MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 DOI: 10. 21154/maalim. Prophetic Parenting: Strategi Mencegah Krisis Identitas Remaja Muslim di Era Hiperrealitas Zulfi Farhan Alhabsyi Institut Agama Islam Negeri Pontianak zulfifarhan94@gmail. Abstract: This study aims to analyze how the application of prophetic parenting can prevent identity crisis in adolescents in the era of hyperreality, and how these strategies can be applied in daily life. This study uses a qualitative approach with a library research method so that the data comes from books, journal articles, and relevant research results on prophetic parenting, adolescent identity crisis, and the phenomenon of hyperreality. The results of the study show that prophetic parenting, which is based on the example of the Prophet Muhammad, can provide a strong foundation for adolescents to recognize their true selves, reducing dependence on external validation, and building self-confidence through genuine selfacceptance. Principles such as self-acceptance, words of affirmation, and internalization of morals can be strategies in shaping a healthy and authentic self-identity in the phase of identity crisis in the digital era that is full of challenges in the form of illusions and unrealistic Keywords: Prophetic parenting. Identity Crisis. Hyperreality. Adolescents Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana penerapan prophetic parenting dapat mencegah krisis identitas pada remaja di era hiperrealitas, serta bagaimana strategi-strategi tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research . tudi pustak. sehingga datanya bersumber dari buku, artikel jurnal, dan hasil penelitian yang relevan tentang prophetic parenting, krisis identitas remaja, dan fenomena hiperrealitas. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa prophetic parenting, yang didasarkan pada teladan Nabi Muhammad AA, dapat memberikan dasar yang kuat bagi remaja dalam mengenali jati diri mereka, mengurangi ketergantungan pada validasi eksternal, dan membangun kepercayaan diri melalui penerimaan diri yang tulus. Prinsip-prinsip seperti self-acceptance, kata-kata afirmasi, dan internalisasi akhlak dapat menjadi strategi dalam membentuk identitas diri yang sehat dan otentik di fase krisis identitas di era digital yang penuh dengan tantangan berupa ilusi seta hal-hal yang tidak Kata kunci: Prophetic parenting. Krisis Identitas. Hiperrealitas. Remaja PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah membawa perubahan signifikan dalam cara individu, terutama remaja, membentuk identitas diri. Munculnya fenomena hiperrealitas, sebuah konsep yang dikemukakan oleh Jean Baudrillard, menggambarkan kondisi di mana realitas dan simulasi tidak lagi dapat dibedakan, menyebabkan banyak orang hidup dalam dunia yang didominasi oleh citra yang tak sepenuhnya nyata. Maheswari dalam Ady Triyas menjelaskan, bagi penikmatnya, hiperrealitas mengubah segala bentuk kenyataan menjadi simulacrum. Simulasi, atau simulacrum, adalah suatu proses di mana representasi MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 DOI: 10. 21154/maalim. didasarkan pada tanda-tanda realitas, di mana tanda-tanda menggantikan objek itu sendiri, dan di mana representasi menjadi lebih penting daripada objek itu sendiri 1. Media sosial, iklan, dan budaya populer menciptakan standar sosial yang sering kali tidak realistis dan jauh dari kenyataan. Sebuah studi yang dilakukan oleh tim dari Pusat Penelitian Media. Teknologi, dan Kesehatan di University of Pittsburgh menemukan bahwa orang yang menggunakan tujuh hingga sebelas platform media sosial memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar untuk menunjukkan tanda-tanda depresi dan kecemasan dibandingkan mereka yang hanya menggunakan nol hingga dua platform. Platform yang disertakan dalam penelitian ini meliputi Facebook. YouTube. Twitter. Google Plus. Instagram. Snapchat. Reddit. Tumblr. Pinterest. Vine, dan LinkedIn2. Krisis identitas adalah fenomena umum yang dialami oleh remaja dalam fase perkembangan mereka, sebagaimana dijelaskan dalam teori psikososial Erik Erikson. Sebuah survey dilakukan oleh CVS Health and Harris Poll menujukkan bahwa 63% responden berusia 18 hingga 34 tahun merasa sulit mengetahui tujuan hidup mereka seiring bertambahnya usia, mereka mengatakan AuAs I get older. I sometimes find it hard to know what my purpose in life isAy. Bahkan 