JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/jp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. September 2025 Page 957-965 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah PERAN BKM (BADAN KEMAKMURAN MASJID) DALAM MEMAKMURKAN MASJID GAMPONG LIMPOK ACEH BESAR Rafiqul AAola1. Khairul Habibi2. Kamaruddin3 1,2,3 Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Indonesia Email: 210403071@student. ar-raniry. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 23 August 2025 Final Revised: 30 August 2025 Accepted: 10 September 2025 Published: 24 September 2025 Keywords: Role BKM Mosque Prosperity ABSTRACT Mosques are important places for worship and Islamic activities, but they are often under-active, especially in rural areas. This study examines how the Mosque Welfare Agency (BKM) revitalizes the Nurul Huda Mosque in Gampong Limpok. Aceh Besar, and the challenges it faces. The study employed a descriptive qualitative method. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, and related documents. Data were continuously analyzed to identify patterns and conclusions. The results show that the Nurul Huda Mosque, which began operating in 2016 with a large capacity and complete facilities, is revitalized by the competent BKM. The BKM is very active in holding regular religious activities such as religious studies, lectures. Yasinan . he recitation of the Yasi. , and Friday sermons. They also organize social activities such as youth activities, competitions, maulid . he Prophet's birthda. , meetings, and mutual cooperation . otong royon. However, the BKM faces challenges such as a lack of funding, low youth participation, and disagreements among administrators. To address these challenges, the BKM raises funds, collaborates with other institutions, and holds internal meetings. The conclusion is that the BKM of the Nurul Huda Mosque is crucial and has successfully revitalized the mosque through various activities. Despite funding and internal challenges, the BKM continues to strive to make mosques the center of community activities. ABSTRAK Masjid adalah tempat penting untuk ibadah dan kegiatan Islam, tapi seringkali kurang aktif, terutama di desa. Penelitian ini mencari tahu bagaimana Badan Kemakmuran Masjid (BKM) menghidupkan Masjid Nurul Huda di Gampong Limpok. Aceh Besar, dan apa saja Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam, obeservasi langsung, dan dokumen terkait. Data dianalisis terus-menerus untuk menemukan pola dan kesimpulan. Hasil menunjukkan bahwa Masjid Nurul Huda, yang mulai berfungsi tahun 2016 dengan kapasitas besar dan fasilitas lengkap, dihidupkan oleh BKM yang cakap. BKM sangat aktif mengadakan kegiatan keagamaan rutin seperti pengajian, ceramah, yasinan, dan khutbah Jumat. Mereka juga mengadakan kegiatan sosial seperti kepemudaan, lomba, maulid, rapat, dan gotong royong. Namun. BKM menghadapi masalah seperti kurangnya dana, sedikitnya partisipasi anak muda, dan perbedaan pendapat antar pengurus. Untuk mengatasinya. BKM menggalang dana, bekerja sama dengan lembaga lain, dan mengadakan rapat internal. Kesimpulan adalah BKM Masjid Nurul Huda sangat penting dan berhasil menghidupkan masjid melalui berbagai kegiatan. Meskipun ada masalah dana dan internal. BKM terus berusaha menjadikan masjid pusat kegiatan umat. Kata Kunci: Peran BKM. Masjid. Memakmurkan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Peran BKM (Badan Kemakmuran Masji. Dalam Memakmurkan Masjid Gampong Limpok Aceh Besar PENDAHULUAN Seperti yang diketahui Bahwasanya Masjid merupakan tempat yang amat sakral bagi kalangan umat islam. Hampir di setiap lingkungan dan bahkan bisa dikatakan orang-orang berlomba untuk membangun masjid tersebut. Tidak jarang bangunan masjid yang di dirikan pun terlihat begitu besar dan megah dengan berbagai fasilitas yang lengkap dan memadai. Masjid selain tempat beribadah dapat pula difungsikan sebagai tempat kegiatan masyarakat beragama Islam, baik berkaitan dengan sosial keagamaan, sosial kemasyarakatan maupun yang berkaitan dengan sosial ekonomi dan sosial budaya (Al-Ghazali 2. Dalam beberapa pengertian masjid dinamakan juga baitullah . umah Alla. yang wajib dibangun di tanah wakaf yang halal. Pada masa Rasulullah (Nabi Muhammad masjid tidak hanya dijadikan sebagai tempat ibadah, ak an tetapi masjid dijadikan sebagai tempat taAolim, pembangunan ekonomi, sosial kemasyrakatan, dan tempat mengatur strategi ketika Bahkan dikisahkan sebagai tempat latihan perang dan tempat merawat ketika Sahabat lagi sakit (Islam et al. Quraish Shihab mengemukakan bahwa meskipun secara harfiah masjid berarti tempat sujud, akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh. Oleh karena itu, hakikat masjid adalah tempat untuk melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah, yang tidak terbatas pada ibadah ritual saja. Ini mencakup kegiatan sosial, pendidikan, dan ekonomi yang bertujuan untuk kemaslahatan umat (Danik Prahastiwi and Wahyuningsih 2. Namun dengan dimikian semangatnya masyarakat untuk membangun masjid akan tetapi tidak untuk memakmurkannya. Hal ini dapat dilihat dari masjis-masjid pada saat ini, masjid banyak yang sepi bahkan terbengkalai apa lagi yang berada jauh dari daerah kota . Begitu juga terjadi di perdesaan, masjid ramai hanya waktu-waktu tertentu misalnya di waktu sholat maghrib dan sholat isya, dan sholat jumAoat saja, selain waktu sholat itu masjid terlihat sepi dan sunyi (Sucita. Sutjahjo, and Sutantiningrum 2. Di dalam upaya pembinaan pembangunan, kemakmuran dan pemeliharaan yang lebih efektif dan efesien, diperlukan adanya pengurus yang mampu mengelola kegiatan masjid secara menyeluruh dan bertanggung jawab. Pengurus yang dimaksud itu sering dikenal dengan istilah Badan Kemakmuran Masjid (BKM) (Khudhori 2. Badan kemakmuran masjid atau BKM memiliki peran sangat penting guna terciptanya tata kelola kemakmuran masjid. Memakmurkan masjid merupakan suatu amanah yang diperintahkan Allah SWT (Wulandari. Sawarjuwono, and Iswati 2. Sebagaimana yang tertera pada Alquran surah At-Taubah ayat 18. ca aEa aOaOA A au acEA ca AcEE aO eE aO eO aI eE a a aOaCa aI EA a ca AcEE aI eI aI aI aA a ca A aA a Aa acI aI aO e aI a aIA a AEEaa aOEa eI aO eA a AA aAO a OEaAeaEa aI OaEaOIA a AO aI aI eE aI eNaA AaOIA a aAcEEa a ca Artinnya : Sesungguhnya yang memakmurkan Masjid Allah adalah orang-orang yang beriman dan hari kemudian ( hari akhir ), serta tetap melaksanakan sholat, menunaikan zakat serta tidak takut kepada apapun kecuali Allah SWT. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Peran BKM (Badan Kemakmuran Masji. Dalam Memakmurkan Masjid Gampong Limpok Aceh Besar Salah satu bentuk iman dan implementasinya ialah dengan memakmurkan masjid. Hal ini disebutkan dalam surah At-Taubah 18 bahwa terdapat hubungan antara memakmurkan masjid dengan keimanan seseorang. Segala bentuk usaha seorang muslim untuk memakmurkan masjid adalah sebuah representasi dari keimanan kepada Allah SWT dan hari akhir. Dalam ungkapan yang sederhana, hanya orang-orang yang memiliki kemantapan iman yang bisa dan layak untuk memakmurkan masjid. Secara bersamaan untuk mengaktualisasikan fungsi masjid secara maksimal. Dengan menumbuhkan lingkungan fisik yang nyaman dan terpelihara dengan cermat, di samping beragam inisiatif fungsional seperti sesi pendidikan reguler, pertemuan, dan kegiatan keterlibatan masyarakat, masjid dapat berkembang dari tempat ibadah menjadi pusat Setidaknya terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi para pengurus masjid dalam mengelola dan memakmurkan