Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pencegahan Scabies pada Santri di Pondok Pesantren Aji Darma Pangestu1*. Anwar Arbi2. Riza Septiani3 1,2,3Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh. Indonesia *Email korespondensi: ajidarma156@gmail. Info Artikel Submitted: 28 Apr 2025 Accepted: 12 Mei 2025 Publish Online: Mei 2025 Kata Kunci: Pencegahan Skabies. Pengetahuan, dukungan Keywords: Scabies knowledge, teacher support Abstrak Latar Belakang: Scabies adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei, yang sering ditemukan di lingkungan padat seperti pesantren. Penyakit ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan gangguan kesehatan pada santri jika tidak segera ditangani dengan benar. Perilaku pencegahan scabies di pondok pesantren sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Tujuan: untuk mengetahui faktorfaktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan penyakit skabies pada santri di Pondok Pesantren Darul Ihsan Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar Tahun Metode: penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah santri sebanyak 709 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling dan diperoleh sampel sebanyak 88 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner, selanjutnya dilakukan analisis data menggunakan uji chi-square dengan bantuan aplikasi spss versi 25. 0 Hasil: ada hubungan antara pengetahuan . -value 0,. , dukungan guru pengajian . -value 0,. , dukungan teman sekamar . -value=0,. dengan perilaku pencegahan penyakit skabies pada santri di Pondok Pesantren Darul Ihsan Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar Tahun 2024. Kesimpulan: pengetahuan, dukungan guru serta teman sekamar berhubungan dengan perilaku pencegahan penyakit skabies di kalangan santri. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan pendidikan kesehatan dan kebersihan di pondok pesantren sebagai upaya pencegahan scabies. Abstract Background: Scabies is a skin infection caused by the Sarcoptes scabiei mite, which is often found in crowded environments such as boarding schools. This disease can cause discomfort and health problems in students if not treated properly. Scabies prevention behavior in boarding schools is very important to prevent the spread of this disease. Objective: to determine the factors associated with scabies prevention behavior in students at the Darul Ihsan Islamic Boarding School. Darussalam District. Aceh Besar Regency in 2024. Method: this study is descriptive analytical with a cross-sectional approach. The population is students. The sampling technique used random sampling and a sample of 88 respondents was obtained. Data collection was carried out by interview using a questionnaire, then data analysis was carried out using the chi-square test. Results: There is a relationship between knowledge . -value . , support from religious teachers . -value 0. , support from roommates . -value = 0. and scabies prevention behavior among students at the Darul Ihsan Islamic Boarding School. Darussalam District. Aceh Besar Regency in 2024. Conclusion: Knowledge, teacher support and roommates are associated with scabies prevention behavior among students. Therefore, it is important to improve health and hygiene education in boarding schools as an effort to prevent scabies. PENDAHULUAN Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh ektoparasit carcoptes scabiei yang menginfeksi dan melakukan sensitasi pada tubuh. Sarcoptes scabiei termasuk ke dalam famili sarcoptidae, ordo acari, kelas arachnida. Nama Sarcoptes scabiei berasal dari kata sarx yang berarti kulit dan koptein yang berarti gatal pada kulit sehingga muncul aktivitas menggaruk kulit yang gatal tersebut(Dinata, 2. Penyakit skabies merupakan penyakit kulit dengan insidensi dan prevalensi yang tinggi di seluruh dunia, terutama di daerah beriklim tropis dan subtropic (Itsna, dkk, 2. World Health Organization (WHO) tahun 2022 menyatakan bahwa prevalensi angka kejadian skabies ada sebanyak 130 juta Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 orang didunia (Sarma dkk, 2. Penyakit skabies banyak dijumpai di Indonesia, hal ini disebabkan karena Indonesia merupakan Negara beriklim tropis. Di Indonesia pada tahun 2020 didapatkan jumlah penderita skabies sebesar 2,9%. Jumlah ini mengalami peningkatan pada tahun 2022 yang jumlah penderita skabies diperkirakan sebesar 3,6% dari jumlah penduduk (Kemenkes RI, 2. Dinas Kesehatan Aceh pada tahun 2020 mencatat ada sekitar 6. 523 kasus penyakit kulit sedangkan pada tahun 2021 menurun 320 kasus sedangkan pada tahun 2022 meningkat mencapai 10,57% dengan kasus paling banyak ditemukan pada masyarakat daerah, sedangkan Kabupaten Aceh Besar pada tahun 2022 memiliki prevalensi skabies yaitu mencapai 7,5% (Dinkes Aceh, 2. Pondok pesantren Darul Ihsan merupakan salah satu pesantren yang terletak di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar, pondok pesantren Darul Ihsan memiliki jumlah santri yang cukup padat, sehingga penularan penyakit skabies dikalangan para santri menjadi masalah kesehatan yang paling sering terjadi dan sulit untuk dihilangkan. Di tengah semaraknya kegiatan belajar dan ibadah di pondok pesantren, upaya pencegahan penyakit skabies menjadi perhatian serius bagi para pengasuh dan Skabies, yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei, dapat menyebar dengan cepat di lingkungan yang padat seperti pondok pesantren, di mana interaksi antar individu sangat tinggi. Inisiatif untuk melakukan pencegahan skabies ini meliputi pemahaman mendalam akan karakteristik penyakit tersebut (Djuanda, 2. Para pengasuh dan santri memahami bahwa skabies dapat menimbulkan rasa gatal yang sangat mengganggu dan bahkan dapat menyebabkan infeksi kulit serius jika tidak diobati dengan tepat. Oleh karena itu, pencegahan menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan dan kenyamanan para Selain itu, pentingnya pencegahan skabies juga diperkuat oleh nilai-nilai agama yang diajarkan di pondok pesantren, di mana menjaga kebersihan diri dianggap sebagai bagian penting dari ibadah. Para santri diajarkan untuk menjaga kebersihan tubuh mereka dengan cara yang sesuai dengan ajaran agama islam (Harma, 2. Dalam rangka pencegahan skabies, diimplementasikan di pondok pesantren seperti: penyuluhan tentang gejala dan kebersihan diri yang baik, mencuci tangan secara teratur dan mandi dengan bersih, serta pembersihan dan disinfeksi ruangan- ruangan yang sering digunakan oleh para santri. Dengan demikian, perilaku pencegahan skabies di pondok pesantren tidak hanya didasarkan pada kebutuhan medis semata, tetapi juga diperkaya oleh nilai-nilai agama dan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari di lingkungan pendidikan dan ibadah tersebut (Widuri, 2. Berdasarkan didapatkan oleh peneliti dari Poskestren Darul Ihsan Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar, santri yang berobat ke Poskestren Darul Ihsan dengan penyakit skabies pada tahun 2019 mencapai 106 orang tahun 2021 turun menjadi 53 orang, tahun 2022 meningkat menjadi 147 orang (Darul Ihsan, 2. Dari hasil wawancara sementara yang dilakukan pada bulan Mei tahun 2023 kepada 10 santri di Pondok Pesantren Darul Ihsan, diperoleh hasil bahwa pengetahuan mereka masih kurang baik tentang cara Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 pencegahan skabies, sikap ataupun perilaku terhadap pencegahan skabies juga belum dilakukan, dan 7 dari 10 santri juga sering bergantian pakaian atau alat sholat dengan teman, tempat tidur yang berhimpitan, handuk dan selimut yang sering dipakai secara bersamaan, selain itu juga masih ditemukan santri yang menjemur handuk di dalam kamar tidurnya. Dari hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya diketahui bahwa santri di Aceh Besar memiliki pengalaman skabies lebih besar . ,9%) dibandingkan santri Banda Aceh . ,6%). Pada praktik personal hygiene diketahui lebih dari 85% santri memiliki kebiasaan saling bertukar handuk yang menjadi faktor penyebab terjadinya skabies (Rahmatyawati dkk, 2. Sejalan dengan penelitian bahwa ada hubungan antara sikap terhadap perilaku pencegahan skabies . =0,. , disimpulkan sikap menjadi penyebab perilaku pencegahan skabies pada (Samino dkk, 2. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan penyakit scabies pada santri di Pondok Pesantren Darul Ihsan Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar Tahun METODE Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif ataupun pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh santri MTS & MA Putra di Pondok Pesantren Darul Ihsan Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar berjumlah 709 orang, dengan menggunakan rumus slogan maka diperoleh sampel dari penelitian ini menggunakan teknik random sampling. Kriteria sampel adalah responden jenis kelamin laki-laki, berusia remaja dan bersedia menjadi responden. Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Darul Ihsan Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar pada tanggal 24 Ae 28 Juli Tahun 2024. Analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis dengan menentukan hubungan variabel bebas dan variabel terikat melalui uji statistik Chi-square dengan aplikasi spss versi 25. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Karakterisitik Responden Variabel 1 Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan 2 Pendidikan MTS 3 Jumlah Teman Sekamar Sangat Padat Tidak Padat 4 Perilaku Pencegahan Skabies Kurang Baik Baik 5 Pengetahuan Baik Kurang Baik 6 Dukungan guru Mendukung Kurang Mendukung 7 Dukungan teman Mendukung Kurang Mendukung Tabel 1 menunjukkan bahwa proporsi responden dengan persentase tertinggi yaitu jenis kelamin laki-laki sebayak 100%, proporsi responden dengan MTS sebanyak 52,3%, proporsi responden dengan kepadatan kamar sangat padat sebanyak 100%, proporsi perilaku pencegahan skabies baik sebesar 56,8%, proporsi pengetahuan Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 baik sebesar 60,2%, proporsi dukungan guru kurang mendukung sebesar 55,7%, proporsi dukungan teman kurang mendukung sebesar 51,1%. Tabel 2. Hubungan Pengetahuan, dukungan Guru dan Teman Sekamar dengan Pencegahan Scabies Perilaku Pencegahan Total P value Skabies Variabel 1 Pengetahuan Baik 15 42,9 0,032 Kurang Baik 35 66,0 2 Dukungan guru Mendukung 33 43,6 0,025 Kurang Mendukung 17 67,3 3 Dukungan teman Mendukung 14 31,1 0,000 Kurang Mendukung 36 83,7 Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa proporsi responden yang memiliki perilaku pencegahan skabies kurang baik dengan pengetahuan kurang baik sebesar 57,1%, sedangkan proporsi responden yang memiliki perilaku pencegahan skabies baik dengan pengetahuan baik sebesar 66,0%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value 0,032, artinya ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan perilaku pencegahan skabies pada santri di Pondok Pesantren Darul Ihsan Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar Tahun 2024. Santri yang memiliki pengetahuan lebih baik tentang scabies cenderung lebih peduli terhadap kebersihan diri dan lingkungan, serta mengikuti prosedur pencegahan yang telah dijelaskan oleh pihak pesantren atau tenaga medis. Pengetahuan tentang cara-cara pencegahan seperti mencuci tangan secara teratur, menjaga kebersihan pakaian dan tempat tidur, serta menghindari kontak langsung dengan penderita scabies menjadi landasan dalam Pengetahuan kesadaran santri tentang pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar sebagai langkah utama pencegahan. (Notoatmodjo. Namun, meskipun pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting, tidak semua santri yang memiliki pengetahuan yang baik tentang scabies selalu menunjukkan perilaku pencegahan yang sesuai. Hal ini bisa dipengaruhi oleh faktor lain seperti kebiasaan yang telah terbentuk sebelumnya, pengaruh lingkungan, atau kurangnya keterampilan praktis dalam menerapkan pengetahuan Oleh karena itu, pengetahuan yang baik harus diimbangi dengan pembentukan sikap yang positif serta motivasi untuk melakukan tindakan pencegahan yang sesuai. (Hulu, 2. Hal tersebut juga didukung hasil penelitian menunjukan engetahuan yang baik tentang scabies dapat meningkatkan perilaku pencegahan di kalangan siswa. Siswa yang memiliki pengetahuan lebih mendalam mengenai cara penularan dan pencegahan Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 scabies cenderung lebih menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta lebih berhati-hati dalam melakukan kontak fisik dengan temanteman mereka. Penelitian ini menyarankan pentingnya pendidikan kesehatan untuk meningkatkan kesadaran dan tindakan pencegahan (Holida, 2. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Harma . di daerah pedesaan, ditemukan bahwa terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan masyarakat tentang scabies dan perilaku pencegahan mereka. Penelitian ini mengungkapkan bahwa masyarakat yang mendapat pelatihan tentang cara-cara pencegahan scabies seperti penggunaan sabun antiseptik dan pencucian mengadopsi tindakan pencegahan yang tepat. Hasil penelitian ini memperkuat temuan bahwa pengetahuan berperan penting dalam mengubah perilaku kesehatan (Harma, 2. Menurut penelitian tentang kejadian skabies di pesantren tradisional yang terletak di desa dan pesantren modern yang terletak di kota yang menyebutkan bahwa pada pesantren tradisional yang terletak di desa terdapat sebanyak 72,7% santri mengalami 26,3% berpengetahuan rendah dan lebih dari 50% santri memiliki kebiasaan bertukar pakaian dan handuk serta saling tidur berhimpitan, sedangkan pada pesantren modern yang terletak di kota didapatkan hanya 11,1% santri mengalami skabies, 7,4% santri berpengetahuan rendah dan kurang dari 11% santri memiliki kebiasaan bertukar handuk dan pakaian (Yusuf, 2. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan tentang scabies di kalangan santri akan berkontribusi pada peningkatan perilaku pencegahan scabies di pondok Oleh karena itu, perlu adanya program pendidikan kesehatan yang lebih intensif, terutama yang menyasar pengajaran tentang cara-cara pencegahan penyakit kulit ini secara praktis dan aplikatif. (Hakim, 2. Pentingnya pengetahuan ini juga menunjukkan bahwa selain pendidikan formal, pembinaan secara terus-menerus melalui pelatihan atau sosialisasi kesehatan di Pembinaan yang konsisten dan berbasis pada kebutuhan santri akan meningkatkan memberikan dampak yang signifikan terhadap kesehatan santri di masa depan. (Permata dkk, 2. Tabel 2 menunjukkan bahwa proporsi responden yang memiliki perilaku pencegahan skabies kurang baik dengan dukungan guru kurang mendukung sebesar 56,4%, sedangkan proporsi responden yang memiliki perilaku pencegahan skabies baik dengan dukungan guru mendukung sebesar 67,3%. Hasil uji statistik diperoleh nilai pvalue 0,025, artinya ada hubungan yang bermakna antara dukungan guru dengan perilaku pencegahan skabies pada santri di Pondok Pesantren Darul Ihsan Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar Tahun Petugas kesehatan setempat serta pengurus pondok pesantren juga tidak memberikan informasi yang cukup mengenai pencegahan penularan penyakit kulit skabies. Informasi yang didapat santriwati hanya setengah-setengah dan malah menyesatkan. Dengan demikian pemberian informasi tentang penyakit kulit skabies sangat penting pada santriwati, karena informasi yang kurang akan membuat penularan penyakit skabies menjadi lebih besar ditabah lagi mereka tinggal satu atap dengan banyak santriwati lain yang menjadikan penyebaran Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 penyakit skabies semakin mudah(Zaidin. Peran mewujudkan kesadaran dalam menerapkan personal hygiene dalam upaya pencegahan penularan skabies pada santri dapat dilakukan dengan memberikan informasi tentang pentingnya mandi dengan air bersih, mengingatkan mengganti sprei, menyediakan salep gatal, memberi materi tentang personal hygiene dan memberikan sanksi pada santri yang tidak menerapkan personal (Naftassa & Putri, 2. Hal lain yang seharusnya dilakukan oleh seorang ustadz di pondok pesantren adalah sebagai panutan bagi para santri sehingga tidak hanya bisa mengarahkan tetapi juga bisa mempraktekkan atau memberi contoh yang baik kepada santri. Peran guru pengajian dalam penelitian ini adalah bagaimana keterlibatan ustadz dalam melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik atau dalam hal ini adalah santri di pondok pesantren dalam hal upaya pencegahan penularan penyakit skabies (Wulandari dkk, 2. Peran sekolah . juga berperan penting dengan peran orang tua, karena sekolah . sebagai orang tua kedua selama anak berada diluar rumah, guru berperan penting untuk mengajarkan kebersihan, seperti guru yang bekerja sama dengan UKS sekolah dalam mengajarkan PHBS contohnya yaitu mengajarkan cara mencuci tangan dengan benar menggunakan sabun, pemeriksaan kuku, gigi, dan lain nya. Dengan adanya pemeriksaan oleh UKS pada anak, anak akan terpacu untuk melakukan PHBS dan personal hygiene dengan mandiri (Saputra dkk, 2. Tabel 2 menunjukkan bahwa proporsi responden yang memiliki perilaku pencegahan skabies kurang baik dengan teman kurang mendukung sebesar 68,9%, sedangkan proporsi responden yang memiliki perilaku pencegahan skabies kurang baik dengan teman mendukung hanya 16,3%. Sebaliknya proporsi responden yang memiliki perilaku pencegahan skabies baik dengan teman mendukung sebesar 83,7%, sedangkan proporsi responden yang memiliki perilaku pencegahan skabies baik dengan teman kurang mendukung hanya 31,1%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value 0,000, artinya hipotesis (H. diterima mengindikasikan ada hubungan yang bermakna antara dukungan teman dengan perilaku pencegahan skabies pada santri di Pondok Pesantren Darul Ihsan Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar Tahun 2024. Dukungan sosial yang bersumber dari teman sebaya dapat memberikan informasi terkait dengan hal apa yang harus dilakukan seseorang dalam upaya membentuk identitas dirinya, selain itu dapat pula memberikan timbal balik atas apa yang mereka lakukan dalam kelompok dan lingkungan sosialnya serta memberikan kesempatan bagi orang tersebut untuk menguji coba berbagai macam peran dalam menyelesaikan krisis guna membentuk identitas diri yang optimal (Kustantie & Rachmawati, 2. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya diketahui bahwa santri yang tidur bersamasama dan berhimpitan dengan teman dalam satu kamar mempunyai peluang risiko lebih besar 21,3 kali lipat terkena Scabies dibandingkan dengan santri yang tidak tidur bersama-sama dan berhimpitan dengan teman dalam satu kamar. Pondok Pesantren Nurul Hikmah tidak menyediakan tempat tidur, jadi santri tidur dengan menggunakan alas, hal tersebut dilakukanbersama-sama dengan teman satu kamar, setiap kamar ditempati oleh 5 orang santri. Santri dengan Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 4 No. 2 Mei 2025 perilaku tidur bersama-sama dan berhimpitan lebih berisiko terkena Scabies dari pada perilaku santri yang tidak tidur bersama dan berhimpitan (Widuri dkk, 2. Hasil ini sejalan dengan penelitian tentang dukungan teman sebaya baik 79 responden dengan persentase 89,8% dan yang tidak baik yaitu 9 responden dengan persentasi 10,2%. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value > 0,05 . value 0,. , maka tidak terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan teman sebaya dengan riwayat terjadinya skabies di Dayah Insan QurAoani Aceh Besar (Zuheri, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan, dukungan guru, dukungan teman sekamar perilaku pencegahan skabies pada santri di Pondok Pesantren Darul Ihsan Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar Tahun Diharapkan Sekolah atau pesantren sebaiknya mengadakan program edukasi kesehatan yang rutin mengenai penyakit Guru dapat berperan sebagai fasilitator yang memberikan informasi dan dukungan moral kepada santri. Penelitian selanjutnya dapat mencakup variabel tambahan yang mungkin memengaruhi perilaku pencegahan scabies, seperti faktor sosial-ekonomi, dukungan keluarga, atau tingkat kebersihan lingkungan pondok Penelitian yang lebih holistik akan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan scabies. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengucapkan terima kasih kepada pimpinan Pondok Pesantren Darul Ihsan Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar yang telah mengizinkan untuk melakukan penelitian dan terima kasih kepada santri yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA