Volume 25 Issue 3 . Pages 503-513 FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi ISSN: 1411-1713 (Prin. 2528-150X (Onlin. Pengaruh profitabilitas dan leverage terhadap manajemen laba dengan dewan komisaris independen sebagai variabel moderating Rima Istanita1. Yana Ulfah2A Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman. Samarinda. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh profitabiltas dan leverage terhadap manajemen laba, pengaruh profitabilitas dan leverage yang dimoderasi dengan dewan komisaris independen terhadap manajemen laba di perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi tahun 2017-2020. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data kuantitatif yang berasal dari data sekunder. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda dan moderated regression analysis menggunakan program SPSS versi 26. Metode pengumpulan sampel penelitian ini menggunakan purposive sampling dan diperoleh 104 data. Berdasarkan analisis profitabilitas tidak berpengaruh terhadap manajemen laba, leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba, dewan komisaris independen tidak dapat memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap manajemen laba, dan dewan komisaris independen tidak dapat memoderasi pengaruh leverage terhadap manajemen laba. Kata kunci: Profitabilitas. dewan komisaris independen The effect of profitability and leverage on profit management with the independent board of commissioners as a moderating variable Abstract This study aims to determine the effect of profitability and leverage on earnings management, the effect of profitability and leverage moderated by an independent board of commissioners on earnings management in manufacturing companies in the consumer goods industry sector in 20172020. The type of data used in this study is quantitative data derived from secondary data. The data analysis technique used was multiple linear regression and moderated regression analysis using the SPSS version 26 program. The sample collection method for this study used purposive sampling and obtained 104 data. Based on the analysis of profitability has no effect on earnings management, leverage has a significant negative effect on earnings management, an independent board of commissioners cannot moderate the effect of profitability on earnings management, and an independent board of commissioners cannot moderate the effect of leverage on earnings management. Key words: Profitability. independent board of commissioners Copyright A 2023 Rima Istanita. Yana Ulfah A Corresponding Author Email: yana. ulfah@feb. FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi 503 Pengaruh profitabilitas dan leverage terhadap manajemen laba dengan dewan komisaris independen sebagai variabel moderating Rima Istanita. Yana Ulfah PENDAHULUAN Pada laporan keuangan suatu perusahaan, laba menjadi salah satu data yang memiliki potensi penting untuk semua pihak, informasi laba yang terkandung dalam laporan keuangan menjadi informasi utama pada pihak eksternal seperti investor untuk memutuskan berinvestasi di perusahaan tersebut dan bagi pihak internal digunakan perencanaan dan pengambilan keputusan untuk mencapai target yang diinginkan kedepannya, kinerja keuangan perusahaan yang baik menjadikan penilaian kemampuan para manajer dalam mengelola sumber dana perusahaan hingga mendapatkan laba. Akan tetapi, informasi laba tidak selalu akurat karena terkadang informasi laba sering dijadikan sasaran perilaku oportunistik oleh manajemen untuk memuaskan kepuasannya dengan mengubah informasi laporan keuangan guna menarik calon investor dan menipu para pemangku kepentingan yang lain. Perilaku mementingkan diri sendiri ini diperbuat dengan memilah kebijakan akuntansi tertentu agar laba dapat disesuaikan, diratakan atau ditambah atau dikurangi sesuai keinginannya. Pada tahun 2020 juga terjadi penyebaran Covid-19 di Indonesia yang menyebabkan adanya pembatasan, hingga membuat belanja cenderung terbatas dan tidak maksimal. Ini menyebabkan sektor industri barang konsumsi yang merupakan sektor dalam memproduksi kebutuhan sehari-hari masyarakat umum juga mengalami pergerakan harga saham relatif stagnan bahkan ada yang mengalami penurunan, investor juga lebih tertarik berinvestasi pada sektor-sektor lain yang mengalami pemulihan kinerja keuangan secara signifikan setelah tertekan akibat pandemi (Qolbi. Praktik manajemen laba yang baru-baru ini terjadi pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi tepatnya subsektor makanan & minuman PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) yang melakukan manipulasi laporan keuangan 2017 dengan tujuan mengerek harga saham perusahaan sehingga pertengahan 2017 harga saham menjadi sebesar Rp2. 