Vol. No. Desember 2024, pp 224-233 https://doi. org/10. 36590/jagri. http://salnesia. id/index. php/jagri jagri@salnesia. id, e-ISSN: 2746-802X Penerbit: Sarana Ilmu Indonesia . ARTIKEL PENGABDIAN Optimalisasi dan Penguatan PKK Remaja dalam Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Stunting Optimization and Strengthening of Youth PKK in Efforts to Prevent and Overcome Stunting Fitriani Umar1*. Rasidah Wahyuni Sari2. Fitriyani Syukri3. Sukmawati Thasim4 Muhammad Danu Fahreza5. Muh. Kiplan6 1,4,5 Program Studi Gizi. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Parepare. Parepare. Indonesia Program Studi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Parepare. Parepare Indonesia Program Studi Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Parepare. Parepare. Indonesia Abstract The Youth PKK was formed to assist in efforts to prevent and overcome stunting, especially in Watang Bacukiki Village. However, they are heavily involved in posyandu activities, especially in measuring nutritional status. Their skills are still lacking, especially in assessing children's growth and nutritional status and providing education regarding the results of growth This service activity aims to provide training related to growth monitoring and techniques for providing education/counseling as well as entrepreneurship training in making MPASI products. The activity was carried out in the form of training at the Watang Bacukiki Village Head Office which was attended by 20 people. In this activity, youth PKK members were trained to monitor the nutritional status of toddlers, namely how to measure weight, height, head circumference and upper arm circumference. Apart from that, they were also trained on how to plot measurement results in the KIA book and interpret child growth charts. PKK youth are also trained in techniques for providing education and making MP ASI based on local food ingredients. This activity is effective in increasing the knowledge and skills of Youth PKK, especially in monitoring growth and starting to have the courage to provide education using the teaching aids provided. Teenage PKK members are also starting to become adept at making MP ASI products according to the texture and age of the child. It is hoped that this activity can improve youth PKK skills in preventing and overcoming stunting. Keywords: adolescent pkk, mpasi, stunting PUBLISHED BY: Sarana Ilmu Indonesia . Address: Jl. Dr. Ratulangi No. Baju Bodoa. Maros Baru. Kab. Maros. Provinsi Sulawesi Selatan. Indonesia Article history: Submitted 20 September 2024 Accepted 09 Desember 2024 Published 28 Desember 2024 Email: info@salnesia. id, jagri@salnesia. Phone: Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Desember 2024 Abstrak PKK Remaja dibentuk guna membantu dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting khususnya di Kelurahan Watang Bacukiki. Namun mereka banyak terlibat di kegiatan posyandu khususnya bagian pengukuran status gizi. Keterampilan mereka masih kurang utamanya dalam menilai pertumbuhan dan status gizi anak serta memberikan edukasi terkait hasil dari pemantauan pertumbuhan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pelatihan terkait pemantauan pertumbuhan dan teknik melakukan edukasi/penyuluhan serta pelatihan kewirausahaan pembuatan produk MPASI. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pelatihan bertempat di Kantor Lurah Watang Bacukiki yang diikuti sebanyak 20 orang. Dalam kegiatan ini anggota PKK remaja dilatih melakukan pemantauan status gizi balita yakni bagaimana cara melakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar kepala dan lingkar lengan atas. Selain itu mereka juga dilatih bagaimana melakukan plotting hasil pengukuran di buku KIA dan interpretasi grafik pertumbuhan anak. PKK remaja juga dilatih bagaimana tehnik memberikan edukasi serta pembuatan MPASI berbasis bahan pangan lokal. Kegiatan ini efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan PKK Remaja utamanya dalam melakukan pemantauan pertumbuhan dan mulai berani memberikan edukasi menggunakan alat peraga yang Anggota PKK remaja juga mulai mahir dalam membuat produk MPASI sesuai tekstur dan usia anak. Diharapkan dari kegiatan ini dapat meningkatkan keterampilan PKK remaja dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting. Kata Kunci: pkk remaja, mpasi, stunting *Penulis Korespondensi: Fitriani Umar, email: fitrah. gizi@gmail. This is an open access article under the CCAeBY license PENDAHULUAN Hasil Survei Status Gizi (SSGI) tahun 2023 dilaporkan jumlah stunting di Sulawesi Selatan sebesar 27,4% naik 0,2% dari tahun sebelumnya yakni 27,2% . Jumlah stunting di Kota Parepare sebanyak 26,7% dan masih di atas prevalensi nasional sebesar 21,5%. Angka ini masih tinggi di atas prevalensi yang ditetapkan oleh WHO sebesar 20% sebagai masalah kesehatan masyarakat (Kemenkes, 2. Hasil pendataan pada kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) 1 mahasiswa FIKES UMPAR pada bulan Maret 2022 diketahui mayoritas pendidikan masyarakat khususnya ibu balita hanya tamat SD. Upaya yang dilakukan oleh kelurahan dalam menurunkan prevalensi stunting salah satunya dengan membentuk kelompok PKK Remaja pada 2 Juli 2021 yang kemudian dikukuhkan pada 18 September 2021. Kelompok ini terdiri dari remaja yang berumur 14 tahun ke atas sebanyak 28 orang saat pembentukannya, namun yang aktif mengikuti setiap kegiatan hanya 16 orang yang 2 diantaranya adalah laki-laki. PKK remaja ini sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan termasuk yang berkaitan dengan stunting seperti kegiatan di posyandu, pembagian makanan untuk intervensi anak stunting dan posyandu lansia. Hasil wawancara dengan ketua PKK remaja (Risna. diperoleh informasi bahwa anggota PKK remaja masih kurang mendapatkan Mereka hanya sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan di Kelurahan. Dalam kegiatan posyandu mereka biasa terlibat dalam membantu kader dalam menimbang balita tanpa pernah mendapatkan pelatihan sebelumnya. Tingkat pengetahuan remaja umumnya masih rendah. Informasi yang diperoleh dari Ibu Lurah selaku Pembina PKK Umar1 et al. Vol. No. Desember 2024 remaja bahwa mereka belum memiliki pendanaan khusus untuk membiayai operasional kegiatan dan PKK remaja juga tidak mendapatkan honor, kegiatan PKK remaja masih pasif, masih menunggu pengarahan dari Pembina. PKK remaja akan banyak dilibatkan dalam posyandu stunting yang akan dibentuk oleh kelurahan yang akan mendeteksi anak yang berisiko tinggi stunting. Intervensi stunting difokuskan pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melihat resiko terjadinya stunting sangat besar pada periode ini. Pencegahan terjadinya stunting lebih efektif dibanding pemberian intervensi dalam mengobati stunting. Untuk itu edukasi pada ibu balita utamanya tentang praktek pemberian makanan berupa inisiasi menyusui dini, pemberian ASI eksklusif dan MPASI yang berkualitas pada anak efektif dalam menurunkan prevalensi stunting (Mistry et al. , 2. PKK remaja dapat diberdayakan dalam upaya pencegahan stunting tidak hanya sekedar membantu kader dalam melakukan penimbangan tapi dapat aktif melakukan pemantauan pertumbuhan balita dan juga memberikan edukasi kepada ibu balita utamanya terkait MPASI. Jumlah posyandu yang ada di Kelurahan Watang Bacukiki sebanyak 6 posyandu dengan masing-masing jumlah kader sebanyak 5 orang, namun dalam pelaksanaan posyandu jumlah kader yang aktif hanya sedikit dan mayoritas hanya bertugas di bagian pendaftaran pencatatan dan penimbangan. Padahal stunting bisa dicegah jika sedini mungkin ibu balita di edukasi terutama jika terjadi growth faltering saat kegiatan pemantauan pertumbuhan. Selain edukasi kepada ibu balita. PKK remaja dapat mengedukasi teman sebayanya untuk mencegah terjadinya stunting mengingat masalah anemia dan kekurangan energi kronik masih tinggi di masa prakonsepsi (Nabila et al. Literasi gizi perlu diberikan sejak dini utamanya di masa prakonsepsi untuk mempersiapkan calon ibu sebelum memasuki fase prenatal. Literasi gizi diartikan sebagai kemampuan individu untuk memiliki kapasitas untuk memperoleh, memproses dan memahami informasi gizi dan keterampilan gizi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan gizi yang tepat dalam hidup mereka (Joulaei et al. , 2018. Gibbs et al. , 2019. Umar et al. , 2. Berbagai penelitian menemukan pengaruh rendahnya literasi ibu tehadap status gizi anak dan masalah kesehatan anggota keluarganya (Mahmudiono et , 2018. Nurbaya, 2. Penguatan literasi gizi merupakan salah satu intervensi gizi spesifik dalam mencegah terjadinya masalah stunting. Tidak adanya sumber pendapatan menyebabkan keaktifan PKK remaja juga rendah dan hanya menunggu panggilan untuk mengikuti kegiatan. Padahal mereka bisa diberdayakan dalam mendapatkan penghasilan dengan membuat usaha sendiri yang dapat menunjang tugas mereka. Saat ini upaya pencegahan dan penanggulangan stunting di puskesmas dilakukan dengan pemberian PMT pada balita baik yang stunting, gizi kurang dan gizi buruk berupa pemberian PMT biskuit dan PMT berupa makanan yang dananya bersumber dari BOK. Makanan yang diberikan masih cenderung monoton tanpa variasi yang menarik dan tanpa memperhatikan perbedaan kebutuhan balita tersebut. Berdasarkan analisis situasi tersebut maka PKK remaja dapat diberdayakan dalam upaya pencegahan stunting, namun sejumlah permasalahan yang dimiliki antara lain: . Masih kurangnya pengetahuan dan keterampilan PKK remaja dalam melakukan pemantauan pertumbuhan dan memberikan edukasi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting . Kurangnya sumber pendanaan yang dapat menunjang pelaksanaan kegiatan PKK remaja. Untuk itu, kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan pelatihan kepada mitra terkait pemantauan pertumbuhan dan tehnik melakukan edukasi/penyuluhan, sehingga PKK Remaja nantinya memiliki pengetahuan yang baik dalam mencegah dan dapat mengedukasi masyarakat baik teman sebaya, ibu Author1 et al. Vol. No. Desember 2024 hamil dan ibu balita sekaligus dapat mendukung kebutuhan kelurahan yang ingin membentuk posyandu stunting. Selain itu memberikan pelatihan kewirausahaan kepada PKK remaja dalam pembuatan produk pangan dan MPASI berbasis pangan lokal sehingga dapat menunjang dan membantu kader menyiapkan PMT dan meningkatkan pendapatan PKK remaja. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 12-13 September 2024 bertempat di Kantor Lurah Kecamatan Watang Bacukiki Kecamatan Bacukiki Kota Parepare. Kegiatan diikuti oleh 20 orang yang terdiri dari PKK remaja, kader dan Ketua Penggerak PKK remaja. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pelatihan yang meliputi beberapa tahap seperti terlihat pada Gambar 1. Pertama, peserta dilatih melakukan pemantauan pertumbuhan/status gizi berupa pengukuran berat badan, tinggi badan dan panjang badan, lingkar lengan atas dan lingkar kepala serta memploting hasilnya pada grafik pertumbuhan anak di buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Tahap kedua kemudian dilakukan pelatihan tentang teknik memberikan edukasi berupa penyuluhan dan konseling. Peserta juga diberikan modul yang berisi materi pelatihan. Banner yang berisi materi tentang stunting dan strategi pemberian MPASI juga digunakan dalam membantu kegiatan pelatihan. Hari kedua peserta diberikan pelatihan terkait kewirausahaan tentang bagaimana membuat MPASI berbasis bahan pangan lokal dan juga materi terkait metode pemasaran dengan teknik digital marketing. Pengukuran pengetahuan peserta dilakukan sebelum dan setelah kegiatan dengan menggunakan kuesioner. Pre Test Pelatihan Pemantauan Pertumbuhan A Pengukuran Status Gizi A Plot Buku KIA Tehnik Edukasi A Penyuluhan A Konseling Kewirausahaan A Pembuatan MP ASI A Digital Marketing Post Test Gambar 1. Tahapan kegiatan Umar1 et al. Vol. No. Desember 2024 HASIL DAN PEMBAHASAN Stunting merupakan malnutrisi kronik yang banyak terjadi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting berawal dari kenaikan berat badan yang tidak adekuat setiap bulannya yang berdampak terhadap pertumbuhan linier (Kemenkes. Stunting dapat dicegah salah satunya dengan pemantauan pertumbuhan anak setiap bulannya. Kegiatan ini disambut baik oleh PKK Remaja Kecamatan Watang Bacukiki. Kegiatan dibuka dengan sambutan oleh Ibu Lurah Nur Muhlisah SE. yang juga merupakan Pembina PKK Remaja. Turut hadir pula Ketua Penggerak PKK Remaja sebagai peserta yakni Bapak Supardi. Sebelum kegiatan pelatihan dimulai, dilakukan pengukuran pengetahuan peserta dengan menggunakan kuesioner. Kegiatan pertama diberikan berupa edukasi pentingnya pemantauan pertumbuhan/status gizi balita dan dilanjutkan dengan pelatihan pengukuran status gizi mulai dari berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar kepala dan lingkar lengan Selain dilatih, peserta diberikan kesempatan untuk praktik secara langsung bagaimana melakukan pengukuran yang baik dan benar. Walaupun pelatihan ini sudah pernah didapatkan oleh PKK remaja, namun ini berguna untuk merefresh kembali pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki. Pada kegiatan ini mereka dijelaskan standar alat yang