Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6. p-ISSN : 2655-657X http://jurnal. id/index. php/IJEC Penguatan Kompetensi Guru PAUD dalam Mendukung Pendidikan Inklusif: Tinjauan Sistematis Literatur Imam Faizin1. Yuli Kurniawati Sugiyo Pranoto2. Diana3. Budiyono4 Institut Agama Islam Pemalang. Indonesia Universitas Negeri Semarang. Indonesia Email Korespondensi: imamfaizin@insipemalang. ABSTRAK Pendidikan inklusif merupakan upaya untuk memberikan pendidikan yang setara bagi semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), dalam satu sistem pendidikan yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis penguatan kompetensi guru PAUD dalam mendukung pendidikan inklusif di Indonesia. Berdasarkan tinjauan sistematis terhadap 16 artikel yang relevan, ditemukan bahwa meskipun banyak guru PAUD menunjukkan sikap positif terhadap inklusi, mereka merasa kurang siap secara profesional dalam menghadapi tantangan yang dihadapi ABK. Keterbatasan dalam pelatihan yang relevan dan kurangnya sumber daya mendalam menjadi hambatan utama dalam pelaksanaan pendidikan inklusif di PAUD. Meskipun demikian, pelatihan berbasis komunitas, lokakarya, dan mentoring terbukti meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam mengelola kelas inklusif. Selain itu, kolaborasi dengan orang tua dan tenaga profesional lainnya, seperti psikolog dan terapis, juga menjadi faktor penting untuk mendukung keberhasilan pendidikan Penelitian ini menunjukkan bahwa penguatan kompetensi guru melalui pelatihan yang berkelanjutan dan berbasis kolaborasi dapat mengatasi tantangan yang ada dan meningkatkan kualitas pendidikan inklusif di PAUD. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam merancang kebijakan yang lebih efektif untuk mendukung pendidikan inklusif di Indonesia. Kata kunci: Penguatan Kompetensi. Guru PAUD. Pendidikan Inklusif. Anak Berkebutuhan Khusus. Strengthening Early Childhood Education Teacher Competencies to Support Inclusive Education: A Systematic Review of the Literature ABSTRACT Inclusive education is an effort to provide equal education for all children, including children with special needs (CWSN), within the same educational system. This study aims to identify and analyze the strengthening of early childhood education (ECE) teacher competencies in supporting inclusive education in Indonesia. Based on a systematic review of 16 relevant articles, it was found that although many ECE teachers show a positive attitude toward inclusion, they feel professionally unprepared to face the challenges presented by CWSN. Limitations in relevant training and a lack of in-depth resources are the main obstacles in implementing inclusive education in ECE settings. However, community-based training, workshops, and mentoring have proven to enhance teachers' understanding and skills in managing inclusive classrooms. Additionally, collaboration with parents and other professionals, such as psychologists and therapists, is also an important factor in supporting the success of inclusive education. This study shows that strengthening teacher competencies through continuous and collaborative training can address existing challenges and improve Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X the quality of inclusive education in ECE. The findings provide significant contributions to designing more effective policies to support inclusive education in Indonesia. Keywords: Teacher Competency Strengthening. ECE Teachers. Inclusive Education. Children with Special Needs. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini is licensed under a Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License. A Tahun Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini PENDAHULUAN Pendidikan inklusif merupakan upaya untuk mengakomodasi semua peserta didik, termasuk anak dengan kebutuhan khusus, di dalam satu sistem pendidikan yang sama, tanpa adanya diskriminasi. Konsep ini berakar pada pemahaman bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya, sebagaimana tertuang dalam kebijakan pendidikan nasional di banyak negara, termasuk Indonesia melalui Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Yuwono & Mirnawati, 2. Konsep ini sejalan dengan prinsip keadilan dan kesetaraan serta telah menjadi bagian dari agenda global dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. , khususnya tujuan keempat yang menekankan pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas. Pelaksanaan pendidikan inklusif di Indonesia mengalami kemajuan tetapi masih dihadapkan pada berbagai tantangan yang signifikan, khususnya terkait kualitas dan kesiapan Meskipun kerangka regulatif untuk pendidikan inklusif telah disusun, implementasinya sering kali terhambat oleh keterbatasan kompetensi guru dalam mengajar siswa berkebutuhan khusus (ABK). Salah satu studi menunjukkan bahwa banyak guru di sekolah reguler merasa tidak cukup siap untuk menangani kebutuhan pendidikan siswa ABK secara