Buletin Pengembangan Perangkat Pembelajaran Vol. No. Desember 2025, hal. ISSN: 2721-3404 Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dalam Program Pengenalan Perusahaan ke Management Trainee PT Krakatau Steel Yudha Dwi Laksono. Asep Muhyidin Pascasarjana Program Doktor Pendidikan. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Artikel info Article history: Submit: 24 Oktober 2025 Revisi: 28 November 2025 Diterima: 12 Desember Kata kunci: Model Pembelajaran Berbasis Masalah. Materi Keberagaman Masyarakat Indonesia Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan model . roblem learning/PBL) dalam program pengenalan perusahaan bagi Management Trainee di PT Krakatau Steel serta menganalisis dampaknya terhadap pemahaman organisasi dan kompetensi awal peserta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan Management Trainee, trainer, dan perwakilan unit kerja, observasi terhadap rangkaian sesi pengenalan perusahaan, serta telaah dokumen modul pelatihan. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan PBL dalam program pengenalan perusahaan memfasilitasi peserta untuk memahami proses bisnis, struktur organisasi, budaya kerja, dan tantangan strategis perusahaan melalui pemecahan kasus nyata yang diangkat dari konteks PT Krakatau Steel. PBL juga mendorong pengembangan kemampuan berpikir kritis, kerja sama tim, dan pemecahan masalah sejak awal masa penugasan. Namun, ditemukan beberapa kendala, antara lain keterbatasan waktu, variasi pengalaman kerja sebelumnya, dan kesiapan fasilitator dalam mengelola diskusi berbasis masalah. Secara keseluruhan, penerapan PBL dinilai efektif untuk memperkaya program pengenalan perusahaan dan direkomendasikan untuk dikembangkan lebih lanjut dengan penguatan kapasitas fasilitator dan penyempurnaan bank kasus. Corresponding Author: Nama: Yudha Dwi Laksono Afiliasi: Universitas Sultan Ageng Tirtayasa E-mail: yudha. laksono@gmail. Pendahuluan AU Transformasi bisnis yang kian dinamis menuntut perusahaan tidak hanya merekrut Doi: 10. 23917/bp. lulusan terbaik, tetapi juga memastikan mereka cepat beradaptasi dengan budaya, proses bisnis, dan tuntutan peran baru. Buletin Pengembangan Perangkat Pembelajaran | ISSN: 2721-3404 Literatur sosialisasi organisasi menegaskan bahwa masa awal masuk kerja . rganizational entr. merupakan fase kritis yang berpengaruh terhadap kejelasan peran, komitmen, kinerja, dan niat bertahan karyawan. Meta analisis Bauer et al. menunjukkan bahwa taktik sosialisasi dan perilaku pencarian informasi berkontribusi signifikan terhadap kejelasan peran, efikasi diri, penerimaan sosial, kepuasan kerja, komitmen organisasi, serta penurunan intensi keluar. Temuan ini diperkuat oleh kajian Klein & Weaver . yang menunjukkan bahwa program orientasi terstruktur mampu meningkatkan derajat tersosialisasinya karyawan baru dan komitmen afektif mereka. Dalam konteks tersebut, program pengenalan perusahaan . nboarding atau orientation progra. bagi Management Trainee (MT) menjadi instrumen strategis untuk mempercepat pemahaman organisasi dan membentuk kompetensi awal yang selaras dengan kebutuhan bisnis. Saks & Gruman . menekankan bahwa taktik sosialisasi yang terencana dapat meningkatkan employee engagement sejak fase awal penugasan, sementara Wanberg . menegaskan pentingnya desain sosialisasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga mendukung proses pembelajaran, penyesuaian psikologis, dan integrasi sosial jangka panjang. Bagi perusahaan besar dan kompleks seperti PT Krakatau Steel (Perser. Tbk sebuah produsen baja terintegrasi dan salah satu BUMN strategis di Indonesia tantangan pengenalan proses bisnis, struktur organisasi, dan budaya kerja kepada MT menjadi semakin besar seiring diversifikasi unit usaha dan kompleksitas rantai nilai industri baja. Di sisi lain, dalam ranah pendidikan dan pelatihan, problem