AL-ATHFAL STAI MUHAMMADIYAH PROBOLINGGO p-ISSN 2723-245X e-ISSN 2723-0813 Vol. No. , p. Available online at https://jurnal. staim-probolinggo. id/Al-Athfal MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERCERITA MELALUI KEGIATAN MENgAMBAR BEBAS DI KELOMPOK B TK MUSLIMAT WASILATUS SAAoADAH MANGUNREJOKEPANJEN KAB. MALANG * Yenita Dwi Setyowati. Ayu Asmah. Rina Wijayanti PG-PAUD. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas PGRI Kanjuruhan Malang *e-mail: syenitadwi@gmail. https://jurnal. staim-probolinggo. id/Al-Athfal/article/view/960 Abstract This study aims to understand how to improve storytelling ability in group B children through free drawing activities at the Muslimat Kindergarten (TKM) Wasilatus Sa'adah Kepanjen. Used in this study is a class action method with a qualitative descriptive approach. The research subjects were children aged 5-6 years with a total of 15 children. Data collection techniques were carried out through observation, interviews, and documentation. The findings showed that children's storytelling ability increased marked by indicators of children being able to express their ideas or feelings through pictures and being able to tell the story of the picture. At first, the level of children's storytelling ability was at 33%. After the action in cycle I, there was an increase to 65%, and after continuing to cycle II, the ability increased again to 86%. Looking at the development of cycles I and II, it can be concluded that free drawing activities can improve the storytelling ability of children 5-6 years old at TKM Wasilatus Sa'adah Kepanjen Keywords: early childhood. free drawing ARTICLE HISTORY Received 25 June 2025 Revised 05 July 2025 Accepted 07 July 2025 Abstrak Penelitian ini mempunyai tujuan agar mengerti bagaimana peningkatan kemampuan bercerita pada anak kelompok B melalui kegiatan menggambar bebas di Taman Kanak-Kanak Muslimat (TKM) Wasilatus SaAoadah Kepanjen. Yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah anak-anak berusia 5Ae6 tahun dengan jumlah 15 anak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kemampuan bercerita anak meningkat ditandai dengan indikator anak mampu mengekspresikan gagasan atau perasaannya melalui gambar serta mampu mengisahkan hasil gambar tersebut. Pada awalnya, tingkat kemampuan bercerita anak berada di angka 33%. Setelah tindakan pada siklus I, terjadi peningkatan menjadi 65%, dan setelah dilanjutkan ke siklus II, kemampuan tersebut meningkat lagi menjadi 86%. Melihat dari perkembangan siklus I dan II bisa ditarik kesimpulan bahwa aktifitas Al-athfal. Vol. 06 No. : 282 Yenita Dwi Setyowati, etc. Meningkatkan Kemampuan Bercerita Melalui Kegiatan Mengambar Bebas Di Kelompok B TK Muslimat Wasilatus SaAoadah Mangunrejo-Kepanjen Kab. Malang menggambar bebas dapat meningkatkan kemampuan bercerita anak 5-6 tahun di TKM Wasilatus SaAoadah Kepanjen. Kata kunci: anak usia dini. menggambar bebas INTRODUCTION Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan sebuah wadah bentuk pengelolaan untuk anak baru lahir hingga usia enam tahun, yang diterapkan dengan pemberian berbagai stimulasi edukatif guna mendukung tumbuh kembang anak secara fisik dan mental. Tujuannya adalah agar mempunyai kesiapan optimal dalam menempuh jenjang pendidikan selanjutnya. Usia dini juga dikenal sebagai fase bermain, di mana melalui kegiatan bermain anak lebih mudah memahami dan menyerap informasi atau pengetahuan yang diberikan (Putri. Winda, & Zulkarnain. Kemampuan berbahasa yang baik sangat penting bagi anak saat menjalani aktivitas sehari-hari, karena tidak hanya mempermudah mereka dalam berinteraksi dengan orang lain, tetapi juga melatih rasa percaya diri. Kegiatan bercerita atau storytelling bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk membentuk karakter dan moral anak usia dini. Hal ini karena kegiatan tersebut memberikan berbagai manfaat, baik