AJER Advanced Journal of Education and Religion Vol. 2 No. 3 September 2025 Pembentukan Karakter Sosial Peserta Didik Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler di SMP Nahdlatul Ulama Simo Karanggeneng Fifit Rohmawati1*. Sulhatul Habibah2. Hurin Innihayatus SaAoadah3 123Fakultas Agama Islam. Universitas Islam Darul Ulum Lamongan *Corresponding author: fifit. 2021@mhs. ARTICLE INFO ABSTRACT Article history Received 05-09-25 Revised 15-09-25 Accepted 18-09-25 The importance of character education in developing students who are not only academically smart but also prossess strong moral and social values. Currently, many students still experience deficient social behavior, such as a lack of discipline, disrespecting and not appreciating others, using foul language, and so on. Therefore, educational strategies are needed that focus not only on academics but also on developing studentsAo social One effort that can be done is trough extracurricular activities. This study aims to describe the process of social character formation in students through extracurricular activities at Nahdlatul Ulama Simo Karanggeneng Junior High School and to analyze the supporting and inhibiting factors in this process. In this study, the researcher used a descriptive qualitative method, and data collection techniques included observations, interviews, and documentation. The results indicate that the process of social character formation in students through extracurricular activities at Nahdlatul Ulama Simo Karanggeneng Junior High School occurs in stages: introduction, understanding and application, and Supporting factor s for social character formation through extracurricular activities include high students interest in participating in extracurricular activities, school support, and facilities and infrastructure. Meanwhile, inhibiting factors for social character formation trough extracurricular activities include the external environment, the individual, the family Keywords Social Character Extracurricular Activities SMP NU Simo Karanggeneng Pendahuluan Pendidikan merupakan upaya penting bagi bangsa untuk menanamkan karakter pada peserta didik, terutama melalui sekolah sebagai tempat transfer ilmu Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 dan pembentukan kepribadian (Habibah. Junaidi, and Sholikhah 2. Selain memberikan pengetahuan dan keterampilan, sekolah juga bertanggung jawab dalam membentuk akhlak terpuji pada peserta didik agar dapat mencapai keberhasilan, baik secara akademik maupun dalam kehidupan sehari-hari (Habibulloh 2. Perlunya penerapan pendidikan karakter dalam membentuk karakter peserta didik yang pada usianya masih mencari jati diri mereka dan banyak yang condong pada hal yang negatif seperti kecurangan dalam melaksanakan ujian, perkelahian antar pelajar dan sebagainya, dengan penerapan pendidikan karakter yang dilaksanakan oleh sekolah dapat memberikan penanaman kepada peserta didik, salah satunya dimulai dengan pembiasaan yang dilaksanakan oleh pihak sekolah (Maunah 2. Pendidikan karakter merupakan sarana yang berperan penting dalam menciptakan manusia yang berkualitas dan berpotensi (Rahmawati and Suradji 2. Dapat disimpulkan bahwa, pendidikan karakter merupakan metode yang sengaja diarahkan dan terstruktur bagi peserta didik guna mengembangkan potensi individu mereka dan membentuk proses pembelajaran yang mampu merubah perilaku yang kurang baik. Di samping itu, tujuan pendidikan di Indonesia tidak hanya sebatas mengajarkan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi juga membentuk kepribadian mereka agar menjadi manusia yang lebih baik dan sejalan dengan nilai-nilai yang dianut (Riantini and Habibah 2. Salah satu aspek penting dalam pendidikan karakter adalah penguatan karakter sosial, yang menjadi pondasi dalam kehidupan bermasyarakat. Karakter sosial membentuk kekuatan-kekuatan manusiawi dalam masyarakat tertentu dengan tujuan mengfungsikan masyarakat secara berkesinambungan menuju masyarakat demokratis dan manusiawi. Dalam dunia sekolah, tentu masyarakat itu adalah seluruh peserta didik yang akan menjadi generasi bangsa kedepan yang seharusnya disiapkan bagi tegaknya pembangunan karakter bangsa ini (Wahidah 2. Namun, di tengah upaya penguatan karakter sosial, tantangan besar muncul akibat pengaruh perkembangan zaman yang justru menyebabkan ketidakstabilan moral dikalangan peserta didik. Meskipun pendidikan sejauh ini belum mampu secara efektif mengubah karakter peserta didik, hal ini tercermin dari hasil pendidikan yang sudah terjadi selama ini. Banyak contoh kasus di sekolah-sekolah, dimana masih sering ditemui peserta didik yang