Persona. Jurnal Psikologi Indonesia September 2015. Vol. No. 03, hal 274 - 287 Kebermaknaan Hidup. Kestabilan Emosi dan Depresi R Hendro Rumpoko Perwito Utomo Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Tatik Meiyuntari tatikmeiyuntari@untag-sby. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Abstract. The purpose of this study was to examine the relationship between Meaning in Life and Emotional Stability at depression level. Subjects were students who enter the category of early adulthood . -25 year. in Yogyakarta. Number 93 research Regression analysis showed: . here was a significant relationship between emotional stability. Meaning in Life and Depression level , with a coefficient F = 494 , p = 0. p < 0. 05 ( 2 ) obtained regression line equation is Y = 106. 2120421 x1 - x2 0511 , where Y is the Depression . X1 and X2 are Meaning in Life is Emotional Stability . Negative coefficient in Meaning in Life and Stability Emotions give meaning or effect the opposite relationship with Depression . If Meaning in Life and Emotional Stability increases, the depression will decrease and vice versa if the Meaning in Life and Emotional Stability decreased it will increase the Depression Keywords : meaning in life, emotional stability, depression Intisari. Tujuan penelitian ini untuk menguji hubungan antara Kebermaknaan Hidup dan Kestabilan Emosi dengan tingkat depresi. Subyek penelitian adalah mahasiswa yang masuk kategori dewasa awal . -25 tahu. di Yogyakarta. Jumlah subyek penelitian sebanyak 93 orang. Hasil analisis regresi menunjukkan: . Ada hubungan yang sangat signifikan antara Kebermaknaan Hidup dan Kestabilan emosi dengan tingkat Depresi, dengan harga koefisien F=17,494 p=0,000. p<0,05 . Persamaan garis regresi yang diperoleh adalah Y = 106,212 Ae 0. 421 x1 Ae 0. 511 x2, di mana di mana Y adalah Depresi. X1 adalah Kebermaknaan Hidup dan X2 adalah Kestabilan Emosi. Koefisien negatif dalam Kebermaknaan Hidup dan Kestabilan Emosi memiliki arti memberikan hubungan atau pengaruh yang berlawanan dengan Depresi. Jika Kebermaknaan Hidup dan Kestabilan Emosi meningkat maka Depresi akan menurun dan sebaliknya jika Kebermaknaan Hidup dan Kestabilan Emosi menurun maka akan meningkatkan Depresi. Kata Kunci : kebermaknaan hidup, kestabilan emosi, tingkat depresi Kata kunci : Kepemimpinan transformasional, kepuasan kerja, komitmen organisasi sosial dan alamnya (Santrock, 2. Proses PENDAHULUAN Kehidupan manusia adalah satu rentang tersebut dapat dikatakan sebagai proses proses panjang. Dalam proses tersebut tersebut manusia terjadi perkembangan-perkembangan segenap eksistensinya. Hal tersebut tentunya akan potensi yang ada, baik fisik maupun psikis, bersentuhan atau bahkan berbenturan dengan menuju satu tahap tertentu. Pola perkembangan aspek dan permasalahan kehidupan yang tersebut memuat proses yang berasal dari aktual, diantaranya perkembangan jaman, dalam individu sendiri, maupun juga dapat struktur sosial, modernisasi, dan pola hidup berasal dari hasil interaksi dengan lingkungan tertentu yang berkembang di masyarakat. Kebermaknaan Hidup. Kestabilan Emosi dan Depresi Dinamika tersebut dapat membuat manusia melakukan hal hal diluar kewajaran (Wade dan Tavris, 2. , bagi sebagian individu hal tersebut dapat mengarah pada gangguan kesehatan jiwa. Permasalahan kejiwaan, atau umumnya dikategorikan sebagai permasalahan kesehatan jiwa, akhir-akhir ini mendapatkan perhatian yang cukup serius dari berbagai pihak di dunia. Depresi adalah gangguan kejiwaan yang paling banyak hinggap dalam diri manusia. Depresi rata-rata menduduki peringkat sangat tinggi dalam tingkat prevalensi, luas jangkauan umur penderitanya, strata sosial yang bisa menderita, serta besar penderita yang tak tertangani (Hawari, 2. Tingkat prevalensi depresi sangat tinggi. Setidaknya sekitar 350 juta orang di dunia mengalami depresi dalam hidupnya dan hanya 17 % pasien yang berkunjung ke (WHO, 2. Survey yang dilakukan oleh World Mental Health di 17 negara