Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2025, 8. , 87-104 Formulation of patch preparations from ethanol extract of laban leaves (Vitex pinnata ) as an anti-inflammatory Formulasi sediaan patch dari ekstrak etanol daun laban (Vitex pinnata L. ) sebagai Ulfa Rahmi a. Gabena Indrayani Dalimunthe a*. Rafita Yuniarti a. Zulmai Rani a a Program Studi Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah. Kota Medan. Sumatera Utara. Indonesia. *Corresponding Authors: gabenaindrayani03@gmail. Abstract Laban leaves (Vitex pinnata L. ) contain flavonoids, saponins, tannins, and steroids, which have antiinflammatory potential. This research aims to formulate laban leaves into an anti-inflammatory patch preparation for the back skin of mice induced by 3% carrageenan. Laban leaf simplicia was extracted using the maceration method using 96% ethanol, and patch preparations were made with varying extract concentrations of 5, 7. 5, and 10%. The patch preparation is tested organoleptic, pH, weight uniformity, patch thickness, patch moisture, patch crease resistance, and irritation. The anti-inflammatory activity of the patch preparation was analyzed using the inflammatory associate edema method, namely measuring the antiinflammatory effect using a caliper and 25 test animals, which were divided into 5 groups, namely negative control, positive control, and treatment group with a concentration of 5. and 10% with 5 individuals each. The results of several tests that have been carried out are analyzed using the one-way ANOVA program. The results show the anti-inflammatory activity of laban leaves. There was no difference in the percentage of edema inhibition data on the back skin of mice between treatment groups. This shows that the antiinflammatory patch preparation of Laban leaf extract (Vitex pinnata L. ) has anti-inflammatory activity. The formula that provides the most potent anti-inflammatory activity is a patch preparation with an extract concentration of 10%. With an edema inhibition percentage of 59%. Keywords: laban leaves. Patch, anti-inflammatory activity Abstrak Daun Laban (Vitex pinnata L. ) diketahui mengandung senyawa flavonoid, saponin, tannin, dan steroid yang berpotensi sebagai antiinfalamasi. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan daun laban menjadi sediaan Patch antiinflamasi pada kulit punggung tikus yang dinduksi karagenan 3%. Simplisia daun laban diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96% dan dibuat sediaan Patch dengan variasi konsentrasi ekstrak 5. 7,5 dan 10%. Sediaan Patch diuji organoleptis, pH, keseragaman bobot, ketebalan Patch, kelembaban Patch, ketahanan lipatan Patch, dan iritasi. Aktivitas antiinflamasi sediaan Patch dianalisis dengan metode inflamasi associate edema yaitu pengukuran efek anti inflamasi menggunakan jangka sorong dan 25 hewan uji yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kontrol negatif, kontrol positif, dan kelompok perlakuan dengan konsentrasi 5. 7,5. dan 10% masing-masing berjumlah 5 ekor. Hasil dari beberapa pengujian yang telah dilakukan dianalisis dengan menggunakan program one way annova. Hasil aktivitas antiinflamasi daun laban menunjukkan tidak terdapat perbedaan dari data persentase inhibisi udema pada kulit punggung tikus antar kelompok perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan Patch antiinflamasi ekstrak daun laban (Vitex pinnata L. ) memiliki efektivitas sebagai antiinflamasi. Formula yang memberikan aktivitas antiinflamasi paling kuat adalah sediaan Patch dengan konsentrasi ekstrak 10%. Dengan persentase inhibisi udema 59%. Kata Kunci: daun laban. Patch, aktivitas antiinflamasi. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-NCSA 4. License Article History: Received:10/11/2024. Revised: 21/01/2025 Accepted: 22/01/2025 Available Online: 29/01/2025 QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Tanaman Laban (Vitex pinnata L. ) banyak ditemukan di lingkungan masyarakat terutama di wilayah Aceh, masyarakat sering menggunakan daun laban untuk pengobatan tradisional secara turuntemurun,biasanya untuk menyembuhkan sakit pinggang, luka, penambah nafsu makan, diare, antiinflamasi, bisul dan demam dengan cara memakan langsung daun mudanya dan ada juga minum air rebusannya . Daun laban diketahui mengandung berbagai jenis metabolit sekunder yang memiliki potensi sebagai senyawa bioaktif, di antaranya flavonoid, tanin, steroid, dan triterpenoid . Salah satu senyawa yang memiliki khasiat terapeutik yang signifikan adalah flavonoid, yang telah banyak digunakan dalam pengobatan, khususnya sebagai agen antiinflamasi. Flavonoid terbukti memiliki kemampuan untuk mengurangi peradangan, sehingga sering dimanfaatkan dalam berbagai formulasi obat yang bertujuan untuk meredakan gejala inflamasi . Beberapa penelitian terdahulu menyebutkan daun laban banyak digunakan sebagai antibakteri. Penelitian oleh Safrida et al. , ekstrak etanol daun laban mampu menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Dengan diameter zona hambat yang dihasilkan bakteri Escherichia coli pada konsentrasi 100% yaitu 9 mm . Respon hambatan yang dihasilkan oleh bakteri Escherichia coli pada konsentrasi 25, 50, 75, dan 100% di golongkan dalam kategori sedang. Penelitian lainnya oleh Mastura et al. , . , menunjukkan bahwa dari keempat fraksi daun laban yang diuji aktivitas antioksidannya, fraksi metanol memiliki aktivitas antioksidan tertinggi . Penelitian lainnya oleh Nuraskin et al. , . , menunjukkan bahwa daun laban memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans paling efektif dihasilkan pada konsentrasi 4,5% ekstrak metanol daun (Vitex pinnata L. ) dengan rata-rata jumlah koloni bakteri 108,5y10 Oe7 CFU/mL . Pada penelitian ini peneliti mencoba melakukan pengembangan sediaan Patch dari daun laban sebagai antiinflamasi yang belum ada melakukan penelitian ini, saat ini pengobatan antiinflamasi dipasaran memiliki zat aktif sintetik yang bila digunakan jangka panjang akan menimbulkan efek