masjid diantara yaitu, perlunya pemahaman akan pentingnya peran dan fungsi masjid sebagai wadah dalam perbaikan umat, mengaktifkan dan mengoptimalkan kepengurusan masjid, mengaktifkan kegiatan masjid, meningkatkan kepedulian terhadap amanah masjid, dan meningkatkan kualitas manajemen masjid serta pemeliharaan fisik masjid. Tentunya harus ada pembenahan internal dari pengurus masjid itu sendiri (Fitri 2. Sedangkan dalam proses memakmurkan masjid merupakan upaya komprehensif yang menekankan tidak hanya pemeliharaan fisik, yang mencakup pemeliharaan kebersihan dan integritas fasilitas infrastruktur, tetapi juga stimulasi kegiatan keagamaan dan komunal. Dimensi ganda ini harus beroperasi untuk gerakan, pendidikan, dan pengembangan masyarakat yang melayani kepentingan seluruh penduduk (Endah Tri Wahyuningsih 2. Manajemen masjid harus mematuhi kerangka strategis yang jelas yang menetapkan mereka sebagai pusat peradaban dan keterlibatan komunal yang signifikan, menangani aspek-aspek seperti ibadah, pendidikan, interaksi sosial, dan pemberdayaan ekonomi, sehingga mempromosikan kapasitas mereka sebagai katalis untuk transformasi sosial yang konstruktif(Omar. Hussin, and Muhammad 2. Untuk mencapai tujuan ini, para pengurus masjid harus membenahi manajemen internal mereka, mulai dari mengaktifkan kepengurusan hingga meningkatkan kepedulian terhadap amanah. Selain itu, kemakmuran masjid harus mencakup dua aspek utama: pemeliharaan fisik . ebersihan, kerapian, dan fasilita. dan pengaktifan kegiatan fungsional . ajian, pendidikan, dan interaksi sosia. Dengan visi yang jelas, masjid dapat bertransformasi menjadi agen perubahan positif yang mampu menggerakkan umat dalam bidang pendidikan, sosial, bahkan pemberdayaan ekonomi, demi kemaslahatan seluruh Di Kabupaten Aceh Besar Kecamatan Darussalam Gampong Limpok terdapat sebuah Masjid yang bernama Nurul Huda. Masjid Nurul Huda merupakan masjid yang cukup besar dan strategis, terletak di antara Universitas Syiah Kuala dan Universitas Islam Negeri ArRaniry. Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah masyarakat Gampong Limpok, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial. Badan Kemakmuran Masjid (BKM) berperan penting dalam mengelola dan memakmurkan masjid. Berangkat dari fenomena tersebut berdasarkan lokasi masjid yang sangat strategis maka sangat penting untuk dilakukan penelitian lebih dalam mengenai Peran BKM Dalam Memakmurkan Masjid Nurul Huda Gampong Limpok Aceh Besar. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Peran BKM (Badan Kemakmuran Masji. Dalam Memakmurkan Masjid Gampong Limpok Aceh Besar METODE PENELITIAN Untuk penelitian ini, kami menggunakan metode kualitatif deskriptif (Lesko. Fox, and Edwards 2. Ini berarti kami ingin menggambarkan dan memahami secara mendalam bagaimana Masjid Nurul Huda dikelola dan kegiatan apa saja yang dilakukan, bukan untuk menguji teori atau menghitung seberapa banyak sesuatu terjadi. Kami melihat langsung apa yang ada di lapangan. Penelitian ini dilakukan di Masjid Nurul Huda. Gampong Limpok. Kecamatan Darussalam. Kabupaten Aceh Besar. Untuk mendapatkan informasi yang lengkap, kami mengumpulkan data dari berbagai sumber. Kami melakukan wawancara langsung dengan Ketua BKM Masjid (Tgk. Mustafa. MA), beberapa perwakilan jamaah yang tahu banyak tentang sejarah masjid, dan juga pengelola atau pengajar TPA yang menjalankan program dari BKM. Selain wawancara, kami juga melakukan observasi langsung di Masjid Nurul Huda selama beberapa waktu untuk melihat sendiri kegiatan yang ada. Data tambahan kami dapatkan dari dokumen, buku, jurnal, dan artikel yang berkaitan dengan topik ini. Setelah semua data terkumpul, kami menganalisisnya secara terus-menerus selama proses penelitian. Kami mulai dengan memilah dan merangkum semua informasi penting dari wawancara dan observasi (SR 2. Lalu, kami mengatur data ini agar mudah dipahami, mencari pola atau tema yang berulang, dan akhirnya menarik kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan. Proses ini kami lakukan secara bolak-balik untuk memastikan akurasi data. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara langsung dengan Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Nurul Huda, diperoleh informasi bahwa Masjid Nurul Huda Gampong Limpok. Aceh Besar, pertama kali didirikan pada tahun 2014. Pada awal pendiriannya, masjid ini belum sepenuhnya fungsional. Peresmian penggunaan Masjid Nurul Huda baru terlaksana pada tahun 2016, ditandai dengan pelaksanaan salat Jumat berjamaah untuk pertama Masjid ini dirancang dengan kapasitas daya tampung lebih dari 500 jamaah dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas esensial. Fasilitas tersebut meliputi tempat berwudu, kamar mandi dan toilet, tempat Imam, ruang utama salat, mimbar khatib, area parkir yang memadai, dan sistem pengeras suara. Observasi di lapangan menunjukkan bahwa jamaah shalat Jumat yang hadir berasal dari beragam wilayah, termasuk warga Gampong Limpok. Gampong Lamreung, serta berbagai gampong lainnya di sekitar. Selain itu, berdasarkan wawancara dengan pengurus BKM Nurul Huda, diketahui bahwa kepengurusan BKM terdiri dari individu dengan berbagai latar belakang yang berbeda, dan mayoritas pengurus BKM teridentifikasi memiliki kompetensi yang cukup dalam menjalankan tugas-tugasnya. Setelah proses pembangunan selesai sepenuhnya, pihak BKM aktif berupaya menciptakan beragam kegiatan guna memakmurkan masjid. Ketua BKM mengemukakan bahwa masjid Nurul Huda sudah memiliki berbagai macam kegiatan keagaman guna untuk memakmurkan masjid. Seperti halnya kegiatan rutin seperti pengajian, yasinan, ceramah pada baAoda shalat subuh, dan khutbah jumAoat. Selanjutnya masih ada kegiatan yang berkaitan dengan memakmurkan masjid tetapi kegiatan tersebut di laksanakan di meunasah . guna agar meunasah tidak kosong dan terbengkalai, seperti tempat ngaji untuk anak-anak (TPA). Namun, masih ada sedikit tantangan dan hambatan yang dihadapi pengurus BKM, walaupun sudah memainkan perannya dengan semaksimal mungkin. Seperti terkendala Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Peran BKM (Badan Kemakmuran Masji. Dalam Memakmurkan Masjid Gampong Limpok Aceh Besar sumber daya keuangan, kurangnya partisipasi anak muda, dan masih ada kesalah pahaman antara pengurus, ungkap ketua BKM. Pembahasan Interpretasi Proses Pembangunan dan Fungsi Masjid Nurul Huda Penundaan fungsionalitas Masjid Nurul Huda dari awal pembangunan di tahun 2014 hingga peresmiannya pada tahun 2016 mengindikasikan adanya tantangan signifikan dalam proses penyelesaian infrastruktur. Situasi ini dapat diinterpretasikan sebagai refleksi dari berbagai faktor yang mungkin memengaruhi proyek pembangunan berbasis komunitas, seperti keterbatasan sumber daya . ana atau materia. atau dinamika pengelolaan swadaya masyarakat yang kompleks. Kondisi serupa seringkali dijelaskan dalam studi tentang pembangunan fasilitas umum di daerah pedesaan, di mana inisiatif masyarakat sering menghadapi kendala logistik dan finansial (Hussain et al. Kapasitas masjid yang mampu menampung lebih dari 500 jamaah, sebagaimana terbukti dari jangkauan jamaah yang meliputi berbagai gampong, secara jelas menunjukkan peran strategis Masjid Nurul Huda sebagai pusat ibadah dan simpul sosial yang vital. Fenomena ini selaras dengan konsep "masjid sebagai pusat peradaban"(Wahyudin 2. , yang diusung oleh berbagai pemikir Islam, di mana masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat, melainkan juga sebagai pusat kegiatan keagamaan, sosial, dan bahkan ekonomi bagi masyarakat sekitar (Nafiah. Sopingi, and Raharjo 2. Kelengkapan fasilitas internal dan eksternal, seperti tempat wudu dan area parkir yang memadai, secara langsung berkontribusi pada kenyamanan dan aksesibilitas jamaah, yang pada gilirannya dapat mendorong partisipasi aktif dan menjaga keberlangsungan kegiatan keagamaan di masjid (Astuti et al. Aspek ini penting dalam mendukung prinsip inklusivitas masjid. Kompetensi Pengurus BKM dan Implikasinya pada Pengelolaan Masjid Kepengurusan BKM Nurul Huda yang heterogen, terdiri dari individu dengan berbagai latar belakang sosial dan pendidikan . ebagaimana dijelaskan pada bagian Hasi. , secara inheren menyiratkan adanya perbedaan kapasitas dan kompetensi yang beragam di antara para pengurus. Karakteristik sumber daya manusia ini berimplikasi signifikan terhadap efektivitas pengelolaan Sebuah masjid dengan pengelolaan yang optimal cenderung didukung oleh pengurus yang memiliki pemahaman teoritis dan pengalaman praktis yang memadai, khususnya dalam merumuskan, menetapkan, dan mengimplementasikan program-program strategis untuk memakmurkan masjid (Supardin. Prabowo, and Indratno 2. Fakta bahwa mayoritas pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Nurul Huda teridentifikasi memiliki kompetensi yang memadai merupakan aset berharga yang mengindikasikan potensi besar untuk pengembangan di masa depan. Kompetensi yang dimiliki ini mencakup kemampuan dalam merumuskan visi, merencanakan kegiatan, hingga mengelola operasional sehari-hari. Dengan modal sumber daya manusia yang mumpuni. BKM Nurul Huda memiliki landasan kuat untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan Ini tidak hanya menjamin keberlanjutan program-program yang sudah berjalan, tetapi juga membuka peluang untuk melahirkan inisiatif-inisiatif baru yang lebih inovatif dan relevan, sehingga masjid dapat berfungsi optimal sebagai pusat ibadah dan pusat kegiatan umat (Rahmi. Patoni, and Sulistyorini 2. Peran BKM dalam Upaya Memakmurkan Masjid Keberadaan BKM memiliki peran fundamental dalam menggerakkan aktivitas masjid. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Peran BKM (Badan Kemakmuran Masji. Dalam Memakmurkan Masjid Gampong Limpok Aceh Besar baik di lingkungan internal ibadah maupun dalam lingkup sosial yang lebih luas. Berbagai program yang diinisiasi dan dilaksanakan oleh pengurus BKM, kegiatannya pun memiliki berbagai kegiatan seperti halnya kegiatan pengajian di setiap malam senin dan malam kamis, ceramah subuh dua pekan sekali khusus di shubuh ahad, yasinan di setiap hari kamis atau malam jumAoat baAoda sholat maghrib, khutbah jumAoat, tempat mengaji anak-anak saat sore hari dan juga kegiatan di hari besar islam hal ini sesuai dengan kegiatan-kegiatan keagamaan yang diadakan di masjid (Ramadhanti. Abbas, and Jumriani 2. Selain kegiatan keagamaan pengurus BKM juga melakukan berbagai kegiatan sosial seperti kegiatan kepemudaan, kegiatan perlombaan, maulid, rapat-rapat, dan gotong royong. Namun, pencapaian tujuan luhur ini sangat bergantung pada tingkat komitmen dan keseriusan yang dimiliki oleh pengurus dalam merumuskan dan melaksanakan langkahlangkah strategis. Tanpa dedikasi yang kuat, kemakmuran masjid berisiko tidak terwujud secara optimal, dan aktivitas yang dilakukan dapat mereduksi menjadi sekadar seremonial Ini menegaskan bahwa pengelolaan masjid merupakan aspek krusial yang memerlukan perhatian serius, mengingat fungsinya sebagai pusat kegiatan multidimensional yang harus memberikan nilai kemaslahatan komprehensif bagi umat. Dalam konteks ini. BKM mengemban tanggung jawab utama terhadap keberhasilan implementasi berbagai program masjid (Widartik. Fitri, and Suryandari 2. Upaya aktif BKM dalam menciptakan beragam kegiatan setelah masjid selesai sepenuhnya, seperti yang juga ditemukan pada