Journal of Divinity. PeaceStudies and Conflict Studies Journal of Divinity. Peace and Conflict Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. Submitted: 31 Januari 2025 Accepted: 6 Februari 2026 Published: 6 Maret 2026 Kapital Simbolik dalam Pertaruhan Kehormatan (Honor-Sham. Tubuh Titus dan Negosiasi Patronase Paulus dengan Elit Yerusalem dalam Galatia 2:1-10 Yumitri Angelique Rambu L. Bana Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta 01230409@students. DOI: 10. 21460/aradha. Abstract This article analyzes the dynamics of symbolic capital, honor-shame, and patronage in Galatians 2:1-10. Employing socio rhetorical interpretation as the primary methodological approach, the study integrates Pierre BourdieuAos theory of symbolic capital with the socio-cultural framework of honor shame and the patron-client system in the first century Mediterranean world. argues that PaulAos refusal to circumcise Titus constitutes a strategy of symbolic negotiation that dismantles the religious hegemony of the Jerusalem elite. Through an analysis of inner texture, intertexture, social cultural texture, and ideological texture, the body of Titus is shown to function not merely as a narrative detail but as a site of symbolic contestation, a medium through which Paul subverts the established structure of honor and redefines religious legitimacy on the basis of divine revelation and grace rather than law and ritual. This study concludes that PaulAos rhetorical strategy in Galatians 2:1-10 effects an epistemological shift in the formation of the early Christian community, relocating the center of honor from ethnic and ritual purity to an inclusive mission and ethical solidarity. Keywords: symbolic capital, honorAcshame, patronage, socioAcrhetorical interpretation. Galatians 2:1Ae10. Paul. Titus. Abstrak Artikel ini menganalisis dinamika kapital simbolik, kehormatan-rasa malu . onor-sham. , dan patronase dalam Galatia 2:1-10. Dengan menggunakan metode tafsir sosio-retorika sebagai Kapital Simbolik dalam Pertaruhan Kehormatan (Honor-Sham. : Tubuh Titus dan Negosiasi Patronase Paulus dengan Elit Yerusalem dalam Galatia 2:1-10 Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. pendekatan utama, penulis mengintegrasikan teori kapital simbolik Pierre Bourdieu dengan kerangka sosio-kultural honor-shame dan sistem patron-klien dalam dunia Mediterania abad Tulisan ini berargumen bahwa penolakan Paulus untuk menyunat Titus merupakan sebuah strategi negosiasi simbolik yang membongkar hegemoni religius elite Yerusalem. Melalui analisis innertexture, intertexture, social-cultural texture, dan ideological texture, tubuh Titus tidak sekadar hadir sebagai detail naratif, melainkan sebagai arena pertarungan kapital simbolik, yakni sebuah medium yang dipakai Paulus untuk membalik struktur kehormatan lama dan mendefinisikan ulang legitimasi berdasarkan pewahyuan ilahi dan anugerah, bukan hukum dan ritus. Tulisan ini mencoba menyimpulkan bahwa strategi retoris Paulus dalam Galatia 2:1-10 melakukan pergeseran epistemologis dalam pembentukan komunitas Kristen awal, menggeser pusat kehormatan dari kemurnian etnis dan ritual kepada misi inklusif dan solidaritas etis. Kata-kata kunci: kapital simbolik, honor-shame, patronase, tafsir sosio-retorika. Galatia 2:1-10. Paulus. Titus. Pendahuluan Pada tradisi dunia Mediterania abad pertama, kehormatan tidak diwariskan secara merata, melainkan diperebutkan dalam arena simbolik yang penuh stratifikasi. Dalam masyarakat patron-klien seperti itu, tubuh manusiaAiterutama tubuh laki-laki YahudiAimenjadi kanvas sosial tempat berbagai tanda identitas, loyalitas, dan legitimasi dituliskan, termasuk melalui praktik sunat. Meninjau hal tersebut, penulis melihat di sinilah perjumpaan Paulus dan Titus dengan Aumereka yang dianggap terpandangAy di Yerusalem (Gal. 2:2, . bukan sekadar peristiwa teologis, melainkan juga drama politik kehormatan, di mana tubuh Titus menjadi arena pertaruhan kapital simbolik (Horsley, 2000: 52Ae. Sunat, dalam konteks Yahudi kala itu, bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan lambang hegemonik dari kapital simbolik religius yang dimonopoli oleh elite Yerusalem. Sebaliknya, penolakan Paulus untuk menyunat Titus (Gal. 2:3-. menunjukkan strategi radikal untuk menggeser pusat otoritas spiritual dari hukum kepada anugerah, dari Yerusalem kepada pewahyuan. Dengan tubuh Titus sebagai simbol resistensi. Paulus menegosiasikan ulang patronase apostolik, membangun semacam contra-network yang tidak bersandar pada legitimasi hukum Yahudi, melainkan pada kapital alternatif, otoritas wahyu dan misi kepada bangsa-bangsa (Fredriksen, 2017: 112Ae. Dalam penelitian teks Galatia 2:1-10, penulis menggunakan metode tafsir SosioRetorika sebagai pendekatan utama. Metode ini merupakan integrasi antara tafsir sosial dan tafsir retorika, yang dikembangkan dari metode historis-kritis konvensional dalam studi Alkitab. Yumitri Angelique Rambu