Vol. 3 No. 1 ( September 2023 ) ISSN 2808-1587 Pena Jangkar http://jurnal. amnus-bjm. id/index. php/pena-jangkar ANALISIS KESELAMATAN PELAYARAN KAPAL PENUMPANG KM THALIA RUTE PARE-PARE-NUNUKAN Rahman Raising Politeknik Maritim AMI Makassar. Indonesia Info Artikel ________________ Sejarah Artikel: Diterima 19/04/2023 Disetujui 25/09/2023 Dipublikasikan 30/09/2023 ________________ Kata Kunci: Keselamatan Pelayaran. Kapal Penumpang. KM Thalia _______ ___ Abstrak Di Indonesia, keselamatan maritim tetap menjadi salah satu isu terpenting karena kecelakaan pelayaran terus terjadi. Kapal merupakan suatu alat angkut transportasi yang sangat vital untuk mengangkut barang dan penumpang. Adapun yang dimaksud dengan keselamatan pelayaran adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan, baik material, konstruksi, bangunan, permesinan, perlistrikan, stabilitas, tata susunan serta perlengkapan kapal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengindentifikasi peralatan keselamatan kerja beserta jumlah yang dimiliki dan disesuaikan dengan Permen Perhubungan Nomor 61 Tahun 20019 tentang kelaiklautan kapal penumpang kecepatan tinggi berbendera Indonesia. Untuk menjamin keselamatan kapal, diperlukan proses pemeliharaan atau maintenance pada seluruh alat keselamatan kapal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk analisis keselamatan pelayaran kapal penumpang KM Thalia rute Pare-pare-Nunukan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif Penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan keadaan obyek penelitian untuk mengungkapkan masalah atau fakta yang ada secara sistimatis, factual, akurat, serta sifatsifat dan hubungan antar fenomena yang Sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk mengukur atau menguji data sehingga menghasilkan jawaban dari identifikasi masalah. Keselamatan jiwa di laut tidak bergantung dari kapal, awak kapal maupun peralatannya. Sumber daya manusia (SDM) awak kapal terutama nakhoda memiliki peran penting dalam keselamatan dan keamanan pelayaran. Keberhasilan pengangkutan atau pelayaran melalui laut tidak terlepas dari peranan nakhoda yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan rasa tanggung jawab yang besar serta menyeluruh ketika menjalankan tugasnya. Nakhoda merupakan salah seorang dari awak kapal yang menjadi pimpinan tertinggi di kapal yang memiliki wewenang dan tanggung jawab tertentu, secara otomatis nakhoda mengemban tanggung jawab yang berat atas kapal, awak kapal, muatan dan atau penumpang dalam penyelenggaraan pengangkutan. Kesiapan peralatan-peralatan tersebut untuk digunakan sewaktu-waktu dan bagaimana pemeliharaan alat-alat keselamatan tersebut dengan tepat, khususnya dalam keadaan darurat. Diantaranya Sekoci penolong . ife boat ). Rakit penolong (Liferaf. Rompi Penolong (Life Jacke. Seluruh crew kapal melaksanakan tugas dengan baik sehingga alat keselamatan siap digunakan apabila terjadi keadaan bahaya. Abstract In Indonesia, maritime safety remains one of the most important issues as shipping accidents continue to occur. The ship is a means of transportation which is very vital for transporting goods and passengers. What is meant by shipping safety is the condition of the ship that meets the requirements, both material, construction, building, machinery, electricity, stability, arrangement and equipment of the ship. The purpose of this study is to identify work safety equipment and the amount owned and adjusted to the Minister of Transportation Number 61 of 20019 concerning the seaworthiness of Indonesian-flagged high-speed passenger ships. To guarantee ship safety, a maintenance or maintenance process is needed for all ship safety equipment. Therefore, this study aims to analyze the safety of the passenger ship KM Thalia on the Pare-pare-Nunukan route. The approach used in this research is a quantitative descriptive approach. Descriptive research is research that describes the state of the object of research to reveal existing problems or facts in a systematic, factual, accurate manner, as well as the properties and relationships between the phenomena being investigated. Meanwhile, quantitative analysis is used to measure or test data so as to produce answers from problem identification. The safety of life at sea does not depend on the ship, the crew and their equipment. The human resources (HR) of the crew, especially the skipper, have an important role in the safety and security of shipping. The success of transportation or shipping by sea is inseparable from the role of the skipper who has great and thorough knowledge, skills and a sense of responsibility when carrying