menemukan bahwa rata-rata sekitar 1 dari 20 orang dilaporkan memiliki episode depresi pada tahun sebelumnya (Marcus, et al. Di Indonesia, berdasarkan data Riskesdas tahun 2007, terdapat 11,6 % populasi orang dewasa, yaitu sekitar 1. orang mengalami gangguan mental emosional seperti kecemasan dan depresi. Angka prevalensi ini cenderung meningkat sejalan dengan stressor sosial yang semakin berat, penyakit kronis, dan kehidupan spiritual yang bermakna kian ditinggalkan (Hawari, 2. Menurut Holmes . simptom utama gangguan depresi adalah masalah yang berhubungan dengan mood. Individu merasa tertekan, murung, sedih, putus asa dan kecewa. Individu yang mengalami depresi kadangkadang menggambarkan diri mereka seolaholah sendirian di dalam lubang yang gelap dan tidak dapat keluar. Kondisi individu dewasa awal, yang menjadi sasaran penelitian ini, sangat rentan terjangkit tingkat depresi, mengingat tuntutan eksternal maupun internal menyangkut tugas perkembangan yang semakin besar. Prosentase cukup besar penderita depresi ditunjukkan pada golongan dewasa awal ini (Asmika, dkk. Berdasarkan gambaran di atas, nampak bahwa gangguan depresi mempengaruhi fungsi sehari-hari, perubahan emosi, kognisi, motivasi maupun Sementara dari semua fenomena yang terkait dengan depresi, kebermaknaan hidup dirasa memegang peranan yang besar dalam mempengaruhi munculnya depresi. Asumsi ini dibuktikan dengan sindroma yang nampak menonjol di masyarakat akhir akhir ini, yakni sindroma ketidakbermaknaan hidup (Leahy. Arifin, 1994. dan Bastaman, 1. Sindrom ini ditandai dengan kehampaan keterhambatan dan kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhannya akan makna. Masalah kehampaan eksistensial ini mencuat di kehidupan modern. Banyak orang yang sudah sampai pada tahap puncak hidupnya, yaitu ketika sudah mendapatkan pekerjaan yang layak, kehidupan rumah tangga yang mapan, serta segala kebutuhan yang tercukupi, tidak merasakan kebahagiaan hidup. Gambaran ini semakin diperjelas dengan data yang cukup mengejutkan, bahwa dua diantara sepuluh penyebab kematian tertinggi di dunia barat, yang berupa kasus bunuh diri, alkoholisme, berkaitan dengan krisis akan makna (Zohar. Pemunculan berkaitan dengan satu fenomena yang umum dialami manusia masa kini, yaitu manusia tidak lagi memiliki kepastian apa yang harus diperbuatnya dan apa yang sepatutnya Frustrasi eksistensial tidak nampak jelas, namun umumnya ditandai dengan hilangnya minat, kurangnya inisiatif, serta perasaan hampa. Manifestasi dari frustrasi eksistensial akan ditandai oleh simptomatologi R Hendro Rumpoko Perwito Utomo dan Tatik Meiyuntari neurotik yang tampak seperti depresi dan gangguan-gangguan Dalam menghadapi masalah-masalah yang begitu kompleks, ada sebagian individu yang berhasil mengatasinya, namun tak jarang pula yang kega-galan. Individu mengalami kegagalan ini akan mengalami kesulitan dalam hidupnya, hal ini tidak mustahil akan menimbulkan kecemasan yang akan mempengaruhi keadaan emosi seseorang, yakni kestabilan emosi, dan ketidakstabilan emosi ini akan mengganggu kegiatan seseorang dalam bekerja atau bergaul (Hidayati, dalam Santosa, 1. Mahmud . menyatakan bahwa emosi sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia, karena tingkah laku penyesuaian diri seseorang ditentukan oleh emosinya, dan emosi juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap tingkah laku, kepribadian, dan kesehatan Semiun . mengungkapkan bahwa dalam perkembangan individu yang menyangkut emosinya, terdapat dua macam kualitas emosi, yaitu emosi positif dan negatif. Lebih lanjut dikatakan bahwa emosi positif diekspresikan dalam perilaku yang dapat menumbuhkan rasa senang. misalnya cinta, gairah, harapan, semangat, dan kegembiraan. Sedangkan emosi negatif dirasa tidak menyenangkan bagi individu, seperti putus asa, kecewa, marah, sedih (Semiun, 2. Michael menemui bahwa mahasiswa mengalami gejala depresi sejak awal kuliah dengan berbagai sebab masalah, antara lain masalah akademik, kesendirian, masalah ekonomi dan masalah hubungan dengan lawan jenis. Untari . menyatakan bahwa berbagai masalah tersebut Mengacu pada pendapat Duffy dkk . alam Susilowati & hasanat, 2. juga menyebutkan bahwa masa pendidikan tinggi . juga merupakan masa transisi dimana masa ini dirasa menekan karena individu dihadapkan pada tuntutan-tuntutan Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan prevalensi depresi pada masyarakat dunia adalah 3 %, sementara di Indonesia, berdasarkan data Riskesdas tahun 2007, prevalensi gangguan mental emosional seperti kecemasan dan depresi adalah sebesar 11,6 % dari populasi usia dewasa . alam Maulida, 2. Berarti dengan jumlah populasi usia dewasa Indonesia lebih kurang 000 terdapat 1. 000 orang saat ini yang mengalami gangguan mental emosional . ata Depkes 2009 dalam Maulida 2. Dari data tersebut, prevalensi depresi yang terjadi pada mahasiswa lebih tinggi dibandingkan populasi pada umumnya (Hariyanto dalam Maulida, 2. Berdasarkan semua fenomena yang terkait dengan depresi, kebermaknaan hidup dirasa memegang peranan yang besar dalam mempengaruhi munculnya depresi. Asumsi ini dibuktikan dengan sindroma yang nampak menonjol di masya-rakat akhir akhir ini, yakni sindroma ketidakbermaknaan hidup (Leahy. Arifin, 1994. dan Bastaman, 1. , dan manifestasi paling berat dari depresi dan ketidak-bermaknaan hidup adalah munculnya perilaku bunuh diri. Angka bunuh diri di Indonesia dinilai masih cukup tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2005, sedikitnya 50. 000 orang Indonesia melakukan tindak bunuh diri tiap Dengan demikian, diperkirakan 500 orang Indonesia melakukan bunuh diri per harinya . ttp://nasional. diunduh 25 juli 2. Menurut Havighurst . alam Hurlock 1. , tugas tugas yang harus dilakukan individu remaja akhir yang memasuki masa dewasa awal antara lain mengorientasi hubungan baru dengan teman sebaya, mencapai peran sosial, mencapai perilaku sosial yang Kebermaknaan Hidup. Kestabilan Emosi dan Depresi bertanggungjawab, mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan lingkungan awalnya, mempersiapkan karir ekonomi, mempersiapkan perkawinan dan kehidupan Kondisi tersebut mengisyatkan banyaknya potensi masalah yang mungkin timbul dalam upaya pemenuhannya, terutama termanifestasi dalam emosionalitas individu, seperti halnya kekecewaan, kesedihan, tidak menganggap diri gagal, dst (Ulfah, 2. Berdasarkan paparan di atas, penulis melihat adanya benang merah hubungan antara kebermaknaan hidup dan kestabilan emosi dengan tingkat depresi individu. Dimana dapat diajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut : Apakah tingkat kebermaknaan hidup dan kestabilan emosi berhubungan dengan tingkat Apakah kebermaknaan hidup berhubungan dengan tingkat depresi. Apakah kestabilan emosi berhubungan dengan tingkat depresi. Depresi Depresi diartikan sebagai suatu bentuk emosi yang bercirikan kesedihan yang hebat, merasakan kegagalan, ketidakberhargaan dan penarikan diri dari orang lain (Sue, dkk, 1. Trisna . alam Hadi, 2. juga mengataan bahwa depresi adalah suatu perasaan sendu atau sedih yang biasanya disertai dengan diperlambatnya gerak dan fungsi tubuh, mulai dari perasaan murung sampai keadaan tak Beck . menggambaran depresi sebagai keadaan abnormal pada seseorang yang ditujukkan dengan tanda-tanda dan gejalagejala seperrti suasana hati yang murung, sikap spontanitas dan tanda tanda vegetatif yang American Psychological Association . memberikan definisi bahwa depresi merupakan perasaan sedih atau kosong yang disertai dengan penurunan minat terhadap aktifitas yang menyenangkan, terjadi gangguan tidur dan pola makan, penurunan kemampuan konsentrasi, perasaan bersalah yang berlebihan. Menurut Holmes . , simptom utama gangguan depresi adalah masalah yang berhubungan dengan mood. Individu merasa tertekan, murung, sedih, putus asa dan kecewa. Individu yang mengalami depresi juga sering merasa diisolasi, ditolak dan tidak dicintai. Individu yang mengalami depresi kadang-kadang menggambarkan