Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 2. Desember 2023 EVALUASI PEMERIKSAAN BILIRUBIN TOTAL MENGGUNAKAN MODEL SPECIMEN INSIGNIFICANT DAN MILD HEMOLYSIS Suryanata Kesuma1. Siti Rodiyah1. Maulida Julia Saputri1 Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur. Kalimantan Timur. Indonesia Info Artikel: Disubmit: 03-08-2023 Direvisi: 05-10-2023 Diterima: 17-10-2023 Dipublikasi: 28-12-2023 Penulis Korespondensi: Email: suryanatakesuma@gmail. Kata kunci: Bilirubin Total. Specimen Insignificant Hemolysis. Specimen Mild Hemolysis DOI: 10. 47539/gk. ABSTRAK Bilirubin total merupakan salah satu pemeriksaan fungsi hati. Pemeriksaan bilirubin total umumnya menggunakan sampel darah yang tidak boleh hemolisis, sehingga sampel hemolisis menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan bilirubin total. Hemolisis dapat terjadi secara in vivo dan in vitro. Hemolisis secara in vitro menyebabkan kesalahan pemeriksaan bilirubin total. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hasil evaluasi pemeriksaan bilirubin total menggunakan model specimen insignificant dan mild hemolysis. Metode penelitian ini adalah kuasi Pembuatan hemolisat menggunakan larutan aquadest. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 40 sampel. Pemeriksaan menggunakan metode kolorimetri pada alat fotometer DIRUI DR7000D. Pemeriksaan hemoglobin digunakan untuk melakukan validasi specimen insignificant dan mild hemolysis. Hasil uji statistik one-way Anova didapatkan nilai Sig < 0. Hasil akurasi yang didapatkan adalah -1. 83% dan -4. 40% < 11. 4%, presisi 22. 6% > 7%. TE 38. 1% dan 38. 5% > 20% TEa berturut-turut sampel insignificant dan mild hemolysis. Kesimpulan terdapat perbedaan secara statistik dan klinis pada hasil evaluasi pemeriksaan bilirubin total model specimen insignificant dan mild ABSTRACT The total bilirubin is one of the liver function tests. The entire bilirubin test generally uses blood samples, which are one of the factors that canAot be hemolyzed, so hemolysis samples are one of the factors that can affect the result of the total bilirubin test. Hemolysis can occur in vivo and in vitro. Hemolysis in vitro causes an error in the entire bilirubin test. However, hemolysis specimens are still examined for total bilirubin under certain conditions. The evaluation aims to find out the results of natural bilirubin test specimens insignificant and mild hemolysis. This research method is quasi-experimental. They are making hemolysate using an aquadest solution. The number of samples in this research was 40, and examination was done using the colorimetric method on the DIRUI DR-7000D photometer. hemoglobin test is used to validate specimens of insignificant and mild hemolysis. The one-way Anova statistical test results obtained a sig value < 0. Accuracy results were -1. 83% and -4. 40% < 11. 0% and 20. 6% > 7%. TE 38. 1% and 38. 5% > 20% TEa, respectively, samples of insignificant and mild hemolysis. The conclusion: statistical and clinical differences exist in evaluating total bilirubin test results in the tiny and soft hemolysis specimen models. Keywords: Insignificant Hemolysis Specimen. Mild Hemolysis Specimen. Total Bilirubin Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 2. Desember 2023 PENDAHULUAN Secara umum, mutu laboratorium dipengaruhi oleh dua komponen dasar, yaitu mutu pemeriksaan dan mutu pelayanan. Mutu pemeriksaan merupakan tujuan dari proses dalam suatu prosedur dengan harus memperhatikan dua faktor utama, yaitu ketepatan . dan ketelitian . sehingga akan memberikan informasi hasil pemeriksaan yang tepat dan akurat, sedangkan mutu pelayanan ialah yang mengarah pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan. Salah satu laboratorium yang perlu selalu fokus pada mutu pelayanan dan pemeriksaan adalah laboratorium klinik. Laboratorium klinik merupakan laboratorium yang melakukan pelayanan pemeriksaan dengan menggunakan spesimen