F A K T O R I A L | Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika Volume 1. Nomor 1. Februari 2024 ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR LOGIS PADA MATERI PELUANG DI KELAS Vi MTs ISLAMIYAH TULUNGAGUNG BAURENO DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA Nella Miftakhur Rohmah*. Zaenal Arifin2. Khafidhoh Nurul Aini3 Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Islam Darul Ulum Jl. Airlangga No 3 Sukodadi Lamongan. Indonesia Email: nellamiftakhur@unisda. id1*, zaenalarifin@unisda. khafidho@unisda. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir logis siswa pada materi peluang di kelas Vi MTs Islamiyah Tulungagung Baureno ditinjau dari gaya belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian ini terdiri dari 6 siswa, dengan 2 kriteria gaya belajar kinestetik, 2 kriteria gaya belajar auditori, 2 kriteria gaya belajar visual. Pengumpulan data menggunakan angket, tes dan wawancara semi Proses analisis data meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan simpulan. Hasil dari analisis tersebut Siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik dapat memenuhi seluruh Adapun siswa yang memiliki gaya belajar visual mampu memenhi seluruh indikator. Hal ini sesuai dengan pendapat ahli matematika. Indicator kemampuan berpikir logis kerunututan berpikir dan kemampuan berargumen, kemampuan penarikan simpulan, sedangkan siswa yang memiliki gaya belajar auditori hanya memenuhi keruntutan Kata Kunci : Kemampuan Berpikir Logis. Gaya Belajar. ABSTRACT This study aims to describe students' logical thinking ability on the material of probability in class Vi MTs Islamiyah Tulungagung Baureno in terms of students' learning styles. This study uses a descriptive qualitative approach. The subjects of this study consisted of six students, with two criteria of kinesthetic learning style, two criteria of auditory learning style, two criteria of visual learning style. Data collection using questionnaires, tests and semistructured interviews. The data analysis process includes data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of the analysis Students who have a kinesthetic learning style can meet all While students who have a visual learning style are able to meet all This is in accordance with the opinion of mathematicians. Indicators of logical thinking ability are the sequence of thinking and the ability to argue, the ability to draw conclusions, while students who have an auditory learning style only meet the sequence of Keywords: Logical Thinking Skills. Learning Styles F A K T O R I A L | Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika Volume 1. Nomor 1. Februari 2024 PENDAHULUAN Matematika merupakan ilmu dasar yang pengembangan ilmu pengetahuan dan memiliki peran penting untuk menciptakan insan akademik yang siap menghadapi bermacam perkembangan . Pembelajaran matematika memiliki tujuan di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah yaitu guna mempersipkan siswa supaya mampu menghadapi kehidupan dengan keadaan yang berubah-ubah dan berkembangnya dunia, melalui latihan bertindak atas adasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efisien, dan efektif (Gumilang, 2016:. Mata pelajaran matematika yang diajarkan kepada siswa pada pendidikan formal berfungsi untuk membekali siswa agar memiliki kemampuan kopetensi yang memadai untuk menyambut perubahan jaman yang tidak dapat ditebak. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 58 Tahun 2014 tentang Kurikulum Sekolah Menengah pertama/Madrasah Tsanawiyah Tahun 2013, yang menyatakan bahwa mata pelajaran yang akan diajarkan dimulai dari sekolah dasar agar siswa memperoleh kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, inovatif dan kreatif dan kolaboratif. Individu yang mampu bertahan di era informasi dan globalisasi adalah yang memiliki kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis, dan Kemajuan ilmu pengetahuan, ilmu teknologi, tantangan dan persaingan global yang semakin ketat membuahkan manusia yang memiliki kemampuan berpikir logis, kritis serta disposisi zaman. Dalam adanya pembelajaran matematika siswa dapat melakukan aktivitas mengambil keputusan, menarik simpulan dan pemecahan memerlukan kemampuan berpikir logis menjelaskan dan bagaimana suatu dan kemampuan berpikir Lembar memeperoleh, bagaimana cara menarik simpulan dari premis yang tersedia, dan menarik simpulan berdasarkan aturan inferensi tertentu merupakan salah satu aktivitas yang dilakukan individu dalam berpikir logis (Diana dkk. , 2018:. Kemampuan berpikir logis mempunyai peranan penting dalam pembelajaran matematika di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kemampuan berpikir secara logis merupakan salah satu kemampuan yang ingin dicapai dalam F A K T O R I A L | Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika Volume 1. Nomor 1. Februari 2024 matematika di SMP, meningkatkan pemecahan masalah dan pembelajaran konsep matematika, dan meningkatkan Lembar atau prestasi belajar (Ruhama dkk, 2021:. Siswa yang dibentuk untuk cakap dibidang teknologi dan pendidikan, siswa juga dituntut guna memiliki berbagai macam kemampuan. Berpikir logis merupakan salah satu kemampuan yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Dalam menunjang kemampuan matematika dan sains, kemampuan berpikir logis sudah teruji sebagai kempuan yang sangat penting (Gumilang, 2016:. Namun pada kenyataanya kemmapuan berpikir logis matematika siswa masih Hal ini ditunjukkan dari lembar wawancara dengan guru matematika, wajar jika dilihat dari soal yang diberikan hampir sama, tetapi siswa tidak tahu cara Selain itu, waktu di sekolah yang kurang untuk berlatih memecahkan soal, karena materinya harus padat sehingga belajar matematika di sekolah tidak sesuai dengan pengembangan keterampilan. berpikir logis matematis siswa. Sebagian besar siswa menghafal rumus, yang membuat mereka tidak dapat memahami konsep matematika dan memecahkan masalah yang kompleks (Selvi, 2018:. Untuk membangun pola berpikir dalam, struktur kognitif dan membangkitkan kemampuan berpikir siswa. Setiap siswa memiliki metode belajar yang unik, yang dapat memungkinkannya untuk mudah menyerap informasi yang dipelajari dan menjawab masalah matematika dengan baik. Gaya belajar yang dimiliki antar siswa dalam menanggapi pembelajarannya disebut dengan gaya belajar. Gaya belajar merupakan cara yang dilakukan siswa dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berpikir, dan memecahkan soal yang dilakukan secara konsisten. Menurut de Porter Gaya belajar merupakan metode yang paling alami bagi setiap siswa untuk memperoleh informasi yang diterima, maka gaya belajar diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu visual, auditori dan kinestetik. Berdasarkan pengamatan peneliti di MTs Islamiah Tulungagung Baureno terungkap fakta bahwa rata-rata siswa belum sepenuhnya antusias dalam mengikuti pembelajaran, siswa kurang memiliki daya pikir logis, kegiatan pembelajaran yang dilakukan belum bisa mengembangkan kemampuan berpikir logis, dalam memahami dan mengaplikasikan konsep matematika. Hal ini tercermin dari lembar ulangan harian yang diberikan guru, sehingga nilai siswa masih dibawah KKM. I Made juga F A K T O R I A L | Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika Volume 1. Nomor 1. Februari 2024 menyatakan bahwa pada kenyataannya masih banyak siswa dengan kemampuan berpikir rendah di sekolah. Berdasarkan lembar penelitian terlihat bahwa siswa bingung dengan pengelompokan unsur unsur pada tahap awal pengerjaan tugas, kesalahan dalam mengerjakan operasi matematika dan monotonnya contoh soal yang diberikan oleh guru (Noviani dkk, 2020:. Pada penelitian ini, peneliti akan mendeskripsikan kemampuan berpikir menggunakan materi peluang guna logis siswa. Peneliti menganggap bahwa peluang merupakan salah satu pembelajaran yang sangat penting dalam matematika karena dalam sehari-hari untuk memikirkan suatu kejadian dibutuhkannya kosep dari Berdasarkan uraian latar belakang di atas penulis melakukan penelitian yang berjudul AuAnalisis Kemampuan Berpikir Logis pada Materi Peluang di Kelas Vi MTs Islamiyah Tulungagung Baureno Ditinjau dari Gaya Belajar SiswaAy. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekata kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang dilakukan menggunakan seting eksklusif yangg terdapat pada kehidupan riil . dengan maksud menginvestigasi dan mengetahui kenyataan: Penelitian kualitatif menggunakan datadata kualitatif, mengolahnya secara kualitatif . idak menggunakan rumus-rumus statisti. dan tidak melibatkan generalisasi dalam penarikan simpulannya. Data kualitatif tersebut antara lain tentang aktivitas siswa, data tentang respon atau tanggapan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran, dan semacamnya. Penelitian ini dapat diidentifikasi ciri-cirinya, yaitu. bersifat induktif. melihat setting dan respon secara keseluruhan . tergantung pada sudut pandang . validitasnya mengandalkan kemampuan peneliti, peneliti lebih banyak bertindak sebagai instrument. menekankan pada setting yang alami . mengutamakan proses daripada Lembar. tidak menggunakan probabilitas sampling. Berdasarkan ciri ciri ini dapat dikemukakan bahwa penelitian kualitatif lebih mengutamakan kedalaman pemahaman terhadap masalah daripada untuk kepentingan generalisasi (Arifin, 2012:. F A K T O R I A L | Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika Volume 1. Nomor 1. Februari 2024 Dalam penelitian ini hal pertama yang dilakukan adalah menentukan lokasi/tempat yang akan diteliti serta waktu pelaksanaan. Selanjutnya menyusun instrument penelitian meliputi: berrpikir logis dan . pengisian angket, . soal tes pedoman wawancara. Instrument penelitian kemudian divalidasi oleh validator. Angket gaya belajar untuk menentukan gaya belajar siswa , yang selanjutnya di klasifikasikan menjadi 3 kelompok, selanjutnya mengerjakan soal tes kemampuan berpikir logis materi peluang untuk mengukur kemampuan berpikir logis siswa pada tiap gaya belajar, dan wawancara sebagai penguat dari kemampuan berpikir logis siswa yang sesuai dengan indikator sebagai berikut: Tabel 1. Indikator Kemampuan Bepikir Logis Indikator Kemampuan Bepikir Logis Keruntutan berpikir Kemampuan berargumentasi Penarikan kesimpulan Setelah melakukan wawancara, selanjutnya data diolah dengan dianalisis data yang kemudian membuat simpulan dari penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemilihan subjek dalam penelitian ini tidak dipilih secara acak melainkan dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling yaitu teknik pemilihan sempel dengan menggunakan beberapa pertimbangan. Pertimbangan pertama dengan hasil dari angket gaya belajar, selain itu pemilihan subjek ini juga menggunakan pertimbangan dan saran dari guru mata pelajaran matematika. Berdasarkan hasil angket gaya belajar yang dilakukan dengan angket yang terdiri dari 30 pernyataan diperoleh: Tabel 2. Hasil Klasifikasi Gaya Belajar Kategori Gaya Belajar Banyak siswa Kinestetik F A K T O R I A L | Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika Volume 1. Nomor 1. Februari 2024 Visual Auditori Adapun hasil pengisian angket gaya belajar yang dilakukan di MTs Islamiyah Tulungagung Baureno tersebut didapatkan yang memiliki gaya belajar kinestetik terdiri dari 13 siswa, gaya belajar visual terdiri dari 8 siswa dan gaya belajar auditori terdiri dari 4 . Subjek Kategori Gaya Belajar Kinestetik Subjek dengan gaya belajar kinestetik dalam menyelesaikan soal pada pokok pembahasan peluang mampu memenuhi 3 indikator berpikir logis secara baik. Pada indikator keruntutan berpikir subjek mampu memahami informasi pda soal dengan baik, siswa mampu menyebutkan apa yang diketahui dan ditanyakan serta menghubungkan antara apa yang diketahui dan ditanyakan. Maka pada indikator tersebut dapa dicapai dengan baik. Pada indikator kemampuan berargumen subjek mampu menjelaskan langkah-langkah yang digunakan dalam mengerjakan soal yang diberikan dengan baik dan benar. Maka pada indikator tersebut dapat dicapai dengan baik dan benar. Pada indikator penarikan simpulan yang telah dikerjakan dengan baik. Maka indikator tersebut dapat dicapai dengan baik dan benar. Oleh karena itu karena subjek mampu memenuhi 3 indikator berpikir logis, peneliti menggolongkan subjek bergaya belajar kinestetik masuk kedalam tipe berpikir logis. Subjek Kategori Gaya Belajar Visual Subjek dengan gaya belajar visual dalam menyelesaikan soal pada pokok pembahasan peluang mampu memenuhi 3 indikator berpikir logis secara baik. Pada indikator keruntutan berpikir subjek mampu memahami informasi pda soal dengan baik, siswa mampu menyebutkan apa yang diketahui dan ditanyakan serta menghubungkan antara apa yang diketahui dan ditanyakan. Maka pada indikator tersebut dapa dicapai dengan baik. Pada indikator kemampuan berargumen subjek F A K T O R I A L | Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika Volume 1. Nomor 1. Februari 2024 mampu menjelaskan langkah-langkah yang digunakan dalam mengerjakan soal yang diberikan dengan baik dan benar. Maka pada indikator tersebut dapat dicapai dengan baik dan benar. Pada indikator penarikan simpulan subjek mampu memberi simpulan apa yang telah dikerjakan dengan baik. Maka indikator tersebut dapat dicapai dengan baik dan benar. Oleh karena itu karena subjek mampu memenuhi 3 indikator berpikir logis, peneliti menggolongkan subjek bergaya belajar visual masuk kedalam tipe berpikir logis. Subjek Kategori Gaya Belajar Auditori Subjek dengan gaya belajar auditori dalam menyelesaikan soal pada pokok pembahasan peluang mampu memenuhi 1 indikator berpikir logis secara baik. Pada indikator keruntutan berpikir subjek mampu memahami informasi pda soal dengan baik, siswa mampu menyebutkan apa yang diketahui dan ditanyakan serta menghubungkan antara apa yang diketahui dan ditanyakan. Maka pada indikator tersebut dapa dicapai dengan baik. Pada indikator kemampuan berargumen subjek belum mampu menjelaskan langkah-langkah yang digunakan dalam mengerjakan soal yang diberikan dengan baik dan benar. Maka pada indikator tersebut belum dapat dicapai dengan baik dan benar. Pada indikator penarikan simpulan subjek juga belum mampu memberi simpulan apa yang telah dikerjakan dengan baik. Maka indikator tersebut belum dapat dicapai dengan baik dan benar. Oleh karena itu karena subjek belum mampu memenuhi 3 indikator berpikir logis, peneliti menggolongkan subjek bergaya belajar auditori belum masuk kedalam tipe berpikir logis. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan Lembar penelitian dan pembahasan maka peneliti menarik kesimpulan mengenai AuAnalisis Kemampuan Berpikir Logis pada Materi Peluang Di kelas Vi MTs Islamiyah Tulungagung Ditinjau dari Gaya Belajar siswaAy sebagai Siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik mampu memenuhi seluruh indikator kemampuan berpikir logis yang terdiri dari 3 indikator: . keruntutan berpikir, yaitu memahami informasi yang disajikan dalam soal dan menyebutkan apa yang diketahui dan ditanya, . kemampuan berargumen. F A K T O R I A L | Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika Volume 1. Nomor 1. Februari 2024 yaitu kemampuan menjelaskan langkah langkah yang digunakan dalam menyelesaikan soal tes kemmapuan berpikir logis dan . penarikan kesimpulan, yaitu kemampuan menarik kesimpulan dari langkah-langkah yang telah dilakukan dengan benar . Siswa yang memiliki gaya belajar visual mampu memenuhi seluruh indikator kemampuan berpikir logis yang terdiri dari 3 indikator: . keruntutan berpikir, yaitu memahami informasi yang disajikan dalam soal dan menyebutkan apa yang diketahui dan ditanya, . kemampuan berargumen, kemampuan menjelaskan langkah langkah yang digunakan dalam menyelesaikan soal tes kemmapuan berpikir logis dan . penarikan kesimpulan, yaitu kemampuan menarik kesimpulan dari langkah-langkah yang telah dilakukan dengan benar . Siswa yang memiliki gaya belajar visual mampu memenuhi 1 indikator kemampuan berpikir logis yaitup keruntutan berpikir, yaitu memahami informasi yang disajikan dalam soal dan menyebutkan apa yang diketahui dan ditanya. DAFTAR PUSTAKA