APAKAH BBNAR 'UTSMAN IBN 'AFFAN IiORANG NEPOTIST ? Oleh : Drs. NouroLtzzaman Shiddiqi. 'IJtsman ibn nAffan ibn 'Abdi Syams ibn 'Abdi Manaf ibn Qushai al-Quraisyi, lahir di Makkah pada tahun kclima setelah kelahiran Rasulullah saw, berasal dari lingkungan bangsawan Qurairy. Beliau adalah khalifah ketiga dalam deretan Khuldah ol' Raryi,din. Memerintah selama dua belas tahun antara tahun 644-56' Sejak kecilnya termasyhur dengan budi pekerti yang utama dan nerbuatan yang terpuji . , yang oleh Francesco Gabrieli dilukiskan ,). rn "a gentle and a piourman" . Beliau termasuk salah seorang diantara assabiqunal-awwalun. Ikut berhijrah pertama ke Abessinia (Habasya. Ikut dalam setiap peperangan berrama Rasul, kecuali Ferang tsadr. Mewakafkan sumur Raumah yang dibelinya dari seorang Yahudi dengan harga duapuluh ribu dirham untuk keperluan persediaan air bagi kaum Muslimin . Menyum' bangkan harta sebanyak beban seribu ekor unta persiapan Perang Tabug . Pernah menjalankan tugas diplomatik dalam masa yang rulit dan pcnuh ancaman bahaya, vakni ketika bertindak sebagai utusan Rasuluilah untuk melakukan perundingan dengan pemimpin Quraisy di Makkah yang kemudian menelorkan perjanjian damzti Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriyah. Ketika menjalankan tugas ini beliau pernah diduga telah dibunuh atau setidaknye di' tahan oleh orang-orang Quraisy yarrg karenanya kaum Muslimin melakukan sumpah setia yang terkenal dengan nama Bai'at al-Ridwan. Beliau adalah salah seorang penulis wahyu dan termasuk diantara sepuluhtrang yang dijamin masuk ryurg . Beliau diangkat untuk menduduki jatratan khalifah adalah atas pilihan yang dilakukan oleh sebuah panitiya pemilih . yang terdiri atas enam orang yang dibentuk oleh 'IJmar pada masa akhir hayat beiiau. Panitiya'ini memilih 'IJtsman adalah dengan pertimbangan bahwa beliaulah orang yang terbaik pada masa itu untuk menduduki jabatan itu. Selama masa'pemcrin* tahannya yang dua belas tahun itu dibagi atas dua periode. Enam tahun pertama dikatakan sebagai rnasa baik, sedang sisa rnasa enam tahun terakhir dianggap buruk' l. nUtsman yang berprofil seperti tersebut diatas itulah yang mendapat tuduhan rnenghambur-hamburkan kckayaan negara untuk keperluan pribadi dan kerabat serta nepotis. I . yakni penganut paham nepotisme . eposberasal dari bahasa Latin yang berarti kemanaka. , yaitu orang yang terlalu cenderung kepada keluarga, bcrbuat 'segala sesuatu demi keuntungan keluarga atau kerabat mcrnberikan pangkat dan kedudukan yang tinggi kepada sanak saudara. 'Utsman juga dituduh telah menyalah gunakan kekuasaan, bahkan telah menggunakan kekuasaan yang diluar haknya. Tuduhan nepotist dijatuhkan kepada beliau, karena beliau mengangkat ( ? ) Mu'awiyah, laudara sepupu, dalam kedudukan gubernur di Syria. Mengangkat 'Abdullah ibn Sa'd ibn Abi Sarh, saudara anghat, menjadi gubernur di Mesir menggantikan 'Amar ibn al-'Ash. Mengangkat 'Abdullah ibn 'Amir saudara sepupu, menjadi gubernur di al-Bashrah. Mcngangkat Sa'd ibn al-'Ash, 'al-Wasaudara repupu, menjadi guhernur di Kufah menggantikan lid ibn 'Uqbah, yang juga saudara sepupu, tapi tidak kompeten untuk jabatan itu. Mengangkat Marwan ibn al-Hakam, saudara sepupu, yang tertuduh membuat surat palsu, menjadi sekretaris negara dan penasehat pribadi. Dan memberikan kontrak-kontrak dagang, khususnya persediaan bahan makanan dalam jumlah besar kepada keluarga sendiri. Gabrielii menulis : "And it was upon them that he relied during his Caliphate . , giving posts of authority and wealth to his kindmen, and offending and outraging the party of the old Companions, and of the pious. who saw in the rising fortunes of the Umayyad. something like a resurgence of defeated paganism". Ya, bahkan 'IJtsman dituduh pula menghina Shahabat dan orang orang salih, dengan contoh yang dikembangkan ialah pengusiran terhadap Abu Daar. Tuduhan bahwa beliau telah menggunakan kekuasaan diluar wewenangnya ialah keputusan beliau mempromulgasikan mashhaf resrni hasil panitiya Zaid ibn Tsabit, dan mernerintahkan membakar rernua mashhaf yang lain. Dengan tuduhan-tuduhan seperti tersebut diatas. Syeed Ameer Ali memberikan penalti yang sangat drastis, dengan ungkapannya, "FIir election proved in the end the ruin of Islam". Jika kedua pernyataan tersebut diatar, baik yang memuji maupun yang mencela kita terima sebagai satu kebenaran, yakni sdma-sama benarnya,maka dalam diri 'Ulama terhimpun dua sifat yang saling bertentangan, atau bolehlah kita katakan bahwa 'IJtsman adalah seorang yang unik. }l,al inilah yang menyebabkan '{Jtsman saya tertarik untuk mempertanyakan, "apakah benar seorang nepotist"? Apa yang dinamakan sejarah, bukan saja catatan dari rentetan peristiwa yang telah pernah terjadi, tapi termasuk juga interpretasi dari penuiis sejarah itu. Seorang penulis sejarah biar bagaimanapun berusaha bersikap oblektif dalam menganalisa peristiwa sejarah, namun tidaklah bisa terbebas sama sekali dari keadaan yang melingkupi dirinya di ketika dia sedang menulis itu. Baik keadaan itu datangnya dari dalam diri si penulir itu sendiri, karena dia sudah mempunvai satu sikap, seperti Syeed Ameer Ali misalnya, yang tidak mungkin bebas cama rekali dari paham Syi'ah yang dianutnya, ataupun keadaan itu datangnya dari luar si penulis, yakni adanya kekuasaan yang memaksa si penulis tidak bisa berinterpretasi lain. Tidak bisanya dia bcrinterpretasi lain, baik karena keinginan untuk mencari muka maupun karena merasa takut. Ibnu Khaldun telah menunjukkan adanya beberapa hal yang menyebabkan orang bisa salah dalam menginterpretasikan seruatu peristiwa Penulisan sejarah Islam mulai dilakukan pada masa dinasti 'Abbasiyah. Karya tulis mereka inilah yang dominan dan menjadi sumber pengambilan bagi penulisan sejarah yang dikerjahan oleh sejarawan-sejarawan berikutnya Hamilton A. Gibb menulis: "The beginning of a menographic treatment of episodes subsequent to the death of Muhammad have been described in the preceding chapter. It is noteworthy that, this activity was confined to al-Iraq : no similar treaties are recorded of any scholar in Syria. Arabia or Egypt during the first two centuries of the Hijra. The result of this was to give al-Iraq and its tradition a dominant place in later historical works. " l. Philip K. Hitti menulis : "The majority of the earliest historical writings surviving in Arabic date from the Abbasid period. Few of those cornposcd under the Umayyah have been preserved". Diantara para penulir sejarah pada masa awal-awal ini ialah: Abu 6Ubaidah . 209 H . 82 M), seorang mawla berasal dari Mesopotamia. 20 H : Bl9 M) . Hisyam ibn Muhammad al-Kalbi . berasal dari Kufah. Muhammad ibn Ishag ibn Yasar . 157 H : 774 M), Kakeknya. Yasar, berasal dari Kufah. Abu Mikhnaf . 157 H z 774 M), seorang yang jelarjelas pro 'Ali. Muhammad ibn 'I-Imar al-Waqidi . 207 H : 822 M). 'Ali ibn Muhammad al-Madaini (*. 225 H : 840 M), berasal dari al-Bashrah. Muhammad ibn Sa'd . , 230 FI : Baa/As M). B) Muhammad ibn Muslim al-Dinawari, yang sering dipanggil dengan Abu Qataibah, wafat di Baghdad pada tahun 276 H z BB9 M. Ahmad ibn Yahya al-Baladzuri . 279 H : 892 M). Abu Hanifah Ahmad ibn Daud al-Dinawari . 282 H: 895 M). Ibn Wadih al-Ya'qubi . 284 H : 897 M). Muhammad ibn Jarir al-Thabari . 310 H : 923 M), beliau a*alah bapak sejarah, yang menulir buku T"arikh al-Rusul wa al-Muluk. Abu Hasan 'Ali al-Mas'udi . * 345 H : 956 M), keturunan 'Abdullah ibn Mas'ud yang styie penulisannya bergaya Huodotus. Dari nama tokoh-tokoh sejarawan Muslim yanq tersebut diatas jelas terlihat bahwa beliau-beliau itu hidtrp di sekitar abad kesembrlan dan kesepuluh Masehi, yakni dimasa dinasti'Abbasiyah sedang berada pada puncak kejayaannya. Bagaimana besarnya rasa permusuhan dan kebencian dinasti 'Abasiyah terhadap dinasti Amawiyah kiranya sudah cukup jelas diketahui. Dari sikap Abu al-'Abbar yang menebas ha,bis sernua anggota al-Shaffah keluarga bani Uraiyah, kecuali seorang yang dapat menyelamatkan diri yang kemudian mendirikan dinasti Amawiyah Barztt di Andalusia. gudah cukup menjadi bukti. D,i samping itu, dapat pula dikemukakan kontroversi antara kedua dinasti ini. Jika dinasti Amawiyah melepaskan agama sebagai unsur pengikat masyarakat dan menggantikannya dengan politik dan ekonorni 'Abbasiyah dengan dominasi Arab, 2. maka dinasti agama scbagai rsyu propagandanya dan menggunakan unsur ttcuali dalam kegiatan negara. Dengan keadaan yang seperti inilah kiranya para historian Muslim sedikit atau banyak pasti terpengaruh juga dengan sikap penguasa yang sedang berkuasaitu, apalagi dalam keadaan puncak. Al-Thabari sendiri sebenarnya sudah merasakan bahwa laporanlaporan scjarah yang beliau tulis ada pihak-pihak yang merasa Hal ini terungkap dalam lrata-kata yang beliau tulis dalam tarikh al-Rusu,lua at-Muluk, seperti yang dikutip dalarn hentuk terjemahan dalam bahasa Inggeris oleh Muhsin Mahdi : "The knowledge of the events of past nations, and of the information about what ir currently taking place, does not peach one who is not contemporary to, or does not observe Euch events except through the reports of historians and the trlnsmission of transmitters. These . istorians, transmitter. should not use rational deductions and mental eludrcations. Now if there happens to be in this book a report that I have transnsmitted from some part authority to which the reader objects or which the hearer detests because he does not see how it could possibly be true or correct, let him knows that this report did not originate with me, but came from some of those who transrnitted it to rne and all I Oid was to deliver it as it was delivered to ne. " 231 Jika lvluslim'Mahdi mengutip ucapan al-Thaba,ri diatas sebagai dalil atas hypothesanya bahwa para sejarawan Muslim beranggapan bahwa sejarah bukanlah satu disiplin yang rarionil dan penalaran manusia tidak berperanan penting didalarnnya, yang didalam ungkapan asli Muhsin Mahdi : "As a historian, he . l-Thabar. often stressed the belief that history is not a rational discipline and that human rearon does not play a significant role in it. " . maka saya melihat bahwa dalam ungkapan al-Thabari tersebut diatar, khususnya kalimat " . to which the reader objects or which the hearer detests because he docs not see how it could possibly be true or correct, let him knows that, this report did not and all I did was to deliver lt as it originate with me . perisai atas kemungkinan timbulnya sanggahan-sanggahan yang beliau sudah duga akan datang. Melihat pada rikon, maka beliau merasa lebih aman untuk menga takan, o'begitulah yang disampaikan kepada saya, jangan kira saya yang bcrinterpretasi begitu". Apalagi, disamping adanya pengaruh penguasa, beliau menyadari benar, bahwa beliau hidup dalam atmosfer yang penuh dcngan kontroversi antara madzhab tradrsionil dengan madzhab rasionil yang dianut oleb Mu'tau. Jika demikian balnya, maka dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa alThabari sudah mCrasa bahwa laporan-laporan sejarahnya yant tcrmuat dalam Tarikh al-Rucul ua al-Muluh ada hal-hal yang tidak rasionil, maka cepat-cepat bcliau mengatakan bahwa sejarah nuhanlah satu disiplin yang rasionil dan penalaran manusia tidak berperanan penting di dalamnya. Bernijak dari hal-hal yang tidak rasionit inilah, yang oleh para penulis sejarah setelah al-Thabari, dan memang mereka banyak kali mcnjadikan kitab al-Thabari. Torikh al-Rusul wa al,-Muluk. sebagai sumber pokoic pengambilan data peristiwa, disanrping juga berpendirian . hwa sejarah hanya* lah sekedar laporan reportasi peristiwa-peristiwa yang terjadi, me, 'Utsman dalam bentuk yang kontradrktif. Tarap penulis rejarah ngoritikan atas laporan-laporan peristiwa itu belum lagi dikerjakan. ta, khususnya kaum Muslimin yang hidup di Indonesia pada waktu sekarang ini, hidup dalam situasi yang jauh berbeda dcngan situari yang dialami oleh para penulis sejarah yang hidup pada sepuluh atau sebelar abad yang lampau. Kita tidak mcngang gap banu Umaiyah sebagai lawan yang harus dicela dan tidak pula mengannggap golongan Syi'ah atau banu 'Abbasiyah eebagai pihak yang harus dibela. Memang kita kaum Muslimin dl Indonc sia ini agak sedikit unik. Secara formil kita adalah pengikul unni, dus pengikut madzhab Syria, tetapi secara materiel ada beberapa pikiran dan sikap slti'i dan juga mu'tazili . vang'mempengaruhi jalan pikiran kita, yang karenanya berarti juga menerima aliran lraq. Memang narnpaknya kita ini gandrung kompromi. Adalah menjadi kewajiban bagi kita sekaranq untuk melihat dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa scjareh itu dengan mata dan pikiran yang jernih tanpa asumsi. Saya mencoba melihat diri ,IJtsman sebagai seorang yang salih, pengabdi Islam yang baik, tanpa cacad besar yang karenanya beliau tidak panras dinilai sebagi orang yang serakah, korup, nepotist, cian menyalahgunakan wewenang untuk kepentingan pribadi dan kerabat. i Sebelum saya mengemukakan alasan-alasan apa yang menjadi pertimbangan bagi 'LJtsman dalagn beliau mengambil keputusankeputusan yang menyebabkan beliau tertuduh nepotisr, baiklah terlebih dahulu kita tinjau seienak bagaimana situasi pemerintahan pusat di Madinah, bagaimana keadaan yang melingkupi diri 'Utsman sendiri, bagaimana pula keadaan masyarakatketika beliau menjabat kepala pemerintahan. Akibat perluasan wilayah Isiam yang terjadi dalam waktu yang relatif cepat, maka perubahan-perubahan