memiliki kekurangan dalam hal karakter, seperti tawuran pelajar, pelecehan seksual, pergaulan bebas, bullying, hilangnya rasa hormat peserta didik terhadap guru, dan kurangnya kesadaran terhadap kondisi sosial yang ada. Banyak peserta didik yang mudah terpengaruh oleh budaya luar tanpa filter, sehingga mengalami disorientasi dalam membedakan antara yang benar dan salah. Oleh karena itu, pendidikan diperlukan tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga harus memperkuat dimensi afektif dan spiritual sebagai benteng terhadap degradasi moral. Ketidaksempurnaan moral seperti ini tentu saja menimbulkan keprihatinan yang mendalam. Upaya perlu dilakukan untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut, diperlukan strategi pendidikan yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter sosial peserta didik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan ekstrakurikuler. Menurut (Suryosubroto 1. Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 ekstrakurikuler adalah kegiatan belajar yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka, dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah untuk memperluas wawasan atau kemampuan yang telah dipelajari dari berbagai mata pelajaran. Pada kegiatan ini, peserta didik memiliki pondasi yang kuat untuk membentukkan sikap-sikap Selain itu, pada kegiatan ekstrakurikuler juga memuat nilai-nilai karakter yang tertera pada pengamalan nyata, seperti sikap peduli terhadap sesama peserta didik, saling menghargai, dan toleransi terhadap sesama. Sikap-sikap sosial ini diharapkan dapat membantu tumbuh kembang peserta didik, baik dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat luas. Lebih dari sekedar aktivitas tambahan di sekolah, kegiatan ekstrakurikuler memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik secara lebih luas. Selain memberikan ruang untuk mengembangkan bakat minat, ekstrakurikuler juga berfungsi sebagai penambahan pada kurikulum utama, dan sebagai tempat dinamis dan kaya untuk membentuk karakter. Melalui beragam kegiatan seperti olahraga, seni, dan kegiatan sosial, peserta didik diberi peluang untuk mengembangkan keterampilan, nilai-nilai, dan sikap sebagai dasar pertumbuhan pribadi mereka. Arti ekstrakurikuler sebagai kontributor pembentukan karakter peserta didik terfokus pada pengembangan keterampilan teknis atau bakat khusus yang mencakup aspek-aspek sosial dan moral. Aktivitas ekstrakurikuler sering melibatkan interaksi sosial yang positif. Hubungan sosial yang baik dapat memberikan dukungan emosional, mengurangi rasa kesepian, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis (Eli Masnawati. Didit Darmawan, and Masfufah Masfufah Upaya memahami lebih dalam bagaimana kegiatan ekstrakurikuler dapat membentuk karakter sosial peserta didik, peneliti memutuskan untuk melaksanakan penelitian di salah satu lembaga pendidikan, yakni SMP NU Simo Karanggeneng. SMP merupakan jenjang awal fase remaja yang mana emosional peserta didik terbentuk sehingga menjadi tantangan bagi guru untuk memberikan wawasan dan membentuk karakter sosial peserta didik. Alasan peneliti mengambil lokasi penelitian di SMP Nahdlatul Ulama Simo Karanggeneng dikarenakan pada tahap observasi awal ditemukan beberapa sikap sosial peserta didik yang masih kurang, seperti kurangnya disiplin, kurang menghargai dan menghormati orang lain, berbicara kotor, dan lain-lain sehingga menjadikan pendidikan karakter sosial menjadi hal pokok yang harus di perhatikan. Berdasarkan penjelasan di atas, maka fokus penelitian ini adalah Pembentukan Karakter Sosial Peserta Didik Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler di SMP Nahdlatul Ulama Simo Karanggeneng. Metode Jenis metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kuliatatif deskriptif. penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi alamiah, . ukan dalam bentuk eksprime. Dalam metode ini, peneliti berperan langsung sebagai alat utama dalam proses pengumpulan data. Data dikumpulkan dari berbagai sumber, kemudian dianalisis Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 dengan pendekatan induktif, yaitu menarik kesimpulan dari data yang ada. Hasil penelitian kualitatif lebih fokus pada makna atau pemahaman mendalam terhadap suatu fenomena, bukan pada upaya membuat generalisasi. Penelitian ini bersifat deskriptif dan analitis, semakin mendalam analisis yang dilakukan, maka semakin baik pula kualitas hasil penelitiannya (Safrudin et al. Penelitian kualitatif deskriptif memiliki tujuan untuk menggambarkan secara rinci segala aspek yang sedang berlangsung. Pendekatan penelitian ini mencakup tahap pengumpulan data, deskripsi, simpulan