L. Bana Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Kritik Sosio-Retorika berangkat dari kesadaran bahwa teks tidak dapat dipisahkan dari dimensi sosialnya, termasuk konteks penulisan, audiens target, serta interrelasinya dengan sistem sosial-budaya masyarakat kuno (Elliot, 1993: . Dengan demikian, pemaknaan teks Galatia 2:1-10 dilakukan dengan menempatkannya dalam konteks sosial abad pertama, khususnya diperkaya dengan pendekatan budaya Honor-Shame dan sistem Patronase sebagai kerangka Secara keseluruhan. Metode pembahasan ini mengintegrasikan tiga dimensi. Pertama. Tafsir Sosio-Retorika . ebagai dasa. , lalu analisis Honor-Shame . emulihan kehormatan/ hinaa. , dan dinamika patronase . elasi patron-klien dalam pertukaran sosia. Bagi penulis, meskipun tema kehormatan dan kapital simbolik tidak muncul secara eksplisit dalam teks Galatia 2:1-10, pembahasan ini berangkat dari anggapan bahwa pendekatan tafsir sosio-retorik justru memungkinkan pembacaan pada tingkat tekstur sosial, ideologis, dan retoris untuk mengangkat konflik makna yang tersembunyi dalam wacana Paulus. Seperti disampaikan Vernon K. Robbins, teks bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk arena negosiasi nilai di dalam dan antar dunia sosial pembacanya (Robbins, 1996: 2Ae. Dengan demikian, penulis mencoba menilik tema kapital simbolik dan kehormatan dalam tubuh Titus yang dipahami sebagai makna implisit yang muncul melalui interaksi tekstur sosial dan strategi retoris Paulus (Robbins. 1996:58-. Pembahasan ini secara khusus juga menggunakan lensa pendekatan honor-shame dan sistem patronase dalam dunia Mediterania kuno sebagai perangkat pembacaan kunci. Untuk membaca dinamika ini, tulisan ini juga menggunakan pendekatan honor-shame dan patronase, dua sistem sosial utama yang membentuk cara hidup dan komunikasi masyarakat Mediterania kuno. Dalam sistem honorshame, identitas dan legitimasi seseorang tergantung pada pengakuan publik dan rasa malu yang dihindari. Sedangkan dalam patronase, relasi sosial diatur oleh jaringan timbal-balik antara patron . enyedia dukunga. dan klien . enerima jas. , yang saling memperkuat posisi kehormatan masing-masing. Paulus memainkan ulang struktur ini secara subversif dengan menempatkan Kristus sebagai patron utama dan tubuh Titus sebagai medan pembalikan kehormatan . eSilva, 2000: 23Ae. Dalam konteks ini, pendekatan tafsir sosio-retorik menjadi kunci untuk membongkar dinamika tekstual dan sosial dalam Galatia 2:1Ae10. Melalui lima tekstur yang dikembangkan RobbinsAiinner texture, intertexture-, social-cultural texture, ideological texture dan sacred textureAikita dapat memahami bagaimana Paulus membangun narasi, menyisipkan strategi, serta menciptakan konversi makna melalui tubuh muridnya sendiri (Robbins. 1996:58-. Penekanannya pada aspek cultural texture, social texture, dan ideological texture, karena inilah ladang konflik dalam perikop ini. Tafsir ini dipertajam oleh teori Aukapital simbolikAy . esuai judul yang diangka. Pierre Bourdieu, di mana kehormatan, status, dan otoritas religius dilihat sebagai hasil dari pertarungan sosial atas makna yang sah untuk diklaim dan dipertukarkan (Bourdieu. Kapital Simbolik dalam Pertaruhan Kehormatan (Honor-Sham. : Tubuh Titus dan Negosiasi Patronase Paulus dengan Elit Yerusalem dalam Galatia 2:1-10 Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. 1991: 113Ae. Jadi tubuh Titus di sini menjadi kapital simbolikAikarena ia non yahudi yang tidak sunatAiyang dipertaruhkan dalam menjalani misi pewahyuan Paulus. Barnabas dan Titus. Maka yang menjadi pertanyaanAibagaimana tubuh Titus digunakan Paulus sebagai alat negosiasi kapital simbolik dan patronase dalam komunitas mula-mula? Apa strategi retoris yang dipakai untuk membalik struktur kehormatan dari elite Yerusalem? Dan bagaimana teks ini mengungkap revolusi epistemologis dalam pemaknaan kehormatan di dalam Kristus? Selayang Pandang Teori Kapital Simbolik dan Patronase Dalam konteks Mediterania abad pertama, kehormatan bukan sekadar nilai moral internal, melainkan modal sosial eksternal yang bersifat kompetitif, publik, dan harus diakui secara Dalam kerangka teori Pierre Bourdieu, kehormatan ini merupakan bentuk kapital simbolikAiAumata uang kehormatanAy yang menentukan posisi seseorang dalam medan Seperti halnya kapital ekonomi atau kultural, kapital simbolik hanya berfungsi ketika diakui oleh kelompok sosial tertentu, dan sering kali ditanamkan secara inkarnatif melalui tubuh, gestur, dan status ritual seseorang (Bourdieu, 1991: 118-. Tubuh, dalam hal ini, menjadi habitusAiyakni medan inkarnasi nilai-nilai simbolik yang diwariskan, dijalani, dan dipertarungkan (Bourdieu, 1977: 72Ae. Lalu, secara sederhana. Honor-shame diartikan sebagai cara masyarakat menentukan siapa yang pantas dihormati atau dipermalukan. Dalam konsep honor-shame, identitas dan legitimasi seseorang tergantung pada pengakuan publik dan rasa malu yang dihindari . eSilva, 2000: 23Ae. Dalam dunia Paulus, sistem patron-klien