JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume XI Nomor 2 September Tahun 2022 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 5281/zenodo. Implementasi Model Pembelajaran Concept Attainment Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Biologi Siswa SMA Surya Wisata Kediri Ni Nyoman Serma Adi*. Dewa Nyoman Oka. I Gusti Agung Handayani. Ni Made Serma Wati IKIP Saraswati. Bali. Indonesia *Pos-el: sermaadi26@gmail. Tanggal Terbit: 30-09-2022 Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Implementasi Model Pembelajaran Concept Attainment untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa SMA Surya Wisata Kediri. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Researc. Subjek dari penelitian ini yaitu siswa kelas XI SMA Surya Wisata Kediri yang berjumlah 31 orang, yang terdiri dari siswa perempuan 19 orang dan siswa laki-laki 12 Sedangkan Objek dari Penelitian ini yaitu Aktivitas siswa dan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan II siklus , dimana masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan yaitu: tahap perancanaan, tahap pelaksanaan, pengamatan/observasi, dan refleksi. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Metode analisis data deskriptif Sedangkan Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan menggunakan lembar observasi dan tes hasil belajar. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh yaitu terjadi peningkatan pada aktivitas siswa dari siklus I 13,70% yang berada pada kategori aktif menjadi 19,04% pada siklus II yang berada pada kategori Sangat Aktif. Sedangkan hasil belajar siswa juga terjadi peningkatan yaitu pada siklus I sebesar 65,15 yang berada pada kategori Cukup Baik dan pada siklus II 80,00 yang berada pada kategori Baik. Dari Data tersebut dapat kita simpulkan bahwa Implementasi Model Pembelajaran Concept Attainment dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa SMA Surya Wisata Kediri Kata-Kata Kunci: Model Pembelajaran. Concept Attainment. Aktivitas. Hasil Belajar. PENDAHULUAN Pendidikan berperan penting dalam usaha mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada sang pencipta. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam rangka menciptakan sumber daya yang Perbaikan kegiatan belajar harus diupayakan secara optimal agar mutu pendidikan dapat meningkat. Setiap manusia harus merasakan atau menikmati yang namanya pendidikan baik itu pendidikan secara formal maupun pendidikan non formal supaya menjadi manusia yang berakhlak mulia, bermartabat, berilmu dan bertanggung jawab bagi dirinya, lingkungan keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Pendidikan adalah aspek universal yang selalu dan harus ada dalam pendidikan manusia. Tanpa pendidikan, kita tidak akan pernah berkembang dan berkebudayaan. Kehidupannya JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume XI Nomor 2 September Tahun 2022 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 5281/zenodo. menjadi tidak ada kemajuan, bahkan bisa jadi akan mengalami kemunduran dan Oleh karena itu, pendidikan adalah sesuatu yang niscaya dalam kehidupan peradaban manusia. Biologi mempunyai objek dan persoalan yang holistik sehingga Biologi perlu disajikan secara holistik. Menurut Hewitt. Paul G and etc . 7: xv. , sains terintegrasi menyajikan aspek fisika, kimia, biologi, ilmu bumi, astronomi dan aspek lainnya dari Ilmu Pengetahuan Alam. Dalam bukunya Conceptual Integrated Science. Biologi terintegrasi disajikan berbasis pendekatan kontekstual yaitu menghubungkan sains dengan kehidupan sehari-hari, bersifat personal dan langsung, menempatkan salah satu ide pokok, mengandung pemecahan masalah. Dalam penyajiannya, biologi disajikan dengan kesatuan konsep. Menurut Trefil. James & Hazen Robert . 7: xi. , pendekatan terintegrasi (An integrated approac. melibatkan proses ilmiah, mengorganisasikan prinsip, mengorganisasikan integrasi alam dari pengetahuan ilmiah dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu, dalam an integrated approach ini juga siswa diharapkan mampu mengkaitkan dalam bidang lain meliputi fisika, astronomi, kimia, geologi, teknologi, lingkungan, dan kesehatan keselamatan. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Menurut Sudarwan Danim . 