efektif (Istiarsyah et al. , 2. Program pelatihan, seperti Bimbingan Teknis yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, telah diupayakan untuk meningkatkan keterampilan guru dalam mendukung siswa ABK. Namun, hambatan dalam pelaksanaan pelatihan ini, termasuk kurangnya waktu dan sumber daya, tetap menjadi isu yang perlu diatasi (Setiawan & Cipta Apsari, 2. Guru merupakan aktor kunci dalam proses pembelajaran, terutama di sekolah inklusif yang menuntut pendekatan pengajaran yang lebih adaptif dan personal. Guru tidak hanya perlu memiliki kompetensi pedagogik dan profesional, tetapi juga keterampilan sosial, empati, serta pemahaman mendalam mengenai karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus. Salah satu elemen paling krusial dalam keberhasilan pendidikan inklusif adalah kompetensi guru. Guru PAUD dituntut memiliki pemahaman mendalam mengenai diferensiasi pembelajaran, mampu mengidentifikasi kebutuhan anak berkebutuhan khusus, serta menjalin kolaborasi efektif dengan orang tua dan tenaga profesional lainnya. Dalam konteks ini, kompetensi tidak hanya dimaknai sebagai keterampilan teknis, tetapi juga sebagai kesadaran etik, empati sosial, dan kemampuan pedagogis yang reflektif. Namun, berbagai studi menunjukkan bahwa mayoritas guru PAUD di Indonesia belum memiliki kesiapan yang memadai untuk mengimplementasikan pembelajaran inklusif. Hal ini diperparah dengan terbatasnya pelatihan spesifik, kurikulum LPTK yang belum responsif terhadap isu inklusi, serta kurangnya dukungan sistemik dari pengelola lembaga PAUD. Banyak Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang belum menjadikan isu inklusi sebagai bagian integral dari kurikulum mereka. Hal ini berdampak pada rendahnya pemahaman awal calon guru mengenai pendekatan-pendekatan inklusif dan strategi pengajaran yang efektif bagi anak dengan latar belakang kemampuan yang beragam. Di sisi lain, lembaga Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X PAUD yang menjadi tempat praktik juga sering kali belum siap menerima anak berkebutuhan khusus, baik dari segi fasilitas, kebijakan internal, maupun kesiapan tenaga pendidik. Di tengah kondisi tersebut, terdapat beberapa praktik baik yang menunjukkan bahwa penguatan kompetensi guru PAUD dalam pendidikan inklusif dapat dicapai melalui pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan. Misalnya, pelatihan berbasis komunitas yang melibatkan guru, orang tua, dan terapis secara simultan mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Selain itu, model mentoring yang melibatkan guru senior atau pendamping dari sekolah inklusi dapat menjadi alternatif yang efektif untuk transfer pengetahuan dan keterampilan. Dengan kata lain, peningkatan kompetensi guru tidak cukup hanya melalui pelatihan satu arah, tetapi perlu dilengkapi dengan praktik langsung, refleksi bersama, dan pendampingan berkelanjutan. Penguatan kompetensi guru PAUD dalam pendidikan inklusif juga sangat bergantung pada dukungan kebijakan yang berpihak. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan yang mendorong inklusivitas dalam sistem pendidikan sejak usia dini, baik melalui regulasi, penyediaan anggaran, maupun insentif bagi lembaga PAUD yang menerapkan pendekatan Selain itu, evaluasi berkelanjutan terhadap efektivitas pelatihan guru dan dampaknya terhadap kualitas pembelajaran inklusif perlu dilakukan secara sistematis agar pengambilan keputusan berbasis data dapat diterapkan. Penggunaan teknologi juga dapat menjadi alat bantu yang strategis dalam penguatan kapasitas guru. Platform digital dapat digunakan untuk menyediakan sumber belajar, forum diskusi antar guru, serta media berbagi praktik baik dalam implementasi pendidikan inklusif. Berdasarkan latar belakang tersebut, kajian sistematis ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan kompetensi guru PAUD dalam konteks pendidikan inklusif. Dengan mengidentifikasi tren penelitian dan kesenjangan yang ada, kajian ini diharapkan dapat memberikan wawasan untuk merancang strategi intervensi yang efektif, melibatkan pemerintah, lembaga pelatihan, dan pengelola PAUD. Dengan adanya pemetaan tersebut, berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pelatihan, hingga pengelola PAUD dapat merancang strategi intervensi yang lebih tepat guna dan berkelanjutan. Hal ini menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa setiap anak tanpa terkecuali, dapat tumbuh dan berkembang secara optimal melalui pendidikan yang adil dan bermutu. METODE Penelitian ini menerapkan metode Systematic Literature Review (SLR), yaitu suatu pendekatan yang dilakukan secara terstruktur dan objektif untuk mengumpulkan, menilai, serta menyintesis berbagai bukti relevan dari sumber-sumber literatur yang telah diterbitkan sebelumnya (Primadianningsih et al. , 2. Sumber literatur yang dipilih berdasarkan kata kunci penelitian yang sesuai kemudian direview dan diidentifikasi secara sistematis sesuai dengan prosedur SLR. Penelitian ini