klinik, salah satunya adalah pemeriksaan bilirubin total (Siregar et al. , 2. Pemeriksaan bilirubin total dilakukan dengan menggunakan metode kolorimetri pada alat fotometer DIRUI DR-7000D. Pada hari pertama pemeriksaan dilakukan setting alat sesuai pada kit insert bilirubin total yang digunakan, setelah itu dilakukan kalibrasi dengan menggunakan reagen multikalibrator untuk mendapatkan faktor yang sesuai. Setiap kali dilakukan pemeriksaan terhadap sampel diawali dengan kontrol terlebih dahulu menggunakan serum kontrol yang disesuaikan pada faktor pemeriksaan bilirubin total yang telah ditentukan. Kontrol yang dilakukan bertujuan agar mendapatkan hasil pemeriksaan yang tepat dan akurat. Kemudian dilakukan pemeriksaan bilirubin total menggunakan specimen insignificant dan mild hemolysis sesuai pada kit insert prosedur pemeriksaan bilirubin total (Diagnostics, 2. Hemolisis adalah gangguan membran sel eritrosit yang mengakibatkan terlepasnya hemoglobin ke media sekitarnya yang ditandai dengan keadaan sampel berwarna kemerahan (Kahar, 2. Pada kondisi tertentu yang kerap kali terjadi di lapangan ialah penolakan sampel karena hemolisis. Menurut (Adiga & Yogish, 2. mengemukakan bahwa persentase kejadian hemolisis ringan sekitar 52,7% serta berjumlah sebanyak 31,36% untuk hemolisis sedang. Pada umumnya jika menemukan sampel hemolisis maka wajib dilakukan pengambilan ulang, akan tetapi tidak menutup kemungkinan untuk menghasilkan sampel hemolisis dikarenakan hemolisis bisa terjadi dengan cara in vitro maupun in vivo. Hemolisis dengan cara in vivo disebabkan oleh adanya situasi maupun kondisi patologis yang salah satunya ialah terjadi anemia hemolitik autoimun, infeksi, atau juga reaksi transfusi. Dalam beberapa kasus tersebut tidak dapat dihindari, dikarenakan kondisi patologis tersebut akan membuat terjadinya kerusakan pada sel darah merah sehingga dihasilkan sampel yang lisis (Riviana et al. , 2. Hemolisis secara in vitro jauh lebih sering terjadi dikarenakan adanya tahap pengambilan sampel, penanganan, maupun juga sentrifugasi sampel yang tidak benar (Lippi et al. , 2. Pemantapan mutu . uality assuranc. kimia klinik ialah rangkaian aktivitas ataupun kegiatan untuk mendapatkan jaminan dalam hal ketelitian dan ketepatan dari hasil pemeriksaan laboratorium kimia klinik. Salah satu faktor penting dari pemantapan mutu yakni Pemantapan Mutu Internal (PMI). PMI ialah aktivitas pemantauan maupun pencegahan yang mencakup tahap pra-analitik, analitik, serta pasca analitik oleh tiap-tiap laboratorium secara berkelanjutan untuk mencegah atau mengurangi terjadinya kesalahan hingga didapatkan hasil pemeriksaan yang benar dan juga tepat. Tahap pra-analitik Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 2. Desember 2023 mencakup diantaranya kompetensi sumber daya manusia, persiapan pasien, evaluasi permintaan pemeriksaan, serta pengiriman maupun penerimaan sampel. Tahap analitik mencakup diantaranya seluruh perihal disaat melakukan suatu pemeriksaan. Tahap pasca analitik mencakup diantaranya pelaporan maupun pencatatan hasil. Pada tahap pra-analitik hingga tahap pasca analitik bisa mempunyai kesalahan yang akan mempengaruhi hasil pemeriksaan (Risa, 2. Kesalahan dapat terjadi dalam tahap pra-analitik yang memiliki nilai persentase dengan jumlah sebesar 68%, 25% pada tahap analitik, dan 14% pada tahap pasca analitik. Penelitian Dereen Najat . menjelaskan bahwa kesalahan penanganan sampel pada tahap pra-analitik mencapai 39% dengan sumber utama kesalahan adalah 6% untuk sampel beku . , 8% untuk kesalahan identifikasi sampel, dan 9% untuk sampel yang terjadi hemolisis (Wahyu Wijayati & Ayuningtyas, 2. Sampel hemolisis bisa mempengaruhi hampir keseluruhan pemeriksaan laboratorium kimia klinik. Hasil pemeriksaan laboratorium klinik yang bermutu sangat dibutuhkan, salah satu pemeriksaan laboratorium yang wajib untuk dipertahankan kualitasnya ialah mengenai penanganan sampel, terutama