based learning (PBL) telah lama diakui sebagai salah satu model mengembangkan kemampuan berpikir tingkat Barrows . memperkenalkan PBL sebagai pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan memanfaatkan masalah otentik sebagai Hmelo-Silver . menjelaskan bahwa melalui PBL, peserta mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, kolaborasi, dan pembelajaran Savery . serta Yew & Goh . menegaskan bahwa PBL tidak hanya berdampak positif pada retensi pengetahuan jangka panjang, tetapi juga pada kemampuan menerapkan pengetahuan tersebut dalam situasi baru yang kompleks. Temuan scoping review oleh Ghani et al. lebih jauh menunjukkan bahwa perilaku belajar efektif dalam PBL ditandai oleh keterlibatan aktif, kerja sama, komunikasi, dan regulasi diri yang PBL berfokus dengan menggabungkan isu dan masalah dunia nyata yang selaras dengan kurikulum sekolah (Gumartifa et al. Meskipun dikembangkan di pendidikan kedokteran dan pendidikan tinggi. PBL semakin banyak diadopsi dalam pendidikan manajemen dan Smith mengargumentasikan bahwa PBL berpotensi manajerial melalui konfrontasi sistematis dengan masalah kompleks yang tidak memiliki satu jawaban benar. Di ranah pembelajaran di tempat kerja. Yeo . menunjukkan bahwa PBL dapat bertindak sebagai mediator terbentuknya jaringan belajar Buletin Pengembangan Perangkat Pembelajaran Vol. No. Desember 2025, hal. ISSN: 2721-3404 earning network. dan komunitas praktik yang mendorong pembelajaran mendalam . eep learnin. di tingkat individu maupun OAoBrien mendemonstrasikan bagaimana PBL yang dipadukan dengan teknologi dapat mendukung pembelajaran di lingkungan kerja global, sementara Saengrith. Viriyavejakul & Pimdee . mengembangkan model pelatihan berbasis PBL terintegrasi chatbot yang pemecahan masalah karyawan. PBL lebih unggul dalam membangun kolaborasi, menghasilkan sikap positif sebagai hasil dari proses pemecahan masalah (Winarti et al. PBL merangsang siswa untuk menghadapi dan memecahkan masalah otentik yang diambil dari konteks lokal (Hidayani et , 2. Dalam perspektif sosialisasi organisasi, temuan-temuan tersebut membuka peluang integrasi PBL ke dalam program pengenalan perusahaan sebagai alternatif terhadap model orientasi yang bersifat satu arah dan Jika sosialisasi organisasi yang pembelajaran aktif tentang nilai, norma, dan praktik kerja (Bauer et al. , 2007. Wanberg, 2. , maka PBL berpotensi menjadi wahana bagi MT untuk mempelajari proses bisnis, struktur organisasi, dan tantangan strategis melalui pemecahan kasus-kasus nyata Dengan demikian, program pengenalan perusahaan tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga arena pembentukan kompetensi awal seperti berpikir kritis, kerja sama tim, dan pemecahan Doi: 10. 23917/bp. masalah yang relevan dengan konteks Namun demikian, literatur yang secara spesifik mengkaji penerapan PBL dalam Management Trainee di lingkungan korporasi, khususnya BUMN strategis di sektor manufaktur baja, masih sangat terbatas. Studi-studi PBL di lingkungan kerja lebih banyak berfokus pada pengembangan kompetensi profesional umum atau pelatihan tematik tertentu (Yeo, 2008. OAoBrien et al. Saengrith et al. , 2. , bukan pada fase awal sosialisasi organisasi. Di sisi lain, kajian sosialisasi organisasi jarang mengulas secara rinci desain pedagogis program orientasi, dan lebih menitikberatkan pada taktik sosialisasi, sumber daya sosialisasi, serta faktor individual newcomer adjustment (Bauer et al. , 2007. Saks & Gruman, 2011. Wanberg, 2. Bertolak dari kesenjangan tersebut, penelitian ini berupaya mendeskripsikan secara mendalam penerapan model PBL dalam Management Trainee di PT Krakatau Steel serta menganalisis dampaknya terhadap pemahaman organisasi . eliputi proses bisnis, struktur, dan budaya kerj. dan pengembangan kompetensi awal peserta, seperti berpikir kritis, kerja sama tim, dan pemecahan Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis pada pengembangan kajian PBL di konteks pelatihan korporat dan sosialisasi organisasi, sekaligus menawarkan implikasi praktis bagi perancangan program pengenalan perusahaan yang lebih bermakna di AU Buletin Pengembangan Perangkat Pembelajaran | ISSN: 2721-3404 lingkungan BUMN dan perusahaan besar Metode Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pendekatan memungkinkan peneliti memahami secara pembelajaran berbasis masalah . roblem learning/PBL) pengenalan perusahaan serta makna yang dikonstruksi oleh para peserta dan pihak Desain studi kasus digunakan untuk mengkaji secara intensif satu kasus terikat, yaitu program pengenalan perusahaan bagi Management Trainee di PT Krakatau Steel sebagai konteks organisasi yang spesifik. Penelitian dilaksanakan di PT Krakatau Steel (Perser. Tbk, sebuah perusahaan baja terintegrasi yang berkedudukan di Cilegon. Banten. Fokus penelitian diarahkan pada program pengenalan perusahaan . ompany introduction/induction diberikan kepada Management Trainee pada awal masa penugasan. Program ini mencakup rangkaian sesi pengenalan visiAemisi, proses bisnis, struktur organisasi, budaya kerja, serta mengenai tantangan perusahaan, yang kemudian diperkaya dengan PBL kasus-kasus nyata. Subjek dan Informan Penelitian Subjek penelitian meliputi: AU Management Trainee (MT) yang perusahaan berbasis PBL. AU Trainer/fasilitator langsung dalam perancangan dan pelaksanaan sesi PBL dalam program pengenalan perusahaan. AU Perwakilan unit kerja . isalnya atasan langsung, mentor, atau key person dari bisnis/pendukun. berinteraksi dengan MT dan dapat informasi mengenai kompetensi awal serta pemahaman para peserta setelah mengikuti program. Pemilihan dilakukan secara purposive sampling, dengan kriteria: AU MT merupakan peserta angkatan terbaru yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian program pengenalan perusahaan berbasis PBL. AU trainer/fasilitator memiliki pengalaman langsung merancang, memfasilitasi, dan mengevaluasi aktivitas PBL dalam AU perwakilan unit kerja memiliki pengalaman berinteraksi dengan MT setelah program. Jumlah informan tidak ditetapkan secara kaku sejak awal, tetapi dikembangkan secara bertahap mengikuti prinsip kejenuhan data . ata saturatio. , yaitu ketika wawancara tambahan tidak lagi menghasilkan informasi atau tema baru yang relevan dengan fokus Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama, yaitu wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen. AU Wawancara . n-depth intervie. AU Wawancara semi-terstruktur dilakukan kepada MT, trainer, dan perwakilan unit Buletin Pengembangan Perangkat Pembelajaran Vol. No. Desember 2025, hal. ISSN: 2721-3404 Pedoman wawancara disusun untuk AU pengalaman MT selama mengikuti program pengenalan perusahaan berbasis PBL. AU persepsi mereka terhadap cara PBL membantu memahami proses bisnis, struktur organisasi, budaya kerja, dan tantangan strategis perusahaan. AU persepsi mengenai perkembangan kemampuan berpikir kritis, kerja sama tim, dan pemecahan masalah sejak awal penugasan. AU pandangan trainer dan perwakilan unit kerja mengenai efektivitas PBL, serta kendala yang muncul dalam implementasinya. AU ObservasiAU Observasi dilakukan terhadap rangkaian sesi program pengenalan perusahaan yang menerapkan PBL. Bentuk observasi yang partisipatif, di mana peneliti tidak terlibat sebagai fasilitator atau peserta, tetapi mengamati dinamika pelaksanaan PBL. Fokus observasi AU cara fasilitator mempresentasikan kasus dan memandu diskusi. AU interaksi antar peserta dalam kelompok kecil. AU strategi merumuskan solusi. AU bentuk presentasi dan refleksi hasil pemecahan masalah. Catatan lapangan . ield note. disusun secara sistematis untuk melengkapi data wawancara. Doi: 10. 