Indonesian Journal of Social Science (IJSS) Vol. No. July 2023, 49 Ae 63 DOI: E-ISSN: P-ISSN: Perkumpulan Dosen Peneliti Indonesia (PDPI) Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-6 Tahun (Studi Kasus Pada TK Tarbiyatul Athfal Garu. Sri Mulyeni1. Jajang Sutisna2. Elis Ratna Suminar 3. Herlina Herlina4 Universitas Nasional Pasim. Indonesia Universitas Mandirit. Indonesia * Corresponding Author E-Mail: jajangsutisna21@gmail. 1,2,3 Received: 23-01-2023. Revised: 10-05-2023. Accepted: 01-07-2023 Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pola asuh orang tua yang berbeda secara khusus membentuk karakter anak yang berbeda mengenai kemandirian anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Menganalisis jenis pola asuh yang digunakan oleh orang tua di TK Tarbiyatul Athfal Garut. Mengetahui kondisi orangtua di lingkungan sekitar TK serta dampak yang ditimbulkan ketika menggunakan pola asuh permisif dan otoriter. dan demokratis terhadap kecerdasan emosi anak. metode penelitian yang digunakan kuantitaif berdasarkan data yang kami sebar di TK Tarbiyatu Athfal Garut. Pola asuh orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Khususnya pada anak usia dini gaya pendidikan meningkatkan kemandirian pendidikan anak usia dini didominasi oleh pendidikan demokratis dan otoriter, dan sebagian kecil masih belum mandiri dengan pendidikan dan penelantaran semacam ini permisif. Hasil penelitian menunjuka bahwa pola asuh otoriter, pola asuh demokratis, dan pola asuh permisif memberikan kontribusi sebesar 37,9%. Kata Kunci: Pola Asuh Otoriter. Pola Asuh Demokratis. Pola Asuh Permisif. Perkembangan Sosial Emosional Anak The Influence of Parenting Patterns on The Social Emotional Development of Children Aged 4-6 Years Abstract This research is motivated by the different parenting styles of parents that specifically form different children's characters regarding children's independence. The purpose of this research is to analyze the type of parenting used by parents in Tarbiyatul Atfal Garut Kindergarten. Knowing the condition of parents in the environment around kindergarten and the impact caused when using permissive and authoritarian parenting styles. and democratic on children's emotional the research method used is quantitative based on the data we distributed in TK Tarbiyatu Athfal Garut. Parenting styles greatly influence children's development, especially in early childhood education styles increase the independence of early childhood education dominated by democratic and authoritarian education, and a small proportion are still not independent with this kind of permissive education and neglect. The results showed that authoritarian parenting, democratic parenting, and permissive parenting contributed 37. Keyword: Authoritarian Parenting. Democratic Parenting. Permissive Parenting. Children's Social Emotional Development PENDAHULUAN Anak mendapatkan berbagai stimulasi yang mendukung proses tumbuh kembangnya dari keluarga. Hal ini jika ditinjau dari berbagai aspek, definisi mendasar dari keluarga antar lain mengenai anggota keluarga inti dalam suatu keluarga, hubungan Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-6 Tahun. (Sutisn. Indonesian Journal of Social Science (IJSS) 1. July, 49-63 social atas dasar ikatan darah, pertanggungjawaban atas ikatan keluarga, dan fungsi dari keluarga itu sendiri (Martsiswati & Suryono, 2. Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa keluarga merupakan sebuah elemen terkecil dari masyarakat yang memiliki fungsi dan pengaruh yang sangat signifikan terhadap seluruh tahapan perkembangan anak. Pola asuh merupakan sebuah standar perlakuan yang diterapkan pada anak secara berkesinambungan oleh orang tua dalam ruang lingkup keluarga. Pola asuh merupakan norma-norma yang diterapkan oleh orang tua di dalam keluarga dalam upaya untuk memenuhi kesejahteraan anak, baik kesejahteraan secara jasmani maupun kesejahteraan secara rohani (Suryani, 2. Pada masa kanak-kanak awal yaitu periode lahir sampai dengan usia 6 tahun, stimulasi yang diberikan secara menyeluruh . akan memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Pada masa ini pertumbuhan fisik serta perkembangan otak anak sedang dalam masa puncaknya yang disebut dengan Periode Emas (Golden Ag. Karakteristik anak pada rentang usia ini adalah sosok yang unik, memiliki beberapa potensi kecerdasan, dunianya adalah bemain, dalam masa potensial untuk belajar, rasa keingintahuannya besar, memiliki konsentrasi yang pendek, imajinasinya terus berkembang dan masih egosentris. Sosial emosional adalah aspek perkembangan anak yang selalu menjadi isu paling terlihat di dalam keseharian anak di Taman Kanak-kanak selain aspek perkembangan Sikap anak terhadap lingkungan sosialnya ketika berada di satuan pendidikan sangat terlihat jelas serta dapat dirasakan oleh anak-anak yang lainnya dan juga oleh guruguru, baik itu sikap positif maupun negative. Seringkali terjadi ada anak yang mengganggu temannya baik secara fisik maupun secara verbal, tidak mau kalah, tidak mau berbagi, tidak mau bergiliran dan kurang toleransi. Kemudian adapula yang sebaliknya, anak senang membantu temannya, mau mengalah, mau berbagi dan penuh Kedua sikap tersebut tentunya tidak terjadi secara alamiah pada diri anak, namun hal itu adalah dampak dari perlakuan yang diterima anak dalam pengasuhan orang tua di rumah. Berdasarkan paparan di atas, penulis tertarik untuk mendapatkan pengetahuan tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap perkembangan sosial-emosional anak usia dini dengan rentang usia 4-6 tahun. Oleh karena itu, maka dibuatlah penelitian dengan judul AuPengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-6 Tahun. (Sutisn. Indonesian Journal of Social Science (IJSS) 1. July, 49-63 Usia 4-6 Tahun di TK Tarbiyyatul Athfal GarutAy. Pembuatan artikel ini bertujuan untuk meneliti bagaimanakah dampak signifikannya beragam jenis stimulasi yang diberikan oleh para orang tua di rumah melalui tiga model pengasuhan terhadap perkembangan sosial emosional anak di sekolah Taman-kanak Tarbiyyatul Athfal yang berlokasi di Desa Kadongdong. Kecamatan Banjarwangi. Kabupaten Garut. TINJAUAN PUSTAKA Jenis-jenis Pola Asuh Orang Tua Menurut Hourlock dalam (Nabila et al. , 2. mengemukakan ada tiga jenis pola asuh orang tua terhadap anaknya, yakni : Pola Asuh Otoriter Pola asuh otoriter ditandai dengan cara mengasuh anak dengan aturanaturan yang ketat, seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya . rang tu. , kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi. Pola Asuh Demokratis Pola asuh demokratis ditandai dengan adanya pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak, anak diberi kesempatan untuk tidak selalu tergantung pada orang tua. Pola Asuh Permisif Pola asuh ini ditandai dengan cara orang tua mendidik anak yang cenderung bebas, anak dianggap sebagai orang dewasa atau muda, ia diberi kelonggaran seluas-luasnya untuk melakukan apa saja yang dikehendaki Menurut Baumrind dalam (Paende et al. , 2. membagi pola asuh orang tua menjadi 4 macam, yaitu: Pola Asuh Otoriter . arent oriente. Ciri pola asuh ini menekankan segala aturan orang tua harus ditaati oleh anak. Orang tua bertindak semena-mena, tanpa dapat dikontrol oleh anak. Anak harus menurut dan tidak boleh membantah terhadap apa yang diperintahkan oleh orang tua. Pola Asuh Permisif Sifat pola asuh ini, children centered yakni segala aturan dan ketetapan keluarga di tangan anak. Apa yang dilakukan oleh anak diperbolehkan orang tua, orang tua menuruti segala kemauan anak. Pola Asuh demokratis Kedudukan antara anak dan orang tua sejajar. Suatu keputusan diambil bersama dengan mempertimbangkan kedua belah pihak. Anak diberi kebebasan yang bertanggung jawab, artinya apa yang dilakukan oleh anak tetap harus di bawah pengawasan orang tua dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-6 Tahun. (Sutisn. Indonesian Journal of Social Science (IJSS) 1. July, 49-63 