terhadap sampel hemolisis. Dengan adanya penanganan sampel yang baik, maka akan memberikan hasil pemeriksaan spesimen yang akurat, maupun juga sebaliknya (Fadhilah, 2. Salah satu pemeriksaan yang sampelnya rentan terhadap hemolisis adalah pemeriksaan bilirubin. Hal ini dikarenakan sampel dapat dengan mudah terganggu stabilitasnya maka dari itu perlu dilakukan pemeriksaan dengan segera (Fadhilah, 2. Pemeriksaan bilirubin ialah salah satu pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui nilai fungsi hati. Bilirubin terbagi menjadi bilirubin indirek serta bilirubin direk, sedangkan pemeriksaan bilirubin total ialah jumlah dari bilirubin direk serta indirek (Rosida. Salah satu faktor yang mempengaruhi pemeriksaan bilirubin total adalah terjadinya hemolisis terhadap sampel. Sampel hemolisis secara in vivo dapat mengakibatkan peningkatan kadar bilirubin Namun sampel hemolisis secara in vitro dapat menyebabkan penghambatan pembentukan warna azo oleh aktivitas pseudoperoksidase sehingga terjadi penurunan kadar bilirubin total (Koseoglu et al. Pemeriksaan yang dilakukan pada sampel hemolisis dapat diamati secara visual, yaitu menurut densitas warna yang muncul dan masing-masing individu mempunyai perbedaan visualisasi sehingga walaupun menilai tingkat hemolisis spesimen akan memberikan hasil yang sama namun mempunyai kadar hemoglobin yang berbeda-beda (Koseoglu et al. , 2. Hemolisis dapat ditentukan berdasarkan kadar hemoglobin bebas pada serum/plasma menggunakan alat spektrofotometer. Pada penelitian ini, tingkat hemolisis dibagi menjadi tiga yaitu tidak hemolisis . ormal plasm. dengan kadar hemoglobin < 0. 25 g/L, insignificant hemolysis dengan kadar hemoglobin 0. 25 Ae 0. 5 g/L, dan mild hemolysis dengan kadar hemoglobin 0. 5 Ae 3. 0 g/L (Lippi, 2. Hemolisis ringan mempunyai dampak yang kecil di sebagian besar nilai pemeriksaan daripada hemolisis sedang yang mempengaruhi konstituensi sehingga dapat mengubah konsentrasi plasma/serum atau aktivitas komponen tertentu karena terjadinya peningkatan atau penurunan nilai yang disebabkan oleh gradien konsentrasi antara sel dan plasma (Thomas, 2. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 2. Desember 2023 Pada riset yang telah dilakukan oleh (Lippi et al. , 2. dan (Koseoglu et al. , 2. membuat kesimpulan bahwa hasil kadar bilirubin total akan menurun karena dipengaruhi oleh sampel yang Sampel hemolisis ialah faktor utama ketetapan hasil pemeriksaan bilirubin total, namun kerap kali dianggap kurang cukup penting oleh beberapa tenaga laboratorium. Maka dari itu, didasarkan dari latar belakang ini penulis melakukan suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hasil evaluasi pemeriksaan bilirubin total menggunakan model specimen insignificant dan mild hemolysis. Kelebihan metode yang digunakan yaitu agar mengetahui model level hemolysis yang masih dapat diterima oleh pemeriksaan bilirubin total, sedangkan kekurangan metode yang digunakan yaitu model level hemolysis belum tentu akan sama oleh parameter pemeriksaan kimia klinik lainnya sehingga harus memperhatikan interference kadar hemoglobin yang diperbolehkan pada setiap kit insert parameter pemeriksaan kimia METODE Jenis penelitian ini ialah kuasi eksperimen dengan rancangan penelitian one group pre and post test design. Pre test merupakan hasil pemeriksaan kadar bilirubin total pada plasma yang tidak ditambah hemolisat, dan Post test berupa hasil pemeriksaan kadar bilirubin total pada plasma yang ditambah hemolisat dengan model specimen insignificant dan mild hemolysis (Destiani & Wiryanti, 2. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Hematologi dan Kimia Klinik Program Studi Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan ialah simple random sampling dengan sampel spesimen darah normal yang diambil secara acak (Firmansyah & Dede, 2. Besaran sampel berdasarkan aturan westgard yaitu sebanyak 40 sampel (Westgard, 2. Sebelum dilakukan pengambilan spesimen, kaji etik telah dilakukan dengan hasil layak etik sesuai 7 . Standar WHO 2011 (NO : 47/KEPK-AWS/IV/2. Pada penelitian ini dilakukan uji pendahuluan dengan pembuatan hemolisat. Hemolisat dibuat menggunakan larutan aquadest. Perbandingan darah dan aquadest adalah 1 : 2. Prosedur pembuatan hemolisat yaitu darah yang telah didapat sebanyak 6 ml pada dua tabung berisi EDTA disentrifuge selama 15 menit pada kecepatan 1500 rpm. Kemudian plasma dipisahkan dari endapan eritrosit sehingga diperoleh volume sebesar 3 ml plasma dari kedua tabung EDTA. Endapan eritrosit yang diperoleh dilakukan pencucian sebanyak 3 kali menggunakan NaCl 0,9% dengan perbandingan 1 : 1 . atu bagian darah dengan satu bagian NaC. Setelah dilakukan pencucian eritrosit, diperoleh endapan eritrosit dengan volume sebesar 3 ml dari kedua tabung EDTA. Kemudian ditambahkan 1500 AAl aquadest pada tabung yang berisi endapan eritrosit dengan perbandingan volume 1 : 2 . atu bagian darah dengan dua bagian aquades. Lalu disentrifuge selama 15 menit pada kecepatan 5000 rpm. Pembuatan hemolisat dilakukan untuk menghasilkan kadar hemolisat yang insignificant dan mild hemolysis. Setelah itu dilakukan pembuatan specimen insignificant dan mild hemolysis dengan penambahan 20 AAl dan 80 AAl hemolisat yang masing-masingnya ditambah 1000 AAl plasma kemudian homogenkan. Sumber prosedur yang dilakukan merupakan modifikasi dari (Atika et al. , 2. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 2. Desember 2023 Hasil pembuatan hemolisat divalidasi dengan melakukan pemeriksaan hemoglobin metode cyanmethemoglobin untuk menentukan 2 level hemolisis yang berbeda, yaitu level insignificant dan mild hemolysis. Kadar hemoglobin untuk level insignificant hemolysis sebesar 0,25 Ae 0,5 g/L, dan kadar hemoglobin untuk level mild hemolysis sebesar 0,5 Ae 2,0 g/L. Pada penelitian ini juga dilakukan pengukuran kadar hemoglobin dengan sampel normal plasma sebagai acuan nilai standar dengan kadar hemoglobin sebesar <0 ,25 g/L (Lippi, 2. Digunakan level insignificant karena menurut (Lippi et , 2. menyatakan bahwa sampel hemolisis yang insignificant . idak mengganggu pemeriksaa. , maka masih dapat diperiksa dan dikerjakan. Sehingga dilakukan pemeriksaan level insignificant hemolysis untuk membuktikan bahwa pada level insignificant hemolysis masih dapat diperiksa pada parameter pemeriksaan bilirubin total. Setelah diketahui bahwa level insignificant masih dapat diperiksa pada parameter pemeriksaan bilirubin total, lalu dilanjutkan mengukur level mild hemolysis sebagai level dengan kadar hemoglobin yang lebih besar daripada insignificant untuk membuktikan kembali bahwa level mild hemolysis juga memiliki hasil yang masih dapat diperiksa pada pemeriksaan bilirubin Analisa data pada penelitian ini terbagi menjadi analisa secara uji statistik dan uji klinis. Analisa uji statistik dilakukan dengan uji one-way Anova untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kadar bilirubin total menggunakan specimen insignificant dan mild hemolysis terhadap specimen normal Kemudian dilakukan analisa uji klinis dengan perhitungan akurasi, presisi, dan total error bilirubin total. Hasil uji Total error dibandingkan dengan total error allowable yang telah ditetapkan oleh CLIA sebesar 20% untuk pemeriksaan bilirubin total. HASIL Penelitian dilakukan pada sampel specimen normal plasma . ebagai nilai standa. dengan konsentrasi hemoglobin < 0. 25 g/L, insignificant hemolysis . lasma ditambahkan 20AAl hemolisa. dengan kadar hemoglobin 0. 25 Ae 0. 5 g/L, dan mild hemolysis . lasma ditambahkan 80AAl hemolisa. dengan kadar hemoglobin 0. 5 Ae 3. 