Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6. p-ISSN : 2655-657X http://jurnal. id/index. php/IJEC Peningkatan Keterampilan Motorik Halus Anak Kelompok A Melalui Kegiatan Menjahit Pola 1,2,3 Maida Zahra Salsabila1. Sudaryanti2. Nazwa Salsabila Abidin3 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Negeri Yogyakarta. Indonesia Email Korespondensi : maidazahra. 2021@student. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak kelompok A2 BA Aisyiyah 2 Sengon Kecamatan Prambanan Klaten melalui kegiatan menjahit. Penelitian ini menggunakan penelitian tin kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif dengan model penelitian Kemmis & Mc Taggart. Subjek pada penelitian ini adalah anak-anak kelompok A2 usia 4-5 tahun yang berjumlah 17 anak. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu observasi . nstrumen checklis. dan dokumentasi. Kriteria keberhasilan dalam penelitian ini yaitu 76% anak dalam kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB). Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa keterampilan motorik halus dapat ditingkatkan melalui kegiatan menjahit pola. Peningkatan motorik halus terlihat pada pra tindakan yaitu sebesar 0,00%, siklus I meningkat menjadi 35,29%, kemudian pada siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 82,35%. Sehingga telah memenuhi indikator keberhasilan yaitu minimal 76%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tindakan menjahit pola dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak di BA Aisyiyah 2 Sengon Kecamatan Prambanan Klaten. Kata kunci: Anak Usia Dini. Motorik Halus. Menjahit Pola. Efforts To Improve Speaking Skills Through The Storytelling Method Using Hand Puppets In Group A At TK Islam Bina Lembaga ABSTRACT This study aims to improve the fine motor skills of children in group A2 BA Aisyiyah 2 Sengon. Prambanan Klaten District through sewing activities. This study used classroom action research (PTK) conducted collaboratively with the Kemmis & Mc Taggart research model. The subjects in this study were group A2 children aged 4-5 years, totaling 17 children. Data collection techniques used in this study were observation . hecklist instrumen. and The success criteria in this study are 76% of children in the criteria of Developing Very Well (BSB). The results in this study indicate that fine motor skills can be improved through pattern sewing activities. The increase in fine motor skills was seen in the pre-action which was 0. 00%, cycle I increased to 35. 29%, then in cycle II it increased again So that it has met the success indicator of at least 76%. These results indicate that the action of sewing patterns can improve children's fine motor skills at BA Aisyiyah 2 Sengon. Prambanan Klaten District. Keywords: Early Childhood. Fine Motor. Sewing Pattern. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini is licensed under a Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License. A Tahun Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X PENDAHULUAN Anak pada rentang usia lahir sampai enam tahun mengalami masa keemasan . olden Menurut Hainstock sebagaimana dikutip (Yusuf, 2. olden ag. merupakan masa di mana anak mulai peka atau sensitif untuk menerima berbagai rangsangan. Masa peka adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis, anak telah siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa peka pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual (Ariani, 2. Dari beberapa pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa anak usia dini adalah anak yang berumur antara 06 tahun yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan karakteristiknya. Masa pertumbuhan merupakan waktu yang tepat untuk mengembangkan berbagai potensi dan kemampuan diantaranya adalah perkembangan motorik, sosial, emosi serta kognitifnya (Hasanah et al, 2. Aspek perkembangan motorik terbagi menjadi dua yaitu perkembangan motorik kasar dan perkembangan motorik halus. Penelitian ini mamfokuskan pada keterampilan motorik halus anak. Pengembangan keterampilan motorik halus memiliki peran yang sangat penting. Peran penting pengembangan motorik halus adalah untuk melatih fungsi otot-otot kecil seperti gerakan tangan dan jari, melatih koordinasi tangan dan mata, serta membantu anak untuk berlatih mengendalikan emosi (Yudha, 2. Motorik