dan interpretasi mengenai kondisi yang ada. Peneliti memilih pendekatan kualitatif ini dengan maksud untuk menggambarkan dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana karakter sosial peserta didik terbentuk melalui kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMP Nahdlatul Ulama Simo Karanggeneng. Hasil dan Pembahasan Proses Pembentukan Karakter Sosial Peserta Didik Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler di SMP Nahdlatul Ulama Simo Karanggeneng Proses pembentukan karakter merupakan suatu tahapan untuk membentuk karakter atau sifat seseorang menjadi lebih baik. Pembentukan karakter tidak terjadi secara langsung, tapi melibatkan proses, strategi dan lain sebagainya. Proses ini berlangsung secara bertahap, sehingga karakter yang diinginkan dapat tertanam dalam diri peserta didik. Berdasarkan temuan peneliti di lapangan, proses pembentukan karakter sosial peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler melibatkan beberapa tahapan. Tahap pertama adalah tahap pengenalan, peserta didik yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dikenalkan tentang nilai-nilai karakter supaya termotivasi untuk menjadi lebih baik dan sesuai dengan yang diinginkan sekolah. Tahap kedua adalah tahap pemahaman dan penerapan, dimana peserta didik diberi arahan dan penjelasan tentang manfaat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tersebut, serta menerapkan pemahaman tersebut. Tahap berikutnya adalah pembiasaan, dimana peserta didik dibiasakan untuk melakukan nilai-nilai karakter yang diajarkan dengan pengawasan dan bimbingan dari guru. Melalui proses ini, karakter yang diinginkan akan terbentuk dalam diri peserta didik. Pentingnya pembentukan karakter sosial peserta didik tidak hanya berlaku di lingkungan sekolah saja, tetapi juga di lingkungan keluarga. Pendidikan karakter memiliki peran penting dalam membentuk individu menjadi manusia yang lebih Oleh karena itu, perkembangan kepribadian mendorong peserta didik untuk terlibat dalam tindakan-tindakan positif dan mempunyai tujuan hidup yang benar. Lingkungan sekolah bukanlah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas pendidikan karakter, tetapi peran orang tua, keluarga, masyarakat juga memiliki peran penting untuk pembentukan karakter peserta didik. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Pembentukan Karakter Sosial Peserta Didik Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler di SMP Nahdlatul Ulama Simo Karanggeneng Berdasarkan temuan peneliti di lapangan, terdapat faktor pendukung dan Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 faktor penghambat yang mempengaruhi pembentukan karakter sosial peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler di SMP Nahdlatul Ulama Simo Karanggeneng. Diantaranya faktor pendukung dan faktor penghambat pembentukan karakter sosial peserta didik adalah sebagai berikut: Faktor pendukung yang pertama yaitu tingginya minat peserta didik. Berdasarkan penjelasan dari salah satu pembina ekstrakurikuler di SMP Nahdlatul Ulama Simo Karanggeneng terdapat beberapa peserta didik yang minat mengikuti eksrakurikuler karena ajakan teman, sehingga menjadikan peserta didik mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tersebut, tapi lambat laun terdapat dorongan dari diri sendiri untuk berubah menjadi lebih baik. Perubahan ini mendorong munculnya kesadaran, usaha, kemauan atau kesungguhan yang dilakukan peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan dari lingkungan . dapat menjadi pemicu awal, tetapi yang paling menentukan keberlanjutan ialah dari peserta didik itu Faktor pendukung yang kedua yaitu dukungan dari sekolah, guru dan pembina ekstrakurikuler. Berdasarkan hasil wawancara selama penelitian di SMP Nahdlatul Ulama Simo Karanggeneng dapat disimpulkan bahwa dukungan dari sekolah, guru dan pembina ekstrakurikuler menjadi salah satu faktor pendukung dalam pembentukan karakter sosial peserta didik, karena guru dan pembina ekstrakurikuler selalu mendampingi, membimbing, dan menyalurkan bakat peserta didik, sehingga karakter sosial bisa dibentuk dari kegiatan ekstrakurikuler Dengan bimbingan, nasehat-nasehat, dan teladan dari guru ataupun pembina kegiatan ekstrakurikuler, dapat menjadikan suri tauladan kebaikan bagi peserta didik. Faktor pendukung yang ketiga yaitu terdapat di sarana dan prasarana yang disediakan oleh sekolah. Berdasarkan hasil wawancara selama penelitian di SMP Nahdlatul Ulama Simo Karanggeneng fasilitas seperti musholla, lapangan, ruang kegiatan, buku panduan, dan lain sebagainya itu sangat penting untuk mendukung dalam proses pembentukan karakter sosial peserta didik. Dengan