bagi pendongeng . eperti orang tu. maupun pendengarnya, yaitu anak-anak. Anak-anak yang mempunyai keterampilan berbahasa yang baik akan dapat menjalin komunikasi yang efektif, sehingga mereka dapat membangun hubungan yang dekat dan terbuka dengan siapa pun secara lebih mudah (Wondal, 2. Bercerita adalah bentuk komunikasi verbal yang memanfaatkan kata-kata atau ucapan untuk menyampaikan tujuan atau pesan tertentu. Kemampuan bercerita sangat penting untuk perkembangan kemampuan anak. Dengan mengungkapkan pendapat serta menceritakan ulang cerita yang telah dibuat anak sendiri dapat menstimulus perkembangan bercerita anak. Kegiatan menggambar bebas membuat anak dapat berimajinasi dan anak dapat bercerita sesuai dengan minat dan kesukaan anak sendiri (Trisdiana. Arkam, & Mustikasari, 2. Indikator pencapaian perkembangan anak khususnya pada kemampuan motorik halus anak pada penelitian ini . kemampuan anak mengekspresikan ide atau perasaan melalui bentuk gambar, dan . kemampuan anak menceritakan hasil gambarnya. Hasil pengamatan langsung yang dilakukan pada bulan Mei 2022 pada kelompok B di TK Muslimat Wasilatus SaAoadah Mangunrejo dengan jumlah anak 15 anak yaitu 67% atau 10 anak kemampuan berceritanya masih kurang Hal ini terlihat ketika anak bercerita masih memerlukan motivasi dari pendidik, anak belum dapat menerapkan tata bahasa serta pengucapan yang tepat dan terlihat anak belum percaya diri sehingga tidak ada komunikasi dua arah dengan teman-teman di kelas saat bercerita. Sedangkan 5 anak lainnya . %) sudah terampil dalam berbicara yaitu anak ketika bercerita dapat berbicara dengan ekspresif, intonasi jelas, bercerita dengan lancar dan dapat Al-athfal. Vol. 06 No. : 283 Yenita Dwi Setyowati, etc. Meningkatkan Kemampuan Bercerita Melalui Kegiatan Mengambar Bebas Di Kelompok B TK Muslimat Wasilatus SaAoadah Mangunrejo-Kepanjen Kab. Malang menggabungkan gambar menjadi sebuah cerita yang runtut sehingga terjadi komunikasi dua arah dengan teman-teman di kelas. Menurut Pahrul & Amalia . menggambar ialah aktivitas menciptakan gambar dengan cara membuat goresan atau garis pada permukaan gambar. Bagi anak-anak, menggambar berfungsi sebagai sarana untuk mengekspresikan diri dan berkomunikasi, sekaligus menciptakan suasana belajar yang aktif, menyenangkan, dan penuh keceriaan. Aktivitas menggambar berfungsi sebagai rangsangan bagi anak usia dini untuk mengungkapkan pengalaman, perasaan, dan imajinasinya melalui karya yang bebas tanpa dibatasi oleh aturan tertentu. Dengan kegiatan menggambar ini, diharapkan anak dapat mengekspresikan diri, berimajinasi, serta menyampaikan ide dan gagasannya secara kreatif. Menggambar bebas merupakan kegiatan menggambar yang dilakukan dengan menggunakan berbagai alat secara leluasa untuk mengekspresikan imajinasi, perasaan, dan ekspresi diri tanpa adanya tekanan atau paksaan. Aktivitas ini melibatkan eksplorasi tekstur warna, pola, dan bentuk secara bebas. Ciri khas dari hasil gambar bebas adalah spontanitas, karena dilakukan secara langsung, serta menunjukkan kreativitas, keunikan, dan karakteristik pribadi masing-masing anak (Tresnaningsih, 2. Yang menjadi hal utama dalam proses ini adalah bagaimana anak menciptakan bentuk atau pola sesuai keinginannya, bukan pada hasil akhirnya. Menggambar berfungsi sebagai wujud ekspresi dari apa yang sedang disadari oleh anak pada saat itu. Gambar yang dihasilkan biasanya bersifat simbolis, mencerminkan apa yang tersimpan dalam ingatan anak, tanpa memperhatikan aspek proporsi, sudut pandang, maupun keterkaitan antar objek. Umumnya, gambar yang dibuat anak belum detail dan masih sederhana. Mereka cenderung menggambar objek-objek yang sudah akrab, seperti rumah, hewan, pohon, manusia, dan sejenisnya. Meskipun berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kegiatan menggambar bebas dapat menjadi sarana ekspresi diri, imajinasi, dan komunikasi anak, namun masih minim kajian yang secara khusus mengaitkan aktivitas ini dengan peningkatan kemampuan bercerita secara sistematis dalam konteks pembelajaran PAUD, khususnya pada anak usia 4Ae5 tahun. Berdasarkan hasil observasi awal di TK Muslimat Wasilatus SaAoadah Mangunrejo, diketahui bahwa 67% anak masih kurang terampil dalam bercerita, terutama dalam aspek pengucapan, ekspresi, serta kepercayaan diri, meskipun kegiatan menggambar telah dilakukan di kelas. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pelaksanaan aktivitas menggambar bebas dengan pengoptimalannya sebagai sarana pengembangan keterampilan berbahasa anak. Sehingga penelitian ini dibuat dengan judul AuMeningkatkan Kemampuan Bercerita Melalui Kegiatan Menggambar Bebas Kelompok B di TK Muslimat Wasilatus SaAoadah MangunrejoKepanjenAy. Al-athfal. Vol. 06 No. : 284 Yenita Dwi Setyowati, etc. Meningkatkan Kemampuan Bercerita Melalui Kegiatan Mengambar Bebas Di Kelompok B TK Muslimat Wasilatus SaAoadah Mangunrejo-Kepanjen Kab. Malang RESEARCH METHODS Penelitian ini dilaksanakan dengan cara rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan bercerita pada anak usia 5-6 tahun di TKM Wasilatus SaAoadah Mangunrejo Kec. Kepanjen. Dengan jumlah subjek penelitian berjumlah anak 15 anak. Penelitian ini menggunakan model kolaboratif, artinya peneliti bekerjasama dengan guru kelas, peneliti sebagai pengajar dan guru kelas sebagai observer pada kegiatan penelitian yang akan dilakukan. Ciri khas dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ialah pelaksanaannya yang berlangsung secara berulang atau bersiklus. Setiap siklus mencakup empat tahapan utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, serta refleksi (Purnama. Suci Rohmadheny, & Pratiwi, 2. Adapun skema penelitian ini sebagai berikut: Gambar 1. Skema Penelitian (Kemmis. McTaggart, & Nixon, 2. Indikator yang diterapkan pada penelitian ini ialah muatan Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014. Instrumen yang digunakan untuk mengamati proses pembelajaran ada dua yaitu: anak mampu mengekspresikan ide atau perasaan melalui bentuk gambar dan anak mampu menceritakan hasil gambarnya. RESULTS AND DISCUSSION Berikut hasil penelitian tindakan kelas yang sudah dilaksanakan di TKM NU 12 Sunan Giri Kepanjen tentang kemampuan bercerita usia 5-6 tahun. Penelitian diterapkan dengan menggunakan 2 siklus dengan persiklus dua kali pertemuan dengan kegiatan sebagai berikut: Tahapan Perencanaan Tahap perencanaan diawali dari proses melakukan observasi obyek yang Kemudian menyusun dan menyiapkan rencana pembelajaran berdasarkan pokok pemberceritan yang akan diajarkan, menyiapkan lembar observasi dan penilaian unjuk kerja anak untuk kegiatan yang akan dilakukan. RPPH yang digunakan pada siklus pertama pertemuan pertama adalah kegiatan menggambar bebas menggunakan media di dalam kelas kemudian menceritakannya di depan kelas. RPPH yang digunakan pada siklus pertama pertemuan kedua adalah guru memberikan contoh menggambar bebas dan memberikan contoh Al-athfal. Vol. 06 No. : 285 Yenita Dwi Setyowati, etc. Meningkatkan Kemampuan Bercerita Melalui Kegiatan Mengambar Bebas Di Kelompok B TK Muslimat Wasilatus SaAoadah Mangunrejo-Kepanjen Kab. Malang bercerita, kemudian guru memberikan instruksi agar anak menggambar bebas dan menceritakannya. RPPH yang digunakan pada siklus kedua pertemuan pertama adalah kegiatan menggambar bebas di halaman sekolah dan menceritakan RPPH yang digunakan pada siklus kedua pertemuan kedua adalah kegiatan menggambar bebas di lingkungan sekitar sekolah dan menceritakan gambarnya. Tahap Pelaksanaan Tindakan Pada tahap ini peneliti mengenalkan kegiatan yang akan dilaksanakan serta langkah-langkah kegiatan yang telah disusun dalam lembar kegiatan. Tahap Pengamatan / Observasi Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap jalannya tahapan kegiatan bercerita sampai akhir kegiatan. Fokus pengamatan