Pola Asuh Situasional Orang tua yang menerapkan pola asuh ini, tidak berdasarkan pada pola asuh tertentu, tetapi semua tipe tersebut diterapkan secara luwes disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berlangsung saat itu. Menurut Baumrind dalam (Paende et al. , 2. bahwa orang tua berinteraksi dengan anaknya lewat salah satu dari empat cara: Pola Asuh Authoritarian Pola asuh authoritarian merupakan pola asuh yang membatasi dan menghukum. Orang tua mendesak anak untuk mengikuti arahan mereka dan menghargai kerja keras serta usaha. Orang tua authoritarian secara jelas membatasi dan mengendalikan anak dengan sedikit pertukaran verbal. Pola asuh Authoritative Pola asuh authoritative mendorong anak untuk mandiri namun tetap meletakkan batas-batas dan kendali atas tindakan mereka. Pertukaran verbal masih diizinkan dan orang tua menunjukkan kehangatan serta mengasuh anak mereka. Pola Asuh Neglectful Pola asuh neglectful merupakan gaya pola asuh di mana mereka tidak terlibat dalam kehidupan anak mereka. Anak-anak dengan orang tua neglectful mungkin merasa bahwa ada hal lain dalam kehidupan orang tua dibandingkan dengan diri mereka. Pola Asuh IndulgentPola asuh indulgent merupakan gaya pola asuh di mana orang tua terlibat dengan anak mereka namun hanya memberikan hanya sedikit batasan pada mereka. Orang tua yang demikian membiarkan anakanak mereka melakukan apa yang diinginkan. Menurut (Yustina & Setyowati, 2. Ada tiga cara yang digunakan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Ketiga pola tersebut adalah: Pola Asuh Otoriter Pola asuh otoriter ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua. Kebebasan anak sangat dibatasi, orang tua memaksa anak untuk berperilaku seperti yang diinginkannya. Bila aturan-aturan ini dilanggar, orang tua akan menghukum anak, biasanya hukuman yang bersifat fisik. Pola Asuh Demokratis Pola asuh demokratis ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya. Mereka membuat aturan-aturan yang disetujui bersama. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat, perasaan, dan keinginannya dan belajar untuk dapat menanggapi pendapat orang lain serta diberikan tanggung jawab akan sesuatu hal (Herlina et al. , 2. Pola Asuh Permisif Pola asuh ini ditandai dengan adanya kebebasan yang Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-6 Tahun. (Sutisn. Indonesian Journal of Social Science (IJSS) 1. July, 49-63 diberikan pada anak untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Orang tua tidak pernah memberi aturan dan pengarahan kepada anak. Semua keputusan diserahkan kepada anak tanpa adanya pertimbangan orang tua. Selanjutnya empat macam pola asuh yang dilakukan orang tua dalam keluarga menurut (Suriya & Brata, 2. Autokratis (Otorite. Ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua dan kebebasan anak sangat di batasi. Demokratis Ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dan anak. Permisif Ditandai dengan adanya kebebasan pada anak untuk berprilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Laissez faire Pola ini ditandai dengan sikap acuh tak acuh orang tua terhadap Dari berbagai macam pola asuh yang dikemukakan di atas, pada dasarnya terdapat tiga pola asuh orang tua yang sering diterapkan dalam kehidupan seharihari. Hal ini sesuai dengan beberapa penjelasan yang dikemukakan oleh beberapa ahli, salah satunya menurut Hurlock. Pola asuh tersebut antara lain pola asuh otoriter, pola asuh demokratis dan pola asuh permisif. Adapun penjelasan lebih lanjut mengenai ketiga pola asuh tersebut adalah sebagai berikut: a Pola Asuh Otoriter (Sari et al. , 2. menyebutkan bahwa: Pola asuh otoriter adalah sentral artinya segala ucapan, perkataan, maupun kehendak orang tua dijadikan patokan . yang harus ditaati oleh anak-anaknya. Supaya taat, orang tua tidak segan-segan menerapkan hukuman yang keras kepada anak. Pola asuh otoriter merupakan cara mendidik anak yang dilakukan orang tua dengan menentukan sendiri aturan-aturan dan