bagian Hasil, adalah manifestasi dari strategi proaktif dalam memakmurkan masjid. Pendekatan ini relevan dengan teori manajemen masjid modern yang menekankan pentingnya program berkelanjutan untuk menjaga relevansi dan vitalitas masjid di tengah masyarakat, melampaui fungsi ibadah semata (Jaya Optimalisasi dan maksimisasi seluruh potensi sumber daya manusia dalam kepengurusan BKM adalah faktor penentu utama bagi dampak signifikan terhadap kemakmuran masjid. Pengurus memiliki peran sentral dalam memfasilitasi terlaksananya kegiatan memakmurkan masjid melalui program-program yang mereka rancang, sehingga keberadaan mereka dapat memberikan manfaat substansial bagi para jamaah masjid, serta memperkuat posisi masjid sebagai pusat aktivitas sosial dan keagamaan yang dinamis (Puri et al. Langkah-langkah ini secara langsung menjawab tujuan penelitian terkait peran BKM dalam memakmurkan masjid di Gampong Limpok. Tantangan dan Upaya Mengatasinya dalam Mengoptimalkan Kegiatan Keagamaan Walaupun terlihat pengurus BKM sudah memainkan perannya sebaik mungkin Namun, kalau berbicara tentang hambatan dan tantangan tentu masih terdapat sedikit tantangan dan hambatan yang dihadapi pengurus BKM. Terutama, sumber daya keuangan yang terbatas menghadirkan hambatan signifikan untuk orkestrasi acara skala besar atau keterlibatan reguler pembicara eksternal. Hal ini digaungkan dalam penelitian yang menyoroti bahwa keterbatasan keuangan dapat berasal dari biaya operasional yang tinggi dan akses terbatas ke modal, terutama untuk organisasi kecil(Aleke 2. kurangnya partisipasi anak muda, dan masih terdapat perbedaab pendapat antara kepengurusan BKM. Menanggapi tantangan tersebut. BKM telah melakukan berbagai inisiatif. Mengenai kendala keuangan. BKM secara aktif terlibat dalam kegiatan penggalangan dana yang ditujukan kepada jemaAoah dan dermawan, selain membentuk kemitraan dengan organisasi filantropi Islam. BKM juga sudah berupaya untuk memaksimalkan memainan perannya agar anak muda ikut berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan guna untuk memakmurkan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Peran BKM (Badan Kemakmuran Masji. Dalam Memakmurkan Masjid Gampong Limpok Aceh Besar masjid, dan untuk perbedaan pendapat pihak BKM berupaya melakukan kegiatan rapat guna untuk meminimalisir keretakan yang ada pada anggota pengurus BKM sehingga masalah tidak larut dan terjadinya perpecahan. KESIMPULAN Badan Kemakmuran Masjid (BKM) memegang peranan krusial dalam mengoptimal kan fungsi masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial. Keberadaan BKM sangat esensial untuk memastikan masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan juga menjadi wadah pengembangan spiritual dan komunitas. Melalui berbagai program dan inisiatif. BKM berupaya menarik jamaah dan masyarakat luas untuk berpartisipasi aktif, sehingga menciptakan lingkungan masjid yang hidup dan dinamis. Tanpa pengelolaan yang efektif dari BKM, potensi masjid untuk memberikan dampak positif kepada umat akan sulit tercapai secara maksimal. Penelitian menunjukkan bahwa BKM Nurul Huda telah berupaya semaksimal mungkin dalam menjalankan perannya, terbukti dengan munculnya beragam kegiatan keagamaan yang semarak. Inisiatif ini mencakup pengajian rutin, ceramah agama, pendidikan Al-Quran, serta peringatan hari besar Islam, yang semuanya berkontribusi pada peningkatan kualitas spiritual jamaah. Namun. BKM Nurul Huda juga menghadapi tantangan signifikan, terutama terkait keterbatasan sumber daya keuangan dan perbedaan pendapat di antara anggota kepengurusan. Hambatan-hambatan ini memerlukan strategi adaptif dan komunikasi yang kuat untuk tetap menjaga momentum kemakmuran masjid dan memastikan keberlanjutan program-program yang telah berjalan. REFERENSI