Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 135 Ae 145 STUNTING DAN RISIKO ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS: URGENSI PSIKOEDUKASI BAGI ORANG TUA Ulfy Marsyah1,Effran Zudeta2,Annisa3. Mitayani4,Anggawati Imannyah5. Elda Despalantri6 1,2,3,4,5,6Prodi S1 Pendidikan Khusus/Universitas Mercubaktijaya E-mail korespondensi: effranzudeta@mercubaktijaya. Abstrak Latar Belakang: Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat serius di Indonesia yang tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berdampak jangka panjang pada perkembangan otak dan meningkatkan risiko disabilitas. Kekurangan gizi pada 1. 000 Hari Pertama Kehidupan dapat mengganggu proses mielinisasi dan pembentukan struktur otak yang berperan dalam fungsi kognitif dan perilaku. Namun, pemahaman orang tua tentang keterkaitan stunting dengan gangguan neurodevelopment masih terbatas. Kesenjangan pengetahuan ini berpotensi melemahkan upaya pencegahan dan menyebabkan keterlambatan deteksi dini gangguan perkembangan. Tujuan kegiatan menekankan pentingnya program psikoedukasi terstruktur bagi orang tua untuk meningkatkan pemahaman holistik serta memperkuat peran keluarga dalam pencegahan stunting dan optimalisasi tumbuh kembang anak Metode Pengabdian terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kegiatan dilaksanakan di Puskesmas Kanagarian Lareh Sago Halaban 25 Februari 2025 dengan sasaran 30 peserta ibu yang memiliki balita dan anak usia sekolah. Pelaksanaan dilakukan melalui ceramah interaktif berbantuan media visual dalam dua sesi, yaitu sosialisasi hubungan stunting dengan risiko Anak Berkebutuhan Khusus dan strategi optimalisasi perkembangan anak serta manajemen sikap orang tua. Metode diskusi dan tanya jawab digunakan untuk memperdalam pemahaman peserta, didukung dengan pemberian mini book psikoedukasi. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta, ditandai kenaikan rerata nilai dari 40 pada pre-test menjadi 83,33 pada post-test. Kata Kunci: Stunting. Anak Berkebutuhan Khusus. Edukasi Orang Tua. Perkembangan Anak Abstract Background: Stunting remains a major public health issue in Indonesia, affecting not only childrenAos physical growth but also brain development and increasing the risk of disability. Nutritional deficiencies during the first 1,000 days of life can interfere with myelination and brain structure formation, which are critical for cognitive and behavioral functions. Nevertheless, parentsAo understanding of the link between stunting, neurodevelopmental disorders, and disability risk is still limited, potentially weakening prevention efforts and delaying early detection. This community service program aimed to improve parentsAo holistic understanding through structured psychoeducation to support stunting prevention and optimal child development. Methods: The program was implemented through three stages planning, implementation, and evaluation and conducted on February-25-2025, at the Kanagarian Lareh SagoHalaban Community Health Center. It involved 30 mothers with toddlers and school-aged children. Activities included interactive lectures using visual media in two sessions: education on the relationship between stunting and the risk of children with special needs, and strategies for optimizing child development and parental attitudes. These were complemented by discussions, question-and-answer sessions, and the distribution of a psychoeducational mini book. ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/rkdcwx54 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 135 Ae 145 TheResults demonstrated a significant improvement in participantsAo knowledge, with mean scores increasing from 40 on the pre-test to 83. 