360 per lembar, naiknya harga saham mendorong para investor membeli saham AISA karena melihat laporan keuangan dan kinerja keuangan pada PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk baik dan menguntungkan tetapi saat bulan Juli 2018 saham AISA dibekukan karena gagal membayar bunga obligasi dan suku ijarah, adanya perkara kebangkrutan, hingga terungkap ada manipulasi laporan keuangan, adapun manipulasi informasi keuangan pada piutang yang mencapai Rp1,4 triliun dari enam perusahaan distributor afiliasi dan adanya aliran dana dari perusahaan senilai Rp1,78 triliun dengan pencairan dana melalui transfer bank, deposito berjangka, dan lainnya. Atas pemalsuan laporan keuangan ini. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menetapkan dua mantan direksi PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. Joko Mogoginta dan Budhi Istanto dengan hukuman penjara selama empat tahun dan denda masing-masing Rp2 miliar tiga bulan penjara. Tindak yang dilakukan oleh dua mantan direksi tersebut merupakan tindak kecurangan yang artinya untuk kepentingan pribadi para mantan direksi itu sendiri (Soenarso. Manajemen laba merupakan upaya dari pihak manajemen dalam mengubah informasi keuangan dengan tujuan meratakan, menaikan, atau menurunkan laba sehingga dapat menipu para pemangku kepentingan dan pihak eksternal lainnya. Praktik dari manajemen laba ini salah satunya berarah untuk kepentingan para agen itu sendiri dalam mendapatkan keuntungan yakni mendapatkan insentif yang telah dijanjikan jika tercapai laba yang ditentukan. Profitabilitas adalah penilaian kemampuan suatu perusahaan mencapai keuntungan dari aset, ekuitas, maupun penjualan. Profitabilitas dapat mempengaruhi adanya praktik manajemen laba pada hasil penelitian dari Fatmala & Riharjo . yang menegaskan bahwa profitabilitas mempengaruhi secara negatif atas manajemen laba di mana tinggi profitabilitas dapat meminimalisir terjadinya manajemen laba, saat profit tinggi laba yang dihasilkan juga tinggi sehingga membuat para investor lebih mengawasi laba karena berpengaruh terhadap besaran dividen yang dibagikan sehingga lebih sulit untuk manajemen melakukan manajemen laba. Pendapat berbeda dari Febria . yang menegaskan bahwa profitabilitas mempengaruhi secara positif atas manajemen laba di mana tinggi profitabilitas dapat menyebabkan manajemen laba. Adapun perbedaan pendapat lainnya, penelitian Arini . yang menegaskan profitabilitas tidak mempengaruhi atas manajemen laba karena profitabilitas yang tinggi berarti kinerja perusahaan juga baik sehingga manajer tidak mengadakan manajemen laba. Lalu, leverage merupakan hutang yang berguna dalam mendanai pengoperasikan sebuah perusahaan, peningkatan rasio leverage yang tinggi dapat menyebabkan risiko yang lebih tinggi. Meningkatnya leverage akan berpengaruh terjadinya manajemen laba, hasil penelitian Savitri & FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi 504 Pengaruh profitabilitas dan leverage terhadap manajemen laba dengan dewan komisaris independen sebagai variabel moderating Rima Istanita. Yana Ulfah Priantinah . yang mengungkapkan leverage mempengaruhi ke arah negatif atas manajemen laba di mana makin tinggi leverage dapat menurunkan terjadinya manajemen laba karena adanya pengawasan ketat dari pihak eksternal dan mengurangi fleksibiltas manajer dalam melakukan kecurangan selaras dengan penelitian. Pendapat berbeda yang dikemukakan pada penelitian Winarti & Dewi . bahwa leverage mempengaruhi ke arah positif atas manajemen laba di mana leverage yang tinggi menjadikan motivasi manajer dalam memperlihatkan kemampuan perusahaan yang baik dengan menaikkan laba dari laba seharusnya. Adapun penelitian dari Setiawati et al. berpendapat lain di mana menyebutkan bahwa leverage tidak mempengaruhi atas manajemen laba, tingginya leverage tidak akan mempengaruhi manajer dalam melakukan manajemen laba. Menciptakan balance antara kecakapan yang dibutuhkan perusahaan, mendukung kesinambungan perusahaan dan akuntabilitasnya kepada stakeholders dibutuhkan penerapan tata kelola perusahaan yang baik, di mana berguna dalam membuat mekanis alat kontrol yang meningkatkan efesiensi perusahaan dan menguntungkan semua pemangku kepentingan. Salah satu komponen dalam penerapan tata kelola perusahaan yaitu dewan komisaris independen yang memungkinkan dapat meminimalisir praktek manajemen laba. Pemeriksaan secara efektif dari dewan komisaris independen melalui adanya rapat dewan komisaris akan mendorong terciptanya prinsipprinsip good corporate governance (GCG), adanya penambahan dewan komisaris independen dan diulas dalam rapat dewan komisaris setiap dua bulan sekali mengenai kinerja keuangan termasuk membahas mengenai profitabilitas dan leverage sehingga lebih menekan terjadinya manajemen laba karena adanya pengawasan yang berjalan secara maksimal dari pihak komisaris independen. Penelitian dari