JURNAL BASICEDU Volume 9 Nomor 6 Tahun 2025 Halaman 1721 - 1728 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Upaya Guru Meningkatkan Kemandirian dan Minat Belajar Siswa Sekolah Dasar Afriantoni1. Nurazizah2A. Desi Meliani3. Yuni Salsabila4. Muhammad Hafiz Alziqri5 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Universitas Negeri Raden Fatah Palembang. Indonesia1,2,3,4,5 E-mail: afriantoniuin@gmail. id1, nura2739549@gmail. com2, desiimeliani@gmail. yunislsbl06@gmail. com4, hafizcraft12@gmail. Abstrak Pendidikan menghasilkan generasi yang cerdas, mandiri, dan berkarakter. Namun, faktanya adalah bahwa siswa kurang tertarik dan tidak mampu belajar sendiri. Akibatnya, peran guru lebih dari sekadar pengajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana guru membantu, mendorong, dan membimbing siswa dalam meningkatkan minat dan kemandirian belajar mereka. Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dengan meninjau berbagai literatur terkait. Hasil studi kepustakaan bahwa guru berperan strategis dalam meningkatkan pembelajaran dengan memberikan motivasi yang tepat, menerapkan strategi pembelajaran yang berbeda, melakukan upaya sistematis untuk menerapkan aturan kelas, membentuk kelompok belajar, dan memberikan Literatur menunjukkan kecenderungan strategi-strategi ini dapat meningkatkan motivasi siswa, keaktifan, dan kemandirian mereka selama proses pembelajaran. Hasil ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya bergantung pada penguasaan materi tetapi juga pada kemampuan guru untuk mengintegrasikan peran, upaya, dan strategi secara menyeluruh. Akibatnya, siswa tidak hanya memperoleh prestasi akademik tetapi juga berkembang dalam minat belajar, karakter, dan kemandirian. Kata Kunci: Guru. Fasilitator. Motivator. Minat Belajar. Kemandirian Belajar Abstract Education is crucial for producing a generation that is intelligent, independent, and has character. However, the reality is that students lack interest and are unable to learn independently. Consequently, the role of teachers is more than just that of instructors. The purpose of this study is to examine how teachers help, encourage, and guide students in increasing their interest and independence in learning. This study utilized a literature review by reviewing various related literature. The results of the literature review indicate that teachers play a strategic role in improving learning by providing appropriate motivation, implementing different learning strategies, making systematic efforts to enforce class rules, forming study groups, and providing rewards. The literature shows a tendency for these strategies to increase student motivation, activeness, and independence during the learning process. These results indicate that learning success depends not only on mastery of the material but also on the teacher's ability to integrate roles, efforts, and strategies comprehensively. As a result, students not only achieve academic achievement but also develop learning interests, character, and independence. Keywords: Teacher. Facilitator. Motivator. Interest in Learning. Independence in Learning Copyright . 2025 Afriantoni. Nurazizah. Desi Meliani. Yuni Salsabila. Muhammad Hafiz Alziqri A Corresponding author : Email : nura2739549@gmail. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1722 Upaya Guru Meningkatkan Kemandirian dan Minat Belajar Siswa Sekolah Dasar Ae Afriantoni. Nurazizah. Desi Meliani. Yuni Salsabila. Muhammad Hafiz Alziqri DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Pasal 1 UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mendefinisikan guru sebagai: "Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. " Guru adalah orang yang menguasai ilmu pengetahuan, keterampilan, dan keahlian tertentu melalui pendidikan dan pelatihan. Istilah "guru sebagai pendidik yang profesional" menunjukkan bahwa tidak semua orang dapat diangkat atau ditempatkan sebagai guru. Menurut Siti . , guru adalah suatu profesi yang menuntut keahlian khusus dalam melaksanakan tugas dan perannya. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa guru adalah individu yang memiliki kemampuan tertentu untuk melaksanakan tugasnya dalam mendidik, mengajar, membimbing, memotivasi, dan memfasilitasi siswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah Dalam ekosistem pendidikan, guru memiliki peran sentral sebagai pendidik profesional yang bertugas mengajar, membimbing, mengarahkan, serta mengevaluasi perkembangan peserta didik (Shodiq & Darmawan. Peran guru tidak lagi terbatas sebagai penyampai materi, tetapi berkembang menjadi fasilitator dan motivator yang mampu menumbuhkan minat serta kemandirian belajar siswa. Guru dituntut untuk menghadirkan pembelajaran yang menarik, bermakna, dan kontekstual agar peserta didik aktif dalam membangun pengetahuannya sendiri (Damayanti & Anando, 2. Guru sebagai fasilitator berarti bahwa guru membantu dan memfasilitasi proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Guru tidak hanya mengajar, mereka juga memotivasi, memberi arahan, dan memberikan penguatan positif kepada siswa mereka. Selain itu, hubungan antara guru dan siswa berkembang dari otoritas menjadi kemitraan, di mana guru bertindak sebagai mentor dan membantu siswa belajar dan Oleh karena itu, tugas guru adalah menciptakan lingkungan belajar yang aktif, terbuka, dan mendukung pertumbuhan pengetahuan serta sikap siswa (Arif Muadzin, 2. Motivator adalah orang yang mendorong dan menginspirasi orang lain untuk mencapai tujuan dengan memberikan semangat dan arahan, biasanya melalui pelatihan, tetapi juga bisa melalui mentoring, coaching, atau conselling. Peran guru sebagai motivator sangat penting dalam proses pembelajaran karena mereka dapat membangkitkan minat siswa dan mengarahkan mereka untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan atau keinginan yang terkait dengan kepentingan sendiri. Minat selalu terkait dengan kebutuhan dan kepentingan seseorang (Amiruddin & Zulfan Fahmi, 2. Dalam sekolah dasar, peran ganda guru sebagai fasilitator dan motivator sangat berpengaruh terhadap peningkatan kemandirian dan minat belajar siswa. Sebagai fasilitator, guru tidak hanya mengajar tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang aktif, terbuka, dan mendukung, yang mendorong siswa untuk berpikir kritis dan belajar mandiri. Sebagai motivator, guru berperan dengan memberikan dorongan positif, penghargaan, dan lingkungan belajar yang mendukung. Oleh karena itu, sangat penting untuk meningkatkan kemandirian belajar siswa sekolah dasar dengan diharuskan untuk belajar secara mandiri, yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan pengetahuan, kreativitas mereka sesuai dengan kemampuannya serta memungkinkan siswa menjadi bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas mereka pada waktunya. Adapun menurut (Sarbaini, 2. pembelajaran mandiri adalah proses pembelajaran aktif yang didukung oleh keinginan siswa untuk mendapatkan informasi atau keterampilan memecahkan masalah. Kemandirian belajar adalah proses ketika seseorang mengambil inisiatif sendiri untuk belajar tanpa bantuan orang lain. Ini sangat penting dalam mempersiapkan siswa untuk kehidupan yang akan datang dengan memberikan mereka motivasi untuk melakukan sesuatu sendiri siswa lebih dapat mengembangkan kemampuan pengetahuan, dan kreativitas mereka serta berpartisipasi dalam kegiatan tanpa bergantung pada orang lain. Di sisi lain, menumbuhkan kemandirian belajar seseorang berasal dari minat belajar yang muncul pada materi pembelajaran. Hal ini disebabkan fakta bahwa kecenderungan belajar siswa dapat mencapai tujuan Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1723 Upaya Guru Meningkatkan Kemandirian dan Minat Belajar Siswa Sekolah Dasar Ae Afriantoni. Nurazizah. Desi Meliani. Yuni Salsabila. Muhammad Hafiz Alziqri DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Oleh karena itu, guru sangat penting untuk dapat