Volume 9 No. Page 85-92 e-ISSN: 2598-2095 DOI: https://doi. org/10. https://journal. id/index. php/jcps/index Perbandingan Efektivitas Vancomycin versus Metronidazole pada Terapi Infeksi Clostridioides difficile (Narrative Revie. Sri Rahmat Molidia1* Ade Wirastuti2 Kharina Anisya3 Salsabela4 Kathina Deswi Aqsa5 Fortunata Saesarria Deisberanda6 AbdurraafiAo Maududi Dermawan7 Fakhruddin8 Muhammad Nur Ajwad9 Rommy10 1-10Universitas Tanjungpura. Pontianak. Indonesia Abstract Clostridioides difficile infection (CDI) causes diarrhea and inflammation of the large intestine . , with a high morbidity and mortality rate, making it necessary to consider appropriate and effective treatment. Metronidazole and vancomycin are the two most commonly used antibiotics for the treatment of CDI and have different clinical outcomes. This review assesses the comparative effectiveness of vancomycin and metronidazole on recurrence and mortality. Cohort studies were included in this literature review following the PRISMA checklist and using the ScienceDirect. PubMed, and JAMA databases with the keywords AuVancomycin. Metronidazole. Clostridioides difficile. Effectiveness, and Infection. Ay The results of the review of 5 cohort journals showed that both metronidazole and vancomycin have similar effectiveness in treating Clostridioides difficile infection (CDI), with no significant differences in clinical response, recurrence, and mortality. However, vancomycin showed a slight advantage in the treatment of patients with severe CDI, including reducing the risk of death within 30 days. In general, both treatments can be considered equivalent in the treatment of CDI in hospitalized patients. *email: srirahmat@pharm. Kata kunci: Vancomycin Metronidazole Clostridioide difficile Efektivitas Infeksi Received: Agustus 2025 Accepted: September 2025 Published: September 2025 A 2025. Published by Institute for Research and Innovation Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. This is Open Access article under the CC-BY-SA License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/). LATAR BELAKANG meningkat seiring dengan munculnya strain CDI yang Infeksi Clostridioides difficile (CDI) merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia, khususnya di fasilitas menyebabkan lonjakan angka kematian dan kasus yang CDI dapat menyebabkan berbagai reaksi sulit dikendalikan, terutama di Amerika Utara dan Eropa dengan tingkat keparahan yang bervariasi, mulai dari dalam dua dekade terakhir . diare yang mematikan hingga kolitis pseudomembranosa Selama beberapa dekade, metronidazol dan vancomycin nonfatal dan kondisi yang fatal. Dampak serius dari CDI telah menjadi dua antibiotik yang paling sering adalah kematian, terutama pada pasien yang dirawat di digunakan untuk pengobatan CDI, dengan penggunaan rumah sakit dengan faktor risiko tertentu seperti vancomycin dimulai pada tahun 1995 setelah pembatasan komorbiditas atau penggunaan antibiotik dalam jangka penggunaannya untuk mencegah resistensi Enterococcus. waktu yang lama. Insiden dan keparahan CDI saat ini Metronidazol umumnya digunakan sebagai terapi lini virulen, seperti BI/NAP1/027, yang Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 9 No. September 2025. Page 85-92 e-ISSN: 2598-2095 pertama, terutama untuk kasus ringan hingga sedang. negara, termasuk Indonesia, mengingat meningkatnya Namun, bukti terbaru yang diperoleh dari penelitian acak insiden infeksi dan tantangan resistensi antibiotic. dan meta-analisis internasional menunjukkan bahwa vancomycin memiliki efektivitas yang jauh lebih tinggi, terutama pada kondisi CDI yang parah . Meta-analisis yang melibatkan studi acak terkontrol dan kohort dari Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan bahwa vancomycin secara signifikan lebih unggul kesembuhan awal klinis pada semua tingkat keparahan CDI (RR=0. 91, 95% CI=0. 84Ae0. p=0. Untuk CDI berat, keunggulan vancomycin semakin jelas (RR=0. 95% CI=0. 69Ae0. p=0. , sementara pada kasus ringan, tidak ditemukan perbedaan signifikan antara kedua antibiotik (RR=0. 94, 95% CI=0. 84Ae1. p=0. sisi lain, tingkat kekambuhan dan mortalitas tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kedua regimen pada kelompok ringan maupun berat . Sedangkan. Vancomycin kesembuhan awal dan berkelanjutan yang lebih tinggi dibandingkan metronidazol, terutama pada kasus CDI yang berat. Hal ini juga ditekankan dalam pedoman Infectious Diseases Society of America (IDSA) 2021 METODE Pemilihan artikel dalam narrative review ini dilakukan berdasarkan daftar checklist PRISMA yang tercantum pada gambar 1. Pengumpulan literatur diambil dari publikasi jurnal penelitian yang diterbitkan antara tahun 2016 hingga 2025 pada database ScienceDirect. PubMed. JAMA AuVancomycin. Metronidazole. Clostridioides difficile. Efektivitas, dan InfeksiAy. Selanjutnya, pemilihan pustaka yang relevan dilakukan secara manual dari artikel penelitian dan dilakukan analisis perbandingan hasil terkait perbedaan dan persamaan temuan dari artikel yang diperoleh. Kriteria inklusi dalam kajian literatur ini meliputi jurnal internasional dan nasional yang dapat diakses secara terbuka, yang membahas penelitian tentang efektivitas antara vancomycin dan metronidazol pada infeksi Clostridioides difficile. Sedangkan kriteria eksklusi adalah jurnal yang hanya membahas efektivitas obat . Berdasarkan IDSA, merekomendasikan vancomycin . tau fidaxomicin jika tersedi. sebagai terapi lini pertama, khususnya untuk CDI dengan tingkat keparahan sedang hingga berat. Metronidazol masih dapat dipertimbangkan untuk kasus ringan jika vancomycin tidak tersedia, terutama di negara-negara yang menghadapi kendala akses atau biaya . Dengan demikian, studi perbandingan efektivitas antara vancomycin dan metronidazol sangat penting sebagai penyusunan kebijakan tata laksana CDI di berbagai HASIL DAN PEMBAHASAN Pada narrative review ini membahas terkait perbandingan terhadap CDI. Penilaian efektivitas dilihat dari 5 jurnal kohort yang dirangkum dalam kajian literatur ini . abel CDI tetap menjadi tantangan klinis yang signifikan di disebabkan oleh gangguan pada flora usus normal akibat penggunaan antibiotik. Metronidazol dan vancomycin telah lama dianggap sebagai terapi lini pertama untuk CDI, namun studi terbaru mengungkapkan kompleksitas terkait efektivitas relatif, tingkat kegagalan, dan dampak Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 9 No. September 2025. Page 85-92 keduanya terhadap resistensi mikroba. Tanggapan ini Subjek Penelitian e-ISSN: 2598-2095 Desain Penelitian Tahun metronidazol dan vancomycin dalam pengobatan CDI, dengan penekanan pada efektivitas relatif, pola resistensi, dan implikasi klinis penggunaannya. Mekanisme metronidazol memiliki efek bakterisidal yang cepat, yang dapat mengurangi jumlah Clostridioides difficile sekitar 3 log dalam 12 jam, sementara vancomycin ditandai dengan laju pembunuhan yang lebih lambat dan bertahap . Perbedaan ini dapat mempengaruhi keputusan pengobatan, karena aksi cepat metronidazol dapat membantu mencegah