diri mereka seolah-olah sendirian di dalam lubang yang gelap dan tidak dapat keluar. Holmes . , mengatakan bahwa ada 6 . simptom kognitif yang berperan penting dalam depresi. Pertama, individu yang mengalami depresi mempunyai harga diri yang sangat rendah. Mereka berpikir bahwa mereka tidak adekuat, inferior, tidak mampu, tidak berharga, dan sering merasa sangat ber-salah atas kegagalannya. Simptom kedua adalah Individu yang depresi akan percaya bahwa masalahnya akan semakin memburuk. Simptom ketiga adalah penurunan motivasi. Adanya kepercayaan bahwa mereka tidak dapat menyelesaikan masalahnya mengakibatkan individu yang depresi melihat tidak ada alasan untuk menyelesaikan masalahnya atau mencari pertolongan, sehingga membuat masalah yang dimiliki individu yang bersangkutan bertambah dan semakin membuat individu tersebut Simptom yang keempat muncul karena hal tersebut, yaitu adanya sikap negatif. Dimensi atau indikator pada skala depresi yang dipakai adalah mengacu pada gejala depresi menurut Beck . alam Ulfah, 2. , yaitu : . Simptom emosional, meliputi kesedihan, suasana hati yang buruk, kesepian, kebosanan, sikap apatis serta berkurangnya perasaan kegembiraan dan cinta kasih. Simptom kognitif seperti rendahnya penilaian terhadap diri sendiri, menolak bantuan orang lain, mencela diri sendiri, sulit mengambil R Hendro Rumpoko Perwito Utomo dan Tatik Meiyuntari keputusan, citra tubuh negative sehingga beranggapan dirinya kurang menarik atau Simptom motivasional, meliputi menurunnya atau hilangnya motivasi untuk kehidupan sehari-hari, bahkan yang bersifat primer seperti makan dan minum. Simptom motivasional justru mengarah pada munculnya dorongan untuk melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri, seperti menyakiti diri atau bahkan bunuh diri. Simptom fisik dan vegetative meliputi gangguan tidur, gangguan makan, hilangnya libido seksual, dan mudah merasa letih. Kebermaknaan Hidup Victor Frankl menggunakan istilah Logoterapi sebagai suatu sistem yang berpandangan tentang pentingnya kemauan akan makna dalam eksistensi Schultz . , mengungkapkan bahwa eksistensialisme merupakan suatu konsep yang menjabarkan tentang kebebasan manusia, kebebasan dalam berkeinginan dan kebebebasan dalam memilih atau mengambil Sebuah konsep yang bermuara pada keyakinan bahwa manusia adalah makhluk yang berkesanggupan melampaui, mengubah, dan menjadikan dirinya sendiri sebagi sesuatu yang diinginkannya. Frankl belajar bahwa manusia dapat kehilangan segala sesuatu yang dihargainya kecuali kebebasan manusia yang sangat fundamental: kebebasan untuk memilih suatu sikap atau cara bereaksi terhadap nasib, kebebasan untuk memilih caranya sendiri (Frankl, 2. Individu dapat menyimpan kekuatan terakhir untuk memutuskan hasil dari eksistensi manusia. Unsur kebebasan spiritual ini tidak dapat diambil dari manusia. unsur tersebut memberi kepada kehidupan arti dan maksud, dan tanpa itu tidak ada alasan untuk tetap hidup. Mencari arti dapat merupakan tugas yang membingungkan dan mereduksikan tegangan batin. Frankl melihat peningkatan tegangan ini sebagai prasyarat untuk kesehatan psikologis. Suatu kehidupan tanpa tegangan, suatu kehidupan yang diarahkan kepada stabilistas dan keseimbangan tegangan batin, tersiksa dalam noogenic neurosis, maka kehidupan ini akan kekurangan Suatu kepribadian yang sehat mengandung tingkat tegangan tertentu antara apa yang telah dicapai atau diselesaikan dengan apa yang harus dicapai atau diselesaikan, suatu jurang pemisah antara siapa individu dan bagaimana seharusnya individu. Individu yang sehat selalu memperjuangkan tujuan yang memberikan arti bagi kehidupan. Individu tersebut terus tantangan untuk memperoleh maksud-maksud baru yang harus dipenuhi. Perjuangan yang terus menerus ini menghasilkan kehidupan yang penuh semangat dan gembira (Bastaman. Konsep makna hidup pada penelitian ini menurut penyimpulan Bastaman . dari karya Frankl, adalah hal-hal yang oleh seseorang dipandang penting, dirasakan berharga, dan