SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Kelompok Bidang: Ekowisata dan Jasa Lingkungan. Sosek Kehutanan. Pemanfaatan SIG & Remote Sensing. Hasil Hutan Bukan Kayu dan Teknologi Kehutanan Analisis Usaha Pola Tumpang Sari pada Lahan Perhutani: Studi Kasus Di RPH Sumurkondang BKPH Waled KPH Kuningan Oleh Meliyana Pancarani Program Studi Kehutanan Universitas Kuningan Jalan Cut Nyak Dhien No. 36 A Cijoho Kuningan pancarani42@gmail. ABSTRAK Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat di lahan Perum Perhutani memungkinkan masyarakat untuk mengembangkan usahatani berupa tumpang sari, untuk menilai kelayakan usahatani perlu dilakukan analisis usahatani tumpang sari di RPH Sumurkondang. Indikator analisis usaha yang digunakan adalah pendapatan usahatani, kontribusi pendapatan. R/C Ratio. B/C Ratio. BEP harga produksi, dan BEP volume produksi. Data diperoleh berdasarkan hasil wawancara dan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan pola tumpang sari yang dikembangkan berupa: . pola jati dan cabai rawit . pola jati, pepaya dan serai. Total pendapatan yang diperoleh sebesar Rp. 500 dari pola jati dan cabai rawit. Sedangkan pola jati, pepaya dan serai gagal dalam usahataninya. Untuk kontribusi pendapatan PHBM terhadap pendapatan petani adalah 37%. Nilai R/C dan B/C pola jati dan cabai rawit adalah 1,66 dan 1. BEP harga produksi 5,438/Kg, dan BEP volume produksi 4,144 Kg/musim. Pola kegiatan usahatani tanaman jati dan cabai rawit sudah layak namun perlu ada peningkatan jumlah produksi. Sedangkan pola jati, pepaya dan serai tidak layak. Kata kunci: Analisis Usaha. Pendapatan. Tumpang Sari ABSTRACT Collaborative Forest Management in Perum Perhutani land allows the public to develop farming in the form of intercropping, to assess the feasibility of farming, itAos necessary to analyze the business of intercropping in RPH Sumurkondang. The business analysis indicator used is the income of farming, income contribution. R/C Ratio. B/C Ratio. BEP production price, and BEP production volume. Data is obtained based on interview results and direct observation. The results of the research showed an intercropping pattern developed in the form of: . pattern of teak and cayenne pepper . teak, papaya and lemongrass fasso pattern. The total income was obtained at Rp. 500 obtained from the teak, papaya and lemongrass fasso pattern failed in their farming business. For CFM revenue contribution to farmer revenues is 37%. The value of R/C and B/C pattern of teak and cayenne pepper is 1,66 and 1. BEP production price of 5. 438/Kg, and BEP production volume of 4. 144 Kg/season. Pattern of teak and cayenne pepper farming activities are feasible but there needs to be an increase in the amount of production. Meanwhile, the teak, papaya and lemongrass fasso pattern are not feasible. Keywords: Business Analysis. Income. Intercropping Pattern SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 PENDAHULUAN Konsep kelestarian hutan pada umumnya mempunyai lingkup yang lebih luas, yakni dengan dikembangkannya konsep sustainable forest management atau pengelolaan hutan berkelanjutan yang pada awalnya hanya difokuskan untuk menghasilkan kayu dan produk hasil hutan lainnya, kini secara nyata juga ditujukan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan rakyat, meningkatkan mutu lingkungan, mencegah kerusakan lingkungan dan merehabilitasi lingkungan yang rusak baik karena faktor internal maupun faktor eksternal (Raja et al. Maka