4089 JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG MP ASI DI PUSKESMAS PURWOKERTO TIMUR II Oleh: Noor Yunida Triana1. Siti Haniyah2. Purwatiningsih3 1,2,3Program Studi Keperawatan Program Sarjana. Universitas Harapan Bangsa E-mail: 1nooryunida@uhb. Article History: Received: 03-06-2023 Revised: 23-06-2023 Accepted: 14-07-2023 Keywords: MP ASI, pendidikan kesehatan, tingkat Abstract: Salah satu cara melengkapi kebutuhan gizi anak dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) yang tepat. Salah satu penyebab ketidaktepatan pemberian MP ASI yaitu pengetahuan ibu yang kurang. Pemberian pendidikan kesehatan dengan metode tepat dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang MP ASI. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan metode demonstrasi terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang MP ASI. Metode penelitian kuantitatif dengan pre-experimental design dengan pendekatan with control group design pre-test and post-test design. Populasi penelitian ini yaitu ibu yang memiliki balita usia 6-24 bulan, dengan tehnik purposive sampling. Besar sampel 50 responden yang terbagi menjadi 25 kelompok eksperimen dan 25 kelompok kontrol. Analisi bivariate dengan paired sample t-test didapatkan hasil p value 0,000 . <0,. Artinya, terdapat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan ibu. Sebaiknya dilakukan pendidikan secara berkala untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara merawat balita. PENDAHULUAN Gizi merupaan sesuatu yang sangat penting dalam proses perkembangan dan pertumbuhan bayi, karena gizi berkaitan erat dengan kecerdasan dan kesehatan. Bayi akan lebih mudah mengalami infeksi jika kekurangan gizi . Balita yang mengalami kekurangan gizi dapat beresiko menimbulkan gangguang pertumbuhan dan perkembangan yang berdampak pada masa depan anak . United Nations International ChildrenAys Emergency Fund (UNICEF) pada tahun 2021 menjelaskan bahwa pada tahun 2020, angka kejadian stunting pada balita sebesar 22% . ,2 juta ana. angka kejadian stunting lebih tinggi di Asia sejumlah 53%. Indonesia menduduki peringkat 29 di dunia dengan jumlah kejadian stunting pada balita . Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2021, didapatkan data bahwa sejumlah 160. ,4%) balita dengan berat badan kurang, sejumlah 126. ,1%) balita gizi buruk dan sebanyak 492. ,3%) balita gizi kurang. Prevalensi status gizi di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2020 yaitu gizi buruk 1,1% dan gizi kurang 5% lebih tinggi dibandingkan Jawa Barat. Derah Istimewa Yigyakarta dan Jawa Timur . http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 Status gizi pada balita dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik secara langsung maupun tidak langsung. Faktor yang memengaruhi status gizi secara langsung antara lain adanya penyakit infeksi dan asupan makanan. Sedangkan faktor tidak langsung meliputi pola asuh, pendidikan, pengetahuan, ketersediaan pangan, sikap, perilaku, sanitasi lingkungan dan pelayanan kesehatan . Pemenuhan gizi yang baik dimulai dari pemberian ASI Ekslusif pada bayi. Kemudian dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI (MP ASI). Makanan pendamping ASI bermanfaat untuk memenuhi nutrisi dan gizi yang baik untuk meningkatkan otak dan tumbuh kembang. Menurut Mufida dalam Mirania dan Louis . pemberian MP ASI yang baik dapat membantu perkembangan dan pertumbuhan bayi dengan baik. Hal ini penting untuk perkembangan kecerdasan dan pertumbuhan fisik pada periode ini . Asupan MP ASI yang tepat, secara langsung akan memengaruhi status gizi anak. Sejumlah 71,5% anak yang mengalami gizi kurang tidak mendapatkan asupan MP ASI yang adekuat . Dalam mencegah terjadinya berbagai gangguan gizi dan masalah psikososial, diperlukan adanya perilaku penunjang dari para orang tua, khususnya pengetahuan dan keterampilan ibu dalam memberikan MP ASI. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan ibu yaitu dengan adanya pemebrian pendidikan kesehatan. Terdapat berbagai macam media pendidikan kesehatan seperti televise, video bergambar dan media cetak . Selain itu juga bisa dilakukan dengan metode demonstrasi yang bisa dilihat secara langsung oleh peserta pendidikan kesehatan. Berdasarkan hasil prasurvei yang dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Purwokerto Timur II, didapatkan data bahwa kejadian gizi kurang sejumlah 12,6% dan kurus sejumlah 9,3%. Angka kejadian ini lebih tinggi dibandingkan dengan Wilayah Kerja puskesmas Somagede yaitu gizi kurang 3,3% dan kurus 1,9%. Hal ini bisa saja dikarenakan masih kurangnya pengetahuan orangtua mengenai pentingnya memenuhi status gizi balita, salah satunya pemberian MP ASI. Berdasarkan hasil wawancara, didapatkan data bahwa ibu balita di wilayah kerja tersebut sudah pernag mendapatkan penyuluhan kesehatan mengenai MP ASI, tetapi belum detail hingga cara memasak dan menyajikan MP ASI tersebut. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang AuPengaruh pendidikan kesehatan metode demonstrasi terhadap pengetahuan ibu tentang MP ASI di Wilayah Kerja Purwokerto Timur II. LANDASAN TEORI Pendidikan kesehatan adalah upaya memengaruhi atau mengajak orang lain . ndividu, kelompok dan masyaraka. agar berperilaku hidup sehat. Secara oeprasional pendidikan kesehatan merupakan suatu kegiatan untuk memberikan atau meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya . Beberapa metode dalam pemberian pendidikan kesehatan kepada masyarakat, antara lain . : metode pendidikan individual, metode pendidikan kelompok dan metode pendidikan massa. Metode pendidikan individual digunakan karena masalah kesehatan yang berbeda-beda. Metode pendidikan kelompok dapat dilakukan dengan cara kelompok besar dan kelompok kecil. Metode pendidikan massa efektif dilakukan pada seluruh lapisan masyarakat seperti ceramah umum, pidato, tulisan dimajalah, koran, spanduk, poster dan a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 Pengetahuan adalah hasul tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan tersebut terjadi melalui pancaindera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan Sebagian nesar pengetahuan diperoleh dengan mata dan telinga . Berdasarkan . pengetahuan tercakup dalam domain kognitif yang mempunyai enam tingkatan, yaitu: tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Pengetahuan dapat kita lakukan dengan wawancara atau dengan menanyakan materi. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi pengetahuan, antara lain: umur, pendidikan, media massa/informasi, soail budaya dan ekonomi, lingkungan, dan pengalaman. Makanan pendamping ASI (MP ASI) adalah makanan yang diberikan kepada bayi bersamaan dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sampai dengan anak usia 2 tahun. Pemberian MP ASI yang baik harus memenuhi syarat yaitu waktu yang tepat. Makanan pendamping ASI yang diberikan terlalu dini dapat menyebabkan gangguan pencernaan pada bayi, karena saluran pencernaan bayi secara fisiologis belum siap dalam menerima makanan padat, sehingga dapat menyebabkan diare atau konstipasi . Perilaku ibu dalam memberikan MP ASI dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu rendahnya pengetahuan ibu mengenai MP ASI, sosial budaya yang mendorong pemberian MP ASI dini, pemasaran progresif produsen makanan bayi, ibu bekerja dan kurangnya dukungan petugas kesehatan. Selain MP ASI tidak boleh diberikan terlalu dini. MP ASI juga tidak boleh diberikan terlalu lambat karena dapat berdampak pada kurangnya kebutuhan nutrisi anak . Pemberian MP ASI juga harus memperhatikan kebutuhan nutrisi anak. Kandungan MP ASI harus mencakup semua zat gizi yang dibutuhkan antara lain: karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air dengan memperhatikan kebersihan dan keamanan bagi bayi . Tekstur MP ASI harus disesuaikan dengan umur anak dimulai dari tekstur yang encer, lembek sampai padat. Selain itu, pengolahan dan langkah-langkah memasak MP ASI juga berpengaruh terhadap kualitas MP ASI sehingga dalam mengolah MP ASI harus dengan cara yang tepat agar tidak merusak gizi . Anak yang tidak mendapatkan ASI bisa diberikan tambahan susu formula 1-2 gelas/hari dan 1-2 cemilan/hari. Makanan cemilan yang dimaksud adalah makanan sehat seperti bubur kacang hijau, nagasari, pisang rebus, dan sebagainya. Bahan makanan MP ASI harus mengandung jenis makanan pokok . agung, singkong, sagu, ubi jalar, talas, kentang dan lain-lai. kacang-kacangan . acang tanah, kacang hijau, kedelai, kacang merah, dan lainlai. bahan pangan hewani . aging sapi, ayam, telur, ikan, susu, telur, kej. ortel, tomat, bayam, dan lain-lai. , buah-buahan . apaya, pisang, jeruk, dan lain-lai. serta lemak dan minyak . inyak, santan, dan lain-lai. dengan seimbang . METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif dengan metode quasy experimental design dengan rancangan pretest-posttest with control design, merupakan suatu penelitian eksperimen semu dengan melakukan pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat karena dapat mengetahui akibat dari perlakuan yang diberikan . Pengumpulan dara dalam penelitian ini baik variabel terikat maupun variabel bebas dilakukan secara cross a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 Pendekatan cross sectional artinya data diambil secara bersama-sama atau sekaligus . Populasi dalam penelitian ini adalah responden yang memiliki balita usia 6-24 Sampel dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Keterangan: N1=N2 X1-X2 : Besar Sampel : Deviasi baku alpha : Deviasi baku Betha : Simpangan Baku dari selisih nilai antar kelompok : Simpangan minimal rerata yang dianggap bermakna (Z Z)S 2 X1-X2 ,96 0,. 5,882 3,50 N = 27,65 dibulatkan menjadi 28 Responden yang dilibatkan sejumlah 50 responden dengan pembagian, 25 responden kelompok intervensi dan 25 responden sebagai kelompok kontrol. Sampel yang diambil sesuai dengan kriteria inklusi antara lain: ibu yang memiliki anak usia 6-24 bulan dan ibu yang hadir di Balai Desa pada saat pelaksanaan penelitian. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari analisis univariat dan Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel. Analisis univariate disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi . Analisis bivariate yang akan dilakukan untuk melihat pengaruh pemebrian pendidikan eksehatan terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang MP ASI menggunakan Paired T-Test. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 Teknik pengumpulan data dilakukan dapat dilihat melalui diagram berikut: Peneliti mengurus ijin penelitian dengan pihak terkait Peneliti melakukan penetapan sampel dengan menggunakan tehnik sampling yaitu purposive sampling, dimana tehnik ini menggunakan kriteria khusus sejumlah 50 Peneliti mengambil sampel dari beberapa posyandu sesuai dengan jumlah sampel, dilanjutkan koordinasi dengan bidan desa dan memberikan informed consent. Peneliti mengumpulkan responden di balai desa bersama bidan desa, kader dan mahasiswa untuk membantu penyebaran kuesioner tingkat pengetahuan sebelum diberikan pendidikan kesehatan Selanjutnya peneliti bersama asisten peneliti memberikan pendidikan kesehatan mengenai MP ASI kemudian melakukan demonstrasi Peneliti kembali memebrikan kuesioner tingkat pengetahuan ibu setelah pemberian Pengolahan data Penyebaran kuesioner tingkat pengetahuan kepada kelompok kontrol Data yang terkumpul dianalisis Gambar 1. Tehnik Pengambilan Data HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2022 di Puskesmas Purwokerto Timur II. Berikut hasil penelitian yang dilakukan: Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan . pada kelompok intervensi Tingkat pengetahuan ibu tentang MP ASI sebelum dilakukan penkes metode demonstrasi pada kelompok intervensi di Wilayah Kelurahan Purwokerto Timur II Tabel 1 Distribusi tingkat pengetahuan ibu tentang MP ASI sebelum dilakukan penkes metode demonstrasi pada kelompok intervensi . http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 Tingkat Pengetahuan Sebelum pemberian penkes (%) Baik Cukup Kurang Berdasarkan tabel 1 tersebut dapat diketahui bahwa tingkat pengetahuan sebelum diberikan penkes metode demonstrasi yang paling dominan adalah tingkat pengetahuan cukup sebanyak 20 responden . %). Asumsi peneliti terhadap hasil penelitian ini adalah tingkat pengetahuan yang dimiliki responden sebelum diberikan pendidikan eksehatan didapatkan dari pengalaman selama hidup atau mendapat informasi dari keluarga. Pengetahuan yang dimiliki ibu menjadi dasar dalam menyiapkan, memasak dan menyajikan MP ASI. Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan responden setelah dilakukan pendidikan kesehatan pada kelompok intervensi Tingkat pengetahuan ibu tentang MP ASI sebelum dilakukan penkes metode demonstrasi pada kelompok intervensi di Wilayah Kelurahan Purwokerto Timur II Tabel 2 Distribusi tingkat pengetahuan ibu tentang MP ASI setelah dilakukan penkes metode demonstrasi pada kelompok intervensi . Tingkat Pengetahuan Setelah pemberian penkes (%) Baik Cukup Kurang Berdasarkan tabel 2 tersebut dapat diketahui bahwa tingkat pengetahuan setelah diberikan penkes metode demonstrasi yang paling dominan adalah tingkat pengetahuan baik sebanyak 17 responden . %). Hal ini menunjukkan adanya perubahan yang signifikan antara pre dan post dilakukan intervensi. Asumsi peneliti terhadap hasil penelitian ini yaitu setelah mendapatkan informasi dengan melihat demonstrasi langsung, maka ibu semakin paham mengenai hal-hal yang berkaitan dengan MP ASI. Demonstrasi pada kesempatan ini meliputi cara penyiapan bahan makanan, mengolah dan menyimpan MP ASI dengan tepat. Dengan praktik secara langsung, maka tingkat pengetahuan responden menjadi lebih baik. Hal ini sejalan dengan teori . , yang menjelaskan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi tingkat pengetahuan individu yaitu adanya informasi. Informasi yang diberikan secara langsung disertai praktik, dapat meningkatkan penyerapan ilmu