out his duties. The skipper is one of the ship's crew who is the highest leader on the ship who has certain authority and responsibilities, the skipper automatically assumes heavy responsibility for the ship, crew, cargo and or passengers in organizing transportation. at any time and how to properly maintain these safety equipment, especially in an emergency. Among them lifeboat. Liferaft. Life Jacket. All ship crew carry out their duties properly so that safety equipment is ready to be used in a dangerous situation A 2023 Akademi Maritim Nusantara Banjarmasin ISSN 2808-1587 Rahman Raising. Rahmat Hidayat / Pena Jangkar PENDAHULUAN Penyelenggaraan keselamatan Pelayaran bertujuan untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan kematian, korban jiwa, dan lain-lain. Menurut Lloyd's List Intelligence Casualty Statistics dalam AGCS . , berdasarkan data seluruh dunia, terdapat 10 wilayah dengan jumlah korban kapal terbanyak dengan total 2. kematian, salah satunya di wilayah China Selatan. Indonesia dan Filipina berjumlah 263 korban (Ardan et al. , 2. Di Indonesia, keselamatan maritim tetap menjadi salah satu isu terpenting karena kecelakaan pelayaran terus terjadi. Menurut keputusan Pengadilan Angkatan Laut, ada 9 korban kematian pada tahun 2013, 56 kematian pada tahun 2014, 7 kematian pada tahun 2015, 22 kematian pada tahun 2016 dan 40 kematian pada tahun 2017 (Ardan et al. , 2. Kapal merupakan suatu alat angkut transportasi yang sangat vital untuk mengangkut barang dan penumpang. Adapun yang dimaksud dengan keselamatan pelayaran adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan, baik material, konstruksi, bangunan, permesinan, perlistrikan, stabilitas, tata susunan serta perlengkapan kapal (Santosa & Sinaga, 2. Kebijakan dibidang keselamatan, perusahaan harus memiliki sistem menejemen keselamatan (Safety Manajemen Syste. yang merupakan fasilitas bagi seluruh personil di darat dan di laut. Perusahaan membangun sistem ini mengikuti petunjuk . serta contoh dokumen yang disediakan International Safety Manajemen Code (ISM cod. Sebuah kapal dikatakan layak laut . ea worthenes. , apabila terpenuhinya persyaratan material, kontruksi, bangunan, permesinan dan elektronika kapal yang semuanya dibuktikan dengan sertifikat asli. Sebelum melakukan pelayaran, harus diketahui petunjuk- petunjuk tentang bagaimana melakukan pertolongan kecelakaan kapal, akibat tubrukan, kandas, tenggelam, kebakaran, senggolan dan kecelakaan alam . orce majo. (Santosa & Sinaga, 2. Dalam perkembangan transportasi laut di Indonesia, para awak kapal dituntut untuk dapat mengoperasikan kapal dengan baik, agar kapal dapat berlayar dengan aman serta menjamin keselamatan jiwa dan keselamatan muatan sampai tiba di tempat tujuan. Selenggarakannya keselamatan dan kesehatan kerja yaitu bertujuan untuk melindungi awak kapal dalam melakukan pekerjaannya agar memperoleh kesejahteraan hidup sertauntuk dapat meningkatkan produksi dan produktivitas nasional. Oleh sebab itu, pemeliharaan alat-alat keselamatan dalam pelayaran sangat penting untuk menunjang kelancaran saat berlayar. Alat-alat keselamatan tersebut juga harus dilakukan Rahman Raising. Rahmat Hidayat / Pena Jangkar perawatan dengan tujuan memperpanjang umur pakai alat-alat tersebut (Dwi Saputra et al. , 2. Dalam penelitian Setiawan & Susanto . yang berjudul Marine Safety: Case Study on Safety Equipment Fulfillment towards Ship Safety menjelaskan bahwa ada efek signifikan dan positif dari kesiapan pemenuhan peralatan keselamatan terhadap keselamatan kapal pelaut berbendera Indonesia. Ini menunjukkan bahwa persiapan pada peralatan keselamatan kapal harus benar-benar diperhatikan untuk menghindari hal-hal yang tidak terduga. Selanjutnya, semakin siap peralatan keselamatan yang disiapkan, semakin tinggi tingkat keamanan kapal berbendera Indonesia. Penelitian tentang alat keselamatan yang berikutnya adalah penelitian oleh Sari et al. yang berjudul Identification of ShipAos Safety Equipment on the Training Ship KM. Jala Jana 05 in Pariaman. West Sumatera mencakup penggunaan peralatan keselamatan diatas kapal untuk menjaga, meningkatkan keselamatan dan kenyamanan kerja diatas kapal KM. Jala Jana 05 (Sari et al. , 2020. Setiawan & Susanto, 2. Tujuan dari penelitian ini untuk mengindentifikasi peralatan keselamatan kerja beserta jumlah yang dimiliki dan disesuaikan dengan Permen Perhubungan Nomor 61 Tahun 20019 tentang kelaiklautan kapal penumpang kecepatan tinggi berbendera Indonesia. Untuk menjamin keselamatan kapal, diperlukan proses pemeliharaan atau maintenance pada seluruh alat keselamatan Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk analisis keselamatan pelayaran kapal penumpang KM Thalia rute Pare-pare-Nunukan. METODE PENELITIAN Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif Penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan keadaan obyek penelitian untuk mengungkapkan masalah atau fakta yang ada secara sistimatis, factual, akurat, serta sifatsifat dan hubungan antar fenomena yang diselidiki. Sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk mengukur atau menguji data sehingga menghasilkan jawaban dari identifikasi masalah. Sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis objek penelitian dengan menggunakan data yang HASIL DAN PEMBAHASAN Keselamatan jiwa di laut tidak bergantung dari kapal, awak kapal maupun peralatannya. Sumber daya manusia (SDM) awak kapal terutama nakhoda memiliki Rahman Raising. Rahmat Hidayat / Pena Jangkar peran penting dalam keselamatan dan keamanan pelayaran. Keberhasilan pengangkutan atau pelayaran melalui laut tidak terlepas dari peranan nakhoda yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan rasa tanggung jawab yang besar serta menyeluruh ketika menjalankan tugasnya. Nakhoda merupakan salah seorang dari awak kapal yang menjadi pimpinan tertinggi di kapal yang memiliki wewenang dan tanggung jawab tertentu, secara otomatis nakhoda mengemban tanggung jawab yang berat atas kapal, awak kapal, muatan dan atau penumpang dalam penyelenggaraan pengangkutan (Setiawati et al. , 2. Kesiapan peralatan-peralatan tersebut untuk digunakan sewaktu-waktu dan bagaimana pemeliharaan alat-alat keselamatan tersebut dengan tepat, khususnya dalam keadaan darurat. Alat-alat Keselamatan pada KM. Thalia Sekoci penolong . ife boat ) Sekoci penolong adalah sebuah perahu kecil yang berada di deck sekoci yang digunakan untuk menolong awak kapal serta sebagai alat penyelamat saat terjadi keadaan darurat yang mengharuskan meninggalkan kapal sesegera mungkin, di KM. Thalia, letak sekoci penolong berada di deck kanan maupun deck kiri. Model sekoci penolong yang ada di KM. Thalia adalah tipe sekoci penolong terbuka . pen lifeboa. dengan mesin sebagai penggeraknya, yang terbuat dari material fiber glass, beberapa material kayu di bagian tempat duduk dan penutup mesin sekoci serta disamping kanan kiri sekoci penolong. Selama davits dan lambung sekoci tersebut belum diperbaiki, hanya mesin penggerak sekoci penolong yang di nyalakan supaya mesin tidak mengalami kerusakan dan dapat berkerja dengan baik Rakit penolong (Liferaf. Rakit penolong atau liferaft adalah perahu karet dengan tenda pelindung yang dilengkapi obat-obatan, perbekalan makanan dan minuman untuk keadaan darurat, serta alat untuk memberi tanda signal seperti rocket handflare, smoke signal, paracute signal dan lainnya. Menurut data inventaris di KM. Thalia terdapat empat buah liferaft, yang di tempatkan di samping wing kiri anjungan maupun wing sebelah kanan. Kapasitas rakit penolong pada KM. Thalia adalah 25 orang Rompi Penolong (Life Jacke. Rompi penolong adalah alat apung perseorangan yang digunakan apabila terjadi keadaan darurat untuk meninggalkan kapal. Pada KM. Thalia rompi penolong memiliki tali dan peluit. Pelampung harus berwarna orange dan ditambah dengan material reflective supaya terlihat dari jauh pada malam hari saat pencarian. Penyimpanan rompi penolong di tiap kamar masing-masing sehingga dapat memudahkan dalam mencarinya serta di simpan di rak inventaris kapal. Penempatan Life Jacket harus pada posisi yang mudah terjangkau oleh setiap orang yang akan menggunakan. Terdapat beberapa persyaratan umum pada rompi penolong yaitu bahwa seseorang harus dapat memakainya dalam waktu 1 menit tanpa bantuan orang lain, dapat digunakan secara mudah dengan tingkat kesalahan yang sedikit. Rahman Raising. Rahmat Hidayat / Pena Jangkar memiliki warna yang mencolok dan nyaman di pakai, dapat digunakan untuk terjun ke laut dari ketinggian 4,5 m di atas air dengan aman dan dilengkapi dengan peluit. SIMPULAN DAN SARAN Proses pemeliharaan alat-alat keselamatan sangat penting dalam mendukung kelancaraan pelayaran, terutama apabila kapal tersebut dalam keadaan bahaya, seperti. kebakaran, kapal tenggelam, orang jatuh ke laut dan lain- lain. Oleh karena itu perlu dilaksanakan perawatan atau pemeliharaan rutin alat-alat keselamatan serta latihan agar setiap crew kapal siap dalam menghadapi keadaan darurat. KM. Thalia telah melaksanakan perawatan pada alat Ae alat keselamatan sesuai standar regulasi SOLAS (Safety of Life at Se. Seluruh crew kapal melaksanakan tugas dengan baik sehingga alat keselamatan siap digunakan apabila terjadi keadaan bahaya. Rahman Raising. Rahmat Hidayat / Pena Jangkar DAFTAR PUSTAKA