komplikasi serius akibat CDI, seperti kolitis atau megakolon toksik . Desain Penelitian Kohort Kohort Tahun Efektivitas Referensi Setelah 5 hari pengobatan tidak anak-anak yang metronidazol dan . Probabilitas kekambuhan lebih Pada tingkat keparahan infeksi, pasien yang sebagai terapi lini pertama memiliki risiko 54% lebih gagal pengobatan, mengalami infeksi meninggal karena penyebab apa pun dalam 90 hari yang menerima Pada . infeksi tidak berat, pengobatan awal vancomycin terkait dengan risiko 61% Vancomycin dan yang sebanding dalam hal respons pengobatan pada CDI Referensi dan 112 pasien dan 2068 pasien Kohort Kohort Angka serupa di antara diobati dengan vancomycin dan Namun, risiko kematian dalam secara signifikan yang menerima Temuan awal untuk CDI dan 85 pasien Kohort Pasien memiliki rasio rawat inap yang lebih lama . Tabel 1. Karakteristik jurnal yang diinklusi Subjek Penelitian dan 80 pasien dan 371 pasien Efektivitas . Penelitian yang dilakukan oleh . menilai tingkat respon klinis pada anak dengan CDI yang diobati dengan metronidazol dan vancomycin. Pada 187 peserta berusia 2Ae17 tahun yang diobati dengan metronidazol dan/atau vancomycin, hasil utama respons klinis . idefinisikan sebagai resolusi diare dalam 5 hari setelah awal pengobata. dianalisis secara retrospektif. Dari jumlah tersebut, 107 subjek menerima metronidazol dan 80 subjek menerima vancomycin sebagai pengobatan utama. Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 9 No. September 2025. Page 85-92 e-ISSN: 2598-2095 Tidak ditemukan hubungan univariat antara kelompok dan metronidazol . ,4% versus 94,3%, p = 0,. pengobatan dan respons klinis. 78,30% (N = . dari Namun, kelompok metronidazol dan 78,75% (N = . dari signifikan terkait dengan respons awal yang lebih baik kelompok vancomycin mencapai respons klinis (P = dibandingkan metronidazol . ,0% versus 77,8%, p = 0,. Dalam studi kohort observasional ini pada pasien 0,. Hasil lainnya tidak menunjukkan perbedaan rawat inap anak dengan CDI, tingkat resolusi diare signifikan antara kedua kelompok obat dalam hal waktu setelah 5 hari pengobatan tidak berbeda antara anak-anak hingga keluar rumah sakit setelah diagnosis (P = 0,. , yang menerima metronidazol dibandingkan vancomycin. kekambuhan dalam 30 hari (P > 0,. , dan mortalitas Penelitian yang dilakukan oleh . menilai efektivitas keseluruhan dalam 30 hari (P = 0,. Perlu dicatat Dari 489 pasien yang dianalisis, 118 . %) metronidazol sebelum pedoman IDSA 2017 . % versus menerima pengobatan awal dengan metronidazol dan 74%) sepenuhnya berbalik setelah pedoman tersebut 371 . %) dengan vancomycin. Dari jumlah tersebut, diterbitkan . ,3% versus 16,7%), p < 0,. Hasil studi 78/118 . ,1%) pasien yang menerima metronidazol dan ini menunjukkan bahwa vancomycin dan metronidazol 247/371 . ,6%) pasien yang menerima vancomycin memiliki hasil yang sebanding dalam hal respons merespons pengobatan dalam 10 hari, tidak mengalami pengobatan untuk CDI. kekambuhan, dan tidak meninggal dalam 90 hari. Pada Penelitian yang dilakukan oleh . menilai efektivitas subkelompok infeksi tidak berat, 74/293 pasien . ,3%) pengobatan berdasarkan kekambuhan dan mortalitas menerima metronidazol, dan 219/293 . ,7%) menerima dalam 30 hari. Dari 47. 147 episode pengobatan pertama Dari jumlah tersebut, 33/74 . ,6%) pasien yang memenuhi syarat, 2. ,4%) diobati dengan yang menerima metronidazol dan 150/219 . ,5%) pasien vancomycin, yang dipasangkan dengan 8. 