halus merupakan gerakan yang hanya melibatkan bagian-bagian tertentu yang dilakukan oleh otot-otot kecil dan tidak membutuhkan tenaga akan tetapi membutuhkan koordinasi yang cermat dan teliti (Aulina, 2. Masa pertumbuhan merupakan waktu yang tepat untuk mengembangkan berbagai potensi dan kemampuan diantaranya adalah perkembangan motorik, sosial, emosi serta kognitifnya (Hasanah et al, 2. Aspek perkembangan motorik terbagi menjadi dua yaitu perkembangan motorik kasar dan perkembangan motorik halus. Penelitian ini mamfokuskan pada keterampilan motorik halus anak. Pengembangan keterampilan motorik halus memiliki peran yang sangat penting. Peran penting pengembangan motorik halus adalah untuk melatih fungsi otot-otot kecil seperti gerakan tangan dan jari, melatih koordinasi tangan dan mata, serta membantu anak untuk berlatih mengendalikan emosi (Yudha, 2. Motorik halus merupakan gerakan yang hanya melibatkan bagian-bagian tertentu yang dilakukan oleh otot-otot kecil dan tidak membutuhkan tenaga akan tetapi membutuhkan koordinasi yang cermat dan teliti (Aulina, 2. Menurut Elizabeth B Hurlock . Keterampilan motorik halus yaitu kemampuan yang terkoordinasi dengan baik antara otot-otot halus dengan koordinasi mata dan tangan. Kemampuan motorik halus merupakan dasar untuk mencapai salah satu keberhasilan perkembangan masa anak-anak, yaitu mengembangkan dasar-dasar keterampilan membaca, menulis, dan berhitung (Shadikin et al, 2. Sedangkan menurut Rohendi & Seba sebagaimana dikutip (Dewi, 2. perkembangan motorik halus mengacu pada suatu kemampuan anak dalam melakukan aktivitas dengan melibatkan otot-otot kecil, seperti menulis, meremas, menggenggam, menggambar, menyusun balok, dan menggunting. Gerakan motorik halus berkaitan dengan aktivitas dalam meletakkan atau memegang suatu benda dengan menggunakan jari atau tangan. Menjahit pola merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk anak usia dini sebagai upaya mengembangkan motorik halus (Hutauruk, 2. Keunggulan kegiatan menjahit yaitu melatih kreativitas, mengasah kemampuan motorik halus, melatih ketelitian dan kesabaran anak, menumbuhkan dan mengembangkan anak, mengasah kerapian, serta membantu mengembangkan koordinasi antara mata dan tangan anak (Devianti, 2. Kegiatan menjahit pola tidak hanya fokus pada perkembangan keterampilan motorik halus saja tetapi juga berfungsi sebagai media belajar yang dapat meningkatkan konsentrasi, kemampuan logika, serta melatih koordinasi mata dan tangan, meningkatkan kemampuan gerak tangan. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X pergelangan tangan, dan jari-jemari (Fauzah, 2. Sejalan dengan pendapat (Sukmawati, 2. yang mengatakan bahwa menjahit merupakan kegiatan yang membutuhkan kesabaran, ketelitian keuletan dalam menggunakan alat-alat menjahit seperti jarum benang dan alat-alat jahit lainnya. Diperlukan metode untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak, sehingga peneliti menggunakan kegiatan menjahit pola guna meningkatkan keterampilan motorik halus anak kelompok A. Diharapkan kegiatan menjahit pola dapat diterapkan dan dapat menyelesaikan permasalahan yang terpadat di di BA Aisyiyah 2 Sengon Kecamatan Prambanan Klaten. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian tindakan Penelitian Tindakan kelas (PTK) dapat diartikan sebagai tindakan . ction researc. yang dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas proses dan hasil belajar sekelompok peserta didik (Mulyasa, 2. Penelitian tindakan kelas dilakukan oleh guru bersama peneliti untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Model penelitian tindakan kelas yang digunakan adalah model Kemmis & Mc Taggart dengan guru sebagai mitra peneliti . Prosedur Penelitian Proses penelitian ini menggunakan siklus dimana setiap siklus terdapat 4 kali pertemuan dengan berbagai tahapan yaitu, perencanaan . , tindakan . , dan pengamatan . , dan refleksi/evaluasi . Gambar 1. Penelitian Tindakan Kelas Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di BA Aisyiyah 2 Sengon Kecamatan Prambanan Klaten yang beralamat di Dusun Gedong. Kelurahan Sengon. Kecamatan Prambanan. Kabupaten Klaten. Jawa Tengah. Sedangkan untuk waktu pelaksanaan penelitian dilaksanakan selama satu bulan yaitu pada bulan April sampai Mei 2025. Subjek dan Objek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah semua anak anak kelompok A2 di BA Aisyiyah 2 Sengon Kecamatan Prambanan Klaten Tahun Tahun Ajaran 2024/2025 yang berjumlah 17 anak yang terdiri dari 13 anak laki-laki dan 4 anak perempuan. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Teknik Pengumpulan Data Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan . dan Pengamatan ini menggunakan lembar observasi berupa penilaian checklist dengan beberapa indikator motorik halus, pengamatan dilakukan ketika anak-anak mengikuti pembelajaran dan hasil dari tindakan yang telah dilakukan. Data dilakukan saat melakukan pra tindakan, siklus I, dan siklus II. Peneliti mencatat hasil pada lembar observasi yang telah dibuat Dokumentasi dilakukan untuk mendukung dan memperkuat serta sebagai bukti tindakan yang telah dilakukan. Teknik Analisis Data Setelah pengumpulan data dilakukan langkah selanjutnya adalah analisis data. Deskriptif kualitatif pada penelitian ini yaitu menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai data yang telah diperoleh melalui observasi pada saat pelaksanaan tindakan berlangsung yang kemudian dijabarkan sesuai dengan fakta yang ada terkait keterampilan motorik halus anak. Sedangkan teknik analisis kuantitatif diperoleh melalui hasil pengamatan anak selama pembelajaran menggunakan skor. Pada penelitian ini peneliti mengamati keterampilan motorik halus pada anak usia 4-5 tahun melalui kegiatan menjahit pola. Analisis data yang diperoleh nantinya akan mendapatkan skor untuk setiap aspek yang akan diakumulasikan pada tabel. Data yang diperoleh kemudian dihimpun dan dianalisis menggunakan rumus dari (Acep Yoni. Keterangan: P : Persentase F : Frekuensi yang sedang dicari persentasenya N : Jumlah banyaknya individu Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan penelitian ini ditunjukkan dengan meningkatnya keterampilan motorik halus anak kelompok A setelah dilakukan penelitian dibandingkan sebelum dilakukan Persentase keberhasilan kemampuan motorik halus anak dikatakan berhasil jika persentase dari banyaknya anak sudah mencapai Ou76% dan mencapai kriteria berkembang sangat baik (BSB). Keberhasilan tindakan dapat dilihat dari setiap kegiatan yang dilaksanakan pada setiap siklus yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran (Yoni, 2. Tabel 1. Indikator Keberhasilan Kriteria BB (Belum Berkemban. MB (Mulai Berkemban. BSH (Berkembang Sesuai Harapa. BSB (Berkembang Sangat Bai. Persentase 0% Oe 25% 26% Oe 50% 51% Oe 75% 76% Oe 100% HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil yang didapatkan berdasarkan tindakan yang telah dilakukan pada tanggal 12-24 April 2025 pada kelompok A BA Aisyiyah 2 Sengon yang diperoleh dari 13 anak laki-laki dan 4 anak perempuan yaitu Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Nama S10 S11 S12 S13 S14 S15 S16 S17 Rata-rata Tabel 2. Rekapitulasi Pra Tindakan Skor Persentase Kriteria BSH Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa hasil observasi pra tindakan pada keterampilan motorik halus anak kelompok A2 menunjukkan bahwa terdapat 10 anak dengan persentase 58,82% pada kriteria BB sedangkan terdapat 6 anak dengan persentase 35,29% masuk dalam kriteria MB terdapat 1 anak dengan persentase 5,88% masuk dalam kriteria BSH, namun belum terdapat anak yang masuk dalam kriteria BSB yang artinya keterampilan motorik halus anak masih di bawah indikator keberhasilan yaitu 76% dan dikatakan masih rendah serta perlu ditingatkan. Tabel 3. Rekapitulasi Siklus I Nama Skor Persentase Kriteria 87,50% BSB 58,33% BSH 79,16% BSB 41,67% 41,67% 25,00% 25,00% 50,00% 79,16% BSB S10 25,00% S11 83,33% BSB S12 54,16% BSH S13 77,08% BSB S14 31,25% S15 29,17% S16 52,08% BSH S17 77,08% BSB Rata-rata 53,92% Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa hasil pengamatan siklus II pada keterampilan motorik halus anak kelompok A2 menunjukkan bahwa terdapat 0 anak dengan persentase 0,00% masuk dalam kriteria BB (Belum Berkemban. , sedangkan terdapat 0 anak dengan persentase 0,00% masuk dalam kriteria MB (Mulai Berkemban. , terdapat 3 anak dengan persentase 17,65% pada kriteria BSH (Berkembang Sesuai Harapa. dan 14 anak dengan persentase 82,35% pada kriteria BSB (Berkembang Sangat Bai. Hasil dari tindakan pada siklus II mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil pada pra tindakan dan siklus Gambar 2. Diagram Batang Perbandingan Pra Tindakan. Siklus I, dan Sikus II Berdasarkan hasil dari tabel perbandingan di atas, terlihat adanya peningkatan yang bertahap pada persentase jumlah anak dan kriterianya. Dari pengamatan keterampilan motorik halus anak pada pra tindakan belum terdapat anak yang mencapai kriteria BSB. Pada tindakan siklus I sudah mengalami peningkatan yang signifikan yaitu 35,29% tetapi belum mencapai kriteria keberhasilan. Sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 82,35%. Keterampilan motorik halus anak melalui kegiatan menjahit pola sudah berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditentukan yaitu lebih dari 76,00% dan pada pelaksanaan siklus II sudah mencapai 82,35% anak dengan kriteria BSB. Refleksi pada tahap ini yaitu mengevaluasi hasil dari siklus II yang merupakan lanjutan dari siklus I. Berdasarkan pada pelaksanaan tindakan siklus II dapat berjalan dengan lebih baik dibandingkan pelaksanaan siklus I. Berdasarkan data yang sudah diperoleh peneliti menjelaskan bahwa terdapat adanya peningkatan mengenai perkembangan keteramilan motorik halus pada kelompok A2 BA Aisyiyah 2 Sengon Kecamatan Prambanan Klaten. Mengacu pada hasil data tersebut, kemampuan anak pada 3 aspek meningkat secara menyeluruh baik pada kecermatan, keterampilan jari-jemari, dan koordinasi mata dan tangan. Peningkatan skor pada siklus II yaitu sebesar 82,35% anak pada kriteria BSB (Berkembang Sangat Bai. Dari hasil data keterampilan motorik halus anak kelompok A2 BA Aisyiyah 2 Sengon dapat diketahui bahwa kegiatan menjahit pola dapat meningkatkan keterampilan motorik halus serta memberikan pengalaman baru sekaligus menyenangkan bagi Oleh karena itu, setelah adanya refleksi dari siklus I dan telah dilakukan perbaikan pada siklus II skor keterampilan motorik halus meningkat menjadi 82,35% anak berada pada kriteria BSB (Berkembang Sangat Bai. Hasil tersebut sudah mencapai target yang telah ditentukan, maka penelitian ini dihentikan pada siklus II. Hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan II siklus mulai dari pelaksanaan pra tindakan, siklus I yang terdiri dari 4 kali pertemuan, siklus II terdiri dari 4 kali pertemuan dapat disimpulkan bahwa keterampilan motorik halus anak kelompok A2 BA Aisyiyah 2 Sengon melalui kegiatan menjahit pola mengalami peningkatan. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan menjahit pola dapat meningkatkan keterampilan motorik keterampilan motorik halus anak kelompok A di BA Aisyiyah 2 Sengon Kecamatan Prambanan Klaten. Peningkatan keterampilan motorik halus melalui kegiatan menjahit pola merupakan solusi dari permasalahan yang ada pada kelompok A2 BA Aisyiyah 2 Sengon Kecamatan Prambanan Klaten. Langkah-langkah yang dilakukan untuk meningkatkan keterampilan motorik halus melalui kegiatan menjahit pola yaitu bentuk pola yang digunakan pada setiap 2 pertemuan selalu berbeda sehingga membuat anak merasa tertarik untuk mencoba serta peningkatan kesulitan pada pola yang digunakan. Selain itu, guru selalu mengulang penjelasan dan memberi contoh langkah-langkah menjahit pola pada setiap pertemuan serta memberikan kesempatan kepada anak untuk berdiskusi mengenai langkahlangkah menjahit, hal ini membuat pembelajaran berjalan 2 arah. Perhatian guru kepada anak juga sudah meningkat, hal ini dapat dilihat ketika guru memberi perhatian serta memberi apresiasi kepada seluruh anak setelah kegiatan menjahit pola dilakukan. Saran Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti memberikan saran sebagai berikut: Bagi Guru, diharapkan dapat menjelaskan kepada anak sebanyak dua kali . ertama guru menjelaskan terlebih dahulu kemudian yang kedua kegiatan dilakukan secara bersamaa. agar anak lebih memahami langkah-langkah menjahit pola. Bagi Sekolah, dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan motorik halus, termasuk penyediaan alat dan bahan yang aman, menarik, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak usia 4Ae5 tahun terutama pada kegiatan menjahit pola. Bagi Peneliti Selanjutnya, diharapkan pada saat pelaksanaan kegiatan menjahit pola sebaiknya menggunakan pola yang berbeda pada setiap pertemuannya agar anak lebih antusias dan lebih tertarik untuk menjahit serta menggunakan media menjahit yang lebih awet dan disarankan untuk memberi jeda pada setiap pertemuan agar anak tidak mudah bosan. DAFTAR PUSTAKA