0 g/L. Berdasarkan hasil penelitian, dilakukan perhitungan persentase rata-rata hasil pemeriksaan hemoglobin dan bilirubin total menggunakan model specimen insignificant dan mild hemolysis sebagai validasi dengan hasil sebagai berikut: Tabel 1. Persentase hasil pemeriksaan hemoglobin dan bilirubin total Parameter Pemeriksaan Level Hemolysis Interpretasi % Hasil (%) Insignificant Hemoglobin Kenaikan Mild Insignificant Bilirubin Total Penurunan Mild Tabel 1 menunjukkan persentase hasil pemeriksaan hemoglobin mengalami kenaikan sebesar 5% untuk specimen insignificant hemolysis dan 447% untuk specimen mild hemolysis, sedangkan persentase hasil pemeriksaan bilirubin total mengalami penurunan sebesar 2. 4% untuk specimen insignificant hemolysis dan 3. 6% untuk specimen mild hemolysis. Kemudian dilakukan uji statistik. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 2. Desember 2023 seperti pada Tabel 2 berikut ini : Tabel 2. Hasil uji normalitas Normality Test Shapiro Ae Wilk HB Normal HB Insignificant Hemolysis HB Mild Hemolysis Statistic Sig. Tabel 2 menunjukkan hasil uji normalitas dengan nilai Sig. > 0. 05 maka itu data berdistribusi secara normal sehingga memungkinkan untuk dilakukan uji one-way Anova, seperti pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil uji one-way anova pemeriksaan bilirubin total specimen insignificant hemolysis One-way Anova Test Sum of Squares Mean Square Between Groups Within Groups Total Sig. Tabel 4. Hasil uji one-way anova pemeriksaan bilirubin total specimen mild One-way Anova Test Sum of Squares Mean Square Sig. Between Groups Within Groups Total Tabel 3 dan 4 menunjukkan hasil uji statistik one-way Anova yaitu sig < 0. 05 maka dengan demikian H0 ditolak serta H1 diterima, yang berarti terdapat perbedaan pemeriksaan kadar bilirubin total dengan menggunakan sampel specimen insignificant dan mild hemolysis terhadap sampel specimen normal plasma. Selanjutnya dilakukan uji klinis, seperti pada Tabel 5 berikut : Tabel 5. Hasil uji klinis Clinical Test Level Hemolysis Bias (%) CV (%) Insignificant Hemolysis Mild Hemolysis TE (%) TEa (%) Tabel 5 menunjukkan nilai bias . yang kurang dari nilai bias sebenarnya yaitu 11. (Sepulveda, 2. , sedangkan nilai CV . melebihi nilai CV Max yaitu 7% (Kemenkes RI, 2. , sehingga memperoleh nilai TE > TEa yang berarti terjadi kesalahan sistematik pada penelitian ini. Untuk mengetahui besarnya pengaruh hemolisis pada kadar bilirubin total dilakukannya uji regresi linier, seperti pada Gambar 1 : Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 2. Desember 2023 . Gambar 1. Regresi Linier . Bilirubin Total Specimen Insignificant Hemolysis, . Bilirubin Total Specimen Mild Hemolysis . Hemoglobin dan Bilirubin Total Specimen Insignificant Hemolysis . Hemoglobin dan Bilirubin Total Specimen Mild Hemolysis Gambar 1 . masing-masingnya menunjukkan nilai r = 0. 70 hampir mendekati 1 sehingga terdapat korelasi yang kuat antara nilai normal bilirubin total terhadap bilirubin total model insignificant dan mild hemolysis. Gambar 1 . masing-masingnya menunjukkan nilai r = 0. 31 dan 0. hampir mendekati 0 sehingga menunjukkan korelasi yang sangat rendah antara kadar hemoglobin dan bilirubin total specimen insignificant dan mild hemolysis. Teruntuk menilai keberterimaan . yang ada diantara 2 metode pengukuran klinis, dilakukannya analisis grafik bland altman. Pada grafik bland altman menunjukkan hasil analisis dari selisih . dengan nilai ratarata . pada parameter pemeriksaan hemoglobin dan bilirubin total specimen insignificant dan mild hemolysis terhadap specimen normal plasma. Pada grafik tergambarkan sebaran plot berupa titik dalam grafik yang merupakan suatu observasi maupun pengamatan diantara 2 metode pengukuran yang Titik tersebut haruslah ada di dalam LOA . imit of agreemen. dengan interval kesepakatan yakni dengan nilai persentase 95%. Grafik tersebut disajikan pada Gambar 2. Gambar 2 . Hasil Analisis Grafik Bland Altman Pemeriksaan Hemoglobin Specimen Insignificant Hemolysis, garis hijau menyatakan bias . ean differenc. dengan jumlah sebesar -0. Dua garis merah pada grafik menyatakan Upper Limit dan Lower Limit. Diperoleh upper limit dengan jumlah sebesar -0. 