JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 145-156 Komunikasi Terapeutik Purnomo dengan ODGJ Dalam Konten Youtube "Purnomo Belajar Baik" Indah Puspita Tamano*. Dian Hutami Rahmawati Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jawa Timur. Surabaya. Indonesia 21043010216@student. Abstract This study aims to analyze Purnomo's therapeutic communication practices in interactions with people with mental disorders (ODGJ) in the YouTube account "Purnomo Belajar Baik" (Purnomo Belajar Bai. This study used a qualitative approach with content analysis of five videos depicting interactions between Purnomo and people with mental disorders. The analysis was conducted based on the stages of therapeutic communication, communication characteristics, and communication techniques used in each interaction. The results show that Purnomo's interactions reflect communication characteristics such as sincerity, empathy, and warmth, as well as the use of communication techniques such as active listening, questioning, clarification, and providing emotional support. Therapeutic communication practices in this study are understood as a form of recoveryoriented communication, namely communication that aims to build a sense of security, increase self-confidence, and support the psychological recovery process of people with mental disorders. This distinguishes therapeutic communication from ordinary interpersonal communication, as therapeutic communication has the specific goal of helping individuals achieve a more stable and adaptive emotional state. The research findings indicate that the principles of therapeutic communication can be applied in non-clinical contexts through a humanistic approach that emphasizes acceptance, emotional support, and positive interpersonal relationships between the communicator and the person with mental disorders. Keywords: Therapeutic Communication. ODGJ. Youtube Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh Purnomo dalam interaksi dengan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) pada konten akun YouTube AuPurnomo Belajar BaikAy. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi terhadap lima video yang menampilkan interaksi antara Purnomo dan ODGJ. Analisis dilakukan berdasarkan tahapan komunikasi terapeutik, karakteristik komunikasi, serta teknik komunikasi yang digunakan dalam setiap interaksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi yang dilakukan Purnomo mencerminkan karakteristik komunikasi berupa keikhlasan, empati, dan kehangatan, serta penggunaan teknik komunikasi seperti mendengarkan aktif, bertanya, klarifikasi, dan pemberian dukungan emosional. Praktik komunikasi terapeutik dalam penelitian ini dipahami sebagai bentuk komunikasi yang berorientasi pada pemulihan, yaitu komunikasi yang bertujuan membangun rasa aman, meningkatkan kepercayaan diri, dan mendukung proses pemulihan psikologis ODGJ. Hal ini membedakan komunikasi terapeutik dari komunikasi interpersonal biasa, karena komunikasi terapeutik memiliki tujuan khusus untuk membantu individu mencapai kondisi emosional yang lebih stabil dan adaptif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa prinsip komunikasi terapeutik dapat diterapkan dalam konteks nonklinis melalui pendekatan humanis yang menekankan penerimaan, dukungan emosional, serta hubungan interpersonal yang positif antara komunikator dan ODGJ. Kata Kunci: Komunikasi Terapeutik. ODGJ. Youtube PENDAHULUAN Kesehatan mental merupakan bagian yang sangat penting dalam mewujudkan kondisi kesehatan yang menyeluruh, setara dengan pentingnya menjaga kesehatan fisik. ndividu dengan kondisi mental yang sehat mampu mengenali potensi dirinya, mengelola tekanan hidup, bekerja secara produktif, serta menjalin relasi sosial yang harmonis (Nur Haryanti et al. , 2024. ) Namun Submitted: June 2025. Accepted: March 2026. Published: March 2026 ISSN: 2614-8498 . DOI: https://doi. org/10. 32509/pustakom. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 145-156 ketika keseimbangan mental terganggu akan berkembang menjadi gangguan jiwa, yaitu kondisi yang menganggu fungsi psikologis, emosional dan sosial seseorang secara signifikan Diperkirakan sekitar 450 juta orang di dunia mengalami gangguan mental dan perilaku. Secara global, satu dari empat orang akan mengalami gangguan kejiwaan dalam hidupnya. Berdasarkan data WHO tahun 2023 untuk wilayah Asia Pasifik (WHO SEARO). India menjadi negara dengan jumlah kasus depresi tertinggi, yaitu sekitar 56,6 juta kasus atau 4,5% dari total penduduknya, sedangkan yang terendah tercatat di Maladewa dengan 12. 739 kasus atau 3,7% dari populasi. Di Indonesia sendiri, terdapat sekitar 9,1 juta kasus depresi atau setara dengan 3,7% dari jumlah penduduk. Stigma terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) telah mengakar dalam sejarah panjang kehidupan manusia (Mane et al. , 2. Stigma terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sering kali muncul dalam bentuk pandangan negatif, perlakuan diskriminatif dan pengucilan sosial. Kondisi ini berdampak buruk tidak hanya bagi individu yang mengalami gangguan jiwa, tetapi juga terhadap keluarganya. Seperti penolakan dari lingkungan sekitar, keterasingan hingga menurunnya kualitas hidup. Oleh karena itu upaya untuk mengurangi stigma dan diskriminasi menjadi sangat penting, salah satunya melalui edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat. Langkah