memperhatikan minat belajar siswa agar dengan memastikan siswa semangat dalam belajar demi mencapai keberhasilan belajar. Sebagaimana dengan memahami indikator minat belajar, guru bisa membuat strategi pembelajaran yang lebih efektif dan menarik melalui model pembelajaran sehingga mendorong siswa untuk lebih terlibat dalam proses pembelajaran, yang menghasilkan hasil belajar yang lebih baik dan pencapaian tujuan yang lebih baik (Putra, 2. METODE Metodologi penelitian dalam artikel ini, penulis menerapkan pendekatan studi literatur. Metode ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan, meninjau, dan mensintesis informasi dari berbagai sumber yang relevan dengan topik penelitian. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 23 literatur yang terdiri dari jurnal ilmiah, buku, artikel konferensi, tesis, disertasi, dan dokumen resmi yang berkaitan dengan kemandirian dan minat belajar siswa. Sumber data diambil dari database akademik seperti Google Scholar. Tahap pengumpulan data pada penelitian ini yaitu . Pencarian Literatur: Menggunakan kata kunci yang telah diidentifikasi, peneliti akan melakukan pencarian literatur di berbagai database akademik. Seleksi Literatur: Peneliti akan menyeleksi literatur berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Kriteria inklusi meliputi artikel yang diterbitkan dalam 10 tahun terakhir, artikel yang memiliki pe-review, dan artikel yang relevan dengan topik penelitian. Pengumpulan Data: Mengunduh dan mengorganisasi literatur yang telah diseleksi untuk dianalisis lebih lanjut. Analisis data pada penelitian ini adalah analisis deskriptif terhadap literatur yang telah dikumpulkan dalam upaya meningkatkan kemandirian dan minat belajar siswa sekolah HASIL DAN PEMBAHASAN Kemandirian dan Minat Belajar Siswa Kemandirian belajar mencakup kemampuan siswa dalam mengambil inisiatif, menetapkan tujuan, memilih strategi belajar yang sesuai, dan menilai hasil belajar mereka sendiri. Berakar pada teori kemandirian diri, yang mengatakan bahwa orang yang memiliki otonomi dalam belajar cenderung memiliki motivasi yang lebih besar dan mencapai hasil akademik yang lebih baik. Salah satu keterampilan penting adalah kemandirian Keterampilan ini memungkinkan siswa untuk berpartisipasi lebih aktif dan bertanggung jawab dalam proses pembelajaran mereka, serta membuat mereka lebih siap menghadapi tantangan di seluruh dunia. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan analisis tentang kemandirian belajar peserta didik di sekolah dasar jika kita ingin memahami metode belajar yang baik. Salah satu fokus kebijakan pendidikan Indonesia adalah kemandirian belajar, khususnya melalui pelaksanaan Kurikulum Merdeka pada tahun 2022. Kurikulum ini menekankan pentingnya membangun keterampilan hidup dan kemandirian peserta didik dalam proses belajar. Ini sejalan dengan upaya global untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih inklusif, relevan, dan adaptif terhadap kebutuhan zaman. Guru membantu siswa belajar secara aktif, baik secara individu maupun kelompok (Arifin & Tihin, 2. Sedangkan. Minat adalah kecenderungan akal untuk menemukan bahwa sesuatu yang penting bagi seseorang lebih penting daripada apa yang dia butuhkan. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa jika seseorang dapat memenuhi satu tingkat kebutuhan tertentu, mereka akan lebih tertarik untuk mencapai tingkat yang lebih Minat, menurut KBBI, adalah kecenderungan, gairah, atau keinginan untuk sesuatu. Ini menghasilkan dorongan yang membuat orang terikat pada hal-hal tertentu, seperti pekerjaan, pelajaran, atau objek. Minatnya biasanya individu hal Ini berarti bahwa minat pada setiap orang berbeda-beda. Sifat menyukai atau tertarik pada suatu hal atau kegiatan belajar tanpa arahan dikenal sebagai minat belajar. Dimana minatnya belajar didefinisikan sebagai keinginan dan keterikatan yang kuat terhadap aktivitas kognitif, yang merupakan bagian penting dari proses pembelajaran, menentukan apa yang kita pilih untuk belajar, dan seberapa baik kita Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1724 Upaya Guru Meningkatkan Kemandirian dan Minat Belajar Siswa Sekolah Dasar Ae Afriantoni. Nurazizah. Desi Meliani. Yuni Salsabila. Muhammad Hafiz Alziqri DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. mempelajari informasi yang diberikan. Minatnya belajar adalah kecenderungan jiwa untuk mendapatkan sesuatu karena siswa menikmati hal-hal yang mereka pelajari. Perasaan senang yang menyertai proses belajar ini dikenal sebagai minat belajar. Selain itu, minat belajar juga disebut sebagai pembina motivasi, yang mengacu pada keinginan siswa untuk melakukan tugas dan memperoleh pengetahuan (BateAoe et al. , 2. Peran Guru Sebagai Fasilitator dan Motivator Seorang guru fasilitator harus dapat memberikan layanan dan fasilitas yang mendukung siswa selama proses pembelajaran. Ini termasuk aktivitas guru dalam memfasilitasi kegiatan pembelajaran, menetapkan tujuan pembelajaran, memberikan arti pada kegiatan pembelajaran, dan melakukan evaluasi dan penilaian untuk memastikan bahwa interaksi belajar-mengajar berlangsung dengan efektif, lancar, dan menyenangkan. Guru sebagai fasilitator di sekolah untuk membantu siswa belajar bukan hanya sekedar mengajar siswa, melainkan guru membantu mereka untuk dapat memahami, menetapkan, dan memecahkan masalah dengan menyediakan fasilitas dan layanan yang dapat membantu siswa selama proses pembelajaran (Lailatul Inayah et al. , 2. Sebagian dari peran guru sebagai fasilitator yang telah dilaksanakan, guru kelas kurang mendorong siswa di dalam kelas untuk belajar secara aktif dan mandiri tanpa diawasi. Hal ini terlihat dari masih banyak siswa yang belum terbiasa untuk belajar secara aktif dan mandiri, anak kurang termotivasi untuk membiasakan diri belajar diawasi oleh guru. Sehingga guru juga perlu adanya rasa tanggung jawab untuk membantu siswa belajar dengan menyediakan berbagai sarana dan prasarana, seperti perangkat pembelajaran, media, dan sumber belajar demi mencapai tujuan pembelajaran. Guru berperan menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan, penuh semangat, tidak membuat cemas, dan berani menantang (Fauzi & Mustika, 2. Selain fasilitator peran guru sebagai motivator sangat penting dalam interaksi belajar mengajar karena tugas mendidik membutuhkan kemampuan sosial, personalisasi, dan sosialisasi diri. Ini sesuai dengan semboyan "ing madya mangun karsa", yang berarti bahwa ketika seorang pemimpin berada di tengah-tengah anggotanya, dia harus memberikan motivasi kepada mereka untuk terus berjuang untuk tujuan Bersama (Amalia et al. , 2. Pelaksanaan ini belum optimal dalam pengajaran, sehingga siswa mungkin tidak termotivasi untuk Oleh karena itu, peran guru sebagai motivator harus dilakukan dengan menggunakan media pembelajaran yang disesuaikan dengan . edia mode. , agar dalam proses belajar mengajarnya dapat menumbuhkan hasrat, motivasi, dan gairah siswa untuk belajar. Upaya Guru dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Minat belajar siswa adalah kecenderungan seorang siswa melakukan sesuatu yang membuat mereka senang dan tertarik dengan hasilnya. Minat belajar siswa tentunya bervariasi tergantung pada berbagai faktor, seperti karakter siswa, lingkungan mereka, dan materi yang diajarkan. Siswa dengan minat belajar yang tinggi cenderung lebih termotivasi untuk belajar dan mencapai prestasi yang lebih baik daripada siswa dengan minat belajar yang rendah (Atika & Andriati, 2. Pada hakikatnya, setiap anak memiliki keinginan untuk belajar, dan seorang guru harus memiliki kemampuan dalam menumbuhkan minat anak tersebut. Dalam proses belajar mengajar, guru dan siswa harus berhubungan satu sama lain, yaitu berkomunikasi. Guru berperan sebagai pemberi informasi, dan siswa berperan sebagai penerima. Dengan begitu guru harus menarik minat siswa untuk belajar yang di dukung dari lingkungannya, sehingga minat belajar akan tumbuh dan