CARMIN Journal of Community Service Vol. 4 No. Implementasi Potensi Lokal dalam Pembelajaran IPA: Studi Pengembangan LKPD Berbasis Lingkungan Insih Wilujeng*. Desy Purwasih. Asri Widowati, dan Susilowati Pendidikan IPA. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta. Indonesia *Insih@uny. ABSTRACT Local potential is the potential of certain resources owned by an area including the environment, natural resources, people, technology, and culture that can be developed to build national Science learning in schools should not be limited to transferring theories but, there must be a process of natural investigation. The activities were conducted to improve the ability of teachers to design science observation and experiment activities based on environmental potential. Activities were carried out as many as four meetings in a blended manner, namely online and offline. At the beginning of the activity, coordination was carried out with the Science Teacher Group in Yogyakarta. There were 30 participants who participated in the training with a background of science teachers and students. Evaluation of activities is measured through attitude scale instruments and assessment rubrics. There are two types of attitude scales used, namely open and closed attitude scales. The material presented in the form of an introduction to local potential, and the use in the classroom as outlined in the LKPD. The results showed that the greatest understanding of local potential was shown in the benefits indicator with a value of 78. While the others, namely the lowest experience indicator with an average of 53. 6 while knowledge with a value of 74. 6 and application of 57. Teachers who can integrate local potential in science learning such as traditional apem wonolelo can be integrated with the concept of temperature, saparan bekakak ceremony can be used in the concept of substances mixture, making pottery heat can be interagted in the concept of pressure, measurement, etc. This service is useful to increase teacher innovation in learning. Keywords: local potential. students worksheet. teachers competencies ABSTRAK Potensi lokal merupakan potensi sumber daya tertentu yang dimiliki suatu daerah antara lain lingkungan, sumber daya alam, manusia, teknologi, dan budaya yang dapat dikembangkan untuk membangun kemandirian nasional. Pembelajaran IPA di sekolah tidak boleh terbatas pada mentransferkan teori namun, harus terdapat proses penyelidikan alam. Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam merancang kegiatan pengamatan dan percobaan IPA berbasis potensi lingkungan. Kegiatan dilakukan sebanyak empat pertemuan secara blended yaitu daring dan luring. Awal kegiatan dilakukan koordinasi dengan pihak Musyawarah guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA di Yogyakarta. Peserta yang mengikuti pelatihan 30 orang dengan latar belakang guru IPA, dan mahasiswa. Evaluasi kegiatan diukur melalui instrumen skala sikap dan rubrik penilaian. Skala sikap yang digunakan ada dua jenis yaitu skala sikap terbuka dan tertutup. Materi yang disampaikan berupa pengenalan potensi lokal, dan penggunaan dikelas yang dituangkan dalam Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Hasil diperoleh bahwa pemahaman mengenai potensi lokal paling besar ditunjukkan pada indikator manfaat dengan nilai 78,6. Sedangkan yang lainnya yaitu indikator penglaman paling rendah dengan rerata 53,6 sementara pengetahuan dengan nilai 74,6 dan penerapan sebesar 57,1. Guru yang dapat mengintegrasikan potensi lokal dalam pembelajaran IPA seperti tradisional apem wonolelo bisa diintregasikan dengan konsep suhu, upacara saparan bekakak This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. A2024 Carmin: Journal of Community Service Wilujeng et al. , 2024 bisa digunakan pada konsep campuran zat, konsep tekanan pada pembuatan gerabah kalor, pengukuran, dsb. Pengabdian ini bermanfaat untuk menambah inovasi guru dalam pembelajaran. Kata Kunci: potensi lokal. lembar kerja peserta didik. kompetensi guru How to cite: Wilujeng. Purwasih. Widowati. , & Susilowati. Implementasi potensi lokal dalam pembelajaran IPA: Studi pengembangan LKPD berbasis lingkungan. Carmin: Journal of Community Service, 4. , 74-80. PENDAHULUAN Pengembangan kompetensi guru . edagogi, profesional, sosial, dan kepribadia. merupakan faktor utama yang perlu disiapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan (Kelana, 2. Pasalnya, guru merupakan aktor utama di lapangan yang akan membimbing peserta didik selama proses pembelajaran. Guru haru mampu menguasai materi, memahami karakteristik peserta didik, memfasilitasi peserta didik untuk belajar guna memenuhi Capaian Pembelajaran (CP). Namun demikian, tantangan yang sering dihadapi oleh para guru di sekolah adalah kurangnya kesempatan untuk pengembangan diri secara berkelanjutan (Chusni et al. , 2. Aktivitas guru di sekolah di dominasi dengan pengajaran dan pendampingan kepada siswa serta menyelesaikan berbagai beban administratif lainnya. Meskipun sudah digalakkan program pengembangan diri secara mandiri, misal melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM) ataupun dengan mengikuti berbagai webinar, nyatanya masih banyak temuan bahwa pengembangan keilmuan dan keterampilan guru secara signifikan masih belum optimal (Agraini et al. , 2. Hal ini dapat mengakibatkan proses pembelajaran yang dirancang oleh guru kurang variatif dan juga sering dilabeli Aukurang relevanAy dengan perkembangan terbaru di dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Di sisi lain, proses perkembangan keilmuan terjadi sangat pesat di universitas. Misalnya, para peneliti mengembangkan salah satu metoda elaborasi pengetahuan, dalam konteks ini adalah konten IPA, berbasis potensi lokal (Wilujeng et al. , 2. Terdapat dua misi dalam konteks ini, yang pertama memberikan pemahaman pada siswa bahwa sains tidak hirup terpisah dari lingkungan sekitar dan juga untuk melestarikan budaya ataupun lingkungan di sekitar Hal ini terlihat jelas pada aspek kajian dari potensi lokal yang meliputi sumber daya yang spesifik di daerah tersebut sepetti lingkungan, sumber daya alam, budaya, dan teknologi khas dari suatu daerah. Pembelajaran yang menekankan pada aspek potensi lokal diyakini dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan bermakna bagi siswa (Masihu & Augustyn. Lebih lanjut, pendekatan ini juga tentunya dapat menumbuhkan kesadaran bagi siswa tentang pentingnya keberadaan sumber daya alam untuk keberlangsungan hidup di masa yang akan datang. Dalam pembelajaran IPA, fokus kajian tentang potensi lokal dapat lebih variatif karena bisa meninjau dari berbagai sudut pandang . idak hanya tertuju pada salah satu bidang keilmuan saj. (Novitasari et al. , 2. Proses pengintegrasian potensi lokal kedalam pembelajaran tidak hanya untuk memberikan variasi dan memperkaya materi ajar, namun juga dapat melatihkan komponen sains sebagai proses ilmiah beripa penyelidikan dan juga sains sebagai sikap ilmiah dengan menumbuhkan rasa empati dan tanggung jawab peserta didik pada lingkungan sekitar (Nurhidayati & Khaeruman. Oleh karena itu, sebelum dikenalkan kepada peserta didik secara umum maka guru sebagai fasilitator dan desainer pembelajaran di dalam kelas harus sudah familiar dengan teknik dan metoda pengintegrasian ini. Guru sudah harus familiar dengan desain tahapan pembelajaran dan juga desain instruksional yang relevan. Salah satu upaya awal yang perlu dilatihkan kepada guru adalah kemampuan untuk mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) sebagai panduan bagi peserta didik untuk LKPD yang dimaksud adalah LKPD berbasis potensi lokal dengan fokus lingkungan yang diharapkan dapat menjadi solusi untuk mendampingi guru dalam memandu proses Carmin: Journal of Community Service, 4. ,2024 | 75 Wilujeng et al. , 2024 pembelajaran yang mengimplementasikan pembelajaran IPA berbasis potensi lokal secara Pendampingan ini berfokus pada pembekalan bagi guru dalam mengidentifikasi potensi lokal dan kiat-kiat untuk mengintegrasikannya kedalam kurikulum IPA di sekolah. Pembekalan kompetensi guru ini disajikan dalam bentuk kegiatan pengabdian pada Kegiatan ini secara spesifik bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam merancang dan mengimplementasikan kegiatan pembelajaran dan percobaan IPA berbasis potensi lokal dengan fokus pada lingkungan di sekitar peserta didik. Melalui pelatihan ini, diharapkan para guru tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai konsep potensi lokal, tetapi juga mampu menyusun LKPD yang mendukung eksplorasi potensi tersebut di kelas. METODE Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pendampingan kepada guru di sekolah untuk mengembangkan LKPD berbasis potensi lokal yang berfokus pada lingkungan di sekitar Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid dengan 3 kegiatan luring dan 1 kegiatan daring. Secara lebih rinci, tahapan kegiatan pengabdian ini ditunjukan pada Gambar 1. Gambar 1 Alur kegiatan Kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas dari masing-masing tahapan terlihat pada rincian berikut ini. Tahap Persiapan terdapat dua kali yaitu tahap koordinasi dengan pihak Musyawarah guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA di Yogyakarta. Kemudia pengabdi melakukan persiapan dengan menyusun materi untuk pelaksanaan pengabdian. Peserta yang mengikuti pelatihan 30 orang dengan latar belakang guru IPA. Tahap Pelaksanaan Pelatihan dilaksanakan selama empat hari dimulai dari hari kamis, 18 Juli 2024 Pukul 08. 00 WIB di ruang sidang 3 FMIPA UNY. Hari kedua dilakukan pada kamis, 25 Juli 2024. Hari ketiga pengerjaan LKPD secara mandiri dengan pendampingan daring. Kemudian pertemuan keempat dilakukan presentasi hasil LKPD yang kemudian diberikan reward dan penutupan kegiatan pengabdian. Diakhir kegiatan guru diminta untuk mengisi angket yang berisi mengenai respon tentang kegiatan dan juga pengetahuan mengenai potensi lokal. Angket disusun dengan skala 1-4 dan juga ada angket terbuka. Instrumen tersebut disebarkan melalui Google Form sebelum dan setelah kegiatan pelatihan. Data skala sikap dianalisis dengan cara analisis kualitatif deskriptif. Hasil tersebut menjadi capaian kemampuan guru dalam merancang LKPD. Carmin: Journal of Community Service, 4. ,2024 | 76 Wilujeng et al. , 2024 HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi pembelajaran IPA berbasis potensi lokal menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan relevansi materi ajar dengan kehidupan nyata siswa. Potensi lokal, seperti budaya, sumber daya alam, dan kearifan lokal lainnya, menawarkan konteks yang konkret bagi siswa untuk memahami konsep-konsep ilmiah. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga melihat bagaimana pengetahuan sains dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pengembangan LKPD berbasis potensi lokal dapat menjadi kunci dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual bagi siswa. Program pengabdian ini dirancang untuk membekali guru-guru IPA di wilayah Yogyakarta dalam mengidentifikasi dan mengintegrasikan potensi lokal ke dalam pembelajaran. Kegiatan ini dilaksanakan dalam empat pertemuan, yang diadakan pada tanggal 18 Juli, 25 Juli, dan 1 Agustus 2024, secara blended . ombinasi daring dan lurin. Pada setiap pertemuan, para guru diberi kesempatan untuk berdiskusi dan berkolaborasi dalam mengidentifikasi potensi lokal yang ada di lingkungan mereka serta merancang LKPD berbasis potensi tersebut. Sebanyak 30 orang guru IPA yang tergabung dalam MGMP Muhammadiyah Sleman berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan antusias, menunjukkan minat yang tinggi untuk mengembangkan inovasi dalam Hasil evaluasi kegiatan ini diukur melalui instrumen angket self-assessment yang dirancang untuk mengukur empat indikator utama, yaitu "Manfaat," "Pengetahuan," "Penerapan," dan "Pengalaman. " Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pemahaman guru mengenai potensi lokal dalam pembelajaran cukup baik, meskipun masih ada aspek yang perlu ditingkatkan. Hasil yang diperoleh diukur menggunakan angket seperti pada Gambar 2. Gambar 2 Pemahaman potensi local Berdasarkan Gambar 2, hasil menunjukkan bahwa rata-rata pemahaman guru terhadap potensi lokal berada pada kategori cukup baik. Indikator "Manfaat" memperoleh skor tertinggi dengan rata-rata 78,6. Hasil ini menunjukkan bahwa para guru memahami betapa pentingnya pemanfaatan potensi lokal dalam pembelajaran IPA. Guru menyadari bahwa potensi lokal, seperti tradisi, budaya, dan sumber daya alam, dapat dijadikan sebagai alat bantu dalam menjelaskan konsep-konsep ilmiah. Mereka juga melihat bahwa penggunaan potensi lokal membuat pembelajaran lebih menarik dan relevan bagi siswa. Misalnya, tradisi lokal seperti pembuatan gerabah dihubungkan dengan konsep tekanan dan kalor, atau tradisi pembuatan apem yang terkait dengan perpindahan panas. Pendekatan ini membantu siswa untuk memahami bahwa konsep-konsep IPA tidak hanya abstrak, tetapi nyata dan terikat