batasan-batasan yang mutlak harus ditaati oleh anak tanpa kompromi dan memperhitungkan keadaan anak. Orang tualah yang berkuasa menentukan segala sesuatu untuk anak dan anak hanyalah objek pelaksana saja. Jika anak membantah, orang tua tidak segan-segan akan memberikan hukuman, biasanya hukumannya berupa hukuman fisik. Sebagiamana yang dipaparkan oleh (Lesmana et al. , 2. bahwa: Pola asuh yang bersifat otoriter ditandai dengan penggunaan hukuman yang keras, lebih banyak menggunakan hukuman badan, anak juga diatur segala keperluan dengan aturan yang ketat dan masih tetap diberlakukan meskipun sudah menginjak usia dewasa. Anak yang dibesarkan dalam suasana semacam ini akan besar dengan sifat yang ragu-ragu, lemah kepribadian dan tidak sanggup mengambil keputusan tentang apa saja. Akan tetapi apabila anak patuh maka orang tua tidak akan Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-6 Tahun. (Sutisn. Indonesian Journal of Social Science (IJSS) 1. July, 49-63 memberikan pengahargaan karena orang tua mengganggap bahwa semua itu adalah kewajiban yang harus dituruti oleh seorang anak. Ini sejalan dengan pemaparan yang disampaikan oleh (Hidayah et al. , 2013. Setiarsih & Sari, 2. bahwa apabila anak patuh, orang tua tidak memberikan hadiah karena dianggap sudah sewajarnya bila anak menuruti kehendak orang tua. Jadi, dalam hal ini kebebasan anak sangat dibatasi oleh orang tua, apa saja yang akan dilakukan oleh anak harus sesuai dengan keinginan orang Jika anak membantah perintah orang tua maka akan dihukum, bahkan mendapat hukuman yang bersifat fisik dan jika patuh orang tua tidak akan memberikan hadiah. Pola asuh demokratis adalah gabungan antara pola asuh permisif dan otoriter dengan tujuan untuk menyeimbangkan pemikiran, sikap dan tindakan antara anak dan orang tua (Azwi et al. , 2. Pola asuh demokratis merupakan suatu bentuk pola asuh yang memperhatikan dan menghargai kebebasan anak, namun kebebasan itu tidak mutlak, orang tua memberikan bimbingan yang penuh pengertian kepada anakPola asuh ini memberikan kebebasan kepada anak untuk mengemukakan pendapat, melakukan apa yang diinginkannya dengan tidak melewati batas-batas atau aturan-aturan yang telah ditetapkan orang tua. Dalam pola asuh ini ditandai sikap terbuka antara orang tua dengan Mereka membuat aturan-aturan yang telah disetujui bersama. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat, perasaan dan keinginannya. Jadi dalam pola asuh ini terdapat komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak. (Syahrul & Nurhafizah. Dengan mengembangkan kontrol terhadap perilakunya sendiri dengan hal-hal yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini mendorong anak untuk mampu berdiri sendiri, bertanggung jawab dan yakin terhadap diri sendiri. Daya kreativitasnya berkembang dengan baik karena orang tua selalu merangsang anaknya untuk mampu berinisiatif. Sehingga dengan pola asuh demokratis anak akan menjadi orang yang mau menerima kritik dari orang lain, mampu menghargai orang lain, mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan mampu bertanggung jawab terhadap kehidupan sosialnya. Sedangkan pola asuh permisif ini orang tua justru merasa tidak peduli dan cenedrung memberi kesempatan serta kebebasan secara luas kepada anaknya (Syahrul & Nurhafizah, 2. Pola asuh permisif ditandai dengan adanya kebebasan yang diberikan kepada anak untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Anak tidak tahu apakah perilakunya benar atau salah karena orang tua tidak pernah membenarkan atau menyalahkan anak. Akibatnya anak berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri, tidak Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-6 Tahun. (Sutisn. Indonesian Journal of Social Science (IJSS) 1. July, 49-63 peduli apakah hal itu sesuai. dengan norma masyarakat atau tidak. Keadaan lain pada pola asuh ini adalah anak-anak bebas bertindak dan berbuat. Jadi pola asuh permisif yaitu orang tua serba membolehkan anak berbuat apa saja. Orang tua