samping yang tidak baik bagi tubuh. Dilihat dari penggunaan obat antiinflamasi yang cukup tinggi dipasaran, telah banyak ditemukan bahwa obat antiinflamasi dalam bentuk sediaan Patch, memiliki banyak keuntungan dibandingkan dengan sediaan peroral. Di antaranya mudah digunakan, mengurangi efek samping obat seperti iritasi lambung, dapat digunakan untuk pasien yang tidak sadarkan diri. Selain itu, sediaan Patch juga dapat memberikan efek terapi yang lama dengan sekali pemakaian sehingga akan meningkatkan kenyamanan pasien bila dibandingkan dengan sediaan lainnya yang memerlukan pemberian yang sering untuk mencapai dosis terapi Patch transdermal melepaskan obat secara terkontrol sehingga obat dapat terdistribusi dalam saluran sistemik . Penelitian tentang formulasi Patch ekstrak etanol daun laban (Vitex pinnata L. ) sebagai antiinflamasi penting untuk dilakukan, mengingat potensi tanaman ini dalam pengobatan tradisional. Meskipun daun laban mengandung senyawa aktif seperti flavonoid dan tanin yang berkhasiat antiinflamasi, pengembangan sediaan Patch berbasis ekstrak daun laban masih minim. Padahal. Patch antiinflamasi menawarkan keuntungan seperti pengurangan efek samping saluran pencernaan, kemudahan penggunaan, dan pemberian dosis yang terkontrol dengan efek jangka panjang. Penelitian ini diharapkan dapat mengoptimalkan potensi daun laban sebagai alternatif pengobatan inflamasi yang lebih aman dan efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrak etanol daun laban (Vitex pinnata L. dapat diformulasikan dalam sediaan bentuk Patch, menentukan konsentrasi ekstrak etanol daun laban (Vitex Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. pinnata L. ) yang efektif dalam sediaan patch, serta mengevaluasi apakah sediaan patch ekstrak etanol daun laban (Vitex pinnata L. ) memiliki aktivitas antiinflamasi. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang melibatkan beberapa tahap, antara lain pengumpulan bahan tumbuhan, pengolahan sampel, pembuatan ekstrak, analisis karakteristik simplisia, skrining fitokimia, pengujian stabilitas sediaan patch, dan evaluasi aktivitas antiinflamasi sediaan patch terhadap volume edema pada kulit punggung tikus. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmasi Terpadu Universitas Muslim Nusantara (UMN) AlWashliyah Medan serta Laboratorium Sistematika Tumbuhan Herbarium Medanense (MEDA) Universitas Sumatera Utara (USU). Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari hingga Juni 2024. Alat dan bahan penelitian Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu timbangan analitik . , oven . -on. , tanur . ,deksikator . , rotary evaporator . , waterbath . , jangka sorong digital . recise displa. , dan alat gelas lainnya. Sedangkan bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu ekstrak daun laban. Etanol 96% . HPMC . Propilenglikol . Metil Paraben. Aquades, keragenan, salon pas, dan tikus sebagai hewan uji, kalium iodida (Merc. , iodium (Puda. , asetat anhidrida (Merc. , timbal (II) asetat (Merc. , bismuth (II) nitrat (Merc. , asam nitrat (Merc. , kloroform (Merc. , n-heksana (Merc. , alfanaftol (Merc. , raksa (II) klorida (Puda. , besi . klorida (Merc. , amil alkohol (Merc. , serbuk magnesium (Merc. , toluen (Merc. , asam klorida 2 N (Merc. , asam sulfat 2 N (Merc. , dan methanol (Merc. Sampel Sampel yang digunakan adalah daun laban yang masih segar dan berwarna hijau. Pengambilan sampel dilakukan secara purposif tanpa membandingkan tumbuhan yang sama dari daerah lain, diambil di daerah Desa Beuringin. Kecamatan Peureulak Barat. Kabupaten Aceh Timur. Provinsi Aceh. Sampel daun laban diambil kemudian dicuci dan dikeringkan selama 14 hari. Pengeringan bertujuan untuk agar simplisia tidak mudah rusak dan untuk menghidari pembusukan, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lama. Daun laban yang telah kering kemudian dihaluskan hingga berbentuk serbuk dengan menggunakan blender. Semakain kecil ukuran sampel hasil penggilingan maka semakin baik, artinya luas permuakaan sampel semakin luas, dengan permukaan yang luas maka permukaan sampel . yang bersentuhan dengan pelarut semakin luas dan dapat memecah dinding sel sehingga pelarut dapat masuk kedalam sel dan mengekstraksi kandungan kimia lebih banyak. Serbuk simplisia yang telah diperoleh sebagian dipisahkan untuk dilakakukan dengan proses ekstraksi . Determinasi Sampel Tumbuhan Sampel tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini diidentifikasi di Laboratorium Herbarium Medanense (MEDAN). Universitas Sumatera Utara, untuk memastikan keakuratan spesies yang digunakan. Pemeriksaan Makroskopik. Mikroskopik Serta Karakterisasi Simplisia Pemeriksaan karakterisasi simplisia seperti pemeriksaan makroskopis, pemeriksaan mikroskopis, untuk pemeriksaan Makroskopik dilakukan dengan mengamati bentuk, warna, dan bau dari simplisia daun laban (Vitex pinnata L. ) . Sedangkan pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap serbuk simplisia daun laban (Vitex pinnata L. Serbuk simplisia ditaburkan di atas kaca objek dan dibasahi dengan larutan kloralhidrat lalu ditutup dengan kaca penutup, kemudian di fiksasi dan diamati dibawah mikroskop . Identifikasi simplisia dilakukan dengan memeriksa pemerian dan melakukan pengamatan simplisia yang meliputi penetapan kadar air, penetapan kadar sari larut dalam air, penetapan kadar sari larut dalam etanol, penetapan kadar abu, dan penetapan kadar abu tidak larut dalam asam . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pembuatan Ekstrak Pembuatan ekstrak menggunakan metode maserasi yaitu dilakukan dengan cara simplisia daun laban diambil sebanyak 500 gram. Kemudian direndam simplisia menggunakan pelarut etanol 96% dengan 75 bagian . 