menggunakan metode Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) sebagai pedoman dalam pelaksanaan tinjauan literatur Proses tinjauan literatur dimulai dengan pencarian artikel-artikel yang relevan sesuai topik di database Google Scholar dan Publish or Perish. Sesuai dengan prosedur PRISMA, proses pemetaan literatur dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu identifikasi . , . , kelayakan . , dan final . (Sastypratiwi & Nyoto, 2. Tahap Identifikasi . Langkah awal dalam tinjauan sistematis ini adalah mengumpulkan semua penelitian yang berpotensi relevan dengan topik yang telah ditentukan. Seleksi artikel dilakukan dengan merujuk pada kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Data diperoleh dari database Google Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Scholar dan Publish or Perish. Pencarian dilakukan menggunakan kata kunci yang sesuai, khususnya yang berkaitan dengan penguatan kompetensi guru PAUD dalam mendukung pendidikan inklusi, yang dikombinasikan dengan operator logika "AND" dan "OR". Selanjutnya, artikel-artikel yang diperoleh disaring berdasarkan kata kunci yang tercantum pada Tabel 1. Tabel 1. Kata Kunci yang digunakan untuk Mencari Artikel Relevan Google Scholar AuKompetensi Guru PAUDAy. AuPendidikan InklusifAy. AuAnak Berkebutuhan KhususAy Publish or Perish AuEarly Childhood Teacher CompetenceAy. AuInclusive EducationAy. AuChildren With Special NeedsAy Tahap Penyaringan dan Kelayakan (Screening and Eligibilit. Setelah data hasil pencarian dari database dikumpulkan, publikasi yang muncul lebih dari satu . akan dihapus terlebih dahulu sebelum dilakukan penyaringan dengan kriteria yang telah ditentukan. Artikel-artikel yang dinilai tidak relevan, yang kemungkinan besar akibat keterbatasan akurasi mesin pencari, akan diseleksi kembali menggunakan kriteria Rincian kriteria evaluasi tercantum pada Tabel 2. Tabel 2. Kriteria Kelayakan Kriteria Inklusi Publikasi tahun 2015-2024 Artikel & Proseding Open Acces Relevan dengan kajian Sinta & Scopus Bahasa Indonesia dan Inggris Kriteria Pengecualian Publikasi dibawah tahun 2015 Buku. Review Tidak Open Acces Tidak relevan dengan kajian Selain Sinta & Scopus Selain Bahasa Indonesia dan Inggris Setelah artikel dianggap memenuhi kriteria kelayakan, tahap berikutnya adalah mengunduh versi teks lengkapnya dan menyisihkan artikel yang tidak sesuai dengan kriteria Pada tahap ini, artikel yang telah lolos seleksi akhir diharapkan dapat memberikan jawaban yang relevan terhadap pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan. Tahap Final . Setelah proses pengecekan kelayakan artikel berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Setelah mendapatkan artikel sejumlah 2082 artikel yang diambil dari database Google Scholar sejumlah 1685 artikel dan Publish or Perish sejumlah 397 artikel. Dari jumlah tersebut, 315 artikel teridentifikasi sebagai duplikat sehingga sisa 1767 artikel. Selanjutnya, data yang tersisa disaring berdasarkan kriteria yang ditetapkan, dan artikel yang tidak memenuhi kriteria eksklusi, yaitu artikel dikeluarkan 1588 sehingga sisa 179 artikel. Dari sisa 179 artikel disaring lagi dengan mengeluarkan 163 artikel yang tidak memenuhi kriteria ekslusi lanjutan sehingga menyisakan 16 artikel terpilih. Berikut adalah alur pencarian artikel menggunakan diagram PRISMA: Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Gambar 1. Alur Pencarian Model PRISMA HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dari studi literatur melalui proses identifikasi, penyaringan, dan pemenuhan kriteria kelayakan, sebanyak 16 artikel teridentifikasi dan dimasukkan dalam analisis dengan temuan sebagai berikut: Tabel 3. Data Artikel Terpilih Judul Artikel Inclusion of Children With Special Needs In Early Childhood Education: What Teacher Characteristics Matter Zooming In and Out: Exploring Teacher Competencies In Inclusive Early Childhood Classrooms Jurnal & Peringkat Topics in Early Childhood Special Education (Q. Penulis & Tahun (F. Lee et al. , 2. Journal of Research in Childhood Education (Q. (Y. Lee & Recchia. Hasil Penelitian Penelitian ini mengkaji sikap guru prasekolah di Hongkong terhadap inklusi anak dengan kebutuhan Hasilnya menunjukkan bahwa dukungan guru bervariasi tergantung jenis kebutuhan anak, dengan guru yang memiliki pelatihan pendidikan khusus lebih mendukung inklusi, terutama untuk anak dengan disabilitas intelektual dan gangguan penglihatan, pendengaran, serta bicara. Penelitian ini mengkaji kompetensi guru dalam mengelola inklusi sosial di kelas pendidikan anak usia dini melalui analisis ulang enam studi kasus yang berfokus pada strategi yang diterapkan oleh guru dalam praktik sehari-hari. Temuan penelitian mengidentifikasi enam kompetensi utama yang perlu dimiliki guru untuk mendukung Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Judul Artikel Jurnal & Peringkat Penulis & Tahun Effectiveness Of Special and Inclusive Teaching In Early Childhood