ISSN 2548-9623 (Onlin. Available online at : http://jurnal. id/index. php/acehmedika ISSN 2548-9623 (Onlin. Universitas Abulyatama Jurnal Aceh Medika GAMBARAN KELAINAN REFRAKSI PADA SISWA/I DI SD ABULYATAMA Fauziyah Hayati 1. Meri Lidiawati2 Program Studi Kedokteran Umum. Fakultas Kedokteran. Universitas Abulyatama. Jl. Blangbintang Lama. Aceh Besar. Indonesia * Email korespondensi: fauziyahhayati_fk@abulyatama. Diterima 21 Agustus 2024. Disetujui 16 September 2024. Dipublikasi 7 Oktober 2024 Abstract: Refractive disorders are the leading visual impairment in the world and the second leading cause of treatable blindness. This study aims to determine the description of refractive disorders in students at Abulyatama Elementary School. This type of research is quantitative descriptive with a cross-sectional time approach. The study was conducted in may 2024. Sampling in this study uses a random sampling technique. The sample in this study amounted to 60 respondents. The data collection technique in this study was by taking visual acuity measurement data. Data analysis was carried out in this study with a percentage. The results showed that out of 60 respondents and the results obtained 43 people . 7%) did not experience abnormalities . , 14 people . 3%) experienced myopia, 2 people . 3%) experienced astigmatism, and 1 person . experienced hypermetropia. Children who do not experience refractive disorders are 19 boys . 7%) and 24 girls . %), those who experience myopia refractive disorders are 5 boys . and 9 girls . %), those who experience astigmatism refractive disorders are 2 female students . 3%) and those who experience hypermetropia refractive disorders are 1 male student . 7%). Detection of eye disorders in Abulyatama Elementary School students can be done through periodic Students who experience refractive disorders are advised to get treatment at health Keywords: Refractive Disorders. Students Abstrak: Kelainan refraksi merupakan masalah penglihatan yang utama di dunia dan penyebab kebutaan kedua yang dapat diatasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kelainan refraksi pada siswa/siswi di SD Abulyatama. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan waktu cross-sectional. Penelitian dilakukan pada bulan mei 2024. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan teknik random sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 60 Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan mengambil data pengukuran visus. Analisa data yang dilakukan pada penelitian ini dengan persentase . Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 60 responden dan diperoleh hasil 43 orang . ,7%) tidak mengalami kelainan . , 14 orang . ,3%) mengalami myopia, 2 orang . ,3%) mengalami astigmatisma, dan 1 orang . ,7%) mengalami hypermetropia. Anak yang tidak mengalami kelainan refraksi sebanyak 19 orang laki-laki . ,7%) dan 24 orang Perempuan . %), yang mengalami kelainan refraksi mipoia 5 orang laki-laki . ,3%) dan 9 orang Perempuan . %), yang mengalami kelainan refraksi astigmatisma yaitu 2 siswa Perempuan . ,3%) dan yang mengalami kelainan refraksi hipermetropi yaitu 1 orang siswa laki-laki . ,7%). Deteksi kelainan mata pada siswa/siswi SD Abulyatama dapat dilakukan melalui skrining berkala. Siswa/siswi yang mengalami kelainan refraksi disarankan untuk mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan. Kata Kunci: Kelainan Refraksi. Siswa Gambaran Kelainan Refraksi Pada (Hayati & Lidiawati, 2. -58- Jurnal Aceh Medika. Vol. 8 No. Oktober 