Essor: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 3 Desember 2025 Essor Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 3 Desember 2025 ISSN: 3110-410X (Electroni. Open Access: https://gumpublisher. id/index. php/essor/index Analisis Faktor Penghambat Partisipasi Remaja dan Dewasa dalam Program Training for Tourism di Desa Loyok Sanusi1*. Aulia Rahmah2. Dia Agustina3. Gifty Amalist4. Siti Ariyani Rujiyah5 1 Program Studi Pariwisata. Universitas Hamzanwadi. Lombok Timur. Indonesia 2, 3, 4 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Universitas Hamzanwadi. Lombok Timur. Indonesia 5 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Hamzanwadi. Lombok Timur. Indonesia *Email: si7243079@gmail. Info Artikel : Diterima : 14-11-25 Disetujui : 28-11-25 Dipublikasikan : 03-12-25 ABSTRAK . PT) Program Training for Tourism di Desa Loyok dirancang untuk meningkatkan kapasitas remaja dan dewasa sebagai bagian dari penguatan desa wisata. Namun, hasil observasi awal dan wawancara menunjukkan rendahnya tingkat partisipasi sehingga diperlukan analisis faktor penghambat yang lebih komprehensif. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hambatan sosial, personal, dan struktural yang memengaruhi keikutsertaan masyarakat. Metode pengabdian dilakukan melalui pelatihan, pendampingan, dan wawancara mendalam terhadap remaja dan dewasa yang menjadi sasaran program. Temuan menunjukkan bahwa hambatan utama mencakup rutinitas sekolah dan kegiatan sore hari, kurangnya minat terhadap materi pelatihan, rasa tidak percaya diri, kurangnya teman untuk belajar, hingga adanya kegiatan lain yang berbenturan dengan jadwal pelatihan. Sebagian informan juga mengaku hanya mendapatkan informasi dari anggota KKN dan menginginkan penyebaran informasi melalui poster atau pengumuman desa. Meskipun demikian, peserta menilai pelatihan berpotensi mengembangkan kemampuan bahasa Inggris, keterampilan produk wisata, dan pemahaman peluang usaha di Desa Loyok. Secara keseluruhan, hasil studi menegaskan bahwa peningkatan partisipasi membutuhkan strategi komunikasi yang lebih inklusif dan penyesuaian jadwal terhadap ketersediaan waktu peserta Kata Kunci: partisipasi masyarakat. training for tourism. hambatan remaja. desa Loyok. motivasi belajar. desa wisata. ABSTRACT The Training for Tourism program in Loyok Village aims to enhance the competencies of youth and adults in supporting community-based tourism development. However, initial observations and interview findings indicate low participation rates, necessitating a deeper analysis of the inhibiting This study seeks to identify social, personal, and structural barriers influencing community engagement in the program. The community service activities involved training sessions, mentoring, and in-depth interviews with targeted youth and adult participants. The results show that key barriers include school schedules and evening routines, limited interest in tourism-related training, low confidence levels, lack of learning companions, and conflicting activities during the training schedule. Several informants also reported receiving information only from KKN members and suggested broader dissemination through posters or village announcements. Despite these challenges, participants acknowledged the potential benefits of developing English communication skills, crafting local tourism products, and understanding business opportunities in Loyok Village. Overall, the findings highlight the need for more inclusive communication strategies and flexible scheduling to improve participation in future tourism training programs. Keywords : community participation. training for tourism. youth barriers. Loyok village. learning motivation. tourism village. A2022 Penulis. Ini adalah artikel akses terbuka di bawah lisensi Creative Commons Attribution Non Commercial 4. 0 International License. ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. PENDAHULUAN Pengembangan desa wisata menjadi strategi penting dalam meningkatkan ekonomi lokal sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam pengelolaan potensi wilayah. Berbagai studi menegaskan bahwa keberhasilan desa wisata ditentukan oleh keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap Essor: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 3 Desember 2025 proses perencanaan dan pengelolaan berbasis community-based tourism (Nugroho, 2. Namun, penelitian lain menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat sering terhambat oleh faktor sosial, motivasional, maupun struktural yang muncul dari kondisi internal dan eksternal komunitas (Agustina. Anggraeni, 2. Desa Loyok memiliki potensi budaya dan kerajinan anyaman bambu yang kaya, sekaligus peluang besar untuk mengembangkan program pelatihan pariwisata desa. Program Training for Tourism diinisiasi untuk meningkatkan kemampuan remaja dan warga dewasa dalam bidang pelayanan wisata, komunikasi, dan pengembangan produk lokal. Meskipun demikian, pengamatan awal dan wawancara dengan warga menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masih rendah. Fenomena ini sejalan dengan temuan penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa keterbatasan minat, kurangnya waktu luang, serta rendahnya pemahaman mengenai manfaat pelatihan menjadi penghambat signifikan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat (Dewi, 2021. Fauzi, 2020. Hidayat, 2. Wawancara dengan remaja dan dewasa di Desa Loyok mengungkapkan beberapa hambatan Pertama, jadwal sekolah, kegiatan rumah, dan aktivitas keagamaan membuat peserta kesulitan hadir tepat waktu. Kedua, beberapa informan menyatakan kurangnya minat, rasa tidak percaya diri, serta ketidaknyamanan mengikuti kegiatan tanpa teman sebaya. Ketiga, penyebaran informasi program dianggap belum optimal dan hanya mengandalkan penjelasan langsung dari anggota KKN, sehingga tidak menjangkau seluruh sasaran. Temuan tersebut konsisten dengan penelitian yang menyoroti pentingnya komunikasi publik yang efektif dalam meningkatkan partisipasi pelatihan masyarakat desa (Kencana, 2023. Kurniawati, 2024. Maulida, 2. Selain itu, partisipasi warga dalam pelatihan sangat dipengaruhi oleh persepsi manfaat dan relevansi materi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa warga akan lebih terlibat apabila materi pelatihan selaras dengan kebutuhan ekonomi lokal, seperti pengembangan produk wisata, pemasaran digital, atau peluang usaha baru (Pertiwi, 2022. Putri, 2023. Saputri, 2. Dengan demikian, rendahnya partisipasi remaja dan dewasa di Desa Loyok dapat disebabkan oleh ketidaksesuaian antara isi pelatihan dan preferensi peserta yang lebih tertarik pada keterampilan praktis, seperti membuat produk kerajinan atau meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Literatur akademik juga menekankan bahwa kualitas sumber daya manusia menjadi indikator utama keberlanjutan desa wisata. Desa dengan tingkat partisipasi rendah cenderung mengalami stagnasi pengembangan pariwisata karena tidak memiliki pelaku wisata lokal yang kompeten (Suardana, 2021. Wijayanti, 2. Di sisi lain, penelitian tentang kesiapan komunitas wisata menunjukkan bahwa pelatihan rutin, pendampingan berkelanjutan, serta strategi komunikasi adaptif mampu meningkatkan keikutsertaan masyarakat secara signifikan (Lestari, 2023. Kartika, 2. Berdasarkan kondisi tersebut, perlu dilakukan analisis menyeluruh mengenai faktor-faktor penghambat partisipasi remaja dan dewasa dalam program Training for Tourism di Desa Loyok. Kajian ini penting untuk merumuskan strategi intervensi yang lebih responsif terhadap kebutuhan peserta, termasuk penyesuaian waktu, penyampaian informasi yang lebih merata, pendekatan pelatihan yang lebih menarik, serta peningkatan pendampingan berbasis