dari itu perum Perhutani selajutnya melakukan pengelolaan hutan yang berlandaskan kepada kegiatan Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat, yang dirancang untuk mengatur penduduk desa yang tinggal di sekitar hutan Perhutani yang masih mengandalkan sumberdaya hutan sebagai basis nafkah rumah tangga. Masyarakat biasanya memanfaatkan lahan yang ada dengan cara melakukan pola pertanaman tumpang sari. Kegiatan tumpang sari dibawah tegakan jati di Jawa pada dasarnya sama dengan perladangan berpindah, dalam hal memanfaatkan pembukaan hutan baru yang tanahnya masih subur (Adalina et al. Masyarakat memanfaatkan lahan perhutani dengan mengembangkan komoditas tanaman berupa cabai rawit, pepaya dan serai wangi. Kegiatan tumpang sari tersebut dilakukan dibawah dan/atau di sekitar tanaman pokok berupa jati. Kegiatan PHBM sejatinya dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat desa sekitar hutan, namun pada faktanya masih banyak masyarakat yang belum bisa memanfaatkan peluang tersebut secara maksimal, terlihat dari sedikitnya jumlah masyarakat desa hutan yang mengikuti kegiatan PHBM ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil usaha tumpang sari dan menganalisis usaha tumpang sari pada lahan perhutani RPH Sumurkondang. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga Agustus 2020, bertempat di Petak 1 dan Petak 4 RPH Sumurkondang BKPH Waled KPH Kuningan Perum Perhutani Divisi Regional i Jawa Barat. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: alat tulis, daftar pertanyaan, alat dokumentasi, dan alat penunjang Sedangkan untuk bahan dalam penelitian ini adalah masyarakat atau petani Tumpang Sari di lahan Perhutani RPH Sumurkondang BKPH Waled KPH Kuningan. Pengambilan Sampel dilakukan secara sengaja, yakni metode pengambilan sampel yang didasarkan pada kriteria-kriteria tertentu sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai (Elvida et al. Unit analisis yang dipilih adalah masyarakat yang ikut serta dalam program PHBM, yaitu masyarakat yang ikut menggarap lahan Perhutani dengan cara tumpang sari. Berdasarkan hal tersebut jumlah sampel yang akan diambil yaitu sebanyak 30 kepala keluarga penggarap lahan Perhutani. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif. Untuk memperoleh hasil analisis usaha tumpang sari, dihitung menggunakan persamaan berikut: SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Pendapatan Petani Analisis pendapatan PHBM menggunakan konsep menurut Apriansyah et al. , . dengan rumus sebagai berikut: A = TR TC Keterangan: = Pendapatan Petani pada masing-masing pola tanam tumpang sari (R. TR = Total Penerimaan Petani pada masing-masing pola tanam tumpang sari (R. TC = Total Biaya Produksi pada masing-masing pola tanam tumpang sari (R. Kontribusi Pendapatan Untuk menghitung kontribusi pendapatan dari usahatani PHBM terhadap total pendapatan keluarga petani PHBM menggunakan rumus sebagai berikut (Kholifah, 2. Keterangan: = Kontribusi Pendapatan Dari Usaha Tani PHBM (%) = Pendapatan Dari Usahatani PHBM (R. A tot = Total Pendapatan Keluarga Petani (R. Analisis R/C Ratio (Return Cost Rati. Penilaian kelayakan usaha tani dengan metode ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan terhadap biaya yang telah dikeluarkan (Budi, 2. R/C Ratio = yaeyayayaoyau yaayayayayayayayaoyaoya . yaeyayayaoyau yaAyayaoyayao . aeyaC) Secara teoritis, usahatani dikatakan menguntungkan jika : A Jika R/C > 1, maka kegiatan usahatani tumpang sari tersebut menguntungkan dan layak dilaksanakan. A Jika R/C < 1, maka kegiatan usahatani tersebut tidak layak dilaksanakan A Jika R/C = 1, artinya kegiatan usahatani berada pada kondisi keuntungan normal. Analisis B/C Ratio (Benefit Cost Rati. Untuk mengetahui nilai B/C ratio dilakukan penghitungan dengan menggunakan rumus (Normansyah. B/C Ratio = yaeyayayaoyau yaayayayayyaoyayaoyayaoya . yaeyayayaoyau yaAyayaoyayao . aeyaC) Pada dasarnya suatu usahatani dikatakan layak dan memberikan manfaat positif apabila nilai B/C Ratio yang diperoleh lebih besar dari nol . dan semakin besar suatu nilai B/C Ratio maka semakin besar pula manfaat positif yang akan diterima dalam suatu usahatani tersebut. SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Analisis BEP (Break Event Poin. Analisis BEP merupakan cara untuk mengetahui batas penjualan minimum agar suatu usahatani tidak menderita kerugian tetapi belum memperoleh laba atau laba sama dengan nol. Secara matematis analisis Break Event Point dapat dihitung dengan rumus: yaeyayayaoyau yaAyayaoyayao . aeyaC) BEP HP = yaeyayayaoyau yaayayayayyayayaya Suatu usahatani berada pada titik impas terhadap harga jual apabila: A Jika BEP Harga Produksi > Harga Jual, maka usahatani merugi. A Jika BEP Harga Produksi = Harga Jual, maka usahatani impas. A Jika BEP Harga Produksi < Harga Jual, maka usahatani untung. yaeyayayaoyau yaAyayaoyayao . aeyaC) BEP VP = yaNyaoyayayao yayya yayayayayayaoya yayayayaoyaya Suatu usahatani mencapai titik impas pada volume produksi, apabila: A Bila BEP Volume Produksi > Rata-rata Hasil, maka usahatani tidak layak. A Bila BEP Volume Produksi O Rata-rata Hasil, maka usahatani layak. HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Usaha Tumpang Sari RPH Sumurkondang Karakteristik Petani Berdasarkan Tingkat Umur Petani yang memiliki umur lebih muda pada umumnya memiliki kondisi fisik yang kuat dan daya berpikir yang lebih kreatif dibandingkan dengan petani yang berumur tua (Dompasa, 2. Berikut distribusi dalam kelompok umur petani responden dapat dilihat pada Gambar 1. 4 orang 13% 6 orang 25-44 Tahun 45-60 Tahun Gambar 1. Tingkat Umur Petani Penerap Tumpang Sari di >60 Tahun Lahan Perhutani (RPH Sumurkondan. Dari data di atas dapat menunjukan bahwa mayoritas petani penerap tumpang sari di RPH Sumurkondang berada pada rentang umur 45-60 tahun yaitu sebanyak 20 orang . %), sedangkan pada interval umur 25-44 tahun sebanyak 6 orang . %), dan pada interval umur lebih dari 60 tahun sebanyak 4 orang . %). Karakteristik Petani Berdasarkan Tingkat Pendidikan SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Tingkat pendidikan menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap pola pikir seorang petani dalam mengelola usahatani nya. Berdasarkan hasil penelitian, distribusi tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada gambar Gambar 2. 2 orang 1 orang 7% 27 orang Gambar 2. Tingkat Pendidikan Petani Penerap Tumpang Sari SMP SMA Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan petani responden sebagian besar berada pada tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) sebanyak 27 orang . %), pada tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) terdapat sebanyak 2 orang . %), dan pada tingkat pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 1 orang . %). Karakteristik Petani Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga Keluarga sebagai unit masyarakat terkecil biasanya terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Jumlah