2024 : 58-64 http://jurnal. id/index. php/acehmedika PENDAHULUAN Perkembangan Kesehatan adalah aset yang tak ternilai penglihatan anak masih terus berlangsung hingga bagi setiap individu. Sayangnya, banyak yang usia 11 tahun. Pada rentang usia ini, kebiasaan belum menyadari sepenuhnya betapa pentingnya yang tidak sehat seperti terlalu lama menatap layar gadget dari jarak dekat dapat berdampak Hal ini bisa jadi disebabkan oleh buruk bagi kesehatan mata anak. Hal ini dapat kurangnya edukasi tentang kesehatan. Dalam tubuh manusia terdapat organ-organ vital seperti karena cahaya tidak terfokus dengan tepat pada mata, tangan, kaki, hidung, mulut, telinga, dan retina, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kepala yang memerlukan perhatian khusus. elongasi aksial dan kelainan refraksi (Kemenkes era modern ini, kesehatan mata menjadi isu yang RI. , 2. sangat penting karena organ ini sangat rentan Kelainan mengalami masalah (Ratanna et al. , 2. Mata memengaruhi kesehatan mata anak-anak, tetapi juga memiliki dampak yang mendalam pada kehidupan manusia. Sebagai indra penglihatan, mata memungkinkan kita untuk berinteraksi meningkatkan risiko masalah mata yang serius seperti degenerasi makula miopia dan ablasio Sayangnya, mata, termasuk kelainan refraksi. Berdasarkan data dari Kemenkes RI . , kelainan refraksi memengaruhi kesejahteraan psikososial anak. adalah kondisi di mana mata tidak dapat Hal ini dapat berdampak negatif pada hasil pendidikan dan kesempatan belajar mereka, yang Selain berbagai penyakit dapat mengganggu fungsi Kelainan refraksi merupakan penyebab low Kita tahu bahwa 30% informasi vision yang paling umum kedua dan menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. pendengaran, sehingga gangguan pada indra ini mengakibatkan penglihatan yang tidak jelas. Kementerian Kesehatan RI (Kemenke. dapat menghambat kemampuan belajar anak menyatakan bahwa kelainan refraksi yang tidak (Indrakila et al. , 2021. Kemenkes RI, 2. ditangani menjadi penyebab utama gangguan Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi penglihatan secara global, dengan persentase juga dapat menyebabkan ambliopia. Menurut mencapai 48,99%. Setelah kelainan refraksi. WHO, sekitar 1,3% hingga 3,6% anak di seluruh katarak menjadi penyebab kedua terbanyak dunia mengalami kehilangan penglihatan akibat . ,81%), disusul oleh AMD . ,1%). Kemenkes juga menyoroti bahwa Indonesia menempati Kasus kelainan refraksi semakin menjadi peringkat ke-5 dunia dalam hal jumlah kasus perhatian global, terutama di negara-negara kelainan refraksi (Kemenkes, 2. Lebih berkembang yang memiliki angka kejadian mengkhawatirkan lagi. Indonesia menempati Ironisnya. Indonesia kurang memberikan urutan pertama di Asia Tenggara untuk kasus perhatian yang memadai terhadap masalah ini, penyakit mata, dengan peningkatan 25% dari populasi atau sekitar 55 juta orang yang pemeriksaan mata di sekolah dasar, atau bahkan mengalami gangguan penglihatan (Ariana, 2. tidak adanya sama sekali di beberapa daerah, -59- anak-anak. Kurangnya ISSN 2548-9623 (Onlin. menjadi bukti kurangnya perhatian terhadap dilakukan di 15 provinsi pada tahun 2014-2016, masalah ini. Padahal, lingkungan sekolah dapat mencakup berbagai pulau seperti Sumatra. Jawa, menjadi faktor pemicu penurunan penglihatan Kalimantan. Sulawesi. Bali. Nusa Tenggara pada anak akibat kelainan refraksi. Oleh karena Barat. Nusa Tenggara Timur. Maluku, dan itu, kelainan refraksi pada anak perlu segera Papua. Survei ini bertujuan untuk memberikan ditangani (Ariana, 2. gambaran representatif kondisi di Indonesia. Di beberapa daerah Indonesia, masalah dengan mempertimbangkan populasi besar di kelainan refraksi, terutama pada anak-anak. Pulau Jawa . % dari total penduduk Indonesi. masih kurang mendapat perhatian. Program dan Jawa Barat . % dari total penduduk pemeriksaan kesehatan anak sekolah dasar lebih Indonesi. (Kemenkes RI, 2. difokuskan pada kesehatan gigi dan mulut. Anak-anak yang berada pada usia sekolah (WHO Padahal, lingkungan sekolah dapat sementara di Indonesia umumnya 6-12 tahu. memicu penurunan ketajaman penglihatan pada seringkali belum bisa sepenuhnya mengikuti apa anak, misalnya ketika mereka membaca tulisan di yang diperintahkan oleh orang tua maupun orang papan tulis dari jarak jauh dengan pencahayaan yang lebih dewasa. Mereka juga masih kurang yang buruk, membaca buku terlalu dekat, atau memiliki kesadaran diri karena pada usia ini anak-anak lebih mengikuti ego kesenangan ergonomis (Ilyas, n. Penelitian menunjukkan bahwa faktor . Anak-anak usia sekolah yang mengalami menyebabkan kelainan refraksi, yaitu sebesar koreksi refraksi akan kesulitan dalam menerima Selain itu, aktivitas melihat dekat yang berlebihan, seperti membaca, bermain game, atau kecerdasan mereka. Mengingat 30% informasi berkontribusi terhadap kelainan refraksi . ,5%) pendengaran, maka masalah ini perlu mendapat (Dirani et al. , 2. Untuk mencegahnya, perhatian serius. Oleh karena itu, peneliti penting untuk memperhatikan teknik dan etika termotivasi untuk melakukan penelitian tentang yang baik dalam melakukan aktivitas tersebut. Gambaran kelainan refraksi pada siswa/I di Pengaturan posisi, jarak pandang, durasi, dan sekolah SD Abulyatama. intensitas cahaya yang tepat sangat penting untuk METODE PENELITIAN menjaga kesehatan mata. Jenis Penelitian yang digunakan adalah Data mengenai gangguan penglihatan di Indonesia bersumber dari Rapid Assessment of penelitian crossectional. Penelitian dilakukan RAAB memberikan data tentang prevalensi pada bulan 11 Mei 2024. Pengambilan sampel dalam penelitian ini penyebabnya, kualitas layanan perawatan mata, dengan teknik cluster random sampling. Sampel hambatan, cakupan operasi katarak, dan indikator dalam penelitian ini berjumlah 107 responden. lainnya terkait layanan perawatan mata di suatu Jenis Penelitian yang digunakan adalah Di Indonesia, survei RAAB telah Gambaran Kelainan Refraksi Pada (Hayati & Lidiawati, 2. deskriptif analitik menggunakan pendekatan Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014-2016. dengan desain penelitian -60- Jurnal Aceh Medika. Vol. 8 No. Oktober 2024 : 58-64 http://jurnal. id/index. php/acehmedika astigmatisma, dan 1 orang . ,7%) mengalami pendekatan penelitian crossectional. Penelitian dilakukan pada 21 mei 2024. Kelainan refraksi berdasarkan jenis kelamin Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan teknik random sampling. Sampel dalam Kelainan refraksi berdasarkan jenis kelamin penelitian ini berjumlah 60responden. siswa/I SD Abulyatama dapat dilihat pada tabel 3 Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan mengambil data pengukuran visus. Tabel 3 Distribusi Frekuensi Kelainan Refraksi berdasarkan Jenis Kelamin Siswa/I SD Abulyatama Analisa data yang dilakukan pada penelitian ini dengan persentase. Emetro F % Kelainan Refraksi Miopi astigmati Hipermet f % f Lakilaki Distribusi frekuensi jenis kelamin dapat dilihat Perem dari tabel 1 Total Jenis HASIL PENELITIAN Hasil Penelitian Analisis Univariat Jenis Kelamin Tabel 1. Distribusi frekuensi jenis kelamin siswa/I SD Abulyatama Kelainan refraksi Laki-laki Perempuan Total Frekuensi Abulyatama refraksi sebanyak 19 orang laki-laki . ,7%) dan 24 orang Perempuan . %), yang mengalami kelainan refraksi mipoia 5 orang laki-laki . ,3%) dan 9 orang Perempuan . %), yang mengalami kelainan refraksi astigmatisma yaitu 2 siswa 38,3%. Perempuan . ,3%) dan yang mengalami kelainan refraksi gipermetropi yaitu 1 orang siswa laki- Kelainan Refraksi laki . ,7%). Hasil Analisa univariat mengenai kelainan refraksi dapat dilihat pada tabel 2 berikut PEMBAHASAN Kelainan Refraksi Tabel 2 Distribusi Frekuensi siswa/I SD Abulyatama yang mengalami kelainan Kelainan refraksi Emetropia Miopia Total Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan hasil dari 60 responden dan diperoleh hasil 43 , . ,3%) . ,3%) . ,3%) . ,3%) astigmatisma, dan 1 orang . ,7%) mengalami bahwa dari 60 responden dan diperoleh hasil 43 ,7%) ,7%) Berdasarkan tabel 4. 2, dapat disimpulkan 60 responden yang tidak mengalami kelainan kelamin yaitu Perempuan 61,7% dan laki-laki Berdasarkan tabel 3 didapatkan hasil dari Berdasarkan tabel 1 didapatkan frekuensi Hasil penelitian sebelumnya oleh Novita . yang menemukan miopia sebagai kelainan mata yang paling umum pada anak-anak . Miopia -61- ISSN 2548-9623 (Onlin. adalah kondisi ketika mata memiliki kekuatan cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus dengan baik pada retina, sehingga menghasilkan terfokus di depan retina. Hal ini disebabkan oleh penglihatan yang kabur dan berbayang. Anak- bola mata yang lebih panjang dari normal. anak yang memiliki astigmatisme lebih dari 1,5 Penderita miopia memiliki titik fokus terjauh dioptri biasanya membutuhkan kacamata untuk yang dekat, menyebabkan mata terus dalam membantu penglihatan mereka (Ratanna et al. keadaan konvergensi dan menimbulkan astenopia Lensa negatif dapat digunakan Tingginya angka kelainan refraksi pada untuk mengoreksi miopia. Miopia umumnya anak usia sekolah dasar . i atas 6 tahu. muncul pada usia sekolah dasar, meningkat memerlukan perhatian lebih. Upaya pemeriksaan hingga usia 11-12 tahun, dan cenderung stabil kelainan refraksi pada anak-anak sekolah dasar pada usia remaja atau dewasa awal. Penelitian ini perlu ditingkatkan agar penanganan dan koreksi mengidentifikasi tingkat miopia pada siswa, dapat dilakukan sejak dini. Penting juga untuk tetapi belum mengklasifikasikan jenis miopia mengetahui seberapa besar tingkat kelainan yang mereka alami. refraksi yang dialami anak-anak sekolah dasar. Miopia, yang juga dikenal sebagai rabun Kelainan jauh, terjadi ketika mata memiliki kekuatan hasil dari 60 responden yang tidak mengalami Akibatnya, sistem akomodasi mata berkurang kelainan refraksi sebanyak 19 orang laki-laki dan panjang aksial bola mata menjadi lebih . ,7%) dan 24 orang Perempuan . %), yang panjang dari biasanya. Penderita miopia hanya mengalami kelainan refraksi mipoia 5 orang laki- dapat melihat dengan jelas objek yang dekat, laki . ,3%) dan 9 orang Perempuan . %), yang karena titik terjauh penglihatan mereka terbatas. mengalami kelainan refraksi astigmatisma yaitu 2 Kondisi ini menyebabkan mata terus-menerus Lensa siswa Perempuan . ,3%) dan yang mengalami kelainan refraksi hipermetropi yaitu 1 orang siswa laki-laki . ,7%). negatif dapat digunakan untuk mengoreksi Beberapa miopia dengan memindahkan fokus cahaya ke Penglihatan kabur pada retina memicu serangkaian proses biokimia yang melibatkan yang pada akhirnya menyebabkan perubahan mRNA Perubahan-perubahan anak-anak . ,4%) Penelitian