Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 250 - 261 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/457 Manajemen Fisioterapi Pada Post-Op Stabilisasi Posterior: Laporan Kasus Physiotherapy Management In Post-Op Posterior Stabilsasion: A Case Report *Ambar Widyasari Maharani. Faiqah Nur Fadhila. Yery Mustari. Irianto a Universitas Hasanuddin Email Korespondensi: *ambarwidyasarim@gmail. Diterima :06 Januari 2025 | Ditinjau: 11 Januari 2025 | Disetujui: 15 April 2025 | Publikasi Online: 06 Juni 2025 ABSTRAK Fraktur burst terjadi akibat tekanan langsung pada corpus vertebralis, sehingga menyebabkan tulang hancur dan fragmen tulang berpotensi terdorong masuk ke dalam kanalis spinalis, umumnya disebabkan trauma dengan beban yang tinggi seperti jatuh dari ketinggian dan kecelakaan kendaraan bermotor. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui manajemen fisioterapi terhadap gangguan fungsi gerak dan aktivitas fungsional berupa nyeri, muscle weakness, limitasi activity daily living et causa post op stabilitas posterior. Metode yang digunakan adalah metode Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin sejak 06 September Ae 12 Oktober 2024. Pasien yang diambil oleh peneliti merupakan pasien post-op stabilitas posterior yang bernama Tn. BI dengan usia 26 tahun yang merupakan seorang petani cengkeh. Pasien mengeluhkan nyeri tidak menjalar pada area post operasi, dan keram pada kedua kaki. Pasien dioperasi stabilitas posterior tanggal 2 september setelah terjatuh dari pohon cengkeh setinggi 10 meter. pasien diberikan intervensi fisioterapi untuk mengatasi nyeri, muscle weakness, hiposensasi L5 Ae S1, limitasi ROM, gangguan pola napas dan limitasi ADL. Assesment yang dilakukan adalah anamnesis pasien, inspeksi, pengukuran ROM, pengukuran nyeri (VAS), pengukuran MMT, tes sensorik dan circumferentia. Intervensi yang diberikan berupa NMES. Static contraction. Exercise Therapy. Core Strenghthening. ADL Exercise. Proprioseptif Exercise. Strengthening Exercise. Pasien juga diberikan home program agar dapat melakukan latihan mandiri di rumah. Kata kunci : Fraktur burst. post-op. stabilisasi posterior ABSTRACT Burst fractures occur due to direct pressure on the vertebral corpus, causing the bone to shatter and bone fragments potentially be pushed into the spinal canal, generally caused by trauma with high loads such as falls from a height and motor vehicle accidents. The purpose of this study was to determine the physiotherapy management of impaired movement function and functional activities in the form of pain, muscle weakness, limitation of daily living activity et causa post op posterior stability. The method used is a descriptive method. The study was conducted at the Hasanuddin University Hospital from September 6 Ae October 12, 2024. The patient taken by the researcher was a post-op posterior stability patient named Mr. BI aged 26 years is a clove farmer. Patient feel pain at the postoperative area, and cramps in both legs. The patient underwent posterior stability surgery on September 2 after falling from a 10-meter clove tree. The patient was given physiotherapy intervention to overcome pain, muscle weakness. L5-S1 hyposensation. ROM limitation, breathing pattern disorders and ADL The assessments include history taking, inspection. ROM measurement, pain measurement (VAS). MMT, sensory test and circumferential. The interventions include NMES. Static contraction. Exercise Therapy. Core Strengthening. ADL Exercise. Proprioceptive Exercise. Strengthening Exercise and home program. Keyword : Burst fracture, physiotherapy, post-op posterior stabilisation PENDAHULUAN Vertebra memiliki peran sebagai penyangga beban aksial dan memiliki rentang gerak multidimensi yang membuat vertebra rentan terhadap cedera. Gerakan yang dapat terjadi di vertebra meliputi fleksi, ekstensi, lateral fleksi dextra dan sinistra, rotasi dextra dan sinistra. Otot pada vertebra meliputi quadratus lumborum, psoas mayor, otot perut, dan multifidi berperan penting dalam memfasilitasi gerakan rotasi dan fleksi lateral pada lumbal . Bagian anterior pada vertebra berperan dalam menyangga beban serta mengabsorbsi getaran, sedangkan pada bagian posterior vertebra berfungsi sebagai fulkrum serta melindungi saraf. Additional authors . n order of contributio. : Ummulkhairiyah Ikhlasun Lum. Anjaswari Resti Arimbi. Dea Angreni Mustamin. Dewi Masitoh. Mutia Puspita Alman. Nurliya Dwi Ichsanti Prawito. Nur Chaerani. Siti Ummu Jamilah Manajemen Fisioterapi Pada Post-Op Stabilisasi Posterior | Ambar Widyasari Maharani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 250 - 261 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/457 Bagian posterior terdiri dari 2 arcus vertebrae, 2 processus transvercus, 1 processus spinosus dan 2 buah sendi facet yang dapat mempengaruhi pergerakan tulang belakang serta membagi beban kompresif . Interaksi antara otot dan struktur sendi berkontribusi terhadap gerakan dan stabilitas lumbal saat melakukan fleksi lateral dan rotasi aksial . Salah satu cedera yang dapat terjadi pada vertebra adalah fraktur. Setiap tahunnya, angka kejadian fraktur kompresi vertebra adalah 10,7 per 1000 wanita dan 5,7 per 1000 pria . Fraktur kompresi wedge adalah jenis fraktur tulang belakang yang terjadi ketika bagian depan vertebra mengalami kompresi lebih besar dibandingkan bagian belakang, sehingga vertebra menjadi berbentuk seperti baji atau wedge. Fraktur ini sering terjadi pada pasien dengan osteoporosis, terutama pada tulang belakang torakolumbal (T12-L. karena transisi dari tulang belakang torakal yang relatif kaku ke tulang belakang lumbar yang lebih mobile . Fraktur merujuk pada kondisi terganggunya kontinuitas tulang akibat tekanan eksternal yang diserap oleh tulang . Berdasarkan lokasi fraktur, 47,81% pasien mengalami fraktur pada vertebra lumbal. Insiden trauma vertebra di dunia dilaporkan berkisar antara 0,019% hingga 0,088% per tahun dan pria memiliki risiko 1,9 hingga 3,3 kali lebih tinggi dibandingkan wanita untuk mengalami cedera vertebra . Subtipe fraktur yang paling sering terjadi di vertebra ialah fracture burst. Fraktur ini terjadi karena penekanan . yang terjadi pada corpus vertebralis secara langsung sehingga tulang hancur menjadi fragmen yang berpotensi memasuki kanalis spinalis. Berdasarkan derajat fraktur vertebra, 22 pasien . ,9%) mengalami fraktur pada vertebra servikal bagian atas (C1 dan C. dan 112 pasien . ,3%) mengalami fraktur pada vertebra servikal bagian bawah (C3 Ae C. 33% fraktur terjadi di daerah thoraca. , 153 pasien . ,6%) di daerah lumbal, dan 5 pasien . ,1%) di daerah sacrococcygeal . Fraktur burst dapat diklasifikasikan ke dalam 5 jenis, diantaranya adalah patah tulang tipe A pada kedua endplate, patah tulang tipe B pada endplate superior yang disertai dengan belahan sagital pada endplate inferior, tipe C fraktur endplate inferior, tipe D fraktur burst rotasional dan tipe E fraktur burst fleksi lateral. Selain klasifikasi di atas, terdapat juga klasifikasi berdasarkan AO spine yang dikategorikan berdasar pada morfologi cedera, status neurologis, dan integritas Morfologi cedera dibagi menjadi 3 yaitu A . edera kompres. B . edera distraks. C . isplacement/cedera