36% dari mereka mengatakan pada tahun lalu mereka sempat berpikir untuk melakukan bunuh diri. Kenyataan ini sangat memprihatinkan melihat banyaknya remaja yang mengalami krisis identitas dan sempat ingin mengakhiri hidupnya3. Era hiperrealitas akan memperburuk krisis ini. Melalui media sosial, remaja terpapar oleh kehidupan "sempurna" yang disajikan dalam bentuk foto, video, dan konten yang sering kali dimanipulasi. Fenomena ini mengakibatkan remaja membandingkan diri mereka dengan versi ideal yang tidak realistis, yang menyebabkan ketidakpuasan diri, rendahnya kepercayaan diri, dan perasaan tidak berharga. Di tengah krisis identitas yang diperburuk oleh era hiperrealitas, diperlukan pendekatan pendidikan berbasis nilai yang tidak hanya fokus pada pembentukan karakter moral, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi dunia digital. Salah satu pendekatan yang relevan adalah prophetic parenting, yang berakar pada ajaran Nabi Muhammad A Atentang kasih sayang, pembentukan karakter, dan penanaman nilai-nilai spiritual sejak dini. Al-Ghazali, seorang cendekiawan Muslim, dalam karyanya Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa pendidikan akhlak dan penanaman spiritual yang baik sejak dini akan membantu seseorang menghadapi tantangan hidup, termasuk krisis identitas 4. Lebih lanjut, penelitian yang dilakukan oleh Aisyah dan Daud menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara prophetic parenting terhadap psyhcological well-being pada anak, artinya anak1 Anggun Putri Ady Triyas. Dwi Rizky Wulan Maulida, and Nanda Aulia Rahmawati. AuAnalisis Representasi Influencer Dalam Memunculkan Budaya Hiperrealitas Mahasiswa Terhadap Suatu Produk Melalui Konten ReviewAy. Jurnal Penelitian Inovatif , 4. No. 3 (Agustus 2. : 1025Ae1036, https://doi. org/10. 54082/jupin. Kominfo. AuStudi: Pemuda Yang Punya Banyak Medsos Cenderung Mudah DepresiAy 2020, [Online, diakses tanggal 27 November 2. , https://w. id/berita/sorotan-media/detail/studi-pemuda-yangpunya-banyak-medsos-cenderung-mudah-depresi. Cara McNulty and Taft Parsons. AuSocial Media. Suicidal Thoughts and an Identity Crisis Among Young AdultsAy 2023, [Online diakses tanggal 27 November 2. , https://w. com/news/healthnews/articles/2023-09-29/social-media-suicidal-thoughts-and-an-identity-crisis-among-young-adults. Iim Rohimah. Mubiar Agustin. And Imam Al Ghazali. AuAnalisis Pemikiran Imam Al Ghazali Tentang Penanaman Aspek Moral Dan Agama Implikasinya Terhadap Pendidikan Anak Usia DiniAy. EDUSENTRIS: Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Pengajaran , 8. No. 3 (Desember 2. : 1Ae32. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 DOI: 10. 21154/maalim. anak yang dibesarkan dengan prinsip prophetic parenting cenderung memiliki konsep diri yang lebih baik dan kemampuan yang lebih kuat dalam menangani tekanan sosial dibandingkan dengan mereka yang tidak mendapatkan pengasuhan semacam itu5. Prophetic parenting dapat diwujudkan sebagai strategi nyata yang relevan dengan tantangan di era hiperrealitas. Misalnya, orang tua dapat mengajarkan anak tentang realitas dan hiperrealitas melalui diskusi terbuka tentang bagaimana media sosial sering kali menampilkan kehidupan yang tidak sepenuhnya nyata. Selain itu, rutinitas spiritual seperti shalat berjamaah dan membaca Al-Qur'an bersama dapat menjadi sarana untuk memperkuat fondasi spiritual Orang tua juga dapat menanamkan kepercayaan diri pada anak dengan memberikan apresiasi yang tulus atas usaha mereka, sekaligus menjadi teladan dalam menggunakan media sosial secara bijak. Dengan strategi-strategi ini, remaja diharapkan mampu membangun identitas diri yang sehat dan Tangguh. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana penerapan prophetic parenting dapat mencegah krisis identitas pada remaja di era hiperrealitas, dan bagaimana strategi-strategi tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, khususnya melalui metode library research . tudi pustak. Dengan menggunakan metode studi pustaka, ini akan membantu peneliti dalam mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana propethic parenting bisa menjadi solusi untuk mencegah krisis identitas remaja di era hiperrealitas melalui literatur-literatur yang Alat pengumpulan datanya berupa buku, artikel jurnal, dan hasil penelitian yang relevan tentang prophetic parenting, krisis identitas remaja, dan fenomena hiperrealitas. HASIL DAN