750 m. dalam wadah tertutup rapat selama 5 hari terlindungi dari cahaya matahari dan sesekali diaduk kemudian disaring dan diperoleh . , ampas yang diperoleh dibilas dengan etanol sehingga diperoleh . , kemudian maserat 1 dan 2 digabung ditambahkan etanol hingga 5L, dan didiamkan selama 2 hari, kemudian enap tuangkan sehingga diperoleh ekstrak cair, kemudian diuapkan menggunakan rotary evaporator dengan menggunakan suhu 50 oC sampai mendapatkan ekstrak etanol. Kemudian esktrak ini diuapkan kembali di atas waterbath hingga diperoleh ekstrak yang kental . Skrining Fitokima Skrining fitokimia untuk mengetahui senyawa yang terdapat pada ekstrak etanol daun laban (Vitex pinnata L. ) meliputi pengujian terpenoid/steroid, alkaloid, saponin, glikosida dan minyak atsiri . Pembuatan Sediaan Patch Ekstrak Etanol Daun Laban (Vitex pinnata L. Formula Standar Patch Antiinflamasi Formula sediaan Patch dibuat dengan menggunakan formula dasar yang dapat dilihat pada Tabel 1 Tabel 1 Formula Standar Patch Antiinflamasi . Komposisi Ekstrak biji pepaya Na CMC Metil paraben Propilen glikol Etanol 70% Aquadest add Fungsi Bahan aktif Basis Pengawet Plasticizer Pelarut Pelarut Satuan Rancangan Formula Sediaan Patch Antiinflamasi Modifikasi sediaan formula sediaan Patch antiinflmasi dengan ekstrak daun laban dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel. 2 Rancangan Formula Sediaan Patch Ekstrak Etanol Daun Laban Komposisi Ekstrak etanol daun laban HPMC Metil paraben Propilenglikol Etanol 96% Aquadest add Fungsi Bahan aktif Basis Pengawet Plastisizer Pelarut Pelarut Satuan (K-) . ) Salon Keterangan: K= Kontrol negatif . asis formula sediaan Patch antiinflamasi ) = Formula sediaan Patch antiinflamasi ekstrak etanol daun laban 5% = Formula sediaan Patch antiinflamasi ekstrak etanol daun laban 7,5% = Formula sediaan Patch antiinflamasi ekstrak etanol daun laban 10% = Kontrol positif . alon pa. Prosedur Pembuatan Sediaan Patch Ekstrak etanol daun lanan dilarutkan dengan 5 ml aquadest dan 10 ml etanol . HPMC dikembangkan dengan aquadest panas dalam mortir di gerus sampai homogen . Metil paraben dilarutkan dengan propilenglikol . Masukan campuran 1 kedalam campuran 2, gerus hingga homogen, tambahkan campuran 3 digerus kembali hingga homogen. Tambahkan etanol kedalam campuran dan tambahkan aquadest hingga 100 ml gerus homogen. Kemudian tuangkan ke dalam cawan petri sebanyak Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. A5 gram. Masukkan kedalam oven dengan suhu 50 oC selama 6 jam, jika sudah kering masukkan kedalam desikator selama kurang lebih 20 jam. Patch dapat dilepas dari cetakan dan simpan dalam wadah tertutup . Evaluasi Sediaan Uji Organoleptis Pengujian organoleptik dilakukan melalui observasi visual yang mencakup beberapa aspek, yaitu bentuk, aroma, warna, serta kondisi permukaan dari Patch yang dihasilkan. Pengamatan ini dilakukan secara menyeluruh selama periode 24 jam untuk memastikan kualitas dan karakteristik fisik yang tampak dari sediaan tersebut . Uji pH Patch ditempatkan kedalam cawan porselen yang berisi 5 ml aquadest . H 6,. dan biarkan mengembang selama 2 jam pada suhu ruangan dan pH ditentukan dengan meletakkan kertas pH pada permukaan patch . Uji Keseragaman Bobot Bobot patch ditimbang masing- masing 3 patch dalam tiap formula, kemudian ditentukan nilai bobot rata- ratanya dan % Koefisien variasi. Dapat dikatakan memenuhi syarat apabila nilai % Koefisien variasi tidak boleh lebih dari 5% . Uji Ketebalan Patch Pengujian ketebalan matriks patch dilakukan dengan mengukur ketebalan menggunakan jangka sorong pada tiga titik berbeda pada setiap Patch. Tujuannya adalah untuk memperoleh nilai ketebalan ratarata dari Patch tersebut. Ketebalan patch yang dihasilkan seharusnya tidak melebihi 1 mm . Uji Kelembapan (Moisture Conten. Pengujian moisture content dilakukan dengan menimbang matriks sebagai bobot awal, kemudian matriks tersebut dimasukkan ke dalam desikator selama 24 jam. Setelah itu, matriks ditimbang kembali untuk memperoleh bobot akhir. Selisih antara bobot awal dan bobot akhir dihitung untuk menentukan persentase kandungan kelembaban. Rentang yang diinginkan adalah <10%, dengan nilai persentase kelembaban yang rendah dapat membantu melindungi sediaan patch dari potensi kontaminasi mikroba . Nilai % moisture Content dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: % ycAycuycnycycycycyce ycaycuycuycyceycuyc = berat awal Oe berat akhir y 100% berat awal Uji Ketahanan Lipat (Folding Enduranc. Uji ketahanan lipat dilakukan secara manual dengan cara melipat patch berulang kali pada satu titik yang sama sampai rusak atau dilipat hingga 200 kali . Uji Iritasi Uji iritasi dilakukan untuk menentukan apakah sediaan yang dibuat dapat menyebabkan iritasi pada kulit atau tidak. Metode yang digunakan dalam uji iritasi ini adalah uji tempel preventif (Patch tes. , di mana Patch ditempelkan di belakang daun telinga atau di lengan pada 10 orang responden. Reaksi iritasi yang muncul ditandai dengan adanya kemerahan, rasa gatal, atau pembengkakan pada area kulit yang diberikan perlakuan . Pembuatan Induksi Karagenan Keragenan 3% dibuat dengan ditimbang sebanyak 1,5 gram keragenan, lalu dimasukkan dalam labu ukur kemudian dicukupkan dengan larutan NaCl 0,9% hingga 50 ml . Keragenan dipilih karena dapat menyebabkan edema melalui tiga fase, yang pertama adalah pelepasan histamin dan serotonin yang berlangsung selama 60 menit, fase kedua adalah bradikinin yang terjadi pada 1,5 jam sampai 2,5 jam setelah Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. diinduksi dan fase ketiga terjadi pada 3 jam setelah diinduksi terjadi pelepasan prostaglandin lalu volume udema maksimal bertahan sampai 6 jam setelah diinduksi . Kriteria Hewan Uji Hewan percobaan yang digunakan adalah tikus putih jantan dengan berat badan 150-300 gram sebanyak 25 ekor terbagi dalam 5 kelompok yang masing-masing terdiri dari 5 ekor tikus. Hewan yang sehat, ditandai dengan memperlihatkan gerakan yang lincah . Penyiapan Hewan Uji Tikus jantan putih (Rottus novergicu. selama 1 minggu agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Tikus jantan putih (Rottus novergicu. diberi makan dan minum yang seragam dan dilakukan pengamatan rutin terhadap keadaan umum dan penimbangan berat badan 150200 gram . Pengelompokan