translas. Pasien yang mengalami burst fracture dapat merasakan gejala seperti tinggi badan berkurang, keterbatasan ROM, defisit neurologis atau motorik, serta penurunan kualitas hidup dan kemampuan fungsional pasien . Setelah mengalami trauma, terdapat dampak serius dari fraktur vertebra burst type, sehingga dibutuhkan edukasi mengenai pencegahan dan penanganan sangat penting, terutama untuk kelompok berisiko tinggi dan mereka yang terlibat dalam aktivitas berisiko tinggi. Pasien umunya merasakan nyeri, nyeri dapat diukur menggunakan visual analogue scale (VAS). Nyeri dapat berupa nyeri gerak, nyeri tekan, nyeri diam . Fisioterapi berperan mulai dari fase awal trauma hingga tahap rehabilitasi sebagai bagian dari pengembalian fungsi gerak dan kondisi fisik pasien. Berdasarkan latar belakang tersebut, laporan kasus dengan judul AuManajemen fisioterapi terhadap gangguan fungsi gerak dan aktivitas fungsional berupa nyeri, muscle weakness pada m. tibialis anterior, gastrocnemius, m. soleus, hamstring, quadriceps, abductor hip, gluteus, m. illiopsoas, limitasi range of motion, limitasi activity daily living berupa walking, toileting, praying et causa post op stabilitas posterior sejak 2 september 2024 di Rumah Sakit Pendidikan Universitas HasanuddinAy, tidak hanya berfungsi sebagai dokumen klinis, tetapi juga sebagai sumber informasi untuk meningkatkan praktik medis. PEMERIKSAAN Studi kasus ini dilaksanakan di Poli Fisioterapi Rumah Sakit Universitas Hasanuddin yang beralamat di Jl. Perintis Kemerdekaan No. Km. Tamalanrea. Kec. Tamalanrea. Kota Makassar. Sulawesi Selatan. Pengambilan data dilakukan pada Tn. BI yang merupakan pasien post-operasi stabilitas posterior. Data didapatkan dari wawancara pasien, observasi dan Manajemen Fisioterapi Pada Post-Op Stabilisasi Posterior | Ambar Widyasari Maharani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 250 - 261 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/457 assesment, pemeriksaan radiologi, implementasi intervensi fisioterapi, dan evaluasi hasil tindakan fisioterapi. Wawancara berupa history taking mengenai riwayat perjalanan penyakit pasien, keluhan pasien, serta riwayat penyakit pasien untuk mendapatkan data subjektif dari Observasi berupa inspeksi statis dengan memperhatikan postur tubuh pasien, alat yang terpasang saat pasien rawat inap, bekas insisi pasien, pola napas pasien, serta kemampuan pasien untuk melakukan gerakan dan merubah posisi tubuhnya. Selain itu juga dilakukan tes berupa palpasi untuk menilai kontur kulit, oedem, suhu dan tenderness. Pada observasi, fisioterapi juga perlu memperhatikan limitasi ROM, limitasi ADL, limitasi pekerjaan dan limitasi rekreasi yang dialami oleh pasien. Fisioterapis juga melakukan tes spesifik berupa visual analogue test (VAS) untuk mengukur tingkat nyeri pasien . yeri diam, nyeri tekan, nyeri gerak, dan manual muscle test (MMT) untuk mengukur kekuatan otot pasien, circumferentia untuk mengukur lingkar otot dan pengukuran range of motion (ROM) menggunakan goniometer untuk mengukur lingkup gerak sendi pasien. Selain itu, juga dilakukan pemeriksaan penunjang berupa X-Ray untuk mengetahui letak dan tingkat keparahan Setelah dilakukan pemeriksaan, dilakukan analisis untuk menentukan diagnosis Diagnosis fisioterapi meliputi body function, body structure, activity limitation dan participation activity. Setelah diagnosa diperoleh, selanjutnya adalah menentukan problem fisioterapi primer, sekunder dan kompleks. Berdasarkan diagnosis tersebut akan didapatkan tujuan fisioterapi jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan dan problem fisioterapi selanjutnya