007 serta lower limit dengan jumlah sebesar -0. Berdasarkan pada grafik terdapat dua pengamatan atau titik yang terletak di luar lower limit. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 2. Desember 2023 . Gambar 2. Grafik Bland Altman . Hemoglobin Specimen Insignificant Hemolysis, . Hemoglobin Specimen Mild Hemolysis, . Bilirubin Total Specimen Insignificant Hemolysis, . Bilirubin Total Specimen Mild Hemolysis Gambar 2 . Hasil Analisis Grafik Bland Altman Pemeriksaan Hemoglobin Specimen Mild Hemolysis, garis hijau menyatakan bias . ean differenc. dengan jumlah sebesar -0. Dua garis merah pada grafik menyatakan Upper Limit dan Lower Limit. Diperoleh upper limit dengan jumlah -0. 058 serta lower limit dengan jumlah sebesar -1. Berdasarkan pada grafik ditemukan satu pengamatan atau titik yang terletak di luar dari lower limit. Gambar 2 . Hasil Analisis Grafik Bland Altman Pemeriksaan Bilirubin Total Specimen Insignificant Hemolysis, garis hijau menyatakan bias . ean differenc. dengan jumlah sebesar 0. Dua garis merah pada grafik menyatakan Upper Limit serta Lower Limit. Didapatkan hasil nilai dari upper limit dengan jumlah sebesar 0. 379 serta lower limit dengan jumlah sebesar -0. Berdasarkan pada grafik terdapat dua pengamatan maupun titik yang melebihi batas upper limit serta satu pengamatan atau titik yang melebihi batas lower limit. Gambar 2 . Hasil Analisis Grafik Bland Altman Pemeriksaan Bilirubin Total Specimen Mild Hemolysis, garis hijau menyatakan bias ataupun . ean differenc. dengan jumlah sebesar 0. Dua garis merah pada grafik menyatakan Upper Limit serta Lower Limit. Didapatkan hasil nilai dari upper limit berjumlah sebesar 0. 378 serta lower limit dengan jumlah -0. Berdasarkan pada grafik ditemukan dua pengamatan maupun titik yang terletak di luar upper limit serta terdapat satu pengamatan maupun titik yang terletak di luar lower limit. BAHASAN Persentase rata-rata hasil pemeriksaan hemoglobin pada Tabel 1 mengalami kenaikan, hal ini dikarenakan salah satu sebab terjadinya hemolisis adalah dengan adanya penambahan larutan hipotonis berupa aquadest secara sengaja pada sampel darah untuk membuat hemolisat, sehingga larutan tersebut masuk ke dalam sel darah merah dengan cara melalui membran semipermiabel yang membuat sel darah merah menjadi bengkak dan mengalami hemolisis atau pecah. Pecahnya membran sel darah merah ini Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 2. Desember 2023 mengakibatkan lepasnya hemoglobin ke dalam media di sekelilingnya sehingga menyebabkan kenaikan kadar hemoglobin dari setiap level (Kahar, 2017. Koseoglu et al. , 2. Data yang diperoleh sejalan pada hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Juni Ni pada Tahun 2020 mengenai AuA reference chart for clinical biochemical test of hemolyzed samplesAy bahwa rata-rata hasil kadar pemeriksaan hemoglobin mengalami peningkatan sesuai dengan indeks hemolisis yaitu tidak hemolisis, hemolisis ringan, hemolisis sedang, dan hemolisis berat. Dilakukan pemeriksaan hemoglobin sebagai validasi model specimen insignificant dan mild hemolysis. Persentase rata-rata hasil pemeriksaan bilirubin total berdasarkan Tabel 1 mengalami penurunan, dikarenakan terhambatnya pembentukan warna azo sebagai akibat aktivitas pseudoperoxidase dari Persentase penurunan kadar bilirubin total tergantung kadar hemolisat yang ditambahkan ke dalam plasma (Koseoglu et al. , 2. sehingga semakin tinggi level hemolysis berdasarkan kadar hemoglobin yang didapat, maka memiliki hasil kadar bilirubin total yang semakin rendah palsu. Data ini sejalan pada hasil riset yang sudah dilakukan oleh (Thomas, 2. dengan judul AuHaemolysis as influence & interference factorAy bahwa hasil rata-rata pemeriksaan bilirubin total setelah menggunakan sampel yang hemolisis akan mengalami konsentrasi rendah palsu. Hasil uji statistik yang didapat berdasarkan Tabel 2 bahwasanya keseluruhan data hasil penelitian terdistribusi secara