33 on the post-test Keywords: Stunting. Children with Special Needs. Parent Education. Child Development Pendahuluan Stunting, atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang mendesak di Indonesia. Berdasarkan data terbaru dari SSGI (Survei Status Gizi Indonesi. , prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2023 masih berada pada angka 21,5%, yang berarti satu dari lima anak balita mengalami stunting (Kemenkes RI, 2. Angka ini, meskipun menunjukkan penurunan, masih jauh di atas batas toleransi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2. yaitu 20%. Dampak langsung stunting seperti gangguan pertumbuhan fisik dan penurunan fungsi kognitif telah lama menjadi fokus utama dalam berbagai program intervensi. Aspek dampak jangka panjang stunting yang lebih kompleks dan sistemis, khususnya keterkaitannya dengan peningkatan risiko tumbuh kembang yang menyimpang hingga manifestasi sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), belum banyak mendapatkan perhatian dari kalangan orang tua dan masyarakat luas. Stunting pada masa golden period . 000 Hari Pertama Kehidupa. tidak hanya menghambat pertumbuhan tubuh, tetapi juga perkembangan otak. Gangguan perkembangan otak inilah yang menjadi titik pangkal hubungan antara stunting dan risiko munculnya berbagai kondisi disabilitas neurologis dan intelektual. Bukti-bukti ilmiah kontemporer mulai banyak mengungkap korelasi yang signifikan. Kirolos et al . menjelaskan bahwa kekurangan gizi kronis mengganggu proses mielinisasi dan arborisasi dendritik pada otak, yang dapat berdampak pada gangguan fungsi eksekutif, memori, dan kemampuan belajar. Gangguan-gangguan neurodevelopment ini merupakan landasan dari berbagai kondisi ABK, seperti Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas (GPPH/ADHD). Disabilitas Intelektual, dan Gangguan Spektrum Autisme (Black et al. , 2. Seorang anak yang mengalami stunting memiliki kerentanan yang lebih tinggi untuk menunjukkan gejala-gejala kesulitan belajar dan perilaku yang kemudian memerlukan penanganan khusus. Oberservasi dan wawancara di komunitas menyatakan pemahaman orang tua mengenai hubungan stunting dan anak berkebutuhan khusus masih sangat terbatas. Banyak orang tua yang sudah aware terhadap pentingnya mencegah stunting untuk tinggi badan dan kecerdasan, namun belum menyadari bahwa pencegahan stunting juga merupakan strategi utama dalam mencegah risiko kecacatan terselubung . idden disabilit. yang dapat mengategorikan anak mereka sebagai ABK. Kesenjangan pengetahuan ini berpotensi menciptakan dua masalah beruntun: pertama, kurangnya kewaspadaan dalam pencegahan stunting secara komprehensif. dan kedua, keterlambatan deteksi dini dan intervensi dini jika anak sudah menunjukkan tandatanda kebutuhan khusus yang dipicu oleh faktor gizi. Psikoedukasi tidak hanya sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membekali ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/ 10. 36984/rkdcwx54 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 135 Ae 145 orang tua dengan pemahaman mendalam tentang mekanisme biologis, dampak psikologis, dan langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan. Program ini bertujuan untuk mentransformasi pengetahuan orang tua dari sekadar "mencegah anak pendek" menjadi "membangun landasan neurobiologis yang optimal untuk mencegah gangguan perkembangan yang berujung pada kebutuhan khusus". Berdasarkan uraian di atas, maka perlu adanya kegiatan Psikoedukasi bagi Orang Tua tentang Dampak Stunting terhadap Risiko Anak Berkebutuhan Khusus dan Strategi Pencegahannya" ini dianggap relevan dan mendesak untuk dilaksanakan. Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas orang tua dalam memahami hubungan holistik antara gizi, pertumbuhan otak, dan perkembangan anak, sehingga pada akhirnya dapat menekan prevalensi stunting dan meminimalkan risiko munculnya Anak Berkebutuhan Khusus yang bersumber dari masalah gizi kronis. Metode Pelaksanaan Kegiatan pengabdian masyarakat dengan judul AuPsikoedukasi bagi Orang Tua tentang Dampak Stunting terhadap Risiko Anak Berkebutuhan Khusus dan Strategi PencegahannyaAy ini dirancang dengan metode psikoedukasi dan pendampingan Kegiatan ini akan dilaksanakan di puskesmas Kanagarian Lareh Sago Halaban, yang dipilih karena aksesnya yang mudah dijangkau dan menjadi pusat aktivitas masyarakat. Waktu pelaksanaan direncanakan pada hari Selasa, tanggal 25 Februari 2025, pukul 00 WIB hingga selesai. Sasaran peserta dalam kegiatan ini adalah ibu-ibu yang memiliki balita dan anak usia sekolah, kader Posyandu dan PKK di Kanagarian Lareh Sago Halaban, dengan jumlah target 30 orang. Melibatkan berbagai elemen masyarakat ini diharapkan dapat menciptakan dukungan sosial yang kuat untuk isu stunting dan ABK. ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/ 10. 36984/rkdcwx54 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 135 Ae 145 Tabel 1. Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat No Kegiatan Rencana Kegiatan Hari/tanggal Waktu Perencanaan Persamaan dengan anggota TIM pengabdi terkait dengan materi Psikoedukasi bagi Orang Tua Dampak Stunting terhadap Risiko Anak Berkebutuhan Khusus Strategi Pencegahannya Pembagian tim kerja yaitu tim penyusun mini penyusun laporan dan Tim pengabdi akan Mempersiapkan mempersiapkan segala kebutuhan untuk pengabdian kepada masyarakat seperti materi, mini book dan Tim pengabdi akan Koordinasi mendatangi Wali Nagari Kanagarian Lareh Sago Halaban untuk mempersiapkan kegiatan pengabdian kepada Masyarakat Persamaan Senin 3 Februari WIB Senin 10 Februari WIB Senin 17 Februari WIB ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/ 10. 36984/rkdcwx54 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 135 Ae 145 Pelaksanaan Pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat Psikoedukasi orang tua Monitoring Evaluasi Melakukan pretest terkait pengetahuan Pemberian Materi sebagai berikut : Psikoedukasi bagi Orang Tua tentang Dampak Stunting terhadap Risiko Anak Berkebutuhan Khusus dan Strategi Pencegahannya Melakukan post test terkait pengetahuan Evaluasi Selasa Memonitoring pengabdian kepada masyarakat dilakukan Bersama Kanagarian Lareh Sago Halaban Rabu 25 Februari WIB 26 Februari WIB Secara teknis, pelaksanaan kegiatan menggunakan kombinasi beberapa metode untuk mencapai hasil yang optimal. Ceramah interaktif yang didukung presentasi visual berupa slide PowerPoint yang kaya gambar dan video menjadi metode utama untuk menyampaikan materi pelatihan dalam dua sesi. Sesi pertama dimulai dengan melakukan sosialisasi hubungan stunting dengan anak berkebutuhan khusus. Sesi kedua tentang mengoptimalkan kemampuan anak dan menajamen sikap untuk ibu dalam menghadapi anak guna menjegah terjadinya hambatan perkembangan pada anak untuk memperdalam pemahaman, metode diskusi dan tanya jawab dipandu oleh fasilitator akan diterapkan, menciptakan ruang bagi peserta untuk mengklarifikasi mitos, bertanya, dan berbagi pengalaman secara langsung. Guna mendukung semua metode tersebut, peserta diberikan mini book psikoedukasi risiko stunting dan anak berkebutuhan khusus. Prosedur dalam kegiatan ini terdiri dari dua sesi. Sebelum melakukan kegiatan latihan ini, peneliti memberikan instrumen yang berisi 10 item kepada peserta tentang pemahaman mereka tentang AuDampak Stunting terhadap Risiko Anak Berkebutuhan Khusus dan Strategi PencegahannyaAy. Selanjutnya sesi pertama dilakukan selama 60 ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/ 10. 36984/rkdcwx54 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 135 Ae 145 menit dan sesi kedua juga dilakukan selama 60 menit. Setelah diberikan pelatihan, peserta kembali diberikan instrumen untuk melihat pengetahuan peserta setelah pelatihan dilaksanakan menggunakan format multiple choice yang memuat 10 pertanyaan yang disusun sendiri oleh tim pengabdian. Pelatihan Sesi 1 Pre test Pelatihan Sesi 2 Post test Gambar 1. Proses Pelaksanaan Pelatihan Hasil Tahap Persiapan Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan 1 bulan yang terdiri dari tahap persiapan, pelaksanaan dan pelaporan serta evaluasi. Persiapan dilakukan dengan kegiatan pembuatan proposal, mengurus perizinan dan mempersiapkan kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk pemberian Psikoedukasi Dampak Stunting terhadap Risiko Anak Berkebutuhan Khusus dan Strategi Pencegahannya di Kanagarian Lareh Sago Halaban, dengan mempersiapkan berupa powerpoint, instrumen kuisioner, mini book, serta alat-alat yang lainnya yang di butuhkan untuk kegiatan pengabdian masyarakat. Tahap Pelaksanaan Psikoedukasi bagi Orang Tua tentang Dampak Stunting terhadap Risiko Anak Berkebutuhan Khusus berlangsung lancar serta sesuai dengan susunan kegiatan yang telah direncanakan tim pengabdian. Tim pengabdian telah mampu memberikan materi hubungan stunting dengan resiko anak berkebutuhan khusus dan simulasi strategi pencegahan yang optimal serta mudah dipahami kepada para peserta, yang terdiri dari orang tua dan pengasuh. Peserta juga dapat mengikuti kegiatan dengan antusias dan interaktif dari awal hingga akhir acara. Gambar 2 Pemberian Psikoedukasi pada orangtua ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/ 10. 36984/rkdcwx54 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 135 Ae 145 Berdasarkan menggambarkan bahwa kegiatan tersebut dinilai sangat bermanfaat dan relevan dengan kebutuhan mereka. Hal ini tercermin dari peningkatan persentase pemahaman orang tua setelah mengikuti sesi psikoedukasi. Berdasarkan hasil pengolahan data, gambaran pemahaman orang tua tentang dampak stunting terhadap risiko Anak Berkebutuhan Khusus dan strategi pencegahannya sebelum dan sesudah diberikan psikoedukasi adalah sebagai berikut: Grafik 1. Hasil Pre test dan post test Psikoedukasi bagi Orang Tua tentang Dampak Stunting terhadap Risiko Anak Berkebutuhan Khusus Hasil Pre test dan post test Psikoedukasi bagi Orang Tua tentang Dampak Stunting terhadap Risiko Anak Berkebutuhan Khusus P11 P13 P15 P17 P19 P21 P23 P25 P27 P29 Pre Test Post Test Grafik 1 menunjukkan terjadinya peningkatan pengetahuan masing-masing peserta tentang Dampak Stunting terhadap Risiko Anak Berkebutuhan Khusus. Ini membuktikan dengan peningkatan nilai post -test masing-masing peserta dibantingkan dengan nilai pre test ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/ 10. 36984/rkdcwx54 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 135 Ae 145 Grafik 2 Rerata skor pre test dan post test Rata-Rata Hasil Pre test dan post test Psikoedukasi bagi Orang Tua tentang Dampak Stunting terhadap Risiko Anak Berkebutuhan Khusus Pretest Postest Rata-Rata Grafik 2 menunjukkan terjadinya peningkatan rerata pengetahuan peserta tentang AuDampak Stunting terhadap Risiko Anak Berkebutuhan Khusus dari 40 poin dan meningkat pada post-test sebesar 83,33 poin. Ini menunjukkan bahwa edukasi orang tua di Kanagarian Lareh Sago Halaban dapat meningkatkan pengetahuan peserta pada ranah kognitif. Gambar 3 Foto bersama semua orang tua peserta psikoedukasi Tahap Evaluasi dan Kelanjutan Program Evaluasi program psikoedukasi stunting dan risiko anak berkebutuhan khusus dilakukan untuk menilai efektivitas pelaksanaan serta capaian tujuan kegiatan. Evaluasi mencakup aspek proses dan hasil, yang dilihat dari tingkat partisipasi orang tua, keterlibatan aktif selama kegiatan, serta peningkatan pengetahuan dan kesadaran ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/ 10. 36984/rkdcwx54 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 135 Ae 145 mengenai stunting dan dampaknya terhadap perkembangan anak. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman orang tua terkait hubungan stunting dengan risiko gangguan perkembangan, perubahan sikap terhadap pentingnya pemenuhan gizi dan pola asuh yang tepat, serta meningkatnya kesadaran akan deteksi dini tumbuh kembang anak. Keberlanjutan program dirancang melalui penguatan peran orang tua sebagai agen utama pencegahan stunting dan risiko anak berkebutuhan khusus, didukung dengan penyediaan materi psikoedukasi yang dapat dipelajari secara mandiri dan pendampingan berkelanjutan. Selain itu, program diupayakan terintegrasi dengan layanan kesehatan dan pendidikan seperti posyandu, puskesmas, dan PAUD, serta dimonitor secara berkala untuk memastikan konsistensi penerapan pengetahuan dan praktik pengasuhan. Dengan strategi tersebut, program diharapkan memberikan dampak jangka panjang dalam menurunkan risiko stunting dan anak berkebutuhan khusus di masyarakat. Diskusi