dijadikan dasar dalam menyusun intervensi fisioterapi. Intervensi yang diberikan untuk mengatasi muscle weakness berupa static contraction dan strengthening exercise, untuk mengurangi nyeri diberikan NMES, untuk mengatasi limitasi ROM diberikan exercise therapy AAROM dan PROM, untuk memperbaiki pola nafas diberikan breathing exercise berupa deep breathing, untuk masalah hiposensasi diberi proprioseptif exercise, untuk limitasi ADL diberi core strengthening dan ADL exercise. Setelah diberikan intervensi fisioterapi maka dilakukan evaluasi nyeri, muscle weakness, limitasi ROM dan circumferentia. Pasien juga diberikan home program agar pasien dapat melanjutkan latihan di rumah. HASIL Pasien atas nama B berusia 26 tahun dengan jenis kelamin laki-laki merupakan seorang petani cengkeh yang mengalami trauma saat sedang bertani di kebun karena terjatuh dari pohon cengkeh setinggi 10 meter pada tanggal 25 Agustus 2024 yang kemudian dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Lamaddukelleng selama 4 hari. Tanggal 30 Agustus pasien kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Pendidikan Unhas. Lalu di tanggal 2 September dilakukan operasi stabilisasi posterior. Pasien berada di ruang rawat inap selama 6 hari, selama proses rawat inap pasien menerima perawatan medis dan Fisioterapi. Tanggal 7 September pasien keluar dari RS untuk melanjutkan rawat jalan termasuk pemberian penanganan Fisioterapi untuk mendukung proses rehabilitasi pasien. Setelah operasi pasien mengeluhkan nyeri pada area insisi dan mengeluhkan mati rasa dari pergelangan kaki ke bawah serta tidak mampu untuk berjalan dan buang air kecil secara Saat Dilakukan Pemeriksaan fungsi gerak dasar pada pada ekstremitas bawah, didapatkan hasil ketidakmampuan pasien untuk melakukan gerakan aktif serta tidak mampu untuk melawan tahanan isometric pada regio hip dan ankle. Gerakan aktif hanya dapat dilakukan pada regio hip dan knee meskipun dengan abnormal movement. Hal ini disebabkan karena adanya kelemahan pada group muscle regio hip dan knee pasien. No. Tabel 3. 1 Pemeriksaan Fisik dan Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan Fisik Hasil Inspeksi statis Pasien dalam keadaan berbaring di bed setinggi Manajemen Fisioterapi Pada Post-Op Stabilisasi Posterior | Ambar Widyasari Maharani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 250 - 261 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/457 Pasien menggunakan infus dan kateter Pasien menggunakan pampers Terdapat bekas insisi yang tertutup kasa pada area vertebra Inspeksi dinamis Pasien dapat menggerakkan hip dan knee secara aktif namun abnormal movement Pasien terlihat aktif menggerakkan ekstremitas atas . rist, elbow, dan shoulde. Palpasi Kontur kulit : Normal Oedem : Tidak ada Suhu : Normal Tenderness : Tidak dilakukan di area insisi Orientasi Pasien mampu duduk dengan bersandar pada bed head up 80o Pasien tidak mampu untuk merunah posisi secara Pemeriksaan Fungsi Gerak Terdapat limitasi pada semua gerakan aktif di ankle Dasar bilateral, yaitu gerakan dorseo-fleksi, plantar-fleksi, (PFGD) eversi, inversi. Limitasi gerakan aktif juga pada region hip, pada gerakan ekstensi, abbduksi dan Hal ini terjadi akibat adanya kelemahan otot pasca operasi. Adapun beberapa tes spesifik yang dilakukan, yaitu: No. Tabel 3. 