normal sehingga memungkinkan untuk dilanjutkan pada uji statistik one-way Anova. Hasil uji one-way anova berdasarkan Tabel 3 dan 4 bahwa pemeriksaan bilirubin total specimen insignificant dan mild hemolysis terdapat perbedaan pemeriksaan kadar bilirubin total dengan menggunakan sampel specimen normal plasma, specimen insignificant dan mild hemolysis. Menurut (Koseoglu et al. , 2. menyatakan bahwa sel darah merah . yang pecah menyebabkan hemoglobin bebas masuk ke serum/plasma sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan warna serum/plasma yang menyebabkan gangguan penyerapan warna pada analisa fotometri sehingga berpengaruh pada hasil pemeriksaan bilirubin total. Hasil uji klinis pada Tabel 5 didapat dari perhitungan akurasi, presisi, dan total error pada pemeriksaan bilirubin total. Diperoleh hasil nilai uji akurasi yang mengalami penurunan dari nilai sebenarnya (Sepulveda, 2. sesuai dengan hasil persentase rata-rata pemeriksaan bilirubin total yang mengalami penurunan pada Tabel 1, namun terdapat perbedaan nilai presisi dan total error yang lebih besar daripada nilai standar presisi (Siregar et al. , 2. dan nilai total error allowable (CLIA) pada pemeriksaan bilirubin total specimen insignificant dan mild hemolysis. Hal ini dikarenakan terjadinya kesalahan sistematik yaitu dengan pembuatan hemolisat secara sengaja menggunakan aquadest sehingga sampel menjadi hemolisis. Berdasarkan hasil penelitian Mahdiah Syumarliyanty pada Tahun 2020 dengan judul AuEvaluasi Analitik Hematology Analyzer Diatron Abacus 3 pada Parameter Hematologi Rutin di Laboratorium Hematologi Poltekkes Kemenkes Kalimantan TimurAy bahwa dari perhitungan akurasi . %) dan impresisi (CV%) didapatkan hasil yang lebih besar atau tidak sesuai dengan kit insert Abacus 3, hal tersebut dikarenakan terjadinya kesalahan sistematik. Salah satu faktor yang menyebabkan nilai presisi melebihi batas maksimal yaitu pada teknik prosedur pemeriksaan. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 2. Desember 2023 Setelah diketahui total error yang didapat melebihi total error allowable yang telah ditentukan, kemudian dilakukan uji regresi linier untuk mengetahui besarnya pengaruh hemolisis terhadap kadar bilirubin total. Berdasarkan Gambar 1 . , didapatkan hasil yang menunjukkan kolerasi kuat antara nilai normal bilirubin total terhadap bilirubin total specimen insignificant dan mild hemolysis. Sedangkan berdasarkan Gambar 1 . , didapatkan hasil yang menunjukkan korelasi sangat rendah antara kadar bilirubin total dan kadar hemoglobin specimen insignificant dan mild hemolysis. Analisis grafik bland altman juga digunakan pada penelitian ini untuk menilai kecocokan dua pengukuran menggunakan perbedaan rata-rata dengan hasil bias yang mungkin terjadi, dan untuk memperkirakan interval kesepakatan yang dikenal sebagai LOA . imit of agreement. Pada hasil grafik didapat sebaran plot X dan Y, yaitu perbedaan antara dua pasang pengukuran pada plot terhadap ratarata dari kedua pengukuran tersebut. Analisis ini merekomendasikan bahwa 95% titik data berada dalam A 2 detik dari mean difference . erbedaan rata-rat. Metode ini hanya menunjukkan interval pencocokan tanpa menentukan apakah pembatasan dapat diterima. Batas yang dapat diterima harus ditetapkan berdasarkan keperluan klinis, peninjauan biologis, atau tujuan lainnya (Giavarina, 2. Grafik analisis bland altman menunjukkan hubungan antara selisih pengukuran dan rata-rata dari setiap pemeriksaan yang dilakukan. Grafik tersebut memiliki garis hijau yang menunjukkan bias atau mean difference . erbedaan rata-rat. , dan dua garis merah menunjukkan upper limit dan lower limit. Batas kesepakatan digunakan sebagai 1. % Z-scor. , upper limit dan lower limit dihitung dengan mengalikan standar deviasi dengan 1. 