Arini . menegaskan bahwasanya komisaris independen mampu memoderasi hubungan profitabilitas dalam mempengaruhi manajemen laba di mana profitabiltas tinggi dan banyaknya komisaris independen akan menurunkan praktek manajemen laba, serta penelitian dikemukakan oleh Bailusy et al. mendapatkan hasil bahwasanya komisaris independen mampu memoderasi hubungan leverage dalam mempengaruhi manajemen laba di mana banyaknya dewan komisaris independen memiliki tingkat pengawasan lebih efektif. Pendapat berbeda ditemukan oleh Amalia et al. menjelaskan komisaris independen tidak memoderasi hubungan profitabilitas dan leverage dalam mempengaruhi manajemen laba di mana komisaris independen hanya menjadi ketaatan perusahaan atas peraturan yang berlaku bukan sebenarnya dalam penerapaan tata kelola perusahaan. Hasil penelitian yang tidak konsisten atau berbeda dalam hasil yang dicapai dan fenomena manajemen laba yang baru-baru terjadi sehingga dilakukan uji atau teliti kembali. Teori Agensi Jensen dan Meckling dalam Ghozali, . menyatakan bahwa teori keagenan merupakan hubungan sesuai perjanjian di mana ada pemisahan antara pemilik yang memberi wewenang dan manajer yang menjalankan sebuah perusahaan tetapi menimbulkan permasalahan keagenan karena perbedaan tujuan yang dimiliki pemilik dan manajer, manajer di sini mempunyai tujuan untuk diri sendiri hingga tidak mementingkan tujuan pemilik. Masalah keagenan ini terjadi karena ketaksimetrisan informasi antara pemilik dan manajemen di mana manajer memiliki informasi mengenai perusahaan lebih lengkap dari pemilik, manajemen ingin kinerjanya terlihat baik-baik saja sehingga terjadi penyimpangan antara pemilik dan manajemen hal itu membuat pihak manajemen melakukan tindak kecurangan yang mengubah laporan keuangan dibuat terlihat baik oleh manjemen. Akibat ketidaksimetrisan informasi antara pemilik dan manajemen membuat pihak manajemen dapat melakukan tindak kecurangan dengan melakukan praktik manajemen laba saat pihak manajemen melaporkan kondisi perusahaan kepada pemilik. Manajemen melakukan perubahan bertujuan agar mendapatkan kompensasi yang diinginkannya, bisa juga untuk menghindari pelanggaran atas perjanjian hutang dengan kreditur, atau bahkan untuk menghindari membayar pajak yang besar. Tualeka et al. berpendapat digunakannya teori agensi dalam praktik manajemen laba karena pemilik memberikan keyakinan kepada pihak manajemen untuk bertanggung jawab dalam mengelola perusahaan dan semua kegiatan perusahaan dilaporkan agar tidak terjadi perselisihan antar manajemen dan pemilik, tetapi manajemen melakukan tindak penyelewengan dengan melaporkan laporan tidak sesuai seharusnya hanya untuk memuaskan kepentingan pribadi hingga tujuan yang dimiliki oleh pemilik dan manajemen tidak satu tujuan. FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi 505 Pengaruh profitabilitas dan leverage terhadap manajemen laba dengan dewan komisaris independen sebagai variabel moderating Rima Istanita. Yana Ulfah METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis data yaitu data kuantitatif yang berasal dari data sekunder. Penelitian data ini yang di dapat berupa laporan tahunan dan laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan, dan berdasarkan waktu pengumpulan menggunakan data panel. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan mendapatkan sampel sebanyak 104 data. Sumber data penelitian yang di dapat oleh peneliti melalui situs resmi bursa efek indonesia dan situs resmi perusahaan diteliti yaitu perusahaan manufaktur sektor industri barang Teknik analisis data yang digunakan adalah uji deskripstif. uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heterkedastisitas, dan uji autokorelasi. serta uji hipotesis yang terdiri dari regresi linier berganda dan moderated regression analysis. Sehingga persamaan regresi pada penelitian ini sebagai berikut: ycycycyc = yu yuya ycycyc yuya ycycyc yu ycycycyc = yu yuya ycycyc yuya ycycyc yuyc ycycyc yuye ycycyc O ycycyc yuye ycycyc O ycycyc yu Manajemen Laba Fisher dan Rosenzweig dalam Sochib, . manajemen laba adalah perbuatan manajer dalam meningkatkan atau menurunkan laba tahun berjalan di sebuah perusahaan yang dijalankannya hanya saja peningkatan atau penurunan keuntungan tersebut bertahan dalam jangka pendek. Sulistyanto . menyatakan bahwa manajemen laba ialah perbuatan yang diperbuat agen perusahaan untuk memodifikasi berbagai informasi yang terdapat di laporan keuangan untuk memperdayai stakeholder yang ingin mengetahui kemampuan dan keadaan perusahaan dalam mendeteksi manajemen laba dapat menggunakan Modified Jones Model di mana model Jones . dimodifikasi oleh Dechow et al. yang dibentuk bertujuan menghilangkan perhitungan yang bisa salah dari model Jones dalam menilai disreationary accrual. Total Accruals ycycycyei = ycAycyei Oe ycycyei Total Accruals diestimasi dengan persamaan regresi Ordinary Least Square (OLS) ycycycyei ya OIycycyc OIycycyc = yuya . cyc ) yuya ( ycyc ye. yuyc ( ycyc ye. yu ycyc yeiOeya yeiOeya yeiOeya yeiOeya Non Disreationary Accrual (NDA) ya OIycycycyei OeOIycycycyei OIycycycyei ycAycycycycyei = yuya ( ) yuya ( ) yuyc ( ) yu ycycyeiOeya ycycyeiOeya ycycyeiOeya Disreationary Accrual (DA) ycycyc ycycycycyei = ycyc yei Oe ycAycycycycyei yeiOeya Keterangan : TACt = Total accruals tahun periode t NIt = Laba tahun berjalan tahun periode t CFt = Cash flow tahun periode t 1,2,3 = Parameter yang diperoleh dari persamaan regresi iREVt = Total perubahan pendapatan tahun periode t iRECt = Total perubahan piutang usaha tahun periode t iPPEt = Total aset tidak lancar tahun periode t TAt-1 = Total aset tahun periode sebelum t = error term DTACt = Disreationary Accrual pada tahun t NDTACt = Non Disreationary Accrual pada tahun t Profitabilitas Kasmir . menjelaskan tujuan sebuah perusahaan ialah mencari laba sebesar-besarnya, profitabilitas merupakan tingkat untuk menakar kesanggupan perusahaan dalam mencari laba melihat tingkat profitabilitas suatu perusahaan dapat menggunakan salah satu rasio yakni Return on Asset (ROA) di mana memperlihatkan hasil dari jumlah aset yang dimanfaatkan perusahaan. ycyeCyeEyeC yeiyeCyeOyenyea yeEyeIyeeyeUyeCyesyeCyea ycycyc = ycyeayeiyeCyes yeCyeiyeIyei FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi 506 Pengaruh profitabilitas dan leverage terhadap manajemen laba dengan dewan komisaris independen sebagai variabel moderating Rima Istanita. Yana Ulfah Leverage Kasmir . menyatakan bahwa leverage merupakan kesanggupan suatu perusahaan untuk penuhi hutang jangka panjang serta jangka pendeknya, dengan kata lain sebanyak apa utang perusahaan dibanding dengan asetnya, mengukur tingkat leverage suatu perusahaan dapat menggunakan salah satu rasio yakni Debt to Asset Ratio (DAR) di mana menghitung tingkat perusahaan dengan aset yang dimiliki untuk menjamin dalam total hutang perusahaan. ycycyc = ycyeayeiyeCyes yeOyenyeiyeCyeayeO ycyeayeiyeCyes yeCyeiyeIyei Dewan Komisaris Independen Pada UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dalam Effendi, . menyatakan bahwasanya komisaris independen ialah anggota dewan komisaris di mana tidak memiliki sangkut paut pada shareholders utama, bagian direksi, dan/atau bagian komisaris lainnya dan komisaris independen berasal dari eksternal perusahaan. Sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia . bahwa rapat dewan komisaris paling kurang sebanyak 6 kali dalam setahun, dalam pengukuran ini menggunakan variabel dummy dengan nilai 1 dan 0. 1 = Rapat dewan komisaris sama atau lebih dari 6 kali dalam setahun 0 = Rapat dewan komisaris kurang dari 6 kali dalam setahun HASIL DAN PEMBAHASAN Statistik deskriptif ini memberi gambaran pada data penelitian mulai dari nilai mean, standar deviasi, nilai minimum dan maksimum pada variabel penelitian yakni manajemen laba, profitabilitas, leverage, dan dewan komisaris independen mulai tahun 2017-2020 dengan total data sebesar 104 data. Hasil uji statistik deskrptif tertera dalam tabel berikut ini: Tabel 1. Hasil Uji Statistik Deskriptif Min. Max. Mean Std. Deviation Profitabilitas 0,0005 0,9210 0,1039 0,11628 Leverage 0,0831 0,7596 0,3838 0,15271 Manajemen Laba -0,1535 0,1295 0,0063 0,04702 Variabel Dummy = 1 Dummy = 0 Obs. Obs. Dewan Komisaris Independen 76 Pada tabel 1 menunjukkan bahwa variabel manajemen laba (Y) mendapatkan hasil rata-rata dengan 0,0063 dan standar deviasi sebesar 0,04702. Nilai minimum pada variabel Y sebesar -0,1535 dari PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2017 dan nilai maksimum sebesar 0,1295 dari PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk tahun 2020. Variabel profitabilitas (X. mendapatkan hasil ratarata dengan 0,1039 dan standar deviasi sebesar 0,11628. Nilai minimum pada variabel X1 sebesar 0,0005 dari PT. Chitose Internasional Tbk tahun 2020 dan nilai maksimum sebesar 0,9210 dari PT. Merck Tbk tahun 2018. Variabel leverage (X. mendapatkan hasil rata-rata dengan 0,3838 dan standar deviasi sebesar 0,15271. Nilai minimum pada variabel X2 sebesar 0,0831 dari PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk tahun 2017 dan nilai maksimum sebesar 0,7596 dari PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2020. Variabel dewan komisaris independen (Z) dengan dummy 1 yang artinya rapat dewan komisaris sama atau lebih dari 6 kali dalam setahun pada penelitian ini sebanyak 76 data atau 73,1% dan dummy 0 yang artinya rapat dewan komisaris kurang dari 6 kali dalam setahun sebanyak 28 data atau 26,9%. Uji Asumsi Klasik Menurut Gunawan . asumsi klasik bertujuan mendapatkan ketepatan dan kejelasan dalam persamaan regresi hingga menjadi stabil dan tidak bias. Uji asumsi klasik dibagi