2 Pemeriksaan Tes Spesifik dan Hasil Pemeriksaan Tes Spesifik Pemeriksaan Fisik Hasil Nyeri Gastrocmemius (Visual Analogue Scal. Nyeri tekan: 8 Nyeri diam: 4 Nyeri gerak: 4 Lumbal . rea insis. Nyeri tekan: 8 Nyeri diam: 0 Nyeri gerak: 4 Kekuatan otot (Manual Muscle Tes. Tibialis anterior Dextra: 0 Sinixtra: 0 Gastrocnemius Dextra: 0 Sinixtra: 0 Hamstring Dextra: 0 Sinixtra: 0 Hamstring Dextra: 3 Sinixtra: 3 Quadriceps Dextra: 2 Sinixtra: 2 Iliopsoas Manajemen Fisioterapi Pada Post-Op Stabilisasi Posterior | Ambar Widyasari Maharani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 250 - 261 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/457 Dextra: 3Sinixtra: 3M. Gluteus Dextra: 1 Sinixtra: 1 Circumferentia Hip Dextra 7cm dari patella: 30,4 cm 15cm dari patella: 35 cm Sinixtra 7cm dari patella: 30 cm 15cm dari patella: 34 cm Range Of Motion (RM) Hip Sinixtra Ekstensi-Fleksi : S. Abdduksi-Adduksi : F. Eksorotasi-Endorotasi : F. Hip Dextra Ekstensi-Fleksi : S. Abdduksi-Adduksi : F. Eksorotasi-Endorotasi : F. Knee Dextra Ekstensi-fleksi : S. Knee Sinixtra Ekstensi-fleksi : S. Ankle Dextra Plantra fleksi-Dorso fleksi : S. Eversi-Inversi : F. Ankle Sinixtra Plantra fleksi-Dorso fleksi : S. Eversi-Inversi : F. Diagnosis fisioterapi berdasarkan International Classification of Functioning. Disability and Health (ICF) : Body Function b280: Nyeri (Gangguan nyeri yang terkait dengan geraka. b730: Kekuatan otot . uscle weakness pada m. tibialis anterior, m. soleus, hamstring, quadriceps, gluteus, m. b710: Mobilitas sendi (Limitasi ROM) Body Structure s760: Struktur otot paha, tungkai bawah, dan gluteal s770: Struktur sistem pergerakan tambahan . ermasuk struktur yang terkena post operasi stabilitas posterio. Activity Limitation d410: Berjalan . Ae terbatas akibat kelemahan otot dan nyeri d530: Menggunakan toilet . Ae keterbatasan aktivitas ini d440: Mempertahankan posisi tubuh . raying/kegiatan religiou. Ae ada Participation Activity d450: Mobilitas dalam kehidupan sehari-hari Ae terganggu Manajemen Fisioterapi Pada Post-Op Stabilisasi Posterior | Ambar Widyasari Maharani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 250 - 261 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/457 Gangguan gerak fungsional berupa nyeri. Muscle weakness pada lower extremity, limitasi ROM, limitasi ADL berupa walking dan toileting et causa post op stabilitas posterior sejak 2 September 2024. Adapun permasalahan fisioterapi yang dapat muncul yaitu problem primer berupa nyeri. problem sekunder berupa muscle weakness pada m. tibialis anterior, m. gastrocnemius, m. soleus, hamstring, quadriceps, gluteus, m. illipsoas, limitasi ROM, hiposensasi ankle, gangguan pola napas. serta problem kompleks berupa limitasi ADL berupa walking, toileting. Tujuan fisioterapi terdiri dari Tujuan jangka pendek yaitu mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan rom, reedukasi neuromotorik hiposensasi ankle, dan memperbaiki pola pernafasan. Sedangkan tujuan jangka panjang ialah untuk mengembalikan dan memaksimalkan fungsional ADL walking, toileting, praying. Tabel 3. 3 Program Intervensi Fisioterapi Pertemuan 1 No. Problem Modalitas Dosis 1 Muscle Weakness Static contraction F: Setiap terapi I: 8 hit, 5 repetisi T: Quad set T: 3 menit F: Setiap terapi I: 8 hit, 5 repetisi T: Gluteal set T: 3 menit Limitasi ROM Exercise Therapy F: Setiap terapi I: 8 hit, 5 repetisi T: PROM knee dan ankle. AAROM fleksi hip T: 8 menit Gangguan pola nafas (Relaksas. Breathing Exercise F: Setiap terapi I: 5 hit, 3 repetisi T: deep breathing T: 1 menit Kemudian pemberian intervensi selanjutnya ditambah dan dimodifikasi sesuai dengan perkembangan pasien seperti pada tabel berikut: Tabel 3. 