PEMBAHASAN Dampak Era Hiperrealitas terhadap Krisis Identitas Remaja Hiperrealitas adalah suatu kondisi di mana batas antara realitas dan representasi menjadi kabur, sehingga yang terlihat atau dipersepsikan sering kali lebih dominan daripada kenyataan itu sendiri. Konsep ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran filsuf postmodern Prancis. Jean Baudrillard. Menurutnya, dalam era modern, manusia hidup dalam dunia yang didominasi oleh simulasi atau citra yang tidak lagi merujuk pada kenyataan tetapi menciptakan "realitas" baru yang seolah-olah lebih nyata. Jean Baudrillard menggunakan istilah "hiperrealitas" untuk menggambarkan perekayasaan makna dalam media. Sebuah budaya hiperrealitas yang berkaitan dengan komunikasi, media, dan makna menghasilkan situasi di mana semua hal dianggap nyata melampaui kenyataan, dan kedustaan dianggap lebih benar daripada kebenaran6. Hiperrealitas ini dapat memperburuk fase krisis identitas remaja. Dalam teori perkembangan psikososial yang dikemukakan oleh Erik Erikson, pada usia remaja yaitu 12-18 tahun seorang remaja sedang menginjak tahap perkembangan kelima yaitu identity & role Indah Wulan Purnama Aisyah and Muh. Daud. AuHubungan Prophetic Parenting Dengan Psychological Well-Being Pada RemajaAy. Pinisi Journal of Art. Humanity & Social Studies, 3. No. 5 (September 2. : 74Ae83. Anggun Putri Ady Triyas. Dwi Rizky Wulan Maulida, and Nanda Aulia Rahmawati. AuAnalisis Representasi Influencer Dalam Memunculkan Budaya Hiperrealitas Mahasiswa Terhadap Suatu Produk Melalui Konten ReviewAy. Jurnal Penelitian Inovatif , 4. No. 3 (Agustus 2. : 1025Ae1036, https://doi. org/10. 54082/jupin. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 DOI: 10. 21154/maalim. Pada tahap ini, remaja akan mencari jati diri dan identitas pribadi melalui eksplorasi terhadap nilai-nilai, keyakinan, dan tujuan pribadi. Jika berhasil, remaja akan mampu tetap setia pada dirinya sendiri. Namun, jika gagal, remaja akan mengalami kebingungan peran dan rasa percaya diri yang lemah. Dalam hiperrealitas, remaja sering terpapar representasi ideal yang tidak realistis, seperti citra kecantikan, gaya hidup, atau kesuksesan yang ditampilkan di media sosial. Hal ini membuat remaja merasa bahwa identitas asli mereka tidak cukup baik. Penelitian yang dilakukan oleh Kusdemawati menunjukkan remaja yang sering menggunakan aplikasi TikTok untuk melihat konten kecantikan dapat terpengaruh dalam menilai dirinya sendiri. Hal ini terjadi karena mereka terus-menerus terpapar pada sosok yang dianggap sebagai standar kesempurnaan menurut pandangan sosial8. Fasilitas TikTok, seperti fitur editing, filter, dan tren viral, menunjukkan bagaimana realitas dapat dimodifikasi melalui platform tersebut9. Media sosial dapat memperkuat perbandingan sosial dan tekanan untuk tampil sempurna, yang sering kali mengakibatkan krisis identitas. Remaja mungkin merasa perlu untuk membentuk identitas daring yang berbeda dari identitas asli mereka, menciptakan ketidakpuasan dengan diri sendiri. Penggunaan media sosial dapat menyebabkan penurunan kepercayaan diri dan krisis keyakinan, terutama ketika remaja membandingkan diri mereka dengan citra ideal yang ditampilkan oleh orang lain di platform tersebut10. Remaja yang berada dalam fase krisis identitas sering mencari pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Dalam dunia hiperrealitas, validasi sering kali diukur melalui likes, komentar, atau jumlah pengikut di media sosial. Remaja sering mencari pengakuan melalui aktivitas di media sosial, seperti meminta pendapat dan mendapatkan "likes. " Hal ini menyebabkan mereka merasa lebih percaya diri dalam konteks online dibandingkan dalam interaksi tatap muka. Namun, ketergantungan ini juga dapat membuat mereka lebih tertutup dan terasing dari lingkungan sosial nyata11. Selain itu, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) juga memperkuat kebutuhan akan validasi ini, karena remaja merasa harus terus mengikuti tren dan aktivitas yang dianggap populer agar tetap diterima dan diakui oleh lingkungannya. Fenomena FOMO berkontribusi pada kecenderungan remaja untuk mencari validasi eksternal, di mana mereka merasa perlu untuk terlibat dalam aktivitas yang tidak selalu relevan dengan minat mereka hanya untuk mendapatkan perhatian. Ini menciptakan ketidakseimbangan dalam kehidupan remaja dan memengaruhi cara pandang mereka terhadap diri sendiri serta realitas12. Saul Mcleod. AuErik Erikson Ao s Stages Of Psychosocial Development Stage 1 . Trust Vs . MistrustAy, in SimplyPsychology, 2023 [Online, diakses tanggal 27 November 2. https://w. org/erikerikson. Jeny Kusdemawati. AuThe Konsep Body Image Remaja Putri Penikmat Beauty Content Pada Aplikasi TikTok,Ay Innovative: Journal Of Social Science Research, 4. No. 1 (Desember 2. : 8591Ae8601. Jovanka Diva Pramita. Sulyana Dadan, and Wiman Rizkidarajat. AuHiperrealitas Endorse Dalam Media Sosial : Upaya Influencer Di Kalangan Mahasiswa Unsoed Dalam Menciptakan Konten Di TikTokAy Jurnal Penelitian Inovatif, 4. No. 3 (Desember 2. : 1827Ae1840. Egi Regita. Nabilah Luthfiyyah, and Nur Riswandy Marsuki. AuPengaruh Media Sosial Terhadap Persepsi Diri Dan Pembentukan Identitas Remaja Di IndonesiaAy. Jurnal Kajian Dan Penelitian Umum, 2. No. (Februari 2. : 46Ae52, https://doi. org/10. 47861/jkpu-nalanda. Pamela Felita et al. AuPemakaian Media Sosial Dan Self Concept Pada RemajaAy. Jurnal Ilmiah Psikologi MANASA, 5. No. 1 (Juni 2. : 30Ae41. Nazla Hana Firdaus. AuDAMPAK FOMO MEDIA SOSIAL PADA KEPERCAYAAN DIRI REMAJAAy. Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif , 5. No. 11 (November 2. : 20Ae27. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 DOI: 10. 21154/maalim. Selain itu, hiperrealitas dunia digital memungkinkan remaja menciptakan berbagai versi identitas di berbagai platform . isalnya, versi diri di Instagram berbeda dengan di TikTok atau di dunia nyat. Hal ini bisa membuat identitas mereka terfragmentasi, sehingga mereka kesulitan memahami siapa diri mereka yang sebenarnya. Sebuah studi mengenai fenomena "flexing" di media sosial menunjukkan bahwa Generasi Z sering kali menampilkan citra diri yang ideal di platform seperti Instagram. Hal ini menciptakan kondisi di mana individu merasa perlu untuk menunjukkan versi terbaik dari diri mereka, sering kali berbeda dari realitas13. Oleh karena itu, hiperrealitas yang muncul dari media sosial dan dunia digital memberikan dampak mendalam pada perkembangan identitas remaja, seperti distorsi identitas diri, ketergantungan pada validasi eksternal, dan fragmentasi identitas diri. Di media sosial, remaja mungkin merasa perlu menampilkan versi diri yang lebih menarik atau sesuai dengan ekspektasi sosial. Hal ini menyebabkan perbedaan antara bagaimana mereka mempresentasikan diri secara online dan bagaimana mereka sebenarnya dalam kehidupan Ketika remaja terus-menerus membandingkan dirinya dengan standar yang dilihat di dunia digital, mereka dapat mulai meragukan keunikan atau nilai diri mereka sendiri. Realitas diri yang sebenarnya dianggap tidak memadai jika dibandingkan dengan realitas "sempurna" yang ditampilkan dalam hiperrealitas. Konsep dan Prinsip Prophetic Parenting dalam Islam Prophetic parenting adalah konsep pengasuhan yang didasarkan pada prinsip dan teladan Nabi Muhammad A Adalam mendidik anak-anak. Pendekatan ini mengintegrasikan nilai-nilai Islam, akhlak mulia, dan panduan dari Al-Qur'an serta Sunnah dalam setiap aspek Tujuannya adalah membantu anak tumbuh dengan pemahaman agama yang kuat, akhlak yang baik, dan kepribadian yang unggul, sehingga mereka mampu menjalani hidup sebagai individu yang saleh dan bermanfaat bagi masyarakat. Prophetic parenting, yang merupakan pendidikan anak ala Rasulullah, merujuk pada pendekatan mendidik dengan mencontoh metode Rasulullah dalam membina keluarga dan Konsep ini menekankan bahwa pendidikan bukan hanya proses transfer ilmu, melainkan juga upaya menanamkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan anak. Prophetic parenting merupakan pola asuh yang bertujuan membentuk kepribadian anak dengan mengajarkan akhlak . yang baik. Pola asuh ini bersumber dari teladan Rasulullah AA dan dilakukan secara bertahap hingga anak mampu mandiri dalam berpegang teguh pada syariat Islam14. Prophetic parenting menekankan bahwa pendidikan tidak hanya sebatas proses pengajaran, tetapi juga mencakup upaya menanamkan nilai-nilai bersama dengan pemberian Terdapat berbagai metode yang dapat diterapkan dalam pendekatan ini. Menjadi Suri Teladan yang Baik Sebagai orang tua, perilaku sehari-hari merupakan cerminan dari nilai-nilai yang diajarkan kepada anak. Anak belajar dengan meniru, sehingga menjadi penting bagi orang Evayanti Yuliana Putri. AuFlexing Sebagai Artikulasi Identitas Mahasiswa Generasi Z Di InstagramAy. Skripsi tidak diterbitkan (Universitas Jember, 2. Dini Andesta et al. AuProphetic Parenting: Konsep Ideal Pola Asuh IslamiAy. JIMR : Journal Of International Multidisciplinary Research. No. (Juni 24Ae33, https://doi. org/10. 62668/kapalamada. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 DOI: 10. 21154/maalim. tua untuk menunjukkan sikap, ucapan, dan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Islam. Nabi Muhammad A Adikenal sebagai "uswah hasanah" . eladan yang bai. , yang menunjukkan kesabaran, kejujuran, dan kasih sayang dalam segala situasi. Contoh konkret adalah konsistensi orang tua dalam beribadah dan menjaga akhlak mulia. Orang tua, terutama ibu, adalah guru pertama bagi anak-anak mereka. Anak-anak cenderung meniru apa yang dilakukan oleh orang tua karena mereka sangat dipengaruhi oleh perilaku orang tua. Oleh sebab itu, memberikan contoh yang baik sangat penting karena akan membentuk kepribadian anak. Jika orang tua selalu menunjukkan sikap yang baik, anak akan belajar membedakan mana perilaku yang baik dan buruk, dan ini akan menjadi bekal bagi mereka hingga dewasa15. Memilih Waktu yang Tepat untuk Memberikan Nasihat Peringatan atau nasihat sebaiknya diberikan pada momen yang mendukung, misalnya ketika anak dalam kondisi tenang dan dapat menerima masukan. Nabi Muhammad A Amemilih waktu yang bijaksana ketika memberikan nasihat, sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah diterima. Misalnya, memberikan nasihat setelah kejadian tertentu atau saat sedang berbincang santai dengan anak. Jika kedua orang tua bisa memilih waktu yang tepat untuk memberikan arahan dan mampu membuat anak siap menerima nasihat tersebut, maka upaya mereka dalam mendidik anak akan lebih berhasil dan efektif 16. Bersikap Adil kepada Anak-Anak Islam menekankan pentingnya keadilan, termasuk dalam memperlakukan anak. Orang tua dilarang membeda-bedakan anak dalam bentuk kasih sayang, perhatian, maupun pemberian materi. Orang tua harus selalu konsisten bersikap adil dan memberikan perlakuan yang sama kepada semua anaknya. Hal ini sangat penting karena akan memengaruhi sikap anak untuk menjadi patuh dan berbakti. Jika seorang anak merasa orang tuanya lebih menyayangi saudaranya dibanding dirinya, hal itu bisa memicu rasa iri dan kedengkian yang membuat anak menjadi sulit diatur atau berperilaku buruk17. Memenuhi Hak-Hak Anak dengan Bijak Anak memiliki hak yang wajib dipenuhi oleh orang tua, seperti mendapatkan pendidikan agama, perlindungan, dan kasih sayang. Menunaikan hak ini mencakup memberikan nama yang baik, pendidikan yang layak, serta menjaga kesehatan dan Nabi Muhammad A Abersabda bahwa setiap anak adalah amanah dari Allah A Ayang harus dipertanggungjawabkan. Memenuhi hak anak dan menerima dirinya apa adanya akan membantu anak merasa dihargai dan tumbuh dengan perasaan positif. Hal ini juga mengajarkan anak bahwa hidup adalah tentang saling memberi dan menerima. Selain itu, anak belajar untuk menerima kebenaran dengan sikap yang baik, karena mereka melihat teladan yang positif dari orang tua. Kebiasaan menerima kebenaran ini juga melatih anak Ambar Putri Ramadhani et al. AuProphertic Parenting: Konsep Ideal Pola Asuh Islami,Ay Jurnal Multidisipliner Kapalamada, 1. No. 03 (Juni 2. : 390Ae397, https://doi. org/10. 62668/kapalamada. Ramadhani et al. Ramadhani et al. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 DOI: 10. 21154/maalim. untuk berani menyampaikan perasaannya dan memperjuangkan hak-haknya dengan cara yang benar18. Mendorong Anak untuk Patuh dan Taat kepada Allah AA Orang tua bertanggung jawab membimbing anak agar memahami pentingnya ibadah dan ketaatan kepada Allah AA. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak mereka shalat bersama, membaca Al-Qur'an, atau memberikan motivasi untuk menjalankan ibadah Nabi Muhammad A Amembimbing keluarganya dengan lembut dan sabar, seperti membangunkan putrinya. Fatimah, untuk shalat malam. Menciptakan suasana yang mendukung saja tidak cukup dalam mendidik anak. Salah satu hal yang sering diperhatikan oleh anak, tetapi sering luput dari perhatian orang tua, adalah memberi contoh yang baik. Misalnya, ketika meminta anak untuk shalat, sebaiknya orang tua terlebih dahulu menunjukkan kesiapannya, seperti sudah mengenakan perlengkapan shalat. Dengan memberi contoh seperti ini, anak akan lebih mudah mengikuti dan melaksanakan perintah ketaatan tersebut19. Menghindari Kemarahan dan Celaan dalam Mendidik Anak Dalam pengasuhan. Nabi Muhammad A Amenghindari amarah dan celaan yang dapat melukai perasaan anak. Beliau selalu berbicara dengan lembut dan bijaksana, meskipun anak melakukan kesalahan. Jika anak perlu ditegur, dilakukan dengan pendekatan yang tidak merendahkan martabat mereka. Misalnya. Nabi Muhammad A Apernah menegur seorang anak kecil yang memakan dengan tangan kiri, tetapi beliau melakukannya dengan cara yang penuh kasih. Mendidik anak dengan cara mencela atau sering memarahinya tanpa disertai nasihat yang bijak dapat berdampak buruk pada kesehatan mental anak. Anak bisa jadi tidak lagi menghargai teguran dan menganggap perbuatan buruk sebagai hal yang biasa. Selain itu, anak juga cenderung tidak serius menanggapi perkataan orang tua. Sebaiknya, orang tua memberikan contoh yang baik melalui ucapan dan tindakan, karena sikap dan kebiasaan orang tua akan sangat memengaruhi anak20. Strategi Prophetic Parenting untuk Mengatasi Krisis Identitas Remaja di Era Hipperalitas Di era modern yang sarat dengan pengaruh digital, krisis identitas menjadi tantangan yang sering dialami remaja. Krisis ini diperburuk oleh paparan konten hiperrealitas yang menciptakan standar sosial tidak realistis, menyebabkan kebingungan dalam membangun jati Dalam konteks ini, prophetic parenting menawarkan solusi strategis yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Prinsip-prinsip pengasuhan ala Nabi Muhammad A Atidak hanya membimbing anak untuk mengenali fitrah mereka, tetapi juga membangun kepribadian yang kuat dan Berikut adalah prinsip-prinsip prophetic parenting yang relevan bagi orang tua untuk membantu remaja menghadapi tantangan ini. Rizqon Al Musafiri and Nur Miftahurrohmah. AuProphetic Parenting Pola Asuh Orangtua Dalam Pembentukan Karakter Anak Usia DiniAy. Jurnal At-Taujih: Jurnal Bimbingan Dan Konseling Islam, 2. No. (April 2. : 32Ae41, https://doi. org/10. 30739/jbkid. Musafiri and Miftahurrohmah. Musafiri and Miftahurrohmah. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 DOI: 10. 21154/maalim. Self-Acceptance Orang tua diajarkan untuk menghargai anak apa adanya, tanpa menuntut mereka menjadi seseorang yang sesuai dengan standar sosial tertentu. Hal ini sesuai dengan teladan Nabi Muhammad A Ayang menghormati keunikan setiap individu. Didalam Al-Quran surah Al-Isra ayat 84 Allah A Aberfirman: nAaEEcU Oca e aI aE a EO aEaEaaNA Atinya: AuSetiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masingAy Dikutip dari laman Harakatuna. Hamka dalam tafisrnya Al-Azhar Juz 15. No. menjelaskan bahwa setiap anak adam dilahirkan bersama dengan pembawaannya atau Ini menunjukkan bahwa setiap individu memiliki keunikan yang melekat, baik dari segi karakter, bakat, kemampuan, maupun potensi yang diberikan oleh Allah AA. Hal ini mengajarkan bahwa tidak semua orang harus sama atau mampu melakukan hal yang sama, karena setiap individu memiliki "pembawaan" atau ciri khas yang membedakan mereka. Allah A Ajuga berfirman dalam surah At-Tin pada ayat ke-4: Aa a aI a eC aO IOA e AI aIA e a A a AEaaC e aEa eCIa eEA Artinya: AuSesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknyaAy. Ayat ini mengingatkan bahwa Allah A Amenciptakan manusia dengan keistimewaan dan kesempurnaan menurut fitrahnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua dalam mendidik anaknya untuk memahami bahwa anaknya sangat unik, diciptakan sesuai dengan fitrahnya. Sebagian orang tua tidak bisa menghargai apa yang telah dimiliki anak yang pada akhinya berujung pada men-judge anak. Hendaknya sebagai orang tua, harus selalu menghargai dan menerima apa adanya seorang anak yang telah Allah A Aberikan kepadanya, jangan menuntut anak untuk Perlu diingat bahwa anak itu adalah manusia bukan malaikat, mereka mempunyai nafsu dan pasti akan berbuat kesalahan. Dengan menerima anak apa adanya dan tidak menuntut yang banyak kepada anak, serta dengan menghargai fitrah dan nilai autentik mereka, serta menciptakan fondasi yang kokoh bagi remaja untuk menghadapi hiperrealitas tanpa kehilangan jati diri mereka. Mereka belajar bahwa identitas sejati tidak berasal dari standar sosial, tetapi dari penerimaan dan penghargaan atas diri mereka sendiri. Words of Affirmation Nabi Muhammad A Asering memberikan pujian yang tulus untuk membangun rasa percaya diri orang-orang di sekitarnya. Dalam parenting, orang tua harus memberikan Ahmad Khalwani. AuPerintah Agama. Bekerjalah Sesuai Potensi Dan BakatnyaAy, 2024, [Online, diakses tanggal 26 Desember 2. https://w. com/perintah-agama-bekerjalah-sesuai-potensi-danbakatnya. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 DOI: 10. 21154/maalim. apresiasi pada upaya dan karakter anak, bukan hanya pada hasil atau penampilan mereka. Memberikan pujian kepada anak sangat penting dalam proses pembentukan karakter, rasa percaya diri, dan perkembangan emosional mereka. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Fathul Bari 69 Nabi Muhammad A Abersabda Auberilah kabar gembira, jang buat mereka lariAy. Pujian yang tulus dapat menjadi kabar gembira yang mendorong semangat dan motivasi seseorang, sesuai dengan ajaran Nabi untuk membawa pesan-pesan positif. Dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 83 Allah A Ajuga berfirman: Artinya: AuDan ucapkanlah kepada manusia kata-kata yang baikAy. a AaOCaOEaO EaEIA Aca a e UIA Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk berkata baik kepada sesama. Pujian yang tulus adalah salah satu bentuk ucapan baik yang dapat memberikan manfaat emosional dan spiritual kepada orang lain. Memberikan pujian kepada anak merupakan hal yang sangat penting untuk membangun kepercayaan diri anak terkhusus seorang remaja, pujian yang tulus dan baik juga dapat membantu untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Memberikan pujian kepada anak memiliki dampak positif yang signifikan dalam membangun rasa percaya diri mereka. Ketika anak menerima pujian dari orang tua, keluarga, atau lingkungan, mereka merasa dihargai atas usaha dan pencapaian mereka. Hal ini memberikan motivasi yang kuat untuk tampil lebih percaya diri dan berani menghadapi tantangan, sekaligus membantu mereka mengatasi rasa takut gagal. Pujian juga memenuhi kebutuhan emosional anak akan penghargaan dan pengakuan, yang penting untuk perkembangan psikologis mereka. Dengan penghargaan yang tulus, anak merasa didukung dan termotivasi untuk terus berkembang22. Orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak mengembangkan penerimaan diri dan kepercayaan diri. Melalui kasih sayang, penghargaan, dan dorongan positif, mereka dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan emosional Pendekatan seperti memberikan umpan balik positif, menawarkan tantangan yang sesuai kemampuan, dan melibatkan anak dalam kegiatan yang meningkatkan kepercayaan diri sangat efektif. Langkah-langkah ini membantu anak merasa dihargai dan yakin dengan Dengan dukungan ini, anak lebih mampu menerima dirinya dan menghadapi tantangan dengan percaya diri23. Words of affirmations atau kata-kata penegasan dari orang tua kepada anak memiliki peran penting dalam mengurangi ketergantungan anak pada validasi eksternal. Hal ini dilakukan dengan menanamkan rasa percaya diri dan penerimaan diri dari dalam. Dengan menggunakan words of affirmations, orang tua membangun pondasi emosional yang kuat Jazilah Rohmah. AuPembentukan Kepercayaan Diri Anak Melalui PujianAy. Martabat: Jurnal Perempuan Dan Anak, 2. No. 1 (Juli 2. : 117-134, https://doi. org/10. 21274/martabat. Ornella Alika. Arri Handayani, and Dini Rakhmawati. AuPenerimaan Diri Dan Sikap Percaya Diri Pada Anak Sekolah Dasar,Ay Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD FKIP Universitas Mandiri, 10. No. 1 (Maret 2. : 607Ae MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 DOI: 10. 21154/maalim. pada anak. Mereka belajar untuk menghargai diri sendiri tanpa bergantung pada pandangan atau penghargaan dari orang lain, sehingga lebih mampu menghadapi tekanan sosial dan tetap percaya diri. Afirmasi dari orang tua juga menjadi pengimbang yang mengajarkan anak bahwa nilai mereka tidak bergantung pada pengakuan dunia maya. Internalisasi Akhlak Nabi Muhammad A Amengajarkan bahwa identitas sejati seseorang terletak pada akhlaknya, bukan pada penampilan luar. Orang tua dapat membantu anak memahami pentingnya konsistensi antara dunia digital dan nyata berdasarkan nilai-nilai Islam. Orang tua harus menanamkan pentingnya kejujuran, baik di dunia nyata maupun digital, sehingga anak tidak tergoda untuk menciptakan "identitas palsu" demi mendapatkan pengakuan. Allah A Atelah berfirman dalam Al-Quran surah Muhammad ayat 21: AacEEa Ea aE aI aeO aaEaeIA ac AA aCaOA a aEa eOA Artinya: AuTetapi jikalau mereka berlaku jujur pada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi merekaAy. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Fathul Bari No. Nabi Muhammad A Abersabda: AuSesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika seseorang yang senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya jika seseorang yang selalu berdusta sehingga akan dicatat baginya sebagai seorang pendustaAy. Ayat dan hadits tersebut menjelaskan pentingnya kejujuran sebagai nilai fundamental dalam Islam dan juga mengingatkan bahwa kejujuran kepada Allah A Aadalah dasar integritas pribadi. Jika seseorang jujur kepada Allah AA, ia akan menjaga setiap aspek kehidupannya, termasuk aktivitas digital, dari kedustaan dan kemunafikan. Kejujuran ini menciptakan identitas yang kokoh sehingga ia tidak mudah terjebak dalam perangkap hiperrealitas yang dapat menggiring pada keburukan dan kehancuran moral. Sebaliknya, ia akan menjadi teladan kebaikan yang membawa manfaat bagi masyarakat, baik di dunia nyata maupun maya. Kesadaran identitas diri sebagai seorang Muslim adalah inti dari pembentukan moralitas yang kokoh. Identitas ini tidak hanya mencakup keyakinan pada ajaran Islam, tetapi juga perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, seperti integritas, kejujuran, dan tanggung jawab sosial24. Identitas Muslim yang kuat dapat menjadi tameng untuk menghadapi ilusi dan kepalsuan yang kerap muncul di dunia maya. Hiperrealitas sering kali mendorong seseorang untuk menampilkan versi diri yang tidak autentik demi mendapatkan validasi sosial, seperti menciptakan citra sempurna atau menyebarkan konten tidak benar. Akilah Mahmud. AuKrisis Identitas Di Kalangan Generasi Z Dalam Perspektif Patologi Sosial Pada Era Media SosialAy. Jurnal Ushuluddin, 26. No. 2 (Agustus 2. : 279Ae311. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 6. Nomor 1. Juni 2025 DOI: 10. 21154/maalim. Internalisasi akhlak, khususnya kejujuran, oleh orang tua dapat membantu remaja membangun identitas diri yang kokoh serta mengatasi fragmentasi identitas di tengah Kejujuran mengajarkan remaja untuk menerima diri mereka apa adanya, sehingga tidak tergoda menciptakan persona palsu. Nilai ini juga membantu mereka bersikap bijak dalam membedakan realitas dan ilusi di dunia digital. Selain itu, orang tua sebagai role model kejujuran memberikan teladan nyata yang memperkuat karakter remaja. Dengan kejujuran, remaja lebih siap menghadapi tekanan psikologis dan menjaga keseimbangan antara kehidupan nyata dan maya. SIMPULAN Prophetic parenting dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah yang dihadapi remaja dalam dunia hiperrealitas, seperti distorsi identitas diri, ketergantungan pada validasi eksternal, dan fragmentasi identitas. Pendekatan ini menekankan nilai-nilai fitrah, keimanan, dan internalisasi akhlak sebagai fondasi dalam membangun identitas yang kuat dan autentik. Dengan menanamkan konsep self-acceptance . enerimaan dir. , remaja diajarkan untuk menerima keunikan diri mereka sebagai ciptaan Allah A Ayang sempurna, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh standar sosial yang tidak realistis. Selain itu, penggunaan word of affirmation . ata-kata penguata. secara konsisten dari orang tua, seperti pujian dan motivasi positif, membantu memperkuat mental anak, menggantikan kebutuhan validasi eksternal yang sering kali bersifat sementara. Internalisasi akhlak melalui teladan dan pembiasaan nilai-nilai Islam juga memperkokoh landasan moral mereka, sehingga mampu menjaga konsistensi identitas di dunia nyata dan digital. Dengan demikian, prophetic parenting membantu remaja menemukan validasi dari Allah A Adan melindungi mereka dari fragmentasi diri di era hiperrealitas. Penerapan prophetic parenting dapat berkontribusi pada pengembangan keilmuan dengan menawarkan solusi berbasis nilai-nilai Islam untuk permasalahan modern, seperti krisis identitas di era digital. Pendekatan ini memadukan agama dan psikologi modern, menciptakan model pengasuhan yang relevan dan praktis. Dalam pendidikan Islam, prophetic parenting dapat menjadi dasar untuk kurikulum pembentukan karakter Islami dan memperkuat sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membimbing remaja menghadapi tantangan Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi penerapan konsep ini di berbagai konteks budaya dan sosial, serta mengembangkan alat ukur yang dapat mengidentifikasi efektivitas prophetic parenting dalam membangun identitas diri remaja di era DAFTAR PUSTAKA