komunitas. Kebaruan kajian ini terletak pada integrasi data lapangan hasil wawancara dengan literatur akademik terbaru, sehingga mampu memberikan rekomendasi praktis bagi pengembangan desa wisata dan program pelatihan serupa di masa mendatang. METODE Pelaksanaan kegiatan Training for Tourism di Desa Loyok menggunakan pendekatan pengabdian masyarakat berbasis partisipatif yang memadukan ceramah, pelatihan praktik, diskusi kelompok, dan pendampingan intensif. Pemilihan pendekatan ini mempertimbangkan keberagaman karakteristik peserta yang terdiri atas remaja dan warga dewasa dengan latar belakang aktivitas harian yang berbeda-beda (Anggraeni, 2. Kegiatan ini melibatkan 35 peserta yang dipilih secara purposif berdasarkan kesediaan dan keterjangkauan waktu, mengingat sebagian besar informan memiliki rutinitas sekolah, kegiatan keagamaan, atau pekerjaan rumah tangga yang dapat memengaruhi tingkat partisipasi mereka (Agustina, 2. Balai Karya Desa Loyok dipilih sebagai lokasi pelatihan karena aksesibilitasnya yang mudah bagi seluruh peserta. Essor: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 3 Desember 2025 Program dilaksanakan selama empat minggu dengan jadwal dua kali pertemuan setiap minggu pada sore hingga malam hari. Penjadwalan ini merupakan hasil penyesuaian terhadap rekomendasi peserta, terutama remaja yang memiliki kewajiban sekolah hingga sore hari serta kegiatan mengaji pada malam hari. Temuan wawancara menunjukkan bahwa benturan jadwal menjadi salah satu hambatan dominan bagi mereka untuk mengikuti pelatihan, sehingga penetapan waktu harus disesuaikan agar partisipasi lebih optimal (Hidayat, 2. Tahapan pelaksanaan dimulai dengan persiapan administratif dan koordinasi dengan perangkat desa, dilanjutkan dengan penyebaran informasi program. Informasi diberikan melalui penjelasan langsung, poster, dan komunikasi lisan, merespons temuan lapangan bahwa sebagian peserta sebelumnya hanya mengetahui kegiatan melalui anggota KKN dan membutuhkan media informasi yang lebih merata (Kencana, 2. Pelatihan inti dilaksanakan melalui penyampaian materi dasar pariwisata, simulasi pelayanan wisata, praktik kemampuan komunikasi, serta latihan membuat produk wisata berbasis kerajinan Metode ini sengaja dipilih karena pembelajaran yang interaktif dan praktik terbukti lebih efektif mendorong partisipasi remaja dan dewasa dibanding metode ceramah tunggal (Maulida, 2. Diskusi kelompok kecil dilakukan untuk menggali hambatan internal seperti rasa malu, rendahnya kepercayaan diri, dan ketidaknyamanan mengikuti kegiatan tanpa teman sebaya. Pendampingan individual diberikan bagi peserta yang memerlukan bimbingan tambahan, khususnya terkait kemampuan bahasa Inggris dan pemahaman materi pemanduan wisata, menyesuaikan minat peserta yang banyak berharap pelatihan dapat membantu mereka mengembangkan kemampuan komunikasi dasar (Pertiwi, 2. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui observasi kehadiran, respons peserta selama pelatihan, dan wawancara singkat setelah sesi. Temuan evaluasi menunjukkan bahwa beberapa peserta masih mengalami hambatan berupa kurangnya motivasi, ketidaksesuaian waktu, serta lemahnya pemahaman terhadap manfaat kegiatan (Putri, 2. Seluruh proses didokumentasikan secara sistematis melalui foto kegiatan, catatan lapangan, serta lembar kehadiran. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif, di mana hasil wawancara dan observasi dikodekan menjadi tema-tema utama mencakup hambatan waktu, hambatan motivasional, hambatan psikologis, dan hambatan informasional. Pendekatan ini menyesuaikan kerangka analisis dalam penelitian sebelumnya mengenai partisipasi masyarakat di desa wisata (Suardana, 2021. Lestari, 2023. Kartika, 2. Metode ini dirancang untuk memberikan pemahaman yang utuh mengenai dinamika partisipasi remaja dan dewasa dalam program pelatihan pariwisata, sehingga hasil pengabdian dapat digunakan untuk merumuskan strategi peningkatan partisipasi yang lebih efektif, responsif, dan sesuai dengan kebutuhan spesifik masyarakat Desa Loyok. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pelaksanaan program Training for Tourism di Desa Loyok menunjukkan dinamika partisipasi yang kompleks dan sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, psikologis, serta konteks aktivitas harian peserta. Pada tahap awal pelaksanaan, partisipasi remaja dan warga dewasa cenderung rendah karena sebagian besar belum memiliki persepsi yang jelas mengenai manfaat pelatihan. Banyak peserta mengungkapkan bahwa mereka belum memahami apa yang akan dipelajari dan bagaimana pelatihan tersebut dapat memberikan dampak bagi kehidupan mereka. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menegaskan bahwa persepsi awal terhadap program sangat menentukan tingkat keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pemberdayaan (Nugroho, 2020. Agustina, 2. Tidak adanya pemahaman yang utuh membuat sebagian peserta hadir hanya karena ajakan teman atau karena disampaikan oleh anggota KKN, bukan karena motivasi intrinsik. Seiring berjalannya program, hasil wawancara menunjukkan bahwa hambatan utama partisipasi muncul dari benturan jadwal kegiatan harian. Sebagian besar remaja mengikuti kegiatan sekolah hingga sore hari dan memiliki aktivitas mengaji pada malam hari, sehingga waktu luang mereka sangat terbatas. Dalam wawancara beberapa peserta remaja menyatakan. AuSaya jarang ikut karena jamnya bentrok dengan ngaji, pulang sekolah juga capek,Ay yang menggambarkan tingginya beban aktivitas mereka. Hal ini konsisten dengan temuan literatur yang menjelaskan bahwa remaja di pedesaan sering mengalami kelelahan aktivitas sehingga partisipasi mereka pada program pelatihan cenderung rendah (Dewi, 2021. Fauzi, 2. Kondisi serupa juga dialami warga dewasa yang bekerja membantu Essor: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 3 Desember 2025 keluarga atau mengurus rumah tangga sehingga waktu untuk mengikuti pelatihan menjadi semakin Selain hambatan waktu, faktor psikologis juga menjadi temuan penting. Beberapa peserta, terutama remaja putri, mengaku merasa malu atau kurang percaya diri untuk mengikuti kegiatan yang dianggap AuterbukaAy atau melibatkan orang banyak. Salah satu peserta menyatakan. AuSaya pengen ikut, tapi malu kalau sendirian, biasanya ikut kalau ada teman juga. Ay Fenomena ini telah banyak dibahas dalam penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa rasa malu, kekhawatiran akan penilaian orang lain, dan minimnya dukungan sosial menjadi faktor penghambat signifikan dalam partisipasi remaja (Kencana, 2023. Kurniawati, 2. Situasi ini menuntut pendekatan pelatihan yang lebih adaptif, misalnya dengan menciptakan suasana belajar yang lebih informal dan mendorong keterlibatan kelompok sebaya. Dari sisi minat, wawancara menunjukkan bahwa sebagian peserta kurang tertarik pada materi ceramah, namun lebih tertarik pada sesi praktik seperti membuat produk wisata dan berlatih berbicara bahasa Inggris. Temuan ini mendukung literatur yang menegaskan bahwa peserta dari kelompok usia remaja lebih cepat menyerap materi melalui pendekatan praktik daripada teori semata (Maulida, 2021. Pertiwi, 2. Hal ini terbukti ketika peserta mulai aktif bertanya dan mencoba simulasi pelayanan wisata setelah diberikan contoh konkret. Dengan demikian, metode pelatihan yang bersifat interaktif berkontribusi langsung pada peningkatan motivasi dan pemahaman peserta, terutama pada sesi-sesi yang melibatkan demonstrasi dan praktik langsung. Untuk menggambarkan perubahan pemahaman dan motivasi peserta, berikut ditampilkan tabel perkembangan indikator partisipasi yang dianalisis selama program berjalan: Tabel 1. Perkembangan Indikator Partisipasi dan Pemahaman Peserta Indikator Pemahaman materi Kepercayaan diri Kehadiran Sebelum Program Rendah Setelah Program Meningkat Rendah Meningkat Lebih stabil Tidak stabil Implikasi Peserta mampu menjelaskan konsep dasar wisata Peserta lebih aktif bertanya dan mencoba praktik Penyesuaian waktu memberi dampak positif Materi praktik lebih disukai Minat mengikuti Lemah Meningkat Kesadaran peluang Rendah Tinggi Peserta mulai menyebut potensi kerajinan bambu Tabel tersebut memperlihatkan adanya peningkatan pemahaman peserta terutama setelah sesi praktik diperbanyak dan metode ceramah dipersingkat. Peserta mulai mampu menyebutkan jenis layanan wisata yang ada di desa, memahami cara menyambut wisatawan, dan mengaitkan kerajinan bambu sebagai bagian dari produk wisata Desa Loyok. Perubahan ini sesuai dengan temuan penelitian yang menyatakan bahwa pelatihan berbasis pengalaman memiliki dampak lebih kuat terhadap peningkatan kompetensi masyarakat desa wisata (Putri, 2023. Saputri, 2. Dari sisi sosial, program ini berhasil membangun interaksi positif antar peserta. Dalam sesi diskusi kelompok, peserta saling berbagi pengalaman tentang bagaimana menghadapi wisatawan dan cara mengembangkan produk kerajinan lokal. Salah satu peserta dewasa menyampaikan bahwa ia baru menyadari potensi kerajinan bambu untuk dikembangkan menjadi paket wisata edukasi. Hal ini mencerminkan peningkatan kesadaran ekonomi lokal, yang sebelumnya juga diidentifikasi dalam studi mengenai dampak pelatihan terhadap kesiapan masyarakat desa wisata (Suardana, 2021. Wijayanti. Terbentuknya iklim saling mendukung ini menunjukkan bahwa modal sosial masyarakat mulai Namun, hasil analisis juga menunjukkan bahwa penyebaran informasi masih menjadi hambatan besar bagi keterlibatan masyarakat. Beberapa peserta mengaku hanya mengetahui kegiatan melalui penyampaian langsung dari anggota KKN, dan sebagian lainnya tidak mengetahui jadwal perubahan kegiatan karena tidak ada pengumuman yang disebarkan secara merata. Situasi ini sejalan dengan literatur yang menekankan bahwa efektivitas partisipasi sangat dipengaruhi oleh sistem komunikasi Essor: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 3 Desember 2025 publik yang baik, terutama di lingkungan desa (Lestari, 2023. Kartika, 2. Karena itu, penggunaan media informasi seperti poster, grup WhatsApp desa, dan pengumuman melalui pengeras suara desa menjadi kebutuhan strategis dalam pelaksanaan pelatihan berikutnya. Dari perspektif perubahan perilaku, sejumlah peserta menunjukkan peningkatan keaktifan pada pertemuan akhir program. Peserta mulai lebih sering bertanya mengenai cara mendesain kerajinan bambu, teknik komunikasi sederhana, dan tata cara menyambut wisatawan asing. Salah satu peserta menyatakan. AuTernyata gampang juga ngomong basic English kalau sering latihan,Ay yang mengindikasikan bahwa rasa percaya diri meningkat seiring interaksi yang lebih intens antara peserta dan fasilitator. Temuan ini memperkuat argumen bahwa keberhasilan pelatihan sangat dipengaruhi oleh suasana belajar yang mendukung dan pemberian umpan balik yang konsisten (Anggraeni, 2021. Maulida, 2. Sementara itu, dampak ekonomi mulai terlihat dari munculnya minat peserta untuk memasarkan produk kerajinan bambu dalam bentuk paket wisata edukasi. Meskipun masih dalam tahap awal, ide ini menunjukkan perluasan perspektif peserta terhadap potensi ekonomi desa. Hal ini konsisten dengan literatur yang menegaskan bahwa pelatihan yang terarah dapat meningkatkan kreativitas masyarakat dalam mengelola sumber daya lokal (Pertiwi, 2022. Nugroho, 2. Dengan pemahaman yang semakin kuat, peserta mulai mengaitkan pelatihan dengan peluang pendapatan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan keberlanjutan program pengembangan desa wisata. Secara keseluruhan, hasil kegiatan menunjukkan adanya perkembangan positif pada aspek pengetahuan, keterampilan, dan motivasi peserta meskipun masih terdapat beberapa hambatan struktural yang perlu dipertimbangkan. Partisipasi peserta meningkat ketika materi dikemas secara praktik, disertai dengan pendekatan personal yang mendorong keberanian untuk tampil. Hambatan yang muncul terutama berasal dari benturan waktu, rasa malu, dan kurangnya penyebaran informasi, yang semuanya dapat diatasi melalui strategi adaptif dan kolaboratif antara perangkat desa, fasilitator, dan peserta (Lestari, 2023. Kartika, 2. Dengan demikian, program Training for Tourism memberikan fondasi penting bagi peningkatan kapasitas masyarakat Desa Loyok dan dapat menjadi model pemberdayaan yang lebih efektif jika dilaksanakan secara berkelanjutan. Sebelum menampilkan grafik hasil, penting untuk menegaskan bahwa perkembangan pemahaman dan partisipasi peserta selama program Training for Tourism tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari rangkaian intervensi yang menekankan metode praktik, diskusi kelompok, dan pendampingan personal. Selama proses pelatihan, peserta menunjukkan perubahan perilaku belajar yang signifikan, mulai dari meningkatnya keberanian untuk bertanya hingga kemampuan mengaitkan materi pelatihan dengan peluang ekonomi lokal. Selain itu, penyesuaian jadwal pada minggu kedua terbukti meningkatkan stabilitas kehadiran peserta, terutama kelompok remaja yang sebelumnya terhambat oleh aktivitas sekolah dan keagamaan. Untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai perkembangan tersebut, visualisasi data berikut menyajikan tren peningkatan pemahaman, motivasi, dan keaktifan peserta sepanjang empat minggu pelaksanaan program. Gambar 1. Peningkatan Pemahaman dan Partisipasi Peserta Program Training for Tourism di Desa Loyok Essor: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 3 Desember 2025 Gambar 2. Dokumentasi Kegiatan Pelatihan Dasar Pariwisata bagi Remaja dan Dewasa di Desa Loyok Gambar 3. Sesi Praktik Simulasi Pelayanan Wisata dan Komunikasi Dasar Bahasa Inggris KESIMPULAN Program Training for Tourism di Desa Loyok memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan pemahaman dan kesiapan remaja serta warga dewasa dalam menghadapi kebutuhan pengembangan desa wisata. Meskipun tingkat partisipasi awal cenderung rendah akibat benturan jadwal, kurangnya motivasi, dan hambatan psikologis, pelaksanaan pelatihan yang memadukan metode praktik, diskusi, dan pendampingan menunjukkan hasil yang positif. Peserta mulai memahami dasardasar pelayanan wisata, menunjukkan peningkatan kepercayaan diri, serta mampu mengaitkan potensi kerajinan bambu dengan peluang ekonomi pariwisata. Selain itu, interaksi sosial antar peserta menguat dan menghasilkan kesadaran baru mengenai pentingnya peran masyarakat dalam mengembangkan Desa Loyok sebagai destinasi wisata. Secara keseluruhan, program ini berhasil membuka ruang belajar yang relevan dan memberikan landasan penting bagi upaya keberlanjutan pelatihan di masa mendatang. SARAN Pelaksanaan program selanjutnya disarankan untuk memperhatikan penyesuaian waktu secara lebih fleksibel agar tidak berbenturan dengan kegiatan sekolah dan keagamaan peserta. Mekanisme penyebaran informasi perlu diperluas melalui media desa, poster, dan platform digital agar seluruh masyarakat dapat mengetahui jadwal dan manfaat program secara merata. Materi pelatihan sebaiknya diperbanyak pada bagian praktik seperti simulasi pelayanan, produksi kerajinan, dan komunikasi dasar bahasa Inggris karena terbukti lebih menarik dan mudah dipahami peserta. Selain itu, kegiatan pendampingan berkelanjutan perlu dirancang untuk menjaga motivasi dan memastikan peserta dapat menerapkan keterampilannya dalam konteks nyata. Kerja sama antara perangkat desa, pelaku UMKM, dan komunitas pemuda juga penting untuk memperkuat kesinambungan program, sehingga pengembangan desa wisata dapat berjalan secara inklusif, adaptif, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Loyok. DAFTAR PUSTAKA