3 Program Intervensi Fisioterapi Pertemuan 2 Ae 9 Modalitas Keterangan NMES sacrum Intervensi dipertemuan kedua ini Quad set bertujuan untuk menstimulasi AROM knee . leksi-ekstens. Proprioseptif Exercise kelemahan otot dan ROM, serta ekstremitas bawah pasien Pertemuan 1, 2, 1. NMES sacrum Pertemuan ketiga ini pasien Quad set diberikan tambahan intervensi Rawat Jalan AROM knee . leksi-ekstens. berupa bridging exercise sebagai Bridging exercise Pertemuan Pertemuan 2 Rawat Inap Manajemen Fisioterapi Pada Post-Op Stabilisasi Posterior | Ambar Widyasari Maharani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 250 - 261 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/457 Pertemuan 4 Rawat Jalan Pertemuan 5 Rawat Jalan Pertemuan 6 Rawat Jalan Pertemuan 8 Rawat Jalan ADL exercise with walker . uduk Proprioseptif Exercise NMES sacrum Quad set Gluteal set AROM knee . leksi-ekstens. Bridging exercise ADL exercise with walker . uduk Proprioseptif Exercise NMES . ibialis anterior bilatera. Quad set Dynamic quadriceps Strengthening adductor . Static strengthening iliopsoas dan strengthening quadriceps dan gluteus dinamis with ball strengthening gluteus with ball Bridging exercise Towel ADL exercise . uduk berdir. NMES . ibialis anterior bilatera. Quad set Dynamic quadriceps Strengthening adductor . Static strengthening iliopsoas dan strengthening quadriceps dan gluteus dinamis with ball strengthening gluteus with ball Bridging exercise Towel ADL exercise . uduk berdir. Proprioseptif Exercise Quad set Dynamic quadriceps Strengthening adductor . Static strengthening iliopsoas dan strengthening quadriceps dan gluteus dinamis with ball strengthening gluteus with ball Bridging exercise persiapan latihan duduk dan latihan berjalan pasien Di pertemuan keempat, pasien diberikan tambahan intervensi berupa gluteal set untuk memperkuat otot gluteus serta untuk mempersiapkan pasien melakukan latihan duduk dan Pemberian NMES pada m. menstimulasi otot berkontraksi sehingga memicu pergerakan dorso fleksi pada region ankle. Berbagai latihan strengthening dilakukan untuk meningkatkan kekuatan otot ekstremitas bawah serta sebagai penambahan dosis pada pasien setelah melakukan terapi selama beberapa kali Pemberian propriceptif exercise mengatasi hiposensasi pada Dipertemuan ini pemberian NMES sudah tidak dilakukan karena nilai otot dari pasien sudah meningkat sehingga pasien gerakan pada region knee Manajemen Fisioterapi Pada Post-Op Stabilisasi Posterior | Ambar Widyasari Maharani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 250 - 261 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/457 Towel ADL exercise . uduk berdir. Proprioseptif Exercise Pemberian intervensi berfokus pada problem nyeri. Muscle weakness, limitasi ROM, hiposensasi, gangguan pola nafas dan limitasi activity daily living pada pasien. Problem Alat Ukur Nyeri VAS Muscle Weaknes MMT Limitasi ROM Goniometer Tabel 3. 4 Hasil Evaluasi Program Intervensi Pre Post Gatrocnemius Gastrocnemius Nyeri tekan 8 Nyeri tekan 0 Nyeri diam 4 Nyeri diam 0 Nyeri gerak 4 Nyeri gerak 0 Lumbal . ekitar area Lumbal . ekitar area Nyeri tekan 8 Nyeri tekan 0 Nyeri gerak 4 Nyeri gerak 3,2 Nyeri diam 0 Nyeri diam 0 Tibialis anterior 0 Tibialis anterior Gastrocnemius 0 Hamstring Gastrocnemius Quadriceps Illiopsoas 3Hamstring Gluteus Quadriceps Trunk Upper rectus Illiopsoas Lower rectus Gluteus Rotasi trunk . nternal dan Trunk eksternal obliqu. 