Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 445-456 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 HUBUNGAN TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT TERHADAP KADAR GULA DARAH PASIEN DM TIPE 2 DI PUSKESMAS PEKAUMAN BANJARMASIN Hasniah*. Ina Kurnia. Juwita Ramadhani Fakultas Farmasi. Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin Email: hasniahhapt@gmail. Artikel diterima: 17 Agustus 2024. Disetujui: 17 September 2024 DOI: https://doi. org/10. 36387/jiis. ABSTRAK Salah satu faktor terpenting dalam penanganan diabetes melitus tipe 2 (DM tipe . adalah tingkat kepatuhan pasien terhadap aturan pengobatannya. Tingkat kepatuhan pasien DM tipe 2 terhadap pedoman pengobatan memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas kadar gula darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat kepatuhan minum obat terhadap kadar gula darah pasien DM tipe 2 di Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analitik observasional dengan desain cross-sectional, pengambilan data dilakukan secara prospektif pada bulan Februari-April 2024 dengan jumlah sampel sebanyak 76 responden. Data diperoleh dari hasil wawancara dan kuesioner. Instrumen yang digunakan untuk kepatuhan minum obat menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-. Hubungan antara tingkat kepatuhan pasien terhadap kadar gula darah dianalisi menggunakan uji statistik chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara tingkat kepatuhan pasien terhadap kadar gula darah dengan nilai (P = 0,. Kesimpulan penelitian ini adalah kepatuhan minum obat merupakan peranan yang penting dalam penatalaksanaan pengobatan pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Kata kunci: Kepatuhan minum obat. Kadar gula darah. DM tipe 2 ABSTRACT One of the most important factors in the treatment of Type 2 diabetes mellitus . ype 2 diabetes mellitu. is the degree of patient compliance with the rules of its The degree of adherence of Type 2 DM patients to treatment guidelines has a significant impact on the stability of blood sugar levels. The purpose of this study was to determine the relationship of drug adherence to blood sugar levels of patients with Type 2 diabetes in Pekauman Banjarmasin Health Center. This study was conducted using observational analytical methods with cross-sectional design, data collection was carried out prospectively in February-April 2024 with a sample of 76 respondents. Data obtained from interviews and questionnaires. The instrument used for medication adherence using the questionnaire Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-. The relationship between the level of compliance of patients with blood sugar levels was analyzed using a statistical chi- Hasniah, dkk | 445 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 445-456 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 square test. The results showed that there was a significant relationship between the level of patient compliance with blood sugar levels with the value (P = 0. The conclusion of this study is that adherence to medication is an important role in the management of treatment in patients with Type 2 diabetes mellitus at the Pekauman Banjarmasin Health Center. Keywords: Medication adherence. Blood sugar levels. DM type 2 PENDAHULUAN Diabetes berbagai pihak, termasuk pemerintah (DM) dan tenaga kesehatan. Salah satu merupakan penyakit kronis yang faktor kunci dalam pengendalian ini makin banyak dijumpai di mana- mengonsumsi obat antidiabetes. Berdasarkan Indonesia. Federasi Diabetes Kepatuhan Internasional (IDF) memperkirakan pengobatan merupakan salah satu aspek terpenting dalam mengelola Indonesia menderita penyakit DM DM secara efektif (Husna et al. , 2022. pada tahun 2021. Berdasarkan riset Alfian et al. , 2. Meskipun yang dirilis Kementerian Kesehatan demikian, kepatuhan pasien yang rendah merupakan masalah utama kejadian DM di Indonesia akan dalam penatalaksanaan DM. Menurut meningkat hingga 28,6 juta jiwa beberapa penelitian, pasien DM tipe 1 (Kementerian Kesehatan RI, 2. memiliki tingkat kepatuhan sebesar Data dari Dinas Kesehatan setempat 70-83%, sedangkan pasien DM tipe 2 memiliki tingkat kepatuhan sebesar September 2023, terdapat lebih dari 64-78%. 000 penderita DM yang tinggal di (Bulu et al. , 2. , menyatakan Kota Banjarmasin (Dinas Kesehatan bahwa pasien DM tipe 2 yang Kota menerima terapi sulfonilurea sekali Peningkatan ini menunjukkan bahwa sehari memiliki tingkat kepatuhan DM menjadi masalah kesehatan yang sebesar 94%, dibandingkan dengan signifikan di Kota Banjarmasin, yang pasien yang harus minum obat dua memerlukan perhatian serius dari atau tiga kali sehari sebesar 57%. Banjarmasin. Berdasarkan Hasniah, dkk | 446 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 445-456 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Pasien yang minum obat sesuai dan mencegah komplikasi yang lebih anjuran dokter biasanya memiliki Dengan memahami korelasi antara tingkat kepatuhan minum obat Sebaliknya, pasien yang minum obat dan kadar gula darah, diharapkan tidak teratur sering kali memiliki dapat diperoleh informasi yang dapat kadar gula darah yang lebih tinggi (Amir et al. , 2015. Pertiwi et al. Penelitian lain yang dilakukan (Zulfhi Muflihatin. DM, menyatakan hubungan antara kadar pengobatan, serta membantu tenaga gula darah pasien DM tipe 2 dengan medis dalam merancang intervensi tingkat kepatuhan mereka dalam yang lebih efektif. Penelitian (Puspitasari. Penelitian ini bertujuan untuk adanya hubungan antara kadar gula kepatuhan minum obat terhadap darah pasien DM tipe 2 dengan kadar gula darah penderita DM tipe 2 tingkat kepatuhan pengobatan. Hasil Banjarmasin. Puskesmas Pekauman Hasil (Fandinata & Darmawan, 2. yang diharapkan menjadi salah satu bentuk menyatakan adanya korelasi kuat antara kadar gula darah pasien DM tipe 2 dengan kepatuhan pengobatan. penatalaksanaan DM di Indonesia dan Penelitian (Juwita et al. , 2. sebagai perhatian kepada masyarakat menyatakan bahwa faktor terpenting dalam mengatur kadar gula darah minum obat terhadap kadar gula darah penderita DM tipe 2. Penyusunan rencana yang tepat untuk terhadap pengobatan DM tipe 2 METODE PENELITIAN Penelitian sangat penting, karena pada akhirnya akan membantu mengatur gula darah Komite Etik Penelitian Universitas Hasniah, dkk | 447 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 445-456 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Muhammadiyah Nomor: Banjarmasin 201/UMB/KE/IV/2024. yang digunakan adalah kuesioner Penelitian dilakukan di Puskesmas mengenai tingkat kepatuhan pasien Pekauman Banjarmasin pada bulan Februari sampai April tahun 2024. Morisky Penelitian ini menggunakan metode Medication Adherence Scale analitik observasional dengan desain (MMAS-. , kuesioner sudah teruji cross-sectional. Pengambilan data Karakteristik melalui wawancara termasuk, usia, sampling, dengan melibatkan seluruh jenis kelamin, pekerjaan, pengalaman responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebagai sampel menderita DM tipe 2. penelitian, hingga jumlah sampel Teknik yang dibutuhkan terpenuhi. menggunakan analisis univariat untuk Kriteria inklusi yaitu pasien mengetahui distribusi frekuensi dan berusia 18 sampai dengan 60 tahun, bersedia mengikuti uji klinis, dan menggunakan perangkat lunak SPSS menerima terapi obat hipoglikemik versi 26 dengan uji chi-square, untuk oral selama kurun waktu tersebut. mengetahui ada atau tidak ada Sedangkan kriteria eksklusi yaitu hubungan yang bermakna antara pasien yang mengalami kesulitan kepatuhan minum obat dengan kadar gula darah pasien DM tipe 2 dengan kriteria eksklusi. Jumlah responden derajat kemaknaan 0,05 atau = 5%. Analisis dalam penelitian ini sebanyak 76 pasien yang didiagnosis DM tipe 2 di HASIL DAN PEMBAHASAN Puskesmas Pekauman Banjarmasin Karakteristik Pasien dan memenuhi kriteria inklusi dan Data Data karakteristik demografi pasien dalam penelitian ini terdiri dari wawancara dan kuesioner. Instrumen terakhir, dan pekerjaan. Pengambilan Hasniah, dkk | 448 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 445-456 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 data diperoleh secara prospektif pada tahun sebesar . ,3%), yang sebagian pasien DM tipe 2 di