adalah struktur sosial dominan yang membentuk relasi kuasa dan distribusi kehormatan. Patronase bukan hanya soal bantuan material, tetapi merupakan jaringan kuasa yang menghubungkan otoritas, loyalitas, dan klaim identitas . eSilva, 2000: 23-. Sederhananya. Patron-klien adalah sistem sosial pertukaran bantuan dan loyalitas antara orang yang lebih kuat . dan yang lebih lemah . Paulus sendiri bukan menolak sistem ini secara total, melainkan menegosiasikannya ulangAi karena pandangan saat itu bahwa para pemimpin atau elit Yerusalem adalah patron dalam jaringan kerasulanAidengan menjadikan Kristus sebagai patron tertinggi, dan komunitas murid sebagai penerima AukaruniaAy anugerah melalui relasi timbal balik berbasis iman, bukan hukum. Dalam kasus Titus, tubuh yang tidak disunat menjadi simbol dari pergeseran patronase dan negosiasi ulang kapital simbolik religius yang semula dimonopoli oleh Yerusalem. Dengan demikian, pendekatan teori ini membantu melihat bahwa keputusan untuk tidak menyunat Titus bukan hanya teologis, tetapi merupakan strategi simbolik dan retoris untuk menata ulang sistem kehormatan, distribusi otoritas, dan jaringan sosial dalam komunitas awal Kristen. Yumitri Angelique Rambu L. Bana Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Tafsir Sosio-Retorika Galatia 2:1-10 Menggunakan Pendekatan Honor-shame dan Patronase Innertexture Penafsiran Sosio-Retorik tidak lepas dari tekstur-tekstur yang menyokongnya, salah satunya innertexture yakni melihat konteks teks dari dalams teks itu sendiri. Menurut Robbins dalam buku Exploring the Texture of Texts: A Guide to Socio-Rhetorical Interpretation, inner texture merujuk pada analisis struktur internal teks itu sendiri, khususnya pola linguistik dan retoris yang membentuk makna. Robbins mendefinisikan bahwa AuInner texture is Authe texture of the medium of communicationAy yang berfokus pada kata-kata sebagai alat komunikasi, sebelum menganalisis AomaknaAo yang lebih dalam. Analisis ini mengeksplorasi cara teks menggunakan kata, frasa, suara, dan pola untuk membangun koherensi dan efek retoris (Robbins, 1996: . Dalam analisis tekstur batin . nner textur. Robbins membaginya ke dalam enam jenis Pertama, repetitive texture and pattern menyoroti pengulangan kata atau frasa untuk mengungkap tema atau makna tertentu. Kedua, progressive texture and pattern yang memperhatikan perkembangan ide atau gagasan dalam alur teks. Ketiga, narrational texture and pattern mencermati dinamika naratif, termasuk transisi antar bagian dan ucapan tokoh. Keempat, opening-middle-closing texture and patternAimengkaji struktur naratif berdasarkan pembuka, bagian tengah, dan penutup. Kelima, argumentative texture and pattern, menelaah struktur logis atau argumen yang terbangun dalam teks. Terakhir, sensory-aesthetic texture and patternAimengevaluasi aspek indrawi dan estetika yang membentuk pengalaman pembaca terhadap teks. (Robins, 1996: 8-. Maka dalam penafsiran Sosio-Retorik pada Galatia 2:1-10 bagian tekstur batin ini menggunakan beberapa pendekatan yang relevan dari keenamnya. Repetitive and Progressive Texture Robbins menyebut bahwa pengulangan kata atau gagasan . dalam teks dapat memperkuat pusat perhatian narasi dan memberi tekanan retoris tertentu. Dalam tafsir sosioretorik terhadap Galatia 2:1-10, dua pola tekstur batin yang menonjol adalah repetitive texture dan progressive texture. Robbins menegaskan bahwa pengulangan kata atau frasa dalam suatu teks bukan hanya memperkuat memori pembaca, tetapi juga menandai pusat konflik ideologis dan kepentingan sosial yang sedang dipertaruhkan (Robbins, 1996: 8-. Dalam perikop ini, terdapat beberapa pola pengulangan signifikan yang memperlihatkan intensitas konflik antara legitimasi hukum Yahudi dan pewahyuan Injil yang dibawa Paulus. Salah satu kata yang paling strategis adalah AuTitusAy . yat 1, . , yang bukan hanya merujuk pada nama seseorang, tetapi juga merepresentasikan tubuh simbolikAisebuah medium yang menyimpan muatan politik kehormatan dan identitas dipertaruhkan. Tubuh Titus yang tidak disunat menjadi semacam Kapital Simbolik dalam Pertaruhan Kehormatan (Honor-Sham. : Tubuh Titus dan Negosiasi Patronase Paulus dengan Elit Yerusalem dalam Galatia 2:1-10 Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. Autanda oposisiAy terhadap simbol-simbol kehormatan legalistik yang diklaim oleh para elite Yerusalem. Dalam hal ini. Titus bukan hanya sekadar tokoh dalam narasi, tetapi tubuhnya digunakan oleh Paulus sebagai alat retoris dan simbolik untuk membuktikan bahwa seseorang tidak perlu disunat untuk diterima dalam komunitas iman. Selain itu, pengulangan istilah AusunatAy dan Autidak bersunatAy . yat 3, 7-. menjadi sangat penting karena merepresentasikan batas identitas simbolik yang sedang dinegosiasikan ulang oleh Paulus. Sunat bukan lagi sekadar ritual religius, melainkan sebuah kapital simbolik yang dipakai untuk menentukan siapa yang berhak menjadi bagian dari umat perjanjian (Bourdieu, 1991: 