Hewan Uji Pada percobaan ini hewan uji dikelompokkan menjadi 5 perlakuan yaitu F0. F1. F2. F3. F4 . Berdasarkan rumus Federer hewan uji yang digunakan pada percobaan ini adalah sebanyak 25 tikus untuk semua perlakuan. Untuk menghindari hal yang tidak di inginkan pada hewan percobaan ditambahkan 1 ekor tikus tiap perlakuannya. Jadi jumlah hewan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebanyak 30 tikus . Adapun jumlah hewan percobaan yang digunakan ditentukan dengan menggunakan rumus Federer : Ou 15 Keterangan : t = jumlah kelompok n = jumlah subjek perkelompok . Ou 15 4n-4 Ou 15 4n Ou 19 4, 75 = 5 ekor Jadi jumlah subjek perkelompok yang digunakan adalah 5 . Pengujian Antiinflamasi Pada uji antiinflamasi menggunakan tikus jantan sebanyak 25 ekor, tikus dikelompokkan menjadi 5 kelompok untuk tiap kelompok perlakuan. Proses pengujian hewan uji dicukur terlebih dahulu bulu punggungnya dengan pisau cukur, kemudian dioleskan Krim VeetA untuk merontokkan bulu, dibiarkan selama satu hari untuk menghindari adanya inflamasi yang disebabkan oleh pencukuran atau pemberian krim VeetA, sehingga pada saat pengujian inflamasi benar-benar berasal dari penginduksi karagenan. Tikus diukur tebal kulit punggungnya menggunakan jangka sorong. Tebal kulit kemudian dicatat angka sebagai tebal awal (T. yaitu tebal kulit punggung tikus sebelum diberi perlakuan. Masing-masing punggung Tikus diinduksikan secara subkutan dengan karagenan 3% sebanyak 0,2 ml. Satu jam setelah diinduksikan dengan karagen, setiap kelompok diberi perlakuan secara topikal. Kelompok uji dibagi dalam 5 kelompok dengan pemberian sediaan Patch 2X2 cm2 Kelompok I : kontrol negative formula tanpa zat aktif Kelompok II : diberi patch ekstrak etanol daun laban 5% Kelompok i : diberi patch ekstrak etanol daun laban 7,5% Kelompok IV : diberi patch ekstrak etanol daun laban 10% Kelompok V : kontrol positif diberi salon pas Perhitungan Antiinflamasi Tebal kulit punggung tikus diukur kembali menggunakan jangka sorong. Perubahan tingkat pembengkakan yang terjadi dicatat sebagai tebal kulit punggung setelah perlakuan pada awal (T. Pengukuran dilakukan setiap 1 jam selama 6 jam. Persen penurunan udem dihitung dengan rumus: Tt Oe T0 % Radang = y 100% Keterangan: : Tebal kulit punggung tikus tiap kelompok setelah diberi perlakuan. : Tebal kulit punggung tikus tiap kelompok sebelum diberi perlakuan apapun. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Kemudian efek antiinflamasi dievaluasi dengan cara dihitung persen inhibisi menggunakan rumus sebagai berikut dengan memasukkan data dari persen udem pada kontrol negatif dan persen udem pada kelompok perlakuan. % Inhibisi Radang = KN Ae KP y 100% Keterangan: : % udem pada kelompok kontrol negatif. : % udem pada kelompok perlakuan . Analisis Data Data hasil pengamatan dikumpulkan dan disajikan dalam bentuk tabel, grafik, serta analisis statistik menggunakan uji one-way ANOVA (Analysis of Varianc. Untuk menguji apakah data persentase antiinflamasi terhadap waktu terdistribusi normal, dilakukan uji Kolmogorov-Smirnov. Uji Levene Statistic digunakan untuk memeriksa homogenitas varian. Data yang memenuhi asumsi distribusi normal dan homogen kemudian dianalisis menggunakan uji ANOVA satu jalur (One-Way ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%, dilanjutkan dengan uji LSD (Least Significant Differenc. untuk mengevaluasi perbedaan yang signifikan. Semua analisis data dilakukan menggunakan program SPSS . Hasil Dan Pembahasan Hasil Identifikasi Tumbuhan Hasil identifikasi tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Medanense (MEDA). Universitas Sumatera Utara, menunjukkan bahwa spesimen yang diteliti adalah daun laban (Vitex pinnata L. Berdasarkan surat identifikasi sampel tumbuhan dengan nomor 1741/MEDA/2024, dinyatakan bahwa spesimen tersebut merupakan tumbuhan yang tepat dengan nama lokal "Daun Laban" dan diklasifikasikan dalam taksonomi sebagai berikut: Kingdom: Plantae. Divisi: Spermatophyta. Kelas: Dicotyledoneae. Ordo: Lamiales. Famili: Lamiaceae. Genus: Vitex. Spesies: Vitex pinnata L. Hasil Pemeriksaan Makroskopis Hasil pemeriksaan makroskopis simplisia daun laban (Vitex pinnata L. ) dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Hasil Pemeriksaan Makroskopis Simplisia Daun Laban No. Parameter Bentuk Warna Bau Keterangan Daun majemuk,berbentuk oval atau bulat telur pnjang daun 16 cm dan lebar daun 7 cm Coklat Khas Berdasarkan Tabel 3. Hasil pemeriksaan makroskopik terhadap simplisia daun laban menunjukkan bahwa daun laban mempunyai Daun majemuk, berbentuk oval atau bulat telur pnjang daun 16 cm dan lebar daun 7 cm, warna coklat dan mempunyai bau khas. Hasil Pemeriksaan Mikroskopis Serbuk Simplisia Hasil pemeriksaan mikroskopis terhadap serbuk simplisia daun laban (Vitex pinnata L. ) menunjukkan adanya rambut penutup, epidermis atas dengan rambut penutup, dan epidermis bawah dengan stomata dengan rambut bersisik. Hasil Karakteristik Simplisia Daun Laban Hasil pemeriksaan karakteristik serbuk simplisia daun laban (Vitex pinnata L. ) dapat dilihat pada Tabel 4. Kadar air simplisia daun laban yang diperoleh pada penelitian ini yaitu 4%, lebih kecil dari 10% dan sudah memenuhi syarat untuk simplisia daun laban. Kadar air yang melebihi 10% dapat menyebabkan ketidak stabilan sediaan obat serta media pertumbuhan yang baik untuk jamur atau serangga dan mikroba lainnya . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Tabel 4. Karakteristik Serbuk Simplisia Daun Laban No. Karakteristik Simplisia Kadar air Kadar abu total Kadar abu tidak larut asam Kadar sari larut etanol Kadar sari larut air Nilai (%) 6,73 0,393 10,63 12,46 Syarat FHI jilid II (%) O 10 O 10,2 O 3,4 Ou 7,2 Ou 10,2 Hasil Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Keterangan: = Tidak lebih dari Ou = Tidak kurang dari FHI = Syarat daun laban pada Farmakope Herbal Indonesia (FHI) Jilid II 2017 Pengujian kadar sari larut dalam air simplisia daun laban diperoleh nilai sebesar 12,46%, sedangkan kadar sari larut dalam etanol diperoleh nilai sebesar 10,63%. Hasil penetapan kadar sari larut air ini menunjukkan bahwa simplisia daun laban memiliki kadar senyawa kimia yang bersifat polar. Sedangkan sari larut etanol menunjukkan bahwa kadar senyawa larut dalam etanol baik senyawa polar dan non polar . Hasil penetapan kadar abu pada simplisia daun laban menunjukkan abu total sebesar 6,73% dan kadar abu tidak larut asam sebesar 0,393%. Penetapan kadar abu total dilakukan untuk mengetahui kandungan mineral setelah pemijaran yang meliputi abu fisiologis yang berasal dari jaringan tanaman itu sendiri yang terdapat didalam simplisia yang merupakan residu dari proses pengekstraksian. Sedangkan, penetapan kadar abu tidak larut asam dilakukan untuk mengetahui kadar zat anorganik yang tidak larut dalam asam, misalnya tanah, pasir, dan lain-lain . Hasil Ekstrak yang Diperoleh Ekstraksi dari daun laban dengan berat sampel 500 gram, menggunakan pelarut ethanol 96% sebanyak 5000 mL, menghasilkan ekstrak sebanyak 49 gram dengan persen rendamen sebesar 9,7%. Rendemen merupakan perbandingan antara hasil banyaknya metabolit yang didapatkan setelah proses ekstraksi dengan berat sampel yang digunakan. Hal ini sesuai dengan syarat rendemen ekstrask etanol daun laban menurut FHI edisi II hal 264 yaitu tidak kurang dari 8,7% . Hasil Pemeriksan Skrinning Fitokimia Setelah dilakukan uji skrinning fitokimia pada serbuk simplisia daun laban dan ekstrak etanol daun laban, maka dapat diperoleh hasil analisis senyawa kimia yang terkandung pada daun laban, dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. No. Hasil Skrining Fitokimia Serbuk Simplisia Daun Laban Dan Ekstrak Etanol Daun Laban Metabolit Alkaloid Flavanoid Tanin Saponin Steroid Triterpenoid Glikosida Simplisia Ekstrak Keterangan: = mengandung zat yang diperiksa Ae = tidak mengandung zat yang diperiksa Berdasarkan tabel 5, hasil pemeriksaan skrining fitokimia dari serbuk simplisia dan ekstrak etanol daun laban menunjukkan bahwa daun laban mengandung senyawa kimia golongan flavonoid, saponin, tanin, dan steroid. Hasil pengujian alkaloid menunjukkan tidak adanya endapan pada saat pengujian dengan reagen Mayer, bouchardat, dan dragendroff. Hal ini menunjukkan baik serbuk simplisia maupun ekstrak etanol daun laban negatif mengandung alkaloid . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Selanjutnya pada saat pengujian flavonoid baik serbuk simplisia ataupun ekstrak etanol daun laban memiliki reaksi positif dengan adanya warna jingga pada lapisan amil alkohol yang memisah, hal ini menunjukkan bahwa keduanya positif mengandung flavonoid. Selanjutnya pada saat pengujian tanin serbuk simplisia dan ekstrak etanol daun laban ketika penambahan reaksi FeCl 3 menghasilkan warna biru kehitaman, hal ini menandakakan bahwa keduanya positif mengandung tanin . Pada pengujian saponin menunjukkan keduanya mengandung saponin dikarenakan tinggi busa yang dihasilkan lebih dari 2 cm yang berarti memenuhi syarat busa saponin sudah melewati batas minimum busa yaitu 1cm . Pada pengujian steroid atau triterpenoid pada serbuk simplisia ataupun ekstrak etanol daun laban menunjukkan reaksi positif berwarna hijau, hal ini menunjukkan bahwa positif mengandung steroid. Pengujian glikosida pada serbuk simplisia dan ekstrak etanol daun menunjukkan reaksi positif dengan ditandai terbentuknya cincin berwarna ungu ketika dilakukan pengujian . Patch Ekstrak Daun Laban Formulasi Patch antiinflamasi ekstrak etanol daun laban dilakukan dengan metode solvent casting yaitu dengan cara melarutkan dan mencampurkan formula patch antiinflamasi kemudian dicetak. Dilakukan nya metode solvent casting karena merupakan metode yang cocok untuk penelitian skala laboratorium karena menggunakan alat alat yang sangat sederhana. Zat aktif yang digunakan yaitu ekstrak etanol daun laban yang diharapkan memiliki aktivitas antiinflamasi untuk mengobati peradangan dengan perbandingan konsentrasi 5, 7,5 dan 10%. Formula 0 Formula 1 Formula 2 Formula 3 Gambar 1. Patch antiinflamasi ekstrak etanol daun laban Hasil Uji Organolpetik Pemeriksaan organoleptik sediaan patch antiinflmasi meliputi bentuk, warna dan bau. Hasil uji organoleptik dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Hasil Uji Organoleptik Sediaan Formula 0 Formula 1 Formula 2 Formula 3 Bentuk Tipis dan elastis Tipis dan elastis Tipis dan elastis Tipis dan elastis Warna Putih bening Coklat Coklat sedikit pekat Coklat Pekat Bau Tidak ada bau Sedikit bau khas ekstrak daun laban Sedikit bau khas ekstrak daun laban Sedikit bau khas ekstrak daun laban Hasil uji organoleptik dilakukan menggunakan indera meliputi tekstur, warna dan bau dari sediaan Patch ekstrak daun laban (Vitex pinnata L. ), pada F0 memiliki tekstur halus, tipis, elastis, berwarna putih bening dikarenakan hanya berisi basis Patch dan bau khas. F1. F2. F3 memiliki tekstur halus, tipis , elastis dan memilki bau khas ekstrak yang sama, warna pada F1 coklat. F2 berwarna coklat sedikit pakat. F3 berwarna coklat Adanya perbedaan warna dikarenakan jumlah ekstrak pada setiap formulasi yang berbeda, dimana semakin banyak ekstrak dalam sediaan maka warna yang dihasilkan juga berbeda, sedangkan pembuatan patch saat menggunakan HPMC 1 gram memiliki tekstur yang lebih tipis, tidak lengket, susah untuk diaplikasikan dikulit, sehingga peneliti menggunakan HPMC 3% . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Hasil uji pH Hasil pengujian pH menunjukkan bahwa jika pH terlalu rendah . , dapat menyebabkan iritasi pada kulit, sedangkan pH yang terlalu tinggi . dapat menyebabkan kulit menjadi kering dan bersisik. Rentang pH pada sediaan Patch antiinflamasi ini sesuai dengan rentang pH kulit, yaitu antara 4,5 hingga 6,5. Hasil uji pH selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7. Hasil pengujian pH menunjukkan bahwa semua formula sediaan patch antiinflamasi ekstrak etanol daun laban memiliki pH yang sesuai dengan pH kulit, yaitu berada dalam rentang pH 5-6. Dengan demikian, diharapkan sediaan Patch antiinflamasi yang telah dibuat tidak menyebabkan iritasi pada kulit karena pHnya sudah sesuai dengan pH kulit . Tabel 7. Hasil Uji pH Pengujian Replika 1 Replika 2 Replika 3 Formula 0 Formula 1 Formula 2 Formula 3 Syarat 4,5-6,5 Keseragaman Bobot Pengujian keseragaman bobot dilakukan untuk memastikan kesamaan bobot pada setiap patch, yang bertujuan untuk mengevaluasi konsistensi dalam proses pembuatan sehingga menghasilkan produk yang homogen dalam hal dosis. Keseragaman yang optimal ditunjukkan dengan nilai koefisien variasi <5%. Hasil dari uji keseragaman dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Hasil uji keseragaman bobot Pengujian Replika 1 Replika 2 Replika 3 Rata Formula 0 0,031 0,034 0,032 0,032 0,001 3,85% Formula 1 0,032 0,033 0,034 0,033 0,0008 2,47% Formula 2 0,031 0,030 0,029 0,030 0,0008 2,72% Formula 3 0,034 0,032 0,031 0,032 0,001 3,85% Berdasarkan data hasil pengujian keseragaman bobot pada semua formula memiliki nilai koefisien variasi yang sesuai dengan standarnya yaitu <5% dan dapat disimpulkan bahwa bobot setiap sediaan dikatakan seragam. Bobot yang seragam dapat diasumsikan bahwa kandungan zat aktif pada sediaan terdistribusi dengan baik dan menjamin tidak ada bobot yang hilang pada proses pembuatan patch. Koefisien variasi berguna untuk mengamati variasi data atau mendistribusikan data dari rata-ratanya, dalam artian semakin kecil koefisien variasi maka data tersebut semakin homogen atau homogen. Sebaliknya, semakin tinggi koefisien variasi, semakin heterogen datanya . Hasil Uji Ketebalan Ketebalan sediaan patch memiliki peran dalam sifat fisiknya, jika patch tipis akan lebih mudah diterima dalam pemakaiannya. Hasil uji ketebalan dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Hasil Uji Ketebalan Patch Antiinflamasi Ketebalan Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 Formula 0 . Formula 1 . Formula 2 . Formula 3 . Syarat < 1mm Hasil dari uji ketebalan pada formula 0, 1, 2, dan 3 sudah memenuhi syarat karena kurang dari 1 mm dan memiliki ketebalan yang seragam. Apabila memiliki ketebalan seragam menunjukkan bahwa zat aktif Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. terdistribusi dengan baik. Ketebalan sediaan patch dapat berpengaruh pada kenyamanan sediaan pada saat Syarat untuk ketebalan sediaan patch antiinflamasi yang baik yaitu kurang dari 1 mm. Hasil ketebalan patch berkaitan dengan konsentrasi polimer HPMC, semakin tinggi konsentrasi HPMC dapat meningkatkan ketebalan patch. Apabila sediaan Patch terlalu tebal kemungkinan akan berpengaruh pada kenyamanan penggunaan sediaan dan ketika pelepasan obat akan semakin lambat sehingga mempengaruhi efek terapetik yang diharapkan. Patch yang tipis lebih menarik dan mudah diterima . Hasil uji kelembaban Uji kelembapan dilakukan untuk mengetahui tingkat penyerapan kandungan air dari sediaan patch Hasil uji kelembapan dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Hasil Uji Kelembaban Pengujian Rata -rata Formula 0 (%) 5,55 5,71 5,88 5,71 0,16 Formula 1 (%) 5,71 5,88 5,90 5,83 0,10 Formula 2 (%) 6,66 6,45 6,89 6,67 0,22 Formula 3 (%) 6,66 6,06 6,45 6,39 0,30 Syarat < 10% Hasil dari uji kelembaban semua formula sediaan patch antiinflamasi ekstrak etanol daun laban memiliki nilai persentasi yang baik karena formula 0, 1, 2, dan 3 memiliki nilai % daya serap lembap <10% . Daya serap kelembaban yang terlalu tinggi akan mempengaruhi pada sifat fisik sediaan dan akan menyebabkan sediaan terlalu basah sehingga mudah terkontaminasi oleh mikroba, dan jika kelembapan terlalu rendah dapat menyebabkan sediaan menjadi kering dan rapuh. Formula 0 terdapat perbedaan yang signifikan dengan formula 1, 2, dan 3, hal ini disebakan karena formula 0 tidak memiliki kandungan ekstrak daun laban sebagai zat aktif. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun laban yang digunakan, maka nilai persen daya serap lembap akan semakin besar hal ini disebabkan karena dipengaruhi oleh sifat higroskopisitas dari ekstrak daun laban. Pada formula 3 mengandung konsentrasi ekstrak yang paling besar, dikarenakan terlalu lama terpapar udara. Sediaan patch antiinflamasi memiliki sifat yang higroskopik dapat juga disebabkan karena bahan polimer yang dipakai yaitu HPMC yang juga bersifat higroskopik. Pengaplikasian serap kelembaban Patch pada kulit menunjukkan seberapa baik tingkat penyerapan air pada patch saat digunakan. Ketahanan kelembapan patch yang menyerap banyak akan mempengaruhi kualitas Patch, yang dapat mempengaruhi elastisitas patch sehingga dapat mudah robek . Hasil Uji Daya Lipat Pada pengujian ketahanan lipat dilakukan untuk mengetahui ketahanan sediaan patch antiinflamasi terhadap lipatan, syarat ketahanan lipat yang baik yaitu >200 lipatan. Pengujian ini juga diharapkan dapat menghasilkan sediaan patch yang elastis dan tidak mudah robek pada saat digunakan. Hasil uji daya lipat dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Hasil Uji Daya Lipat Parameter >200 lipatan Formula 0 >200 lipatan Formula 1 >200 lipatan Formula 2 >200 lipatan Formula 3 >200 lipatan Uji ketahanan lipatan pada Patch bertujuan untuk mengevaluasi elastisitas patch setelah dilipat pada titik yang sama. Kualitas ketahanan lipatan yang baik menandakan adanya konsistensi film yang baik pada patch, sehingga patch tidak rentan terhadap kerusakan selama penyimpanan maupun penggunaan. Faktor yang mempengaruhi elastisitas dan ketahanan sediaan patch yaitu dari formulasi bahan yang berfungsi sebagai plasticizer pada penelitian ini menggunakan bahan plasticizer propilenglikol. Penggunaan propilenglikol memiliki fungsi untuk meningkatkan fleksibelitas patch dan untuk mencegah film pecah atau robek . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Uji Iritasi Uji iritasi dilakukan untuk mengetahui apakah sediaan patch dapat menimbulkan iritasi seperti gatalgatal ataupun muncul kemerahan pada kulit. Uji evaluasi iritasi ini dimaksudkan untuk memeriksa kepekaan kulit terhadap suatu bahan yang dilakukan terhadap sukarelawan selama 24 jam dipunggung tangan dan pada bagian belakang telinga . Hasil uji iritasi dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12. Hasil Uji Iritasi Formula FII Fi i Sukarelawan VII Vi Berdasarkan tabel 12. Hasil yang didapat yaitu formula 0,1,2 dan 3 pada sediaan patch ekstrak daun laban yaitu 10 orang sukarelawan memberikan hasil negatif terhadap uji reaksi iritasi. Hal tersebut dapat dilihat dari reaksi kulit sukarelawan yang tidak timbul kemerahan, gatal-gatal ataupun bengkak sehingga hal ini menunjukkan bahwa patch tidak menimbulkan iritasi pada kulit. Uji Aktivitas Antiinflamasi Pada penelitian ini daun laban digunakan sebagai antiinflamasi dengan menggunakan hewan coba tikus putih jantan dengan cara mengukur kulit punggung tikus menggunakan jangka sorong, tikus banyak digunakan sebagai hewan uji karena hewan ini memiliki sistem reproduksi, pernapasan, dan peredaran darah yang menyerupai manusia. Tikus putih jantan dapat memberikan hasil penelitian yang lebih stabil karena tidak dipengaruhi oleh adanya siklus menstruasi dan kehamilan seperti pada tikus putih betina . Pengujian terakhir yang dilakukan yaitu pengujian efektivitas Patch ekstrak daun laban (Vitex pinnata ) secara topikal pada kulit punggung tikus (Rottus novergicu. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Inflammation associated oedema yaitu metode yang menggunakan jangka sorong untuk mengukur tebal kulit punggung tikus. Digunakan jangka sorong karena jangka sorong merupakan alat untuk mengukur ketebalan atau ketinggian suatu benda, terutama untuk mengukur tebal kulit punggung tikus. Parameter yang diamati pada pengujian antiudema merupakan tebal edema pada kulit punggung tikus. Tebal edema yang di maksud adalah tebal kulit punggung tikus yang meningkat dari tebal kulit punggung normal setiap 60 menit sampai 360 menit setelah diinjeksi karagenan dengan konsentrasi 3% secara subkutan. Pada penelitian ini karagenan yang digunakan adalah karagenan dengan konsentrasi 3% sebanyak 0,2 mL alasannya karena berdasarkan penelitian Octaviani Ekie . , menjelaskan bahwa hasil uji pendahuluan untuk menetapkan konsentrasi karagenan yang optimal sebagai penginduksi inflamasi, dimana digunakan karagenan dengan perbandingan konsentrasi 1,5% dan 3% . Berdasarkan hasil yang didapat karagenin 1,5% terjadi peningkatan tebal lipat kulit 2,25 kali jam pertama dan pada jam kedua terjadi peningkatan tebal lipat kulit sebesar 2,78. Sedangkan pada konsentrasi 3% terjadi peningkatan tebal lipat kulit mencit sebesar 3,13 kali pada jam pertama dan pada jam kedua terjadi peningkatan tebal kulit sebesar 2,97. Sehingga konsentrasi karagenan yang digunakan sebagai penginduksi inflamasi pada penelitian ini adalah konsentrasi 3% karena konsentrasi 3% sudah menunjukkan peningkatan tebal kulit 2-3 kali dari tebal awal kulit dan dapat mempertahankan edema selama 6 jam pengamatan. Keunggulan penggunaan karagenan dalam uji aktivitas antiinflamasi secara in-vivo yaitu mampu menstimulasi peradangan . tanpa menyebabkan cedera atau kerusakan jaringan pada tikus yang diuji, sehingga metode ini merupakan metode yang paling banyak digunakan dalam pengujian antiinflamasi secara in-vivo. Pengujian aktivitas antiinflamasi sediaan Patch daun laban dilakukan dengan menggunakan tikus putih jantan dimana tikus dibagi menjadi 5 kelompok. Pengamatan dilihat dengan adanya penurunan ukuran udema kulit punggung tikus yang mengalami penurunan selama 6 jam. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Nilai Udema Nilai udema dilihat setelah dilakukan penyuntikan karagenan 3% pada setiap tikus dan diberi sediaan patch kemudian dilihat nilai udema yang terjadi selama 60 menit sampai 360 menit. Hasil pengamatan udema dapat dilihat dari Tabel 13. Tabel 13. Hasil Pengamatan Nilai Udema A SD T . Hasil Pengamatan Nilai Udema 3,4A0,1788 3,3A0,3611 3,2A0,4498 3,2A0,1923 3,1A0,3611 3,1A0,4445 3,1A0,2073 3,0A0,3773 2,9A0,4261 2,9A0,1303 2,9A0,3498 2,8A0,4176 2,7A0,1303 2,8A0,3720 2,8A0,4166 2,6A0,1303 2,5A0,3382 2,6A0,3082 3,4A0,1949 3,3A0,2302 3,1A0,1303 3,1A0,1581 2,8A0,1673 2,7A0,1303 2,9A0,3382 2,8A0,3261 2,7A0,2727 2,6A0,2638 2,6A0,2638 2,4A0,2097 Nilai Udema . Dari tabel 13 dapat dilihat adanya kenaikan volume edema pada kulit punggung tikus pada jam pertama setelah di injeksi karagenan dan terjadi penurunan edema setelah pemberian Patch pada menit ke Jika digambarkan dengan grafik maka persentase nilai udema relatif terhadap waktu dari menit ke 60, 120, 180, 240, 300, dan 360 menit pada kulit punggung tikus dapat dilihat pada Gambar 2. Waktu . Gambar 2. Grafik Hubungan Rata - Rata Nilai Udema vs Waktu Grafik di atas menjelaskan bahwa pengukuran kulit punggung tikus pada tiap kelompok di atas, diketahui bahwa kelompok kontrol positif mengalami penurunan ukuran tebal kulit yang paling besar yaitu . ,4 mm ) diikuti dengan kelompok formula i, formula 1 . ,6 m. , formula II . ,5 m. , dan kontrol negative . ,7 m. Setelah melakukan pengukuran kulit punggung tikus, dilakukan perhitungan persen radang pada tiap kelompok perlakuan. Persentase peradang Nilai udema yang diperoleh kemudian dilakukan perhitungan persentase radang untuk melihat besarnya peradangan yang terjadi akibat jaringan jaringan yang diinduksi keragenan. Hasil perhitungan persentase radang dapat dilihat dari Tabel 14. Data pada Tabel 14, menunjukkan semua kelompok uji mengalami penurunan persen udem. Kelompok kontrol positif mengalami penurunan yang paling tinggi diantara semua kelompok uji yaitu . %). Pada kelompok Patch, dengan formula i mengalami penurunan persen udem yang paling banyak yaitu . %) diikuti formula II . %), formula I . %) dan kontrol negatif . %). Jika digambarkan dengan grafik maka persentase edema relatif terhadap waktu dari menit ke 60, 120, 180,240,300, dan 360 menit pada kulit punggung tikus dapat dilihat pada Gambar 3. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Tabel 14. Hasil Perhitungan Persentase (%) Radang A SD 63A3,1304 58A2,5099 51A5,4129 47A3,6469 39A1,4832 34A2,9495 Hasil Perhitungan Persen (%) Radang A SD 55A0,0371 42A0,0392 37A0,0141 49A0,0936 34A0,1130 31A0,024 42A0,1094 30A0,1332 25A0,0248 35A0,0934 26A0,1214 20A0,0325 26A0,0736 22A0,1137 19A0,0209 21A 0,070 17A0,1107 13A0,0300 33A0,0340 29A0,0249 25A0,0419 21A0,0265 21A0,0265 8A0,098 % Radang Waktu. Gambar 3. Grafik Hubungan Rata - Rata Persen Radang vs Waktu Grafik di atas menjelaskan bahwa persentase radang kulit punggung tikus untuk semua kelompok adanya peningkatan pada persentase radang menunjukkan bahwa terjadinya interaksi antara pengaruh waktu dan perlakuan radang. Waktu mempengaruhi proses penyembuhan pada radang, yang dapat dilihat dari persentase radang rata-rata yang perlahan menurun pada waktu tertentu. Setelah mendapatkan data persen udem, perhitungan dilanjutkan dengan mencari persen inhibisi udem pada masing-masing kelompok Persen Inhibisi Radang Persen inhibisi rata-rata radang menunjukkan kemampuan dari setiap kelompok dalam menghambat radang yang ditimbulkan akibat proses inflamasi. Dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 15. Hasil perhitungan persentase (%) inhibisi udema 12A7,5960 15A13,6 16A15,38 24A16,9068 33A19,2171 35A18,7147 Hasil Perhitungan Persen (%) Radang A SD 32A6,6513 41A2,2360 47A6,1514 41A18,1394 45A4,3081 47A5,8855 42A25,9769 48A8,2800 50A12,0499 43A26,2800 57A7,8841 53A8,4047 43A29,6283 52A5,0596 45A6,3749 48A34,5890 59A10,1074 73A4,0496 Berdasarkan data dari Tabel 15, dapat kita ketahui bahwa semua kelompok uji mengalami peningkatan nilai persen inhibisi udem. Kelompok kontrol positif mengalami peningkatan yang paling tinggi diantara semua kelompok uji yaitu 73%. Pada kelompok Patch ekstrak daun laban. Patch dengan formula i mengalami peningkatan persen inhibisi udem yang paling tinggi yaitu . % ) diikuti formula II . %) dan formula I . %). Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata persen inhibisi dapat dilihat pada Gambar grafik 4. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. persen inhibisi Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Waktu. Gambar 4. Grafik persentase inhibisi radang vs Waktu Berdasarkan grafik tersebut juga dapat dilihat konsentrasi mempengaruhi daya inhibisi edema, semakin tinggi konsentrasi patch yang diberikan semakin tinggi pula aktivitas antiinflamasi yang dihasilkan. Hal tersebut dapat terjadi akibat pengaruh kandungan zat aktif yang berada di dalam ekstrak daun laban yaitu flavonoid. Senyawa flavonoid secara khusus mampu menghentikan pembentukan dan pengeluaran zatzat yang menyebabkan peradangan. Mekanisme antiinflamasi yang dilakukan oleh flavonoid dapat melalui beberapa jalur yaitu menghambat aktivitas enzim COX dan lipooksigenase secara langsung yang menyebabkan penghambatan biosintesis prostaglandin dan leukotrien yang merupakan produk akhir dari jalur COX dan lipooksigenase sehingga dapat menghambat dan mengurangi udema. Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata persen inhibisi ekstrak daun laban konsentrasi 10% lebih besar kemampuannya dalam menghambat udema yang diakibatkan oleh proses inflamasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa konsentrasi ini memiliki kemampuan antiinflamasi yang lebih baik dalam penurunan udema. Antiinflamasi adalah golongan obat yang memiliki aktivitas menekan atau mengurangi peradangan yang disebabkan oleh berbagai rangsangan mencakup luka-luka fisik, infeksi, panas dan interaksi antigen-antibodi . Ae. Tahap akhir dari penelitian ini yaitu analisa data secara statistik, data yang dianalisa secara statistik adalah data nilai udema, persentase radang dan persentase inhibisi udema. Langkah pertama dilakukan pengujian Kolmogrov-Smirnov untuk melihat normalitas data, dan dilakukan uji Levene untuk melihat homogenitas data. Dari pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa data persentase inhibisi udema terdistribusi secara normal . Ou 0,. Langkah selanjutnya Untuk mengetahui adanya perbedaan yang bermakna atau tidak antar kelompok perlakuan dilakukan pengujian data menggunakan metode one way ANOVA, didapatkan bahwa penyembuhan radang antar kelompok perlakuan berbeda secara bermakna (P<0,. Setelah uji ANOVA dilanjutkan dengan uji tukey. Hasil uji tukey penyembuhan radang diperoleh bahwa kelompok kontrol positif . alon pa. kelompok F1. F2, dan F3 menunjukkan efek antiinflamasi berbeda bermakna (P<0,. terhadap kelompok kontrol negatif (Blank. sehingga dapat dinyatakan bahwa kelompok tersebut memiliki aktivitas antiinflamasi, dan kelompok F3 menunjukkan aktivitas antiinflamasi yang tidak berbeda bermakna (P>0,. terhadap kontrol positif . alon pa. sehingga dapat dikatakan bahwa kelompok F3 memiliki aktivitas antiinflamasi yang setara dengan kelompok kontrol positif . alon pa. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun laban dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan patch dengan konsentrasi 5%, 7,5%, dan 10%, di mana semua sediaan memenuhi persyaratan uji keseragaman bobot patch, uji pH, uji daya tahan lipat, uji ketebalan patch, uji daya serap kelembaban, dan uji organoleptis. Konsentrasi ekstrak etanol daun laban yang memberikan efek antiinflamasi terbaik dalam sediaan patch adalah 10%. Selain itu, sediaan patch yang mengandung ekstrak etanol daun laban pada konsentrasi 5%, 7,5%, dan 10% menunjukkan aktivitas antiinflamasi dengan persentase inhibisi edema berturut-turut sebesar 59%, 48%, dan 35%. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Conflict of Interest Seluruh penulis menyatakan bahwa penelitian ini bebas dari konflik kepentingan. Proses penelitian dan penulisan artikel dilakukan secara independen, tanpa campur tangan pihak luar, dan tidak ada kepentingan pribadi, finansial, maupun profesional yang memengaruhi objektivitas dan integritas penelitian. Acknowledgment Peneliti mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam pelaksanaan penelitian ini, khususnya kepada Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah Medan. Supplementary Materials Referensi