Puskesmas besar berjenis kelamin perempuan Pekauman Banjarmasin dengan total . ,7%) sedangkan laki-laki sebesar 76 responden yang memenuhi kriteria . ,3%). Tingkat pendidikan pasien inklusi (Tabel . Berdasarkan Sekolah Menegah Pertama (SMP) sebanyak data demografi pasien (Tabel . , . ,8%), diikuti dengan Sekolah Dasar (SD) sebesar . ,9%). Status pasien DM tipe 2 berada pada usia Ou pekerjaan pasien sebagian besar ibu 48 tahun . ,7%) sedangkan usia < 48 rumah tangga (IRT) sebesar . %). Tabel 1. Distribusi Data Demografi Pasien Karakteristik Frekuensi Usia Jenis Kelamin Tingkat Pendidikan Pekerjaan Perempuan Laki-laki SMP SMA/SMK Perguruan tinggi Pedagang Ibu rumah tangga (IRT) Petani Tidak bekerja Lain-lain Diabetes Persentase (%) Pengobatan mortalitas dan morbiditas diseluruh terjadinya komplikasi dengan cara dunia, karena beban gejala yang rutin dalam meminum obat, yang tinggi dan merupakan penyakit yang bertujuan untuk meningkatkan angka keberhasilan pengobatan serta sistem (Zakir perawatan kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh mayoritas pasien DM tipe 2 Hasniah, dkk | 449 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 445-456 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 berusia Ou48 tahun, hal tersebut sesuai DM tipe 2 daripada laki-laki. Hal dengan penelitian (Lau et al. , 2. tersebut sesuai dengan penelitian menyatakan seiring bertambahnya (Kautzky-Willer usia maka persentase pasien DM tipe 2 akan semakin meningkat, dimana dikaitkan dengan stres psikososial, secara umum pasien DM tipe 2 siklus bulanan, perubahan tubuh yang didiagnosis pada usia 45-64 tahun. lebih besar . , kehamilan, dan Penelitian lain (Rismawan et al. menopause merupakan faktor risiko perkembangan DM tipe 2 pada berusia >45 tahun mempunyai risiko Penelitian lain yang yang lebih tinggi pada penyakit DM Ningrum, 2020. Hadpani et al. , 2. mengalami peningkatan intoleransi menyatakan jenis kelamin perempuan memiliki faktor risiko penyakit DM penurunan fungsi sel beta pankreas tipe 2 lebih besar dibandingkan dalam produksi insulin (Arfania et al. dengan laki-laki. Pada >45 Selama 30 tahun terakhir, (Imelda. Tingkat pendidikan merupakan perubahan anatomi, fisiologi, dan biokimia telah meningkatkan jumlah pasien yang didiagnosis DM tipe 2. pengobatan pada pasien DM tipe 2. Perubahan tersebut melibatkan sistem pasien dengan tingkat pendidikan somatosensori dan hormon yang yang lebih tinggi umumnya memiliki pengetahuan untuk memahami risiko meningkatkan sensitivitas insulin dan penyakit, pola hidup lebih baik, serta memilih pelayanan kesehatan yang resistensi insulin, serta meningkatkan lebih baik dalam mengurangi risiko risiko DM tipe 2 (Herlambang et al. terjadinya DM tipe 2 (Lee et al. Jenis Tingkat dihubungkan dengan penyakit DM mempengaruhi sikap, tindakan, dan tipe 2, dimana pada penelitian ini pikiran seseorang. Orang dengan perempuan lebih dominan menderita tingkat pendidikan yang berbeda Hasniah, dkk | 450 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 445-456 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 sebanyak 38/76 . %) pasien yaang mengalami DM tipe 2 merupakan ibu rumah tangga (IRT). Hal tersebut Pendidikan tinggi dikaitkan dengan sesuai dengan penelitian (Purnama et pola berpikir dan perilaku yang lebih , 2018. Manao et al. , 2. individu dengan pendidikan tinggi cenderung lebih peduli terhadap rentan terhadap penyakit apabila kesehatan pribadinya (Imelda, 2. disertai kurangnya aktivitas. Berdasarkan Tingkat Kepatuhan Minum Obat mayoritas pasien DM tipe 2 memiliki Berdasarkan hasil data tingkat tingkat pendidikan yang rendah yaitu kepatuhan minum obat (Tabel . SD dan SMP, hal tersebut sesuai pasien memiliki tingkat kepatuhan (Agardh et al. , 2. menyatakan tinggi 30/76 . ,5%) pasien dan tingkat pendidikan yang rendah dapat meningkatkan risiko terjadinya DM sedangkan pasien yang memiliki tipe 2 sebesar 45%. Pasien dengan tingkat kepatuhan rendah sebesar pendidikan rendah mungkin kesulitan 21/76 untuk memahami kesehatan mereka, sehingga menyebabkan pengabaian terhadap pencegahan DM tipe 2 . ,6%) pasien masuk dalam kategori (Pahlawati & Nugroho, 2. normal dengan kadar gula darah Tingkat 25/76 . ,9%) . ,6%) Hasil 40/76 (GDP) mg/dL, merupakan salah satu faktor pemicu sedangkan sebanyak 36/76 . ,4%) terjadinya DM tipe 2 dimana tingkat pasien masuk dalam kategori tinggi pekerjaan yang sedikit atau kurang dengan kadar gula darah puasa (GDP) Ou126 mg/dL. kesehatan (Pena-Gralle et al. , 2. Berdasarkan Hasniah, dkk | 451 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 445-456 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Tabel 2. Data Tingkat Kepatuhan Minum Obat dan Kadar Gula Darah Puasa Keterangan Rendah Sedang Tinggi Normal . -125 mg/dL) Tinggi (Ou126 mg/dL) Kepatuhan Frekuensi Tingkat kepatuhan minum obat Kadar gula darah puasa (%) puasa yang normal 80-125 mg/dL. terutama pada pasien DM tipe 2 Kepatuhan minum obat yang tinggi pada pasien DM tipe 2 umumnya memainkan peran penting dalam dikaitkan dengan terkontrolnya kadar penatalaksaan penyakit DM tipe 2 gula darah yang dapat menyebabkan (Alsaidan et al. , 2. Keberhasilan pencegahan penyakit, komplikasi, menurunkan angka mortalitas dan pengobatan DM tipe 2. Pemilihan morbiditas (Alqarni et al. , 2. regimen pengobatan yang tepat dan Hubungan Obat dengan Kadar Gula Darah Kepatuhan Minum merupakan faktor penting dalam Berdasarkan hasil analisis data keberhasilan terapi (Saibi et al. bivariat dengan uji statistik chi- Berdasarkan hasil penelitian mayoritas pasien memiliki tingkat terdapat hubungan yang bermakna kepatuhan tinggi dan sedang, hal antara tingkat kepatuhan minum obat terhadap kadar gula darah pasien DM pengukuran gula darah pasien yang tipe 2 dengan nilai p-value = 0,000 mayoritas memiliki kadar gula darah (<0,. (Tabel Tabel 3. Hubungan Tingkat Kepatuhan Minum Obat Terhadap Kadar Gula Darah Kepatuhan Rendah Sedang Tinggi Kadar gula darah Normal Tinggi p-value 0,000 Hasniah, dkk | 452 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 445-456 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Tingkat kepatuhan minum obat merupakan salah satu faktor untuk mempertahankan kontrol yang baik menentukan keberhasilan pengobatan terhadap kondisi gula darah (Husna et penyakit DM tipe 2 (Pourhabibi et al. , 2. Hasil Berdasarkan hasil penelitian di menunjukkan mayoritas pasien yang atas pentingnya kesadaran terhadap memiliki tingkat kepatuhan minum kepatuhan minum obat terhadap obat tinggi menunjukkan kadar gula kontrol gula darah pasien DM tipe 2 darah puasa yang normal sebanyak dan merupakan strategi dan intervensi 30/30 . %) pasien, pada pasien bagi tenaga profesional kesehatan yang memiliki tingkat kepatuhan maupun fasilitas pelayanan kesehatan minum obat sedang menunjukkan kadar gula darah puasa yang normal penelitian diharapkan dapat sebagai sebanyak 10/25 . %) pasien dan parameter pengobatan jangka pendek sebanyak 15/25 . %) menunjukkan kadar gula darah puasa yang tinggi, penatalaksanaan DM yang bertujuan sedangkan pasien yang memiliki untuk menurunkan angka mortalitas tingkat kepatuhan minum obat rendah dan morbiditas pasien DM tipe 2 di menunjukkan kadar gula darah puasa Indonesia. Indonesia. Hasil yang tinggi sebanyak 21/21 . %). Terdapat hubungan yang bermakna KESIMPULAN antara tingkat kepatuhan minum obat Kepatuhan terhadap kadar gula darah pasien DM merupakan peranan yang penting tipe 2 dengan nilai p-value = 0,000 dalam penatalaksanaan pengobatan (<0,. Hal tersebut menunjukkan pada pasien DM tipe 2, untuk mencapai target kadar gula darah yang normal. Perlunya edukasi terkait Kepatuhan minum obat pada pasien melakukan aktivitas fisik seperti DM tipe 2 merupakan elemen kunci olahraga pada pasien DM tipe 2. dalam penatalaksaan, yang berperan Hasniah, dkk | 453 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 445-456 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Fakultas Farmasi Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad AlBanjari diberikan untuk menyelesaikan tugas akhir ini. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Puskesmas Pekauman di Kota Banjarmasin. Kalimantan Selatan, menyediakan fasilitas dan bantuan untuk melaksanakan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA