Jurnal Wacana Kinerja Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 DOI: 10. 31845/jwk. p-issn: 1411-4917. e-issn: 2620-9063 http://jwk. Strategi Pengembangan Desa Wisata melalui Pendekatan Analisis SWOT: Studi Kasus Tugu Utara. Kabupaten Bogor Development a Tourism Village Strategy through a SWOT Analysis Approach: A Case Study of Tugu Utara. Bogor Regency Iwan Kurniawan1. Laksmi Fitriani2. Melati Dewi Asri3, dan Ramdani Priatna4 1,2,3,4Politeknik STIA LAN Bandung Jalan Hayam Wuruk Nomor 34-38. Kota Bandung. Jawa Barat. Indonesia Telp. 022- 4220921 dan Faks. (Diterima 11/08/25. Direvisi 31/12/25. Disetujui 15/01/. Abstract This study explores the development strategy of Tugu Utara Tourism Village. Bogor Regency, using a SWOT analysis approach (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. The purpose of this research is to design an effective and sustainable strategy for rural tourism development by identifying the internal and external factors that influence it. The research method employed is a descriptive-qualitative approach, with data collection techniques including interviews, field observations, and document studies. The results indicate that Tugu Utara Village possesses abundant natural resources and high human resource potential but is still constrained by inadequate infrastructure, weak coordination among stakeholders, and limited financial support. The recommended strategy, based on the SWOT quadrant, is a diversification strategy that leverages existing strengths to address emerging threats. This research emphasizes the importance of collaboration between the community, government, and private partners in creating competitive and sustainable tourism products. The application of ecotourism principles has been gradually implemented as the foundation for developing the tourism village. In addition, enhancing human resource capacity, improving infrastructure, and utilizing information technology are key factors for the success of this strategy. Keywords: tourism village. SWOT analysis, development strategy, diversification strategy. Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi strategi pengembangan desa wisata dengan pendekatan analisis SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. di Desa Tugu Utara. Kabupaten Bogor. Tujuan penelitian adalah untuk merancang strategi yang efektif dan berkelanjutan dalam pengembangan pariwisata desa dengan mengidentifikasi faktorfaktor internal dan eksternal yang memengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi lapangan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Tugu Utara memiliki kekayaan sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia yang tinggi, namun masih terkendala oleh infrastruktur yang kurang memadai, koordinasi antarpihak yang lemah, dan dukungan keuangan 1 Email: iwan. kurniawan@poltek. Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 1 Jurnal Wacana Kinerja yang terbatas. Strategi yang disarankan berdasarkan kuadran SWOT adalah strategi diversifikasi dengan memanfaatkan kekuatan yang ada untuk mengatasi ancaman yang datang. Penelitian ini menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan mitra swasta dalam mewujudkan produk-produk wisata yang berdaya saing dan berkelanjutan. Penerapan prinsip ecotourism sudah terlaksana secara bertahap sebagai basis pengembangan desa wisata. Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur, dan pemanfaatan teknologi informasi menjadi kunci keberhasilan strategi tersebut. Kata Kunci: desa wisata, analisis SWOT, strategi pengembangan, strategi diversifikasi. PENDAHULUAN Pariwisata merupakan sektor strategis dalam pembangunan ekonomi nasional dan lokal karena mampu mendorong diversifikasi ekonomi, pelestarian budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam konteks pedesaan, desa wisata hadir sebagai inovasi yang mengintegrasikan potensi alam, sosial budaya, dan partisipasi komunitas guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat (UNWTO, 2018. Dewi et al. , 2. Namun demikian, tidak semua desa wisata mampu berkembang optimal. Banyak destinasi menghadapi kendala dalam aspek kelembagaan, infrastruktur, maupun keberlanjutan lingkungan (Zainal. Abdel Rahman. Herman, 2. Provinsi Jawa Barat memiliki potensi besar dalam pengembangan desa wisata. Saat ini terdapat 682 desa wisata aktif, tetapi kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) masih relatif rendah, yakni hanya 3,2% pada tahun 2023 (Jabar Ekspres, 2. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun jumlah desa wisata bertambah, dampak ekonominya masih terbatas, sehingga diperlukan strategi pengembangan yang lebih terarah dan berkelanjutan. Salah satu wilayah yang memiliki potensi besar namun belum tergarap secara optimal adalah Desa Tugu Utara di Kabupaten Bogor, yang dikenal dengan lanskap pegunungan, potensi agroforestry, serta kekayaan budaya lokal seperti pada Gambar 1. Gambar 1. Wilayah Desa Tugu Utara Sumber: Laporan Presentasi Informan, 2025. 2 Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 Iwan Kurniawan. Laksmi Fitriani. Melati Dewi Asri, dan Ramdani Priatna Berbagai studi telah menggunakan analisis SWOT untuk merumuskan strategi pengembangan desa wisata. Misalnya. Astuti. & Rahmawati . menekankan pentingnya SWOT dalam mengidentifikasi faktor internal dan eksternal desa wisata, sementara Surya & Mulyadi . menunjukkan peran kolaborasi multipihak dalam memperkuat strategi berbasis SWOT. Namun, sebagian besar penelitian tersebut berfokus pada desa wisata berbasis pantai atau budaya. Kajian yang mengintegrasikan potensi ekowisata pegunungan, agroforestry, dan praktik glamping sebagaimana terdapat di Tugu Utara, masih terbatas. Wilayah Tugu Utara merupakan wilayah yang memiliki potensi ekowisata pegunungan, agroforestry, dan praktik glamping (Gambar . Selain itu, pengembangan desa wisata di wilayah ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu permasalahan utama adalah pengelolaan lingkungan, khususnya terkait sanitasi dan sampah. Ketersediaan sistem pengelolaan limbah yang belum memadai mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan, yang dapat memengaruhi daya tarik wisata secara keseluruhan (Surtaryo dkk. , 2. Selain itu, fasilitas pariwisata di Desa Tugu Utara masih tergolong Penelitian terkait potensi wisata glamping di wilayah ini menunjukkan bahwa beberapa elemen penting dari konsep 4A (Atraksi. Aksesibilitas. Amenitas, dan Akomodas. belum terpenuhi secara optimal. Ketersediaan restroom, area parkir, dan pos keamanan masih terbatas, sehingga dapat mengurangi kenyamanan pengunjung (Azra & Setyowati, 2. Gambar 2. Destinasi Wisata Tugu Utara Sumber: Google Gambar, 2024. Berdasarkan permasalahan yang telah dituliskan sebelumnya, terdapat research gap dalam memahami bagaimana kombinasi potensi unik dan ancaman ekologis di Tugu Utara. Hal tersebut dapat direspons melalui strategi SWOT yang kontekstual. Permasalahan yang dihadapi Tugu Utara bersifat strategis, bukan sekadar Tantangan utama mencakup keterbatasan infrastruktur dasar, rendahnya kapasitas kelembagaan lokal, serta lemahnya jejaring kerja sama antar pemangku kepentingan (Purnomo & Nurrochmat, 2016. Azra & Setyowati, 2. Di sisi lain, desa ini menghadapi ancaman degradasi lingkungan akibat peningkatan jumlah wisatawan yang tidak diimbangi dengan perencanaan konservasi (Khrisrachmansyah & Rafael, 2. Permasalahan ini perlu dijawab melalui perumusan strategi pembangunan desa wisata yang tidak hanya bersifat adaptif, tetapi juga berorientasi pada keberlanjutan. Analisis SWOT dipilih dalam penelitian ini karena mampu memberikan gambaran menyeluruh mengenai posisi strategis desa wisata melalui pemetaan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Pendekatan ini relevan untuk Tugu Utara mengingat kompleksitas potensi dan risiko yang dimilikinya, sehingga strategi yang dihasilkan lebih aplikatif dan sesuai konteks lokal (Rangkuti, 2006. Wheelen & Hunger, 2. Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 3 Jurnal Wacana Kinerja Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan Desa Wisata Tugu Utara. Strategi tersebut dapat ditemukan melalui analisis SWOT dengan fokus pada keberlanjutan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kelembagaan. TINJAUAN TEORETIS DAN PENELITIAN SEBELUMNYA Desa Wisata Konsep desa wisata telah lama dikembangkan sebagai upaya integrasi potensi pedesaan dengan aktivitas pariwisata. Nuryanti dkk. , menekankan bahwa desa wisata harus mencerminkan keaslian kehidupan masyarakat pedesaan, baik dari sisi budaya maupun struktur sosial. Lane . menambahkan bahwa desa wisata idealnya selaras dengan prinsip pariwisata berkelanjutan. Sementara itu. Dewi dkk. melihat desa wisata dalam perspektif modern, yakni sebagai inovasi yang mampu mendorong diversifikasi ekonomi lokal. UNWTO . bahkan memperluas definisi dengan menekankan prinsip Community-Based Tourism (CBT), di mana masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga aktor utama dalam perencanaan, pelaksanaan, dan distribusi manfaat pariwisata. Dalam penelitian ini, kerangka UNWTO . dipilih sebagai acuan utama karena paling relevan dengan kondisi Desa Tugu Utara, yang mengandalkan keterlibatan komunitas lokal dalam pengembangan agroforestry dan ekowisata. Pemahaman ini menjadi dasar penting untuk menelaah bagaimana desa wisata dapat dikembangkan lebih lanjut melalui strategi yang sistematis. Pengembangan Desa Wisata Pengembangan desa wisata merupakan proses optimalisasi potensi lokal yang mencakup atraksi, amenitas, aksesibilitas, dan kelembagaan, dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga keberlanjutan lingkungan (UNWTO, 2. Definisi klasik menekankan aspek keaslian, seperti yang dikemukakan oleh Nuryanti dkk. dan Lane . , yang melihat desa wisata sebagai representasi kehidupan masyarakat pedesaan yang autentik. Namun, definisi modern menekankan dimensi keberlanjutan dan diversifikasi ekonomi lokal (Dewi dkk. , 2. , sementara UNWTO . menegaskan pentingnya partisipasi masyarakat dalam keseluruhan siklus pembangunan pariwisata. Dalam penelitian ini, konsep CBT dari UNWTO dijadikan rujukan utama karena menekankan keterlibatan komunitas, yang sesuai dengan kondisi Desa Tugu Utara. Sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata menghadapi tantangan. Zainal dkk. menyoroti keterbatasan infrastruktur dan ancaman degradasi lingkungan. Surya & Mulyadi . menekankan pentingnya kolaborasi multipihak, namun implementasinya sering terhambat oleh lemahnya kelembagaan lokal. Susila dkk. menambahkan bahwa tanpa inovasi pemasaran, daya tarik desa wisata akan sulit bersaing secara global. Meski demikian, sebagian besar penelitian tersebut belum banyak mengintegrasikan potensi ekologis dan praktik agroforestry, yang menjadi keunggulan spesifik Desa Tugu Utara. Dengan demikian, pengembangan desa wisata tidak cukup dipahami sebagai upaya menambah jumlah destinasi, tetapi harus dikelola melalui perencanaan strategis yang Hal ini menegaskan perlunya pendekatan manajemen strategi sebagai landasan untuk merumuskan pengembangan desa wisata yang berkelanjutan dan kontekstual. 4 Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 Iwan Kurniawan. Laksmi Fitriani. Melati Dewi Asri, dan Ramdani Priatna Manajemen Strategi Manajemen strategi merupakan kerangka sistematis yang mencakup perumusan, implementasi, dan evaluasi keputusan untuk mencapai tujuan organisasi atau komunitas secara berkelanjutan (Bryson, 2. Dalam konteks desa wisata, manajemen strategi penting karena memungkinkan penyelarasan antara potensi lokal, kebutuhan masyarakat, dan arah kebijakan pariwisata nasional maupun daerah (Gurl, 2. Dengan demikian, pengembangan desa wisata tidak hanya bergantung pada keunikan atraksi, tetapi juga pada sejauh mana strategi tersebut mampu memadukan kekuatan internal dengan peluang Beberapa penelitian telah menegaskan relevansi pendekatan ini. Munthe dkk. menunjukkan bahwa perencanaan strategis di Desa Tista. Bali, membantu masyarakat menyesuaikan diri dengan perubahan permintaan wisatawan melalui peningkatan kapasitas SDM dan komunikasi antar pemangku kepentingan. Demikian pula. Zainal dkk. menekankan pentingnya peran kelembagaan desa dan kelompok sadar wisata dalam mendukung penguatan jejaring kemitraan. Meski demikian, penelitian terdahulu masih terbatas pada aspek kelembagaan dan promosi, sehingga belum sepenuhnya mengintegrasikan isu ekologis, praktik agroforestry, dan diversifikasi produk wisata sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Dalam penelitian ini, manajemen strategi diposisikan sebagai kerangka penghubung antara pengembangan desa wisata yang dijelaskan pada subbab sebelumnya dengan instrumen analisis yang lebih aplikatif. Agar strategi pengembangan Tugu Utara dapat disusun secara objektif dan kontekstual, dibutuhkan alat yang mampu memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancaman. Oleh karena itu, analisis SWOT digunakan sebagai instrumen strategis untuk merumuskan arah pengembangan desa wisata yang sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Analisis SWOT Analisis SWOT adalah instrumen strategis yang digunakan untuk memetakan faktor internal berupa kekuatan . dan kelemahan . , serta faktor eksternal berupa peluang . dan ancaman . (Gurl, 2. Dalam studi pembangunan destinasi. SWOT berfungsi sebagai alat untuk mengevaluasi posisi strategis suatu wilayah dan menentukan arah pengembangan yang adaptif terhadap dinamika lingkungan (Wheelen & Hunger, 2. Dalam konteks pariwisata. SWOT terbukti relevan sebagai dasar perumusan strategi. Astuti. & Rahmawati . menggunakannya untuk menyusun strategi penguatan kelembagaan desa wisata, sedangkan Surya & Mulyadi . menekankan bahwa hasil SWOT dapat menjadi dasar kolaborasi multipihak dalam pengelolaan destinasi. Penelitian lain, seperti yang dilakukan oleh Susila dkk. menunjukkan bahwa pemetaan faktor internal dan eksternal melalui SWOT membantu desa wisata menemukan strategi yang paling sesuai dengan potensi lokal. Namun, sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada isu kelembagaan, promosi, atau peningkatan kapasitas masyarakat. Celah penelitian masih terdapat pada integrasi faktor ekologis, seperti ancaman degradasi lingkungan, serta potensi agroforestry dalam strategi desa wisata. Dalam hal ini. SWOT menjadi sangat relevan untuk Desa Tugu Utara karena desa ini memiliki kombinasi unik antara potensi alam pegunungan, praktik agroforestry, dan ancaman ekologis akibat perkembangan wisata yang cepat. Analisis SWOT diposisikan bukan sekadar sebagai teknik deskriptif, melainkan sebagai instrumen strategis untuk menghubungkan potensi internal dan tantangan eksternal Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 5 Jurnal Wacana Kinerja Desa Tugu Utara. Hasil pemetaan SWOT akan menjadi dasar dalam merumuskan strategi diversifikasi, konservasi, serta penguatan kelembagaan yang berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang. Berdasarkan uraian teoretis dan penelitian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa konsep desa wisata menekankan integrasi potensi lokal dengan aktivitas pariwisata berbasis Pengembangan desa wisata membutuhkan pendekatan yang berorientasi pada keberlanjutan, tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan. Manajemen strategi menjadi kerangka yang menjembatani konsep tersebut, karena memungkinkan sinkronisasi antara potensi lokal, kebijakan publik, dan kebutuhan pasar wisata. Dalam kerangka inilah analisis SWOT diposisikan