Ginting laki-laki . ,6%) . menunjukkan hasil serupa, dengan sedikit lebih memicu pertumbuhan retina, koroid, dan sklera, banyak perempuan . ,1%) dibandingkan laki- yang menyebabkan pemanjangan aksial bola laki . ,9%). Namun, penelitian Mihartari et al. mata (Schaeffel, 2. menemukan hasil yang berbeda, yaitu Astigmatisme adalah kondisi mata di mana bentuk kornea tidak bulat sempurna, tetapi lebih laki-laki perempuan . ,7%). lonjong seperti telur. Hal ini menyebabkan Gambaran Kelainan Refraksi Pada (Hayati & Lidiawati, 2. Hidayah et al. menemukan berbagai modulator dan faktor pertumbuhan. Jenis Berdasarkan hasil penelitian didapatkan menyebabkan cahaya terfokus di depan retina. Berdasarkan Kelamin refraksi yang berlebihan atau kerusakan refraksi. Refraksi -62- ,3%) Jurnal Aceh Medika. Vol. 8 No. Oktober 2024 : 58-64 http://jurnal. id/index. php/acehmedika Berdasarkan kesimpulan di atas, berikut Secara anatomis dan histologis, tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki yang dapat meningkatkan risiko kelainan refraksi. dipertimbangkan: diharapkan orang tua lebih Kebiasaan sehari-hari yang tidak memperhatikan mencegah dari gangguan penglihatan seperti kelainan refraksi. penyebab kelainan refraksi. Penelitian Ginting et , . menunjukkan bahwa jenis kelamin DAFTAR PUSTAKA perempuan lebih banyak terkena dibandingkan laki-laki. Ariana R. Karateristik Kelainan Refraksi Pada Pasien Anak Di Pediatric Eye Center kebiasaan melihat jarak dekat yang lebih tinggi Rumah Sakit Periode dibandingkan anak laki-laki (Savitri et al. , 2. Universitas Hasanuddin JanuariDesember Hasanudin. Penelitian Safitri et al. , . di sekolah Dirani M. Islami A. Shekar S. Genetic dasar negeri 162 kota Jambi menunjukkan bahwa Effects On Corneal Astigmatism: The aktivitas fisik anak laki-laki . %) lebih tinggi Genes In Myopia (GEM) Twin Study. daripada anak perempuan . %). Hal ini diduga Invest Ophthalmol Vis Sci. dapat meningkatkan risiko kelainan refraksi pada Ginting D. Amirudin P. Hubungan Usia anak perempuan. Namun, belum ada teori yang Dan Jenis Kelamin Dengan Jenis Kelainan secara pasti menjelaskan mengapa jenis kelamin Refraksi Pada Anak Di Pusat Mata tertentu lebih sering mengalami kelainan refraksi Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo. Dep (Ginting & Amirudin, 2. Ilmu Kesehat Mata Fak Kedokt Univ PENUTUP Padjadjaran Pus Mata Nas Rumah Sakit Kesimpulan Mata Cicendo. Published Online 2016. Berdasarkan Kemenkes RI. Peraturan Mentri Kesehatan disimpulkan bahwa . dari 60 responden dan Republik Indonesia Nomor 82. Kaos GL Derg. :147-154 ,7%) mengalami kelainan . , 14 orang Hidayah L. Anggorowati L. ,3%) mengalami myopia, 2 orang . ,3%) kelainan refraksi mata pada siswa sekolah mengalami astigmatisma, dan 1 orang . ,7%) dasar menurut tanda dan gejala. :78-84 mengalami hypermetropia. dari 60 responden Ihsanti D. Tanuwidjaja S. Respati T. yang tidak mengalami kelainan refraksi sebanyak Hubungan 19 orang laki-laki . ,7%) dan 24 orang Dengan Derajat Kelainan Refraksi Pada Perempuan . %), yang mengalami kelainan Anak Di RS Mata Cicendo Bandung. Pros refraksi mipoia 5 orang laki-laki . ,3%) dan 9 Penelit Sivitas Akad Unisba. Published Online:672-679 Perempuan . %). Usia Dan Jenis Kelamin kelainan refraksi astigmatisma yaitu 2 siswa Ilyas. Ilmu penyakit mata. Perempuan . ,3%) dan yang mengalami kelainan Edisi 3. 2008 / Sidarta Ilyas. Jakarta refraksi hipermetropi yaitu 1 orang siswa laki- Fakultas laki . ,7%). Indonesia Kedokteran Universitas (FKUI) http://kin. id/DisplayData. Saran