23917/bp. AU Studi dokumen Studi dokumen dilakukan untuk menelaah berbagai dokumen terkait program, antara AU modul pelatihan dan panduan program pengenalan perusahaan. AU deskripsi dan skenario kasus yang digunakan dalam PBL. AU jadwal, materi presentasi, serta digunakan perusahaan. Dokumen tersebut dianalisis untuk memahami tujuan program, desain pembelajaran, struktur sesi PBL, maupun indikator kompetensi yang diharapkan dari MT. Keabsahan Data Keabsahan data dijaga melalui beberapa strategi berikut: AU Triangulasi sumber Informasi mengenai penerapan PBL dampaknya diperoleh dari berbagai kelompok informan (MT, trainer, perwakilan unit kerj. sehingga perspektif dan penguatan temuan. AU Triangulasi teknik Data diperoleh melalui wawancara, dan studi dokumen. Perbandingan hasil ketiga teknik ini digunakan untuk menguji konsistensi dan memperkaya pemahaman terhadap fenomena yang dikaji. AU Member check Ringkasan hasil wawancara atau temuan sementara dikonfirmasikan kembali kepada beberapa informan kunci untuk memastikan bahwa interpretasi peneliti sesuai dengan pengalaman dan pandangan mereka. Buletin Pengembangan Perangkat Pembelajaran | ISSN: 2721-3404 Metode menghasilkan gambaran yang kaya dan komprehensif mengenai penerapan PBL dalam Management Trainee di PT Krakatau Steel beserta implikasinya terhadap pemahaman organisasi dan kompetensi awal peserta Hasil dan Pembahasan AU Desain dan Pelaksanaan PBL dalam Program Pengenalan Perusahaan Hasil analisis data menunjukkan bahwa PBL diintegrasikan secara sengaja ke dalam struktur program pengenalan perusahaan bagi Management Trainee (MT). Program diawali dengan sesi pengenalan umum mengenai sejarah, visiAemisi, dan portofolio bisnis PT Krakatau Steel, kemudian dilanjutkan dengan rangkaian sesi berbasis kasus yang disusun dari konteks nyata perusahaan. Kasus-kasus yang digunakan, misalnya, terkait dengan isu efisiensi produksi, keterlambatan pemenuhan pesanan, koordinasi lintas unit, hingga tantangan persaingan pasar. Observasi umumnya dilakukan dalam bentuk skenario tertulis yang dilengkapi data ringkas . rafik produksi, tren permintaan, atau ringkasan Fasilitator kemudian mengarahkan MT bekerja dalam kelompok kecil untuk: . mengidentifikasi masalah utama, . memetakan aktor dan unit terkait, . menganalisis akar masalah, dan . merumuskan rekomendasi perbaikan. Hasil diskusi dipresentasikan di sesi pleno, diikuti tanggapan fasilitator dan peserta lain. Polanya sejalan dengan karakteristik PBL yang menempatkan masalah sebagai titik awal pembelajaran dan memfasilitasi peserta untuk membangun pengetahuan melalui investigasi dan diskusi (Barrows, 1986. Hmelo-Silver. Savery, 2. Dalam konteks ini, program pengenalan perusahaan tidak berhenti pada penyampaian informasi satu arah, tetapi memberikan ruang bagi MT untuk AumembacaAy organisasi melalui kasus nyata yang memerlukan pemahaman lintas fungsi. Namun demikian, intensitas dan kualitas pelaksanaan PBL tampak bervariasi antar sesi dan fasilitator. Pada beberapa sesi. PBL terlaksana dengan alur yang utuh . dentifikasi masalahAeanalisisAesolusiAerefleks. , sementara pada sesi lain diskusi lebih banyak diarahkan pada pencarian Aujawaban benarAy menurut fasilitator sehingga ruh inkuiri PBL tidak sepenuhnya terjaga. Hal ini berkaitan langsung dengan temuan pada bagian kendala. AU PBL sebagai Wahana Konstruksi Pemahaman Organisasi 1 Pemahaman proses bisnis dan keterkaitan unit Wawancara dengan MT menunjukkan bahwa PBL membantu mereka lebih cepat memahami alur proses bisnis perusahaan dibandingkan hanya melalui paparan materi. Ketika mengerjakan kasus yang melibatkan, misalnya, keterlambatan pengiriman produk ke pelanggan, peserta terdorong untuk menelusuri rantai nilai dari hulu ke hilir: mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, pengendalian kualitas, hingga logistik dan layanan pelanggan. Dari sisi kognitif, peserta