sebagai instrumen praktis yang mampu memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman secara sistematis. Dengan demikian, landasan teoretis ini mengarahkan penelitian pada upaya merumuskan strategi pengembangan Desa Wisata Tugu Utara yang kontekstual, berkelanjutan, dan aplikatif, sekaligus mengisi celah yang belum banyak disentuh oleh penelitian terdahulu, khususnya integrasi aspek ekologis dan agroforestry dalam pengembangan pariwisata pedesaan. Untuk itu, kerangka konseptual yang disusun pada penelitian ini sebagaimana digambarkan pada Gambar 3. Konsep Desa Wisata . CBT, keberlanjuta. Pengembangan Desa Wisata . ptimalisasi 4A, partisipasi, inovas. Manajemen Strategi . erencanaan, implementasi, evaluas. Analisis SWOT . emetaan S-W-O-T sebagai instrume. Strategi Pengembangan Desa Wisata Tugu Utara . iversifikasi, konservasi, penguatan kelembagaa. Gambar 3. Kerangka Konseptual Sumber: Olahan Peneliti, 2025 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk mengeksplorasi fenomena pengembangan Desa Wisata Tugu Utara secara mendalam, dengan mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan ekologis yang khas. Studi kasus memberikan keleluasaan untuk memahami interaksi antaraktor dan dinamika lokal yang memengaruhi strategi pengembangan desa Lokasi penelitian adalah Desa Tugu Utara. Kecamatan Cisarua. Kabupaten Bogor. Desa ini dipilih secara purposive karena memiliki potensi pariwisata berbasis alam dan agroforestry, namun menghadapi tantangan strategis berupa keterbatasan infrastruktur, kapasitas kelembagaan, serta ancaman degradasi lingkungan. 6 Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 Iwan Kurniawan. Laksmi Fitriani. Melati Dewi Asri, dan Ramdani Priatna Informan dipilih dengan teknik purposive sampling, yaitu responden yang dianggap memiliki keterlibatan langsung dan pengetahuan relevan dalam pengembangan desa wisata. Jumlah informan penelitian sebanyak 4 . orang, terdiri dari: orang aparat desa . inimal menjabat selama dua tahu. , 1 . orang tokoh masyarakat . ktif dalam kegiatan budaya dan sosia. , 2 . orang pengelola wisata . erlibat langsung dalam operasional desa wisata minimal satu tahu. , 2 . orang pelaku usaha lokal . emiliki usaha yang mendukung kegiatan pariwisat. Pemilihan informan didasarkan pada keterlibatan aktif dan pengalaman mereka dalam mengembangkan Desa Wisata Tugu Utara. Data dikumpulkan melalui 3 . teknik utama, yaitu: Wawancara semi-struktural, dilakukan dengan panduan pertanyaan terbuka agar informan dapat memberikan pandangan secara mendalam. Observasi partisipatif, mencakup pengamatan langsung terhadap kondisi infrastruktur, fasilitas wisata, aktivitas masyarakat, serta interaksi wisatawan. Studi dokumentasi, meliputi dokumen perencanaan desa, laporan kegiatan, dan data resmi pemerintah daerah. Pengumpulan data dari semua teknik akan menghasilkan data kualitatif dan dianalisis lebih lanjut. Data kualitatif dianalisis menggunakan teknik thematic analysis (Braun & Clarke. Tahapannya adalah sebagai berikut: Transkripsi hasil wawancara dan pencatatan observasi. Open coding untuk mengidentifikasi tema-tema utama. Pengelompokan tema ke dalam kategori SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. Reduksi dan verifikasi data dengan pendekatan Miles . , untuk memastikan keabsahan kategori. Untuk memastikan instrumen yang disusun tesebut telah teruji keabsahan datanya, pengujian validitas atau kredibilitas dilakukan melalui tiga cara yaitu: Triangulasi sumber . awancara, observasi, dokumentas. Focus Group Discussion (FGD) sebanyak dua kali dengan 8 . orang peserta . parat desa, pengelola wisata, tokoh masyarakat, dan pelaku usah. FGD berfungsi untuk memverifikasi daftar faktor SWOT dan menyepakati faktor-faktor yang dianggap paling Diskusi ahli dengan dua pakar . kademisi pariwisata dan praktisi pengelola destinas. untuk menilai konsistensi dan relevansi faktor SWOT. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk mengolah data adalah analisis SWOT, yang berfungsi untuk membandingkan faktor internal dan eksternal dari organisasi atau objek yang dikaji. Analisis ini memetakan kekuatan . dan kelemahan . dari dalam organisasi, serta peluang . dan ancaman . dari lingkungan luar. Kedua faktor tersebut diklasifikasikan ke dalam matriks strategi internal (IFAS) dan matriks strategi eksternal (EFAS). Seperti yang dijelaskan oleh Rangkuti . , metode IFAS dan EFAS memberikan kerangka kerja komprehensif untuk menganalisis data internal dan eksternal sebelum melangkah ke tahap analisis strategi dengan matriks SWOT. Data yang tersedia dianalisis dengan menggunakan teknik analisis SWOT. Setiap dimensi SWOT dianalisis secara mendalam berdasarkan temuan lapangan dan dikonfirmasi dengan referensi teori. Proses analisis dilakukan secara bertahap, mulai dari identifikasi faktor, penyusunan matriks SWOT, hingga formulasi strategi pengembangan. Adapun tahapan dari analisis SWOT diantaranya: Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 7 Jurnal Wacana Kinerja Tahap Pertama: Penyusunan Matriks IFAS dan EFAS Matriks EFAS (External Factor Analysis Summar. Matriks ini digunakan untuk merumuskan faktor eksternal ke dalam