Efektivitas Antijamur Ekstrak Etanol DaunA (Wahyu Dewayanti. Tri Umiana Soleha, dk. Efektivitas Antijamur Ekstrak Etanol Daun dan Akar Beluntas Pertumbuhan Candida Albicans Dengan Metode Spektrofotometri Effectiveness of Antifungal Ethanol Etract of Beluntas Leaves and Roots on Candida Albicans by Sphectrofotometric Method Wahyu Dewayanti1. Tri Umiana Soleha2. Rani Himayani3. Betta Kurniawan4 Program Studi Profesi Dokter. Fakultas Kedokteran. Universitas Lampung. Bandar Lampung Departemen Ilmu Mikrobiologi. Fakultas Kedokteran. Universitas Lampung. Bandar Lampung Departemen Ilmu Mata. Fakultas Kedokteran. Universitas Lampung. Bandar Lampung Departemen Ilmu Mikrobiologi. Fakultas Kedokteran. Universitas Lampung. Bandar Lampung Korespondensi Penulis : wahyudewayanti19@gmail. ABSTRACT Candidiasis an infection caused by Candida family fungi, usually Candida albicans species. Beluntas . amily Asteracea. are one of the plants that can control fungal diseases. These plants contain flavonoid compounds, tannins, essential oils, and alkaloids that are known to function as anti-inflammatory, anti ulcer, antioxidant, and anti microbial. Furthermore, the roots of Beluntas plant also contain flavonoids, phenols, proanthocyanidins, and tannins, which have been shown to have pharmacological effects, inhibit microorganisms, and reduce the risk of fungal infections. This research aims to comparative effectiveness of antifungal ethanol extract of Beluntas leaves and roots on Candida albicans in invitro growth by spectrophotometric method. This research was pure experimental with a posttest-only control group design. Spectrophotometric method was used to determine the antifungal effect of ethanol extract, therefore diameter of inhibition zone. Minimum Inhibitory Concentration (MIC), and Minimum Killing Concentration (MKC) could be Results showed antifungal effect of ethanol extract of Beluntas leaves at concentrations of 100%, 75%, 50%, and 25% and ethanolic extract of the roots of Beluntas plant (Pluchea Indica Les. at a concentration of 100% on growth of Candida albicans. Beluntas leaf extract has better effectiveness than ethanol extract of Beluntas plant roots in inhibiting growth Candida albicans. Keywords : beluntas plant, candida albicans, effectiveness, plucea indica less. ABSTRAK Kandidiasis merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh jamur family Candida, biasanya oleh spesies Candida albicans. Tanaman beluntas . amily Asteracea. merupakan salah satu tumbuhan yang mampu mengendalikan penyakit jamur. Tanaman tersebut mengandung senyawa flavonoid, tanin, minyak atsiri, dan alkaloid yang dikenal mampu berfungsi sebagai antiinflamasi, antiulkus, antioksidan dan anti mikroba. Lebih lanjut, akar tanaman beluntas juga memiliki kandungan flavonoid, fenol, proanthocyanidins, dan tannin yang terbukti memiliki efek farmakologis, inhibitor mikroorganisme dan mengurangi risiko infeksi jamur. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan daya antijamur ekstrak etanol daun dan akar tanaman beluntas terhadap pertumbuhan candida albicans. Penelitian berbentuk eksperimental murni . rue experimenta. dengan rancangan berupa post test only control group design. Metode spektrofotometri digunakan untuk mengetahui efek antijamur ekstrak etanol sehingga dapat ditentukan diameter zona hambat. Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM). Hasil penelitian menunjukan adanya efektivitas antijamur ekstrak etanol daun Beluntas konsentrasi 100%, 75%, 50%, 25% dan ekstrak etanol akar tanaman Beluntas (Plucea Indica Les. konsentrasi 100% terhadap pertumbuhan Candida albicans. Ekstrak etanol daun Beluntas memiliki efektivitas lebih baik daripada ekstrak etanol akar tanaman Beluntas dalam menghambat pertumbuhan Candida Albicans. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 98-106 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Efektivitas Antijamur Ekstrak Etanol DaunA (Wahyu Dewayanti. Tri Umiana Soleha, dk. Kata Kunci : candida albicans, efektivitas, plucea indica less, tanaman beluntas. PENDAHULUAN Seiring pengetahuan dan teknologi, banyak orang telah berusaha dan mencoba berbagai penelitian untuk menciptakan solusi mengatasi berbagi jenis penyakit, mulai dari penyakit ringan sampai penyakit berat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut secara tidak langsung mempengaruhi perkembangan pola pikir manusia untuk berbagai penyakit, sehingga pengobatan bukan saja secara medis tetapi juga menggunakan obat-obatan tradisional (Kementrian perdagangan RI, 2. Uji Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) merupakan pengujian potensi suatu senyawa dalam mengetahui efektivitas terhadap mikroba, dengan dilusi cair metode spektrofotometri saat ini mampu menilai tingkat absorbansi atau nilai sederhana untuk menetapkan kuantitas zat yang sangat kecil. Selain itu hasil yang diperoleh cukup akurat dimana angka yang terbaca langsung dicatat oleh detektor dan tercetak secara kuantitatif dalam bentuk angka digital ataupun grafik yang sudah diregresikan menurut Yahya S dalam NiAoma 2020. Suatu Kandidiasis peningkatan angka kematian sekitar 71%-79%. Kandidiasis oral merupakan suatu infeksi yang paling sering dijumpai dalam rongga mulut manusia, dengan prevalensi 20%-75% dijumpai pada manusia sehat tanpa gejala (Nasution M , 2. Target yang diserang adalah bayi dan orang dewasa yang tubuhnya lemah, pada bayi penyakit kandidiasis bisa didapat dari dot, pakaian, bantal, dan Infeksi patogen terjadi ketika Candida albicans menyusup ke dalam lapisan mukosa mulut dan kandidiasis dapat bersifat lokal dan sistemik (Carranza, 2. Infeksi jamur seperti Candida diakui abad yang lalu sebagai indikator penyakit yang jauh lebih besar mendasari seperti diabetes mellitus, tumor ganas, dan infeksi kronis. Kerusakan pada selaput lendir dan kelenjar ludah juga memungkinkan kolonisasi Candida. Bila keseimbangan flora normal dan abnormal terganggu, pertumbuhan berlebih dari jamur ini dapat terjadi contohnya pada penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) (Framasari dkk. , 2. Candida albicans stomatitis pada gigi tiruan, angular cheilitis, median rhomboid glossitis dan (Samaranayake, 2. Candida sp sendiri menduduki peringkat keempat sebagai penyebab infeksi aliran darah (Blood Stream Infection/BSI) pada rumah sakit di Amerika Serikat, yaitu sekitar 8-10% dari seluruh angka infeksi aliran darah di rumah sakit (Widaty. Menurut Riset dan teknologi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (Ristek-Bri. tahun 2019 prevalensi kandidiasis di Indonesia sekitar 20-25% 52% responden dinyatakan Prevalensi Sumatera Selatan sekitar 25% pada penyakit kronis dengan sistem imun rendah (Framasari dkk. , 2. Penyakit jamur pada kulit merupakan salah satu penyakit dengan angka prevalensi tinggi pada daerah yang beriklim tropis dan memiliki kelembaban tinggi (Rahmawati. Di Lampung kasus kandidiasis vagina pada anak asuh di panti asuhan Kota Metro sebesar 21,66%. Gambaran infeksi di panti Budi Utomo 12,5%, dan panti Asuhan Tuma-ninah Yasin 30% sehingga menyebabkan kekhawatiran pada santri lain yang sehat dan ditakutkan akan mempengaruhi pola hidup yang tidak sehat antar nantinya (Wantini, 2. Salah satu herbal tradisional adalah tanaman Beluntas (Plucea