membebaskan anak untuk berperilaku sesuai dengan keiginannya sendiri. Orang tua memiliki kehangatan dan menerima apa adanya. Kehangatan, cenderung memanjakan, dituruti keinginnannya. Sedangkan menerima apa adanya akan cenderung memberikan kebebasan kepada anak untuk berbuat apa saja. Pola asuh orang tua permisif bersikap terlalu lunak, tidak berdaya, memberi kebebasan terhadap anak tanpa adanya norma-norma yang harus diikuti oleh Mungkin karena orang tua sangat sayang . ver affectio. terhadap anak atau orang tua kurang dalam pengetahuannya. Sifat yang dihasilkan dari anak permisif dijelaskan oleh (Azwi et al. , 2. bahwa sifat-sifat pribadi anak yang permisif biasanya agresif, tidak dapat bekerjasama dengan orang lain, sukar menyesuaikan diri, emosi kurang stabil, serta mempunyai sifat selalu curiga. Akibatnya anak berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri, tidak peduli apakah hal itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak. Keadaan lain pada pola asuh ini adalah anak-anak bebas bertindak dan berbuat Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini Emosi anak merupakan sebuah kondisi . ranah afektif yang dirasakan oleh anak yang dapat berfluktuasi dengan ditandai oleh perilaku seperti naik pitam, tidak bahagia, cemburu, senang, menyayangi dan penasaran yang tinggi (Suteja, 2. Emosi merupakan kondisi perasaan anak sebagai respon yang muncul terhadap stimulus yang dalam hal ini adalah keadaan lingkungan sosial yang dihadapinya. Anak yang sudah mampu menguasai kecerdasan emosional cenderung memiliki keterampilan untuk mengendalikan pikiran dan perilakunya dalam merespon setiap kondisi yang terjadi pada lingkungan sosialnya. Menurut Plato secara potensial . manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial . oon politico. (Hidayah et al. , 2. mengungkapkan bahwa sosialisasi adalah proses belajar untuk menjadi makhluk sosial, sedangkan sosialisasi merupakan suatu proses dimana individu . anak melatih kepekaan dirinya terhadap rangsanganrangsangan sosial terutama tekanan-tekanan dan tuntutan kehidupan . serta belajar bergaul dengan bertingkah laku, seperti orang lain di dalam lingkungan sosialnya (Syamsul Hadi, 2. Hal ini senada dengan pendapat Hurlock (Setiarsih & Sari, 2. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-6 Tahun. (Sutisn. Indonesian Journal of Social Science (IJSS) 1. July, 49-63 yang menjelaskan bahwa perkembangan sosial anak merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Perkembangan sosial anak berkaitan dengan perilaku prososial dan bermain sosialnya (Lesmana et al. , 2. Aspek perilaku sosial meliputi: . Empati, yaitu menunjukkan perhatian kepada orang lain yang kesusahan atau menceritakan perasaan orang lain yang mengalami konflik. Kemurahan hati, yaitu berbagi sesuatu dengan yang lain atau memberikan barang . Kerja sama, yaitu bergantian menggunakan barang, melakukan sesuatu dengan gembira. Kepedulian, yaitu membantu orang lain yang sedang membutuhkan bantuan (Setiawan, 2. Jadi secara psikologis, pada tahap ini kemampuan anak baik secara interpersonal maupun personal satu sama lainnya saling mempengaruhi Emosi didefinisikan berbagai perasaan yang kuat, seperti perasaan benci, takut, marah, cinta, senang dan kesedihan. Macam-macam perasaan tersebut adalah gambar dari aspek emosional (Azwi et al. , 2. Goleman . menyatakan bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan atau pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis (Goleman, 1. dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak Santrock (Paende et al. , 2. mendefinisikan emosi sebagai perasaan atau afeksi yang timbul ketika seseorang berada dalam suatu keadaan yang dianggap penting oleh individu Emosi diwakilkan oleh perilaku yang mengekspresikan kenyamanan atau ketidaknyamanan terhadap keadaan atau interaksi yang sedang dialami. Emosi dapat berbentuk rasa senang, takut, marah, dan sebagainya. Karaketristik emosi pada anak berbeda dengan karakteristik yang