ini dapat dilakukan dengan menyebarluaskan informasi yang benar mengenai ODGJ serta memberikan pemahaman yang lebih inklusif melalui pendekatan edukatif dan dukungan sosial (Maisun, 2. Stigma ini dapat memperparah kondisi psikologis dan menghambat proses pemulihan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan komunikasi yang dapat membangun hubungan yang aman, empatik, dan suportif. Salah satu pendekatan yang terbukti efektif adalah komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik adalah metode komunikasi yang dilaksanakan secara sadar, dirancang dengan tujuan tertentu dan difokuskan untuk mempercepat kesembuhan pasien. Komunikasi ini berperan penting dalam memperkuat hubungan antara pemberi bantuan dan klien selama proses perawatan (Widiyanto, 2. Dalam perspektif ilmu komunikasi, komunikasi terapeutik tidak hanya dipahami sebagai praktik moral atau etik semata, tetapi sebagai bentuk komunikasi ilmiah yang berorientasi pada pemulihan . ecovery-oriented communicatio. , yaitu komunikasi yang bertujuan membangun rasa aman, meningkatkan kepercayaan diri, serta mendukung stabilitas emosional individu. Hal ini membedakan komunikasi terapeutik dari komunikasi interpersonal biasa, karena komunikasi terapeutik memiliki tujuan khusus dalam mendukung proses pemulihan melalui penggunaan teknik komunikasi tertentu seperti mendengarkan aktif, klarifikasi, dan pemberian dukungan emosional. Dalam perkembangan media digital YouTube memiliki cara penyajian dan karakteristik unik yang dirancang untuk menarik minat serta membangun hubungan emosional dengan para penontonnya. Di tengah beragamnya konten yang ditampilkan, muncul sejumlah inisiatif yang memanfaatkan YouTube sebagai media alternatif untuk menyuarakan kepedulian sosial. Salah satunya terlihat pada kanal-kanal yang menampilkan tema social experiment, khususnya yang melibatkan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Kanal-kanal ini bertujuan menumbuhkan empati sosial dan menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap sesama. Melalui konten tersebut,isu ketimpangan sosial diangkat secara eksplisit, terutama yang berkaitan dengan kelompok rentan seperti ODGJ dan orang- orang yang hidup dalam keterlantaran (Budianti, 2. Salah satu akun YouTube yang memanfaatkan media ini untuk tujuan sosial adalah AuPurnomo Belajar BaikAy . Akun ini dikelola oleh seorang anggota kepolisian bernama Purnomo yang menampilkan interaksinya dengan ODGJ secara langsung. Dalam setiap kontennya Purnomo tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga menerapkan komunikasi terapeutik dalam bentuk sapaan hangat, mendengarkan aktif dan menciptakan suasana yang aman bagi ODGJ. Sejumlah penelitian mengenai komunikasi terapeutik selama ini lebih banyak dilakukan dalam konteks klinis, khususnya dalam hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien di rumah sakit atau fasilitas Sementara itu, kajian komunikasi terapeutik dalam relasi non-profesional, terutama dalam ruang publik digital seperti media sosial, masih relatif terbatas. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan penelitian dalam mengkaji komunikasi terapeutik di luar konteks klinis. Komunikasi Terapeutik Purnomo dengan ODGJ Dalam Konten Youtube "Purnomo Belajar Baik" (Indah Puspita Tamano. Dian Hutami Rahmawat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 145-156 khususnya dalam interaksi yang berlangsung di ruang digital. Gambar 1. Akun Youtube "Purnomo Belajar Baik" Sumber: Youtube (@purnomobelajarbai. , 2025 Berdasarkan latar belakang tersebut muncul permasalahan utama yang diangkat dalam artikel ini yaitu. Bagaimana komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh Purnomo dengan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dalam konten akun Youtube AuPurnomo Belajar BaikAy. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh Purnomo dengan ODGJ dalam akun YouTube AuPurnomo Belajar BaikAy. Fokus analisis mencakup tahapan komunikasi terapeutik, karakteristik komunikasi yang muncul, serta teknik komunikasi yang digunakan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan literatur komunikasi terapeutik di luar konteks klinis, serta memperluas pemahaman tentang penerapan komunikasi humanis dalam media digital sebagai bentuk dukungan sosial terhadap ODGJ. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi yang bertujuan untuk menggambarkan tahapan, karakteristik, dan teknik komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh Purnomo terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dalam konten YouTube AuPurnomo Belajar BaikAy. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menafsirkan makna simbolik dan relasi sosial yang terekam dalam media digital serta memahami konteks komunikasi secara Menurut Lexy J. Moleong dalam bukunya AuMetodologi Penelitian KualitatifAy penelitian kualitatif merupakan suatu metode yang bertujuan untuk memahami dan menafsirkan makna dari fenomena yang dialami oleh subjek penelitian, dengan cara mendeskripsikannya melalui katakata. Dalam penelitian saat ini yang dilakukan oleh peneliti menggunakan penelitian kualitatif yang digunakan untuk menggambarkan dan menganalisis fenomena deskriptif dalam bahasa tertulis atau lisan dari orang-orang yang dapat mengamati perilakunya (Lexy J. Moleong, 2. Metode analisis isi kualitatif digunakan untuk mengeksplorasi isi pesan dalam video, baik yang tersurat maupun yang tersirat dengan cara mengelompokkan data ke dalam kategori tematik berdasarkan teori komunikasi terapeutik. Pendekatan ini mengacu pada model analisis isi kualitatif menurut Parker. Saundage & Lee yang menekankan pada interpretasi makna dalam media sosial dan video digital. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah lima video unggahan pada kanal YouTube AuPurnomo Belajar BaikAy yang paling banyak ditonton dan menampilkan interaksi intens antara Purnomo dan ODGJ. Unit analisis dalam penelitian ini adalah scene atau potongan peristiwa yang memperlihatkan komunikasi terapeutik secara verbal maupun nonverbal. Tiap scene dianalisis berdasarkan tiga kategori utama, yaitu: tahapan komunikasi terapeutik, meliputi tahap pra- interaksi, orientasi, kerja, dan terminasi. karakteristik komunikasi terapeutik, yaitu keikhlasan, empati, dan kehangatan serta. teknik komunikasi terapeutik. Komunikasi Terapeutik Purnomo dengan ODGJ Dalam Konten Youtube "Purnomo Belajar Baik" (Indah Puspita Tamano. Dian Hutami Rahmawat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 145-156 Analisis data dilakukan dengan mengkategorikan bentuk komunikasi yang muncul berdasarkan tahapan komunikasi terapeutik, yaitu tahap pra-interaksi, orientasi, kerja, dan Selain itu, analisis juga dilakukan terhadap karakteristik komunikasi terapeutik yang meliputi keikhlasan, empati, dan kehangatan, serta teknik komunikasi terapeutik yang digunakan dalam interaksi. Proses analisis dilakukan melalui tahap reduksi data, pengelompokan kategori, dan penarikan kesimpulan untuk menemukan pola komunikasi terapeutik yang muncul dalam interaksi tersebut (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. Penelitian ini bertujuan pola komunikasi terapeutik sebagai praktik komunikasi simbolik dalam konteks media publik digital. Oleh karena itu, analisis difokuskan pada representasi komunikasi yang ditampilkan dalam video, bukan pada kondisi psikologis individu yang terlibat dalam interaksi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi terhadap video yang diteliti, studi literatur untuk memperkuat kerangka teoritis. Dokumentasi dilakukan dengan cara menonton dan mencatat setiap elemen komunikasi yang muncul dalam video, termasuk ekspresi wajah, nada suara, serta respons dari ODGJ. Analisis data dilakukan secara sistematis dengan mengikuti lima tahap Qualitative Content Analysis menurut Parker et al. , yaitu: mendefinisikan tujuan penelitian dan unit analisis, seleksi konten, analisis konten, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini diperoleh melalui analisis terhadap lima video unggahan di kanal YouTube AuPurnomo Belajar BaikAy yang menampilkan interaksi langsung antara Purnomo dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Setiap video dianalisis berdasarkan total 21 scene yang mengandung unsur komunikasi terapeutik. Analisis dilakukan dengan mengkategorikan data ke dalam tiga aspek utama, yaitu tahapan komunikasi terapeutik, karakteristik komunikasi terapeutik dan teknik komunikasi Secara keseluruhan hasil temuan ini menunjukkan bahwa Purnomo secara konsisten menerapkan prinsip-prinsip komunikasi terapeutik dalam interaksinya dengan ODGJ melalui pendekatan yang empatik, fleksibel, dan humanis. Analisis ini menegaskan bahwa komunikasi terapeutik dapat dijalankan secara efektif bahkan oleh individu non-profesional dalam konteks nonklinis, termasuk melalui media digital seperti YouTube. Tabel 1. Kategorisasi Tahapan Komunikasi Terapeutik Tahapan Komunikasi Jumlah Scene Terapeutik Pra-Interaksi Orientasi Kerja Terminasi Sumber: Data Penelitian, 2025 Tabel 1 menunjukkan distribusi tahapan komunikasi terapeutik yang muncul dalam video yang Berdasarkan data tersebut, tahap kerja merupakan tahapan yang paling dominan dengan jumlah 9 scene, yang menunjukkan bahwa interaksi lebih banyak berfokus pada proses inti komunikasi seperti eksplorasi masalah dan pemberian respon terhadap kondisi ODGJ. Selanjutnya, tahap terminasi muncul sebanyak 5 scene dan tahap orientasi sebanyak 4 scene, yang mengindikasikan adanya upaya membangun hubungan serta mengakhiri interaksi secara terstruktur. Sementara itu, tahap prainteraksi memiliki jumlah paling sedikit, yaitu 3 scene, karena tahap ini lebih bersifat persiapan sebelum interaksi berlangsung. Pola ini sejalan dengan konsep komunikasi terapeutik yang menempatkan tahap kerja sebagai inti dari proses interaksi antara komunikator dan klien Tabel 2. Kategorisasi Karakteristik Komunikasi Terapeutik Komunikasi Terapeutik Purnomo dengan ODGJ Dalam Konten Youtube "Purnomo Belajar Baik" (Indah Puspita Tamano. Dian Hutami Rahmawat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 145-156 Karakteristik Komunikasi Terapeutik Keikhlasan Jumlah Scene Empati Kehangatan Sumber: Data Penelitian, 2025 Tabel 2 menunjukkan distribusi karakteristik komunikasi terapeutik yang muncul dalam interaksi yang dianalisis. Berdasarkan data, kehangatan merupakan karakteristik yang paling dominan dengan jumlah 10 scene, yang menunjukkan bahwa interaksi lebih banyak menekankan pada pendekatan yang bersifat ramah, suportif, dan menciptakan rasa aman bagi ODGJ. Selanjutnya, empati muncul dalam 8 scene, yang mengindikasikan adanya upaya memahami kondisi emosional dan psikologis individu dalam interaksi. Sementara itu, keikhlasan muncul sebanyak 7 scene, yang mencerminkan ketulusan komunikator dalam membangun hubungan terapeutik. Dominasi kehangatan dan empati ini sejalan dengan prinsip komunikasi terapeutik yang menekankan pentingnya hubungan interpersonal yang humanis dan penuh penerimaan dalam mendukung proses komunikasi yang efektif. Tabel 3. Kategorisasi Teknik Komunikasi Terapeutik Teknik Komunikasi Terapeutik Jumlah Scene Bertanya Mendengarkan Aktif Pertanyaan Terbuka Menyampaikan Hasil Observasi Humor Klarifikasi Menawarkan Informasi Sumber: Data Penelitian, 2025 Tabel 3 menunjukkan variasi teknik komunikasi terapeutik yang digunakan dalam interaksi yang dianalisis. Berdasarkan data, teknik mendengarkan aktif merupakan teknik yang paling dominan dengan jumlah 11 scene, yang menunjukkan bahwa komunikator lebih banyak memberikan ruang bagi ODGJ untuk mengekspresikan diri serta menunjukkan perhatian penuh dalam interaksi. Teknik bertanya juga cukup sering digunakan dengan jumlah 7 scene, yang berfungsi untuk menggali informasi dan mendorong keterbukaan komunikasi. Sementara itu, teknik lain seperti pertanyaan terbuka dan menyampaikan hasil observasi masing-masing muncul sebanyak 2 scene, yang menunjukkan upaya dalam memperdalam pemahaman terhadap kondisi individu. Adapun teknik humor, klarifikasi, dan menawarkan informasi muncul dalam jumlah yang lebih sedikit, yaitu masingmasing 1 scene, yang mengindikasikan bahwa teknik tersebut digunakan secara situasional sesuai kebutuhan interaksi. Pola ini sejalan dengan konsep komunikasi terapeutik yang menekankan pentingnya mendengarkan aktif, empati, dan respon yang tepat dalam membangun hubungan interpersonal yang efektif. Setelah hasil penelitian diklasifikasikan ke dalam tahapan, karakteristik, dan teknik komunikasi terapeutik diperlukan pembahasan lebih lanjut untuk memahami bagaimana penerapan komunikasi terapeutik tersebut terwujud secara nyata dalam interaksi antara Purnomo dan ODGJ. Oleh karena itu, bagian pembahasan berikut akan mengulas secara mendalam konteks setiap scene melalui pendekatan interpretatif, yang mencakup aspek fisik, emosional, spiritual, hingga relasi interpersonal yang terbentuk dalam komunikasi terapeutik non-klinis. Submitted: June 2025. Accepted: March 2026. Published: March 2026 ISSN: 2614-8498 . DOI: https://doi. org/10. 32509/pustakom. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 145-156 Pendekatan Fisik dan Emosional Purnomo dalam Membangun Komunikasi dengan ODGJ Komunikasi terapeutik merupakan bentuk interaksi langsung yang bertujuan mendukung pemulihan kondisi emosional dan fisik klien serta memberikan dukungan psikologis yang dibutuhkan (Nugroho, 2. Meskipun praktik komunikasi ini umumnya dilakukan oleh tenaga profesional seperti perawat, temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa prinsip-prinsip komunikasi terapeutik juga dapat diterapkan secara efektif oleh individu non-profesional. Hal ini terlihat dari pendekatan yang dilakukan oleh Purnomo, seorang anggota kepolisian yang meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang komunikasi terapeutik, mampu membangun interaksi yang hangat dan penuh empati dengan ODGJ. Cara Purnomo berkomunikasi lebih didasarkan pada kepekaan sosial, pengalaman langsung di lapangan serta niat tulus untuk membantu, bukan semata-mata pada teori Hal ini menunjukkan bahwa keterbatasan dalam pendidikan formal tidak menjadi penghalang untuk membangun hubungan komunikasi yang mendukung, selama interaksi tersebut dilakukan dengan ketulusan hati, kesabaran, dan empati. Keunikan pendekatan fisik yang dilakukannya terletak pada metode dan konteks pelaksanaannya yang berbeda dari tenaga profesional pada Sebagai seorang anggota kepolisian. Purnomo tidak melakukan interaksi dalam ruangan klinis melainkan langsung di ruang-ruang publik seperti pinggir jalan, area pemakaman dan area hutan. Pendekatan fisik dan emosional yang diterapkannya berperan penting dalam tahapan pra-interaksi, orientasi hingga tahap kerja dalam komunikasi terapeutik karena mampu menciptakan suasana yang lebih terbuka, mengurangi resistensi dari ODGJ serta membangun relasi yang lebih hangat dan Dalam scene pertama dengan konten video yang berjudul AuODGJ ini Sampai Begini Karena Tidak Kenal Dan Tidak Tau Siapa Siapa Ikut Mikir Jadi BingungAy memperlihatkan tahap pra-interaksi dalam komunikasi terapeutik, yaitu fase ketika komunikator belum melakukan kontak langsung dengan klien, namun sudah mulai melakukan pengamatan terhadap kondisinya. Dalam scene ini. Purnomo belum melakukan komunikasi verbal dengan ODGJ namun telah menunjukkan empati, perhatian dan kesiapan emosional untuk membantu. Pernyataan yang menggambarkan ODGJ sedang mencari makan di tempat sampah disampaikan dengan nada netral dan tanpa penghakiman, mencerminkan kepedulian dan kepekaan sosial. Sikap ini menggambarkan karakteristik empati di mana Purnomo mampu melihat situasi dari perspektif ODGJ dan menerimanya apa adanya (Stuart dan Sundee. dalam (Xue & Heffernan, 2021. Rahmawati, 2. Selain itu, teknik menyatakan hasil observasi juga tampak ketika Purnomo menyampaikan kondisi yang ia lihat secara objektif sebagai dasar awal membangun pemahaman. Teknik ini penting dalam komunikasi terapeutik karena membantu membentuk sikap penerimaan sejak awal (Mulyadi & Syaripudin, 2. Kemudian lanjut dengan scene ketiga dengan judul video yang sama. Interaksi dalam cuplikan ini menunjukkan tahapan kerja dalam komunikasi terapeutik, yaitu fase di mana hubungan antara penolong dan klien telah terbangun, dan