indicaLes. yang merupakan jenis tanaman dari family Asteraceae merupakan salah satu family yang banyak digunakan Ageratum conyzoides. Gynura pseudochina, dan Pluchea indica. Pluchea indica dikenal dengan tanaman Beluntas yang telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional oleh beberapa masyarakat, dikonsumsi sebagai minuman kesehatan Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 98-106 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Efektivitas Antijamur Ekstrak Etanol DaunA (Wahyu Dewayanti. Tri Umiana Soleha, dk. dan juga sebagai sayuran pokok terutama masyarakat yang tinggal di Asia Tenggara Indonesia. Malaysia. Vietnam. Thailand Kamboja karena memiliki fungsi sebagai antiinflamasi, antiulkus, antioksidan dan antimikroba pada tanaman tersebut (Srisook, 2. Ekstrak etanol daun beluntas memiliki aktivitas sebagai anti jamur lebih tinggi melawan Malassezia dibandingkan dengan ketoconazole menurut penelitian (Putri dan Habib dalam jurnal Silalahi, 2. Pada (Maftuhah, menyebutkan bahwa ekstrak daun Beluntas Staphylococcus epidermidis yang umumnya dapat menimbulkan penyakit pembengkakan . seperti jerawat, infeksi kulit, infeksi saluran kemih, dan infeksi ginjal. Pada penelitian yang telah dilakukan oleh (MutaAoAli, 2. menyatakan bahwa pada daun Beluntas Plucea indica mengandung senyawa flavonoid, tanin, minyak atsiri, dan alkaloid. Pada penelitian Bramanti, 2018 mengenai efektivitas ekstrak etanol daun beluntas menyebutkan daun beluntas konsentrasi 25%, 50%, 75% terbukti Candida albicans sebagai salah satu penyebab kandidiasis. Ekstrak etanol akar Beluntas memiliki aktivitas sebagai anti kanker yang sangat kuat pada sel (NPC) manusia tergantung waktu dan dosis pemberian menurut (Kao dkk. , 2. Hasil skreening senyawa fitokimia pada akar beluntas dalam penelitian (Cho, 2. menyatakan bahwa terdapat proanthocyanidins serta tannin yang kandungannya namun terbukti memiliki efek farmakologi pada tanaman beluntas sebagai antibakteri, antioksidan dan antijamur sehingga tanaman beluntas tanaman obat. Berdasarkan uraian di atas, mempertimbangkan daun dan akar tanaman beluntas yang sedikit dikenal masyarakat namun ternyata memiliki khasiat pada berbagai macam penyakit salah satunya penyakit kandidiasis dan perbedaan efektivitas anti jamur ekstrak etanol daun dan akar tanaman Beluntas spektrofotometri untuk menilai Kadar Hambat Minimum (KHM) pada kedua ekstrak tersebut, dalam hal ini jamur uji yang digunakan adalah Candida albicans menimbulkan penyakit kandidiasis yang sering terjadi. METODE Penelitian penelitian eksperimental laboratorik, yaitu metode penelitian yang dilakukan dalam laboratorium dengan lingkungan terkontrol bertujuan untuk menguji hipotesis melalui pengaturan variabel independen dan pengukuran variabel Metode yang digunakan dalam penelitian ini One Way Annova post hoc tamhane, yaitu metode statistik perbedaan signifikan antara rata-rata dari tiga kelompok atau lebih. Kemudian dilakukan uji post hoc untuk menentukan pasangan kelompok yang memiliki Uji tamhane dilakukan ketika homogenitas varians tidak terpenuhi (Sastroasmoro, 2. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Laboratorium Bioteknologi Pertanian. Fakultas Pertanian Universitas Lampung berlangsung antara bulan Oktober 2021 Ae Desember 2021. Mikroba uji yang digunakan adalah jamur spesies Candida albicans yang berasal dari Balai Kesehatan dan Kalibrasi Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstrak etanol daun dan akar tanaman beluntas (Plucea indica-les. yang diperoleh dari desa Libo Lampung Timur yang diekstrak menggunakan etanol di Laboratorium Bioteknologi Pertanian. Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Media Kultur penelitian ini menggunakan media agar Sabouraud Dextrose Agar (SDA), dan media cair dengan pelarut NaCl. Prosedur penelitian ini diawali membiakkan jamur, dilanjutkan dengan memberi perlakuan terhadap Candida Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 98-106 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Efektivitas Antijamur Ekstrak Etanol DaunA (Wahyu Dewayanti. Tri Umiana Soleha, dk. Setelah itu dilakukan uji diameter zona hambat, uji Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) spektrofotometri, dan uji Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM). Analisis bivariat HASIL Uji analisis univariat dilakukan terhadap hasil uji diameter zona hambat, uji Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) pada penelitian ini menggunakan uji statistik One Way Annova post hoc Penelitian ini telah lulus No. 2468/UN26. 18/PP. 00/2021. Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) sebagai berikut. Tabel 1. Hasil Pengukuran Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun dan Akar Tanaman Beluntas (Plucea Indica Les. terhadap pertumbuhan Candida albicans Konsentrasi ekstrak daun Beluntas 12,5% 6,25% K( ) Hasil Pengulangan Konsentrasi ekstrak akar Beluntas 12,5% 6,25% K(-) Keterangan : K( ) Kontrol positif berisi Flukonazol dan K(-) Kontrol Negatif berisi pelarut aquades. Hasil (-) Hasil Pengulangan Menandakan tidak adanya zona yang Tabel 2. Hasil Pengukuran Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) metode Spektofotometri Konsentr Daun Daun 75% Daun 50% Daun 25% Daun 12,5% Daun 6,25% Kontrol Kontrol Akar 100% Akar 75% Akar 50% Akar 25% Akar 12,5% Akar 6,25% Pengulangan 1 Sebelu Sesud 2,457 2,039 1,146 1,918 0,171 0,170 0,349 0,211 0,163 0,129 3,214 0,061 2,837 2,275 1,577 0,854 3,104 0,059 2,858 2,073 1,671 0,872 0,418 0,602 0,213 0,345 Pengulangan 2 Sebelu Sesud Rata-rata Sebelu Sesud 2,454 1,915 2,456 1,916 Turun 2,038 1,144 0,350 0,172 0,170 0,211 2,038 1,145 0,349 0,171 0,170 0,211 Turun Turun Turun 0,163 0,128 0,163 0,128 Turun 3,211 0,061 2,843 2,276 1,577 0,851 0,417 3,110 0,059 2,862 2,074 1,676 0,873 0,601 3,212 0,061 2,840 2,275 1,577 0,852 0,417 3,107 0,059 2,860 2,273 1,673 0,872 0,601 Turun Turun Turun Turun Naik Naik Naik 0,212 0,343 0,212 0,344 Naik Keterang Turun Keterangan : K( ) Kontrol positif berisi Flukonazol dan K(-) Kontrol Negatif berisi pelarut aquades. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 98-106 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Efektivitas Antijamur Ekstrak Etanol DaunA (Wahyu Dewayanti. Tri Umiana Soleha, dk. Tabel 3. Hasil Uji KBM Ekstrak etanol daun dan akar tanaman Beluntas terhadap pertumbuhan Candida albicans Konsentrasi Ekstrak Daun Beluntas 12,5% 6,25% K( ) Konsentrasi Ekstrak Daun Beluntas 12,5% 6,25% K( ) Efektivitas Tidak Tumbuh Tidak Tumbuh Tidak Tumbuh Tidak Tumbuh Tidak Tumbuh Tumbuh Tidak Tumbuh Efektivitas Tidak Tumbuh Tumbuh Tumbuh Tumbuh Tumbuh Tumbuh Tumbuh Keterangan : K( ) Kontrol positif berisi Flukonazol dan K(-) Kontrol negatif berisi pelarut Tabel 4. Hasil Uji One Way Annova Daun Daun 75% Mean ,0000 Std. Deviation ,0000 Daun 50% Daun 25% Daun 12,5% Daun 6,25% Akar 100% Akar 75% Akar 50% Akar 25% Akar 12,5% Akar 6,25% Kontrol Kontrol - -,5420 1,8660 -,9743 -,1390 -,0350 ,0193 -,2020 ,0977 ,0223 ,1840 ,1307 -,1083 -,0033 Hasil uji Annova menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 . <0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa Sig ,00300 ,00200 ,00153 ,00100 ,00100 ,00153 ,00000 ,00321 ,00451 ,00000 0,000 ,00153 ,00666 ,00153 terdapat perbedaan efektivitas antijamur pada masing-masing ekstrak etanol daun dan akar tanaman beluntas. Tabel 5. Uji Post Hoc ekstrak etanol akar Beluntas K(-) K(-) K( ) Akar 100% Akar 75% Akar 50% Akar 25% Akar 12,5% K( ) 0,072 0,072 0,005 0,002 0,003 0,402 0,002 0,047 0,142 0,003 0,003 0,016 Akar 0,005 0,047* 0,001 0,005 1,000 0,003 Akar 0,002* 0,142 0,001 0,003 0,012 Akar 0,003* 0,003* 0,005 0,003 0,004 0,041 Akar 0,402 0,003* 1,000 0,012 0,004 0,023 Akar 12,5% 0,002* 0,016* 0,003 0,023 0,041 Akar 6,25% 0,000* 0,012* 0,000 0,001 0,060 0,015 0,025 Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 98-106 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Efektivitas Antijamur Ekstrak Etanol DaunA (Wahyu Dewayanti. Tri Umiana Soleha, dk. Akar 6,25% 0,000 0,012 0,000 0,001 0,060 0,015 0,025 Tabel 6. Uji Post Hoc Hoc ekstrak etanol daun Beluntas K(-) K(-) K( ) Akar 100% Akar 75% Akar 50% Akar 25% Akar 12,5% Akar 6,25% K( ) 0,072 0,072 0,997 0,000 0,000 0,000 0,000 0,002 0,108 0,000 0,000 0,001 0,718 0,188 Akar 0,997 0,108 0,001 0,000 0,000 0,002 0,024 Akar 0,000* 0,000* 0,001 0,000 0,000 0,000 0,000 PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian bahwa efektivitas ekstrak daun beluntas (Plucea Indica les. memiliki perbedaan dengan ekstrak akar tanaman beluntas terhadap pertumbuhan Candida albicans dari hasil dengan menggunakan beberapa uji yang menghasilkan adanya suatu efek dari masing-masing perlakuan, namun hanya pada uji diameter zona hambat tidak didapatkan hasil zona bening baik pada ekstrak etanol Daun maupun ekstak etanol Akar dari tanaman Beluntas, dan hanya pada Kontrol positif berisi Flukonazol yang tampak adanya zona hambat yang terbentuk sebesar 32mm, dikarenakan Flukonazol yang merupakan obat anti jamur generasi pertama dari golongan triazol sintesis dan agen fungistatik aktif terhadap Candida albicans (Zakaria, 2. Hal ini juga membutktikan kurangnya efektivitas ekstrak dari tanaman Beluntas sebagai Cakram artinya dengan media padat membuat ekstrak etanol tanaman Beluntas tidak bekerja secara maksimal dan membutuhkan waktu yang lama dalam menghambat pertumbuhan jamur candida albicans sehingga tidak mampu membentuk zona bening media padat pada hasil uji setelah inkubasi. Prinsip kerja metode difusi cakram sendiri adalah terdifusinya senyawa ekstrak ke dalam media padat yang dimana mikroba uji telah diinokulasikan. Hasil pengamatan yang diperoleh adalah berupa ada atau tidaknya daerah bening yang terbentuk di sekeliling kertas cakram . lank dis. yang telah direndam dengan konsentrasi ekstrak etanol daun Akar 0,000* 0,000* 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Akar 0,000* 0,001* 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Akar 12,5% 0,000* 0,718* 0,002 0,000 0,000 0,000 Akar 6,25% 0,002* 0,188 0,024 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 dan akar tanaman Beluntas (Plucea Indica Les. yang digunakan pada media Saboroud Dextrose Agar (SDA) untuk pertumbuhan jamur (Balaouri dkk. Zona Hambat yang seharusnya dihasilkan oleh bahan antimikroba akan semakin besar apabila konsentrasi yang diberikan juga tinggi (Amrie dkk. , 2. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil (Bramanti, menyatakan hasil pengujian efektivitas antijamur ekstrak etanol daun beluntas terhadap Candida albicans didapatkan hasil terbentuknya zona hambat di sekitar kertas cakram yang berisi ekstrak etanol daun beluntas pada konsentrasi 25%, 50%, dan 75%, namun pada zona pertumbuhan Candida albicans. Hal ini menjadikan perbedaan penilaian antar peneliti dalam menilai zona bening. Faktor keberhasilan salah satunya yaitu secara teknis kurang lamanya perendaman cakram dengan ekstrak sehingga belum maksimalnya perlekatan kandungan fitokimia pada ekstrak dan faktor biologis berasal dari kualitas jamur hasil inokulasi yang kurang baik. Uji Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) pertumbuhan Candida albicans dilakukan untuk menilai tingkat absorbansi atau nilai kekeruhan menggunakan spektrofotometri dimana semakin tidak adanya kekeruhan pada tabung atau data hasil spektrofotometri mengalami penurunan setelah inkubasi menandakan tidak adanya pertumbuhan Candida albicans, keunggulan utama metode ini yaitu memberikan cara sederhana untuk menetapkan kuantitas Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 98-106 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Efektivitas Antijamur Ekstrak Etanol DaunA (Wahyu Dewayanti. Tri Umiana Soleha, dk. zat yang sangat kecil selain hasil yang diperoleh cukup akurat dan angka yang terbaca dapat langsung dicatat oleh detector tercatat secara kuantitatif dalam bentuk angka digital ataupun grafik yang sudah diregresikan (Yahya S. Pada didapakan hasil panjang gelombang sebelum dan sesudah inkubasi, pada ekstrak etanol daun Beluntas konsentrasi rata-rata sebelum di inkubasi yaitu 0,163 dan nilai rerata sesudah inkubasi selama 24 jam yaitu 0,128 terlihat adanya penurunan angka, yang artinya pada konsentrasi 6,25% sudah mampu menghambat pertumbuhan jamur. Hasil pada media dibanding metode difusi padat media agar karena dengan penggunaan media cair kandungan ekstrak lebih mudah tersebar keseluruh media tabung dan menyebabkan senyawa fitokimia pada masing-masing ekstrak bekerja tepat sasaran sehingga lebih efektif dalam mengenai langsung isolat jamur tanpa perantara sehingga menyebabkan jamur mati dan tidak mengalami pertumbuhan dan tabung tetap jernih. Daun Beluntas mengandung senyawa flavonoid yang bersifat polar membuat zat flavonoid dapat dengan mudah menembus lapisan peptidoglikan yang juga bersifat polar, sehingga flavonoid sangat efektif untuk menghambat pertumbuhan mikroba. Flavonoid mempunyai cara kerja yang sama seperti saponin yaitu menghambat pertumbuhan mikroba, yaitu dengan mendenaturasi protein mikroba yang aktivitas metabolisme sel mikroba. Terhentinya mengakibatkan kematian sel (Rahman , 2. Tannin yaitu senyawa antimikroba melalui reaksi dengan membran sel, inaktivasi enzim dan inaktivasi fungsi materi genetik. Senyawa tanin mampu dengan menghambat enzim reverse transkriptase dan DNA topoisomerase sehingga sel jamur tidak dapat terbentuk (Astridwiyati dkk. , 2. Minyak Atsiri merupakan senyawa fenol mempunyai cara kerja yang sama seperti saponin dan flavonoid dalam hal menghambat pertumbuhan mikroba, yaitu dengan mendenaturasi protein yang menyebabkan terhentinya aktivitas metabolisme sel mikroba. Terhentinya aktivitas metabolisme mengakibatkan Alkaloid merupakan senyawa yang mengandung nitrogen dan sering kali terdapat dalam cincin Alkaloid memiliki sifat basa dan biasanya terdapat dalam sel tumbuhan sebagai garam berbagai asam Senyawa alkaloid sebagian besar berupa padatan kristal, tetapi ada beberapa yang berupa cairan seperti Senyawa alkaloid mempunyai kemampuan melindungi tumbuhan dari senyawa antimikroba (Astridwiyati dkk. Dilakukan uji konfirmasi Kadar Bunuh Minimun (KBM) ekstrak etanol daun Beluntas tidak terjadi pertumbuhan 100%,75%, 50%, 25%, 12,5% namun pada konsentrasi 6,25% masih dapat terjadi pertumbuhan jamur, sehingga dapat disimpulkan Efektivitas pada ekstrak etanol daun Beluntas terendah sudah efektif menghambat pertumbuhan jamur candida albicans pada konsentrasi 12,5% dan dapat dikatakan bersifat fungistatik dimana efektivitas hambat diinkubasi selama 24jam dan diuji konfirmasi dengan ditumbuhkan pada media padat KBM tidak menunjukkan pertumbuhan pada media (Febriani. Pada ekstrak etanol akar beluntas (Plucea Indica les. yang memiliki konsentrasi hambat minimum (KHM) hanya pada konsentrasi murni 100% Candida albicans setara kontrol positif Flukonazol efektivitas menghambat pertumbuhan Candida Flukonazol sendiri suatu obat yang biosyntesis ergosterol jamur, karena perbedaan jenis kandungan fitokimia yang terdapat dalam akar beluntas seperti adanya kandungan flavonoid, fenol dan proanthocyanidins serta tannin yang belum dapat terdeteksi jumlah kandungannya namun terbukti memiliki efek farmakologi pada tanaman beluntas sebagai antibakteri dan anti oksidan Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 98-106 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Efektivitas Antijamur Ekstrak Etanol DaunA (Wahyu Dewayanti. Tri Umiana Soleha, dk. belum cukup menyamai efektivitas Beluntas candida albicans yang terlihat dari hasil variasi konsentrasi yang efektif memiliki efektivitas menghambat jamur candida albicans (Cho, 2. Perbedaan yang tidak ada pada Proanthocyanidins pada akar beluntas mempengaruhi sel pada mikroba dan menyebabkan kematian jamur, sehingga pada akar beluntas juga mampu Candida albicans sama seperti daun beluntas namun pada daun Beluntas terlihat memiliki variasi efektivitas yang konsentrasinya beragam. Hasil uji Anova menunjukkan bahwa p0,05 yang artinya tidak ada perbedaan bermakna terhadap kontrol positif, kelompok perlakuan ekstrak etanol daun beluntas konsentrasi 100%, 12,5% dan 6,25% dengan hasil signifikasi nilai p>0,05 menandakan tidak ada perbedaan bermakna terhadap kontrol positif yang artinya mampu setara dengan efektivitas kontrol positif berupa flukonazol, hal ini sejalan dengan penelitian (Amrie dkk. , 2. Yang menyatakan bahwa Efektivitas yang dihasilkan oleh bahan antimikroba akan semakin besar apabila konsentrasi yang diberikan juga tinggi. Pada uji efektivitas ekstrak etanol daun dan ekstrak etanol pertumbuhan Candida albicans dapat beluntas yang lebih memiliki variasi konsentrasi dalam menghambat dan membunuh sebagai antijamur daripada ekstrak etanol akar tanaman beluntas terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans yang telah dibuktikan dengan Uji Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dengan metode Spektrofotometri dan uji konfirmasi dengan uji Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM). SIMPULAN Berdasarkan penelitian ini didapat kesimpulan bahwa terdapat pengaruh efektivitas antijamur ekstrak etanol daun dan akar tanaman beluntas (Plucea Indica Les. terhadap pertumbuhan Candida albicans sebagai berikut: Tidak terbentuk diameter zona hambat ekstrak etanol daun dan akar pada tanaman Beluntas terhadap pertumbuhan Candida albicans. Terdapat antijamur ekstrak etanol daun dan akar tanaman Beluntas (Plucea Indica Les. Spektrofotometri Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) pertumbuhan Candida albicans pada Beluntas konsentrasi 100%, 75%, 50%, 25%, 12,5% dan 6,25% dan pada ekstrak Beluntas konsentrasi 100%. Terdapat Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) yaitu pada ekstrak etanol daun beluntas konsentrasi 100%, 75%, 50%, 25%, dan 12,5% serta Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) pada ekstrak etanol akar Beluntas konsentrasi 100% yang mampu Candida Albicans secara invitro. SARAN Saran selanjutnya adalah mengganti jenis patogen jamur dengan menggunakan bakteri lain sebagai efektivitas ekstrak etanol daun dan akar beluntas sebagai jenis tanaman yang memiliki efektivitas mikroba lain. DAFTAR PUSTAKA