LISTRA Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index || PENERAPAN PEMBELAJARAN MENULIS CERITA PENDEK DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL BERMEDIA VISUAL DI KELAS VI SEKOLAH DASAR Didik Suprapto 1,*. Sariban 2. Zaenal Arifin 3 1-3Universitas Islam Darul AoUlum Lamongan. Indonesia 1 didikalfian19@gmail. 2sariban@unisda. 3 zaenalarifin@unisda. ARTICLE INFO Article history Received: 02-01-2025 Revised: 20-01-2025 Accepted: 02-02-2025 ABSTRAK Keterampilan menulis merupakan salah satu aspek penting dalam pengembangan kemampuan literasi siswa. Dalam konteks pembelajaran di sekolah dasar, menulis cerita pendek menjadi salah satu bentuk latihan yang dapat membantu siswa mengasah kemampuan berpikir kreatif, mengorganisasi ide, serta menyampaikan gagasan dengan bahasa yang runtut dan menarik. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa menghadapi kesulitan dalam menulis cerita pendek. Tantangan utama yang sering muncul adalah minimnya ide, kurangnya kreativitas, serta kesulitan dalam mengorganisasi cerita dengan alur yang logis. Hal ini mendorong peneliti menerapkan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual bermedia visual untuk mendorong kreativitas siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Adapun untuk metode pemaparan hasil penelitian adalah menggunakan deskriptif-analitis. Hasil pengamatan terkait keaktifan siswa . menunjukkan bahwa keaktifan siswa dalam pembelajaran menulis cerita pendek menggunakan pendekatan kontekstual bermedia visual mencapai 91,4%. Persentase ini menunjukkan bahwa dari 3 pertemuan tersebut siswa mendominasi sebagian besar dari aktivitas-aktivitas . Hasil pengamatan terkait prestasi belajar dari 18 siswa kelas VI, sebanyak 15 siswa mendapatkan nilai diatas 75. Hal ini menunjukkan bahwa nilai siswa meningkat. Hasil Pengamatan terkait respon siswa, dapat diketahui bahwa siswa tertarik dan terbantu dengan diterapkannya pendekatan kontekstual bermedia visual pada pembelajaran cerita pendek Kata kunci: Menulis cerita pendek. Pendekatan kontekstual. Media visual. ABSTRACT Writing skill is one of the important aspects in developing students' literacy skills. In the context of elementary school learning, writing short stories is one form of exercise that can help students hone their creative thinking skills, organize ideas, and convey ideas in coherent and interesting language. However, the reality in the field shows that many students face difficulties in writing short stories. The main challenges that often arise are the lack of ideas, lack of creativity, and difficulty in organizing stories with a logical flow. This encourages researchers to implement learning using a contextual approach with visual media to encourage student creativity. The method used in this study is qualitative. As for the method of presenting the research results, it uses descriptiveanalytical. The results of observations related to student activity . showed that student activity in learning to write short stories using a contextual approach with visual media reached 91. This percentage shows that from 3 meetings, students dominated most of the learning activities. The results of observations related to learning achievement from 18 students of sixth grades, as many as 15 students got scores above 75. This shows that student scores have increased. Observation results regarding student responses show that students are interested and helped by the application of a contextual approach using visual media in learning short stories. Keyword: Short Story Writing Learning. Contextual Approach. Visual Media. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index listra@unisda. Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Pendahuluan Keterampilan menulis merupakan salah satu aspek penting dalam pengembangan kemampuan literasi siswa. Dalam konteks pembelajaran di sekolah dasar, menulis cerita pendek menjadi salah satu bentuk latihan yang dapat membantu siswa mengasah kemampuan berpikir kreatif, mengorganisasi ide, serta menyampaikan gagasan dengan bahasa yang runtut dan menarik (Sutardi & Ernaningsih, 2. Sebagai salah satu wujud ekspresi literasi, menulis cerita pendek juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi imajinasi dan pengalaman pribadinya, sehingga keterampilan ini perlu ditanamkan sejak dini (Selirowangi et al. , 2. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa menghadapi kesulitan dalam menulis cerita pendek (Khobatsaniyah et al. , 2. Tantangan utama yang sering muncul adalah minimnya ide, kurangnya kreativitas, serta kesulitan dalam mengorganisasi cerita dengan alur yang logis (Miftachul Hidayat et al. , 2. Kesulitan ini dapat berdampak pada rendahnya kualitas tulisan siswa dan berkurangnya minat mereka terhadap aktivitas menulis (Bisarul Ihsan. Zuli Dwi Rahmawati, 2. Salah satu penyebab utama dari masalah ini adalah pendekatan pembelajaran yang kurang inovatif, di mana siswa sering kali hanya diarahkan untuk menulis berdasarkan instruksi yang kaku tanpa pendampingan yang menarik atau relevan dengan kehidupan mereka. Selain itu, penggunaan media pembelajaran yang relevan dan menarik masih terbatas dalam proses pembelajaran menulis. Pembelajaran yang dominan berbasis teks cenderung membuat siswa merasa bosan dan kurang termotivasi untuk berpartisipasi aktif (Marzuqi et al. , 2. Padahal, pemanfaatan media visual, seperti gambar, video, atau ilustrasi, dapat menjadi sarana yang efektif untuk merangsang ide dan kreativitas siswa dalam menulis. Dalam hal ini, pendekatan kontekstual dapat menjadi strategi yang potensial untuk Pendekatan ini menempatkan siswa dalam situasi belajar yang relevan dengan pengalaman sehari-hari. Sehingga pembelajaran ini menjadi lebih bermakna. Dengan mengintegrasikan media visual ke dalam pendekatan kontekstual, siswa dapat lebih terlibat dalam proses pembelajaran dan lebih mudah memahami hubungan antara pengalaman mereka dengan tugas menulis. Potensi ini membuka peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran menulis cerita pendek, baik dari segi proses maupun hasil yang dicapai oleh Selain itu, penggunaan media visual dalam pembelajaran dapat pula menjadi alternatif Media visual adalah salah satu bentuk media komunikasi yang menggunakan elemen-elemen visual untuk menyampaikan informasi, pesan, atau gagasan kepada audiens. Media ini memanfaatkan gambar, grafik, warna, simbol, dan elemen visual lainnya untuk menarik perhatian dan mempermudah pemahaman pesan. Media visual sangat penting dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, pemasaran, desain grafis, dan hiburan. Media Visual antara lain adaalah :. Poster: Digunakan untuk menyampaikan informasi atau promosi dalam bentuk cetak atau digital. Infografis: Kombinasi teks dan visual untuk menyajikan data atau informasi secara ringkas dan menarik. Video: Media dinamis yang menggabungkan gambar bergerak, teks, dan suara. Fotografi: Gambar statis yang digunakan untuk mengomunikasikan pesan atau memperkuat narasi. Ilustrasi dan Kartun: Digunakan dalam buku, komik, atau iklan untuk menjelaskan konsep atau cerita. Presentasi PowerPoint: Biasanya digunakan dalam pendidikan atau bisnis untuk memvisualisasikan ideide secara sistematis. Animasi: Media visual yang bergerak, digunakan dalam film, iklan, dan Pembelajaran yang menyenangkan dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang positif. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk mempertimbangkan strategi-strategi ini dalam merancang pembelajaran agar siswa dapat merasa senang dan terlibat aktif dalam pembelajaran. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah dengan pendekatan kontekstual. Hosnan . Mendefinisikan secara bahasa kata contextual berasal dari kata contex yang berarti Auhubungan, konteks, suasana, atau keadaanAy. Dengan demikian, contextual diartikan Auyang berhubungan dengan suasana . Ay. Sehingga. Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang berhubungan dengan Penerapan Pembelajaran Berdifereniasi pada Pembelajaran Memahami Informasi Teks Certia Sederhana di Kelas 5 Sekolah Dasar Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. suasana tertentu. CTL adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun polapola yang mewujudkan makna. CTL adalah suatu sistem pengajaran yang cocok dengan otak karena menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa. Dengan memanfaatkan kenyataan bahwa lingkungan merangsang sel-sel saraf otak untuk membentuk jalan, sistem ini memfokuskan diri pada konteks, pada hubungan-hubungan (Jonhson, 2009:. Tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Efektivitas penerapan pembelajaran menulis Cerita Pendek dengan Pendekatan Kontekstual Bermedia Visual di Kelas VI SDN 1 Putatkumpul Kecamatan Turi Lamongan ditinjau dari aktivitas siswa, prestasi belajar siswa dan respon siswa. Metode Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan deskriptif-analitis untuk memaparkan hasil penelitian. Data dalam penelitian ini diambil dari data aktivitas siswa, hasil belajar dan respon siswa saat pembelajaran menulis cerita pendek menggunakan pendekatan kontekstual bermedia visual. Penelitian ini menggunakan beberapa teknik dalam pengumpulan data yaitu observasi saat pembelajaran sebanyak 3 pertemuan, dokumentasi berupa lembar hasil kerja siswa, tes untuk mengukur hasil menulis cerita pendek siswa dan angket untuk mendapatkan respon dari siswa terkait Adapun instrumen-instrumen yang digunakan dalam melaksanakan penelitian ini yaitu lembar observasi kegiatan siswa dan guru, dokumentasi berupa video atau foto saat pembelajaran, lembar kerja menulis cerita pendek dan lembar angket respon siswa pada akhir pembelajaran materi cerita pendek. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dianalisis dengan deskriptif persentase Analisis aktivitas siswa dalam pembelajaran dianalisis dengan mengklasifikas tingkat keaktfan dalam kategori dilakukan dan tidak dilakukan. Selanjutnya untuk mengetahui keaktifan siswa, dibutuhkan rumus sebagai berikut: Keaktifan = aktivitas yang dilakukan x 100% Jumlah aktivitas keseluruhan Selanjutnya untuk menganalisis hasil tes siswa. Penilaian didasarkan pada 4 aspek yaitu kreativitas . de cerit. , kesesuaian dengan media visual, struktur cerita . wal, konflik, akhi. Penggunaan bahasa yang jelas dan sesuai. sesuai kriteria penilaian yang ditetapkan dalam RPP. Untuk analisis hasil tes siswa dilakukan dengan cara mengubah skor yang diperoleh siswa menjadi nilai siswa. Dapat dituliskan dengan rumus: ycAycnycoycaycn = ycIycoycuyc ycycaycuyci yccycnycyyceycycuycoyceEa ycu100 ycIycoycuyc ycoycaycoycycnycoycayco Setelah nilai siswa diketahui, peneliti menjumlahkan nilai yang diperoleh siswa selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa kelas tersebut sehingga diperoleh nilai rata-rata. Untuk menghitung rata-rata kelas dihitung dengan menggunakan rumus : OcycU OcycA Keterangan X : Nilai rata-rata Ocx : Jumlah semua nilai siswa OcN : Jumlah siswa Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar, bahwa tingkat pencapaian untuk tes formatif adalah 75%, maka peneliti menganggap bahwa Penggunaan media Visual dengan pendekatan kontekstual dikatakan berhasil dalam menulis Cerita Pendek, jika siswa mampu menyelesaikan mempraktikan dan memenuhi ketuntasan belajar yaitu minimal 75% dengan kriteria tingkat keberhasilan belajar yang dikelompokkan ke dalam lima kategori berikut: ycU= Penerapan Pembelajaran Berdifereniasi pada Pembelajaran Memahami Informasi Teks Certia Sederhana di Kelas 5 Sekolah Dasar Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Tabel 1. Tingkat Keberhasilan Belajar Tingkat keberhasilan (%) Arti 91-100% Sangat Tinggi 71-90% Tinggi 41-70% Cukup 21-40%. Rendah <20% Sangat Rendah Tabel 1 yang tercantum di dalam pernyataan tersebut adalah tabel yang memberikan penjelasan tentang tingkat keberhasilan belajar dalam persentase dan arti yang terkait. Tabel tersebut memperlihatkan lima kategori tingkat keberhasilan belajar, yaitu sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, dan sangat rendah. Setiap kategori memiliki rentang persentase yang sesuai, dimulai dari 91-100% untuk tingkat keberhasilan sangat tinggi, hingga di bawah 20% untuk tingkat keberhasilan sangat rendah Tabel ini digunakan sebagai acuan untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar siswa berdasarkan pencapaian persentase yang mereka raih. Dengan menggunakan tabel ini, peneliti dapat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa dalam konteks penggunaan media visual dengan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran menulis Cerita Pendek Dalam hal ini, jika siswa mampu mencapai tingkat ketuntasan minimal 75%, maka pendekatan kontekstual dianggap berhasil dalam mencapai tujuan pembelajaran Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Untuk memastikan penerapan pembelajaran menulis cerita pendek menggunakan pendekatan kontekstual dan bermedia visual, perlu untuk meninjau aktifitas yang diterapkan dalam kelas. Aktivitas siswa ini ditinjau oleh peneliti selama 3 pertemuan. Adapun aspek-aspek yang diamati yaitu sesuai dengan aktifitas yang dirancang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hasil keaktifan siswa pada pembelajaran menulis cerita pendek menggunakan pendekatan kontektual bermedia visual dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2. Aktivitas siswa Kegiatan yang Pertemuan Jumlah Kegiatan Persentase Total 91,4% Tabel 2 menunjukkan bahwa siswa melakukan 11 aspek dari 13 aspek yang diamati pada pertemuan pertama. Keaktifan siswa pada pertemuan ini mencapai 85%. Pada pertemuan kedua, siswa melakukakan 11 kegiatan dari 12 kegiatan dengan presentase capaian 92%. Sedangkan pada pertemuan ketiga, siswa 100% melakukan semua kegiatan. Keaktifan siswa pada pertemuan 1-3 mencapai 91,4%. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa telah melakukan sebagian besar kegiatan yang tertera pada RPP. Selanjutnya, hasil prestasi siswa dapat dilihat tabel berikut dibawah ini. Total nilai siswa Table 3. Hasil prestasi siswa Nilai rata-rata siswa Persentase capaian 83,3% Penerapan Pembelajaran Berdifereniasi pada Pembelajaran Memahami Informasi Teks Certia Sederhana di Kelas 5 Sekolah Dasar Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Berdasarkan hasil nilai menulis cerita pendek, diketahui bahwa dari 18 siswa kelas VI, sebanyak 15 siswa mempunyai nilai diatas 75. Hal itu berarti nilai siswa-siswa tersebut memenuhi Kriteria ketuntasan minimal (KKM) pelajaran Bahasa Indonesia. Sedangkan sebanyak 3 siswa mendapatkan nilai dibawah 75 yang berarti belum memenuhi KKM. Total nilai yang diperoleh siswa kelas VI yaitu 1. 440 dari 18 siswa. Rata-rata nilai menuliscerita pendek kelas VI adalah 80. Perhitungan persentase nilai siswa kelas VI adalah 83. Hal ini dapat disimpulkan bahwa siswa kelas VI SDN 1 Putatkumpul Turi tuntas dalam pembelajaran menulis cerita pendek menggunakan pendekatan kontekstual bermedia visual. Selanjutnya untuk hasil respon siswa terhadap pembelajaran menulis cerita menggunakan pendekatan kontekstual bermedia visual dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4. Respon siswa STS Berdasarkan tabel diatas, siswa memberikan respon paling banyak pada opsi Ausangat setujuAy yaitu mendapatkan jumlah 126. Pada opsi AuSangat SetujuAy mendapatkan jumlah 92. Sedangkan jumlah respon untuk opsi AuTidak SetujuAy adalah 6 dan jumlah respon pada opsi AuSangat tidak setujuAy adalah 2. Hasil respon siswa menunjukkan bahwa siswa memberikan respon positif terhadap pembelajaran menulis cerita pendek menggunakan pendekatan kontekstual bermedia visual. Pembahasan Aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa kelas VI SDN 1 Putatkumpul dalam pembelajaran menulis cerpen telah memenuhi komponen-komponen pendekatan kontekstual. Komponen Ae komponen tersebut adalah contructivism, inquiry learning. Questioning, learning community, modeling, reflection dan authentic assessment (Nurhaedah, 2012:. Setiap pertemuan guru memberikan aktivitas-aktivitas yang mencakup seluruh komponen pendekatan kontekstual Konsep pembelajaran Inquiry telah dilakukan siswa pada setiap pertemuan. Aktivitas pertama yaitu siswa diberikan sebuah cerita pendek untuk dianalisis unsur-unsur Pada pertemuan ke dua, siswa diberikan sebuah cerita pendek untuk dianalisis struktur teks dari cerita tersebut. Pada pertemuan ketiga, siswa diberikan sebuah puzzle cerita untuk disusun menjadi sebuah cerita yang mempunyai alur. Ketiga aktivitas ini dirancang agar siswa dapat menemukan informasi-informasi sendiri yang terkandung dalam cerita pendek. Ketiga kegiatan ini sesuai dengan konsep inquiry learning yaitu pengetahuan yang tidak diperoleh dari hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri (Nurhaedah, 2012:. Konsep ini juga dapat membantu siswa untuk berfikir kritis untuk menganalisis cerita pendek berdasarkan unsur-unsurnya (Ida mutiawati, 2. Pada setiap pertemuan, siswa juga melakukan aktivitas dengan konsep kontruktivisme yang bertujuan untuk membangun pengetahun mereka sendiri melalui kegiatan tersebut (Hardianti et al. , 2. Pada pertemuan pertama, sebelum diberikan penjelasan mengenai apa yang akan dipelajari, siswa diajak untuk menonton video cerita pendek. Melalui cerita tersebut, siswa diberikan pertanyaan mengenai informasi apa yang didapat saat menonton video Pada pertemuan berikutnya siswa diberikan potongan cerita pendek. Selanjutnya siswa diminta untuk melanjutkan cerita tersebut sesuai dengan imajinasinya masing-masing. Pada pertemuan ke-tiga, siswa diajak untuk menganalisa cerita berdasarkan unsur Dalam teori kontruktivisme. Aktivitas-aktivitas tersebut bertujuan untuk memberikan kebebasan terhadap siswa yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitas dari Penerapan Pembelajaran Berdifereniasi pada Pembelajaran Memahami Informasi Teks Certia Sederhana di Kelas 5 Sekolah Dasar Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. guru (Depin et al. , 2024:. Dalam hal ini, siswa disediakan cerita pendek oleh guru dan diminta untuk mencari informasi atau menganalisis cerita itu sendiri. Dalam pembelajaran menulis cerita pendek menggunakan pendekatan kontekstual, siswa melakukan aktivitas yang mengajak mereka untuk bertanya. Kegiatan ini adalah menggunakan konsep Quetioning. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa (Hamruni. , 2023:. Seperti yang telah dilakukan siswa pada pertemuan ke 2 yaitu bertanya kepada teman yang telah mempresentasikan mengenai cerita yang dibaca dan dianalisa. Selanjutnya, konsep dari pendekatan kontekstual yang dilakukan oleh siswa pada pembelajaran menulis cerita pendek adalah learning community. Model pembelajaran ini adalah proses pembelajaran yang hasil pembelajarannya dari kerja sama dengan orang lain (Sugrah, 2024: . Pada setiap pertemuan, siswa diminta bekerja dalam kelompok. Aktivitas yang dilakukan pada pertemuan pertama adalah bekerja dalam kelompok untuk menganalisa unsur intrinsik dari sebuah cerita. Pada pertemuan kedua, siswa bekerjasama dalam meneruskan sepenggal cerita menjadi sebuah alur cerita yang lengkap. Selanjutnya pada pertemuan ketiga, siswa bekerjasama dalam menyelesaikan puzzle cerita. Seluruh kegiatan ini bertujuan untuk melatih siswa berbagi ide, pengalaman, pengetahuan, bekerjasama dan saling berkomunikasi sehingga terjadi interaksi yang positif antar siswa (Kustandi et al. , 2021:. Konsep pendekatan kontekstual selanjutnya yang telah diterapkan untuk pembelajaran siswa adalah modeling. Pada pertemuan pertama, guru memberikan contoh membacakan sebuah cerita pendek dan menganalisisnya agar siswa memahami seperti apa cerita pendek dan unsur-unsurnya. Namun sebelumnya, siswa juga telah diputarkan video cerita pendek sebagai sebuah contoh (Mode. Modeling tidak hanya bisa dilakukan oleh guru tetapi bisa dari sumber lainnya (Hamruni et al. , 2023:183. Konsep pendekatan kontekstual selanjutnya yang telah diterapkan pada pembelajaran menulis cerita di SDN 1 Putatkumpul adalah reflection dan authentic assessment. Siswa selalu diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok ke depan kelas sebagai refleksi hasil kerja kelompok. Kegiatan ini telah diterapkan dalam setiap pertemuan pembelajaran materi menulis cerita pendek. Selain itu, pada setiap akhir pembelajaran, siswa diajak untuk merefleksikan apa yang telah dipelajari. Hal ini bertujuan untuk mengevaluasi diri, koreksi, perbaikan, atau peningkatan diri (Hasnawati, 2020:. Konsep pendekatan kontekstual yang terakhir adalah authentic assessment. Setiap tugas yang dikerjakan siswa baik individu maupun kelompok diberikan penilaian oleh guru. Adapun format dan rubrik penilaian dari seluruh kegiatan dapat dilihat pada lampiran Penilaian ini digunakan untuk mengukur perkembangan siswa kelas VI SDN 1 Putatkumpul dalam materi menulis cerita pendek dengan pendekatan kontekstual. Penggunaan penilaian autentik ini juga sebagai evaluasi hasil pembelajaran siswa di sekolah dan untuk mengetahui seberapa pembelajaran yang dilakukan berjalan dengan efektif . ei et al. , 2. Selain menggunakan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis cerita pendek, guru juga menggunakan media visual dalam bentuk video dan Pada pertemuan pertama, siswa diberikan media video dan gambar untuk memperkenalkan materi cerita pendek. Hal ini bertujuan untuk membuat siswa lebih tertarik dalam memahami materi Kasnaji, 2018:. Selain itu, siswa juga telah diberikan rangsangan gambar terkait kehidupan sehari-hari untuk membuat siswa lebih mudah dalam membuat sebuah cerita. Penerapan Pembelajaran Berdifereniasi pada Pembelajaran Memahami Informasi Teks Certia Sederhana di Kelas 5 Sekolah Dasar Listra : Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Februari 2025, pp. Berdasarkan data hasil tes siswa juga menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual dan penggunaan media visual dapat memberikan peningkatan terhadap kemampuan siswa dalam menulis cerita pendek. Hal ini dikarenakan aktivitas dalam penggunakan pendekatan kontekstual dapat membuat siswa aktif, tidak bosan, termotivasi dan selalu terkoneksi dengan pembelajaran (Hardianti et al. , 2020:. Selain itu, penggunaan media visual yang bervariasi juga dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar (Nurhaedah, 2012:. Hasil angket pada respon siswa juga menunjukkan bahwa siswa tertarik dan termotivasi dengan aktivitas-aktivitas yang diterapkan dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Selain itu, siswa juga sangat antusias dengan kegiatan yang menggunakan media visual seperti gambar dan video. Namun, ada beberapa siswa yang merasa tidak tertarik dengan kegiatan yang telah diterapkan. Seperti pada kegiatan siswa diberi pertanyaan oleh guru dan Ketika siswa diajak maju untuk membacakan cerita. Siswa merasa tidak cukup percaya diri dengan kemampuannya. Alasan lainnya adalah siswa belum bisa adaptasi dengan kegiatan yang melibatkan keaktifan siswa. Siswa masih terbiasa dengan pendekatan tradisional dimana guru berperan lebih aktif daripada siswa. Hal ini adalah efek dari transisii dari pendekatan tradisional kepada pendekatan kontekstual (Magdalena, 2018:. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian pembelajaran yang telah dilakukan selama 3 pertemuan dalam pelajaran Bahasa Indonesia, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran materi menulis cerita pendek menggunakan pendekatan kontekstual bermedia visual memberikan efek positif pada keaktifan siswa dalam pembelajaran, kemampuan siswa dalam menulis cerita pendek dan keantusiasan dan motivasi siswa dalam pembelajaran menulis cerita pendek. Siswa menerapkan sebagian besar aktivitas dalam pembelajaran yang telah dirancang sesuai dengan pendekatan kontekstual dan menggunakan media visual. Dengan diterapkannya aktivitasaktivitas pembelajaran tersebut, hasil nilai menulis cerita pendek siswa meningkat dan siswa termotivasi dengan kegiatan-kegiatan tersebut. Daftar Pustaka