bentuk peluang dan ancaman. Langkah-langkah penyusunannya antara lain: Menentukan faktor-faktor peluang dan ancaman pada kolom pertama. Memberi bobot untuk masing-masing faktor pada kolom kedua, berdasarkan tingkat pengaruhnya secara relatif. Menetapkan skor . pada kolom ketiga, menggunakan skala 1Ae4, untuk menunjukkan signifikansi faktor terhadap keberhasilan organisasi. Peluang diberi peringkat dari 1 . urang signifika. hingga 4 . angat signifika. Ancaman diberi peringkat secara terbalik, dengan 1 sebagai ancaman tertinggi. Mengalikan bobot dan rating pada kolom keempat untuk memperoleh nilai terbobot. Menambahkan catatan atau komentar pada kolom kelima untuk menjelaskan alasan pemilihan faktor. Matriks IFAS (Internal Factor Analysis Summar. Matriks ini digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan internal Tahapan penyusunannya mencakup: Merinci pernyataan yang mewakili kekuatan dan kelemahan pada kolom pertama. Memberi bobot berdasarkan skala 0,0 . idak pentin. hingga 1,0 . angat pentin. , dengan total bobot tidak melebihi 1,0. Memberi skor pada kolom ketiga berdasarkan pengaruh faktor terhadap keberhasilan, menggunakan skala 1Ae4. Skor tinggi menunjukkan kekuatan signifikan, sebaliknya untuk kelemahan. Menghitung nilai terbobot dengan mengalikan bobot dan skor. Kolom terakhir digunakan untuk menjelaskan pertimbangan pemilihan faktor. Dengan mekanisme ini, bias subjektif peneliti dapat diminimalkan karena bobot dan skor ditentukan melalui konsensus partisipatif antara informan, peserta FGD, dan validasi ahli. Rangkuti . menjelaskan bahwa matriks InternalAeEksternal (IE) digunakan untuk memperdalam analisis sekaligus menentukan posisi organisasi serta arah pengembangannya. Sementara itu. Fred & Forest . menjelaskan bahwa matriks IE menggambarkan posisi berbagai divisi organisasi dalam sembilan sel berdasarkan dua dimensi utama, yakni skor total IFE pada sumbu X dan skor total EFE pada sumbu Y. Oleh karena itu, setiap divisi perlu menyusun matriks IFE dan EFE masing-masing, sehingga skor total yang diperoleh dapat digunakan untuk menempatkan divisi tersebut dalam matriks IE tingkat Perusahaan (Gambar . 8 Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 Iwan Kurniawan. Laksmi Fitriani. Melati Dewi Asri, dan Ramdani Priatna Gambar 4. Sembilan Sel Pada Matriks IE Sumber: Rangkuti . Matriks IE memiliki 3 . implikasi strategi yang berbeda, yaitu: Ketentuan-ketentuan untuk suatu divisi organisasi berada pada sel I. II, atau IV dapat digambarkan sebagai bertumbuh dan membangun . row and buil. Strategi Ae strategi yang cocok bagi divisi ini adalah strategi intensif seperti Market Penetration. Market Development, dan Product Development atau Strategi Terintegrasi seperti Backward Integration. Forward Integration, dan Horizontal Integration. Untuk divisi yang berada pada sel i. V atau VII, paling baik dikendalikan dengan strategistrategi menjaga dan mempertahankan (Hold and Maintai. Strategi-strategi yang umum dipakai yaitu strategi Market Penetration dan Product Development. Untuk divisi yang berada pada sel VI. Vi atau IX, dapat menggunakan strategi panen atau divestasi (Harvest atau Divestitur. Perusahaan dianggap paling sukes jika mampu menghasilkan bisnis yang berada di sel I. Selain itu, hasil dari matriks IFAS dan EFAS akan menunjukkan total dari setiap komponen SWOT yang digunakan untuk menentukan posisi kuadran strategi (Gambar . , yaitu zona atau area strategis yang menggambarkan kondisi organisasi terhadap lingkungan eksternal dan internal yang diperoleh dari selisih antara OpportunitiesAeThreats dan Strengths-Weaknesses. Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 9 Jurnal Wacana Kinerja Gambar 5. Posisi Kuadran Analisis SWOT Sumber: Olahan Peneliti, 2025 Tahap Kedua: Analisis Matriks SWOT Setelah posisi strategi ditentukan berdasarkan IFAS dan EFAS, analisis dilanjutkan dengan menggunakan matriks SWOT untuk merumuskan strategi yang selaras antara kekuatan dan kelemahan internal dengan peluang dan ancaman eksternal. Matriks SWOT disusun ke dalam empat sel strategi utama sebagaimana disajikan pada Tabel 1. IFAS / EFAS Strengths (S) Weaknesses (W) Tabel 1. Matriks SWOT Opportunities (O) Strategi SO: memanfaatkan Strategi WO: mengurangi memanfaatkan peluang Threats (T) Strategi ST: menggunakan kekuatan untuk mengatasi Strategi WT: meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman Sumber: Rangkuti, 2006 Penjelasan strategi: Strategi SO (Strengths-Opportunitie. bertujuan untuk memaksimalkan potensi internal guna menangkap peluang eksternal. Strategi ST (Strengths-Threat. memanfaatkan kekuatan untuk mengantisipasi dan mengatasi potensi ancaman. Strategi WO (Weaknesses-Opportunitie. fokus pada pengurangan kelemahan dengan cara memanfaatkan peluang yang tersedia. Strategi WT (Weaknesses-Threat. bersifat defensif, yakni meminimalkan dampak kelemahan dan sekaligus meredam ancaman yang ada. 10 Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 Iwan Kurniawan. Laksmi Fitriani. Melati Dewi Asri, dan Ramdani Priatna Tahap Ketiga: Penentuan Strategi Prioritas Setelah strategi alternatif diidentifikasi, langkah terakhir adalah menetapkan strategi Penetapan ini dilakukan berdasarkan relevansi, urgensi, dan kemampuan implementasi, dengan mempertimbangkan sumber daya serta konteks lokal yang dimiliki desa wisata. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Tugu Utara memiliki kekuatan berupa keindahan alam, potensi budaya local (Gambar . , dan keterlibatan masyarakat yang tinggi. Namun, masih terdapat kelemahan seperti minimnya infrastruktur pendukung, belum optimalnya promosi wisata, serta kapasitas SDM yang terbatas. Peluang yang dapat dimanfaatkan meliputi meningkatnya tren wisata berbasis alam dan budaya, dukungan kebijakan pemerintah, serta potensi kerja sama dengan pihak swasta. Sementara itu, ancaman yang dihadapi adalah persaingan dengan destinasi wisata lain dan risiko kerusakan lingkungan. Gambar 6. Pengembangan Wisata Desa Tugu Utara Sumber: Laporan Presentasi Informan, 2025 Untuk memberikan gambaran kuantitatif terhadap faktor internal dan eksternal, dilakukan penyusunan matriks IFE dan EFE sebagaimana Tabel 2 dan Tabel 3. Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 11 Jurnal Wacana Kinerja Tabel 2. Matriks IFE Faktor Internal KEKUATAN (STRENGTHS- S) Memiliki daya tarik wisata alam dengan titik 0 KM Sungai Ciliwung Hawa yang sejuk dan dingin membuat pengunjung betah berlama-lama menikmatinya karena berada di wilayah pegunungan dan kebun teh Desa wisata memiliki tingkat keamanan dan juga tingkat kenyamanan di dalam kawasan yang terjamin Tiket masuk daerah desa wisata yang sangat Masyarakat sekitar yang memiliki semangat dan keinginan untuk mengembangkan wisata desa Pemerintah desa mendukung pengembangan desa Penduduk desa yang ramah dan memiliki sifat terbuka terhadap wisatawan JUMLAH KELEMAHAN (WEAKNESSES - W) Infrastruktur yang masih terbatas seperti akses jalan dikarenakan masih harus melalui wilayah milik perusahaan lain Belum memiliki rencana promosi yang tersusun dengan sistematis sehingga kurang efektif SDM yang belum terlatih secara profesional, beberapa penduduk lokal belum memiliki keterampilan manajemen wisata Masih terdapat masalah dalam pengelolaan sampah yang kurang baik di lokasi wisata Belum memiliki cukup modal untuk mengembangkan desa wisata. JUMLAH TOTAL INTERNAL FAKTOR Bobot Rating Bobot x Rating 0,05 0,15 0,05 0,125 0,05 0,15 0,05 1,73 0,15 0,05 0,15 1,00 1,65 3,38 Sumber: Olahan Peneliti, 2025 Dari hasil analisis pada tabel IFE, faktor kekuatan dan kelemahan memiliki total skor 3,38. Berdasarkan Rangkuti . , total skor IFE sebesar lebih dari 3 yang berarti posisi internal pada tempat desa wisata sudah kuat. Hal ini mengindikasikan bahwa desa wisata mampu menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi kelemahan yang ada. 12 Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 Iwan Kurniawan. Laksmi Fitriani. Melati Dewi Asri, dan Ramdani Priatna Tabel 3. Matriks EFE Faktor Eksternal PELUANG (OPPORTUNITIES - O) Minat wisatawan terhadap tren wisata berbasis alam dan budaya semakin meningkat dan tertarik pada tempat wisata ramah lingkungan. Dukungan teknologi dalam upaya mempromosikan desa wisata melalui pemasaran digital seperti media sosial dan platform daring lainnya Adanya beberapa peluang kerja sama dan kolaborasi dengan agen perjalanan untuk memasarkan paket Peluang dukungan CSR (Corporate Social Responsibilit. atau hibah baik dari pemerintah maupun perusahaan swasta untuk mendukung program pariwisata Adanya program pemerintah yang mencanangkan program nasional seperti desa digital atau pariwisata JUMLAH ANCAMAN (THREATS - T) Persaingan antar desa wisata dikarenakan semakin berkembangnya desa wisata di wilayah lain Adanya potensi terjadinya kerusakan alam akibat terjadinya lonjakan wisatawan Ketergantungan pada musim kunjungan wisatawan, karena biasanya wisatawan lebih banyak berkunjung pada musim tertentu saja Ancaman krisis ekonomi yang dapat mengurangi kemampuan masyarakat untuk berwisata Masih ada masyarakat yang merasa kondisi keamanan wisata alam kurang terjamin JUMLAH TOTAL EKSTERNAL FAKTOR Bobot Rating Bobot x Rating 0,45 0,05 0,15 0,15 1,90 0,15 0,05 0,15 0,15 0,05 1,00 1,95 3,85 Sumber: Olah Peneliti, 2025 Dari hasil analisis pada tabel EFE, faktor peluang dan ancaman memiliki total skor 3,85. Berdasarkan Rangkuti . , total skor EFE sangat tinggi hampir mendekati skor 4, ini yang mengindikasikan bahwa tempat pariwisata merespon peluang yang ada dengan cara yang luar biasa dan menghindari ancaman-ancaman. Matriks IE (Internal-Eksterna. digunakan dalam menentukan posisi perusahaan yang kemudian dapat dirumuskan strategi alternatif yang tepat bagi perusahaan tersebut. Matriks IE dapat ditentukan dari analisis faktor internal dan eksternal yang sudah dihitung menggunakan matriks IFE dan EFE. Hasil skor dari matriks IFE adalah 3,38, sedangkan hasil skor dari matriks EFE adalah 3,85. Berikut adalah hasil dari matriks IE: Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 13 Jurnal Wacana Kinerja Gambar 7. Matriks IE Sumber: Rangkuti, 2015 Berdasarkan Matriks IE pada Gambar 7, skor yang diperoleh IFE dan EFE berada pada posisi AuGrowth and BuildAy. Pada fase ini posisi Desa Tugu Utara menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata sedang mengalami tahap pertumbuhan dan harus dikembangkan karena mempunyai potensi yang sangat besar untuk kepentingan publik. Selanjutnya nilai total skor dari masing-masing faktor dapat dirinci, strengths 1,73, weaknesses 1,65, opportunities 1,90, threat 1,95. Maka diketahui selisih total skor faktor strengths dan weaknesses adalah ( ) 0,08 sedangkan selisih total skor faktor oppurtunities dan threats adalah (-) 0,05. Gambar 8. Diagram Kuadran SWOT Sumber: Olahan Peneliti, 2025 14 Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 Iwan Kurniawan. Laksmi Fitriani. Melati Dewi Asri, dan Ramdani Priatna Dari diagram Cartesius SWOT (Gambar . menunjukkan bahwa desa wisata berada pada Kuadran IV. Strategi pengembangan yang direkomendasikan adalah strategi ST (Strengths-Threat. , yaitu memanfaatkan kekuatan yang ada untuk mengantisipasi dan mengatasi potensi ancaman. Pada Kuadran IV menunjukkan bahwa meskipun desa wisata menghadapi berbagai ancaman, namun masih memiliki kekuatan dari segi internal. Desa wisata dapat menggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara melakukan strategi diversifikasi . roduk/pasa. Dalam konteks ini, strategi yang dapat diterapkan adalah mengoptimalkan kekuatan tersebut untuk menjalankan diversifikasi strategis yang bertujuan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang, termasuk dalam hal diversifikasi produk dan perluasan pasar. Berdasarkan hasil identifikasi dan analisis SWOT, ditemukan sejumlah faktor yang mempengaruhi pengembangan Desa Wisata Tugu Utara. Faktor-faktor tersebut dikelompokkan ke dalam kekuatan . , kelemahan . , peluang . , dan ancaman . sebagaimana dirinci dalam Tabel 4. Tabel 4. Analisis SWOT Desa Wisata Tugu Utara Faktor Internal S1. Potensi Kekuatan (S) Kelemahan (W) Keindahan dan udara Tradisi budaya dan kesenian khas Infrastruktur jalan dan fasilitas wisata Promosi pariwisata yang Partisipasi tinggi dalam Sumber: Olahan Peneliti, 2025 Kapasitas manajerial dan S2. Budaya S3. SDM Faktor Eksternal T1. Persaingan Peluang (O) Ancaman (T) Program desa wisata dari Persaingan wisata sejenis T2. Risiko Meningkatnya minat terhadap alam/budaya T3. Kemitraan Potensi kerja sama dengan swasta/NGO Risiko Fluktuasi ekonomi dan Dari analisis ini, kemudian disusun matriks SWOT yang menghubungkan faktor-faktor tersebut untuk menghasilkan strategi yang aplikatif sebagaimana disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Matriks Strategi SWOT Strategi SO (Agresi. A Promosi digital berbasis kekuatan budaya dan alam A Pengembangan paket wisata edukatif dan A Membangun kemitraan dengan agen wisata Strategi ST (Diversifikas. A Diversifikasi produk wisata untuk mengurangi ketergantungan A Penerapan prinsip ecotourism A Mengembangkan sistem informasi wisata Sumber: Olahan Peneliti, 2025 Strategi WO (Turnaroun. A Meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan dan workshop A Perbaikan dan pembangunan infrastruktur dasar wisata A Integrasi promosi dengan platform wisata Strategi WT (Defensi. A Penguatan kelembagaan dan keleluasaan regulasi lokal A Edukasi dan regulasi pelestarian lingkungan A Pendampingan intensif dari stakeholder eksternal Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 15 Jurnal Wacana Kinerja Hasil wawancara dan FGD menunjukkan bahwa masyarakat lokal sangat mendukung pengembangan desa wisata, tetapi masih memerlukan pendampingan teknis dan akses Pendampingan perlu dilakukan yang bersifat teknis dan akses permodalan terhadap investor. Untuk itu bimbingan teknis berupa perencanaan bisnis dengan aneka produk wisata. Sementara itu, pemerintah desa menunjukkan komitmen namun terbatas dalam kapasitas operasional. Dalam konteks ini, strategi ST menjadi pilihan utama karena memungkinkan desa untuk mengoptimalkan kekuatannya dalam mengatasi ancaman yang Penyusunan strategi ini mulai dirumuskan dengan penyusunan Rencana Aksi Desa Wisata oleh tim penggerak yang melibatkan tokoh masyarakat, pelaku usaha, dan perangkat desa untuk diversifikasi produk wisata. Penerapan prinsip ecotourism di Desa Wisata Tugu Utara telah berjalan secara bertahap dengan memanfaatkan potensi alam, budaya, dan kearifan lokal sebagai basis pengembangan. Potensi seperti produksi madu, kopi, atraksi alam . ir terjun, telaga, pegununga. , serta kegiatan agroforestry telah diintegrasikan ke dalam konsep wisata berkelanjutan untuk mendukung pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat (Nofiyanti dkk. , 2. Di kawasan Hutan Pangkuan Desa Citamiang, terdapat jalur herbal dengan nilai edukasi tinggi yang direkomendasikan untuk dilengkapi dengan program interpretasi verbal dan non-verbal guna meningkatkan pemahaman wisatawan terhadap ekosistem lokal (Weullas dkk. , 2. Skema Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) yang melibatkan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Puncak Lestari serta sistem bagi hasil dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bogor menunjukkan penerapan prinsip keadilan ekonomi dan pelibatan komunitas (Purnomo & Nurrochmat, 2016. Selain itu, program konservasi dan edukasi di hutan pinus menegaskan komitmen desa dalam menggabungkan rekreasi dengan pelestarian ekosistem (Batara News. Saat wawancara dengan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bogor. Pemerintah Kabupaten Bogor sudah mulai mengembangkan sistem informasi desa wisata yang diberi nama EKABO (Eksplorasi Kabupaten Bogo. EKABO menyediakan informasi terpadu tentang destinasi wisata (Gambar . apabila ada wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin berkunjung. EKABO sudah tersedia di PlayStore apabila pengunjung ingin menginstalasi di masing-masing smart phones. Selain itu juga. EKABO dapat diakses di Gambar 9. Website EKABO Sumber: Olahan Peneliti, 2025 16 Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 Iwan Kurniawan. Laksmi Fitriani. Melati Dewi Asri, dan Ramdani Priatna Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa strategi pengembangan Desa Wisata Tugu Utara perlu diarahkan pada sinergi antara ecotourism. Community-Based Tourism (CBT), dan pemanfaatan teknologi digital (EKABO). Temuan lapangan menunjukkan keunggulan unik Tugu Utara berupa potensi agroforestry dan lanskap pegunungan, yang sekaligus menghadapi tantangan kelembagaan dan infrastruktur. Jika dibandingkan dengan desa wisata lain, posisi Tugu Utara menjadi lebih jelas. Nglanggeran menonjol karena kelembagaan yang solid dan berbasis geopark (Vitrianto, 2. Pentingsari berhasil mengembangkan partisipasi masyarakat melalui atraksi budaya dan homestay (Aji, 2. , dan Candirejo memperoleh keuntungan dari aksesibilitas menuju destinasi super prioritas Borobudur (Fatimah, 2. Berbeda dengan ketiganya. Tugu Utara memiliki ciri khas tersendiri berupa integrasi ekologi dan agroforestry dalam ekowisata, yang masih jarang dibahas dalam penelitian terdahulu. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting dengan merumuskan strategi pengembangan desa wisata yang tidak hanya adaptif terhadap kondisi internal dan eksternal, tetapi juga berorientasi pada keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal. PENUTUP Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi pengembangan Desa Wisata Tugu Utara perlu diarahkan pada penguatan potensi lokal yang khas, yaitu ekowisata hutan dan Telaga Saat, produk agroforestry seperti madu dan kopi, serta atraksi budaya lokal masyarakat. Potensi tersebut merupakan kekuatan yang dapat menjadi diferensiasi Tugu Utara dibanding desa wisata lain, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan karena terkendala oleh infrastruktur dasar, kapasitas kelembagaan, dan aksesibilitas. Analisis SWOT menunjukkan bahwa strategi yang relevan adalah memaksimalkan kekuatan ekologi dan agroforestry, dan mengatasi kelemahan melalui peningkatan kapasitas kelembagaan, serta memanfaatkan peluang kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, dan pelaku industri pariwisata. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi praktis dalam merumuskan strategi pengembangan desa wisata yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan diversifikasi ekonomi lokal. Terdapat beberapa saran yang dapat dipertimbangkan oleh para pemangku kepentingan dalam pengembangan Desa Wisata Tugu Utara. Dari sisi pemangku kebijakan, pemerintah daerah bersama pemerintah desa perlu menyusun regulasi dan kebijakan khusus yang memperkuat tata kelola desa wisata, termasuk pembentukan BUMDes (Badan Usaha Milik Des. pariwisata serta mekanisme perlindungan lingkungan pada area hutan pinus dan Telaga Saat. Selain itu, dukungan kebijakan juga perlu diwujudkan, dalam bentuk penganggaran pembangunan infrastruktur dasar . kses jalan, sanitasi, area parki. serta fasilitasi kolaborasi antar pemangku kepentingan . emerintah, akademisi, komunitas, dan pelaku usah. Dari sisi masyarakat, partisipasi aktif masyarakat desa perlu didorong dalam pengembangan wisata berbasis komunitas . ommunity-based touris. , misalnya melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. atau koperasi desa. Hal ini juga perlu disertai dengan penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan keterampilan pemandu wisata, manajemen homestay, hingga pemasaran digital agar mereka mampu bersaing dalam ekosistem pariwisata modern. Pada aspek implementasi teknis, pengelola wisata dan pelaku usaha lokal sebaiknya mengembangkan diversifikasi produk wisata berbasis agroforestry, seperti paket edukasi madu, kopi, dan hasil pertanian organik. Di samping itu, pemanfaatan teknologi digital . plikasi reservasi, promosi media sosial, sistem pembayaran elektroni. perlu dioptimalkan untuk memperluas pasar wisata dan menarik wisatawan milenial. Atraksi budaya lokal juga Jurnal Wacana Kinerja | Volume 29 | Nomor 1 | Juni 2026 17 Jurnal Wacana Kinerja dapat dikemas ulang dalam format kreatif agar tetap autentik namun memiliki nilai tambah bagi wisatawan. Selanjutnya, dari perspektif riset lanjutan/monitoring evaluasi, diperlukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi efektivitas strategi pengembangan yang telah diterapkan, khususnya dampak terhadap aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kemudian, pemantauan berkala juga penting untuk memastikan bahwa pengembangan desa wisata berjalan sesuai prinsip keberlanjutan, serta memberikan ruang adaptasi strategi di masa DAFTAR PUSTAKA