mengungkapkan bahwa melalui diskusi kasus mereka menjadi lebih menyadari bahwa persoalan di satu titik proses . isalnya di bagian produks. berdampak pada unit lain . isalnya Pemahaman tentang keterkaitan antar unit ini menjadi lebih konkret karena dikaitkan dengan situasi yang menyerupai realitas kerja di PT Buletin Pengembangan Perangkat Pembelajaran Vol. No. Desember 2025, hal. ISSN: 2721-3404 Krakatau Steel, bukan sekadar skema bagan Temuan ini konsisten dengan literatur yang menyatakan bahwa PBL mendorong integrasi pengetahuan konseptual dan prosedural dalam konteks masalah otentik (Hmelo-Silver, 2004. Yew & Goh, 2. Dalam pengalaman memecahkan kasus lintas unit membantu MT membangun pemahaman peran, alur kerja, dan dependensi antar bagian sejak fase awal, sebagaimana ditekankan dalam kajian organizational socialization (Bauer et al. , 2. 2 Pemahaman Struktur Organisasi dan Peran Aktor Kasus-kasus yang diberikan secara eksplisit memuat informasi tentang unit yang terlibat, posisi jabatan, serta garis koordinasi dan komando. Dalam diskusi, fasilitator mendorong peserta untuk memetakan siapa saja aktor kunci yang perlu dilibatkan dalam penyelesaian masalah, di mana posisi mereka dalam struktur organisasi, serta bagaimana Wawancara menunjukkan bahwa MT merasa lebih mudah mengingat struktur organisasi ketika mereka Aumemecahkan masalahAy, bukan sekadar menghafal bagan. Mereka juga menjadi lebih peka terhadap peran unit pendukung . isalnya fungsi keuangan. SDM, logisti. yang sering kali tidak terlihat ketika hanya dijelaskan secara Hal ini memperlihatkan bahwa PBL berfungsi sebagai alat kognitif untuk mengontekstualisasikan struktur organisasi dalam situasi nyata, sejalan dengan pandangan bahwa pembelajaran berbasis masalah Doi: 10. 23917/bp. pengetahuan dan konteks penerapannya (Savery, 2. 3 Pemahaman budaya kerja dan tantangan strategis Dalam beberapa kasus, aspek budaya kerja dan nilai organisasi dimunculkan melalui narasi tentang gaya komunikasi antar unit, kepatuhan terhadap prosedur, serta respons terhadap tekanan target. Diskusi kelompok membuka ruang bagi MT untuk menafsirkan nilai-nilai yang secara implisit diharapkan perusahaan, seperti kolaborasi, kepatuhan terhadap standar keselamatan, dan orientasi pada pelanggan. Selain itu, paparan tentang tantangan strategis misalnya persaingan harga, kebutuhan efisiensi, dan dinamika permintaan pasar dihubungkan dengan kasus-kasus yang keterbatasan sumber daya saat merumuskan Dengan demikian. MT tidak hanya mengenal AuapaAy yang menjadi tantangan perusahaan, tetapi juga AubagaimanaAy tantangan tersebut termanifestasi dalam masalah operasional yang konkret. Dari sudut pandang sosialisasi organisasi, pengalaman tersebut mempercepat proses internalisasi norma dan nilai yang diharapkan, serta memperkaya pemahaman tentang konteks eksternal organisasi (Bauer et al. , 2007. Wanberg. AU Dampak PBL terhadap Pengembangan Kompetensi Awal MT 1 Penguatan kemampuan berpikir kritis Sebagian besar MT melaporkan bahwa diskusi kasus menuntut mereka untuk tidak mengajukan pertanyaan klarifikasi, memeriksa AU Buletin Pengembangan Perangkat Pembelajaran | ISSN: 2721-3404 konsistensi data, dan mempertimbangkan alternatif penjelasan. Fasilitator mendorong peserta untuk menjelaskan alasan di balik asumsi dan rekomendasi yang diajukan, sehingga argumen yang lemah dapat diuji oleh anggota kelompok lain. Dari catatan observasi, proses ini tampak dalam bentuk: . perdebatan mengenai penyebab utama masalah, . upaya membedakan gejala dan akar masalah, dan . kecenderungan meningkatnya penggunaan data yang tersedia dalam kasus untuk mendukung argumen. Pola ini sejalan dengan temuan Hmelo-Silver . dan Ghani et al. bahwa PBL memperkuat kemampuan analitis dan regulasi diri dalam belajar. 2 Pengembangan kerja sama tim dan PBL yang diformat dalam kerja kelompok menempatkan MT pada situasi di mana koordinasi tugas, pembagian peran, dan komunikasi menjadi keharusan. Wawancara menunjukkan bahwa peserta belajar mengelola perbedaan pendapat, menyusun kesepakatan, serta mengatur strategi presentasi bersama. Beberapa mengonfirmasi bahwa MT yang baru masuk cenderung lebih siap bekerja dalam tim proyek, lebih berani mengemukakan pendapat, dan lebih cepat menjalin komunikasi lintas fungsi setelah mengikuti program. Hal ini konsisten dengan literatur yang menyatakan bahwa PBL berkontribusi pada pengembangan keterampilan kolaboratif dan interpersonal yang esensial di dunia kerja (Smith, 2005. Yeo, 2. 3 Penguatan keterampilan pemecahan masalah dan orientasi solusi Kasus-kasus menempatkan peserta pada situasi yang tidak memiliki satu jawaban benar, sehingga memaksa mereka untuk menimbang risiko, keterbatasan sumber daya, dan implikasi solusi terhadap berbagai unit. Dari hasil wawancara. MT mengungkapkan bahwa mereka terbiasa memulai dari pemetaan situasi, lalu mengelompokkan masalah, sebelum merumuskan beberapa alternatif solusi dan memilih yang paling realistis. Perwakilan unit kerja menilai bahwa MT menunjukkan kecenderungan untuk segera mengkaji akar masalah ketika menemukan kendala di lapangan, bukan hanya meneruskan masalah ke atasan. Pola ini selaras dengan tujuan PBL untuk membentuk self-directed mengaplikasikan pengetahuan dalam situasi kompleks (Barrows, 1986. Savery, 2. AU Kendala Implementasi PBL dalam Program Pengenalan Perusahaan 1 Keterbatasan waktu dan beban materi Kendala utama yang diidentifikasi adalah keterbatasan waktu pelaksanaan. Jadwal program pengenalan perusahaan relatif padat dengan beragam sesi wajib yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. Akibatnya, beberapa sesi PBL berlangsung dalam durasi yang dianggap MT terlalu singkat untuk melakukan analisis mendalam dan refleksi. Kondisi ini mengarah pada kompromi berupa pemangkasan tahap diskusi atau refleksi, sehingga PBL berpotensi tereduksi menjadi latihan Aumencari jawaban cepatAy daripada proses inkuiri yang matang. Temuan ini sejalan dengan catatan dalam berbagai implementasi PBL bahwa kebutuhan waktu yang lebih panjang sering kali menjadi tantangan praktis di institusi yang memiliki kurikulum padat. Buletin Pengembangan Perangkat Pembelajaran Vol. No. Desember 2025, hal. ISSN: 2721-3404 2 Variasi pengalaman dan latar belakang MT berasal dari latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja yang Bagi peserta yang pernah terpapar diskusi kasus atau tugas berbasis proyek, pola PBL relatif mudah diadaptasi. Namun, bagi peserta yang terbiasa dengan model pembelajaran ceramah dan ujian. PBL semula dirasakan membingungkan mereka menunggu Aujawaban benarAy dari fasilitator dan cenderung pasif di awal. Variasi ini berpengaruh pada mendominasi diskusi, sementara yang lain lebih banyak mengikuti. Fasilitator perlu kesempatan belajar merata. Temuan ini konsisten dengan literatur yang menekankan pentingnya dukungan transisi ketika peserta baru pertama kali diperkenalkan pada PBL dan pembelajaran mandiri (Hmelo-Silver, 3 Kesiapan fasilitator dan konsistensi praktik PBL Kesiapan fasilitator muncul sebagai faktor kunci lain. Wawancara dengan trainer menunjukkan bahwa tidak semua fasilitator memiliki pengalaman atau pelatihan khusus dalam memfasilitasi PBL. Sebagian besar ahli pada substansi materi dan proses bisnis, tetapi belum terbiasa berperan sebagai fasilitator yang lebih banyak mengajukan pertanyaan daripada memberi Akibatnya, pada beberapa sesi, fasilitator cenderung kembali pada pola ceramah panjang setelah diskusi singkat, atau langsung mengarahkan peserta pada satu sudut pandang Hal ini mengurangi ruang eksplorasi peserta dan bertentangan dengan prinsip PBL Doi: 10. 23917/bp. yang menekankan peran fasilitator sebagai guide on the side (Savery, 2. 