diyakini sebagai sesuatu yang benar serta dapat dijadikan tujuan hidupnya. Secara umum, makna hidup daat dilihat dari sifatnya ada dua, yaitu. Makna hidup subyektif dan makna hidup objektif. Makna hidup subyektif cenderung bersifat personal, temporal dan unik. Artinya apa yang dianggap penting dapat berubah dari waktu ke waktu, dan saatsaat bermakna yang berarti bagi seseorang belum tentu berarti pula bagi orang yang lain. Hal-hal yang dianggap penting dapat berlangsung sekejab, dapat pula berlangsung untuk waktu yang cukup lama. Sifat lainnya adalah konkret dan spesifik, yakni makna hidup benar-benar ditemukan dalam penga-laman nyata dan kehidupan sehari-hari, serta tidak harus selalu dikaitkan dengan hal-hal yang abstrak, filosofis, dan idealis, serta karya seni Kebermaknaan Hidup. Kestabilan Emosi dan Depresi dan prestasi akademis yang serba menakjubkan (Bastaman, 2. Skala Kebermaknaan Hidup yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari Skala Kebermaknaan Hidup yang disusun oleh Zainurrofikoh . , berdasarkan sintesa komponen Kebermaknaan Hidup menurut Frankl . alam Bastaman, 1. Komponen Kebermaknaan Hidup adalah : . Makna Hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi individu. Bila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan demikian berarti dan berharga. Di dalamnya terkandung juga tujuan hidup, yakni hal-hal yang perlu dicapai dan dipenuhi dalam hidup. kebebasan berkehendak . reedom of wil. Kebebasan berkehendak yaitu kebebasan yang dimiliki seseorang untuk menentukan sikap dalam hidupnya, menentukan apa yang dianggap penting dan baik bagi dirinya. Kebebasan dalam hal ini bukanlah kebebasan yang mutlak dan tanpa batas, namun merupakan kebebasan yang diimbangi dengan sikap tanggungjawab agar tak berkembang menjadi kesewenangan. Kepuasan hidup. Kepuasan hidup adalah penilaian seseorang terhadap hidupnya, sejauh mana ia mampu menikmati dan merasakan kepuasan dalam aktivitas-aktivitas Kestabilan Emosi Teori emosi yang berkembang pada saat ini menekankan pada sifat dasar, asal mula dan perkembangan serta perbedaan antara emosi dan bukan emosi. Emosi merupakan respon fisiologis yang kompleks dan terpola serta ditimbulkan oleh penilaian seseorang terhadap peristiwa-peristiwa lingkungannya (Strongman, 1. Santrock . berpendapat bahwa emosi adalah perasaan atau afeksi yang timbul ketika individu sedang berada dalam suatu keadaan atau suatu interaksi yang dianggap penting Dalam kehidupan sehari-hari, tindakan seseorang selalu mendapat pengaruh dari emosinya, keadaan pikirannya dan pertimbangan akalnya. Akan tetapi tidak jarang pula dalam situasi tertentu emosi lebih berpengaruh daripada fungsi-fungsi jiwa yang Emosi kadang menghambat tingkah laku, kadang mendorong dan memberi semangat tingkah laku (Wahyudi, 1. Ruch . alam Santosa, menyatakan bahwa emosi merupakan suatu keadaan perasaan yang kompleks yang melibatkan pengalaman yang dasadari, responrespon fisik yang tampak dan tidak tampak, serta kekuatan yang memo-tivasi individu untuk bertindak. Lugo dan Hershey . alam Santosa, 1. , mengatakan bahwa emosi itu menyertai apa saja yang individu kerjakan, pikirkan, pelajari, dan kadang-kadang emosi melanda seseorang dengan hebat sehingga membingungkannya, sementara pada waktu yang lain sukar diketahui sehingga orang tidak menyadari tentang keberadaannya. Berdasarkan beberapa pandangan para ahli tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa emosi merupakan perasaan manusia yang mendalam dan kompleks, yang mempunyai sifat fisik, psikis, pribadi dan sosial, yang dipengaruhi oleh pengalaman serta lingkungan. Demikian pengertian emosi secara umum, yang merupakan pengalaman batin manusia dan bersifat subyektif sehingga yang nampak hanyalah gejala-gejala saja, yang dapat diamati dengan adanya perubahan jasmani dan tingkah Kennedy-Moore dan Watson . alam Stevens, 2. , mengatakan bahwa emosi memiliki tiga komponen primer, yaitu: . ekspresi emosi yang merupakan tingkah laku verbal dan nonverbal