pada kemampuan anak dapat mengekspresikan ide atau perasaan melalui bentuk gambar dan anak mampu menceritakan hasil gambarnya. Tahap Refleksi Refleksi didapatkan dari hasil musyawarah antara pendidik dan peneliti pada saat mengamati kemampuan bercerita anak dengan bercerita. Dalam melakukan observasi peneliti dan pendidik mencoba mengamati apakah anak dapat bercerita sesuai dengan gambar bebas yang dibuat anak. Sehingga dari refleksi itu, peneliti dapat membuat kesimpulan apakah kemampuan anak sudah memenuhi kriteria penilaian atau belum. Proses perbaikan kegiatan menggambar bebas dan bercerita dapat dilakukan pada pertemuan Berdasarkan analisis data pada siklus I dan siklus II dapat dilihat adanya peningkatan pada kemampuan bercerita anak. Berikut tabel 1 akan dipaparkan peningkatan kemampuan bercerita melalui kegiatan menggambar Tabel 1. Peningkatan Kemampuan Bercerita Penelitian Pra siklus 1 pertemuan 1 siklus 1 pertemuan 2 siklus II pertemuan 1 siklus II pertemuan 2 Peningkatan Rata-rata Hasil (%) Berdasarkan tabel 1 kemampuan bercerita anak pada siklus I pertemuan ke-1 memperoleh prosentase sebesar 50%, pada pertemuan ke-2 memperoleh prosentase 65%. Pada siklus II pertemuan ke-1 memperoleh prosentase 70% pada Al-athfal. Vol. 06 No. : 286 Yenita Dwi Setyowati, etc. Meningkatkan Kemampuan Bercerita Melalui Kegiatan Mengambar Bebas Di Kelompok B TK Muslimat Wasilatus SaAoadah Mangunrejo-Kepanjen Kab. Malang pertemuan ke-2 memperoleh proentase sebesar 86% Peningkatan yang terjadi mulai dari pra tindakan sampai siklus II sebesar 33%. Berikut ini hasil peningkatan dipaparkan dalam bentuk grafik. anak dapat memegang gunting dengan benar anak dapat menggunting sesuai gambar Gambar 1. Grafik kemampuan bercerita anak Pada diagram batang di atas, terlihat adanya peningkatan yang signifikan pada kemampuan anak dalam memegang gunting dengan benar dan menggunting sesuai gambar dari tahap pra tindakan hingga Siklus II Pertemuan 2. Pada tahap pra tindakan, hanya 31% anak yang mampu memegang gunting dengan benar dan 35% yang mampu menggunting sesuai gambar. Namun, setelah dilakukan intervensi pada Siklus I Pertemuan 1, terjadi peningkatan masing-masing menjadi 40% dan 60%. Peningkatan berlanjut pada Siklus I Pertemuan 2, dengan persentase 60% untuk memegang gunting dengan benar dan 70% untuk menggunting sesuai gambar. Pada Siklus II Pertemuan 1, capaian meningkat lagi menjadi 65% dan 75%, dan pada Siklus II Pertemuan 2, terjadi peningkatan yang sangat optimal dengan 85% anak mampu memegang gunting dengan benar dan 87% anak mampu menggunting sesuai gambar. Data ini menggambarkan jika tahapan pembelajaran yang dilaksanakan pada dua siklus terbukti efektif guna meningkatkan keterampilan motorik halus anak, terutama pada penggunaan gunting secara tepat dan sesuai dengan pola gambar. Menurut Karimah & Chandra, . bercerita merupakan keterampilan berbicara yang digunakan seseorang untuk menyampaikan informasi kepada individu lain, bertujuan menanamkan nilai-nilai positif, terutama pada anak usia Melalui kegiatan yang dilakukan secara berulang ini, diharapkan anak dapat mengembangkan berbagai aspek perkembangan, khususnya dalam hal kemampuan berbahasa. Pada dasarnya, aktivitas menggambar merupakan bentuk permainan bagi anak-anak. Saat melakukannya, mereka melibatkan perasaan senang dan antusias. Biasanya, anak menggambar berdasarkan keinginan pribadi serta suasana hati yang sedang mereka alami. Dengan menggambar bebas anak tidak punya batasan dalam menuangkan idenya. Keinginan dan perasaan anak bisa tersampaikan dengan tepat. Al-athfal. Vol. 06 No. : 287 Yenita Dwi Setyowati, etc. Meningkatkan Kemampuan Bercerita Melalui Kegiatan Mengambar Bebas Di Kelompok B TK Muslimat Wasilatus SaAoadah Mangunrejo-Kepanjen Kab. Malang Bercerita dengan menggunakan gambar yang dibuat anak sendiri dapat membantu peserta didik untuk menggali lebih dalam imajinasi