4 Ketersediaan dan pembaruan bank Selain itu, bank kasus yang digunakan masih terbatas jumlah dan variannya. Beberapa fasilitator menilai bahwa kasus yang tersedia belum sepenuhnya mencerminkan isu terkini atau kebutuhan unit tertentu. Ketika kasus yang sama digunakan berulang untuk beberapa angkatan tanpa pembaruan, terdapat risiko bahwa masalah menjadi kurang relevan dengan dinamika terbaru perusahaan. Dari sisi pengembangan program, kebutuhan akan sistematisasi bank kasus termasuk mekanisme pembaruan berdasarkan masukan unit kerja menjadi salah satu catatan utama. Simpulan Hasil penelitian menunjukkan pertama, penerapan model pembelajaran berbasis masalah . roblem based learning/PBL) dalam Management Trainee di PT Krakatau Steel terbukti mampu mengubah karakter program dari yang semula berorientasi pada penyampaian informasi satu arah menjadi proses pembelajaran yang lebih partisipatif dan kontekstual. Integrasi PBL melalui kasus-kasus bersumber dari konteks bisnis perusahaan menjadikan program pengenalan perusahaan tidak hanya sebagai forum orientasi administratif, tetapi sebagai wahana awal pembelajaran organisasi yang mendalam. Kedua. PBL konstruksi pemahaman organisasi pada beberapa dimensi kunci. Melalui kerja kelompok berbasis kasus. Management AU Buletin Pengembangan Perangkat Pembelajaran | ISSN: 2721-3404 Trainee memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai alur proses bisnis, keterkaitan lintas unit, peran aktor dalam struktur organisasi, serta nilai dan budaya kerja yang Pemahaman tentang tantangan strategis perusahaan juga menjadi lebih konkret karena dihubungkan dengan persoalan operasional yang disimulasikan dalam kasus. Dengan PBL mempercepat proses sosialisasi organisasi sejak fase awal penugasan. Ketiga, penerapan PBL dalam program pengenalan perusahaan berkontribusi pada pengembangan kompetensi awal Management Trainee yang relevan dengan tuntutan peran di masa mendatang. Temuan menunjukkan adanya penguatan kemampuan berpikir kritis melalui aktivitas identifikasi masalah, analisis data, dan argumentasi solusi. kerja sama tim dan komunikasi melalui dinamika diskusi dan presentasi kelompok. serta peningkatan keterampilan pemecahan masalah dan orientasi solusi ketika peserta dihadapkan pada situasi tanpa satu jawaban Kompetensi-kompetensi ini menjadi fondasi penting bagi pembentukan calon pemimpin organisasi. Keempat, efektivitas PBL dalam program ini masih dibatasi oleh sejumlah kendala Keterbatasan waktu program dan padatnya materi mengakibatkan beberapa siklus PBL tidak dapat berlangsung secara utuh, terutama pada tahap analisis mendalam dan refleksi. Variasi latar belakang pendidikan dan pengalaman peserta menimbulkan berimplikasi pada dinamika partisipasi dalam Selain itu, kesiapan fasilitator yang belum merata dalam memainkan peran sebagai pengelola diskusi dan pemantik inkuiri, serta keterbatasan dan belum sistematisnya pengelolaan bank kasus, turut mempengaruhi konsistensi kualitas penerapan PBL antar sesi. Kelima, secara keseluruhan. PBL dapat disimpulkan sebagai pendekatan yang efektif dan potensial untuk memperkaya program pengenalan perusahaan bagi Management Trainee di PT Krakatau Steel. PBL tidak hanya memperdalam pemahaman organisasi dan membentuk kompetensi awal yang strategis, tetapi juga membuka peluang onboarding berbasis pembelajaran aktif di lingkungan korporasi. Namun, agar potensi tersebut tercapai secara optimal, diperlukan . erutama pengaturan alokasi wakt. , pengembangan kapasitas fasilitator dalam memfasilitasi penyusunan dan pembaruan bank kasus yang relevan dengan dinamika terkini perusahaan. Dengan menegaskan bahwa penerapan PBL dalam program pengenalan perusahaan dapat menjadi salah satu strategi penting bagi organisasi yang ingin mengintegrasikan proses kepemimpinan sejak awal masa penugasan. Daftar Pustaka