berkembang berdasarkan pengalaman yang dia peroleh dari adanya interaksi dengan dunia luar melalui latihan dan belajar menjadi sumbernya (Khairiah & Jf, 2. Dengan begitu, guru dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa tentang masalah yang mendorong mereka untuk menemukan jawaban sendiri. Guru juga dapat memberikan saran dan contoh lebih awal sebagai motivasi, arah, dan pengingat bagi siswa untuk menikmati setiap proses pelajaran. Selain itu, menurut (Arlina et al. , 2. Terdapat beberapa upaya guru untuk dapat meningkatkan minat belajar siswa sebagai berikut: Menasihati siswa untuk melakukan tugas tepat waktu Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1725 Upaya Guru Meningkatkan Kemandirian dan Minat Belajar Siswa Sekolah Dasar Ae Afriantoni. Nurazizah. Desi Meliani. Yuni Salsabila. Muhammad Hafiz Alziqri DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Implementasi nyata dari teori pendidikan karakter berbasis disiplin, yang berpendapat bahwa kebiasaan baik ditanamkan melalui bimbingan, pembiasaan, dan keteladanan. Dengan bantuan bimbingan kelompok, siswa dapat berbicara satu sama lain, memahami pentingnya disiplin, dan berkomitmen untuk menyelesaikan tugas tepat waktu (Indriyarti, 2. Penanaman nilai ini mengajarkan siswa untuk mengatur perilaku, menghargai waktu, dan bertanggung jawab atas kewajibannya. Pendidik membantu siswa menyelesaikan tugas dengan tepat waktu sebelum istirahat. Mereka yang menyelesaikan tugas dengan tepat waktu diizinkan untuk istirahat, tetapi siswa yang belum selesai akan tetap berada di kelas sampai tugasnya Seperti dalam kompetisi di kelas dapat menumbuhkan motivasi peserta didik untuk terus memahami materi pelajaran agar mereka dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru untuk berusaha lebih Memberikan reward/hadiah kepada siswa berdasarkan jumlah ceklis yang diperoleh Reward adalah alat yang digunakan guru selama proses pembelajaran untuk meningkatkan partisipasi anak-anak. Reward berfungsi sebagai alat untuk memberikan penghargaan kepada sikap dan perilaku baik yang ditunjukkan oleh setiap individu. Reward dapat berupa ganjaran, hadiah, penghargaan, atau imbalan yang dimaksudkan untuk mendorong seseorang untuk meningkatkan atau memperbaiki kinerja yang telah Serta dapat didefinisikan sebagai penghargaan yang dimana menjadi bagian penting dari disiplin untuk hasil yang baik. Penghargaan dapat berupa pujian, senyuman, atau tepukan di belakang, tanpa harus berbentuk materi. Tujuan utama pemberian reward dalam pembelajaran untuk membuat anak-anak lebih bersemangat dan senang ketika mereka melakukan hal-hal positif. Adapun meningkatkan motivasi dan keterlibatan anak-anak dalam belajar. Metode ini juga dapat memotivasi siswa dalam ikut serta dan bersikap lebih aktif dengan perasaan senang, puas, dan tulus (Usman & Rohmah, 2. Salah satu cara meningkatkan motivasi belajar siswa jika mereka berhasil melakukan sesuatu. Seperti di akhir setiap pertemuan, guru memberikan kuis tentang topik yang dibahas dengan memberikan soal dalam tiga minggu sekali. Tujuan dari evaluasi ini untuk mengetahui sampai dimana pengetahuan siswa tentang topik yang dibahas selama tiga pertemuan tersebut. Di akhir semester, siswa yang rajin menjawab kuis dan menjawab soal evaluasi akan menerima hadiah berupa buku, alat tulis, dan cat krayon untuk siswa yang banyak memperoleh ceklis dalam tabel hadiah. Kelompok Belajar Dalam memahami materi pembelajaran dan menumbuhkan minat peserta didik yang tinggi. Guru dapat membentuk kelompok belajar dengan mengizinkan siswa berkumpul untuk berdiskusi atau melakukan pengamatan terkait topik yang dipelajari. Setelah itu, setiap anggota kelompok diminta membuat setidaknya satu pertanyaan, kemudian kelompok memilih tiga pertanyaan terbaik untuk meningkatkan kualitas pemikiran kritis (Syaharani et al. , 2. Selain itu, guru dapat menerapkan pembelajaran kooperatif, yaitu metode di mana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil untuk saling belajar, mendukung, dan memotivasi satu sama lain. Pendekatan ini menumbuhkan rasa tanggung jawab individu maupun kelompok. Agar pembelajaran semakin menarik, guru juga dapat memanfaatkan berbagai alat dan metode interaktif, seperti teknologi digital, permainan edukatif, media audiovisual, dan eksperimen. Dengan cara ini, siswa akan lebih antusias dan termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran (Hanaris, 2. Sehingga, kelompok belajar ini membantu peserta didik yang pada awalnya kurang mampu memahami materi dan yang sudah mampu memahami materi akan merasa puas serta akan berusaha mempersiapkan diri sebelum mulai sekolah. Memberikan Hukuman Hukuman menjadi sebuah dorongan untuk siswa jika ada yang malas bertanya dan menjawab pertanyaan guru, maka guru akan memberikan hukuman. Dengan tujuan adanya hukuman ini agar mendorong keaktifan siswa bertanya dan menjawab pertanyaan guru pada setiap proses pelajaran di kelas. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1726 Upaya Guru Meningkatkan Kemandirian dan Minat Belajar Siswa Sekolah Dasar Ae Afriantoni. Nurazizah. Desi Meliani. Yuni Salsabila. Muhammad Hafiz Alziqri DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Selain itu jika seorang siswa alpa . idak hadir tanpa keteranga. dalam satu pertemuan, mereka akan dikenakan denda sebesar 500 rupiah, dan jika mereka tidak hadir dalam dua pertemuan lagi, mereka akan dikenakan denda sebesar 1000 rupiah. Selain itu, jika mereka tidak hadir dalam beberapa pertemuan maka akan dikenakan hukuman piket kelas selama satu minggu hal ini diberlakukan hukuman berdasarkan kesepakatan antara guru dan siswa. Strategi Guru dalam Membangun Kemandirian Belajar Siswa Dari bahasa Yunani, kata "strategi" berarti "strategos", yang berarti "upaya untuk menang dalam " Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online, "strategi" berarti "ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya untuk menerapkan kebijaksanaan tertentu. " strategi pembelajaran adalah kumpulan langkah-langkah yang diambil oleh guru untuk membantu siswa belajar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah cara seorang guru menjalankan pembelajaran dengan mempertimbangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Guru juga membuat perencanaan pembelajaran yang efektif, dan memberi insentif kepada siswa agar siswa tertarik dengan apa yang mereka pelajari untuk mengatur pembelajaran mereka dengan menggunakan berbagai sumber belajar dan pendekatan dalam proses pembelajaran (Rifky, 2. Strategi ini merujuk pada pendekatan yang digunakan oleh guru untuk memenuhi kebutuhan belajar yang beragam dari siswa. Metode pembelajaran yang menggunakan berbagai pendekatan secara bergantian atau selang-seling dikenal sebagai strategi bervariasi. Strategi bervariasi digunakan untuk menarik perhatian siswa dan membuat kelas tidak membosankan. Penggunaan strategi ini sangat penting karena dapat meningkatkan motivasi anak. Selain itu, strategi yang berbeda dengan model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan kemandirian mereka harus bekerja sama atau campuran dengan model pembelajaran lainnya. Jika guru menggunakan strategi bervariasi, seperti model pembelajaran membuat pembelajaran lebih hidup dan mereka dapat mengikuti pembelajaran secara aktif (Yadi et al. , 2. Adapun masalah yang dihadapi oleh guru dalam menumbuhkan sikap kemandirian belajar siswa. Seperti, beberapa siswa menunjukkan mereka tidak berusaha keras untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru dan lebih memilih untuk bermalas-malas. Selain itu, anak-anak yang terus bergantung pada orang lain dan lingkungan mereka. Hal ini sejalan bahwa guru harus menentukan serta menerapkan strategi pembelajaran yang efektif untuk menumbuhkan kemandirian belajar siswa selama proses pembelajaran untuk mencapai tujuan Jika siswa memiliki kesempatan untuk belajar secara mandiri, mereka akan lebih memperhatikan pelajaran, lebih