0: . AuPeserta didik merupakan sumber utama dan terpenting dalam proses pendidikan formalAy. Peserta didik bisa belajar tanpa Sebaliknya, guru tidak bisa mengajar tanpa adanya peserta didik. Oleh karena itu kehadiran peserta didik menjadi keniscayaan dalam proses pendidikan formal atau pendidikan yang dilembagakan dan menuntut interaksi antara pendidik dan peserta didik. Disamping itu Oemar Hamalik . 4: . menjelaskan bahwa AuPeserta didik merupakan salah satu komponen dalam pengajaran, disamping faktor guru, tujuan, dan metode pengajaranAy. Sedangkan Samsul Nizar . 2: . menjelaskan bahwa AuPeserta didik merupakan orang yang dikembangkanAy. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik adalah seseorang yang mengembangkan potensi dalam dirinya melalui proses pendidikan dan pembelajaran pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik bertindak sebagai pelaku pencari, penerima dan penyimpan dari proses pembelajaran, dan untuk mengembangkan potensi tersebut sangat membutuhkan seorang pendidik/guru. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri. Proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas merupakan aktivitas mentransformasikan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan (Martinis Yamin, 2007: . Aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar (Sardiman, 2006: . Saat pembelajaran belangsung siswa mampu memberikan umpan balik terhadap guru. Sardiman . 6: . menyatakan bahwa aktivitas belajar merupakan aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. Dalam kegiatan belajar keduanya saling berkaitan. Oemar Hamalik . 9: . menyatakan bahwa aktivitas belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam kegiatan Aktivitas belajar dapat terwujud apabila peserta didik terlibat belajar secara Martinis Yamin . 7: . mendefinisikan belajar aktif sebagai usaha manusia untuk membangun pengetahuan dalam dirinya. Pembelajaran akan menghasilkan suatu perubahan dan peningkatan kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan pada diri siswa. JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume XI Nomor 2 September Tahun 2022 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 5281/zenodo. Siswa mampu menggali kemampuannya dengan rasa ingin tahunya sehingga interaksi yang terjadi akan menjadi pengalaman dan keinginan untuk mengetahui sesuatu yang baru. Menurut Mulyono . 1: . Aktivitas artinya Aukegiatan atau keaktivanAy. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktivitas. Aktivitas siswa merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar merupakan kegiatan atau tindakan baik fisik maupun mental yang dilakukan oleh individu untuk membangun pengetahuan dan ketrampilan dalam diri dalam kegiatan pembelajaran. Aktivitas belajar akan menjadikan pembelajaran yang efektif. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan dan ketrampilan saja. Namun, guru harus mampu membawa siswa untuk aktif dalam belajar. Masalah pendidikan dan pengajaran merupakan masalah yang cukup kompleks di mana banyak faktor yang ikut mempengaruhinya Pembelajaran di kelas persoalan yang kita jumpai di kalangan peserta didik yaitu kehilangan semangat belajar saat menemui kesulitan memahami materi mata pelajaran tertentu. Kemampuan belajar dan memahami materi mata pelajaran berbeda antara satu peserta didik dengan peserta didik lainnya. Mereka lebih suka melakukan kebiasaan sebagai usaha memperoleh nilai seperti copy paste tugas dan menyontek saat ulangan. Hal ini dikarenakan pada saat proses pembelajaran berlangsung peserta didik terkadang kurang senang terhadap mata pelajaran yang diajarkan atau kurang senang terhadap cara guru yang mengajar dalam artian terkadang cara mengajar guru yang membuat peserta didik bosan atau tidak tertarik mengikuti mata pelajaran sehingga sebagai tenaga pendidik atau guru harus tahu bagaimana cara membuat siswa tertarik atau senang mengikuti mata pelajaran. Agar penguasaan peserta didik dalam pembelajaran Biologi dapat tercapai dengan baik, maka peserta didik dituntut untuk memahami konsep-konsep dalam mata pelajaran Biologi tersebut. Pemahaman konsep (Concept Attainmen. salah satu metode pembelajaran yang efektif. Menurut Joyce: Concept Attaiment membantu peserta didik belajar sifat/ciri-ciri yang menjabarkan suatu konsep tertentu . ifat yang sudah ditentuka. dan dapat membedakan sifat-sifat yang cocok dan sifat-sifat yang tidak cocok dengan definisi. Keunggulannya antara lain, dapat membantu peserta didik menguasai gagasan-gagasan penting yang diajarkan, dengan cepat memberikan laporan tentang kedalaman pemahaman peserta didik sekaligus akan memperkuat pengetahuan. membuka bidang konseptual baru. tidak hanya mampu memperkenalkan perlunya suatu penelitian untuk bidang-bidang materi pelajaran, tetapi dapat juga meningkatkan kajian induktif. Menurut Shaikh Kashefa Anjum dalam penelitian mengemukakan bahwa, pengajaran model pencapaian konsep lebih unggul dan efektif dalam hal konsep geometris pemahaman siswa dibandingkan dengan metode tradisional. Model pencapaian konsep akan mendorong peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan belajar dengan maksimal antusiasme dan ini akan membantu mereka untuk memahami materi yang lebih jelas. Metode ini juga membantu mengkorelasikan konsep teoritis, konsep geometris dan aplikasinya, yang mana tidak begitu efektif dalam metode Model Concept Attainment akan membantu siswa untuk belajar teori dan menerapkan pengetahuan yang baru diperoleh secara bersamaan. Kesimpulan dari penelitian ini membuktikan Concept Attainment telah membantu siswa untuk skor lebih baik dalam tes hasil belajar JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume XI Nomor 2 September Tahun 2022 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 5281/zenodo. Untuk itu rumusan masalah dalam penelitian ini di rinci sebagai berikut: Pertama. Apakah Implimentasi Model Pembelajaran Concept Attainment dapat meningkatkan aktivitas belajar biologi siswa SMA Surya Wisata Kediri? Kedua. Apakah Implimentasi Model Pembelajaran Concept Attainment dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa SMA Surya Wisata Kediri? Sedangkan Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui Implimentasi Model Pembelajaran Concept Attainment dapat meningkatkan aktivitas belajar biologi siswa SMA Surya Wisata Kediri dan Untuk mengetahui Implimentasi Model Pembelajaran Concept Attainment dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa SMA Surya Wisata Kediri. METODE PENELITIAN Adapun jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Clasroom Action Researc. Subjek dari penelitian ini yaitu siswa kelas XI SMA Surya Wisata Kediri yang berjumlah 31 orang, yang terdiri dari siswa perempuan 19 orang dan siswa laki-laki 12 orang. Sedangkan Objek dari Penelitian ini yaitu Aktivitas siswa dan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan II siklus, dimana masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan yaitu: tahap perancanaan, tahap pelaksanaan, pengamatan/observasi, dan refleksi. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Metode analisis data deskriptif kualitatif. Sedangkan Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan menggunakan lembar observasi dan tes hasil belajar. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk menilai implementasi model pembelajaran concept attainment terhadap aktivitas belajar dan hasil belajar siswa kelas XI SMA Surya Wisata Kediri. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan 2 siklus dimana tiap siklus menggunakan materi berbeda. Data yang dicari adalah data tentang aktivitas dan hasil Selanjutnya data-data dianalisis dengan metode analisis deskriptif kualitatif. Refleksi Awal Data hasil belajar siswa pada refleksi awal dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Data Hasil Belajar Siswa pada Refleksi awal No Hasil belajar Ketuntasan Individu (KI) Tuntas Tidak Tuntas Rata- rata hasil Belajar Daya Serap (DS) Ketuntasan Klasikal (KK) Rerata 56,45 Presentase Kategori 58,00% 42,00% 56,45% 58,00% Kurang Data pada refleksi awal menunjukkan bahwa daya serap (DS) sebesar 56,45% dan ketuntasan klasikal (KK) sebesar 58,00% yang berarti belum memenuhi kriteria keberhasilan Kriteria Keberhasilan Minimum (KKM) yaitu sebsar 85,00% SMA Surya JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume XI Nomor 2 September Tahun 2022 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 5281/zenodo. Wisata Kediri. Melihat hal tersebut diatas, maka kelas XI Biologi perlu diberikan tindakkan dan mengubah strategi pembelajaran yang digunakan agar Hasil belajar biologi menjadi lebih baik. Siklus I Hasil observasi aktivitas siswa Dalam Observasi pertama dapat diamati suasana kelas lebih aktif dibandingkan sebelum tindakan. Sebagian siswa terfokus dengan kegiatan berpikir bersama yang sedang berlangsung, mulai dari jawaban kelompok sampai dengan tahap menjawab. Tetapi ada sebagian siswa yang kurang aktif pada fase-fase tertentu. Dalam fase berpikir bersama dan menjawab pertanyaan, ada kelompok yang menyimpang dari tujuan pembelajaran yang sebenarnya. Hal ini terlihat pada tahap presentasi kelompok masih ada jawaban dari kelompok yang masih menyimpang. Adapun hasil observasi menunjukkan rata-rata hasil aktivitas siswa pada siklus I adalah 33,77% yang masuk dalam kategori aktif, dimana mereka sudah mulai antusias dalam mengerjakan tugas kelompok dan bekerja sama dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. Namun siswa yang masuk dalam kategorikurang aktif memang terlihat pasif dan cendrung menunggu jawaban dari teman kelompoknya. Data mengenai aktivitas belajar siswa pada refleksi awal dan siklus I dapat disajikan pada tabel berikut. Tabel 2. Perbandingan Aktivitas Belajar Siswa pada Refleksi Awal dan Siklus I Siklus Refleksi awal Siklus I Peningkatan Rata-Rata aktivitas belajar 29,70 33,77% 13,70% Kualifikasi Cukup aktif Aktif Dari tabel di atas menunjukkan bahwa pada Refleksi awal rata-rata aktivitas belajar siswa yaitu 29,70 yang berada pada Kategori Cukup Aktif dan pada Siklus I rata-rata nilai aktivitas siswa yaitu 33,77% berada pada kategori Aktif. Terjadi Peningkatan sebesar 13,70% yang berada pada Kategori Aktif. Siklus I Berdasarkan pengamatan pada siklus I siswa mengalamin peningkatan dalam proses belajar dibandingkan dengan refleksi awal. Setelah dilaksanakan tindakantindakan pada siklus I, maka didapat hasil belajar siswa yang disajikan pada tabel 3. Dari tabel diatas menunjukkan bahwa jumlah siswa yang tuntas yaitu sebesar 80,65% sedangkan jumlah siswa yang tidak tuntas yaitu 19,35%. Rata-rata hasil belajar siswa dan daya serap siswa yaitu sebesar 65,16 berada pada kategori Cukup sedangkan Ketuntatasan Klasikal siswa yaitu 80,65%. JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume XI Nomor 2 September Tahun 2022 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 5281/zenodo. Tabel 3. Hasil Belajar Siswa Siklus I Hasil belajar Ketuntasan Individu (KI) Tuntas . Tidak tuntas . Nilai rata-rata hasil belajar(X) Daya Serap Ketuntasan Klasikal Rata-Rata 65,16 Presentase 80,65% 19,35% 65,16% 80,65% Kategori Cukup Refleksi siklus I Berdasarkan pada observasi siklus I suasana pembelajaran sudah cukup aktif. Sebagian besar siswa sudah mengerjakan tugas yang diberikan dengan cukup baik. Dilihat dari hasil observasi aktivitas, dan hasil belajar siklus I yang dilakukan peneliti antara lain: ketuntasan Individu, nilai rata-rata hasil belajar, daya serap dan ketuntasan Yang diperoleh siswa mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan sebelum dilakukan tindakan. Meskipun kegiatan belajar-mengajar sudah berjalan cukup baik namun ada beberapa kekurangan yang harus mendapat perhatian untuk diperbaiki pada siklus selanjutnya, diantaranya: Terdapat beberapa siswa yang masih bercanda pada kegiatan pembelajaran berlangsung sehingga dapat mengganggu temannya yang lain. Ada beberapa siswa yang mencari jawaban sendiri, dan ada siswa yang menunggu jawaban dari temannya yang lebih aktif. Perlu meningkatkan motivasi siswa dengan pertanyaan-pertanyaan lisan agar siswa tidak merasa bosan. Untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa serta mengurangi beberapa kekurangan yang terjadi pada siklus I maka penelitian akan dilanjutkan ke siklus berikutnya yaitu pada siklus II. Siklus II Hasil observasi aktivitas siklus II Dalam hasil observasi siklus II terlihat siswa lebih aktif baik pada saat berpikir bersama maupun pada saat menjawab pertanyaan yang memancing pengetahuan siswa untuk mengungkapkan berbagai permasalahan yang berhubungan dengan materi yang Rata-rata nilai aktivitas siswa berada pada kategori aktif. Data mengenai aktivitas siswa di siklus I dan siklus II dapat disajikan dalam tabel berikut ini. Tabel 4. Perbandingan aktivitas belajar siswa pada siklus I dan siklus II Siklus Rata-Rata Kualifikasi Siklus I 33,77% Aktif Siklus II 40,20% Sangat aktif Peningkatan 19,40% JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume XI Nomor 2 September Tahun 2022 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 5281/zenodo. Dari tabel Perbandingan Aktivitas belajar siswa pada Siklus I dan Siklus II terlihat bahwa nilai rata-rata aktivitas siswa pada siklus I yaitu 33,77% yang berada pada Kategori Aktif sedangkan nilai rata-rata pada Siklus II yaitu 40,20% berada pada kategori Sangat Aktif. Dari Siklus I ke Siklus II terjadi Peningkatan sebesar 19,40%. Hasil belajar siklus II Setelah dilakukan tindakkan pada kelas dan berikan tes belajar maka didapat hasil belajar siswa yang di sajikan dalam tabel berikut. Tabel 5. Hasil Belajar Siswa pada Siklus II Hasil belajar Rata-Rata Presentase Ketuntasan Individu (KI) Nilai rata-rata hasil belajar . 80,00 Daya Serap (DS) 80,00% Ketuntasan Klasikal (KK) Kategori Baik Dari tabel diatas menunjukkan hasil belajar siswa rata-rata 85,00 pada siklus II berada pada kategori baik. Dengan ketuntasan Individu (KI) sudah mencapai 100%, nilai rata-rata hasil belajar . 80,00. Daya Serap (DS) 80,00% dan Ketuntasan Klasikal (KK) Rekapitulasi hasil belajar siswa dari refleksi awal, siklus I, dan siklus II Data mengenai hasil belajar siswa pada refleksi awal dan siklus I dapat disajikan pada tabel berikut. Tabel 6. Rekaptulasi Hasil Belajar Siswa pada Refleksi Awal. Siklus I dan Siklus II Hasil Belajar Ketuntasan Individu (KI): Tuntas Tidak Tuntas Nilai rata-rata hasil belajar . Daya Serap (DS) Ketuntasan Klasikal (KK) Refleksi Awal Siklus I Siklus II 58,00% 42,00% 56,45 56,45% 58,00% 80,65% 19,35% 65,16 65,16% 80,65% 80,00 80,00% Dari tabel diatas menunjukkan hasil belajar siswa rata-rata 80,00 pada siklus II berada pada kategori baik. Setelah diberi tindakan terjadi perubahan suasana pembelajaran kelas sebelumnya berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa. Siswa aktif mencari sendiri permasalahan yang diberikan, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator, dan motivator. Ketuntasan klasikal pada Refleksi awal belum tercapai sehingga penggunaan metode Concept attainment pada siklus selanjutnya dapat dimanfaatkan secara maksimal. Pada siklus I diberikan tindakkan dengan metode concept attainment, hasil belajar siswa menjadi cukup dan aktivitas siswa menjadi aktif dibandingkan sebelumnya, hal itu dikarenakan siswa memperoleh metode baru yaitu JEms Emasains Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume XI Nomor 2 September Tahun 2022 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 5281/zenodo. concept attainment yang merupakan model pembelajaran yang lebih mengarah kepada pemahaman konsep siswa sehingga siswa termotivasi untuk mencari informasi yang lebih Pada pembelajaran siklus II hasil belajar siswa menjadi lebih baik daripada siklus I yaitu secara klasikal semua siswa tuntas sedangkan aktivitas siswa menjadi sangat aktif. Ketuntasan ini dikarenakan dilakukan tindakan dengan model pembelajaran concept attainment melalui pendekatan konteksktual,dimana siswa mendapatkan peluang untuk mengembangkan sikapnya dalam pembelajaran sehingga mereka menemukan sendiri pengetahuan baru secara langsung dalam proses pembelajaran serta dapat lebih memahami konsep yang benar dari suatu materi. Dari data hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II ditinjau dari Ketuntasan Individu (KI) dimana pada refleksi awal, siklus I dan Siklus II masing-masing adalah 58,00%, 80,65% dan 100%. Sedangkan nilai ratarata hasil belajar . refleksi awal. Siklus I dan Siklus II adalah 56,45, 65,16 dan 80,00. Dimana mengalami peningkatan dari refleksi awal ke siklus I sebesar 15,42% dari siklus I ke siklus II sebesar 22,77%. Data aktivitas siswa pada refleksi awal adalah 29,70 . ukup akti. pada siklus I adalah 33,77% pada siklus II adalah 40,20 . angat akti. terjadi peningkatan antara refleksi awal dan Siklus I sebesar 13,70%. Sedangkan peningkatan antara siklus I dan Siklus II sebesar 19,04%. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil simpulan sebagai Hasil penelitian menunjukkan bahwa Implementasi Model Pembelajaran Concept Attainment dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Biologi siswa SMA Surya Wisata Kediri. Ini terbukti dari nilai rata-rata peningkatan aktivitas belajar pada siklus 1 yaitu13,70 berada pada kategori aktif, dan pada siklus II mengalami peningkatan dengan rata-rata 19,04 yang berada pada kategori sangat aktif. Sedangkan hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dimana pada refleksi awal nilai rata-rata hasil belajar siswa yaitu 56,45 dengan kategori Kurang Baik, sedangkan nilai rata-rata hasil belajar pada siklus I yaitu 65,16 dengan kategori Cukup Baik dan mengalami peningkatan rata-rata hasil belajar pada siklus II yaitu 80,00 dengan kategori Sangat Baik. Maka berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Implementasi Model Pembelajaran Concept Attainment dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa SMA Surya Wisata Kediri. Saran