terjadi pada orang dewasa, dimana karekteristik emosi pada anak itu antara lain. Berlangsung singkat dan berakhir tiba-tiba. Terlihat lebih hebat atau kuat. Bersifat sementara atau dangkal. Lebih sering terjadi. Dapat diketahui dengan jelas dari tingkah lakunya, dan . Reaksi mencerminkan individualitas (Paende et al. , 2. Berdasarkan penjelasan kemampuan sosial dan emosional diatas maka dapat diketahui bahwa kemampuan sosial emosional adalah dua hal yang saling Kemampuan emosi dominan mendorong aktivitas sosial seseorang. Kompetensi sosial ditentukan oleh kompetensi emosi seseorang. Seseorang dengan kecerdasan emosional yang tinggi cenderung menjadi pribadi yang kompeten secara Hal ini senada dengan pendapat Goleman . yang menyatakan bahwa kematangan emosi seorang anak merupakan kunci keberhasilan dalam menjalin hubungan sosialnya (Goleman, 1. Sosial emosional anak usia dini merupakan suatu proses belajar anak tentang bagaimana berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-6 Tahun. (Sutisn. Indonesian Journal of Social Science (IJSS) 1. July, 49-63 aturan sosial yang ada, dan anak lebih mampu mengendalikan perasaan-perasaannya sesuai dengan kemampuan mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan tersebut. Sosial emosional merupakan kemampuan mengadakan hubungan dengan orang lain, terbiasa untuk bersikap sopan santun, mematuhi peraturan dan disiplin dalam kehidupan sehari-hari dan dapat menunjukkan reaksi emosi yang wajar. Setiap aspek perkembangan individu, baik sosial maupun emosi, satu sama lainnya saling mempengaruhi. Adapun aspek perkembangan sosial yakni meliputi: . Interpersonal, yakni mampu bermain bersama teman, dapat bergantian dan antri, bisa memberikan dan menerima. Personal, yakni mau merespon dan menjawab 8 pertanyaan, mau mengekspresikan diri di kelas, mau bertanya, mau di tinggal selama di sekolah, dapat makan sendiri, memakai baju Sedangkan aspek perkembangan emosional, yakni meliputi: . Rasa sayang kepada teman, orang tua, saudara dan guru. Memiliki rasa empati, menolong teman. Dapat mengontrol emosi, kemarahan, dan lainnya (Nabila et al. , 2. Kemampuan sosial emosional anak adalah kemampuan untuk menjalin relasi dengan orang lain, terbiasa untuk sopan santun, mematuhi dan menjalankan peraturan serta disiplin dalam kehidupan sehari-hari dan dapat menunjukkan reaksi emosi yang wajar, perkembangan kemampuan sosial emosional meliputi perkembangan dalam hal emosi, kepribadian, dan hubungan interpersonal (Yustina & Setyowati, 2. Anak yang dapat mengendalikan diri dan mudah menunjukkan empati dan kasih sayang akan mudah bersosialisasi dengan orang disekitarnya (Paende et al. , 2. METODE PENELITIAN Dalam artikel ini penulis menggunakan metode penelitian Kuantitatif Asosiatif. Metode penelitian kuantitatif menurut (Mathar, 2. sebagaimana dipaparkan dalam bukunya bahwa metode penelitian kuantitatif adalah sebuah metode penelitian yang menggunakan pendekatan kalkulasi angka-angka . Metode penelitian ini oleh beberapa pakar disebut juga dengan metode positivistik sebab dilandasi oleh filsafat Metode penelitian kuantitatif dipandang sebagai metode ilmiah sebab sifatnya yang rasional, sistematis, terukur dan objektif (Mathar, 2. Subyek penelitian adalah para Orang Tua Peserta Didik di TK Tarbiyyatul Athfal yang berada di Kecamatan Banjarwangi. Kabupaten Garut. Provinsi Jawa Barat. Peserta Didik TK Tarbiyyatul Athfal yang berusia 4-6 tahun tepilih dalam penelitian ini karena dinamika sosial emosional yang terjadi dalam keseharian di sekolah TK Tarbiyyatul Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-6 Tahun. (Sutisn. Indonesian Journal of Social Science (IJSS) 1. July, 49-63 Athfal sangat kompleks. Penelitian ini menggunakan alat pengumpulan data berupa kuesioner digital yaitu Google Formulir. Tautan Google Formulir disebar di Whatsapp Grup Paguyuban Orang Tua TK Tarbiyyatul Athfal pada tanggal 26 Desember 2022. Dari hasil penyebaran tautan kuesioner Google Formulir tersebut