hampir Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan responden sebelum pada kelompok Tingkat pengetahuan ibu tentang MP ASI sebelum pada kelompok kontrol di Wilayah Kelurahan Purwokerto Timur II a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 Tabel 3 Distribusi tingkat pengetahuan ibu tentang MP ASI sebelum pada kelompok kontrol . Tingkat Pengetahuan Pretest (%) Baik Cukup Kurang Berdasarkan tabel 3 tersebut dapat diketahui bahwa tingkat pengetahuan sebelum yang paling dominan adalah tingkat pengetahuan cukup sebanyak 20 responden . %). Peneliti berasumsi bahwa tingkat pengetahuan responden dalam kategori cukup karena mendapatkan informasi dari keluarga maupun mendapatkan pengalaman sebelumnya. Ibu di daerah perkotaan lebih cepat dan lebih mudah mengakses informasi dari internet, sehingga cukup banyak ibu yang memiliki pengetahuan yang tepat tentang MP ASI. Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan responden setelah pada kelompok Tingkat pengetahuan ibu tentang MP ASI setelah dilakukan penkes metode demonstrasi pada kelompok kontrol di Wilayah Kelurahan Purwokerto Timur II Tabel 4 Distribusi tingkat pengetahuan ibu tentang MP ASI setelah i pada kelompok kontrol . Tingkat Pengetahuan Posttest (%) Baik Cukup Kurang Berdasarkan tabel 4 tersebut dapat diketahui bahwa tingkat pengetahuan setelah yang paling dominan adalah tingkat pengetahuan cukup sebanyak 24 responden . %). Tingkat pengetahuan pre dan post pada kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan yang Peneliti berasumsi bahwa kelompok kontrol tidak mendapatkan informasi lebih tentang MP ASI yang tepat selain dari pengalaman dan pengetahuan mendasar yang dimiliki ibu. Responden pada kelompok kontrol tidak mendapatkan penkes, artinya tidak mendapat informasi tambahan, sehingga wajar jika tidak ada perbedaan pre dan post tes pada kelompok kontrol. Pengaruh pendidikan kesehatan metode demonstrasi terhadap tingkat pengetahuan tentang MP ASI pada ibu balita di Wilayah Kerja Puskesmas Purwokerto Timur II Tingkat pengetahuan setelah diberikan pendidikan kesehatan MP ASI pada ibu yang mempunyai balita di Wilayah Kerja Puskesmas Purwokerto Timur II diukur untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah dilaksanakan penkes. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 Tabel 5 Distribusi pengaruh pendidikan kesehatan metode demonstrasi terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang MP ASI di Wilayah Kerja Puskesmas Purwokerto Timur II . Kategori Mean St Dev p value Pengetahuan Eksperimen Sebelum 2,20 0,000 0,510 Sesudah 2,68 Pengetahuan Kontrol Sebelum 1,80 0,374 0,043 Sesudah 1,96 Berdasarkan tabel 5 tersebut dapat diketahui bahwa hasil analisis dengan menggunakan t-test didapatkan hasil untuk kelompok intervensi p value 0,000 . < 0. sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya, terdapat pengaruh pendidikan eksehatan dengan metode demonstrasi terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang MP ASI di Wilayah Kerja Puskesmas Purwokerto Timur II. Sedangkan analisis untuk kelompok kontrol didapatkan p value 0. < 0. , sehingga H0 ditolak yang artinya terdapat perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan setelah pada kelompok kontrol. Asumsi dari peneliti yaitu dengan pemberian pendidikan eksehatan dengan metode demonstrasi secara langsung, dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang MP ASI. Adanya peningkatan tingkat pengetahuan menunjukkan bahwa pendidikan eksehatan penting dilakukan di masyarakat. Tujuan adanya pendidikan kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan tentang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat. KESIMPULAN Terdapat pengaruh yang siginifikan pemberian pendidikan kesehatan metode demonstrasi terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang MP ASI di Wilayah Kerja Puskesmas Purwokerto Timur II dengan p value 0,000 . < 0. Berdasarkan hal tersebut maka disarankan pihak puskesmas dan kader memberikan pendidikan kesehatan tentang gizi pada ibu balita secara berkala. PENGAKUAN/ACKNOWLEDGEMENTS Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Kepala Puskesmas Purwokerto Timur II yang telah memberikan fasilitas dan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian tentang MP ASI. Selain itu juga kepada Kepala Desa Purwokerto Lor yang telah menyediakan tempat untuk kegiatan pendidikan kesehatan dan demonstrasi. Terima kasih kepada pihak LPPM Universitas Harapan Bangsa yang telah memberikan dana untuk kegiatan Penelitian Dosen. Terima kasih kepada bidan desa dan para kader, serta ibuibu balita yang telah bersedia hadir dalam kegiatan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA