Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. ISSN. Website: http://jurnal. untag-sby. id/index. php/persona Volume 6. No. Desember 2017 Volume 6. No. Desember 2017 GAYA HIDUP DAN SHOPPING ADDICTION Yanto Prasetyo E-Mail: yanto_3168@yahoo. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Abstract This study aims to determine the relationship of lifestyle with shopping addiction in students. The hypothesis proposed is that there is a link between lifestyle and student shopping addiction. The subject of this research is high school students 17 August 1945 Surabaya who is currently in class XI. The sample in this study amounted to 55 students taken using random sampling technique. The data were collected using two scales: lifestyle scale to reveal the lifestyle level of a person and the scale of shopping addiction to reveal the level of shopping addiction. Testing of major hypothesis done by using product moment analysis and show a very significant relation between lifestyle with shopping addiction of student with r xy = 0,662. p = 0. <0. When comparing the mean empirical value and the theoretical mean indicating the average lifestyle and shopping addiction of students is high. Keywords: Lifestyle. Shopping addiction Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gaya hidup dengan shopping addiction pada siswa. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan antara gaya hidup dengan shopping addiction siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa SMA 17 Agustus 1945 Surabaya yang saat ini berada di kelas XI. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 55 siswa yang diambil menggunakan Teknik random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan 2 . skala yaitu skala gaya hidup untuk mengungkap tingkat gaya hidup seseorang dan skala shopping addiction untuk mengungkap tingkat kecanduan berbelanja. Pengujian terhadap hipotesis mayor dilakukan dengan menggunakan analisis product moment dan menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara gaya hidup dengan shopping addiction siswa dengan r xy= 0,662 . < 0. Bila membandingkan nilai mean empiris dan mean teoritis menunjukkan nilai rata-rata gaya hidup dan shopping addiction siswa tergolong Kata kunci: Gaya Hidup. Shopping addiction Persona: Jurnal Psikologi Indonesia E-mail Address: jurnalpersona@untag-sby. Fakultas Psikologi Universitas Agustus 1945 Surabaya Yanto17Prasetyo Page | 71 Yanto Prasetyo Volume 6. No. Desember 2017 Pendahuluan Remaja merupakan kelompok usia yang sedang berada pada periode transisi perkembangan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang didalamnya melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, sosio-emosional (Santrock, 2. Remaja merupakan masa dimana mereka sangat memperhatikan penampilanya. Mereka juga mempunyai kelompok dengan teman sebayanya. Hal ini membuat mereka seolah berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dalam berpenampilan. Ciri-ciri remaja salah satunya adalah menarik perhatian lingkungannya. Remaja akan selalu ingin menarik perhatian lingkungan di sekitarnya agar mereka dilihat dan Pada masa ini remaja mulai mencari perhatian dari lingkungannya, berusaha mendapatkan status dan peranannya. Remaja akan mencari dan menemukan peran di luar rumah bila orang tua tidak memberi peranan lebih kepadanya karena terus menganggapnya sebagai anak kecil. Kebanyakan remaja akan berusaha mencari peran di luar rumah atau di lingkungannya dengan penampilan mereka. Remaja akan membeli suatu hal yang menurutnya membuat penampilannya baik dengan salah satu cara berbelanja di mall. Di kota besar Surabaya dengan banyak penduduk yang merupakan tempat strategis untuk membangun beberapa mall. Tujuan didirikannya mall tersebut untuk mempermudah masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun dalam hal ini banyak masyarakat salah mengartikan tujuan dari fungsi mall terutama kalangan para Menurut data yang diperoleh oleh peneliti pengunjung mall di surabaya setiap tahun mengalami kenaikan, contohnya pada tahun 2011 pengunjung mall sejumlah 45 ribu pengunjung dan pada tahun 2012 sejumlah 60 ribu pengunjung. Hal ini menujukkan bahwa ada peningkatan 15 ribu pada setiap tahun pada pengunjung mall di Surabaya. Ada sekitar 30 ribu pengunjung mall tersebut adalah kalangan remaja yang berusia sekitar 17 sampai 20 tahun . ttp://surabaya. com/2016/02/03/pengunjungmal-meningkat-hingga-50-persen-pada-perayaan-imle. Banyaknya mall yang ada di Surabaya menyebabkan banyak kalangan remaja yang melupakan tugas utamanya. Mereka juga akan selalu mengikuti perkembangan fashion di daerah tersebut. Mereka kecenderungan tidak percaya diri apabila tidak Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. Page | 122 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. Volume 6. No. Desember 2017 memakai barang-barang baru sesuai dengan trend saat itu. Mereka akan menjadi lebih percaya diri apabila mereka bisa membeli dan memakai barang-barang baru dan yang lagi trend sama dengan teman sebayanya. Seharusnya para remaja tidak beraktivtas di mall yang bukan merupakan kegiatan para remaja tersebut. Remaja seharusnya lebih banyak melakukan kegiatan yang positif untuk membantu orang tua atau belajar. Namun pada kenyataannya para remaja lebih suka menghabiskan waktu di mall bersama teman-temannya dan lebih suka berbelanja bahkan untuk membeli barang yang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Remaja sebenarnya merupakan usia dimana dia harus sudah bisa menata hidupnya untuk memandang masa depan bukan hanya sekedar bersenang senang menghabiskan waktunya untuk keperluan yang tidak berguna. Kebanyakan remaja terkena shopping addiction yaitu kecanduan dalam Kecenderungan jika tidak tidak dilakukan atau tidak terpenuhi maka remaja akan mengalami gejala seperti stress, susah berkonsentrasi, dan mudah marah. Remaja memiliki keinginan yang kuat untuk berbelanja barang-barang yang baru dan ingin memiliki benda yang dimiliki teman sebayanya karena tidak mau kalah dan tersaingi oleh Banyak kasus shopping addiction yang terjadi di indonesia. Shopping addiction merupakan hal yang berbahaya apabila penyakit tersebut diderita oleh orang yang belum bekerja. Banyak faktor yang mempengaruhi penyakit shopping addiction salah satunya adalah gaya hidup. Gaya hidup merupakan salah satu faktor yang menyebabkan seseorang menderita shopping addiction. Gaya hidup yang berlebihan atau hedonis adalah salah satu pencetus terjadinya penyakit shopping addiction. Menurut Edwards . alam Sari 2. , shopping addiction merupakan suatu aktivitas berbelanja yang bersifat abnormal, dimana konsumen memiliki kekuatan yang kuat, tidak terkontrol, kronis, dan memiliki keinginan berulang untuk berbelanja. Shopping addiction dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Sedangkan menurut Siregar . shopping addiction disebabkan oleh faktor yang dapat berasal dari diri sendiri, keluarga, atau lingkungannya. Jika dilihat dari faktor diri sendiri, pelaku shopping addiction biasanya memiliki kebutuhan emosi yang tidak terpenuhi. Mereka sering merasa kurang percaya diri dan Yanto Prasetyo Page | 123 Yanto Prasetyo Volume 6. No. Desember 2017 tidak dapat berpikir positif tentang dirinya sendiri sehingga beranggapan bahwa belanja dapat membuat dirinya menjadi lebih baik. Individu sering tidak dapat mengendalikan dirinya untuk melakukan kegiatan shopping yang berlebihan, individu merasa bahwa individu akan mengalami stress apabila kebutuhan shopping nya tidak terpenuhi. Faktor yang di sebabkan oleh keluarga, keluarga yang selalu memenuhi dan memberikan barang-barang mewah secara berlebihan akan menyebabkan anak mengalami shopping addicton. Walaupun itu bersifat sebagai hadiah untuk individu yang mampu menylesaikan tugas yang telah di berikan orang tua. Faktor yang di sebabkan oleh lingkungan, lingkungan yang memiliki perilaku konsumtif yang tinggi atau kecenderungan berbelanja tinggi tidak menutup kemungkinan untuk individu mencontoh apa yang di lakukan oleh orang-orang di Individu juga ingin memiliki sesuatu yang sama dengan apa yang di miliki oleh individu lain di lingkungan tersebut. Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara gaya hidup dengan shopping addiction. Metode Penelitian Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat korelasional, yaitu penelitian yang bertujuan untuk melihat hubungan antar variabel. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas (X), yaitu gaya hidup dan variabel terikat, yaitu shopping addiction (Y). Gaya hidup yang dimasud dalam penelitian ini merupakan pola interaksi seseorang yang diungkapkan dalam kegiatan, minat, dan pendapat. Sedangkan yang dimaksud shopping addiction adalah suatu aktivitas berbelanja yang bersifat tidak normal, dimana konsumen memiliki kekuatan yang kuat, kronis, tidak terkontrol, dan keinginan berulang untuk berbelanja. Populasi penelitian ini adalah siswa SMA 17 Agustus 1945 Surabaya yang saat ini berada di kelas XI. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 55 siswa yang diambil menggunakan Teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala gaya hidup dan skala shopping addiction. Data penelitian dianalisis dengan analisis product moment yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan uji asumsi yang meliputi uji normalitas sebaran dan uji linieritas hubungan. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. Page | 124 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. Volume 6. No. Desember 2017 Hasil Berdasarkan perhitungan uji korelasi product moment untuk mengetahui hubungan antara gaya hidup dengan shopping addiction diperoleh koefisien korelasi rxy = 0. 662 dengan tingkat signifikansi sebesar p = 0,000 . < 0,. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan yang sangat signifikan antara gaya hidup dengan shopping Rata-rata . gaya hidup adalah 127. 24 sedangkan rata-rata . shopping addiction adalah sebesar 65. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan positif antara gaya hidup dengan shopping addiction. Artinya gaya hidup seseorang dapat mempengaruhi perilaku dalam berbelanja secara berlebihan atau shopping addiction. Hasil penelitian ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi orang tua dan pendidik dalam memberikan edukasi kepada Masa remaja merupakan salah satu fase kehidupan yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Remaja adalah individu yang sedang dalam masa peralihan dari masa kanak-kanak ke arah dewasa yang meliputi semua aspek perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa depan (Gunarsa dan Gunarsa, 1. Masa remaja sebagai masa menuju pintu kedewasaan jika berhasil melewati pintu tersebut dengan baik, maka tantangan-tantangan yang ada di masa selanjutnya akan relatif lebih mudah Remaja diartikan sebagai proses tumbuh kearah kematangan (Sarwono, 1. Agar remaja memiliki gaya hidup yang sesuai dengan tuntutan sosial dan tidak terjerumus pada perilaku shopping addiction, remaja harus memperoleh Pendidikan yang baik dari orang tua dan guru di sekolah. Orang tua, guru di sekolah dan orang-orang terdekat perlu memberikan perhatian pada remaja karena perilaku shopping addiction dapat disebabkan oleh faktor yang berasal dari diri sendiri, keluarga, atau lingkungannya (Sari, 2. Individu akan mengalami kecenderungan berperilaku shopping addiction apabila individu memiliki gaya hidup yang tinggi, gaya hidup individu dapat di tentukan oleh beberapa faktor. Faktor gaya hidup dapat berasal dari diri sendiri yang menstimulus dirinya sendiri untuk berperilaku shopping addiction, keluarga yang memberikan fasilitas Yanto Prasetyo Page | 125 Yanto Prasetyo Volume 6. No. Desember 2017 untuk berperilaku shopping addiction, dan lingkungan yang sangat berpengaruh bagi perilaku shopping addiction dikarenakan adanya persaingan gaya hidup di lingkungan Gaya hidup merupakan faktor yang sangat penting untuk individu melakukan kegiatan shopping untuk memenuhi kebutuhannya dan untuk membuat dirinya tidak kalah dengan kelompok sosialnya. Hal ini diungkapkan oleh Amstrong bahwa gaya hidup seseorang terlihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan untuk mendapatkan atau menggunakan barang dan jasa, termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada penentuan kegiatan-kegiatan tersebut. Kegiatan untuk mendapatkan atau menggunakan barang dan jasa sangat menunjukkan bahwa gaya hidup sangat berhubungan dengan shopping addiction karena mendapatkan dan menggunakan barang dan jasa diperoleh dari hasil belanja. Individu-individu penderita perilaku shopping addiction akan membeli, mendapatkan, dan menggunakan barang dan jasa dengan belanja secara berlebihan untuk mendapatkan gaya hidup yang menurutnya akan dinilai baik oleh lingkungan sekitarnya. Proses pengambilan keputusan dan penentuan-penentuan kegiatan yang mempengaruhi gaya hidup juga sangat berhubungan dengan shopping addiction. Ketika gaya hidup terbentuk, individu akan mengambil keputusan dengan berbelanja secara berlebihan atau berperilaku shopping addiction agar gaya hidupnya tidak kalah dengan kelompok sosialnya dan individu tersebut juga akan menentukan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan seperti akan berbelanja untuk sebuah acara atau kegiatan tertentu agar individu tersebut tidak kalah dengan kelompok sosialnya. Oleh karena itu, diungkapkan bahwa gaya hidup berhubungan erat dengan shopping addiction. Menurut Aronson . alam Nugraheni, 2. konformitas merupakan faktor internal yang terbentuk dari lingkungan sosial remaja yang dapat mempengaruhi munculnya perilaku membeli impulsif pada remaja, karena konformitas muncul dalam pribadi remaja akibat pembelajaran dari lingkungan sosial remaja atau pengaruh dari pergaulan teman sebayanya. Lingkungan lebih mempunyai pengaruh yang besar terhadap remaja. lebih banyak mengahabiskan waktu bersama teman sebayanya dari pada dengan Hal ini mengakibatkan remaja mudah terpengaruh oleh lingkungan teman Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. Page | 126 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. Volume 6. No. Desember 2017 Siregar menambahkan bahwa gaya hidup yang terjadi pada remaja tidak hanya ditentukan oleh usia, kelompok sosial, akan tetapi lebih mengarah pada latar belakang sosial budaya, dimana mereka berada. Sosial budaya dapat mempengaruhi para remaja dalam memberikan pendapat terhadap suatu untuk kelangsungan hidupnya. Amstrong . alam Nugraheni, 2. menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang ada 2 . , yaitu faktor yang berasal dari dalam diri . dan faktor yang berasal dari luar . Pendapat Amstrong tersebut secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut: Sikap, sikap merupakan komponen individu untuk menanggapi suatu objek . Pengalaman dan Pengamatan, pengalaman di peroleh dari kejadian-kejadian masa lalu, dan pengamatan merupakan suatu hal yang di lakukan individu lain untuk merespon suatu objek . Kepribadian, perbedaan individu dengan individu lain untuk menanggapi suatu . Motif, dorongan dari dalam diri untuk merespon suatu objek . Persepsi, suatu pandangan individu untuk terhadap suatu objek yang di terimanya . Kelompok Referensi, kelompok yang memberikan pengaruh terhadap individu untuk melakukan tindakan dalam merespon objek . Keluarga, pola asuh akan mempengaruhi individu dalam merespon suatu objek yang di lihatnya . Kelas sosial, kelompok yang homogen yang mempengaruhi tingkah laku individu Simpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut: . terdapat hubungan antara gaya hidup dengan shopping addiction pada siswa Kelas 11 di SMA 17 Agustus 1945 Surabaya r xy = 0,662 p = 0,000 . angat signifika. Gaya hidup para remaja tergolong tinggi dengan rata-rata . gaya hidup adalah 127,24 sedangkan Shoping Addiction para remaja juga tergolong tinggi dengan rata-rata . shopping addiction adalah 65,29. Yanto Prasetyo Page | 127 Yanto Prasetyo Volume 6. No. Desember 2017 Meskipun penelitian yang dilakukan telah menghasilkan data awal yang sesuai dengan teori, namun peneliti akan berusaha melakukan analisa lebih terhadap aspek gaya hidup dan shopping addiction diperluas untuk kelas X dan kelas XII. Hasil penelitian ini dijadikan masukan untuk sekolah dengan membuat program Bimbingan dan Konseling (BK) yang sifatnya bisa membentuk karakter yang kuat. Sedangkan untuk para orang tua, sekolah perlu membuat program parenting . sehingga orang tua bisa mengasuh anak-anaknya agar tidak memiliki gaya hidup yang berlebihan, yang pada akhirnya perilaku shopping addiction para remaja tidak dominan sehingga tidak sampai mengganggu proses belajarnya. Referensi