menjadi empat bagian yaitu uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi. Uji Normalitas Uji normalitas menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov melihat dari nilai signifikansi . ) di atas 0,05 atau 5% yang artinya data tersebut lolos karena data tersebar secara normal. Mustofa & Nurfadillah . menjelaskan jika nilai signifikan di bawah 0,05 berarti data tidak berdistribusi FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi 507 Pengaruh profitabilitas dan leverage terhadap manajemen laba dengan dewan komisaris independen sebagai variabel moderating Rima Istanita. Yana Ulfah normal namun ada cara lain menguji normalitas jika tidak berdistribusi normal dengan menggunakan metode monte carlo, di mana digunakan untuk data yang bernilai acak. Berikut hasil dari pengujian normalitas data pada penelitian ini: Tabel 2. Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Parameters Mean 0,0000000 Std. Deviation 0,04489109 Most Extreme Differences Absolute 0,109 Positive 0,109 Negative -0,088 Test Statistic 0,109 Asymp. Sig. -taile. 0,004 Monte Carlo Sig. -taile. Sig. 0,154 Hasil uji normalitas variabel penelitian pada tabel 2 dengan sampel 104 menunjukkan asmp. -taile. sebesar 0,004 artinya data tidak bedistribusi normal maka digunakan cara lain dalam menguji normalitas menggunakan monte carlo mendapatkan nilai signifikansi 0,154 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi secara normal. Uji Multikolinearitas Ghozali . menjelaskan untuk mengetahui terjadinya atau tidak multikolinearitas ditunjukkan dari nilai tolerance dan nilai VIF, saat nilai tolerance di atas 0,10 dan nilai VIF di bawah 10 maka tidak terjadi multikolinearitas. Berikut tabel hasil uji multikolinearitas sebagai berikut: Tabel 3. Hasil Uji Multikolinearitas Collinearity Statistics Model Tolerance VIF Profitabilitas 0,979 1,022 Leverage 0,997 1,003 Dewan Komisaris Independen 0,982 1,019 Tabel 3 menunjukkan bahwa variabel profitabilitas memiliki nilai tolerance 0,979, variabel leverage memiliki nilai 0,997, dan variabel dewan komisaris independen miliki nilai 0,982 di mana ketiga variabel tersebut mempunyai nilai toleransi di atas 0,10. Lalu, variabel profitabilitas juga memiliki nilai VIF 1,022, variabel leverage memiliki nilai 1,003, dan variabel dewan komisaris independen miliki nilai 1,019 di mana nilai VIF di bawah 10 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas. Uji Heteroskedastisitas Menurut Ghozali . untuk melihat terjadi atau tidaknya heteroskedastisitas dengan melihat nilai signifikan setiap variabel independen terhadap variabel dependen, nilai signifikan di atas 0,05 yang artinya tidak terjadi heteroskedastisitas. Berikut tabel hasil uji heterokedastisitas sebagai berikut: Tabel 4. Hasil Uji Heteroskedastisitas Model Sig. Profitabilitas 0,823 Leverage 0,811 Dewan Komisaris Independen 0,746 Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa nilai signifikansi variabel profitabilitas sebesar 0,823, variabel leveraga sebesar 0,811, dan variabel dewan komisaris independen sebesar 0,746 maka pada penelitian ini ketiga variabel memiliki nilai signifikan di atas 0,05 berarti tidak terjadi heterokedastisitas pada model regresi tersebut. FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi 508 Pengaruh profitabilitas dan leverage terhadap manajemen laba dengan dewan komisaris independen sebagai variabel moderating Rima Istanita. Yana Ulfah Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bermaksud mendeteksi apa ada hubungan nilai residual pada tahun sekarang dengan nilai residual pada tahun sebelumnya di model regresi tersebut, tidak terjadinya autokorelasi jika perbandingan nilai Durbin-Watson (DW) dan tabel yang memakai signifikansi 5% dengan DW lebih besar dari batas atas . dan kurang dari 4 Ae du atau bisa dikatakan du < d < 4 Ae du. (Ghozali. Berikut tabel hasil dari uji autokorelasi sebagai berikut: Tabel 5. Hasil Uji Autokorelasi Durbin-Watson 1,7402 1,960 4-du 2,2598 Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa nilai d sebesar 1,960. Nilai du dapat dilihat melalui tabel DW dengan k = 3 dan n = 104 maka nilai du sebesar 1,7402. Tidak terjadi autokorelasi jika du < d < 4 Ae du maka 1,7402 < 1,960 < 2,2598 artinya tidak terjadi autokorelasi. Uji Koefisien Determinasi Uji koefisien determinasi dipergunakan menentukan partisipasi pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen dengan nilai RA berpusar antar 0 . dan 1 . , pengujian ini melalui Adjusted R Square. Hasil tabel dari pengujian uji R2 sebagai berikut: Model 0,297 0,381 Tabel 6. Hasil Uji Koefisien Determinasi R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 0,088 0,061 0,04556 0,145 0,101 0,04457 Pada tabel 6 hasil analisis menunjukkan pada model I bahwa besaran koefisien determinasi (Adjusted R. sebesar 0,061 atau 6,1% yang