mulai bergerak menuju tindakan aktif untuk mencapai tujuan bersama, termasuk perubahan perilaku dan peningkatan perawatan diri (Stuart G. W . dalam (Mulyadi & Syaripudin, 2. Dalam adegan ini. Purnomo tidak hanya berkomunikasi secara verbal dengan ODGJ, tetapi juga melakukan pendekatan fisik dan emosional melalui tindakan seperti menggandeng tangan, merangkul, dan memotong rambut. Bentuk komunikasi nonverbal ini mencerminkan karakteristik kehangatan, ditunjukkan melalui sikap terbuka dan penerimaan yang menciptakan rasa aman bagi ODGJ (Arwani, 2. dalam (Mulyadi & Syaripudin, 2. Selain itu. Purnomo juga menggunakan teknik pertanyaan terbuka secara halus dan berulang sebagai strategi untuk mengeksplorasi pikiran ODGJ tanpa memberikan tekanan. Namun, aspek yang paling menonjol dalam interaksi ini adalah sentuhan fisik yang menenangkan, yang berfungsi sebagai jembatan emosional ketika komunikasi verbal belum efektif. Dalam praktik komunikasi terapeutik, pendekatan fisik yang dilakukan dengan tepat dapat memperkuat hubungan saling mendukung atau helping Selanjutnya dalam scene dua dengan judul AuPak Purnomo Kualahan Ditendang Terjatuh Bapak OD9J Ngamuk Ditengah Jalan Raya LamonganAy menunjukkan tahap orientasi dalam komunikasi Komunikasi Terapeutik Purnomo dengan ODGJ Dalam Konten Youtube "Purnomo Belajar Baik" (Indah Puspita Tamano. Dian Hutami Rahmawat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 145-156 terapeutik, yaitu fase membangun kontak awal dan menciptakan rasa aman dengan klien melalui hubungan yang saling percaya langsung (Stuart G. W . dalam (Mulyadi & Syaripudin, 2. Meski situasi cukup berisiko karena ODGJ berada di tengah jalan dan sempat menolak ajakan. Purnomo tetap tenang dan sabar untuk menawarkan makanan dan minuman serta menyentuh dengan lembut untuk Sikap ini mencerminkan karakteristik keikhlasan, yaitu membantu tanpa pamrih dan tanpa menghakimi (Arwani, 2. dalam (Mulyadi & Syaripudin, 2. Ketika ODGJ meminta minuman bermerek AuCleoAy. Purnomo menghargai dan memenuhinya tanpa membantah, yang mencerminkan kemampuan mendengarkan untuk memahami kebutuhan klien secara utuh. Selain itu Purnomo juga menggunakan teknik menawarkan informasi dengan bertanya. AuMau makan bakso atau rawon?Ay, tanpa memberi tekanan, memberi ruang bagi klien untuk merasa dihargai dan bebas Teknik ini sesuai dengan prinsip pemberian informasi untuk mendorong pengambilan keputusan mandiri klien (Stuart dan Sundeen dalam (Xue & Heffernan, 2021. Rahmawati, 2. Dalam kondisi krisis sekalipun Purnomo tetap mengedepankan cara yang lembut untuk menghadapi ODGJ agar tercipta rasa aman sebagai dasar hubungan yang terbuka. Penerimaan dan Mendengarkan Aktif sebagai Bentuk Empati dalam Komunikasi Purnomo dengan ODGJ Salah satu elemen mendasar dalam komunikasi terapeutik adalah kemampuan penolong untuk menunjukkan sikap menerima dan mendengarkan secara aktif kepada klien. Dalam konteks interaksi dengan ODGJ, kedua aspek ini sangat penting untuk menciptakan rasa aman dan membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan. Sikap menerima berarti membuka diri untuk menerima klien secara utuh tanpa prasangka, yang pada akhirnya akan mendorong klien merasa nyaman dan lebih terbuka dalam menyampaikan perasaannya (Pertiwi et al. , 2. Sementara itu, mendengarkan aktif merupakan proses menyimak secara utuh baik secara verbal maupun nonverbal, disertai empati dan respons yang sesuai. Pendengaran aktif bukan hanya tentang memahami isi pembicaraan, tetapi juga menangkap makna emosional dari pesan yang disampaikan. Dengan demikian, penolong berperan sebagai pendengar yang empatik dan memberikan ruang lebih luas bagi klien untuk mengekspresikan diri (Stuart Sunde. dalam (Xue & Heffernan, 2021. Rahmawati, 2. Dalam scene 3 dengan konten video yang berjudul AuTakut Ditangk4p Pak Purnomo Bapak 0DGJ Lari Naik Ke Hutan Ditangk4p Warga Kampung. Kasihan NasibnyaAy menunjukkan proses komunikasi terapeutik yang masuk ke dalam tahap kerja. Dalam adegan tersebut Purnomo terlihat memberikan pendampingan secara fisik dan emosional kepada ODGJ dengan cara menggandeng tangan saat berjalan menuju tempat mandi sekaligus menyampaikan dorongan positif melalui ucapannya, seperti AuAyo mandi dulu biar bersihAy dan AuNgga, ngga bayar. Mandi dulu biar segar. Ay Ungkapan ini muncul sebagai respons atas pertanyaan ODGJ. AuBayar?Ay, yang mengindikasikan adanya kecemasan atau kesalahpahaman perseptual. Alih-alih mengabaikan. Purnomo memilih untuk menanggapi secara tenang dan meyakinkan. Tindakan ini mencerminkan karakteristik empati, yaitu kemampuan untuk memahami kekhawatiran individu dari sudut pandangnya dan merasakan pengalaman emosional orang lain tanpa menghakimi Henry Backrack . dalam (Wijayani, 2. Dalam interaksi ini. Purnomo memberikan ruang yang cukup bagi ODGJ untuk merespons meskipun jawabannya terbatabata dan kurang jelas, seperti AuEmpat. Ay dan Auna. Ay. Purnomo tidak memotong pembicaraan melainkan memilih untuk melanjutkan percakapan dengan pertanyaan yang diajukan secara lembut dan berulang, seperti AuRumahnya mana?Ay serta ajakan yang bersahabat. AuKene-kene, ayo cepet mandiAy. Pendekatan ini mencerminkan teknik mendengarkan yang tidak hanya berfokus pada isi pesan, tetapi juga bertujuan menciptakan suasana yang aman dan nyaman agar klien merasa bebas menyampaikan pikiran tanpa tekanan (Stuart & Sundee. dalam (Xue & Heffernan, 2021. Rahmawati, 2. Ucapan penutup Purnomo AuOke, sipAy merupakan bagian dari komunikasi suportif yang dapat memperkuat keterlibatan emosional klien. Meskipun percakapan terlihat sederhana, keseluruhan interaksi menunjukkan peran penting empati dan penerimaan aktif dalam membangun relasi yang mendukung serta memperkuat ikatan emosional antara penolong dan klien. Komunikasi Terapeutik Purnomo dengan ODGJ Dalam Konten Youtube "Purnomo Belajar Baik" (Indah Puspita Tamano. Dian Hutami Rahmawat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 145-156 Melalui keseluruhan interaksi yang ditampilkan dalam video terlihat bahwa pendekatan fisik dan emosional yang dilakukan oleh Purnomo menjadi fondasi penting dalam membangun komunikasi terapeutik dengan ODGJ. Gestur seperti sentuhan lembut, sapaan menenangkan, tindakan merawat seperti memberi makan, memandikan serta menggandeng tangan tidak hanya berfungsi sebagai bantuan praktis tetapi juga sebagai media untuk menumbuhkan rasa aman dan membangun Meskipun tidak memiliki latar belakang profesional dalam bidang kesehatan jiwa. Purnomo mampu menerapkan komunikasi terapeutik secara efektif dengan mengedepankan keikhlasan, empati dan kehangatan. Pendekatan yang dilakukan menunjukkan bahwa keterampilan komunikasi terapeutik dapat berkembang melalui kepekaan sosial dan pengalaman langsung di Hal ini menegaskan bahwa ruang publik dapat menjadi ruang alternatif yang relevan dan bermakna dalam membangun hubungan terapeutik yang manusiawi. Pendekatan Humanis Purnomo Melalui Humor dan Respons Positif dalam membangun Rasa Aman ODGJ Upaya menciptakan rasa aman menjadi komponen penting dalam komunikasi terapeutik, terutama ketika berinteraksi dengan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Salah satu strategi yang digunakan oleh Purnomo untuk membangun suasana yang aman dan nyaman adalah melalui penggunaan humor dan respons positif. Pendekatan ini tidak hanya berfungsi untuk meredakan ketegangan tetapi juga berperan dalam membangun kepercayaan serta memperkuat penghargaan terhadap martabat klien sebagai individu. Humor dalam konteks komunikasi terapeutik dapat menjadi sarana yang efektif untuk menjalin kedekatan emosional antara penolong dan klien serta menciptakan hubungan yang lebih terbuka (Stuart Sunde. dalam (Xue & Heffernan, 2021. Rahmawati, 2. Pendekatan humanis yang disampaikan melalui humor terlihat dalam scene ketiga yang terlihat Purnomo membersihkan ODGJ dan berjalan keluar makam dengan judul video AuPak Purnomo Sampai Harus Adzan D!Ku8uran. 20 Thn OD9J Langsung Mau PulangAy Adegan ini menunjukkan humor dan respons positif sebagai bagian dari strategi komunikasi terapeutik untuk menciptakan suasana yang nyaman dan meredakan ketegangan selama proses pendampingan. Interaksi dalam scene ini mencerminkan tahap kerja dalam komunikasi terapeutik, yakni fase ketika hubungan antara penolong dan klien telah terbentuk dan mulai berlangsung secara aktif guna mendukung perubahan perilaku serta pemulihan fungsi perawatan diri (Laela Sri, 2. Dalam proses komunikasi. Purnomo menggunakan intonasi lembut serta gerakan nonverbal yang suportif seperti merapikan baju dan membantu ODGJ berdiri. Tindakan ini memperlihatkan karakteristik kehangatan melalui komunikasi verbal dan nonverbal yang menunjukkan penerimaan tanpa syarat, sehingga menciptakan rasa aman secara emosional (Pertiwi et al. , 2. Teknik bertanya juga digunakan untuk mempertahankan keterlibatan klien. Hal ini tampak saat Purnomo mengulang pertanyaan. AuMau pulang apa di sini?Ay, yang kemudian dijawab oleh ODGJ dengan AuMantukAy Respons ini menjadi indikator penting bahwa komunikasi yang dibangun dengan pendekatan empatik dan santai mampu mendorong keterbukaan dari pihak klien. Melanjutkan scene tersebut, tindakan langsung seperti memandikan, memotong kuku dan rambut serta memberikan pakaian bersih merupakan bagian dari dukungan terhadap pemulihan fisik dan sosial bagi ODGJ yang mengalami gangguan dalam perawatan diri. Dalam proses tersebut. Purnomo menampilkan pendekatan humanis melalui candaan ringan, seperti saat Purnomo memakaikan kacamata hitam kepada ODGJ dan berkata AuCoba sampean yang pakai kacamata ini pakAy yang membuat interaksi terasa hangat dan tidak kaku. Humor semacam ini bukan sekadar hiburan, melainkan merupakan bagian dari teknik komunikasi terapeutik yang dapat mengurangi kecemasan dan memperkuat hubungan saling percaya (Stuart Sunde. dalam (Xue & Heffernan, 2021. Rahmawati, 2. Dengan demikian rasa aman dalam komunikasi terapeutik tidak selalu dibangun melalui pendekatan yang kaku atau formal melainkan juga bisa tumbuh dari interaksi yang hangat. Komunikasi Terapeutik Purnomo dengan ODGJ Dalam Konten Youtube "Purnomo Belajar Baik" (Indah Puspita Tamano. Dian Hutami Rahmawat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 145-156 Sentuhan Spiritual Purnomo dalam Membangun Kesadaran dan Ketenangan ODGJ Pendekatan spiritual merupakan salah satu cara untuk menjangkau aspek terdalam dari diri Dalam konteks pendampingan terhadap individu dengan gangguan jiwa, pendekatan ini berperan penting dalam menumbuhkan emosi positif, memperkuat kondisi mental, serta menurunkan tingkat kecemasan dan depresi yang dirasakan oleh klien (Suyani & Wardiningsih, 2. Salah satu bentuk sentuhan spiritual yang paling kuat tercermin dalam scene dua pada video berjudul AuPak Purnomo Sampai Harus Adzan D!Ku8uran. 20 Thn OD9J Langsung Mau PulangAy terlihat bagaimana Purnomo memulai interaksi dengan ODGJ melalui pendekatan yang tidak konvensional, yakni dengan mengumandangkan adzan di area pemakaman, tepat di samping ODGJ yang sedang tertidur. Purnomo tidak membangunkan klien dengan suara keras atau sentuhan fisik melainkan Purnomo memilih menyampaikan adzan dengan nada lembut sebagai wujud pendekatan spiritual yang bertujuan membangkitkan kesadaran batiniah klien (Stuart G. W . dalam (Mulyadi & Syaripudin, 2. Setelah adzan dikumandangkan ODGJ terbangun dan memberikan respons saat ditanya mengenai Hal ini mencerminkan penerapan teknik bertanya yang bertujuan untuk memperoleh informasi awal sekaligus membangun kesadaran diri klien. Selanjutnya. Purnomo melanjutkan interaksi dengan memberikan edukasi ringan mengenai fungsi makam serta mengajak ODGJ untuk pulang karena masih memiliki seorang ibu. Cara Purnomo menyampaikan informasi ini menunjukkan karakteristik empati, yaitu dengan berusaha memahami situasi dari perspektif klien dan menyampaikannya secara bijak agar lebih mudah diterima (Daniel Goleman, 1. dalam (Angelyna & Liauw, 2. Selain itu. Purnomo juga menggunakan nada suara yang lembut dalam kalimat seperti Auayo duduk yang rapiAy dan Auayo kita bersihkan dulu sebelum pulangAy yang mencerminkan karakteristik kehangatan, sikap tidak menghakimi serta kesabaran dalam membentuk suasana emosional yang aman (Stuart G. W . dalam (Mulyadi & Syaripudin, 2. Adegan dalam scene ini menunjukkan bahwa pendekatan spiritual tidak hanya membangkitkan kesadaran fisik, tetapi juga mempengaruhi aspek emosional dan religius pada diri ODGJ. Tindakan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan spiritual dapat berfungsi sebagai sarana untuk menumbuhkan ketenangan batin serta membangkitkan kesadaran pada diri ODGJ. Mengakhiri Pendampingan ODGJ dengan Tetap Memberi Ruang dan Harapan Dalam praktik komunikasi terapeutik, proses terminasi tidak selalu dilakukan secara formal atau kaku. Dalam konteks lapangan seperti yang dilakukan oleh Purnomo, mengakhiri pendampingan dengan ODGJ berlangsung secara bertahap dan fleksibel. Proses ini dikenal sebagai tahap terminasi, yaitu momen ketika komunikasi dengan klien diakhiri baik secara sementara maupun permanen seiring dengan tercapainya tujuan tertentu atau batasan dalam hubungan tersebut (Stuart G. W . dalam (Mulyadi & Syaripudin, 2. Mengakhiri pendampingan oleh Purnomo tidak dilakukan secara tibatiba melainkan melalui pendekatan yang empatik dan penuh penerimaan dengan tetap menanamkan harapan akan kelanjutan proses pemulihan melalui dukungan keluarga atau lingkungan sosial. Hal ini terlihat scene empat yang berada di tepi jalan raya proses pengantaran ODGJ ke dalam mobil dengan konten video yang berjudul AuPak Purnomo Kualahan Ditendang Terjatuh Bapak OD9J Ngamuk Ditengah Jalan Raya LamonganAy Interaksi ini memperlihatkan terminasi sementara antara Purnomo dan ODGJ harus dihentikan sejenak secara hangat dan penuh dukungan. Meskipun interaksi tersebut belum mencapai tahap pemulangan ke rumah, pengantaran ODGJ ke dalam mobil menjadi bagian penting dari penutupan sementara komunikasi dengan tujuan melanjutkan pemulihan di tempat yang lebih aman. Dalam situasi tersebut. Purnomo memberikan penjelasan kepada warga bahwa tindakan mengikat bukanlah bentuk kekerasan, melainkan langkah untuk menjaga keselamatan dan ketenangan ODGJ. Sikap terbuka dan jujur ini mencerminkan karakteristik empati dan upaya membangun pemahaman dengan lingkungan sosial. Persetujuan dari warga terhadap tindakan tersebut juga menunjukkan bahwa pendekatan yang dilakukan dapat diterima oleh masyarakat secara sosial. Komunikasi Terapeutik Purnomo dengan ODGJ Dalam Konten Youtube "Purnomo Belajar Baik" (Indah Puspita Tamano. Dian Hutami Rahmawat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 145-156 Melanjutkan scene 4, interaksi antara Purnomo dan ODGJ memperlihatkan penerapan karakteristik kehangatan serta teknik mendengarkan aktif. Hal ini tampak dari cara Purnomo merespons ucapan ODGJ tanpa menunjukkan ekspresi marah. Ketika ODGJ berkata. AuSampean iki pakpakAy Purnomo membalas dengan kalimat tenang AuSampean loh diewangi lapo kok nakal ngene. Bahaya, bahaya, sek-sek. Ay Nada suara yang lembut serta irama bicara yang tidak tergesa-gesa menjadi indikasi pendekatan yang menenangkan dan tidak mengintimidasi (Pertiwi et al. , 2. Purnomo tidak menyela ataupun membantah secara langsung, melainkan memberikan respons sabar yang mencerminkan penerapan teknik mendengarkan yakni, mendengarkan tidak hanya dengan indera pendengaran tetapi juga dengan empati untuk memahami perasaan, pikiran, dan persepsi klien J (Stuart dan Sundeen dalam (Xue & Heffernan, 2021. Rahmawati, 2. Dalam video sebelumnya telah ditampilkan roses terminasi yang dilakukan oleh Purnomo di tengah situasi jalan raya yang menantang, maka dalam scene tiga pada video keempat berjudul AuKuatir Salah Cukur. Ganteng Gagah Bersih Tegap Seperti Intel Menyamar 0D9J Terlant4r DijalananAy Purnomo kembali memperlihatkan bentuk terminasi sementara, namun dalam suasana yang lebih tenang dan Terminasi sementara dalam konteks ini mengacu pada pengakhiran interaksi langsung yang belum bersifat final, dengan kemungkinan dilanjutkan di waktu yang lain (Stuart G. W . dalam (Mulyadi & Syaripudin, 2. Hal ini ditunjukkan melalui ajakan Purnomo kepada masyarakat untuk membantu menyebarkan video sebagai bagian dari usaha untuk menemukan