dapat digunakan untuk pengukuran status gizi. Penyegaran pengukuran antropometri pada balita perlu dilakukan untuk mencegah kesalahan pengukuran dan meningkatkan keterampilan serta pengetahuan kader. Pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan penting dilakukan agar dapat menjalankan fungsi dan perannya (Paridah et al. , 2. Setelah itu, peserta dilatih bagaimana melakukan ploting hasil pengukuran ke dalam grafik pertumbuhan anak di buku KIA seperti yang terlihat pada Gambar 2. Pada sesi ini dijelaskan pula cara interpretasi grafik pertumbuhan anak Berat Badan Menurun Umur (BB/U), kapan dikatakan berat badannya naik (N) dan tidak naik (T), pengenalan perbedaan indikator BB/U. Tinggi/Panjang Badan Menurut Umur (TB/U). Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB) dan Indeks Massa Tubuh Menurut Umur (IMT/U) yang tertera di buku KIA. Pada kegiatan ini para peserta banyak berdiskusi terkait pengalaman yang mereka dapatkan sewaktu berkegiatan di posyandu. Gambar 2. Pelatihan pemantauan pertumbuhan balita PKK remaja banyak terlibat dalam kegiatan posyandu balita utamanya dalam membantu kader melakukan pengukuran, namun mereka belum dilibatkan dalam memploting hasil pengukuran pada buku KIA. Tugas ini masih diserahkan kepada Author1 et al. Vol. No. Desember 2024 Selain itu PKK remaja juga bertugas membantu dalam kegiatan pendataan dan juga posyandu lansia. Hasil penelitian Ekasanti et al. menunjukkan bahwa pelatihan yang diberikan kepada kader dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam melakukan pengukuran antropometri dan interpretasinya. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang baik diharapkan PKK remaja dapat membantu tugas dan peran kader di posyandu. Pada kegiatan ini peserta juga dilatih tehnik memberikan edukasi utamanya tentang konseling dan penyuluhan seperti yang terlihat pada Gambar 3. Materi ini penting sebagai tindak lanjut dari hasil pemantauan status gizi. Diharapkan para peserta tidak hanya mampu melakukan pengukuran tapi juga dapat memberikan edukasi yang selama ini banyak tidak berjalan di posyandu khususnya di meja ke 4 (Lestari dan Hanim, 2. Kegiatan ini melatih kepercayaan diri remaja untuk dapat memberikan edukasi tidak hanya kepada ibu balita, remaja, ibu hamil dan juga lansia yang menjadi sasaran kegiatannya. Di kelurahan Watang Bacukiki sendiri terdapat program yang tidak hanya menyasar balita yang mengalami stunting tapi juga balita yang berisiko Pada kegiatan ini peserta dibekali pula modul yang berisi materi kegiatan pelatihan dan juga alat peraga yang dapat digunakan sebagai alat banty dalam memberikan edukasi seperti banner, flip chart, food model maupun laktasi kit. Hasil kegiatan ini efektif meningkakan rasa percaya diri peserta. Terbukti dari laporan yang diterima, 2 hari setelah kegiatan anggota PKK remaja mulai memberikan penyuluhan terkait pemberian ASI Eksklusif di Posyandu Lappaangin dengan menggunakan alat peraga yang diberikan. Tehnik pemberian edukasi perlu diberikan untuk memenuhi tugas PKK remaja yang juga sebagai pendamping dari tenaga kader dalam melaksanakan perannya di Mereka dapat menjadi promotor kesehatan bagi masyarakat sama seperti kader kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan efektifitas pelatihan yang diberikan kepada kader mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam melaksanakan fungsi dan perannya utamanya di posyandu (Sudarmi, 2. Gambar 3. Pelatihan tehnik pemberian edukasi Materi ketiga yang diberikan terkait kewirausahaan yakni pembuatan MPASI berbasis bahan pangan lokal. Pada sesi ini peserta diberikan edukasi terkait strategi pemberian MPASI yang meliputi waktu pemberian MPASI, komposisi, frekuensi dan tektur MPASI menurut usia (Adekua. , hygiene dan sanitasi dalam pembuatan dan pemberian MPASI serta tehnik pemberian MPASI secara responsif feeding (IDAI. Umar1 et al. Vol. No. Desember 2024 Hanindita, 2. Pada sesi ini peserta praktik langsung membuat MPASI utamanya menyesuaikan tekstur MPASI sesuai dengan usia anak. Seperti diketahui bahwa PKK remaja juga banyak membantu kader dalam mendistribusikan makanan untuk balita stunting. Seperti diketahui bahwa praktik pemberian MPASI yang salah merupakan faktor risiko tingginya masalah stunting dan wasting pada balita. (Wangiyana et al. , 2020. Haniarti et al. , 2. Diharapkan setelah kegiatan ini PKK remaja dapat terlibat aktif dalam pembuatan MPASI dan juga dapat mengedukasi balita terkait cara pembuatan dan pemberian MPASI. Edukasi dan pelatihan pembuatan MPASI melalui praktik secara langsung efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terkait MPASI (Sumardilah et al. , 2018. Mardhika et al. , 2. Pada kegiatan ini pula peserta juga dijelaskan cara pengemasan dan juga penyimpanan MPASI yang aman. Tidak hanya membuat MPASI pada kegiatan ini para peserta juga diberikan materi terkait tehnik pemasaran digital marketing (Gambar . Pembuatan MPASI dapat menjadi peluang usaha yang selain membantu ibu balita memenuhi kebutuhan gizi anaknya untuk makanan homemade juga dapat sebagai sumber penghasilan bagi PKK remaja dalam membiayai kegiatannya. Gambar 4. Pelatihan kewirausahaan pembuatan MPASI Diharapkan setelah kegiatan ini pengetahuan dan keterampilan peserta dalam hal ini PKK remaja dapat meningkat utamanya dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting. Hasil pengukuran pre-post test dari kegiatan ini ditunjukkan pada Tabel 1. Perubahan pengetahuan berkaitan dengan parameter untuk menilai 85% peserta masih salah dengan menjawab indeks BB/U dan BB/TB namun setelah kegiatan 85% sudah menjawab TB/U sebagai parameter penentuan stunting pada Demikian halnya dengan strategi pemberian MPASI dimana 85% peserta yang sebelum kegiatan menjawab salah dimana mereka hanya mempertimbangkan umur Author1 et al. Vol. No. Desember 2024 pemberian dan juga aman dan higienis namun setelah kegiatan mereka sudah mampu menjawab bahwa selain pertimbangan umur, komposisi dan tehnik pemberian secara responsif juga masuk ke dalam kriteria pinsip pemberian MPASI. Masih terdapat 5% peserta yang masih salah dalam menjawab. Tabel 1. Distribusi jawaban peserta sebelum dan setelah kegiatan Sebelum Pertanyaan Parameter stunting Definisi stunting Parameter pemantauan pertumbuhan Metode pemberian edukasi Menimbang berat badan Pengukuran Panjang badan Konversi berat badan ke panjang badan dan sebaliknya Strategi pemberian MPASI Umur mulai MPASI Komposisi MPASI Sesudah Benar Salah Benar Salah Hasil post test juga menunjukkan peserta masih bingung terkait dengan konversi hasil pengukuran panjang badan menjadi tinggi badan ataupun sebaliknya, hanya 45% yang menjawab benar, selebihnya masih menjawab salah. Pertanyaan terkait definisi stunting, metode pemberian edukasi, hal yang perlu diperhatikan dalam menimbang berat badan anak hingga posisi pengukuran panjang badan 100% peserta telah menjawab benar pada saat pelaksanaan post-test. Para peserta masih harus didampingi dan terus diberikan pelatihan sehingga kedepan mampu terampil dalam penilaian pertumbuhan anak. Kegiatan pendampingan terus dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan PKK remaja dalam upaya pecegahan dan penanggulangan stunting. Hasil kegiatan ini sejalan dengan penelitian Ekasanti et al. dimana kegiatan pelatihan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kombinasi antara metode ceramah dengan pemberian booklet disertai dengan brainstorming dan praktik paling efektif dalam meningkatkan sikap dan keterampilan kader (Hanifah dan Hartriyanti, 2. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian ini penting dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan PKK remaja serta memaksimalkan perannya dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting. Setelah kegiatan, diketahui pengetahuan peserta meningkat dan kepercayaan diri mereka meningkat untuk dapat berperan serta dalam memberikan edukasi kepada ibu balita. Untuk itu diperlukan kegiatan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan dalam mengoptimalkan peran PKK remaja dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting. Umar1 et al. Vol. No. Desember 2024 UCAPAN TERIMA KASIH Kegiatan ini merupakan hibah Direktorat Riset. Teknologi dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Tahun 2024. Untuk itu ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi. Kementerian Pendidikan. Kebudayaan Riset dan Teknologi yang telah mendanai kegiatan ini. Kepada Rektor Universitas Muhammadiyah Parepare. LPPM, segenap Pimpinan dan Dosen FIKES, serta mahasiswa Universitas Muhammadiyah Parepare yang mensuport pelaksanaan Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ibu Lurah Kelurahan Watang Bacukiki dan PKK Remaja yang telah bekerjasama dalam kegiatan ini. DAFTAR PUSTAKA