di mana menjelaskan bahwa pada variabel independen yaitu profitabilitas (X. , leverage (X. , dan dewan komisaris independen (Z) mampu mempengaruhi variabel dependen yaitu manajemen laba (Y) sebesar 6,1% dan sisanya sebesar 93,9% dipengaruhi oleh variabel independen lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil analisis menunjukkan pada model II adanya penambahan variabel dewan komisaris independen diinteraksikan dengan profitabilitas dan leverage memiliki besaran koefisien determinasi naik menjadi 0,101 atau 10,1% dan sisanya sebesar 89,9% dipengaruhi oleh variabel independen lain yang tidak diteliti dalam penelitian Uji F Uji F model yang layak yang dapat digunakan mengestimasi populasi, uji F diterima jika variabel independen secara bersamaan mempengaruhi variabel dependen dengan melihat nilai signifikansi di bawah 0,05. Hasil tabel dari uji F sebagai berikut: Model Regression Residual Total Regression Residual Total Tabel 7. Hasil Uji F 3,229 3,320 Sig. 0,026 0,008 Berdasarkan tabel 7 hasil uji F pada model I menunjukkan bahwa variabel profitabilitas (X. , leverage (X. , dan dewan komisaris independen (Z) terhadap manajemen laba (Y) berpengaruh secara simultan nilai sig. sebesar 0,026 lebih kecil dari tarif signifikasi 0,050. Adapun hasil uji F pada model II menunjukkan bahwa adanya penambahan variabel dewan komisaris independen diinteraksikan dengan variabel profitabilitas dan leverage terhadap manajemen laba tetap berpengaruh secara simultan dengan nilai signifikan sebesar 0,008 di mana di bawah taraf signifikan 0,05. FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi 509 Pengaruh profitabilitas dan leverage terhadap manajemen laba dengan dewan komisaris independen sebagai variabel moderating Rima Istanita. Yana Ulfah Uji Hipotesis (Uji . Pada uji t memperlihatkan berpengaruh atau tidaknya variabel independen terhadap variabel dependen di mana tingkat signifikansi 0,05. Jika hasil nilai signifikan di bawah 0,05 maka variabel independen mempengaruhi variabel dependen artinya hipotesis diterima, begitu sebaliknya jika hasil nilai signifikan di atas 0,05 maka variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen artinya hipotesis ditolak menggunakan analisis regresi linier berganda. Adanya penambahan dewan komisaris independen sebagai variabel moderating, untuk melihat interaksi antara profitabilitas dan leverage dengan dengan dewan komisaris independen maka pengujian hipotesis menggunakan uji moderated regression analysis, berikut hasil dari uji t pada penelitian ini: Model (Constan. Profitabilitas Leverage Dewan Komisaris Independen X1*Z X2*Z Tabel 8. Ringkasan Hasil Uji Hipotesis Regresi Linier Berganda Moderated Regression Analysis (MRA) Sig. Sig. 0,041 0,020 -0,035 0,374 -0,182 -0,082 0,007 0,022 0,031 0,172 0,616 -0,142 0,176 Pada tabel 8 menunjukkan bahwa nilai konstanta pada analisis regresi linier berganda dalam penelitian ini adalah sebesar 0,041, sehingga dapat disimpulkan apabila variabel independen nilai 0 atau kata lainnya tidak ada variabel independen, di mana Y yang merupakan manajemen laba sebesar 0,041. Pada variabel profitabilitas (X. diperoleh nilai koefisien sebesar -0,035, di mana terdapat hubungan negatif antara profitabilitas dan manajemen laba. Hal ini menunjukkan apabila variabel profitabilitas meningkat 1 satuan maka variabel manajemen laba akan menurun sebesar 0,035 dengan asumsi variabel independen lainnya berada dalam keadaan konstan. Pada variabel leverage (X. diperoleh nilai koefisien sebesar -0,082, di mana terdapat hubungan negatif antara leverage dan manajemen laba. Hal ini menunjukkan apabila variabel leverage meningkat 1 satuan maka variabel manajemen laba akan menurun sebesar 0,082 dengan asumsi variabel independen lainnya berada dalam keadaan konstan. Berdasarkan pada tabel 8 dapat terlihat bahwa nilai signifikan pada 3 sebesar 0,624 lalu pada 4 sebesar 0,616 dan 5 memiliki nilai sebesar 0,176 maka variabel dewan komisaris independen merupakan variabel moderator homologizer yang artinya bahwa variabel dewan komisaris independen tidak mampu memoderasi pengaruh variabel profitabilitas maupun variabel leverage terhadap manajemen laba. Variabel profitabilitas memiliki nilai signifikan sebesar 0,374 di mana lebih besar dari tingkat signifikan yaitu 0,05 dan koefisien regresi -0,035 mengarah ke arah negatif. Artinya, variabel profitabilitas tidak berpengaruh terhadap manajemen laba, sehingga hipotesis pertama ditolak. Variabel leverage memiliki nilai signifikan sebesar 0,007 di mana lebih kecil dari tingkat signifikan yaitu 0,05 dan koefisien regresi -0,082 mengarah ke arah negatif. Artinya, variabel leverage berpengaruh secara negatif terhadap manajemen laba, sehingga hipotesis kedua diterima. Penambahan komisaris independen sebagai variabel moderating yang memungkinkan