Education In Zimbabwe Early Child Development and Care (Q. (Majoko. Teacher Competences In Early Childhood Education and Inclusive Education: Design and Validation Of A Questionnaire Revista Electrynica Interuniversitaria de Formaciyn del Profesorado (REIFOP) (Q. (De Haro Rodriguez et , 2. Preschool TeacherAos Awareness. Attitudes and Challenges Towards Inclusive Early Childhood Education: A Qualitative Study Cogent Education (Q. (Zabeli & Gjelaj, 2. Inclusive Pedagogical Practice as a Predictor of Quality Early Childhood Education European Journal of Educational Research (Q. (ViskoviN. Hasil Penelitian inklusi sosial bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas pengajaran khusus dan inklusif di pendidikan anak usia dini (PAUD) di Zimbabwe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun para guru memiliki sikap positif dan komitmen terhadap pengajaran inklusif, mereka merasa kurang dipersiapkan secara profesional untuk menangani tantangan perilaku yang muncul dari beberapa anak. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan memvalidasi kuesioner yang digunakan untuk mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan oleh calon pendidik di pendidikan anak usia dini untuk mendukung pendidikan inklusif. Kuesioner ini, yang disebut CEINCLUSIVA, berfokus pada empat dimensi kompetensi: ilmiah, sosial, metodologis, dan pribadi. Penelitian ini mengeksplorasi sikap dan pemahaman guru prasekolah terhadap pendidikan inklusif anak usia dini di Kosovo, serta tantangan yang mereka hadapi. Hasil wawancara menunjukkan bahwa meskipun guru-guru memiliki pemahaman umum yang baik tentang inklusi, mereka merasa kurang terlatih dalam metode pengajaran yang tepat untuk anak dengan kebutuhan khusus. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana praktik pedagogis inklusif dapat memprediksi kualitas pendidikan anak usia dini. Melibatkan 146 guru dari 5 lembaga PAUD, penelitian ini menunjukkan menunjukkan bahwa pengembangan profesional guru berperan besar dalam meningkatkan kualitas praktik pedagogis inklusif, yang mendukung kesejahteraan anakanak, khususnya yang berisiko Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Jurnal & Peringkat Frontiers in Psychology (Q. Judul Artikel Closeness. Conflict, and Culturally Inclusive Pedagogy: Finnish Pre- and In-service Early Education TeachersAo Perceptions Perspective of Teachers on Their Competencies for Inclusive Education Acta Paedagogica Vilnensia (Q. Psikoedukasi untuk Meningkatkan Pemahaman Terkait Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) pada Guru TK Inklusi AoXAo Denpasar Psikostudia: Jurnal Psikologi (Sinta . An Inclusive Early Childhood Education Setting according to PractitionersAo Experiences in Yogyakarta. Indonesia Education Sciences (Q. Penulis & Tahun (Yang et al. Hasil Penelitian Penelitian ini mengkaji bagaimana keyakinan guru prasekolah di Finlandia mengenai pengajaran inklusif berhubungan dengan kualitas hubungan mereka dengan anak-anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru dengan keyakinan yang lebih tinggi dalam melaksanakan pengajaran inklusif memiliki hubungan yang lebih dekat dengan anak-anak dan lebih sedikit konflik dalam interaksi Perbedaan keyakinan ini juga terlihat antara guru berpengalaman dan calon guru, di mana guru berpengalaman cenderung merasa lebih percaya (Nimante & Penelitian ini menganalisis Kokare, 2. pandangan guru tentang kompetensi yang mereka miliki untuk menerapkan pendidikan Berdasarkan survei terhadap 1590 guru di 69 sekolah di Riga, hasilnya menunjukkan meskipun banyak guru merasa memiliki kompetensi untuk pendidikan inklusif, mereka merasa masih perlu meningkatkan keterampilan mereka, terutama dalam hal penyesuaian kurikulum dan identifikasi kesulitan siswa. (Pradnyaswari Penelitian ini bertujuan untuk et al. , 2. meningkatkan pemahaman guru taman kanak-kanak (TK) di Denpasar mengenai anak berkebutuhan khusus (ABK) dan layanan pendidikan inklusif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa psikoedukasi dapat membantu meningkatkan pemahaman guru terkait ABK dan layanan pendidikan inklusif. (Jusni et al. Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman praktisi pendidikan anak usia dini (PAUD) di Yogyakarta. Indonesia, terkait penerapan pendidikan inklusif. Hasilnya menunjukkan bahwa untuk mewujudkan pendidikan inklusif, penting untuk mengembangkan kepemimpinan Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Judul Artikel Jurnal & Peringkat How to become an inclusive teacher? Advice from Spanish educators involved in early primary, secondary and higher European Journal of Special Needs Education (Q. Pemahaman Guru Dalam Penanganan Peserta Didik Berkebutuhan Khusus Tingkat Jurnal Smart PAUD (Sinta . Kesiapan Tenaga Pendidik dalam Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus di PAUD AKSARA: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal (Sinta . Early Childhood TeachersAo Dispositions. Knowledge, and