percaya diri dalam bertanya, dan lebih berusaha untuk menyelesaikan tugas guru, bahkan tanpa bergantung pada bantuan orang lain (Anita et al. , 2. Dalam kaitannya untuk menumbuhkan kemandirian belajar siswa, guru harus memiliki strategi yang tepat dalam membangkitkan sikap tanggung jawab, rasa ingin tahu, kerja keras dan ketidakbergantungan dalam diri Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan guru dalam menumbuhkan kemandirian belajar siswa adalah pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada siswa untuk dapat mengaitkan materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata Sementara karakteristik pembelajaran kontekstual meliputi pembelajaran yang menerapkan konsep keterkaitan, pengalaman langsung, konsep pengaturan diri, dan konsep penilaian autentik. Upaya untuk meningkatkan kemandirian belajar siswa dapat dilakukan guru dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran IPA dikelas IV SDN No. 187/1 Teratai. Dari hasil penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan diperoleh hasil observasi awal kemandirian belajar siswa sebesar 47,05%. Setelah digunakan model pembelajaran kontekstual, diperoleh kemandirian belajar siswa pada I sebesar 64,70% dan pada siklus II terjadi peningkatan lebih dari 75% dalam kemandirian belajar pada siswa. Dengan demikian membuktikan bahwa terjadi peningkatan kemandirian belajar siswa dalam pembelajaran IPA melalui penerapan model pembelajaran kontekstual. Sehingga, dalam suatu proses pembelajaran kemandirian belajar mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Hal ini dikarenakan, jika ada anak-anak dengan tingkat kemandirian belajar yang rendah Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1727 Upaya Guru Meningkatkan Kemandirian dan Minat Belajar Siswa Sekolah Dasar Ae Afriantoni. Nurazizah. Desi Meliani. Yuni Salsabila. Muhammad Hafiz Alziqri DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. maka mereka akan mengalami penurunan hasil belajar, sementara anak-anak dengan tingkat kemandirian belajar yang tinggi akan mengalami peningkatan hasil yang cenderung berprestasi (Bukit et al. , 2. KESIMPULAN Sekolah dasar menunjukkan bahwa penerapan strategi pembelajaran yang tepat dan peran aktif guru sebagai fasilitator dan motivator dapat meningkatkan kemandirian dan minat belajar siswa. Kemandirian belajar berarti bahwa siswa dapat mengatur, merencanakan, dan mengevaluasi proses belajar mereka sendiri. Ini sangat penting untuk sistem pendidikan dasar di Indonesia karena Kurikulum Merdeka, yang diberlakukan sejak tahun 2022, menekankan pembentukan siswa yang mandiri, kreatif, dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Guru memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kemandirian dan minat belajar siswa dengan menggunakan intervensi pembelajaran yang dirancang secara Intervensi ini termasuk pembelajaran berbasis kelompok, pembiasaan disiplin, penggunaan model pembelajaran kontekstual, pemberian motivasi, dan sistem penghargaan. Pendekatan kontekstual telah terbukti efektif dalam membantu siswa mengaitkan pelajaran dengan kehidupan nyata. Ini telah menunjukkan bahwa pendekatan ini meningkatkan pemahaman dan rasa tanggung jawab. Temuan intervensi ini menunjukkan peningkatan kemandirian belajar setelah dua siklus pembelajaran dari rata-rata awal 47,05% menjadi lebih dari Selain itu, peningkatan tersebut diikuti oleh peningkatan minat dan motivasi intrinsik siswa. Ini ditunjukkan dalam keaktifan bertanya, keinginan untuk menyelesaikan tugas, dan kemampuan mereka untuk belajar tanpa bergantung sepenuhnya pada guru. Intervensi pembelajaran yang direncanakan dan kontekstual dapat menjadi pendekatan yang efektif untuk meningkatkan kemandirian dan minat siswa sekolah dasar di Indonesia. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya guru menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang membentuk siswa mandiri, berkarakter, dan mampu belajar sepanjang hayat. DAFTAR PUSTAKA