dapat memoderasi pengaruh profitabilitas dan leverage terhadap manajemen maka dilakukan uji menggunakan MRA untuk mengetahui pengaruh dewan komisaris independen diinteraksikan profitabilitas dan leverage terhadap manajemen laba, pada tabel 8 menunjukkan bahwa variabel profitabilitas dimoderasi variabel dewan komisaris independen memiliki nilai signifikan sebesar 0,616 di mana lebih besar dari tingkat signifikan yaitu 0,05 dan koefisien regresi 0,172. Artinya, variabel dewan komisaris independen tidak dapat memoderasi pengaruh variabel profitabilitas terhadap manajemen laba, sehingga hipotesis ketiga Variabel leverage dimoderasi variabel dewan komisaris independen memiliki nilai signifikan sebesar 0,176 di mana lebih besar dari tingkat signifikan yaitu 0,05 dan koefisien regresi -0,142. Artinya, variabel dewan komisaris independen tidak dapat memoderasi pengaruh variabel leverage terhadap manajemen laba, sehingga hipotesis keempat ditolak. FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi 510 Pengaruh profitabilitas dan leverage terhadap manajemen laba dengan dewan komisaris independen sebagai variabel moderating Rima Istanita. Yana Ulfah Pengaruh Profitabilitas terhadap Manajemen Laba Teori agensi menggambarkan hubungan kontrak antara pemilik dan agen tetapi menyebabkan permasalahan karena adanya perbedaan tujuan di mana agen . berusaha mendapatkan bonus dengan cara melakukan manajemen laba namun dengan profitabilitas yang tinggi dapat mengurangi terjadi manajemen laba karena keinginan manajer untuk mendapatkan bonus telah tercapai dari tingginya profitabilitas yang berarti kinerja perusahaan juga meningkat sehingga dapat meminimalisir terjadi manajemen laba, saat profitabilitas rendah sangat memungkinkan terjadi manajemen laba di mana menjadi bentuk upaya manajer agar kinerja perusahan terlihat baik-baik saja dengan menaikkan laba dan untuk mencari keuntungan sendiri agar mendapatkan bonus atas tercapainya kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba yang tinggi. Tetapi hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi rendahnya suatu profitabilitas tidak berdampak terjadinya manajemen laba karena tinggi suatu profitabilitas maka tinggi juga laba yang dihasilkan begitupula dengan kinerja perusahaan akan terlihat baik dimata investor dalam menghasilkan laba sehingga sebenarnya manajer tidak ada dorongan dalam berupaya melakukan manajemen laba di mana manajer juga sudah mendapat keuntungan dari tingginya profitabilitas tersebut. Saat profitabilitas rendah, manajer juga tidak tertarik melakukan manajemen laba karena profitabilitas menjadi perhatian utama investor sehingga lebih sulit untuk manajer melakukan manajemen laba dan manajer takut dapat menimbulkan kecurigaan oleh pihak investor jika manajer melakukan perubahan yang berdampak menurunkan kepercayaan investor terhadap perusahaan. Solihah & Rosdiana . juga menjelaskan bahwa sebagian perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi atau rendah tidak akan melakukan manajemen laba, namun sebagian perusahaan lainnya yang memiliki profitabilitas tinggi atau rendah tetap akan melakukan manajemen Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Arini . di mana profitabilitas tidak mempengaruhi atas manajemen laba, tinggi suatu profitabilitas baik juga kinerja perusahaan dan manajer mendapatkan bonus atas kinerja perusahaan yang baik sehingga manajer tidak melakukan manajemen laba. Pengaruh Leverage terhadap Manajemen Laba Teori agensi menyatakan penyebab adanya permasalahan karena ada kesenjangan informasi yang membuat agen melakukan manajemen laba namun dengan adanya leverage yang tinggi dapat semakin menurunkan terjadinya praktik manajemen laba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba, di mana saat leverage yang tinggi menyebabkan tingginya tingkat resiko perusahaan tersebut sehingga membuat para pemangku kepentingan seperti kreditur lebih ketat mengawasi jalannya perusahaan dan membuat ruang gerak gerik manajer dalam mengubah laba lebih sulit. Leverage yang tinggi juga membuktikan bahwa perusahaan rawan akan tidak dapat membayar kewajibannya, di mana perusahaan harus tetap membayar kewajibannya yang tidak bisa hanya dijauhi dengan melakukan manajemen laba, sehingga saat leverage tinggi manajemen cenderung meminimalisir melakukan manajemen laba dan lebih berfokus untuk membayar kewajibannya, saat leverage rendah maka perusahaan terlihat sehat dan membuat perusahaan juga tidak terlalu diawasi secara ketat oleh kreditur sehingga dapat meningkatkan manajemen laba di mana menjadi kesempatan manajer dalam mengambil keuntungan dengan meningkatkan laba demi mendapatkan bonus yang telah dijanjikan atas tercapai laba yang Hasil penelitian ini sejalan dengan Savitri & Priantinah . di mana hasil penelitian menunjukkan leverage mempengaruhi secara negatif terhadap manajemen laba, artinya semakin tingginya leverage semakin ketat pengawasan dari kreditur mengenai tingkat resiko perusahaan yang tinggi sehingga mengurangi manajer dalam melakukan tindak manajemen laba. Dewan Komisaris Independen Memoderasi Pengaruh Profitabilitas terhadap Manajemen Laba Berdasarkan teori agensi kontrak antar pemilik dan agen yang menimbulkan konflik kepentingan dapat dikurangi dengan adanya dewan komisaris independen di mana menjadi pihak luar perusahaan dengan melakukan pengawasan secara efektif terhadap laporan keuangan salah satunya mengenai profitabiltas yang diulas dalam rapat dewan komisaris. Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa dewan komisaris independen tidak dapat memperkuat atau memperlemah pengaruh profitabilitas terhadap manajemen laba karena dalam praktik yang terjadi dewan komisaris independen hanya menjadi salah satu bentuk kewajiban perusahaan publik dalam membentuk regulasi struktur tata kelola perusahaan walaupun telah mengadakan rapat dewan komisaris di mana menjadi tugas dewan komisaris independen sebagai pengawas dari pihak luar perusahaan cenderung tidak berjalan FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi 511 Pengaruh profitabilitas dan leverage terhadap manajemen laba dengan dewan komisaris independen sebagai variabel moderating Rima Istanita. Yana Ulfah semestinya, sehingga saat profitabilitas tinggi ataupun rendah ditambahnya ada dewan komisaris independen tidak memberi dampak pada manajer melakukan atau tidak tindakan manajemen laba. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Amalia et al. yang menyatakan bahwa komisaris independen tidak memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap manajemen laba di mana komisaris independen hanya menjadi ketaatan perusahaan atas peraturan yang berlaku bukan sebenarnya dalam penerapaan tata kelola perusahaan. Dewan Komisaris Independen Memoderasi Pengaruh Leverage terhadap Manajemen Laba Pada teori agensi menjelaskan ketidaksimestrisan antara pemilik dan agen dapat menimbulkan perubahan data seperti manajemen laba agar mengurangi terjadinya perubahan informasi tersebut maka diterapkan tata kelola perusahaan yang baik salah satunya dengan eksistensi dewan komisaris independen sebagai pihak luar yang tidak terikat dengan siapapun untuk melakukan pemeriksaan mengenai perusahaan, sehingga saat leverage tinggi ditambah pengawasan dari komisaris independen juga tinggi yang akan dibahas melalui rapat dewan komisaris menyebabkan keterbatasan manajer dalam melakukan hal yang semena-mena mengenai keuangan perusahaan sehingga lebih dapat meminimalisir lagi terjadi manajemen laba. Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa dewan komisaris independen tidak dapat memperkuat atau memperlemah pengaruh leverage terhadap manajemen laba, tinggi atau rendah leverage ditambahnya ada dewan komisaris independen tidak memberi dampak pada manajer melakukan atau tidak manajemen laba karena pada dasarnya perusahaan hanya mengikuti peraturan yang berlaku dalam pengangkatan dewan komisaris independen dan pelaksanaan rapat dewan komisaris sebagai bentuk ketaatan perusahaan pada penerapan tata kelola perusahaan yang baik, sehingga tugas dewan komisaris independen sebenarnya tidak berjalan maksimal. Boediono dalam Y. Putri & Setiawati, . juga menjelaskan hasil peninjauan oleh Asian Development Bank mendapatkan bahwa adanya tekanan yang kuat dari pihak pemilik dan shareholders mayoritas sehingga membuat dewan komisaris independen sebenarnya terbatas dalam melaksanakan tugasnya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Savitri & Priantinah . yang menyatakan bahwa komisaris independen tidak memoderasi pengaruh leverage terhadap manajemen laba di mana komisaris independen hanya menjadi ketaatan perusahaan atas peraturan yang berlaku mengenai tata kelola perusahaan. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mendapatkan beberapa kesimpulan yakni profitabilitas tidak berpengaruh terhadap manajemen laba di mana saat profitabilitas tinggi atapun rendah tidak memberi dampak manajemen melakukan atau tidak praktik manajemen laba, leverage berpengaruh secara negatif terhadap manajemen laba di mana saat leverage tinggi dapat menurunkan manajemen melakukan manajemen laba, dewan komisaris independen tidak dapat memoderasi pengaruh profitabilitas dan leverage terhadap manajemen laba di mana adanya penambahan dewan komisaris independen dalam melakukan pengawasan saat profitabilitas dan leverage tinggi atau rendah tidak memberi dampak manajemen melakukan atau tidak tindakan manajemen laba. Namun dalam penelitian ini hanya berfokus pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi sehingga belum dapat menunjukkan keadaan sebenarnya perusahaan di Indonesia secara menyeluruh. DAFTAR PUSTAKA