Skills Related to Diversity. Inclusion. Equity, and Justice Early Childhood Research Quarterly (Q. Penulis & Tahun Hasil Penelitian yang terdistribusi, budaya organisasi yang menghargai keragaman, serta pedagogi PAUD (Orozco & Penelitian ini mengeksplorasi cara Moriya, 2. menjadi guru inklusif melalui wawancara dengan 100 pendidik dari berbagai tingkat pendidikan di Spanyol. Temuan utama penelitian ini mengungkapkan empat area utama yang harus diperhatikan untuk menjadi guru inklusif: perencanaan pelajaran, metodologi pengajaran, kompetensi etis dan emosional, serta pelatihan guru. (Pradana & Penelitian ini mengkaji pemahaman Rahman, guru tentang cara menangani peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) di tingkat TK. Hasilnya menunjukkan bahwa guru masih kesulitan dalam menangani anak berkebutuhan khusus karena kurangnya pemahaman tentang karakteristik ABK yang heterogen. Kekurangan pemahaman ini mempengaruhi kemampuan guru dalam memberikan layanan pendidikan yang sesuai, yang berdampak pada lambatnya perkembangan ABK di sekolah. (Kartini et al. Penelitian ini membahas kesiapan tenaga pendidik PAUD dalam menangani anak berkebutuhan khusus (ABK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pelatihan, workshop, dan seminar, pendidik dapat meningkatkan kompetensinya dalam menangani ABK, yang berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran. Meskipun masih ada tantangan dalam menghadapi ABK, terutama terkait dengan pemahaman guru. (Lang et al. Penelitian ini mengkaji bagaimana guru pendidikan anak usia dini memahami dan mengimplementasikan konsep keberagaman, inklusi, kesetaraan, dan keadilan (DIEJ) dalam praktik Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru dengan pemahaman lebih dalam tentang Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Judul Artikel Jurnal & Peringkat Penulis & Tahun Peningkatan Kompetensi Pendidik Anak Usia Dini Dalam Memfasilitasi Anak Dengan Kebutuhan Khusus Pada Satuan Pendidikan Inklusi Jurnal Abdimas Bina Bangsa (JABB) (Sinta . (Patilima et , 2. Analisis Tingkat Pengetahuan Guru PAUD Pada Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus Di Kabupaten Magetan Jurnal Jendela Pendidikan (Sinta . (Darmo. Hasil Penelitian DIEJ cenderung lebih proaktif dalam menciptakan lingkungan Guru minoritas dan yang bekerja dengan anak-anak dari latar belakang beragam menunjukkan keterlibatan yang lebih kritis dengan DIEJ. Penelitian ini fokus pada peningkatan kompetensi pendidik anak usia dini dalam memfasilitasi anak berkebutuhan khusus (ABK) di sekolah inklusi. Melalui lokakarya yang melibatkan 120 pendidik, hasil penelitian menunjukkan peningkatan pemahaman mereka tentang karakteristik ABK, serta cara-cara penanganan yang sesuai. Penelitian ini menganalisis peningkatan pengetahuan guru PAUD dalam menangani anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kabupaten Magetan. Penelitian menunjukkan bahwa setelah mengikuti pelatihan, guru PAUD mengalami peningkatan yang signifikan dalam pemahaman mereka mengenai pembelajaran ABK. Peran Kompetensi Guru PAUD dalam Pendidikan Inklusif Peran kompetensi guru PAUD dalam pendidikan inklusif sangat penting, karena mereka harus mengembangkan lingkungan yang nyaman dan mendukung bagi semua anak, termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Berdasarkan temuan dari beberapa artikel yang dianalisis, peran guru tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga menciptakan kesempatan bagi ABK untuk berkembang sesuai dengan kebutuhan dan potensi mereka. Dalam konteks pendidikan inklusif, guru PAUD bertanggung jawab tidak hanya untuk pengajaran akademik, tetapi juga untuk menciptakan kesempatan bagi ABK untuk tumbuh dan berkembang secara Hal ini mencakup pengembangan kompetensi sosial, metodologis, ilmiah, dan personal yang dapat membantu guru dalam mendukung anak-anak dengan berbagai kebutuhan. Sebagai contoh, artikel Lee et al . mengungkapkan bahwa guru yang memiliki pelatihan pendidikan khusus lebih mendukung inklusi, terutama untuk ABK dengan gangguan penglihatan, pendengaran, dan disabilitas intelektual. Guru PAUD dengan pemahaman yang lebih baik tentang keberagaman dan inklusi dapat menciptakan hubungan yang lebih dekat dengan ABK, mengurangi konflik, dan meningkatkan interaksi positif antara ABK dan temantemannya. Selain itu, penelitian Yang et al . juga menyoroti pentingnya hubungan yang baik antara guru dan anak-anak dalam pendidikan inklusif. Guru yang memahami prinsip inklusif dan menerapkan pendekatan yang mendalam tentang keberagaman akan lebih efektif dalam mendukung ABK, tidak hanya dalam aspek akademis tetapi juga sosial dan emosional. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Penelitian Y. Lee & Recchia . mengidentifikasi enam kompetensi utama yang perlu dimiliki guru untuk mendukung inklusi sosial bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Enam kompetensi guru PAUD dalam pendidikan inklusif yaitu menghargai keunikan anak, menetapkan harapan tinggi, memahami perspektif anak, mendorong interaksi antar anak, fleksibel dalam merancang pembelajaran, dan memastikan keadilan dengan memberikan dukungan yang sesuai kebutuhan setiap anak untuk mendukung inklusi yang efektif. Sementara penelitian ViskoviN . mengungkapkan bahwa pengembangan profesional guru berperan besar dalam meningkatkan kualitas praktik pedagogis inklusif, yang mendukung kesejahteraan anak-anak, khususnya yang berisiko sosial. Lebih lanjut, penelitian dari Orozco & Moriya . mengungkapkan empat area utama yang harus diperhatikan untuk menjadi guru inklusif: perencanaan pelajaran, metodologi pengajaran, kompetensi etis dan emosional, serta pelatihan guru. Sementara menurut Pradnyaswari et al . bahwa psikoedukasi dapat membantu meningkatkan pemahaman guru terkait ABK dan layanan pendidikan inklusif. Hal sejalan dengan hasil penelitian Nimante & Kokare . bahwa meskipun banyak guru merasa memiliki kompetensi untuk pendidikan inklusif, mereka merasa masih perlu meningkatkan keterampilan mereka, terutama dalam hal penyesuaian kurikulum dan identifikasi kesulitan siswa. Meskipun memiliki pengetahuan umum yang baik, sebagian besar guru merasa tidak nyaman atau percaya diri dalam praktik pendidikan inklusif. Penelitian menunjukkan bahwa guru dengan pemahaman lebih dalam tentang konsep keberagaman, inklusi, kesetaraan, dan keadilan (DIEJ) cenderung lebih proaktif dalam menciptakan lingkungan inklusif. Guru minoritas dan yang bekerja dengan anak-anak dari latar belakang beragam menunjukkan keterlibatan yang lebih kritis dengan DIEJ (Lang et , 2. Edukasi tentang keberagaman dan inklusi di dalam kelas pendidikan sangat penting, dan penggunaan pendekatan serta keterampilan interpersonal yang baik dapat memperkuat interaksi antara ABK dan teman-teman mereka, menerapkan nilai-nilai positif dalam pendidikan (Watulingas & Cendana, 2. Hubungan yang baik antara guru dan siswa, serta antara siswa reguler dan ABK, memainkan peran penting dalam keberhasilan pendidikan Guru yang menerapkan prinsip-prinsip inklusif dengan pendekatan yang mendalam tentang keberagaman, maka bukan hanya pencapaian akademis yang meningkat, tetapi juga interaksi sosial yang lebih baik antara siswa (Jalaluddin & Tahar, 2. Hubungan ini dapat membantu mengurangi konflik dan meningkatkan pemahaman di antara anak-anak, menciptakan lingkungan kelas yang lebih harmonis. Guru PAUD yang memiliki dasar pengetahuan yang kuat tentang cara melayani semua anak dapat lebih siap menghadapi tantangan yang mungkin terjadi akibat dari beragam kebutuhan yang ada di kelas (Abol & Nordin, 2. Tantangan yang Dihadapi Guru PAUD dalam Mengelola Pendidikan Inklusif Implementasi pendidikan inklusif di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menghadapi banyak tantangan yang signifikan, di antaranya adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan guru untuk mengelola kelas inklusif. Penelitian ini menyoroti beragam masalah yang dihadapi oleh guru-guru dalam menerapkan pendidikan inklusif, terutama terkait dengan anak berkebutuhan khusus (ABK). Dalam konteks ini, dampak dari preparasi guru sangat krusial, mengingat mereka adalah ujung tombak dalam proses pembelajaran. Majoko . menyatakan bahwa meskipun guru PAUD menunjukkan sikap positif terhadap inklusi, mereka merasa kurang dipersiapkan untuk menghadapi tantangan perilaku yang sering kali muncul pada ABK. Guru yang tidak memiliki pelatihan khusus merasa kesulitan untuk mengadaptasi metode pengajaran yang efektif bagi anak dengan berbagai kebutuhan khusus. Penelitian Pradana & Rahman . menunjukkan bahwa guru masih Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X kesulitan dalam menangani anak berkebutuhan khusus karena kurangnya pemahaman tentang karakteristik ABK yang heterogen. Kekurangan pemahaman ini mempengaruhi kemampuan guru dalam memberikan layanan pendidikan yang sesuai, yang berdampak pada lambatnya perkembangan ABK di sekolah. Hal ini sejalan dengan temuan Jaswandi & Kurniawati . yang mencatat bahwa walaupun guru PAUD di Indonesia menunjukkan sikap positif terhadap inklusi, mereka merasa kurang siap menghadapi tantangan perilaku yang sering kali dihadapi anak berkebutuhan khusus (ABK). Dengan kata lain, sikap positif yang ada tidak selalu disertai dengan kemampuan praktis untuk menerapkan inklusi dalam kelas. Penelitian Jaswandi & Kurniawati . mendukung perspektif ini, menunjukkan bahwa meskipun guru memiliki pemahaman teoritis yang baik mengenai inklusi, mereka masih merasa tidak memiliki pelatihan yang cukup dalam metode pengajaran yang diperlukan untuk menyelenggarakan pendidikan bagi ABK. Hal serupa ditemukan dalam penelitian Zabeli & Gjelaj, . yang menunjukkan bahwa meskipun guru memiliki pemahaman yang baik tentang inklusi, mereka merasa tidak cukup terlatih dalam menggunakan metode pengajaran yang tepat untuk anak dengan kebutuhan khusus. Kekurangan tersebut berakar dari pendidikan yang belum sepenuhnya mempersiapkan calon guru untuk menghadapi realitas mengajar anak dengan kebutuhan Sebuah studi oleh Winchell et al. , . menekankan bahwa para pendidik perlu memulai dengan fondasi pengajaran yang sesuai perkembangan, di mana mereka kemudian akan berlayer dengan dukungan tambahan dan strategi intervensi yang dipersonalisasi untuk memastikan pertumbuhan anak di dalam kelas yang inklusif. Ini menunjukkan perlunya integrasi antara pendidikan umum dan pendidikan spesial dalam pelatihan guru, guna memastikan bahwa semua aspek pendidikan anak-anak dengan berbagai kebutuhan dapat dimasukkan ke dalam kurikulum. Selain itu. Darmo . dalam penelitiannya menemukan bahwa tantangan terbesar adalah kurangnya sumber daya dan fasilitas yang mendukung pendidikan inklusif. Banyak guru yang harus bekerja dengan keterbatasan sarana dan prasarana, yang menyebabkan mereka merasa kesulitan dalam memberikan layanan pendidikan yang berkualitas untuk ABK. Hal ini sejalan dengan temuan yang dilaporkan oleh Kriswanto et al. , yang menekankan pentingnya manajemen sekolah yang efektif untuk meningkatkan pelaksanaan pendidikan Sementara Jusni et al. mengungkapkan bahwa untuk mewujudkan pendidikan inklusif, penting untuk mengembangkan kepemimpinan yang terdistribusi, budaya organisasi yang menghargai keragaman, serta pedagogi PAUD inklusif. Dalam konteks ini, manajemen yang baik dapat menjadi jembatan untuk mengatasi keterbatasan yang dihadapi para guru dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Sepanjang proses ini, keterlibatan semua pemangku kepentingan seperti pemerintah, komunitas, dan keluarga sangat diperlukan. Dalam pandangan yang lebih luas, peran pemerintah sangat signifikan dalam memberikan dukungan berupa kebijakan dan anggaran yang cukup untuk memperbaiki infrastruktur pendidikan dan pelatihan guru. Partisipasi aktif dari masyarakat dan stakeholders lain sangat berpengaruh terhadap suksesnya penerapan program pendidikan inklusif, karena mereka menyediakan dukungan moral dan sumber daya yang diperlukan untuk membantu semua siswa mencapai potensi penuh mereka. Dengan demikian, sebagai suatu sistem yang memerlukan kerjasama dan sinergi dari banyak pihak, pendidikan inklusif harus dilihat sebagai tanggung jawab bersama. Sementara para guru dan manajemen sekolah bertanggung jawab untuk pelaksanaan pendidikan di lapangan, dukungan yang lebih besar dan menyeluruh dari institusi pemerintah dan masyarakat sipil akan sangat mendukung pencapaian keberhasilan pendidikan inklusif. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Penguatan Kompetensi Guru PAUD Melalui Pelatihan Inklusif Penguatan kompetensi guru dalam pendidikan anak usia dini (PAUD) melalui pelatihan merupakan salah satu pendekatan strategis yang dapat membantu mengatasi tantangan dalam pengelolaan pendidikan inklusif. Pelatihan yang berkelanjutan terbukti memiliki dampak signifikan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam menangani anak berkebutuhan khusus (ABK). Rodriguez et al. mengemukakan bahwa pelatihan yang fokus pada kompetensi ilmiah, sosial, metodologis, dan pribadi sangat penting dalam mendukung keberhasilan pendidikan inklusif. Pelatihan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan guru tentang karakteristik ABK, tetapi juga memberi mereka alat untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran yang dapat diakses oleh semua anak Hasil dari berbagai studi menunjukkan bahwa guru PAUD yang terlibat dalam lokakarya dan pelatihan berkelanjutan mampu meningkatkan pemahaman mereka tentang cara menangani ABK dan menyesuaikan metode pengajaran mereka. Patilima et al. , . menekankan bahwa melalui lokakarya, pendidik PAUD tidak hanya mengalami peningkatan teori, tetapi juga keterampilan praktis yang aplikatif. Kartini et al. , . juga menemukan bahwa melalui pelatihan, guru PAUD di Kabupaten Magetan meningkatkan kompetensinya dalam mengidentifikasi dan menangani ABK. Dengan demikian, pelatihan yang tepat dapat meningkatkan kualitas pendidikan inklusif di PAUD, membantu guru untuk lebih siap dalam menghadapi tantangan yang muncul dalam mengelola kelas inklusif. Hal ini diperkuat oleh temuan oleh Nur Shofiah & Munandar . yang menunjukkan bahwa pelatihan yang baik dapat menghasilkan peningkatan nyata dalam kompetensi guru dalam mengidentifikasi dan menangani ABK. Dengan demikian, pelatihan yang tepat dan terstruktur bukan hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membekali guru dengan cara praktis untuk meningkatkan kualitas pendidikan inklusif di lingkungan PAUD. Selain itu, pelatihan berbasis kolaborasi dengan orang tua dan tenaga profesional lainnya, seperti psikolog dan terapis, juga dianggap sangat penting. Jusni et al. menunjukkan bahwa dalam konteks Indonesia, pelatihan guru PAUD yang melibatkan kerjasama dengan orang tua dapat memperkuat implementasi pendidikan inklusif dan menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi ABK. Hal ini sejalan dengan (Sulastra, 2. menyatakan bahwa pelatihan yang mengajak orang tua berkolaborasi dapat memperkuat implementasi pendidikan inklusif dan menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi ABK. Melalui kolaborasi ini, orang tua dapat berbagi informasi berharga tentang kebutuhan spesifik anak mereka, yang memungkinkan guru untuk merancang pendekatan pengajaran yang lebih Kerja sama antara guru, orang tua, dan profesional lainnya menciptakan jaringan dukungan yang penting bagi perkembangan ABK. Keberhasilan dalam meningkatkan kompetensi guru PAUD juga dapat diukur dari pengalaman belajar yang diciptakan selama pelatihan. Misalnya, pelatihan berbasis praktik seperti in-house training telah terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan guru dalam merancang perangkat pembelajaran (Vitriana et al. , 2. Program pelatihan yang berfokus pada pengembangan metodologi yang responsif terhadap kebutuhan anak-anak, terutama bagi mereka yang berkebutuhan khusus, menjadi semakin penting di era pendidikan inklusif saat Selain itu, pelatihan yang efektif juga harus memperhatikan aspek pengembangan kepribadian guru dan kemampuan interpersonal mereka. Kompetensi kepribadian guru PAUD, seperti integritas dan kemampuan untuk menjadi teladan yang baik, sangat penting dalam menciptakan iklim belajar yang positif bagi anak-anak. Peran lembaga pendidikan sangat penting dalam merancang dan melaksanakan program pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan guru PAUD di wilayah mereka. Program pelatihan yang fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan lokal akan memberikan kontribusi yang lebih baik dalam mempersiapkan guru untuk menghadapi tantangan pendidikan inklusif. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Pendekatan pelatihan berbasis komunitas juga dapat menghasilkan hasil yang positif karena melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam pendidikan anak usia dini, termasuk orang tua dan masyarakat. Dengan komitmen dan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas, praktik pelatihan bagi guru PAUD dapat diperkuat. Program pelatihan yang terencana akan membantu guru untuk tidak hanya mengembangkan diri secara profesional tetapi juga untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan produktif bagi semua anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Dengan dukungan yang tepat, guru PAUD dapat menjalankan peran penting mereka dalam pembangunan generasi masa depan yang berkualitas dan inklusif. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dari artikel yang telah diulas, dapat disimpulkan bahwa penguatan kompetensi guru PAUD dalam mendukung pendidikan inklusif sangat penting untuk mewujudkan pendidikan yang adil dan berkualitas bagi semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Pendidikan inklusif memerlukan peran guru yang tidak hanya memiliki keterampilan pedagogis, tetapi juga pemahaman mendalam tentang keberagaman dan kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai kebutuhan anak. Penelitian yang telah dikaji menunjukkan bahwa meskipun banyak guru PAUD memiliki sikap positif terhadap pendidikan inklusif, mereka sering kali merasa tidak siap secara profesional untuk menangani tantangan yang dihadapi ABK. Keterbatasan pelatihan yang relevan, kurangnya pengetahuan praktis, serta dukungan sistemik yang terbatas menjadi hambatan utama dalam pelaksanaan pendidikan inklusif di PAUD. Meskipun demikian, penguatan kompetensi guru melalui pelatihan berbasis komunitas, lokakarya, dan mentoring telah terbukti memberikan dampak positif yang signifikan terhadap pemahaman dan keterampilan guru dalam mengelola kelas inklusif. Selain itu, pelatihan yang melibatkan kolaborasi dengan orang tua dan tenaga profesional lainnya, seperti psikolog dan terapis, sangat penting untuk mendukung keberhasilan pendidikan inklusif. Pelatihan yang berkelanjutan, yang mencakup pengembangan kompetensi ilmiah, sosial, metodologis, dan pribadi, menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan memastikan bahwa setiap anak, terutama ABK, mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya. Kontribusi utama yang diberikan oleh penelitian ini adalah pemahaman yang lebih dalam mengenai tantangan yang dihadapi oleh guru PAUD dalam pendidikan inklusif serta bagaimana penguatan kompetensi melalui pelatihan dapat mengatasi tantangan tersebut. Hasil ini memberikan gambaran yang jelas bahwa untuk mewujudkan pendidikan inklusif yang efektif, dibutuhkan kolaborasi yang lebih erat antara berbagai pihak, seperti pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat, serta pendekatan pelatihan yang responsif dan Dengan pemahaman ini, diharapkan kebijakan dan praktik penguatan kompetensi guru PAUD dalam pendidikan inklusif dapat dirancang lebih tepat sasaran, mengatasi kendala yang ada, dan berkontribusi pada tercapainya pendidikan yang inklusif dan berkualitas di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA