HUMOR DALAM PENDIDIKAN ISLAM ANAK: STUDI ETNOPEDAGOGI GURU MI DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI KEISLAMAN *Asraf Kurnia1. Dede Rosyada2. Muhammad Zalnur1. Thamara Putriani Br Matanari1. Hendrizal3 1Univeristas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Indonesia 2Universitas Islam Negeri Jakarta. Indonesia 3Universitas Bung Hatta. Indonesia *Email: asrafkurnia2017@gmail. Abstract: Humor holds significant potential in fostering humanistic and joyful learning, particularly in the context of Islamic Religious Education (PAI) at the madrasah ibtidaiyah level. This article aims to examine the role of humor as a pedagogical strategy in instilling Islamic values in children through an ethnopedagogical approach. The study employs a library research method by reviewing relevant literature on educational humor. Islamic education for children, and culturally grounded teaching The findings reveal that verbal, nonverbal, and culturally based humor can effectively enhance studentsAo understanding of moral, ethical, and ritual values in Islam. Humor also contributes to creating a positive classroom climate, improving student engagement, and bridging religious concepts with children's everyday experiences. From an ethnopedagogical perspective, humor reflects local wisdom that enriches Islamic educational practices and strengthens cultural affinity. However, the use of humor demands ethical sensitivity and strong communication skills from teachers. Therefore, training in culturally responsive and ethical humor use is recommended for Islamic education teachers. This study offers a conceptual contribution to developing a more contextual, affective, and culturally rooted approach to Islamic education in elementary settings. Abstrak: Humor memiliki potensi besar dalam menciptakan pembelajaran yang humanistik dan menyenangkan, terutama dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI) di madrasah ibtidaiyah. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran humor sebagai strategi pedagogis dalam menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak melalui pendekatan etnopedagogi. Metode yang digunakan adalah studi pustaka, dengan menelaah berbagai literatur yang relevan terkait humor dalam pendidikan, pendidikan Islam anak, dan pendekatan budaya lokal dalam pembelajaran. Hasil kajian menunjukkan bahwa humor, baik verbal, nonverbal, maupun berbasis budaya lokal, mampu memperkuat pemahaman siswa terhadap nilainilai akhlak, adab, dan ibadah. Humor juga efektif dalam membangun suasana kelas yang positif, meningkatkan keterlibatan belajar, dan menjembatani penyampaian materi dengan dunia anak. Dalam konteks etnopedagogi, humor menjadi bentuk kearifan lokal yang memperkaya praktik pembelajaran Islam dan memperkuat kedekatan budaya siswa. Namun demikian, penggunaan humor menuntut kepekaan etis dan kemampuan komunikasi guru yang baik. Oleh karena itu, disarankan adanya pelatihan bagi guru PAI dalam penggunaan humor edukatif berbasis budaya. Artikel ini diharapkan menjadi kontribusi konseptual bagi pengembangan pendekatan PAI yang lebih kontekstual, menyentuh sisi afektif, dan berakar pada budaya lokal. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . ARTICLE HISTORY Received: July 2025 Revised : July 2025 Accepted : July 2025 KEYWORDS Educational Humor. Islamic Education For Children. Ethnopedagogy. Madrasah Ibtidaiyah. Islamic Values KEYWORDS Humor Pendidikan. Pendidikan Islam Anak. Etnopedagogi. Madrasah Ibtidaiyah. Nilai Keislaman PENDAHULUAN Pendidikan Islam pada jenjang madrasah ibtidaiyah memainkan peran strategis dalam membentuk fondasi nilai keagamaan sejak usia dini. Pada tahap ini, peserta didik berada dalam fase perkembangan afektif, sosial, dan spiritual yang sangat pesat, sehingga pendekatan pembelajaran yang digunakan tidak cukup hanya bersifat kognitif dan normatif. Sebaliknya, proses internalisasi nilai-nilai keislaman pada anak-anak perlu dilakukan melalui metode yang sesuai dengan tahap perkembangan psikologis mereka. Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di madrasah ibtidaiyah masih cenderung terpaku pada pendekatan tekstual dan berpusat pada hafalan, yang sering kali mengabaikan dimensi afektif serta keunikan pengalaman belajar anak (Sarifah et al. , 2023. Mualifah et al. , 2. Padahal, sejumlah penelitian mengindikasikan bahwa anak-anak lebih responsif terhadap pendekatan pembelajaran yang menyentuh sisi emosional, seperti melalui komunikasi yang menyenangkan dan penuh empati (Yahyani et al. , 2. Salah satu pendekatan yang dinilai mampu menjembatani proses pengajaran dengan suasana belajar yang hangat dan bersahabat adalah humor. Dalam konteks pedagogi modern, humor tidak semata berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga sebagai strategi edukatif yang dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, membangun interaksi sosial yang sehat antara guru dan siswa, serta meningkatkan motivasi dan partisipasi dalam proses pembelajaran (Garner, 2006. Mualifah et al. , 2. Penggunaan humor secara proporsional dalam kelas terbukti memperkuat daya ingat siswa terhadap materi ajar, mempermudah pemahaman konsep abstrak, dan menumbuhkan iklim belajar yang lebih Dalam perspektif pendidikan Islam, teladan Rasulullah SAW memberikan dasar normatif yang kuat untuk penggunaan humor dalam interaksi pembelajaran. Nabi dikenal sebagai sosok yang penuh kasih, dan dalam banyak riwayat, beliau menyisipkan humor lembut dan santun untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada para sahabat, termasuk kepada anak-anak (Maunah, 2015. Sureda, 2. Menariknya, dalam praktik pembelajaran di madrasah ibtidaiyah, humor yang digunakan oleh guru sering kali bersumber dari nilai-nilai lokal yang hidup dalam budaya Bentuk humor tersebut bisa berupa ungkapan khas daerah, peribahasa, kisah jenaka, maupun sindiran ringan yang mengandung nasihat. Fenomena ini menegaskan pentingnya pendekatan etnopedagogiAiyakni praktik pendidikan yang berpijak pada kearifan lokal dan nilai-nilai budaya komunitas. Dalam kerangka etnopedagogi, humor tidak hanya dipahami sebagai teknik komunikasi, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi lisan yang berperan dalam pewarisan nilai-nilai luhur, termasuk nilai-nilai keislaman (Ruslin et , 2. Dengan demikian, humor yang digunakan secara kontekstual menjadi bagian dari praktik pedagogi yang sarat makna, karena ia menggabungkan dimensi afektif, religius, dan kultural secara sekaligus. Meskipun demikian, kajian ilmiah yang menempatkan humor sebagai strategi AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . pendidikan Islam anakAiterutama dalam perspektif etnopedagogiAimasih tergolong Literatur-literatur PAI lebih banyak berfokus pada metode ceramah, hafalan, dan keteladanan formal, sementara pendekatan yang lebih humanistik dan kontekstual sering kali kurang mendapat perhatian (Hidayat & Asyafah, 2. Padahal, humor yang bersumber dari budaya lokal, seperti bahasa daerah atau humor keseharian, justru dapat menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman secara ringan, menyenangkan, dan mudah dipahami oleh anak-anak (Mutholingah et al. , 2. Selain itu, pendekatan ini juga memberi ruang bagi pelestarian tradisi edukatif yang hidup di tengah masyarakat, yang semakin terpinggirkan oleh pendekatan formalistik. Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara konseptual peran humor dalam pendidikan Islam anak pada jenjang madrasah ibtidaiyah melalui pendekatan etnopedagogi. Artikel ini disusun sebagai studi pustaka yang memadukan teori pedagogi, prinsip-prinsip pendidikan Islam, dan pendekatan kultural dalam proses pembelajaran. Penulis berharap, kajian ini dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan model pembelajaran PAI yang lebih menyentuh aspek afektif, lebih akrab dengan dunia anak, dan lebih kontekstual dengan realitas budaya tempat pendidikan berlangsung. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka . ibrary researc. yang bersifat kualitatif-deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena topik yang dikaji bersifat konseptual-teoretis, yaitu mengenai peran humor dalam pendidikan Islam anak melalui perspektif etnopedagogi di madrasah ibtidaiyah. Penelitian ini tidak bertujuan untuk mengumpulkan data empiris dari lapangan, melainkan berfokus pada penelusuran dan analisis literatur sebagai dasar penyusunan argumen ilmiah dan konstruksi konseptual. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh melalui penelusuran literatur yang relevan dan terkini. Literatur yang dianalisis meliputi buku-buku ilmiah, artikel jurnal nasional dan internasional yang telah terakreditasi, laporan penelitian, disertasi, serta publikasi akademik lainnya yang membahas tema-tema terkait: humor dalam pendidikan, pendidikan Islam anak usia madrasah ibtidaiyah, dan pendekatan etnopedagogi dalam proses pembelajaran (Sugara & Sugito, 2022. Muzakir & Suastra. Dalam rangka menjaga keberkalaan sumber, pemilihan referensi dibatasi pada publikasi dalam sepuluh tahun terakhir. Namun, beberapa literatur klasik yang memiliki relevansi teoritis tinggi, seperti literatur keislaman dan teori pedagogis dasar, tetap digunakan untuk memperkuat argumentasi (Laila, 2022. Suherman & Indra, 2. Pengumpulan data dilakukan secara dokumentatif, dengan tahapan mencermati, membaca kritis, mencatat, mengklasifikasi, dan menyintesis informasi dari sumber-sumber yang telah dipilih. Informasi yang diperoleh dikelompokkan ke dalam tiga tema utama yang menjadi fokus analisis, yaitu: . konsep humor dalam pendidikan serta penerapannya dalam pembelajaran anak usia dasar, . internalisasi nilai-nilai keislaman dalam konteks AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . pendidikan madrasah ibtidaiyah, dan . etnopedagogi sebagai pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dalam proses pembelajaran Islam (Budiman & Suharto, 2021. Septiani et al. , 2. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode analisis isi . ontent analysi. , yaitu dengan mengidentifikasi makna, pola, dan hubungan antarkonsep yang muncul dari Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menyusun sintesis tematik, menggali hubungan antara humor, pendidikan Islam anak, dan etnopedagogi, serta menginterpretasi relevansinya dalam konteks pembelajaran PAI di madrasah ibtidaiyah (Samsirin et al. , 2. Validitas isi dalam penelitian ini dijaga melalui seleksi sumber yang kredibel dan relevan, serta melalui triangulasi literatur guna memastikan konsistensi informasi dan memperkaya perspektif analisis (Rifai, 2. Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat menghasilkan pemahaman konseptual yang komprehensif mengenai fungsi humor sebagai strategi pedagogis berbasis budaya dalam pendidikan Islam anak. Kajian ini diharapkan pula dapat memberikan kontribusi teoretik bagi pengembangan pendekatan pembelajaran PAI yang lebih humanistik, kontekstual, dan selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal (Hasnah et al. , 2023. Holilah, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan kajian literatur yang telah dianalisis secara mendalam, diperoleh sejumlah temuan konseptual yang merepresentasikan keterkaitan antara penggunaan humor dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di madrasah ibtidaiyah dan pendekatan etnopedagogi yang berbasis kearifan lokal. Temuan-temuan ini disusun dalam tema-tema utama yang mencerminkan karakteristik, fungsi, konteks budaya, serta implikasi pedagogis dari praktik humor yang dilakukan oleh guru MI. Pembahasan berikut mengelaborasi masing-masing tema secara sistematis guna menunjukkan bagaimana humor dapat menjadi strategi pendidikan Islam yang humanistik, menyenangkan, dan relevan dengan kehidupan siswa. Karakteristik Humor Guru dalam Pembelajaran PAI di MI Dalam konteks pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di madrasah ibtidaiyah, humor hadir dalam berbagai bentuk yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga: verbal, nonverbal, dan berbasis budaya lokal. Humor verbal mencakup lelucon ringan, permainan kata, atau kisah lucu yang disampaikan secara lisan oleh guru untuk mencairkan suasana dan menarik perhatian siswa. Humor nonverbal, di sisi lain, diekspresikan melalui gerakan tubuh, mimik wajah, atau simbol visual tertentu yang mengundang respons Adapun humor lokal, biasanya terwujud dalam bentuk cerita rakyat, bahasa daerah, atau peribahasa yang memiliki nilai moral tersirat dan berasal dari kearifan lokal (Jannah et al. , 2024. Pahlevi et al. , 2. Dalam praktiknya, guru MI kerap memanfaatkan humor sebagai sarana membangun kedekatan emosional dan menyederhanakan materi yang abstrak. Misalnya. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . guru menyisipkan kisah jenaka tentang anak yang salah dalam menjalankan ibadah sebagai pengantar pembelajaran fikih, atau menggunakan pantun lucu untuk menanamkan pentingnya kejujuran. Pendekatan semacam ini bukan hanya menciptakan suasana belajar yang nyaman, tetapi juga berfungsi sebagai jembatan antara materi ajar dan dunia nyata Keberhasilan penggunaan humor sangat ditentukan oleh sikap dan gaya komunikatif guru. Guru yang bersifat hangat, terbuka, dan empatik cenderung mampu menghadirkan humor secara tepat sasaran dan edukatif. Sebaliknya, humor yang bernada sarkastik atau mempermalukan siswa justru berpotensi menimbulkan rasa tidak nyaman dan menghambat proses pembelajaran. Oleh karena itu, humor dalam konteks pembelajaran PAI harus dilandasi dengan niat mendidik dan diterapkan secara etis, sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam (Dewey & Sidek, 2024. Pahlevi et al. , 2. Fungsi Humor dalam Menanamkan Nilai Keislaman Penggunaan humor dalam pendidikan Islam anak tidak hanya mencairkan suasana, tetapi juga berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai keislaman secara afektif dan Nilai- nilai seperti akhlak mulia, etika beribadah, serta adab terhadap orang tua dan sesama, dapat disampaikan dengan cara yang ringan namun bermakna melalui situasi humor yang relevan dengan dunia anak. Dalam hal ini, humor menjadi media penyampaian pesan moral yang lebih halus dan tidak menggurui, sehingga lebih mudah diterima oleh siswa, khususnya ketika membahas tema-tema yang sensitif seperti kejujuran, disiplin, atau tanggung jawab (Gelman, 2. Secara afektif, humor memiliki peran signifikan dalam membangkitkan emosi positif seperti kegembiraan, tawa, dan antusiasme. Suasana belajar yang menyenangkan terbukti mampu meningkatkan retensi informasi, memperpanjang atensi, serta memperkuat daya serap siswa terhadap materi ajar (Dewey & Sidek, 2. Dalam pembelajaran PAI, pendekatan yang menyentuh perasaan anak mampu memperdalam pemahaman mereka terhadap nilai-nilai keislaman, terutama jika disampaikan melalui cerita atau pengalaman yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, humor juga memperkuat keterlibatan belajar. Guru yang mampu menyisipkan humor secara kontekstual biasanya lebih sukses dalam menciptakan ruang diskusi yang terbuka dan interaktif. Humor mendorong partisipasi aktif siswa, memperkuat relasi guruAemurid, dan menjadikan pembelajaran agama yang sering dianggap AuberatAy terasa lebih ringan dan menyenangkan (Nasaruddin et al. , 2023. Linnaja et al. , 2. Etnopedagogi dalam Humor Guru MI Dalam pelaksanaannya, humor yang digunakan oleh guru MI sering kali tidak terlepas dari konteks budaya lokal. Ungkapan jenaka yang disampaikan dalam bahasa daerah, cerita rakyat, atau peribahasa khas komunitas tertentu, menjadi wujud konkret dari etnopedagogi, yaitu pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan kearifan lokal sebagai bagian dari proses pembelajaran (Holilah, 2. Sebagai contoh, guru menggunakan metafora atau sindiran dalam bahasa lokal AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . untuk menekankan pentingnya kejujuran, atau menyampaikan cerita lucu tentang tokoh masyarakat yang memiliki kesalahan sederhana dalam menjalankan ibadah sebagai bahan refleksi bersama siswa. Praktik ini tidak hanya efektif dalam menyampaikan pesan moral, tetapi juga menghidupkan warisan budaya lokal di ruang kelas. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pendidikan Islam tidak terlepas dari proses transformasi budaya, di mana nilai-nilai keislaman dapat disampaikan melalui medium budaya yang sudah akrab dalam kehidupan anak (Pysarchuk et al. , 2. Proses ini dikenal sebagai Islamisasi budaya humor, yakni proses menyerap bentuk humor lokal ke dalam bingkai nilai-nilai Islam. Hasilnya adalah bentuk penyampaian pesan religius yang tidak kaku, tidak memaksa, dan lebih diterima oleh anak-anak. Hal ini memperlihatkan bahwa pendidikan Islam bersifat dinamis dan mampu beradaptasi dengan konteks budaya lokal (Yusuf, 2. Analisis Implikasi terhadap Kurikulum dan Praktik PAI Melalui pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa humor memiliki potensi besar sebagai pendekatan pedagogik afektif dalam pendidikan Islam anak. Humor tidak hanya berfungsi sebagai elemen pelengkap, melainkan sebagai strategi pembelajaran yang menyentuh aspek emosional, sosial, dan spiritual peserta didik. Dalam konteks kurikulum PAI, pendekatan humor dapat digunakan untuk mendukung pencapaian kompetensi sikap, pengembangan karakter, serta penguatan pembelajaran yang berbasis pengalaman nyata anak (Doherty, 2. Namun demikian, penerapan humor dalam pembelajaran juga tidak lepas dari tantangan dan risiko. Humor yang tidak tepatAiseperti yang bersifat ofensif, memalukan, atau mengandung stereotipAiberisiko merusak suasana kelas dan menurunkan kepercayaan diri siswa. Selain itu, tidak semua guru memiliki kompetensi komunikasi yang memadai untuk menggunakan humor secara efektif dan etis. Oleh karena itu, sensitivitas budaya dan pemahaman psikologis terhadap karakter anak menjadi syarat penting dalam penggunaan humor sebagai metode pengajaran (Hamdan & Jasmi, 2. Sebagai upaya konkret, diperlukan pelatihan pedagogik khusus bagi guru MI, terutama yang mengajar mata pelajaran PAI. Pelatihan ini hendaknya mencakup teknik komunikasi edukatif, pengelolaan humor dalam perspektif Islam, serta pengembangan bahan ajar berbasis budaya lokal. Dengan pelatihan tersebut, humor dapat berfungsi bukan hanya sebagai alat hiburan, melainkan sebagai bagian integral dari strategi pembelajaran yang humanistik, kontekstual, dan inklusif (Yusuf & Abrori, 2. Untuk memperjelas hubungan antara humor, nilai-nilai keislaman, serta pendekatan etnopedagogi dalam pembelajaran PAI di madrasah ibtidaiyah, berikut disajikan tabel sintesis hasil studi pustaka: Aspek Tabel 1. Integrasi Humor. Nilai Keislaman, dan Etnopedagogi dalam Pembelajaran PAI di Madrasah Ibtidaiyah Temuan Konseptual Implikasi Pembelajaran Jenis Humor Verbal . erita lucu, permainan kat. Menyesuaikan pendekatan dengan AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Fungsi Humor Nilai Keislaman yang Diajarkan Konteks Etnopedagogi Sikap Guru Tantangan nonverbal . imik, gestu. , lokal . ahasakarakter anak dan konteks budaya daerah, pantun, cerita rakya. Membuka ruang emosi positif. Meningkatkan keterlibatan siswa, menyampaikan nilai Islami secara halus, memperkuat pemahaman, dan mempermudah pemahaman konsep menciptakan suasana belajar yang akhlak dan ibadah Akhlak . ujur, saba. , adab . epada Humor memperkaya jalur afektif guru/orang tu. , fikih dasar . udhu, untuk internalisasi nilai shala. , tauhid . akna asmaul husn. Humor bersumber dari kearifan lokal. Pendidikan Islam menjadi lebih seperti metafora budaya, sindiran membumi dan mudah diterima oleh atau cerita rakyat yang diislamkan Empatik, terbuka, memahami konteks Guru perlu diberi pelatihan sosial siswa, menghindari humor komunikasi edukatif dan sensitivitas Risiko humor tidak mendidik, tidak Dibutuhkan kebijakan pelatihan dan semua guru memiliki kompetensi penguatan kapasitas guru dalam membangun humor yang sesuai pedagogi berbasis afektif dan kultural Berdasarkan tabel di atas, dapat terlihat bahwa humor bukan hanya elemen hiburan dalam kelas, melainkan merupakan jembatan strategis yang mampu mengaitkan dimensi afektif, kultural, dan religius dalam pendidikan Islam anak. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa humor memiliki peran strategis dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di madrasah ibtidaiyah. Humor yang digunakan guruAi baik dalam bentuk verbal, nonverbal, maupun berbasis budaya lokalAi berfungsi lebih dari sekadar alat hiburan. Ia menjadi medium edukatif yang mampu menjembatani penyampaian nilai-nilai keislaman dengan pendekatan yang menyenangkan, kontekstual, dan menyentuh sisi afektif siswa. Nilai-nilai seperti akhlak, adab, dan praktik ibadah dasar lebih mudah diterima siswa ketika disampaikan melalui humor yang relevan dengan pengalaman mereka. Selain membangun suasana kelas yang positif, humor juga meningkatkan keterlibatan belajar dan memperkuat pemahaman siswa terhadap materi ajar. Dalam konteks etnopedagogi, humor yang berasal dari kearifan lokal memberikan dimensi budaya yang memperkaya pendekatan pembelajaran, sekaligus memperkuat identitas dan kedekatan antara guru dan Meski demikian, penerapan humor dalam pembelajaran PAI menuntut sensitivitas tinggi terhadap norma agama, etika komunikasi, dan kondisi psikologis peserta didik. Risiko penggunaan humor yang tidak tepat tetap ada, sehingga diperlukan kesiapan profesional guru untuk menerapkannya secara bijak. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan pedagogis AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . yang terfokus pada komunikasi edukatif, penggunaan humor islami yang konstruktif, dan pengembangan media pembelajaran berbasis budaya lokal. Secara konseptual, artikel ini memberikan kontribusi terhadap penguatan pendekatan pembelajaran Islam yang humanistik dan kontekstual di madrasah ibtidaiyah. Ke depan, studi lanjutan berbasis lapangan sangat dianjurkan untuk menggali praktik nyata penggunaan humor di ruang kelas, serta efektivitasnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran PAI dan pembentukan karakter siswa. DAFTAR PUSTAKA