yang dapat diamati serta R Hendro Rumpoko Perwito Utomo dan Tatik Meiyuntari berfungsi untuk mengkomunikasikan dan/atau memberi simbol terhadap pengalaman emosi. pengalaman emosi yang merupakan sensasi bersifat subyektif yang dirasakan dari responrespon emosi dan . keterbangkitan emosi yang bersifat fisiologis. Emosi juga memiliki sebuah komponen sekunder yang berupa refleksi emosi, termasuk pemikiran tentang ketiga komponen primer tersebut. Schneider . alam Rosdiana, 2. , menjelaskan bahwa kestabilan emosi didukung oleh kesehatan fisik berhubungan dengan kesehatan emosi dan Kestabilan mengandung tiga aspek, yaitu : . emosi, reaksi emosi yang sesuai dengan yang diterimanya, reaksi ini menyangkut isi dan arah Reaksi emosi ini kemudian diwujudkan dalam bentuk ekspresi tertentu. Keadaan reaksi emosi yang tidak adekuat, baik dalam isi maupun arah emosi, dapat mengganggu kesehatan emosi dan penyesuaian emosi. Individu kematangan emosi memiliki kemampuan berekspresi atau bertingkah laku dalam melakukan reaksi emosi sesuai dengan tingkat per-kembangannya. Bila seorang anak kecil mengalami kemarahan yang me-ledak-ledak, maka itu adalah hal yang wajar, namun akan dikatakan tidak wajar apabila individu yang mengalaminya telah menginjak usia dewasa. kontrol emosi. Kontrol emosi meliputi pengaturan emosi agar sesuai dengan tuntutan ling-kungan dengan nilai-nilai, cita-cita dan prinsip-prinsip. Chaplin . mengatakan bahwa kontrol emosi merupakan suatu usaha di pihak individu un-tuk mengatur dan menguasai emosi, baik bagi diri sendiri maupun orang Kontrol emosi sangat penting bagi tercapainya kematangan, penyesu-aian dan kesehatan mental. HIPOTESIS Berdasarkan dari rumusan masalah dan landasan teori diatas, maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah : . Ada hubungan antara Kebermaknaan Hidup dan Kestabilan Emosi dengan Tingkat depresi. Ada hubungan negatif antara Kebermaknaan Hidup dengan Tingkat depresi. Semakin tinggi tingkat kebermaknaan hidup, semakin rendah tingkat depresinya. Ada hubungan negatif antara Kestabilan Emosi dengan Tingkat Semakin stabil emosi individu, semakin rendah tingkat depresinya. METODE Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian korelasional dengan menggunakan variabel bebas kebermaknaan hidup dan kestabilan emosi dengan variabel tergantung adalah tingkat depresi. Subyek penelitian adalah mahasiswa di beberapa universitas di Jogjakarta yang telah memasuki masa dewasa awal . sia 19 s/d 25 tahu. berjumlah 93 mahasiswa pemilihan subjek dilakukan dengan Pengumpulan menggunakan skala yang terdiri dari alat ukur yang mengungkap depresi, alat ukur yang mengungkap kebermaknaan hidup, dan alat ukur yang mengungkapkan kestabilan emosi. Alat ukur depresi menggunakan BDI (Beck Depression Inventor. yang dikembangkan oleh Beck yang mengungkap 21 simtom depresi (Beck, 1. Alat ukur kebermaknaan hidup menggunakan skala yang dikembangkan oleh Zainurrofikoh . , berdasarkan sintesa komponen kebermaknaan hidup menurut Frankl . alam Bastaman, 1. Sedangkan alat ukur kestabilan emosi menggunakan skala yang dibuat oleh Apriadi . yang terdiri atas 37 aitem dan 3 aspek yaitu adekuasi emosi, kematangan emosi, kontrol emosi. Data yang dikumpulkan akan dianalisa secara kuantitatif, menggunakan analisa statistik Regresi Linear Berganda. Program yang digunakan dalam Kebermaknaan Hidup. Kestabilan Emosi dan Depresi analisa data dalam penelitian ini adalah program SPSS (Statistical Product and Service Solutio. for Windows Version 17. Sebelum dilakukan analisa statistik Regresi Linear Berganda maka dilakukan uji prasyarat atau uji asumsi yang sudah dilaksanakan sebelumnya yaitu normalitas data dan multikolinearitas. Hasil kedua uji tersebut sudah memenuhi syarat untuk dilakukan uji analisa data Regresi Linear Berganda. HASIL Dari analisis data yang dilakukan, maka diperoleh hasil korelasi parsial antara kebermaknaan hidup dengan depresi diperoleh nila -0,462, p < 0,001. Hasil ini menunjukan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara kebermaknaan hidup dengan depresi. Hubungan antara kebermaknaan hidup dengan depresi menunjukkan nilai negatif yang berarti bahwa semakiin tinggi kebermaknaan hidup maka semakin rendah tingkat depresinya. Sedangkan hubungan antara kestabilan emosi dengan depresi diperoleh nilai -0,418, p < 0,001. Hasil ini menunjukan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara kestabilan emosi dengan depresi. Hubungan antara kestabilan emosi dengan depresi menunjukkan nilai negatif yang berarti bahwa semakiin tinggi kestabilan emosi maka semakin rendah tingkat depresinya. Hasil uji hipotesa mayor menunjukan bahwa nilai F=17,494, p = 0,000 dimana p < 0,001 yang berarti bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara kebermaknaan hidup, kestabilan emosi dengan depresi pada Sehingga menyatakan bahwa ada hubungan antara kebermaknaan hidup dan kestabilan emosi dengan tingkat depresi diterima. Sumbangan masing-masing variabel terhadap tingkat depresi adalah Kebermaknaan Hidup dapat mempengaruhi secara negatif atau berlawanan terhadap Depresi sebesar 42,1 % dan Kestabilan Emosi dapat mempengaruhi secara negatif atau berlawanan terhadap Depresi sebesar 51,1 %. Sedangkan sisanya sebesar 6,8 % dipengaruhi variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. PEMBAHASAN Penelitian yang mendukung hubungan antara Kebermaknaan dan kesehatan jiwa pernah dilakukan oleh beberapa psikolog, antara lain Kotchen. Davis, dkk. , dan Schroeder. Kotchen . alam Frankl, 1. mendapatkan hubungan positif antara orientasi terhadap makna dengan kesehatan mental. Permasalahan yang dihadapi mahasiswa, sebagai subyek pada penelitian ini, tak lepas dari permasalahan identitas, perwujudan diri, serta koping dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. Berkenaan dengan hal tersebut Maslow . alam Crapps, 1. mengungkapkan bahwa individu harus terlebih dahulu mengembang-kan perasaan bahwa dirinya pantas serta memiliki identitas, dan melalui tahap pemenuhan serta perwujudan diri, pada tahapan berikutnya individu akan mampu mengatasi perasaan bahwa dirinya tidak berharga dan tidak bermakna. Sementara Prihastiwi . menunjukkan adanya korelasi positif antara tingkah laku koping dengan kebermaknaan Hipotesis kedua dalam penelitian ini juga terbukti yakni ditemukan ada hubungan negative kebermaknaan hidup dengan tingkat Semakin tinggi tingkat kebermaknaan hidup individu, akan semakin rendah tendensi Makna hidup adalah rumusanrumusan yang secara kognitif disadari oleh individu atas segenap hal yang dialami yang penurunan tingkat depresi. Hedayati & Khazaei . juga menemukan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara kebermaknaan hidup dan tingkat depresi . = -0. 479, p < 0,. R Hendro Rumpoko Perwito Utomo dan Tatik Meiyuntari Penelitian yang dilakukan oleh Kleftaras & Psarra kebermaknaan hidup memiliki hubungan negatif yang sangat signifikan dengan depresi yaitu sebesar r`=`- 0,63, p < 0,0001. Penelitian tentang kebermaknaan hidup dan kesehatan mental dengan subyek narapidana yang dilakukan oleh Bukhori . juga menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan, dimana semakin tinggi tingkat kebermaknaan hidup, maka semakin tinggi pula tingkat kesehatan mental individu. Penelitian tersebut menemukan bahwa kebermaknaan hidup mempengaruhi kesehatan mental sebesar 41,4 %. Hipotesis ketiga dari penelitian ini juga terbukti, yakni adanya hubungan negatif antara kestabilan emosi dengan tingkat depresi. Semakin tinggi kestabilan emosi individu, maka semakin rendah tingkat depresinya, dimana kestabilan emosi memberi sumbangan sebesar 51,1 %. Hal ini sejalan dengan Jessen . dalam penelitian longitudinalnya terhadap subyek remaja juga menemukan hubungan yang signifikan antara kestabilan emosi dengan depresi. Dalam penelitiannya Jessen . menemukan bahwa kestabilan emosi secara signifikan mempengaruhi munculnya depresi sebesar 44,2 %. Dalam penelitiannya Yee Ho, dkk . menemukan bahwa kestabilan emosi