1 Upper rectus Ekstensi trunk . Ekstensi thoracic 1 Lower rectus Rotasi trunk . nternal dan eksternal obliqu. Ekstensi trunk . Ekstensi thoracic Hip Ekstensi-Fleksi Hip Ekstensi-Fleksi Ket. Ada Ada regio trunk dan ankle Terjadi pada regio hip Manajemen Fisioterapi Pada Post-Op Stabilisasi Posterior | Ambar Widyasari Maharani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 250 - 261 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/457 Circumfe Abduksi-Adduksi Eksorotasi-Endorotasi Knee Ekstensi-Fleksi Ankle Plantar-Dorso Eversi-Inversi Sinistra 7cm dari patella 30 15cm dari patella 34 Dextra 7cm dari patella 30,4 15cm dari patella 35 Abduksi-Adduksi Eksorotasi-Endorotasi Knee Ekstensi-Fleksi Ankle Plantar-Dorso Eversi-Inversi Sinistra 7 cm dari patella 29,5 15 cm dari patella 33 Gastrocnemius 25 cm . cm dari patell. Dekstra 7 cm dari patella 30 15 cm dari patella 33 Gastrocnemius 24 cm . cm dari patell. Berdasarkan tabel evaluasi di atas dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan nyeri, terdapat peningkatan pada kekuatan otot quadriceps, m. Illipsoas serta kekuatan otot pada regio trunk dan ankle. Pada nilai rentang gerak sendi terdapat peningkatan pada regio hip. PEMBAHASAN Fraktur lumbal dapat menimbulkan berbagai gejala yang beragam. Manifestasi klinis yang paling umum adalah nyeri punggung bawah yang sangat parah, hingga sangat mengganggu aktivitas harian. Selain itu, pasien juga bisa mengalami kelemahan pada kedua kaki . atau bahkan kelumpuhan total . , yang membuat penderita tidak mampu Hal ini terjadi karena saraf yang mengendalikan gerakan kaki mengalami kerusakan akibat cedera. Fraktur ini juga bisa memengaruhi saraf isciadicus yang merupakan saraf besar yang menjalar dari punggung bawah hingga ke kaki. Akibatnya, penderita merasakan nyeri yang menjalar ke kaki, disertai dengan kelemahan atau mati rasa di area tersebut. Selain masalah pada kaki, beberapa pasien juga mengalami incontinensia urine yaitu kesulitan mengontrol buang air besar atau kecil. Nyeri 14 yang dirasakan penderita tidak hanya terbatas pada punggung bawah, tetapi juga bisa menjalar ke area lain seperti panggul, paha, ataupun sampai area kaki . Operasi stabilitas posterior lumbal atau lebih umum dikenal dengan nama posterior spinal fusion adalah prosedur bedah yang bertujuan untuk menstabilkan tulang belakang dengan menggabungkan dua atau lebih vertebra. Operasi stabilitas posterior lumbal adalah prosedur yang kompleks dengan berbagai teknik yang dapat disesuaikan dengan kondisi spesifik pasien. Pedicle screw fixation dan cortical bone trajectory screw fixation adalah dua metode yang paling umum digunaka. Selain dua metode di atas, ada beberapa metode lain seperti PLIF. TLIF, 24 dan OLIF yang masing-masing memiliki keunggulannya dan di sesuaikan dengan kebutuhan Prosedur ini sering digunakan untuk mengatasi kondisi seperti stenosis lumbal, spondilolistesis, ketidakstabilan lumbal, deformitas tulang belakang, dan fraktur . Fraktur kompresi vertebra membutuhkan penanganan yang meliputi operasi sampai program rehabilitasi. Pasien dengan kasus cedera tulang belakang kronis membutuhkan Manajemen Fisioterapi Pada Post-Op Stabilisasi Posterior | Ambar Widyasari Maharani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 250 - 261 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/457 program rehabilitasi yang kuat dan tahan lama . Fisioterapi berperan dalam memperbaiki, mengembangkan dan memelihara gerak dari kemampuan fungsi . Teknik dan metode penanganan fisioterapi yang dapat diberikan pada kasus ini adalah teknik pernafasan, mobilitas pada ekstremitas atas dan ekstremitas bawah, edukasi pasien serta latihan penguatan. Berdasarkan hasil evaluasi pasien setelah melakukan 10 kali fisioterapi didapatkan adanya penurunan intensitas nyeri, adanya peningkatan kekuatan otot dan rentang gerak sendi yang Peningkatan terjadi tersebut dapat disebabkan oleh pemberian intervensi selama melakukan fisioterapi. Fisioterapi sangat penting dalam membantu pasien untuk dapat kembali ke rutinitas sehari-hari . Untuk menghindari adanya komplikasi setelah operasi seperti adanya trombosis vena, luka di tempat tidur serta masalah pernafasan menjadi tujuan perawatan pasien pasca operasi. Jenis rehabilitasi meliputi metode latihan seperti breathing exercise, weight bearing exercise, balance exercise, core strengthening exercise, core stability, stretching exercise dan ROM exercise dilakukan pada kondisi fraktur kompresi. Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai kondisi pasien dan home program perlu dilakukan sehingga mendorong pemulihan yang lebih cepat dan menjaga sikap positif pasien dalam menajalani terapi . Elektroterapi seperti Trasncutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS). Neuromuscular and Muscular Electrical Stimulation (NMES), ataupun Infrared merupakan pilihan yang digunakan untuk menurunkan intensitasi nyeri, meningkatkan aliran darah . Selain itu, beberapa elektroterapi salah satunya NMES digunakan untuk meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan rentang gerak serta mengurangi ketegangan otot . SIMPULAN DAN SARAN Gangguan gerak dan fungsi gerak yang timbul pada pasien post-op stabilitas posterior berupa nyeri, muscle weakness, hiposensasi L5 Ae S1 dan limitasi ROM sehingga menurunkan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari (ADL). Fisioterapi berperan penting dalam melakukan penanganan pada gangguan gerak dan fungsi gerak tubuh dalam rangka meningkatkan kualitas hidup pasien. Setelah dilakukan assessment dan observasi pada pasien post-op stabilitas posterior di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin, didapatkan hasil bahwa pasien mengeluhkan nyeri, muscle weakness pada m. tibialis anterior, m. gastrocnemius, m. soleus, hamstring, quadriceps, gluteus, m. illipsoas, limitasi ROM, hiposensasi ankle, gangguan pola napas. serta problem kompleks berupa limitasi ADL walking, toileting, praying . Berdasarkan permasalahan tersebut, pasien diberikan intervensi berupa NMES pada area sacrum. Quad set. AROM knee . leksi-ekstens. dan Proprioseptif Exercise untuk menstimulasi kontraksi otot, mengatasi kelemahan otot dan ROM, serta manajemen hiposensasi ekstremitas bawah pasien. Bridging exercise untuk menguatkan otot core sebagai persiapan latihan duduk dan latihan berjalan. Gluteal set untuk memperkuat otot gluteus serta mempersiapkan pasien melakukan latihan duduk dan berjalan. NMES pada m. tibialis anterior untuk stimulasi gerakan dorso fleksi pada region ankle. Setelah 8 pertemuan, fisioterapis kemudian melakukan evaluasi nyeri menggunakan VAS. Muscle Weakness menggunakan MMT. ROM menggunakan goniometer dan pengukuran circumferensia. Hasil menunjukkan bahwa pasien merasakan nyeri menurun, peningkatan kekuatan otot quadriceps, m. Illipsoas serta kekuatan otot pada regio trunk dan ankle serta peningkatan ROM regio hip. Hasil tersebut menunjukkan bahwa program fisioterapi dapat diterapkan sebagai program rehabilitasi pada pasien post-op stabilitas posterior karena dapat meningkatkan kemampuan gerak dan fungsi gerak tubuh sehingga pasien dapat berangsur pulih dan kembali melakukan aktivitas seharihari. Disarankan melakukan penelitian lebih mendalam terkait program fisioterapi lainnya pada kasus post-op stabilitas posterior untuk memperkaya pengetahuan fisioterapis terkait jenis dan manfaat intervensi dan efektivitas dari intervensi lainnya. Manajemen Fisioterapi Pada Post-Op Stabilisasi Posterior | Ambar Widyasari Maharani dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 250 - 261 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/457 DAFTAR PUSTAKA