069 pasien yang menerima vancomycin bertahan hidup tanpa yang menerima metronidazol, sehingga total pasien yang termasuk dalam studi adalah 10. Subkelompok Penilaian yang dilakukan oleh . menilai hasil klinis dibentuk yang terdiri dari 5. 452 pasien dengan penyakit pasien dengan infeksi CDI dari aspek kesembuhan ringan hingga sedang dan 3. 130 pasien dengan penyakit Tidak ada perbedaan risiko kekambuhan antara pengobatan Clostridioides difficile. Pasien yang menerima vancomycin menunjukkan rasio peluang yang lebih metronidazol di semua kelompok keparahan penyakit. tinggi untuk mengalami rawat inap yang lebih lama . = Di antara pasien dengan berbagai tingkat keparahan, 0,. pasien yang diobati dengan vancomycin memiliki risiko Penelitian yang dilakukan oleh . menilai efektivitas pengobatan dari aspek waktu keluar rumah sakit, disesuaikan, 0,86. 95% CI, 0,74 hingga 0,98. kekambuhan dalam 30 hari, dan mortalitas dalam 30 hari. risiko yang disesuaikan. Ae0,02. 95% CI. Ae0,03 hingga Ae Sebanyak 166 pasien termasuk dalam analisis, dengan ciri 0,. Tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam risiko kematian antara kelompok pengobatan pada pasien signifikan antara kedua kelompok. Tidak ada perbedaan dengan CDI ringan hingga sedang, tetapi vancomycin respons pengobatan yang signifikan antara vancomycin secara signifikan mengurangi risiko kematian akibat yang lebih . isiko Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 9 No. September 2025. Page 85-92 e-ISSN: 2598-2095 semua penyebab dalam 30 hari pada pasien dengan CDI Dinamika resistensi antibiotik menjadi pertimbangan berat . isiko relatif yang disesuaikan, 0,79. 95% CI, 0,65 penting lainnya. Tingkat resistensi terhadap vancomycin hingga 0,97. perbedaan risiko yang disesuaikan. Ae0,04. dan metronidazol pada strain Clostridioides difficile terus 95% CI. Ae0,07 hingga Ae0,. Tingkat kekambuhan serupa meningkat, menimbulkan kekhawatiran klinis yang di antara pasien yang diobati dengan vancomycin dan pengobatan ini . Penelitian terbaru menunjukkan berkurang secara signifikan di antara pasien yang tren mengkhawatirkan penurunan kepekaan terhadap menerima vancomycin. Temuan ini dapat memperkuat penggunaan vancomycin sebagai terapi awal untuk CDI kegagalan pengobatan mungkin terkait dengan resistensi antibiotik bawaan dalam populasi mikroba . Oleh Secara historis, metronidazol lebih disukai dalam karena itu, meskipun metronidazol mungkin dianggap lebih murah, tren resistensi yang terus berkembang ketersediaannya yang luas. Obat ini telah menjadi terapi mengharuskan kehati-hatian dalam memilihnya sebagai lini pertama untuk CDI ringan hingga sedang selama pengobatan pada populasi pasien tertentu . beberapa dekade. Namun, bukti yang semakin banyak Selain itu, kedua antibiotik tersebut secara signifikan mengganggu mikrobiota usus, yang dapat meningkatkan tingkat kegagalan pengobatan dan kekambuhan yang kerentanan terhadap CDI secara berkepanjangan setelah lebih tinggi dibandingkan vancomycin, khususnya pada pengobatan . Gangguan ini mengurangi resistensi kasus CDI yang parah . ,7,. Society for Healthcare kolonisasi yang biasanya melindungi pasien dari Epidemiology of America (SHEA) dan IDSA kini reinfeksi C. difficile, yang mengakibatkan tingkat merekomendasikan vancomycin oral sebagai agen lini kekambuhan yang tinggi. Hal ini sangat relevan karena pertama untuk mengelola CDI berat, mencerminkan CDI berulang menimbulkan beban yang signifikan pada pergeseran signifikan dalam praktik klinis. Perubahan ini sistem kesehatan . Intervensi probiotik dan terapi sebagian besar didasarkan pada uji klinis acak prospektif pemulihan mikrobiota saat ini sedang diteliti untuk yang menunjukkan hasil yang lebih baik dengan vancomycin . Selain itu, studi menunjukkan bahwa pentingnya menjaga mikrobiota usus selama pengobatan efektivitas metronidazol berkurang pada kasus CDI antibiotik . Namun. CDI penggunaannya sebagai pengobatan lini pertama yang ampuh . Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 9 No. September 2025. Page 85-92 e-ISSN: 2598-2095 Identifikasi Identifikasi literatur ScienceDirect. PubMed. JAMA . = . memberikan hasil jangka panjang yang lebih baik meskipun biaya awalnya lebih tinggi dibandingkan Eksklusi Literatur > 10 tahun . = . metronidazol dan vancomycin . Efektivitas terapi kombinasi, seperti vancomycin Setelah eksklusi literatur < 10 tahun . = . menjadi perdebatan. Sebuah studi menemukan tidak ada perbedaan signifikan dalam hasil antara monoterapi dan Skrining terapi ganda pada CDI non-fulminan, yang menyoroti mengoptimalkan regimen pengobatan CDI . Skrining . Eksklusi . Teks lengkap tidak tersedia . Pedoman terbaru merekomendasikan pendekatan yang berdasarkan tingkat keparahan dan faktor spesifik pasien, guna mengoptimalkan hasil dan mengendalikan biaya perawatan kesehatan yang terkait dengan infeksi berulang . Pengelolaan CDI kedepan kemungkinan Eligibilitas Artikel lengkap . = . akan berfokus pada kombinasi terapi antimikroba Eksklusi . = . Duplikasi . Kurangnya relevansi . berkelanjutan terhadap pola resistensi. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang dikaji dalam narrative review Artikel yang . = . Inklusi tradisional, intervensi mikrobiota, dan pemantauan ini menunjukkan bahwa baik metronidazol maupun vancomycin memiliki efektivitas yang serupa dalam mengatasi infeksi Clostridioides difficile (CDI), dengan Gambar 1. Proses pemilihan publikasi . iagram alur PRISMA) Selain itu, munculnya modalitas pengobatan baru, seperti lanskap terapi CDI. Fidaxomicin terbukti lebih efektif kekambuhan pada pasien CDI, sehingga beberapa ahli tidak adanya perbedaan signifikan dalam respons klinis, kekambuhan, dan mortalitas. Namun, vancomycin menunjukkan sedikit keuntungan dalam pengobatan pasien dengan CDI berat, termasuk mengurangi risiko Secara pengobatan dapat dianggap setara dalam pengobatan CDI pada pasien rawat inap. Analisis efektivitas biaya semakin memperumit paradigma pengobatan, dengan beberapa Journal of Current Pharmaceutical Sciences. Vol. 9 No. September 2025. Page 85-92 KETERBATASAN PENELITIAN Penelitian narrative review ini memiliki keterbatasan berupa potensi bias seleksi dan publikasi karena tidak menggunakan metode systematic review, heterogenitas karakteristik pasien serta regimen terapi pada literatur yang dianalisis, keterbatasan data terbaru dan bukti klinis jangka panjang, serta belum mencakup analisis biaya, keamanan, dan risiko resistensi antimikroba secara SARAN Berdasarkan keterbatasan penelitian, disarankan agar penelitian selanjutnya menggunakan desain systematic review atau meta-analysis dengan protokol pencarian literatur yang lebih komprehensif dan inklusif terhadap berbagai bahasa, menstandarkan kriteria pasien serta regimen terapi, serta menambahkan analisis biaya, keamanan jangka panjang, dan risiko resistensi antimikroba guna memperoleh bukti yang lebih kuat, mutakhir, dan dapat diaplikasikan secara luas dalam praktik klinis. UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih kepada seluruh rekan yang membantu dalam penyusun dan penyempurnaan kajian literatur ini. DAFTAR PUSTAKA