anggota keluarga berpengaruh pada jumlah tanggungan petani dan distribusi pendapatan hasil usahatani (Dompasa,2. Petani penerap tumpang sari di RPH Sumurkondang mayoritas hanya memiliki satu tanggungan keluarga. Pola Tumpang Sari RPH Sumurkondang Berdasarkan hasil penelitian terdapat dua pola tumpang sari yang di kembangkan, yaitu: Pola Tumpang Sari Tanaman Jati dan Cabai Rawit Pola tumpang sari ini terletak di lahan Perhutani RPH Sumurkondang petak ke-1 daerah administrasi Desa Kalimati dengan luas A2,4 Ha. Berikut contoh gambaran pola tumpang sari tanaman kehutanan dan cabai rawit Gambar 3. Gambaran Pola Tumpang Sari Tanaman Jati dan Cabai Rawit di RPH Sumurkondang Hasil panen cabai rawit yang diperoleh petani kemudian di jual kepada tengkulak dengan harga mulai dari Rp. 000 hingga Rp. Pola Tumpang Sari Tanaman Jati. Pepaya dan Serai Wangi SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Pola tumpang sari ini diterapkan pada lahan Perutani RPH Sumurkondang petak ke-4 dengan luas 2 Ha dan terletak di daerah administrasi Desa Sedong Kidul. Berikut contoh gambaran pola tumpang sari tanaman kehutanan, pepaya dan serai wangi: Gambar 4. Gambaran Pola Tumpang Sari Tanaman Jati. Pepaya dan Serai Wangi di RPH Sumurkondang Hasil panen pepaya dapat di jual ke pasar dengan harga berkisar Rp. 000 hingga Rp. 000 per buah nya. Selanjutnya untuk pemasaran hasil panen serai wangi perlu adanya pasar khusus, dikarenakan serai wangi ini sendiri merupakan bahan utama untuk pembuatan minyak serai sehingga penjualannya pun tidak dilakukan di pasar biasa. Analisis Usaha Tumpang Sari Analisis Biaya dan Pendapatan Usahatani Pola Tumpang Sari RPH Sumurkondang Biaya produksi adalah semua biaya yang dikeluarkan petani untuk memproduksi hasil panen selama satu kali proses produksi atau masa tanam (Dompasa, 2. Berdasarkan hasil penelitian diketahui dalam kegiatan usahatani pola tumpang sari berupa pola tanaman jati, pepaya dan serai wangi memiliki nilai biaya tertinggi, sebesar Rp. 167 hal ini dipengaruhi oleh harga benih dan bibit tanaman yang dikembangkan tinggi sehingga biaya yang dibutuhkan juga tinggi. Sedangkan untuk pola tanaman jati dan cabai rawit sedikit lebih rendah, karena harga bibit nya cukup murah sehingga biaya yang dikeluarkan pun menjadi lebih rendah. Tabel 1. Biaya Usahatani Pola Tumpangsari RPH Sumurkondang Total (Rp/Ha/musi. Biaya Produksi Pola Tanaman Jati dan Cabai Rawit Pepaya dan Serai Wangi Biaya Tetap Penyusutan Alat Pola Tanaman Jati. Pengadaan Benih/Bibit Pemupukan Penyemprotan Hama Biaya Variabel Tenaga Kerja dan Lainnya Total SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Pendapatan petani penerap tumpang sari di RPH Sumurkondang berdasarkan penelitian berkisar Rp. 500 Ae Rp. Berikut tabel tingkat pendapatan petani: Tabel 2. Tingkat Jumlah Pendapatan Tumpang Sari Masyarakat Desa Hutan (MDH) RPH Sumurkondang Tahun 2020 No. Pendapatan PHBM (Rupiah/musi. Jumlah Persentase < 500. 000 - 1. 000 - 1. > 1. Jumlah Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah pendapatan mayoritas berada pada tingkat pendapatan < Rp. 000 sebanyak 21 orang . %), pada tingkat pendapatan Rp. 000 sampai Rp. 000 sebanyak 3 orang . %), pada tingkat pendapatan lebih dari 1. 