96 A dari perbedaan rata-rata. Grafik ini menyajikan plot distribusi berupa titik dalam grafik yang menggambarkan pengamatan antara dua metode pengukuran yang Jika titik-titik tersebut terletak di dalam upper limit dan lower limit berarti terdapat pengamatan yang sama antara kedua metode pengukuran tersebut. Jika titik terletak di luar upper limit dan lower limit berarti terdapat pengamatan yang berbeda atau dianggap sebagai outlier. Outlier yang diamati tidak boleh melebihi dua titik atau plot dari setiap upper limit dan lower limit. Outlier yang tidak melebihi dua titik atau plot dari setiap upper dan lower limit maka masih masuk dalam kriteria atau Berdasarkan Gambar 2. Hasil analisis grafik bland altman pada setiap pengukuran dua metode yang berbeda seperti pemeriksaan hemoglobin specimen insignificant dan mild hemolysis, pemeriksaan bilirubin total specimen specimen insignificant dan mild hemolysis didapatkan hasil bahwa terdapat melebihi dua titik atau plot yang berada diluar upper limit maupun lower limit yang disebut sebagai outlier, sehingga tidak masuk dalam kriteria atau keberterimaan. Dari seluruh data yang didapat pada evaluasi pemeriksaan bilirubin total model specimen insignificant dan mild hemolysis terhadap specimen normal plasma . ebagai nilai standar pengukura. didapatkan hasil secara visual specimen insignificant hemolysis berwarna merah muda dan specimen mild hemolysis berwarna merah yang lebih gelap daripada specimen insignificant hemolysis, dengan rata-rata nilai hemoglobin yang mengalami peningkatan, sedangkan rata-rata nilai bilirubin total mengalami penurunan dari setiap levelnya, sehingga semakin tinggi level hemolysis berdasarkan kadar hemoglobin yang diperoleh, maka memiliki hasil kadar bilirubin total yang semakin rendah palsu. Hal Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 2. Desember 2023 ini dikarenakan adanya aktivitas psudoperoxidase hemoglobin yang menghambat pembentukan warna Pada penelitian ini didapatkan kadar maksimal hemoglobin yang lebih kecil yaitu 1. 14 g/L daripada batas interference berdasarkan (G. Diagnostics, 2. kit insert pemeriksaan bilirubin total yaitu 16 g/L, maka dengan penambahan hemolisat sebesar 80 l pada 1000 l plasma yang secara visual menghasilkan warna merah pada specimen mild hemolysis ini masih dapat digunakan pada parameter pemeriksaan bilirubin total. Pada penelitian ini digunakan analisis data statistik dengan hasil yang berdistribusi normal sehingga dilanjutkan pada uji One-way Anova dengan hasil terdapat perbedaan kadar bilirubin total menggunakan specimen insignificant dan mild hemolysis. Dilakukan uji klinis untuk mengetahui perbedaan lain yang terjadi dengan menghitung nilai akurasi, presisi dan total error yang didapat dengan hasil nilai akurasi pemeriksaan mengalami penurunan sehingga sesuai pada hasil persentase rerata pemeriksaan bilirubin total yang juga mengalami penurunan, namun terdapat perbedaan nilai presisi dan total error yang lebih besar daripada nilai standar presisi dan nilai total error allowable pada pemeriksaan bilirubin total specimen insignificant dan mild hemolysis. Hal ini dikarenakan terjadinya kesalahan sistematik yaitu dengan pembuatan hemolisat secara sengaja menggunakan aquadest sehingga sampel menjadi hemolisis, dengan demikian hasil dari uji regresi linier menunjukkan pengaruh yang cukup lemah antara variasi hemoglobin dan kadar bilirubin total namun menunjukkan pengaruh yang kuat pada nilai normal bilirubin total terhadap bilirubin total model insignificant dan mild hemolysis, dan pada grafik bland altman tidak masuk dalam kriteria atau keberterimaan. SIMPULAN DAN SARAN Pada penelitian ini terdapat perbedaan statistik yang dilakukan perhitungan hasil statistik uji oneway Anova, dan terdapat perbedaan nilai klinis yang dilakukan dengan perhitungan akurasi, presisi (CV%), dan Total Error (TE%). Saran pada penelitian ini adalah pemeriksaan bilirubin total tidak dapat dilakukan pada sampel dengan level hemolysis yang sangat rendah, khususnya nilai bilirubin total yang mendekati nilai tidak normal. RUJUKAN