ISSN 2407-0556 KOREKSI PERSAUDARAAN: TANTANGAN DALAM MENGEMBANGKAN HIDUP BERSAMA (SEBUAH KAJIAN ATAS PEMIKIRAN ST. AGUSTINUS) Andreas Maurenis Putra Lulusan Filsafat-Teologi Universitas Katolik Parahyangan ABSTRACT: Fraternal correction is an endeavor that will never end in In the diversity of the society, fraternal correction needs to be a pillar to achieve lifeAos goal of living together as expected through the idea of Augustine. With the reality of plurality, fraternal correction is expected to be one of the strongest foundations in spite of challenges such as differences in interpretation, communication, and corrective aversion. is difficult but necessary to be actualized because it is useful in building togetherness and bringing repentance. Fraternal correction is an admonition given to our neighbor to help them along the path to holiness. It is a means of spiritual progress to help us to know our defects, since these may often be hidden from us by our limitations, disguised by our self-love. It is a necessary precondition to enable us to tackle those defects with GodAos help, and so improve our KEYWORDS: fraternal correction, prayer, offering, love, simplicity. Christian, church, individual, social ABSTRAK: Koreksi persaudaraan adalah sebuah usaha yang tak akan pernah berkesudahan dalam hidup. Dalam keragaman masyarakat, koreksi persaudaraan mesti menjadi penyokong untuk menggapai tujuan hidup bersama sebagaimana dicita-citakan dalam ideal St. Agustinus. Dengan realitas keragaman, koreksi persaudaraan diharapkan menjadi salah satu fondasi kuat di samping tantangan-tantangan yang ada seperti perbedaan interpretasi, komunikasi dan keengganan mengoreksi. KOREKSI PERSAUDARAAN Meskipun sulit namun penting untuk diaktualisasikan karena berguna untuk membangun kebersamaan dan membawa metanoia. Koreksi persaudaraan menjadi nasihat yang diberikan sesama untuk membantu mereka pada jalan kesucian. Itu menjadi sarana perkembangan spiritual untuk membantu kita mengenal kekurangan . yang mungkin tersembunyi oleh karena keterbatasan dan cinta diri . Koreksi memampukan kita mengatasi semua kekurangan dengan bantuan Allah dan memperbaharui hidup kita. KATA-KATA KUNCI: koreksi persaudaraan, doa, persembahan, cinta, jalan sederhana, kristiani, gereja, individu, sosial Pendahuluan Rasa "sopan santun" cenderung membuat seseorang segan untuk mengatakan hal yang semestinya ketika menemukan orang lain melakukan kesalahan. Persoalan utama bukan karena tidak ingin mengatakan tetapi keharmonisan menjadi terancam. Ada ketakutan jika relasi yang harmonis terganggu. Maka sikap diam lebih menjadi pilihan ketimbang menegur. Habitus ini selalu dan akan terus mewarnai hidup manusia baik dalam lingkungan atau kelompok seperti keluarga, sekolah, masyarakat atau lingkungan tempat tinggal. Kebiasaan ini pun, tak dapat dihindarkan, terjadi di komunitas hidup beragama. Rasa segan untuk mengoreksi kesalahan sesama menjadi fenomena yang sering dijumpai dalam kehidupan bersama. Tidak jarang sikap ini muncul karena rasa takut berlebihan akan kehilangan relasi yang nota bene dibangun atas kekompakan. Dalam seluruh pengalaman dan hidup manusia, kebiasaan-kebiasaan ini turut andil membentuk sikap dan karakter setiap individu. Dahulu misalnya, banyak persoalan di tengah masyarakat dipecahkan melalui musyawarah kampung seperti perkara kekerasan, pencurian, penipuan atau hal-hal lain yang sifatnya tidak baik. Persoalan sekarang adalah, hilangnya kepedulian sosial. Orang lebih berikhtiar pada