adanya sarana dan prasarana ini, peserta didik dapat berlatih, berinteraksi, berolahraga, dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang semuanya berkontribusi pada pembentukan karakter yang baik. Sarana dan prasarana yang memadai membantu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan sosial dan emosional peserta didik. Faktor penghambat pembentukan karakter sosial peserta didik di SMP Nahdlatul Ulama Simo Karanggeneng. Selain faktor pendukung yang telah disebutkan diatas, terdapat juga beberapa faktor penghambat yang mempengaruhi pembentukan karakter sosial peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler, diantaranya yaitu sebagai berikut: Berdasarkan hasil wawancara selama penelitian di SMP Nahdlatul Ulama Simo Karanggeneng faktor penghambat pertama dalam pembentukan karakter sosial peserta didik berasal dari lingkungan luar sekolah. Pihak sekolah tidak dapat memantau sepenuhnya pergaulan dan pertemanan peserta didik di luar lingkungan sekolah. Hal ini menyebabkan peserta didk terpapar pada berbagai Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 pengaruh yang mungkin tidak sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah. Ketidakmampuan sekolah untuk mengawasi interaksi sosial di luar sekolah dapat mengakibatkan peserta didik terpengaruh oleh perilaku negatif atau nilai-nilai yang tidak sesuai, sehingga menghambat pembentukan karakter sosial yang Faktor penghambat kedua dalam pembentukan karakter sosial peserta didik terletak pada dirinya sendiri. Banyak peserta didik yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tanpa memiliki rasa tanggung jawab, sehingga mereka hanya terdaftar menjadi anggota tanpa memberikan kontribusi nyata. Sikap ini menghambat pembentukan dan pengembangan karakter sosial yang positif, karena peserta didik tidak belajar untuk berkomitmen, bekerja sama, atau berkontribusi dalam kelompok. Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan untuk mengasah ketrampilan sosial dan membangun hubungan yang baik dengan teman-teman, yang seharusnya menjadi tujuan dari kegiatan ekstrakurikuler. Faktor penghambat ketiga dalam pembentukan karakter sosial peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler berasal dari lingkungan keluarga. Banyak orang tua yang membatasi waktu anak-anak mereka untuk berinteraksi dengan teman sebaya, baik karena kekhawatiran akan pengaruh negatif di luar rumah maupun karena tuntutan aktivitas lain. pembatasan ini dapat mengurangi kesempatan anak untuk bersosialisasi dan mengembangkan ketrampilan sosial yang penting. Ketika anak tidak memiliki cukup waktu untuk berinteraksi dengan teman-teman, mereka kehilangan peluang untuk belajar berkomunikasi, bekerja sama, dan membangun hubungan yang sehat, yang semuanya merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter sosial yang baik. Kesimpulan Proses pembentukan karakter sosial peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler di SMP Nahdlatul Ulama Simo Karanggeneng berlangsung secara bertahap, yaitu: tahap pertama, peserta didik dikenalkan dengan nilai-nilai karakter sosial untuk memotivasi mereka menjadi lebih baik. Tahap kedua, peserta didik diberi pemahaman mengenai manfaat kegiatan ekstrakurikuler dan menerapkan tentang pemahaman tersebut. Tahap ketiga, peserta didik dibiasakan untuk menerapkan nilai-nilai karakter sosial yang telah diajarkan. Kegiatan ekstrakurikuler secara efektif dapat menanamkan nilai-nilai sosial, seperti disiplin, mandiri, komunikatif, toleransi, menghargai prestasi, peduli lingkungan dan kesehatan, serta bertanggung jawab. Faktor pendukung pembentukan karakter sosial melalui kegiatan ekstrakurikuler meliputi minat peserta didik mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang awalnya datang dari ajakan teman, kemudian menjadi motivasi dari diri sendiri untuk terus berpartisipasi dan berkembang, dukungan, bimbingan, arahan dan ajaran dari guru dan pembina ekstrakurikuler yang menjadikan pembentukan karakter berjalan dengan maksimal, serta sarana dan prasarana yang difasilitasi sekolah sehingga pembentukan karakter sosial dapat berjalan dengan efektif dan Sedangkan faktor penghambat pembentukan karakter sosial melalui Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 kegiatan ekstrakurikuler yaitu kurangnya pengawasan diluar lingkungan sekolah yang mengakibatkan peserta didik mudah terpengaruh oleh perilaku negatif, peserta didik mengikuti kegiatan ekstrakurikuler hanya daftar menjadi anggota saja tidak ada tanggung jawab atau kontribusi apapun didalamnya, dan banyak orang tua yang membatasi waktu anaknya untuk mengeksplor dirinya diluar jam KBM Referensi