000 sebanyak 2 orang . %), dan pada tingkat pendapatan Rp. 000 sampai Rp. 000 terdapat sebanyak 4 orang . %). Hal ini dipengaruhi oleh kondisi tanah yang kurang baik. Karena itu memerlukan pupuk yang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan unsur hara nya, sehingga biaya yang dikeluarkan pun menjadi lebih tinggi dan menyebabkan tingkat pendapatan petani menjadi rendah. Selain itu, pola tanaman jati, pepaya dan serai wangi sama sekali tidak mendapatkan hasil atas usahanya tersebut. AuMenurut Bapak Said, sereh wangi sampai saat ini itu seolah-olah gagal, orangnya yang nawarin kerjasama udeh nggak ada datangdatang lagi. Yang akhirnya terbengkalaiAy. Tanaman pepaya yang dikembangkan juga mengalami permasalahan dimana bagian daun nya berguguran hingga menyisakan bagian batang tanamannya saja. Diduga hal tersebut terjadi karena tanaman pepaya terjangkit bakteri, dan dengan terbatas nya pengetahuan membuat para petani tidak mampu untuk menangani permasalahan tersebut. Analisis Kontribusi Tumpang Sari Terhadap Pendapatan Masyarakat Desa Hutan RPH Sumurkondang Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kontribusi pendapatan dari kegiatan tumpang sari terhadap pendapatan total petani seperti tersaji dalam tabel berikut: SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 Tabel 3. Kontribusi Tumpang Sari Terhadap Pendapatan MDH RPH Sumurkondang Tahun 2020 No. Kategori Pendapatan Pendapatan PHBM Total MDH (Rupiah/musi. (Rupia. Kontribusi (%) Rata-rata Total Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa total kontribusi pendapatan tumpang sari terhadap pendapatan petani dan rata-rata pendapatan tumpang sari terhadap pendapatan petani memiliki nilai yang sama yaitu sebesar 27%, kemudian 73% sisanya berasal dari pendapatan lain diluar kegiatan tumpang sari yang berupa lahan pribadi sawah dan kebun. Petani dapat memperoleh sharing dari pihak Perhutani sebesar 25% yang merupakan hasil penjualan log tanaman pokok Perhutani. Namun petani belum bisa memperoleh sharing tersebut dikarenakan tanaman jati di petak garapan belum memenuhi usia untuk dilakukan Analisis R/C Ratio dan B/C Ratio Usahatani Pola Tumpang Sari RPH Sumurkondang Nilai R/C Ratio dapat menunjukan jumlah peneriman diperoleh dari setiap 1 unit biaya yang dikeluarkan petani (Mamondol, 2. Sedangkan nilai B/C Ratio sendiri digunakan untuk melihat berapa manfaat yang dapat diterima dalam suatu usahatani, jika nilai B/C Ratio lebih besar dari nol . maka semakin besar manfaat yang diperoleh dalam suatu usaha tersebut (Normansyah, et al. Tabel 4. Nilai R/C Ratio dan B/C Ratio Usahatani Pola Tumpang Sari RPH Sumurkondang Total (Rp/Ha/musi. Uraian Pola Tanaman Pola Tanaman Jati. Jati dan Cabai Pepaya dan Serai Rawit Wangi Penerimaan Biaya Pendapatan R/C Ratio 1,66 B/C Ratio Berdasarkan tabel di atas nilai R/C Ratio dari usahatani pola tanaman jati dan cabai rawit sebesar 1,66 yang artinya setiap pengeluaran biaya sebesar Rp. 1,00 maka petani akan mendapat penerimaan sebesar Rp. 1,66 dengan keuntungan yang diperoleh petani sebesar Rp. 0,66 dengan nilai R/C Ratio > 1 mengindikasikan bahwa usahatani tersebut layak untuk diusahakan. Pada pola tanaman jati, pepaya dan SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 serai wangi memperoleh nilai R/C Ratio nol . yang berarti kegiatan usahatani ini tidak layak untuk Sedangkan untuk hasil perhitungan dengan pendekatan nilai B/C Ratio menghasilkan nilai sebesar 1, yang artinya nilai B/C > 0 maka dapat dikatakan bahwa usahatani pola tanaman jati dan cabai rawit di RPH Sumurkondang dapat memberikan manfaat atau menguntungkan dan layak untuk dilanjutkan kegiatan usahatani. Namun tidak berlaku bagi usahatani pola tanaman jati, pepeya dan serai wangi. Analisis Break Even Point (BEP) Usahatani Pola Tumpang Sari RPH Sumurkondang Hasil analisis BEP penerimaan. BEP harga produksi, dan BEP volume produksi dapat dilihat pada tabel 5. BEP merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara beberapa variabel dalam kegiatan usaha yang menggambarkan posisi biaya total sama dengan biaya penerimaan total atau dalam istilah lain dikatakan impas. Tabel 5. BEP Harga Produksi dan BEP Volume Produksi Usahatani Pola Tumpang Sari RPH Sumurkondang Total Uraian Pola tanaman Pola tanaman jati, jati dan cabai pepaya dan serai Biaya (Rp/Ha/musi. Total Produksi (K. Harga Jual Rata-rata (Rp/K. BEP Harga Produksi (Rp/K. BEP Volume Produksi (K. Dari tabel diatas dapat di ketahui bahwa BEP harga produksi kegiatan usahatani pola tanaman jati dan cabai rawit di RPH Sumurkondang ini akan berada pada titik impas apabila produk yang diperoleh dijual dengan harga Rp. 438/Kg. Sedangkan harga jual yang berlaku di tingkat petani itu sendiri berada pada tingkat harga rata-rata Rp. 000/Kg yang artinya nilai BEP harga produksi < harga jual, maka dapat dikatakan bahwa kegiatan pola tumpang sari ini menguntungkan. Dan untuk mecapai titik impas BEP volume produksi cabai rawit yang diperoleh harus sebesar 4. 144 Kg/musim, sedangkan hasil produksi yang diperoleh petani hanya sebesar 3. 224 Kg/musim. Dengan begitu maka dapat dikategorikan bahwa kegiatan tumpang sari ini tidak layak. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa kegiatan usahatani pola tumpang sari di RPH Sumurkondang BKPH Waled pada pola tanaman jati dan cabai rawit dapat dikategorikan layak untuk diusahakan namun perlu adanya upaya tertentu yang dapat meningkatkan hasil produksi/volume produksi cabai rawit tersebut agar dapat lebih memberikan keuntungan. Sedangkan untuk pola tanaman jati, pepaya dan serai wangi karena tidak menghasilkan sama sekali maka dapat dipastikan bahwa kegiatan usahatani ini tidak layak untuk diusahakan. SEMINAR NASIONAL Konservasi untuk Kesejahteraan Masyarakat II Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan Kamis, 28 Oktober 2021 KESIMPULAN Pola usahatani yang dikembangkan di RPH Sumurkondang tergolong ke dalam pola agrisilvikultur, dengan pola tumpang sari: . Pola tumpang sari tanaman hutan dan cabai rawit. Pola tumpang sari tanaman hutan, pepaya dan serai wangi. Mayoritas petani berada pada tingkat umur 45 tahun sampai >60 tahun yang mengartikan bahwa petani berada pada umur produktif, berdasarkan tingkat pendidikan mayoritas petani berada pada tingkat pendidikan sekolah dasar dan berdasarkan jumlah tanggungan keluarga terdapat 8 orang yang masih memiliki anak usia sekolah menengah pertama dari 30 petani responden. Total pendapatan petani penerap pola tumpang sari di RPH Sumurkondang mencapai Rp. yang diperoleh dari kegiatan pola tumpang sari tanaman kehutanan dan cabai rawit. Sedangkan untuk total dan rata-rata kontribusi pendapatan PHBM terhadap pendapatan petani berada di nilai yang sama yaitu sebesar 37%. Nilai R/C dan B/C Ratio berturut-turut pada . pola kehutanan dan cabai rawit: 1,66 dan 1. pola kehutanan, pepaya dan serai wangi: keduanya bernilai nol. Kegiatan usahatani tumpang sari berada pada titik impas apabila produk di jual dengan harga Rp. 438/Kg dan jika volume produksi yang dihasilkan sebesar 4. 144 Kg/musim. Kegiatan usahatani pola kehutanan dan cabai rawit dapat dikategorikan layak untuk diusahakan, sedangkan untuk pola kehutanan, pepaya dan serai wangi tidak layak untuk diusahakan. DAFTAR PUSTAKA