diperoleh responden sebanyak 28 Orang Tua yang terdiri dari jenis kelamin Laki-laki dan Perempuan. Analisis yang dilakukan untuk pengolahan data pada penelitian ini menggunakan aplikasi komputer untuk mengetahui pengaruh pola asuh orang tua terhadap perkembangan sosial emosional anak usia 4-6 tahun dengan menggunakan rumus spearman rho dengan taraf signifikansi . untuk uji dua arah yaitu 0,05 atau a = 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Responden dalam penelitian ini yaitu sebanyak 28 Sampel yaitu Orang Tua yang memiliki anak berusia 4-6 tahun yang bersekolah di TK Tarbiyyatul Athfal Kecamatan Banjarwangi. Kabupaten Garut. Jenis kelamin responden pada penelitian ini yaitu. Pria berjumlah 3 orang . ,7%) dan Wanita berjumlah 25 orang . ,3%). Sementara usia responden pada penelitian ini yaitu terdiri dari rentang usia 20-29 tahun sebanyak 14 Orang . %), 30-39 tahun sebanyak 10 Orang . ,7%), 40-49 tahun sebanyak 3 orang . ,7%) dan 50-59 tahun sebanyak 1 orang . ,6%). Berikut adalah tabel hasil uji validitas yang dapat penulis sajikan berdasarkan hasil pengolahan data secara komputerisasi menggunakan aplikasi pengolahan data Statistika IBM SPSS. Tabel 1 Hasil Uji Validitas Variabel Pola Asuh Otoriter No. Indikator rHitung rTabel Kesimpulan X1. 0,691 0,3739 Valid X1. 0,796 0,3739 Valid X1. 0,549 0,3739 Valid X1. 0,483 0,3739 Valid X1. 0,691 0,3739 Valid Sumber olah data SPSS 2022 Dari hasil uji validitas pada tabel 1, diperoleh informasi bahwa nilai rHitung yaitu X1. 1 = 0,691. X1. 2 = 0,796. X1. 3 = 0,549. X1. 4 = 0,483 dan X1. 5 = 0,691 lebih besar daripada nilai rTabel yaitu 0,3739. Maka dengan demikian, diperoleh kesimpulan bahwa semua indikator pada variabel pola asuh otoriter dinyatakan valid. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-6 Tahun. (Sutisn. Indonesian Journal of Social Science (IJSS) 1. July, 49-63 Tabel 2 Hasil Uji Validitas Variabel Pola Asuh Demokratis No. Indikator rHitung rTabel Kesimpulan X2. 0,715 0,3739 Valid X2. 0,721 0,3739 Valid X2. 0,613 0,3739 Valid X2. 0,681 0,3739 Valid X2. 0,775 0,3739 Valid Sumber olah data SPSS 2022 Dari hasil uji validitas pada tabel 2, diperoleh informasi bahwa nilai rHitung variabel X2 lebih besar daripada nilai rTabel yaitu 0,3739. Maka dengan demikian, diperoleh kesimpulan bahwa semua indikator pada variabel pola asuh demokratis dinyatakan valid. Tabel 3 Hasil Uji Validitas Variabel Pola Asuh Permisif No. Indikator rHitung rTabel Kesimpulan X3. 0,632 0,3739 Valid X3. 0,559 0,3739 Valid X3. 0,830 0,3739 Valid X3. 0,805 0,3739 Valid X3. 0,669 0,3739 Valid X3. 0,735 0,3739 Valid Sumber olah data SPSS 2022 Dari hasil uji validitas pada tabel 3, diperoleh informasi bahwa nilai rHitung variabel X3 lebih besar daripada nilai rTabel yaitu 0,3739. Maka dengan demikian, diperoleh kesimpulan bahwa semua indikator pada variabel pola asuh permisif dinyatakan Tabel 4 Hasil Uji Validitas Perkembangan Sosial Emosional Anak No. Indikator rHitung 0,734 0,890 0,781 0,875 0,669 rTabel Kesimpulan 0,3739 Valid 0,3739 Valid 0,3739 Valid 0,3739 Valid 0,3739 Valid Sumber olah data SPSS 2022 Dari hasil uji validitas pada tabel 4, diperoleh informasi bahwa nilai rHitung variabel Y lebih besar daripada nilai rTabel yaitu 0,3739. Maka dengan demikian, diperoleh kesimpulan bahwa semua indikator pada variabel perkembangan sosial emosional anak dinyatakan valid. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-6 Tahun. (Sutisn. Indonesian Journal of Social Science (IJSS) 1. July, 49-63 Tabel 5 Hasil Uji Reliabilitas Variabel Cronbach Alpa 0,617 0,621 0,620 0,632 Kriteria > 0,60 > 0,60 > 0,60 > 0,60 Kesimpulan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Sumber olah data SPSS 2022 Tabel uji reliabilitas menjelaskan bahwa setiap variabel menunjukkan nilai cronbach alpha >0,60 artinya setiap variabel dapat digunakan untuk melakukan uji berikutnya dalam penelitian ini, atau hasil uji reliabilitas telah memenuhi syarat. Tabel 6 Hasil Uji Regresi Model Summary Model Summary Adjusted Std. Error of Model R Square The Estimate Square Predictors: (Constan. Pola Asuh Permisif. Pola Asuh Demokratis. Pola Asuh Otoriter Sumber olah data SPSS 2022 Berdasar pada nilai R Square diatas menjelaskan bahwa pola asuh permisif, pola asuh demokratis, dan pola asuh otoriter memberikan kontribusi sebesar 37,9% pada perkembangan emosional anak usia 4-6 tahun di TK Tarbiyatul athfal Garut. Tabel 7 Hasil Uji Regresi ANOVAa Model ANOVAa Sum of Squares Mean Square Sig. Regression 1 Residual Total Dependent Variable: Perkembangan Sosial Emosional Anak Predictors: (Constan. Pola Asuh Permisif. Pola Asuh Demokratis. Pola Asuh Otoriter Sumber olah data SPSS 2022 Apabila merujuk pada tabel hasil uji anova menjelaskan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,09 > 0,05 dengan demikian pola asuh permisif, demokratis dan otoriter pengaruhnya tidak signifikan. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-6 Tahun. (Sutisn. Indonesian Journal of Social Science (IJSS) 1. July, 49-63 Tabel 8 Hasil Uji Regresi Koefisien Model Coefficientsa Unstandardized Coefficients Std. Error Standardized Coefficients Beta (Constan. Pola Asuh Otoriter (X. Pola Asuh Demokratis (X. Pola Asuh Permisif (X. Dependent Variable: Perkembangan Sosial Emosional Anak (Y) Sig. Sumber olah data SPSS 2022 Dari tabel uji regresi koefisien dapat dibuatkan rumus regresi sebagai berikut: Y= . 0,166X1 0,682X2 0,181X3 e Rumus persamaan regresi tersebut menjelaskan bahwa nilai konstanta positif menunjukkan pengaruh positif variabel independen perkembangan sosial emosional Bila variabel independen naik atau berpengaruh dalam satu satuan, maka variabel perkembangan sosial emosional anak akan terpengaruhi atau naik. 0,166 pada X1 artinya pola asuh otoriter memberikan pengaruh sebesar 16,6% pada perkembangan sosial emosianal anak, koefisien tersebut bernilai positif pola asuh otoriter (X. dan perkembangan sosial emosional anak berhubungan positif, kenaikan nilai pola asuh otoriter akan mengakibatkan kenaikan pada perkembangan sosial emosional anak. Pola asuh demokrasi (X. memiliki ilai 0,682 atau 68,2% berimplikasi pada perkembangan sosial emosional anak, apabila pola asuh demokrasi mengalami kenaikan satu satuan, maka perkembangan sosial emosional anak akan mengalami kenaikan sebesar 68,2%, koefisien ini bernilai positif, yang artinya kenaikan pola asuh demokrasi (X. akan mengakibatkan kenaikan pada perkembangan sosial emosional anak (Y). Pola asuh permisif menunjukan nilai sebesar 0,181 atau 18,1% dimana pola asuh permisif memengaruhi perkembangan sosial emosional anak sebesar 18,1% dan nilai koefisien positif maksudnya apabila X3 pola asuh permisif ini mengalami peningkatan satu satuan maka perkembangan sosial emosional anak akan meningkat sebesar 18,1% dan hubungannya positif. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-6 Tahun. (Sutisn. Indonesian Journal of Social Science (IJSS) 1. July, 49-63 KESIMPULAN Pola asuh orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak, khususnya pada anak usia dini gaya pendidikan meningkatkan kemandirian pendidikan anak usia dini didominasi oleh pendidikan demokratis dan otoriter, dan sebagian kecil masih belum mandiri dengan pendidikan dan penelantaran semacam ini permisif Sebagian besar pendidikan anak usia dini (PAUD) dalam penelitian ini adalah sehari-hari seperti di rumah. Maka dalam hal ini ada hubungan antara pola asuh dalam meningkatkan berwibawa membuat anak tidak tergantung pada hal-hal yang ada dia seharusnya melakukannya sendiri meskipun gaya pengasuhannya agak otoriter khawatir tentang apa yang diinginkan orang tua, tetapi sebenarnya anak-anaklah yang melakukannya mengikuti aturan atau peraturan yang diinginkan orang tua untuk anaknya, tujuannya adalah agar anak-anak dapat melakukan hal-hal sehari-hari yang ada di sekitarnya perbagian . Seperti pola asuh permisif dan penelantaran yang memberikan kebebasan kepada anak secara keseluruhan. DAFTAR PUSTAKA