dengan kehidupan sehari-hari. Indikator "Pengetahuan" memperoleh skor rata-rata 74,6. Hal ini mengindikasikan bahwa guru telah memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai keberagaman potensi lokal yang Carmin: Journal of Community Service, 4. ,2024 | 77 Wilujeng et al. , 2024 dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran IPA. Melalui program ini, guru diperkenalkan pada berbagai contoh potensi lokal yang relevan dengan pembelajaran IPA, misalnya: upacara tradisional, ekosistem lokal, dan bahan-bahan alami yang ada di sekitar mereka. Para guru juga dilatih untuk mengenali karakteristik khusus dari masing-masing potensi lokal yang bisa diintegrasikan dalam tema-tema pembelajaran IPA, seperti menghubungkan tradisi lokal "Saparan Bekakak" dengan konsep campuran zat. Pada indikator "Penerapan," skor yang diperoleh sebesar 57,1, menunjukkan bahwa para guru masih menghadapi tantangan dalam menerapkan potensi lokal secara langsung dalam proses Meskipun mereka memahami pentingnya potensi lokal, beberapa kendala muncul ketika guru mencoba mengintegrasikan potensi tersebut ke dalam rencana pelajaran. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan waktu dan sumber daya untuk melakukan observasi langsung atau penelitian sederhana mengenai potensi lokal yang ada. Selain itu, belum semua guru memiliki kepercayaan diri dalam menyusun LKPD yang mampu menggabungkan teori dan praktik secara seimbang. Oleh karena itu, diperlukan dukungan lebih lanjut, seperti penyediaan materi pelatihan tambahan atau pembimbingan lanjutan, agar guru semakin terampil dalam menerapkan potensi lokal sebagai bagian dari pembelajaran. Indikator "Pengalaman" memiliki skor rata-rata terendah, yaitu 53,6, yang menunjukkan bahwa sebagian besar guru belum memiliki pengalaman yang cukup dalam memanfaatkan potensi lokal dalam pembelajaran IPA. Temuan ini dapat dimengerti mengingat sebagian guru mungkin kurang terpapar pada potensi lokal di luar konteks tempat tinggal atau lingkungan sekolah mereka. Meskipun demikian, hasil dari angket terbuka menunjukkan bahwa para guru tetap antusias untuk menggali informasi lebih lanjut mengenai potensi lokal yang relevan untuk Beberapa guru, misalnya, berinisiatif melakukan wawancara dengan tokoh masyarakat setempat atau mencari literatur tambahan tentang tradisi dan budaya lokal yang bisa diintegrasikan dalam pembelajaran. Proses pelatihan yang diberikan dalam kegiatan ini bertujuan untuk membantu guru merancang LKPD berbasis potensi lokal yang relevan. Sesi pengembangan LKPD dilakukan melalui diskusi kelompok, di mana guru berkolaborasi untuk menyusun LKPD yang mengintegrasikan potensi lokal dengan tema-tema pembelajaran IPA yang sesuai. Melalui praktik ini, para guru diharapkan dapat memahami tahapan penyusunan LKPD yang berfokus pada pemanfaatan lingkungan sekitar. Misalnya, guru-guru dari daerah tertentu di Yogyakarta menyusun LKPD yang mengaitkan proses pembuatan gerabah dengan konsep tekanan dan kalor, sehingga siswa dapat belajar tentang teori melalui observasi langsung dan praktik sederhana. Kegiatan pengabdian ini memberikan manfaat signifikan bagi para guru. Selain memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru, kegiatan ini juga memperkuat jaringan antara para guru yang memiliki minat yang sama dalam mengembangkan pembelajaran berbasis potensi lokal. Diskusi kelompok, misalnya, memungkinkan para guru untuk berbagi pengalaman dan solusi terhadap tantangan yang dihadapi dalam mengintegrasikan potensi lokal ke dalam pembelajaran. Kegiatan ini juga membantu guru IPA untuk berpikir kreatif dan inovatif dalam merancang LKPD, menjadikan potensi lokal sebagai sumber belajar yang menarik dan relevan bagi siswa. Hasil pengabdian yang menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru terhadap potensi lokal sebagai sumber belajar dalam pembelajaran IPA merupakan pencapaian yang signifikan. Indikator "Manfaat" dan "Pengetahuan" yang memperoleh nilai tertinggi . asing-masing sebesar 78,6 dan 74,. mencerminkan bahwa guru tidak hanya menyadari pentingnya potensi lokal dalam mendukung proses pembelajaran, tetapi juga mulai memiliki pengetahuan yang memadai untuk mengidentifikasi potensi-potensi tersebut. Temuan ini sesuai dengan pandangan bahwa pendidikan berbasis potensi lokal dapat meningkatkan relevansi materi yang diajarkan dengan kehidupan nyata siswa, yang dalam konteks pembelajaran IPA berarti membantu siswa memahami konsep-konsep ilmiah dalam lingkup yang lebih konkret dan terintegrasi dengan pengalaman sehari-hari mereka skor yang lebih rendah pada indikator "Pengalaman" . dan "Penerapan" . menyoroti adanya kesenjangan antara pemahaman konseptual guru tentang potensi lokal dan kemampuan mereka untuk menerapkannya secara praktis dalam pembelajaran (Hyun et al. , 2020. Ottemo et al. , 2. Rendahnya pengalaman guru dalam memanfaatkan Carmin: Journal of Community Service, 4. ,2024 | 78 Wilujeng et al. , 2024 potensi lokal menunjukkan bahwa mereka mungkin masih memerlukan lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan potensi lokal tersebut atau mendapatkan pelatihan lanjutan yang lebih intensif. Misalnya, beberapa guru mengakui bahwa keterbatasan waktu dan kurangnya akses terhadap sumber informasi menjadi kendala dalam mengeksplorasi potensi lokal yang ada di lingkungan mereka. Dalam hal ini, pendampingan yang lebih intensif dan berkelanjutan dalam bentuk pelatihan, kunjungan lapangan, atau kemitraan dengan komunitas lokal dapat memberikan wawasan praktis tambahan yang diperlukan oleh guru. Integsi lokal dalam pembelajaran IPA juga menghadirkan tantangan tersendiri, khususnya dalam proses penyusunan LKPD. Meskipun sebagian besar guru telah menunjukkan pemahaman dasar tentang potensi lokal dan manfaatnya, menyusun LKPD berbasis potensi lokal tetap membutuhkan kemampuan pedagogis dan pengetahuan yang lebih mendalam. Oleh karena itu, kegiatan seperti diskusi kelompok dan praktik penyusunan LKPD berbasis potensi lokal yang dilakukan dalam program ini terbukti efektif dalam memperkuat kemampuan guru untuk merancang instrumen pembelajaran yang relevan. Melalui sesi diskusi dan kerja kelompok, para guru tidak hanya belajar dari instruktur, tetapi juga saling bertukar ide dan menemukan solusi kreatif atas tantangan yang mereka hadapi. Pendekatan kolaboratif ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam mengintegrasikan potensi lokal ke dalam pembelajaran IPA, serta mendorong terciptanya inovasi pendidikan yang sesuai dengan konteks lokal . Dari sisi pedail kegiatan ini juga menegaskan pentingnya pendidikan berbasis kontekstual dalam pembelajaran IPA. Penggunaan LKPD yang memanfaatkan potensi lokal, seperti proses pembuatan gerabah untuk memahami konsep tekanan dan kalor, memberikan pengalaman belajar yang konkret dan autentik bagi siswa. Dengan menghadirkan konteks lokal sebagai bagian dari proses pembelajaran, siswa dapat lebih mudah memahami dan menginternalisasi konsep-konsep sains yang diajarkan, karena mereka dapat melihat aplikasi langsung dari teori-teori tersebut dalam kehidupan nyata. Selain itu, pendekatan berbasis potensi lokal juga membantu meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, karena mereka dapat merasakan bahwa pembelajaran yang dilakukan relevan dengan budaya dan lingkungan mereka. Pendekatan ini terbukti efektif tidak hanya dalam meningkatkan pemahaman konsep, tetapi juga dalam mempromosikan rasa bangga dan keterkaitan siswa terhadap budaya lokal mereka sendiri. SIMPULAN Secara keseluruhan, hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa program pengabdian mampu meningkatkan pemahaman dan kemampuan guru dalam memanfaatkan potensi lokal. Meskipun indikator "Pengalaman" dan "Penerapan" masih memerlukan peningkatan, hasil ini memberikan bukti awal bahwa pembelajaran berbasis potensi lokal dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dan membuat pembelajaran IPA lebih kontekstual. Untuk itu, kegiatan lanjutan seperti pelatihan praktik lapangan dan kunjungan ke berbagai tempat lokal yang memiliki nilai edukatif direkomendasikan agar guru dapat memperdalam pemahaman mereka dan mengatasi kendala yang ada. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi awal dari inisiatif jangka panjang dalam mengembangkan pendidikan berbasis potensi lokal, khususnya di daerah-daerah yang kaya akan keberagaman budaya dan sumber daya alam. Melalui pengembangan dan penerapan LKPD berbasis potensi lokal, pembelajaran IPA di sekolah dapat menjadi lebih dinamis dan memberikan dampak yang lebih nyata bagi pemahaman siswa terhadap ilmu pengetahuan alam serta aplikasi langsungnya dalam kehidupan sehari-hari. DAFTAR PUSTAKA