keluarga ODGJ. Purnomo menanggapi pernyataan ODGJ yang bersifat delusional, seperti pengakuan berasal dari kerajaan Sangyang dan utusan Ratu Kidul tanpa memberikan sanggahan atau penolakan melainkan dengan menjawab AuOh ya bener-benerAy sebagai bentuk penerimaan terhadap pandangan klien. Respons ini mencerminkan karakteristik empati afektif, yaitu kemampuan untuk memahami dan menerima perspektif orang lain meskipun berbeda dari logika umum (Daniel Goleman, 1. dalam (Angelyna & Liauw, 2. Selain itu. Purnomo juga menunjukkan penerapan teknik mendengarkan saat membiarkan ODGJ menyampaikan keluhan seperti rasa lapar dan keinginan untuk makan. Ia tidak memotong atau mengoreksi narasi klien, melainkan memberi ruang bagi ekspresi tersebut, yang menunjukkan perhatian dan keterbukaan terhadap kondisi psikologis ODGJ (Stuart dan Sundee. dalam (Xue & Heffernan, 2021. Rahmawati, 2. Video lain yang termasuk ke dalam terminasi sementara dengan scene empat di area kamar mandi yang berjudul AuTakut Ditangk4p Pak Purnomo Bapak 0DGJ Lari Naik Ke Hutan Ditangk4p Warga Kampung. Kasihan NasibnyaAy Adegan ini menunjukkan penghentian interaksi secara sementara setelah Purnomo memandikan ODGJ, sejalan dengan pengertian terminasi sementara yang dijelaskan oleh Stuart G. W . dalam (Mulyadi & Syaripudin, 2. yakni penghentian komunikasi yang belum bersifat permanen karena masih terbuka kemungkinan pertemuan lanjutan. Dalam prosesnya Purnomo memperlihatkan karakteristik kehangatan dengan memberikan arahan melalui nada yang lembut dan bersahabat, seperti pada ucapannya AuAyo-ayo kene-kene. Ayo cepet mandiAy yang menciptakan suasana aman dan nyaman secara emosional bagi klien (Pertiwi et al. , 2. Setelah ODGJ selesai mandi. Purnomo menerapkan teknik klarifikasi untuk memperjelas identitas klien melalui pertanyaan AuAyok tadi namanya siapa pak Nanang? Namanya Pak Nanang Qosim?Ay yang berfungsi membantu proses mengingat dan memastikan pemahaman bersama dalam komunikasi terapeutik (Stuart & Sundee. dalam (Xue & Heffernan, 2021. Rahmawati, 2. Proses terminasi dalam komunikasi terapeutik tercermin dari cara Purnomo mengakhiri pendampingan secara bertahap dan Purnomo tidak langsung memutus interaksi melainkan tetap memberi rasa aman serta harapan, seperti dengan mengantar pulang atau menyampaikan pesan kepada publik. Ini menunjukkan bahwa terminasi bukan akhir melainkan awal dari dukungan lanjutan melalui keluarga dan lingkungan. Proses terminasi dalam komunikasi terapeutik ditunjukkan melalui cara Purnomo mengakhiri pendampingan terhadap ODGJ secara bertahap dan penuh keadilan. Purnomo tidak mengehntikan interaksi secra tiba-tiba melainkan tetap menunjukkan empati dengan mengantar pulang, menyampaikan pesan kepada publik dan memastikan ODGJ merasa aman sebelum berpisah. Komunikasi Terapeutik Purnomo dengan ODGJ Dalam Konten Youtube "Purnomo Belajar Baik" (Indah Puspita Tamano. Dian Hutami Rahmawat. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 145-156 Pendekatan ini menegaskan bahwa terminasi bukanlah akhir dari hubungan melainkan upaya memberi ruang, harapan dan peluang untuk pemulihan yang berkelanjutan melalui dukungan keluarga dan lingkungan sosial. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dengan menganalisis lima video dengan melihat tahapan komunikasi terapeutik, karakteristik komunikasi terapeutik dan teknik komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh Purnomo dengan ODGJ didapatkan hasil yang pertama, pendekatan fisik dan emosional Purnomo dengan ODGJ berupa menggandeng tangan, merangkul, memberi makan, memotong rambut dan menggunakan nada suara lembut. Kedua, penerimaan dan mendengarkan aktif sebagai bentuk empati dalam komunikasi purnomo dengan ODGJ, berupa sikap Purnomo menjadi pendengar yang baik dan menerima ODGJ tanpa menghakimi bahkan saat ODGJ berbicara terbata dan tidak terstruktur. Ketiga, pendekatan humanis purnomo melalui humor dan respons positif dalam membangun rasa aman ODGJ melalui humor, nada lembut, dan sikap penuh penerimaan membangun rasa aman bagi ODGJ. Candaan ringan meredakan ketegangan, sementara teknik bertanya dan mendengarkan aktif mendorong keterbukaan serta memperkuat hubungan terapeutik secara emosional. Keempat, sentuhan spiritual purnomo dalam membangun kesadaran dan ketenangan ODGJ ditunjukkan melalui tindakan adzan, doa dan penguatan nilai ibadah mencerminkan bahwa sentuhan spiritual mampu menjadi media atau langkah awal dalam membangun ketenangan dan kesadaran ODGJ. Kelima, mengakhiri pendampingan ODGJ dengan tetap memberi ruang dan harapan, ditunjukkan Purnomo dengan mengakhiri pendampingan secara bertahap. Purnomo tidak langsung memutus interaksi, melainkan memberi rasa aman, pesan harapan dan membuka ruang pemulihan berkelanjutan lewat dukungan keluarga dan lingkungan. Seluruh proses komunikasi terapeutik yang dilakukan mencerminkan keempat tahapan komunikasi terapeutik, yaitu pra-interaksi, orientasi, kerja dan terminasi dengan karakteristik keikhlasan, empati dan kehangatan. Dari dua puluh teknik komunikasi terapeutik. Purnomo menerapkan tujuh teknik, yaitu bertanya, pertanyaan terbuka, mendengarkan, menyampaikan hasil observasi, klarifikasi, humor dan menawarkan informasi. Secara keseluruhan menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik juga bisa dilakukan oleh tenaga non profesional di ruang publik dengan ketulusan, kepekaan dan keterlibatan emosional. DAFTAR PUSTAKA