serta ide-ide yang tersimpan dalam otak anak bisa muncul tanpa ada batasan apapun. Dapat tersampaikan secara tulisan berupa gambar dan diperjelas dengan lisan yaitu cerita anak. Sejalan dengan yang diungkapkan Olivia, . mengatakan bahwa Menggambar bebas adalah suatu kegiatan mencoret atau membuat gambar pada media seperti kertas, yang mencerminkan ide dan gagasan seseorang, baik berdasarkan apa yang ia amati, dengar dari orang lain, maupun yang muncul dari imajinasinya sendiri. Objek yang digambar bisa berasal dari lingkungan sekitar atau hasil murni dari pemikiran individu, dan aktivitas ini dapat memberikan kepuasan batin. Berdasarkan pemahaman tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemampuan bercerita dapat diasah melalui aktivitas menggambar bebas, karena proses menggambar ini merupakan bentuk ekspresi pikiran, perasaan, pengamatan, atau imajinasi yang diwujudkan dalam bentuk visual. Tak hanya itu, penelitian Tresnaningsih, . Hasil penelitian mengindikasikan bahwa kemampuan menggambar bebas pada anak kelompok A dan B tergolong dalam kategori yang cukup memuaskan. Penilaian terhadap kemampuan menggambar bebas didasarkan pada lima aspek, yaitu kemampuan anak dalam menyampaikan ide dan gagasan, mengekspresikan imajinasi dan perasaan, menguraikan berbagai bentuk secara rinci, menciptakan karya yang orisinal, serta menghasilkan gambar yang tidak terikat pada komposisi yang bersifat stereotip. Rizqiyania & Azizah, . menyebutkan bahwa terdapat berbagai media yang bisa dimanfaatkan untuk membantu anak dalam kegiatan bercerita. Akan tetapi, melalui media ini, anak-anak menjadi lebih terampil dalam menyampaikan cerita tanpa harus bergantung pada teks. Mereka dapat mengekspresikan diri secara bebas, berimajinasi, dan menggunakan visual sebagai sarana untuk memperkaya kosakata yang dimiliki. Menggambar bebas mempunyai fungsi penting guna mendukung keterampilan bercerita anak usia dini. Melalui gambar, anak tidak hanya menuangkan ide, gagasan, dan perasaannya secara visual, tetapi juga mampu mengembangkannya menjadi cerita lisan yang bermakna. Kegiatan ini memungkinkan anak untuk berlatih menyusun alur, memperkaya kosakata, serta meningkatkan keberanian dalam berbicara di depan orang lain. Dengan demikian, integrasi antara kegiatan menggambar bebas dan bercerita menjadi salah satu metode yang efektif dalam mengasah aspek bahasa sekaligus kreativitas anak secara menyenangkan dan bermakna. Anak Mampu Mengekspresikan Ide atau Perasaan Melalui Bentuk Gambar Berdasarkan data di atas pada siklus pertama, dapat diketahui bahwa anak yang dapat mengekspresikan ide melalui bentuk gambar pada pertemuan 1 sebesar 40% dan 61% pada pertemuan ke 2. Sedangkan pada siklus II Al-athfal. Vol. 06 No. : 288 Yenita Dwi Setyowati, etc. Meningkatkan Kemampuan Bercerita Melalui Kegiatan Mengambar Bebas Di Kelompok B TK Muslimat Wasilatus SaAoadah Mangunrejo-Kepanjen Kab. Malang mengalami peningkatan yaitu 65% pada pertemuan ke 1 dan 85% pada pertemuan ke 2. Mampu mengekspresikan ide atau perasaan dengan benar dan tepat melalui bentuk gambar itu penting dalam menstimulus anak berimajinasi lebih luas. Aktivitas menggambar memiliki pengaruh besar karena melalui kegiatan ini, anak mampu menyalurkan ekspresi dirinya. Sebab itu, penting bagi anak guna memperoleh kesempatan yang memadai dalam menggambar, didukung dengan berbagai jenis alat bantu serta peran pendidik yang mampu mendorong perkembangan imajinasi dan kemampuan berpikir Dalam menggambar, kadang hasil gambar anak berupa coretan dan tidak membentuk sebuah gambar yang bagus. Namun yang dilihat disini bukanlah Ide atau gagasan anak yang melatar belakangi gambar itulah yang menjadi sumber informasi ketika anak bercerita. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Winarti & Rohmalina, . yang menunjukkan jika kegiatan menggambar bebas bisamenjadi stimulus efektif dalam meningkatkan kemampuan imajinatif anak. Melalui aktivitas ini, anak terdorong guna menghasilkan berbagai ide baru serta menunjukkan kreativitas yang lebih tinggi, karena mereka merasa senang dan bebas dalam mengekspresikan gagasan serta imajinasinya tanpa batasan. Sukatin et al. juga menyimpulkan bahwa menggambar bebas secara signifikan meningkatkan kefasihan, imajinasi, penalaran, dan keberanian anak dalam menceritakan cerita mereka sendiri. Anak mampu menceritakan hasil gambarnya Berdasarkan data di atas, terlihat adanya peningkatan kemampuan anak dalam menceritakan hasil gambarnya dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I, anak yang mampu menceritakan hasil gambarnya sebanyak 60% pada pertemuan pertama dan meningkat menjadi 70% pada pertemuan kedua. Sementara itu, pada siklus II, terjadi peningkatan lebih lanjut, yakni 75% pada pertemuan pertama dan mencapai 87% pada pertemuan kedua. Kemampuan anak dalam menuangkan ide ke dalam bentuk gambar perlu diimbangi dengan keterampilan untuk mengungkapkan makna di balik gambar tersebut secara Dalam hal ini, faktor internal seperti perkembangan kognitif, minat, dan kepercayaan diri anak, serta faktor eksternal seperti dukungan dari pendidik dan orang tua, sangat memengaruhi hasil yang dicapai. Peran pendidik dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menantang juga sangat penting untuk memotivasi anak agar lebih percaya diri dalam bercerita. Meski sebagian besar anak menunjukkan peningkatan, ada kemungkinan bahwa beberapa anak belum mengalami perkembangan yang Ini bisa dikarenakan dari banyak faktor, seperti rasa malu, kurangnya kosa kata, atau minimnya stimulasi verbal di rumah. Selain itu, perbedaan kemampuan individu juga menjadi faktor yang memengaruhi keberhasilan anak dalam mengembangkan cerita yang runtut. Sebagaimana disampaikan oleh Holmes et al. , . terdapat hubungan positif antara Al-athfal. Vol. 06 No. : 289 Yenita Dwi Setyowati, etc. Meningkatkan Kemampuan Bercerita Melalui Kegiatan Mengambar Bebas Di Kelompok B TK Muslimat Wasilatus SaAoadah Mangunrejo-Kepanjen Kab. Malang kreativitas menggambar, aktivitas bermain, dan kemampuan bahasa anak. Anak-anak yang aktif menggambar dan bermain cenderung mengalami peningkatan dalam kemampuan berbicara dan bercerita, sehingga pembelajaran yang berkesinambungan sangat diperlukan untuk mengasah keterampilan ini secara optimal. CONCLUSION Berdasarkan hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa anak usia dini mampu mengekspresikan ide dan perasaannya melalui gambar, meskipun hasilnya tidak selalu indah secara visual. Yang terpenting adalah makna atau gagasan di balik gambar yang menjadi dasar dalam bercerita. Aktivitas menggambar terbukti efektif dalam menstimulasi imajinasi dan menjadi media ekspresi diri anak. Selain itu, anak juga menunjukkan kemampuan untuk menceritakan hasil gambarnya, meskipun masih menggunakan kalimat sederhana. Dengan bimbingan yang tepat dan pembelajaran yang berkelanjutan, kemampuan ini dapat terus berkembang menjadi keterampilan bercerita yang runtut dan bermakna. Oleh karena itu, disarankan agar pendidik hingga orang tua lebih sering memberikan kesempatan kepada anak untuk menggambar bebas dan menceritakan hasil karyanya, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan serta mendorong anak untuk berani berbicara. ACKNOWLEDGMENT Ucapan terima kasih yang tulus saya sampaikan kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam pelaksanaan penelitian ini khususnya kepada guru dan peserta didik yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan menggambar bebas yang menjadi bagian penting dalam penelitian ini. Dukungan dari kepala sekolah, pendamping lapangan, serta bimbingan dari dosen pembimbing sangat berarti guna penyelesaian penelitian ini. Semoga hasil penelitian ini mampu memberikan manfaat bagi pengembangan kreativitas dan kemampuan bercerita anak usia dini. REFERENCES