113-. Dalam teks ini, keputusan untuk Titus tidak disunat bukan hanya keputusan praktis, tetapi bentuk resistensi terhadap tekanan simbolik dari kelompok yang disebut sebagai Ausaudara-saudara palsuAy . Paulus juga mengulang frasa Auyang dianggap terpandangAy . yat 2, . , yang dalam struktur naratifnya digunakan secara ironis. Meskipun para pemimpin Yerusalem diakui oleh masyarakat sebagai otoritas religius. Paulus secara retoris mengosongkan makna sosial dari gelar tersebut dengan mengatakan bahwa Aukedudukan mereka dahulu tidak ada artinya bagikuAy . Dengan demikian, repetisi di dalam teks ini merupakan strategi dekonstruktif terhadap legitimasi simbolik yang mapanAidan membuka ruang bagi pembentukan kapital simbolik baru yang bersumber pada Injil dan pewahyuan, bukan pada struktur keagamaan yang hirarkis (Robbins, 1996: . Selanjutnya, jika ditelusuri dari sisi progressive texture, teks Galatia 2:1-10 membentuk alur perkembangan yang intens dimulai dari peristiwa perjalanan ke Yerusalem atas dasar pewahyuan . yat 1-. , menuju konflik teologis dan sosial seputar sunat . yat 3-. , hingga pada akhirnya menghasilkan bentuk pengakuan mutual yang bersifat simbolik . yat 6-. , dan ditutup dengan komitmen etis dalam pelayanan . Pola ini mengikuti struktur naratif klasikAi eksposisiAekonflikAelegitimasi ulangAerekonsiliasi strategis (Robins, 1996: 13-. Tahap pertama . yat 1-. menekankan otoritas pewahyuan yang menjadi dasar misi Paulus, bukan instruksi dari manusia. Lalu konflik mencapai puncaknya pada keputusan untuk tidak menyunat Titus . , sebagai tanda bahwa Injil tidak tunduk pada syarat-syarat simbolik legalistik. Ayat 4-5 memperkuat ketegangan dengan menyebut infiltrasi Ausaudara-saudara palsu,Ay yang mencoba menyusupkan perbudakan melalui hukum. Dalam hal ini. Paulus sedang mengatakan bahwa ada kelompok tertentu yang masuk ke dalam komunitas secara tersembunyi untuk mengintai kebebasan dalam Kristus, dan membawa kembali orang-orang ke dalam perbudakan hukum. Pada bagian tengah teks . yat 6-. , terjadi transformasi retoris ketika para pemimpin Yerusalem tidak Aumenambahkan apa-apaAy kepada Paulus, melainkan justru mengakui pelayanannya kepada bangsa-bangsa lain. Pengakuan ini dilambangkan dengan Aumengulurkan tangan persekutuanAyAisebuah simbol patronase baru yang didasarkan bukan pada etnis atau Yumitri Angelique Rambu L. Bana Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies ritual, melainkan pada misi. Akhirnya, ayat 10 ditutup dengan pengingat etis untuk mengingat orang-orang miskinAibukan sebagai syarat masuk komunitas, tetapi sebagai ekspresi konkret dari Injil yang inklusif dan etis. Progresi naratif ini, menurut Robbins, tidak netral, tetapi dimuat dengan agenda ideologis untuk menggeser struktur legitimasi dan distribusi kehormatan dari pusat Yerusalem ke pinggiran bangsa-bangsa (Robbins, 1996: . Maka, tubuh Titus dalam perikop ini bukan hanya hadir sebagai tokoh pendamping, melainkan sebagai situs konflik simbolik, tempat patronase lama diuji dan patronase baruAiberbasis wahyu dan misiAi Maka, tubuh Titus sangat penting untuk memaknai pergeseran honor-shame dan patronase yang pada akhirnya mendapatkan pengakuan dalam Aukapital simbolikAy . Narrational Texture and Pattern Dalam Galatia 2:1-10. Paulus tidak hanya sedang berceritaAiia sedang membangun kredibilitas kerasulannya lewat strategi naratif yang sangat sadar diri. Teks ini adalah narasi otobiografis . arasi pribad. , disusun dari sudut pandang personal yang dikalibrasi . irancang secara cerma. untuk menyampaikan otoritas, membongkar legitimasi lawan, dan membangun aliansi teologis yang baru. Robbins menyebut dimensi ini sebagai narrational textureAiyakni struktur penceritaan, pemilihan tokoh, waktu, dan penyampaian narasi yang memengaruhi cara pembaca memahami pesan dan posisi si penulis (Robbins, 1996: 16-. Paulus memulai dengan penanda waktu yang spesifik namun tidak biasa: Auempat belas tahun kemudianAy . yat Hal ini bukan sekadar kronologi, namun ini adalah cara untuk menekankan bahwa ia tidak tergantung pada Yerusalem sejak awal. Narasi ini tidak muncul dalam bentuk laporan datar, tetapi sebagai bentuk Aupengakuan berstrategiAyAidi mana setiap rincian, dari siapa yang ikut (Titu. hingga kepada siapa ia berbicara (Aumereka yang terpandangA. , dipilih untuk membentuk posisi simbolik yang tegas (Robbins, 1996: . Tokoh-tokoh dalam narasi ini juga dipilih secara retoris, pertama. Paulus sendiri tampil sebagai subjek aktif, pengambil inisiatif, dan penerima wahyuAibukan sebagai murid yang tunduk. Lalu. Titus hadir bukan untuk bicara, tapi sebagai tubuh yang menjadi simbol. kemudian ada AuMereka yang terpandangAy tidak disebut namanya . uga termasuk Yakobus. Kefas dan Yohane. , tapi diberi gelar yang bernuansa ironisAimenandakan pengakuan publik yang Paulus dekonstruksi. Lalu AuSaudara-saudara palsuAy adalah tokoh antagonis, disebut bukan untuk berdialog, melainkan sebagai ancaman yang harus dilawan demi Injil. Dengan menyusun narasi seperti ini. Paulus sedang memanipulasi alur untuk menunjukkan bahwa otoritas kerasulannya berasal dari Allah, bukan manusia . Gal. Bahkan ketika ia Aunaik ke Yerusalem,Ay ia tekankan bahwa ia pergi bukan karena dipanggil manusia, melainkan Auberdasarkan pewahyuanAy . Aisebuah detail yang mengubah Kapital Simbolik dalam Pertaruhan Kehormatan (Honor-Sham. : Tubuh Titus dan Negosiasi Patronase Paulus dengan Elit Yerusalem dalam Galatia 2:1-10 Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. seluruh arah relasi kuasa dalam cerita (Robins, 1996: 19-. Fungsi dari narrational texture di sini adalah untuk menggiring pembaca pada kesimpulan bahwa Paulus bukan sekadar setara dengan para rasul Yerusalem, tapi juga punya dasar kerasulan yang lebih otentik karena bersumber langsung dari pewahyuan ilahi. Dengan narasi ini, ia membentuk semacam countermemoir terhadap narasi resmi Yerusalem, dan sekaligus mengatur ulang peta patronase kerasulanAidari yang berpusat pada struktur keagamaan, menjadi yang berakar pada Injil dan panggilan misioner. Opening-Middle-Closing Texture Struktur naratif Galatia 2:1-10 dapat dibaca melalui pola pembukaAetengahAepenutup, sebagaimana dijelaskan oleh Robbins dalam kerangka opening-middle-closing texture (Robins, 1996: 18-. Pola ini membantu mengidentifikasi alur dan penekanan retoris dari narasi Paulus, meskipun bukan elemen utama dalam retorika perikop ini. Bagian pembuka . yat 1-. dimulai dengan narasi perjalanan ke Yerusalem, tetapi segera ditegaskan bahwa itu dilakukan Auberdasarkan pewahyuanAyAisebuah cara awal Paulus menegaskan otoritas kerasulannya yang berasal dari atas, bukan dari otoritas manusia. Lalu bagian middle . yat 3-. menampilkan konflik intens, yakni tekanan untuk menyunat Titus, infiltrasi Ausaudara-saudara palsu,Ay dan pertarungan untuk mempertahankan kebebasan Injil. Di sini, pusat tensi teologis dan simbolik mencapai puncaknya. Pada closing . yat 6-. menunjukkan perubahan nadaAipengakuan dari para pemimpin Yerusalem, penguluran tangan persekutuan, dan penekanan pada tanggung jawab etis terhadap orang miskin. Narasi berakhir dengan semacam rekonsiliasi strategis yang tetap menjaga integritas Injil Paulus. Pola ini secara keseluruhan membantu membingkai narasi sebagai argumen simbolik yang dibuka dengan klaim pewahyuan, dipertajam melalui konflik identitas, dan ditutup dengan pengakuan serta redistribusi kehormatan religius. Intertexture Dalam pendekatan sosio-retorik Vernon K. Robbins, intertexture merujuk pada cara sebuah teks berinteraksi dengan tradisi, teks lain, dan konteks sosial di luar dirinya (Robbins, 1996: Teks Alkitab tidak berdiri sendiri, melainkan terus berdialog dengan dunia sosial dan budaya di sekitarnya. Robbins membagi intertexture menjadi empat bentuk utama: . oralscribal intertexture, yaitu kutipan langsung atau gema dari tradisi lisan maupun tulisan lain seperti Kitab Suci atau tradisi rabinik. cultural intertexture, yaitu interaksi teks dengan praktik sosial, hukum, atau institusi budaya yang dikenal pembaca. social intertexture, yang mengacu pada struktur relasi sosial seperti patronase, kehormatan, atau status gender. historical intertexture, yakni referensi pada peristiwa atau realitas sejarah tertentu Yumitri Angelique Rambu L. Bana Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies yang membentuk horizon makna teks (Robbins, 1996: 40-. Analisis pada Galatia 2:1-10 ini menggunakan keempat bagian intertexture. Pertama, dari sisi oral-scribal intertexture, teks ini menggema dengan narasi perjalanan ke Yerusalem yang mengingatkan pada struktur misi apostolik dalam Kisah Para Rasul 15Ai meskipun versi Paulus menekankan otoritas pewahyuan pribadi, bukan konsensus gerejawi (Robins, 1996: 40-. Paulus menyusun narasinya sebagai versi alternatif terhadap narasi resmi komunitas, menunjukkan bahwa kerasulannya berdiri sejajar, bahkan independen dari struktur Yerusalem. Hal ini adalah bentuk intertekstualitas naratif: Paulus AumengklaimAy kisah yang mungkin sudah beredar lisan atau tertulis, lalu menulis ulang dari sudutnya sendiri. Pada sisi lain, bisa dilihat juga ketika Paulus Aunaik ke YerusalemAy untuk menyampaikan Injil kepada Aumereka yang terpandangAy, ini menggemakan tradisi Perjanjian Lama dan intertestamental bahwa Yerusalem adalah pusat wahyu dan legitimasi keimaman . Yesaya 2:3: Audari Sion akan keluar pengajaranA. Namun, dalam teks ini. Paulus membalik tradisi itu, jadi bukan Yerusalem yang menjadi sumber otoritas, melainkan pewahyuan langsung dari Allah. Ketika Paulus berkata bahwa ia pergi ke Yerusalem Aumenurut pewahyuanAy . ata apokalupsis. AAIOC. Gal. , itu menggemakan model panggilan profetik dalam Perjanjian Lama, yakni AuFirman TUHAN datang kepadaku. Ay atau AuAku melihat Tuhan duduk di atas takhta tinggi. Ay Dalam konteks ini. Paulus kemungkinan sedang memposisikan kerasulannya sebagai langsung dari Allah, seperti para nabi dahulu, bukan dari manusia. Selanjutnya, dari sisi cultural intertexture, praktik sunat . eritome, aE) berfungsi bukan hanya sebagai ritus keagamaan, tetapi juga sebagai lambang kehormatan sosial dalam komunitas Yahudi . eSilva, 2000: 227Ae. Dalam dunia Mediterania, tubuh yang disunat adalah tubuh yang AuterverifikasiAy sebagai bagian dari perjanjian . A )ocAdan identitas kolektif. Ketika Titus . ang AuYunaniA. tidak disunat, tubuhnya menjadi anti-tanda terhadap sistem kehormatan dominan. Hal ini bukan sekadar keputusan medis atau hukum, ini adalah pembalikan budaya. Lalu juga terdapat Sistem patron-klien adalah inti budaya Mediterania, yakni orang berkuasa . memberi perlindungan dan dukungan kepada orang yang lebih lemah . , dan sebaliknya mendapat loyalitas dan kehormatan . eSilva, 2000: 95-. Dalam Galatia 2. Aumereka yang terpandangAy . oi dokounte. adalah para patron spiritual dari Yerusalem. Paulus masuk ke Auruang negosiasiAy ini, tapi tidak meminta validasi dari merekaAimelainkan memposisikan dirinya sebagai klien langsung dari Kristus . rtinya Kristus bagi Paulus adalah patron tertingg. , yang mengutusnya lewat wahyu. Selanjutnya Social inter-texture tampak jelas dalam cara Paulus menyebut tokohtokoh Yerusalem sebagai Aumereka yang dianggap terpandangAy . oi dokountes. EAC) (BibleHub Interlinear. AuGalatians 2:6Ay. serta beberapa bahasa Ibrani dan Yunani lainnya diakses Kapital Simbolik dalam Pertaruhan Kehormatan (Honor-Sham. : Tubuh Titus dan Negosiasi Patronase Paulus dengan Elit Yerusalem dalam Galatia 2:1-10 Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. dari BibleHub Interlinea. Kata ini secara harfiah berarti Aumereka yang tampaknya pentingAy dan mengandung nada ironis. Paulus tidak menyangkal posisi mereka, tetapi menolak struktur sosial yang mendasarkan otoritas pada pengakuan institusional. Patronase religius yang berpusat di Yerusalem sedang ia tantang melalui jaringan misi yang dibentuk oleh Injil. Akhirnya, historical inter-texture muncul dalam latar konflik antara komunitas Yahudi dan bangsa-bangsa lain . pada masa awal gereja. AuSaudara-saudara palsuAy yang menyusup . kemungkinan merepresentasikan kelompok Yudaisan yang berupaya mempertahankan identitas eksklusif di tengah dunia yang semakin plural. Konflik ini tidak bisa dilepaskan dari ketegangan sejarah pasca-Bait Suci, diaspora Yahudi, dan pertarungan atas definisi Auumat Allah. Ay Social-Cultural Texture: Arena Kehormatan dan Patronase dalam Tubuh Titus Dalam pendekatan sosio-retorik, social-cultural texture berfungsi untuk mengeksplorasi nilai, sistem relasi, dan struktur sosial yang membentuk dunia di balik teks (Robins, 1996: 7. Dalam konteks Galatia 2:1-10, dunia sosial yang melatarbelakangi narasi Paulus adalah masyarakat Mediterania abad pertama yang sangat ditandai oleh sistem patron-klien, budaya honor-shame, dan praktik penanda tubuh sebagai simbol kehormatan kolektif . eSilva, 2000: Perikop ini bukan sekadar laporan perjalanan teologis, melainkan sebuah fragmen dari drama sosial yang mempertaruhkan identitas, legitimasi, dan distribusi kuasa religius melalui simbol-simbol yang hidup dalam budaya kala itu. Hal yang pertama-tama mencolok dalam social-cultural texture perikop ini adalah struktur patronaseAibagian dari specific topics dalam kerangka Robbins (Robins, 1996: Paulus naik ke Yerusalem bukan untuk tunduk kepada otoritas pusat, melainkan untuk menegosiasikan ulang patronase apostolik. Dalam dunia patron-klien, kehormatan seseorang sangat bergantung pada Aodengan siapaAo ia terhubung. Di Yerusalem, para Aurasul utamaAy . yat 2, . berfungsi sebagai figur patron dalam komunitas Yahudi-Kristen. Namun, dengan menghadirkan Titus yang tidak disunat. Paulus seolah sedang Aumengganggu jaringan patronaseAy tersebut. Ia menunjukkan bahwa Kristus adalah patron utama yang telah menetapkan misi kepada bangsa-bangsa lain, tanpa syarat sunat atau afiliasi etnis . eSilva, 2000: 44-. Selanjutnya, dinamika honor-shameAisebagai bagian dari common social and cultural, sangat terasa dalam cara Paulus membingkai konflik ini. Dalam budaya Mediterania, kehormatan bersifat publik, kompetitif, dan harus diakui oleh komunitas. Sunat, sebagai tanda kehormatan religius Yahudi, telah menjadi Ausyarat masukAy untuk memperoleh legitimasi dalam jaringan komunitas Dengan menolak sunat bagi Titus. Paulus sedang melakukan tindakan penghinaan balik Yumitri Angelique Rambu L. Bana Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies terhadap sistem kehormatan . yang lamaAidan justru membangun bentuk kehormatan baru yang didasarkan pada penerimaan Injil dan pewahyuan langsung . eSilva, 2000: 36-. Maka disinilah tubuh Titus tidak netral, ia menjadi tubuh simbolik, semacam Aupanggung sosialAy di mana dua sistem kehormatan saling bertarung. Teori kapital simbolik dari Bourdieu membantu untuk memahami bahwa status sosial dalam masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kekayaan atau kekuasaan, tetapi juga oleh simbol-simbol yang diakui secara