dapat mempengaruhi munculnya depresi dan kecemasan sebesar 41 Hasil penelitian yang menunjukkan kebermaknaan hidup dan kestabilan emosi dengan tingkat depresi tersebut menunjukkan bagaimana dinamika proses individu dewasa awal saling terkait. Kompleksitas itu terkait antara kemampuan proses pemaknaan akan apa yang dialami dan kemampuan mengelola emosi yang pada gilirannya dapat memunculkan permasalahan kejiwaan, secara spesifik adalah KESIMPULAN dan SARAN Kesimpulan Berdasarkan penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan : ada hubungan antara kebermaknaan hidup dan kestabilan emosi dengan tingkat depresi pada mahasiswa, ada hubungan negatif antara kebermaknaan hidup dengan tingkat depresi pada mahasiswa. Semakin tinggi tingkat kebermaknaan hidup semakin rendah tingkat depresinya, ada hubungan negatif antara Kestabilan Emosi dengan tingkat depresi pada Semakin stabil emosi individu, semakin rendah tingkat depresinya. Nilai koefisien regresi Kebermaknaan Hidup sebesar 42,1 % dan Kestabilan Emosi sebesar 51,1 %. Saran Peneliti mengembangkan penelitian ini, baik dari segi tema maupun subyek penelitian, misalnya dengan memberlakukan pada jumlah subyek yang lebih besar, yang dipilih secara random agar hasil penelitian dapat di generalisasikan atau menggunakan subyek dengan rentang usia yang berbeda dengan penelitan ini. Bagi mahasiswa, ada banyak strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan Kebermaknaan Hidup dan Kestabilan Emosi. Misalnya, dengan banyak melakukan refleksi terhadap jalan hidup dan pengalaman yang telah dilalui dengan melibatkan hal-hal yang berpengaruh dalam pemenuhan Makna Hidup dan Kestabilan Emosi, yakni nilai kreatif, nilai penghayatan, nilai bersikap dan nilai Mahasiswa diharapkan mampu nilai-nilai disumbangkannya bagi perkembangan dirinya dan kehidupannya, selanjutnya diharapkan mampu mengintegrasikan nilai tersebut dalam penghayatan terhadap segenap apa yang Misalnya, untuk studi yang ditempuhnya, mahasiswa diharapkan mampu melihat dalam perspektif nilai ideal. Pada Kebermaknaan Hidup. Kestabilan Emosi dan Depresi gilirannya, mahasiswa diharapkan mampu menentukan sikap-sikap yang positif atas segala peristiwa dan pengalaman hidup yang Pemahaman dan pemaknaan atas pengalaman hidup tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi berupa kepercayaan diri yang lebih tinggi, dan peng-hargaan diri yang baik, serta adanya kestabilan emosi yag baik yang pada gilirannya akan mampu menurunkan tingkat depresi. Bagi pihak terkait, dalam hal ini adalah orangtua dan dosen. Sebagai individu yang memasuki masa dewasa awal, tentunya mahasiswa mengalami berbagai permasalahan dengan keluarganya yang akan ditinggalkannya pada saat ia akan memasuki pilihan hidupnya Maka, dalam hal ini diharapkan orangtua dapat memberikan suasana yang kondusif bagi para mahasiswa agar ia dapat mempersiapkan kehidupannya dengan baik, yang terutama dalam hal ini adalah mempersiapkan nilai-nilai hidupnya. Split . pemaknaan akan apa yang dijalani dan dialami, yang pada gilirannya dapat memunculkan sindrom kehampaan makna adalah karena orang tua terlalu menuntut dan membebani anak dengan berbagai tuntutan nilai dan program hidup, sementara individu . gagap atau terhambat dan bahkan tak mampu memaknai semua yang dijalaninya. Pada usia dewasa awal ini, orang tua harus semakin banyak melakukan dialog dengan anak dan dengan kesadaran penuh membimbing anak untuk menemukan makna atas apa yang dijalaninya sendiri secara Para dosen dapat membantu para mahasiswa dengan lebih memberikan penekanan pada pemahaman dan pemaknaan ilmu yang dipelajari serta lebih memfo-kuskan pada pembimbingan agar para mahasiswa tidak hanya mahir dalam knowledge saja, tetapi juga mengarahkan dan memantau agar para mahasiswa juga berorganisasi, berkegiatan ekstra kuliah, dan mulai terlibat dalam kegiatan kemasya-rakatan, yang pada gilirannya akan kian mematangkan tingkat emosionalitas dan kebermaknaan hidup para mahasiswa. DAFTAR PUSTAKA