil penelitian disusun oleh peneliti dalam bentuk laporan hasil penelitian. Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah SDI Aulia Sidoarjo. Instrumen penelitian. Menurut Arikunto . AuInstrumen penelitian adalah alat bantu pada waktu peneliti mengumpulkan dataAy. Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam ataupun sosial yang diamati. Dengan instrumen penelitian akan memudahkan dalam melakukan penelitian. Agar mendapatkan data yang baik dan akurat sesuai dengan tujuan penelitian ini, maka penelitian harus secara langsung meneliti tentang Hal 4 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Wiwin Nur Istiqomah Implementasi Pendidikan Karakter dalam menanamkan nilai peduli sosial sesama berdasarkan hadits shodaqoh di SDI Aulia Sidoarjo. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara serta sumber-sumber data penelitan sebelumnya yang relevan. Sedangkan teknik analisis datanya menggunakan reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan Karakter Peduli Sosial Sesama Berdasarkan observasi di SDI Aulia Sidoarjo terlihat pendidikan karakter yang ditanamkan oleh guru yaitu dengan cara memberikan pemahaman tentang bagaimana membiasakan siswa untuk bershodaqoh setiap hari yang di masukkan dalam kaleng. Masingmasing anak mempunyai kaleng sendiri-sendiri. Kaleng ini di isi setiap selesai sholat dhuha, disaat akan memasukkan uang, guru menganjurkan untuk mendoakan kedua orang tuanya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk bakti kita kepada orang tua dan empati kita kepada anak yatim/fakir miskin. Bentuk empati itu dituangkan ke siswa siswi dengan cara berinfak setiap hari, yang hasilnya nanti, bisa kita berikan ketika bulan Ramadhan kepada orang yang Dalam pendidikan karakter peduli sosial sesama SDI Aulia Sidoarjo guru memberikan penanaman dengan selalu berinfak di kaleng masing-masing senilai seribu atau lima ratus Kebiasaan ini dilakukan setiap hari. Pembiasaan mengisi kaleng merupakan gambaran pencitraan dari sikap peduli sosial antar sesama. Sikap peduli ditanamkan dengan memberikan pemahaman tentang pentingnya bershodaqoh agar kita senantiasa terlindungi dan terhindar dari Sehingga peserta didik memiliki kesadaran tanpa ada tekanan dan melaksanakannya dengan ikhlas. Contohnya ketika ada teman kita yang mendapat musibah terkena angin putting beliung . umahnya rusa. , tanpa intruksi dari guru, siswa punya inspirasi untuk mengajak teman-teman untuk bershodaqoh seikhlasnya. Karakter peduli sosial sesama merupakan karakter yang harus diterapkan bagi sekolah disetiap jenjang pendidikan. Semua warga sekolah diharapkan memiliki sikap peduli sosial sesama dengan mengamalkan beberapa pembiasaan. Kebiasaan sekolah yang dapat kita lihat berasal dari aktivitas teratur dan aktivitas otomatis (Z. Siregar & Lubis, 2. Aktivitas teratur ialah aktivitas yang dilaksanakan secara terus menerus, tidak berubah-ubah. Dari hasil wawancara salah satu guru, program teratur sekolah terdiri dari aktivitas setiap hari dan Aktivitas setiap hari yang dilakukan ialah budayakan 7S (Senyum. Salam. Salim. Sapa. Semangat. Sopan, dan Santu. dimana para siswa melakukan itu dikala awal masuk pintu Hal 5 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Wiwin Nur Istiqomah gerbang dengan bersaliman kepada ustadz/ustadzahnya setelah itu bersalaman dengan temantemannya, baik adik kelas atau kakak kelas. Adapun aktivitas otomatis yang sudah berjalan disekolah adalah Jumat berkah yang dilakukan setiap awal bulan minggu pertama. Masing-masing siswa membawa satu bungkus nasi yang kemudian nasi tersebut dibagikan di depan sekolah SD Islam Aulia kepada masyarakat yang membutuhkan. Dengan demikian pendidikan karakter peduli sosial sesama pada dasarnya membantu guru dalam penanaman karakter siswa tentang kepedulian terhadap Dengan saling peduli sosial akan membuat pembelajaran nyaman dan tentram, serta hubungan antar teman satu dengan teman yang lain seperti keluarga sendiri, sehingga suasana lingkungan belajar menjadi semangat dan menyenangkan. Sejalan dengan itu, nenek moyang bangsa Indonesia mengatakan AuIng ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayaniAy bahwa karakter siswa dibangun dengan memberikan contoh keteladanan dan pembiasaan dari kegiatan berbagi jumat berkah (Setiawatri & Kosasih, 2. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SD Islam Aulia Sidoarjo yaitu pendidikan karakter yang ditanamkan guru dengan cara memberikan pemahaman tentang bagaimana membiasakan siswa untuk bershodaqoh . enyisihkan sebagian hart. dengan cara mengisi kaleng yang dilakukan setelah selesai sholat dhuha dan membiasakan budaya 7S (Senyum. Salam. Salim. Sapa. Semangat. Sopan, dan Santu. Gambar 1. Pembiasaan Infak dan Budaya 7S Implementasi Pendidikan Karakter Peduli Sosial Bersama di Sekolah Observasi yang dilakukan di SD Islam Aulia Sidoarjo guru menjadi teladan yang baik, guru menjadi model keteladanan yang menjadi panutan untuk dicontoh baik dari sikap, tindakan maupun prilaku. Sikap yang ditanamkan adalah toleransi, ketika ada teman yang sedang membutuhkan bantuan secara spontan teman yang lain ikut untuk membantunya. Contoh ada ember yang berisi air di halaman sekolah karna bekas AC kelas yang menetes, lama kelamaan bak tersebut jadi penuh air lalu secara bersama-sama . otong-royon. air tersebut Dengan demikian siswa terbiasa memiliki sikap peduli kepada teman. Dalam implementasi pendidikan karakter peduli sosial bahwa di SD Islam Aulia Sidoarjo. Guru selalu ikut serta dalam mencerminkan kepedulian sosial terhadap sesama. Hal 6 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Wiwin Nur Istiqomah Setiap menerapkan peduli sosial guru selalu ikut serta mencontohkan sikap-sikap yang ikhlas, yaitu dengan terlebih dahulu menyumbangka sebagian harta sebelum menyuruh siswa. Dengan sifat keteladanan seperti itu, maka siswa akan meniru hal yang sama seperti yang dilakukan guru tersebut. Dengan adanya implementasi pendidikan karakter peduli sosial siswa lebih peka untuk menyingkapi kehidupan dikala hidup ini memang perlu sekali saling tolong-menolong antar sesama. Dalam implementasi karakter peduli sosial tentunya guru harus bisa menumbuhkan perilaku peduli sosial sesama. Yang menjadi bagian dari karakter peduli sosial dapat diawali dengan peran guru dalam memberikan keteladanan, guru dapat mencotohkan langsung dengan cara, membantu murid ketika melakukan pekerjaan berat seperti membuang bak air yang sudah penuh, merapikan bangku, dan ikut serta menyumbangkan sebagian harta untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan. Selain itu guru guru juga harus menerapkan beberapa sikap diantaranya sikap peka ketika melihat di sekeliling lingkungan membutuhkan bantuan, ringan tangan, ikhlas, dan saling kasih menyayanggi antar sesama. Dengan sikap tersebut secara tidak langsung akan membentuk jiwa karakter yang peka terhadap kehidupan orang lain. Dengan demikian akan menjadi sebuah pembiasaan bekal kehidupan siswa-siswi Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SD Islam Aulia Sidoarjo yaitu, guru juga memberikan penguatan tentang keutamaan menjaga lisan agar berhati-hati dalam berbicara, tidak menyinggung perasaan sesama teman bermain. Selalu belajar mengatakan kalimat yang mulia, tidak menghina, mengejek teman ketika bermain. Tidak menyakiti atau melukai fisik sehingga menyebabkan kesakitan teman dan meminta maaf jika melakukan kesalahan. Guru memberikan nasehat dan pengertian agar para siswa menghormati, menghargai orang lain dan peduli terhadap teman. Guru juga memberikan tindak lanjut agar siswa tidak mengulangi perbuatan yang salah, dengan menanamkan penguatan bahwa manusia mulia bukanlah yang tidak mempunyai salah, tapi manusia yang mempunyai kesalahan dan bersiap untuk tidak melakukannya lagi (Isnaeni & Ningsih, 2. Kegiatan tersebut dilakukan jika ketika mendapatkan siswa terdapat ada hal- hal yang berbuat kurang baik. Penanaman Nilai Peduli Sosial Berdasarkan Hadis Shodaqoh Penanaman nilai peduli sosial dan hadis yang dilakukan di SD Islam Aulia Sidoarjo meliputi kegiatan fisik dan non fisik. Bentuk kegiatan fisik yang dilakukan disekolah adalah membuat poster berupa tata tertib, aturan kode etik dan program pembiasaan sehingga siswa mengetahui dan mentaati tata tertib yang berlaku yang berlaku disekolah. Kode etik siswa memuat aturan, sehingga siswa mengetahui cara bersikap dan bergaul yang baik dengan guru maupun teman. Selain itu siswa diharapkan dapat mengikuti program pembinaan siswa yang Hal 7 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Wiwin Nur Istiqomah diberikan sekolah. Sedangkan pengkondisian nonfisik yang dilakukan sekolah adalah dengan memberikan perhatian dan kerja kelompok dalam kegiatan pembelajaran dikelas sehingga siswa siap menerima pelajaran. Guru juga menggunakan pengkondisian kerja kelompok sehingga siswa dapat berinteraksi dengan temannya serta bekerjasama dan tolong menolong teman yang mengalami kesulitan. Pengkondisian yang dilakukan sekolah baik fisik maupun nonfisik merupakan bagian pendukung dalam pelaksanaan Pendidikan karakter peduli sosial. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan (Agus Wibowo, 2. bahwa untuk mendukung keterlaksanaan Pendidikan karakter maka sekolah harus dikondisikan sebagai pendukung kegiatan itu. Gambar 2. Poster Tata tertib. Aturan kode etik Menurut Kemendiknas . indikator keberhasilan sekolah yang ada dalam panduan penanaman karakter dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu, . memfasilitasi yang bersifat sosial, . melakukan aksi sosial, . menyediakan fasilitas untuk menyumbang, . berempati kepada sesama teman kelas, . membangun kerukunan warga kelas. Peneliti juga menggunakan indikator kelas rendah dan kelas tinggi, namun peneliti menggabungkan indikator nilai peduli sosial menjadi satu tanpa memisah jenjang kelas yaitu . membagi makanan dengan teman, . berterimakasih kepada petugas kebersihan sekolah, . memminjamkan alat tulis kepada teman yang tidak, membawa atau tidak punya. mengumpulkan uang dan barang untuk korban bencana alam, . mengunjungi rumah yatim dan orang-orang jompo, . menghormati petugas sekolah, . membantu teman yang sedang memerlukan bantuan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah sudah melaksanakan pendidikan karakter peduli sosial sesuai dengan indikator tersebut. Akan tetapi dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa terdapat 12 indikator nilai karakter yang dominan dan satu indikator nilai karakter peduli sosial kurang dominan. Nilai dominan adalah nilai yang selalu nampak dalam pengamatan. Indikator nilai karakter peduli sosial yang dominan yaitu . memfasilitasi kegiatan bersifat sosial berupa tabungan isi infak kaleng yang dilakukan setelah sholat dhuha, . melakukan aksi sosial dengan berbagi jumAoat berkah, . menyediakan fasilitas untuk menyumbang, . berempati kepada sesama teman kelas, . membangun kerukunan Hal 8 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Wiwin Nur Istiqomah dengan menerapkan semboyan 7s (Senyum. Salam. Salim. Sapa. Semangat. Sopan, dan Santu. , . membagi makanan dengan teman, . berterimakasih kepada petugas kebersihan sekolah, . meminjamkan alat tulis kepada teman yang tidak membawa atau tidak punya, . mengumpulkan uang dan barang untuk korban bencana alam, . menghormati petugaspetugas sekolah, . membantu teman yang sedang memerlukan bantuan. Sedangkan nilai karakter peduli sosial yang kurang dominan yaitu mengunjungi rumah yatim dan orang jompo. Dengan demikian observasi yang dilakukan di SD Islam Aulia Sidoarjo bahwasanya pihak sekolah dan guru membuat pemahaman dengan memakai hadits shodaqoh yang ditempelkan disetiap mading kelas dengan tujuan agar siswa-siswi bisa selalu melihat dan menghafal sehingga bisa menerapkan ikhlas shodaqoh dan menjadi kebiasaan karakter peduli sosial dalam menjalani kehidupan sosialnya. Gambar 3. Madding Hadits Shodaqoh KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan dari hasil penelitian di SD Islam Aulia Sidoarjo dapat disimpulkan bahwasanya, pendidikan karakter yang dilakukan guru yaitu dengan cara memberikan pemahaman tentang bagaimana membiasakan siswa membentuk perilaku peduli sosial yang peka terhadap sesama. Dalam hal ini pendidikan karakter peduli sosial sesama ditunjukkan dengan pembiasaan aktivitas teratur yaitu . Setiap pagi yang dilakukan setelah sholat dhuha siswa-siswi mengisi kaleng infak masing-masing, diiringgi dengan mendoakan kedua orang tua, . Budayakan 7s (Senyum. Salam. Salim. Sapa. Semangat. Sopan, dan Santu. , . Jumat berkah . erbagi makanan kepada sesam. Sedangkan implementasi peduli sosial ditunjukkan bahwa guru, sebagai model keteladanan yang dicontoh baik dari sikap, tindakan maupun Penanaman nilai peduli sosial berdasarkan hadis yang dilakukan meliputi kegiatan fisik dan nonfisik. Bentuk kegiatan fisik yang dilakukan disekolah adalah membuat poster berupa tata tertib, aturan kode etik dan program pembiasaan melafalkan hadits tentang shodaqoh setiap pagi. Sedangkan pengkondisian non fisik yaitu memberikan perhatian kerja Hal 9 At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Wiwin Nur Istiqomah kelompok sehingga siswa dapat berinteraksi dengan temannya serta bekerjasama dan tolong menolong pada teman yang mengalami kesulitan. Berdasarkan kesimpulan, maka saran yang dapat diberikan yaitu peserta didik sebaiknya lebih kompak lagi dalam menerapkan karakter peduli sosialnya di kelas dan guru sebaiknya mengeksplor lebih jauh lagi dalam mengembangkan karakter peduli sosial pada peserta didik. DAFTAR PUSTAKA