kolektif (Bourdieu, 1991: 113-. Dalam hal ini, sunat adalah bentuk kapital simbolik yang berlaku dalam sistem lama, dan Paulus menantangnya dengan menawarkan kapital tandingan yakni otoritas pewahyuan, misi lintas budaya, dan kesetiaan pada Injil. Dengan tidak menyunat Titus. Paulus bukan hanya menolak tekanan kelompok tertentu, tetapi sedang mengalihkan sistem distribusi kehormatan religius dari Yerusalem ke komunitas misi globalAidi sinilah honor-shame para elit diguncang. Dengan demikian, socialcultural texture dalam Galatia 2:1-10 mengungkap bahwa teks ini bukan sekadar tentang teologi Injil, tetapi tentang siapa yang memiliki kuasa untuk menetapkan makna kehormatan dalam komunitas iman. Patronase religius, kehormatan sosial, dan kapital simbolik direstrukturisasi oleh Paulus melalui narasi, simbol tubuh, dan tindakan penolakan. Apa yang tampak sebagai Autubuh biasaAyAiTitus yang tidak disunatAiternyata menjadi medan konfrontasi budaya yang menentukan arah gereja mula-mula. Dengan kata lain. Paulus sedang menantang kategori nilai dominan seperti Auyang layak dan tidak layakAy, atau Auyang murni dan najisAy, dan menawarkan struktur nilai baru yang berakar pada anugerah, bukan pada etnis atau ritus tubuh (Robins, 1996: 74-. Terlihat jelas jika Paulus mengusahakan Aukapital simbolikAy di sini. Ideological Texture Dalam kerangka tafsir sosio-retorik, ideological texture merujuk pada nilai-nilai, ideologi, serta relasi kuasa yang dibentuk, dipertahankan, atau digugat dalam suatu teks (Robins, 1996: Robbins menekankan bahwa setiap teks Alkitab tidak netral, melainkan memuat sikap tertentu terhadap struktur sosial, perbedaan status, dan sistem nilai yang mengatur Dalam Galatia 2:1-10, ideologi Paulus tampil bukan sebagai pengulangan sistem lama, melainkan sebagai gugatan terhadap kuasa simbolik yang dilembagakan dalam bentuk hukum, ritus tubuh, dan hierarki religius. Secara ideologis. Paulus secara sistematis membalik logika kehormatan religius yang berakar pada hukum Musa dan otoritas Yerusalem. Ketika ia mengatakan bahwa Aumereka yang terpandangAy tidak menambahkan apa-apa pada Injilnya . , ia sedang menolak validasi ideologis dari pusat kekuasaan religius, dan menegaskan bahwa pewahyuan pribadi dari Kristus Kapital Simbolik dalam Pertaruhan Kehormatan (Honor-Sham. : Tubuh Titus dan Negosiasi Patronase Paulus dengan Elit Yerusalem dalam Galatia 2:1-10 Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. cukup sebagai dasar kerasulan (Robbins, 1996: . Hal ini adalah bentuk teologi konfrontatif, di mana ideologi lama . erbasis eksklusivitas etnis dan ritus suna. digantikan dengan paradigma baru yang menyetarakan bangsa-bangsa di bawah Injil. Selain itu, penyebutan Ausaudarasaudara palsuAy . Aiyang menyusup untuk Aumemata-matai kemerdekaanAy dalam KristusAiadalah bentuk ideologisasi oposisi. Mereka tidak digambarkan sebagai pihak yang salah paham, melainkan sebagai penjaga sistem ideologis yang menindas dan mengancam kebebasan Injil. Dengan menyebut mereka AupalsuAy . OAiC). Paulus menggiring pembaca pada penilaian ideologis, bahwa ada injil yang membebaskan dan ada yang mengikat kembali (BibleHub Interlinear. AuGalatians 2:4A. Tubuh Titus yang tidak disunat juga memuat dimensi ideologis yang kuat. Ia menjadi lambang penolakan terhadap sistem yang mengikat nilai pada tanda tubuh. Dalam kerangka Bourdieu, ini adalah bentuk pembalikan habitus religiusAidi mana tubuh tidak lagi menjadi instrumen klasifikasi sosial, melainkan simbol pembebasan dari hegemoni ritual (Bourdieu, 1977: 87Ae. Paulus menggunakan tubuh Titus untuk mengkritik ideologi tubuh dan kemurnian yang selama ini menjadi alat eksklusi. Di sisi lain, ideologi Injil yang dibawa Paulus tidak hanya menolak, tapi juga membangun sistem nilai alternatif. Hal ini terlihat pada penutup narasi . , ketika para pemimpin Yerusalem Auhanya meminta supaya kami mengingat orang Ay Maka, ini bukan catatan tambahan, tapi tanda bahwa Injil Paulus memiliki arah etis dan sosial yang konkretAikeadilan sosial menggantikan simbolisme tubuh sebagai penanda identitas religius (Horsley, 2000: 52Ae. Dengan demikian, ideological texture dalam Galatia 2:1-10 menunjukkan bahwa teks ini memuat sebuah proyek revolusioner, yakni menggugat sistem kuasa lama, mengusulkan fondasi otoritas baru . erbasis pewahyuan, bukan pengakuan institusiona. , dan memperkenalkan Injil sebagai ideologi tandingan yang bersifat inklusif, membebaskan, dan berbasis kasih, bukan kontrol. Tafsiran Final: Tubuh Titus sebagai Locus Subversi dan Revolusi Simbolik Setelah menelusuri berbagai lapisan tekstur dalam Galatia 2:1Ae10, terbentuklah sebuah pemahaman baru bahwa tubuh Titus bukan hanya hadir sebagai simbol keberagaman etnis dalam gereja mula-mula, melainkan sebagai locus subversiAititik pusat dari perlawanan simbolik terhadap sistem kehormatan lama yang dilembagakan oleh hukum, ritus, dan otoritas religius Yerusalem. Dalam tubuh yang tidak disunat itulah. Paulus mempertaruhkan kehormatan baru, bukan berdasarkan daging atau silsilah, melainkan berdasarkan pewahyuan dan anugerah. Yumitri Angelique Rambu L. Bana Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Melalui pendekatan sosio-retorik, kita melihat bahwa Paulus tidak sekadar menyampaikan argumen teologis, tetapi menyusun ulang peta kuasa dalam komunitas iman. Ia menolak patronase religius yang bersifat vertikal dan menggantikannya dengan patronase Kristologis yang bersifat transformatif. Ia juga menolak simbol kehormatan legalistik . dan menggantinya dengan simbol keterbukaan misi . ubuh Titu. Kemudian juga menolak klasifikasi Auyang terpandangAy sebagai pusat validasi dan menggantinya dengan pengakuan berdasarkan Injil. Sehingga di sinilah tubuh Titus tampil bukan sebagai objek pasif, melainkan sebagai Aukapital simbolikAy aktifAimedium negosiasi, perlawanan, dan pengakuan. Hal yang ditawarkan Paulus adalah revolusi epistemologis dalam pemaknaan kehormatan . Kehormatan tidak lagi ditentukan oleh identitas etnis atau ritus tubuh, tetapi oleh pewahyuan kasih karunia. Dalam tubuh Titus, terbaca bahwa Auyang najis telah diterimaAy, bahwa Auyang tidak disunat pun diberi tangan persekutuanAy. Dengan demikian, tubuh bukan lagi instrumen eksklusi, tetapi ruang inkarnasi InjilAidi mana misi, kasih, dan kesetaraan bersemayam. Lebih dari itu, tafsir ini mengungkapkan bahwa Galatia 2:1Ae10 adalah narasi tentang perebutan tafsir dan reposisi otoritas spiritual. Paulus tidak hanya sedang mempertahankan Injilnya, ia sedang membentuk budaya alternatifAi yakni sebuah komunitas yang tidak diikat oleh sistem kehormatan eksklusif, melainkan disatukan oleh anugerah yang Dalam dunia di mana status tubuh menentukan siapa yang diterima dan ditolak. Paulus memperlihatkan bahwa tubuh tanpa sunat pun dapat menjadi tubuh kerasulanAidan bahkan menjadi tubuh yang membongkar kekuasaan lama. Dengan demikian, tubuh Titus menjadi Aulambang pergeseran paradigmaAyAidari hukum ke pewahyuan, dari ritus ke relasi, dari eksklusi ke inklusi, dari legitimasi hierarkis ke solidaritas Jadi, inilah kapital simbolik Injil, di mana tubuh yang dahulu dianggap tak layak kini menjadi tubuh yang diberi tangan persekutuan. Gereja masa kini dipanggil untuk membaca ulang teks ini tidak hanya sebagai dokumen sejarah, tetapi sebagai ajakan untuk membebaskan tubuhtubuh lain yang masih terus disunat secara sosialAimelalui sistem, birokrasi, dan budaya religius yang masih memilih siapa yang layak dan tidak layak. Di tengah dunia yang penuh syarat sosial, tubuh Titus mengajarkan bahwa Injil sejati membebaskan dari sunat simbolik apa pun. Kesimpulan: Tubuh Titus dan Penataan Ulang Patronase Injil Pertanyaan yang diajukan di awalAibagaimana tubuh Titus digunakan Paulus sebagai alat negosiasi kapital simbolik dan patronase dalam komunitas mula-mula, serta strategi retoris apa yang digunakan untuk membalik struktur kehormatan dari elite YerusalemAitelah dijawab Kapital Simbolik dalam Pertaruhan Kehormatan (Honor-Sham. : Tubuh Titus dan Negosiasi Patronase Paulus dengan Elit Yerusalem dalam Galatia 2:1-10 Volume 5 Nomor 3 (September-Desember 2. melalui pendekatan sosio-retorik yang mengungkap lapisan-lapisan tekstur sosial, ideologis, dan retoris dalam Galatia 2:1-10. Ternyata, tubuh Titus yang tidak disunat bukan hanya menjadi simbol dari identitas non-Yahudi, tetapi menjadi arena strategis bagi Paulus untuk menegosiasikan ulang otoritas kerasulan, legitimasi komunitas, dan distribusi kehormatan Melalui strategi repetisi, narasi pribadi, resistensi terhadap struktur patronase lama, serta pembentukan patronase alternatif berbasis pewahyuan. Paulus tidak sekadar membela Injilnya, tetapi mendirikan sistem nilai baru di dalam tubuh komunitas yang tidak lagi dikendalikan oleh hukum dan ritus, melainkan oleh relasi kasih karunia dan solidaritas etis. Dengan tidak menyunat Titus. Paulus menyatakan bahwa legitimasi Injil tidak bergantung pada tanda tubuh, tetapi pada penerimaan pewahyuan dan buah keadilan. Tubuh Titus, dalam hal ini, tampil sebagai kapital simbolik tandingan, yang secara sengaja digunakan untuk membalik logika eksklusivitas religius dan menegaskan bahwa keanggotaan dalam umat Allah bukan diwariskan secara biologis, tetapi direspon secara iman dan misi. Ia menjadi tubuh yang menolak dikendalikan oleh hukum, namun justru memikul beban Injil dan menjadi saksi atas gereja yang lebih inklusif. Pada akhirnya, perikop ini bukan sekadar catatan sejarah kerasulan, melainkan sebuah manifesto teologis tentang pembebasan tubuh dari penindasan simbolik, dan panggilan gereja untuk mengakui patronase Allah yang membalik semua sistem manusia. Di dalam Kristus, seperti yang ditunjukkan melalui tubuh Titus, kehormatan bukanlah sesuatu yang diwariskan atau diukur secara lahiriah, melainkan sesuatu yang dianugerahkan melalui kasih yang Bagi penulis. Audi dalam tubuh Titus, kita menemukan Injil yang tidak tunduk pada hukum, tetapi berdiri bagi kebebasan. DAFTAR PUSTAKA