prinsip "urus saja dirimu SOCIETAS DEI AVol. No. OKTOBER 2017 sendiri" atau ungkapan lain yang serupa. Koreksi sebagai sarana ungkapan kasih untuk mengembangkan dan membangun kehidupan bersama termuat juga dalam tulisan dan refleksi Agustinus. Secara teori, penghayatan dan pelaksanaan koreksi persaudaraan ini penting guna menghidupi semangat peduli dan tanggung jawab demi tujuan dan cita-cita hidup bersama sebagai Namun fenomena yang terjadi adalah ideal tersebut Persis pembahasan ini yakni: Pertama, koreksi persaudaraan dianggap menjadi ancaman keharmonisan dalam hidup bersama. Kedua, apakah mungkin koreksi persaudaraan menjadi efektif dalam komunitas hidup bersama Dan bagaimanakah sebaiknya melakukan koreksi persaudaraan tersebut? Inti Pemikiran Agustinus Pengalaman disentuh oleh kasih Allah mempengaruhi seluruh perjalanan hidup dan refleksi Agustinus. Perjalanan pengalaman yang memesona dan bermakna, mulai dari keberdosaan hingga pada pertobatan mengejawantahkan kasih Allah itu sendiri. Kasih yang mahadahsyat membawa Agustinus menemukan kembali hidupnya yang Baginya, "Allah lebih dekat dengannya dari pada ia dengan dirinya sendiri"1. Pertobatannya menjadi ultimatum kesadaran tentang kasih. Kesadaran itu terbersit dalam ungkapan reflektifnya "betapa lambat aku akhirnya mencintai-Mu. Oh Keindahan lama yang selalu baru, betapa lambat Kau kucintai! Ketika Engkau berada dalam diriku, aku malah berada di luar dan di luar sanalah Kau kucari" 2. Theodoro Tack. If Augustine Were Alive (Makati: St. Publication, 1. , 47. Ibid. , 308. KOREKSI PERSAUDARAAN Pengalaman akan kasih membuat Agustinus dalam seluruh panggilan hidupnya menekankan kasih sebagai dasar kehidupan lebihlebih untuk kaum kristiani. Mendalamnya pemikiran mendorong orientasi kehidupan ke arah tujuan luhur kesempurnaan kristiani yaitu cinta kasih yang menjadi pedoman hidup yang tetap relevan dari zaman ke zaman. Keakrabannya dengan Allah, cinta kasih sesama, kesediaan dan keramahannya merupakan manifestasi pribadi karismatis Agustinus. Bahkan Agustinus tak segan meyakinkan bahwa "orientasi dasar cinta kasih itu harus diwujudkan dalam hidup sehari-hari terutama melalui cara kita menggunakan daya kekuatan kita dalam pelayanan penuh Perwujudan saudara-saudari Agustinus kita"3. perumusan tentang konsep komunitas yang ideal yaitu, pertama, tinggal bersama secara harmonis. Ini menjadi hal yang urgen dan fundamen agar setiap individu mampu membangun roh sehati dan sejiwa dan pada akhirnya membawa pada relasi yang lebih dekat dengan Allah dengan bertekun pada ajaran Injil, doa dan perjamuan kudus. Harmonis berarti "membuat komunitas menjadi sebuah keluarga rohani sejati, sebuah organisasi yang hidup dan bukan perkumpulan pribadi-pribadi"4. Oleh karena itu, communio menjadi wajah sebuah komunitas rohani. Agustinus menekankan bahwa hidup dalam kesatuan dan harmonis berarti hidup dan tinggal sebagai sahabat bagi yang lain. Maka persahabatan itu, dikatakan Agustinus "mensyaratkan kejujuran dan kebenaran tetapi juga berarti kita menghormati tabiat sahabat-sahabat kita bahwa ketika kita berusaha membantu mereka kita melakukannya dengan penuh kelemahlembutan dan pengertian bahwa kita tidak menyembunyikan kebenaran karena takut kehilangan Menyembunyikan kebenaran bukan sebuah tindakan Adolar Zumkeller. Santo Agustinus. Pedoman Dasar: Suatu Komentar (Malang: Dioma, 1. , 72. Rev. Aloysius Biskupek. Conferences on the Religious Life (USA: The Bruce Publishing Company, 1. , 26. SOCIETAS DEI AVol. No. OKTOBER 2017 bersahabat tetapi sama sekali tak bersahabat" 5. Kedua, hidup sehati Dalam Letter 243,4 diperjelas bahwa hidup Anda dan mereka bukan lagi perorangan tetapi membentuk hanya satu kehidupan dalam Kristus sendiri. Di sini ada kesatuan, keselarasan dan keseimbangan. Ketiga, hidup tertuju pada Allah. Maksudnya, ada kesediaan pada pengorbanan diri demi kebaikan orang lain dan kemuliaan Allah. Sebuah komunitas disadari sebagai kebersamaan hidup orang beriman, tempat Tuhan kasih-Nya perjumpaan dengan sesama dan persekutuan dengan komunitas lain. Refleksi yang tajam memperlihatkan konsistensinya pada kasih . sebagai fokus hidup setiap pribadi atau kelompok. Bahkan dalam Regula6, ditekankan "di atas segala sesuatu, saudara-saudari terkasih kasihanilah Allah kemudian sesama Anda" yang diturunkan dari refleksi biblis. Lukas 10: 27 yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap kekuatan dan dengan segenap akal budi, juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Demikian juga dalam Matius 22:37 ditegaskan dua dasar hukum yaitu. mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi dan kedua, mengasihi sesama manusia. Cinta kasih sebagai tujuan dan kesempurnaan hidup . diperjelas oleh Agustinus dalam rumusan klasik "bila cinta kasih mulai, keadilan pun mulai, bila cinta kasih bertumbuh, keadilan pun bertumbuh, bila cinta kasih sempurna, keadilan pun sempurna" 7. Agustinus melanjutkan "apapun yang dipertentangkan dengan cinta kasih ditolak dan dibuang jauhAy8. Jika ada sesuatu yang melawan cinta kasih tidak diperbolehkan tinggal bahkan sampai sehari pun. Sebab mereka menyadari bahwa cinta kasih begitu ditonjolkan oleh Kristus dan Theodoro Tack. If Augustine Were Alive, 42. Regula adalah aturan hidup yang ditulis oleh St. Agustinus untuk para biarawan sekitar tahun 396-397, kira-kira pada kesempatan St. Agustinus menjadi uskup Hippo menggantikan Valerius. Adolar Zumkeller. Santo Agustinus. Pedoman Dasar: Suatu Komentar, 3. Ibid. , 2. KOREKSI PERSAUDARAAN para rasul sehingga itu tidak ada, apapun lainnya percuma saja tetapi bila ada cinta kasih, semuanya disempurnakan. Dalam konteks inilah koreksi salah satu sarana perwujudan kasih untuk mengembangkan hidup bersama. Koreksi yang telah mengakar kuat dalam Kitab Suci, telah menjadi praktek hidup terutama oleh orang Kristen sebagai usaha untuk melayani dan mengampuni tanpa syarat. Matius 18:15 menegaskan "apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata, jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatkannya kembali". Tentu praktek ini mengakar kuat dalam hidup orang kristiani namun bukan berarti hanya boleh dipraktekkan oleh orang-orang Kristen semata namun di sini koreksi selalu bisa menjadi nasihat yang diberikan oleh setiap pribadi untuk membantu saudaranya melangkah menuju jalan kekudusan, sebagai makna pertumbuhan rohani setiap individu dan membantu individu lain menyadari setiap kekurangan dalam diri yang mungkin tersembunyi karena keterbatasan atau penyimpangan akibat cinta diri . sekaligus menjadi roh yang menggerakkan untuk menjadi seorang manusia sejati. Secara alamiah, koreksi menjadi kebutuhan setiap orang untuk menjadi lebih dewasa dalam pertumbuhan spiritual dan melihat diri secara objektif. Koreksi terhadap satu sama lain menjadi kewajiban berdasarkan tanggung jawab untuk membantu mematangkan individu dalam hidup bersama supaya tidak seorang pun seenaknya berdalih seperi Kain dengan pertanyaan: apakah aku penjaga saudaraku? (Kejadian 4:. Koreksi akan lebih bermakna sejauh bukan didasari keinginan jahat Maka diwajibkan untuk melakukannya dalam nuansa persaudaraan sehingga koreksi itu menjadi sebuah koreksi persaudaraan. Setiap mengoreksi kesalahan saudaranya demi kebaikan orang tersebut dalam kasih persaudaran akan dia. Memang tidak dipungkiri bahwa ada SOCIETAS DEI AVol. No. OKTOBER 2017 kalanya seseorang menghindar untuk mengoreksi kesalahan demi situasi aman, menghindari konflik atau tidak mau menyinggung perasaan orang lain meskipun dalam hati sendiri muncul kekesalan atas kesalahan yang diperbuat. Sikap demikian secara tak langsung mematikan kemampuan kita untuk mengasihi secara tulus. Menutup mata terhadap kesalahan bukanlah ungkapan kasih. Justru koreksi yang nyata apalagi dilakukan dalam kasih persaudaraan menjadi ungkapan kasih yang Ada banyak komunitas, jemaat dan umat beriman yang kehilangan kehangatan kasih persaudaraan justru karena pemahaman yang keliru mengenai ungkapan kasih secara khusus dalam ranah ini. Kasih bukanlah pembiaran, mendiamkan masalah dalam keheningan atau ketiadaan komunikasi yang berujung pada konflik berkepanjangan. Kasih yang nyata selalu mendorong adanya dialog, komunikasi bahkan teguran bila perlu. Harus ada hati yang berani menegur dan harus ada pula hati yang siap ditegur. Agustinus, sebagai seorang teolog Kristen, menekankan tanggung jawab bukan hanya terhadap diri sendiri tetapi tanggung jawab antara satu dengan yang lainnya. Ini menjadi sebuah konsekuensi karena Allah memperhatikan kita melalui komunitas-komunitas tempat kita berdiam. Allah tinggal dalam setiap pribadi dalam komunitas. Maka penekanan akan tanggung jawab antara individu ini, bagi Agustinus, direalisasikan dengan saling mengingatkan atau mengoreksi. Memang sangat sulit dan tidak menyenangkan harus mengoreksi sesama. Namun bagaimanapun ini adalah kewajiban yang tak boleh dihindarkan. Mengoreksi perlu disampaikan dengan bijaksana sebagai upaya yang cocok demi menunjang perkembangan dan kesejahteraan dalam kehidupan bersama. Malahan akan semakin tercela jika mendiamkan kesalahan yang sebenarnya bisa disingkapkan bahkan lebih ekstrim, mendiamkan kesalahan sama dengan menanggung dosa. Dalam Khotbah 13, 8. Agustinus menegaskan dia yang tidak mewajibkan tata tertib ialah kejam. Baginya lebih baik mengasihi dan KOREKSI PERSAUDARAAN bersikap keras dari pada lemah lembut tetapi merugikan (Letter 93, . Sudah tentu tidak seorang pun akan menuduh kita melanggar cinta kasih kalau kita menyingkapkan luka-luka dan barangkali menyelamatkan Namun diperhatiakan adalah. Biasanya koreksi persaudaraan pertama-tama harus dilihat secara pribadi, dan kemudian, seperti yang Kristus nyatakan, di hadapan dua orang saksi, jika hal ini dianggap dianjurkan. Jika melawan dan tidak kemudian berubah, masalah tersebut harus dibawa ke perhatian atasan yang tepat, setidaknya jika kebaikan bersama terluka. Kadang, lebih baik AumenghilangkanAy koreksi persaudaraan dan segera melaporkan kasus ini ke pihak yang berwenang - misalnya, ketika seorang murid di sekolah diam-diam merusak siswa lain9. Gagasan-gagasan Pendukung Pemikiran Agustinus Dalam banyak cara yang sama, koreksi persaudaraan menjadi sebuah tanda peduli akan kasih. Mereka yang gagal menasihati seseorang yang ada dalam bahaya bukan hanya melakukan sebuah tindakan merugikan yang besar tetapi juga ikut ambil bagian dalam kesalahan mutlak dan gagal dalam hal cinta mereka pada subyek dan Dalam dunia yang terkontaminasi oleh individualisme, sangatlah esensial untuk memaknai kembali koreksi persaudaraan sebagai jalan menuju kesucian. Kita semua adalah manusia lemah dan tidak sempurna sehingga setiap pribadi memerlukan sikap mengasihi dan menegur, mengetahui dan memahami serta mampu membedakan dan memaafkan . Lukas 22:. Galatia 6:1 menegaskan pentingnya memimpin orang yang kedapatan melakukan pelanggaran ke jalan yang benar dalam roh kelemahlembutan sambil menjaga diri sendiri agar tidak jatuh dalam percobaan yang sama. Dalam tradisi kristiani, afirmasi dan koreksi persaudaraan menduduki tempat yang penting. Dasarnya New Catholic Encyclopedia. Copyright 2003. The Gale Group Inc. SOCIETAS DEI AVol. No. OKTOBER 2017 ialah cinta kasih persaudaraan yang berhadapan dengan keberadaan manusia yang tidak luput dari kesalahan. Paulus mengingatkan agar kita saling menolong dan memenuhi hukum Kristus (Gal. yaitu hukum cinta kasih. Dalam semangat cinta kasih itu, diharapakan para murid Yesus saling menegur dan mengingatkanAy 10 Setiap orang dalam kehidupan bersama mempunyai tugas untuk mengoreksi sesama dalam nuansa persaudaraan sebagai syarat kebajikan dan kemurahan hati. Dalam Perjanjian Lama. Allah mengingatkan para nabi tentang tugas ini seperti dalam kasus Yehezkiel (Yeh. 33:7-. Dan engkau anak manusia. Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari padaKu, peringatkanlah mereka demi nama-Ku. Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu. Rasul Paulus mempertimbangkan koreksi persaudaraan sebagai cara terbaik untuk membawa pulang seorang yang menyimpang. Melalui 2 Tesalonika 3:14-15 ia mengingatkan untuk menegur mereka yang bersalah sebagai seorang saudara tetapi tidak menganggap sebagai Artinya, siapapun dia, sebesar apapun kesalahannya, harus tetap dikoreksi sebagai seorang saudara, sebagai manusia yang sama dan setara di hadapan Allah, sebagai manusia yang diciptakan secitra dengan-Nya. Paulus menekankan pentingnya teguran kepada mereka yang tidak mau mendengarkan nasihat. Dalam 2 Korintus 13:11. Paulus mengharapkan agar jemaat mau menasihati satu sama lain. Paulus mengingatkan pada perintah ini: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. AuSeperti dirimu sendiriAy, artinya: sebagaimana cinta sejati Albertus Sujoko. MSC. Identitas Yesus dan Misteri Manusia (Ulasan Tema-tema Teologi Moral Fundamenta. (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 432. KOREKSI PERSAUDARAAN untuk diri sendiri menggerakkan sikap peduli akan keselamatan, cinta sejati kepada sesama harus menggerakkan juga untuk peduli, di atas segalanya, akan keselamatannya. Oleh karena itu, harus mendorong dan menemaninya dalam segala sesuatu yang baik dan kudus. Juga Dalam teologi moral, koreksi persaudaraan dibicarakan sebagai wadah membangun watak dan memperluas kewajiban. Kebaikan hati yang otentik tidak akan menunggu sampai sebuah dosa muncul tetapi akan melihat keselamatan bagi pendosa. Thomas Aquinas misalnya, punya pandangan yang sama dengan Agustinus. Baginya, koreksi Ambrosius seorang uskup, pada abad IV memberikan kesaksian berkaitan dengan praktek mengoreksi. Katanya, jika kamu menemukan cacat cela dalam diri seorang sahabat, koreksilah dia secara empat mata. Dalam Ensiklik Pacem in Terris. Paus Yohanes XXi mengatakan " seorang murid terikat oleh kewajiban yang berat terhadap Kristus Sang Guru yakni semakin mendalam menyelami kebenaran yang diterima dari pada-Nya, mewartakan dengan setia, membelanya dengan berani tanpa menggunakan upaya-upaya yang berlawanan dengan semangat Injil. Tetapi sekaligus cinta kasih Kristus mendesaknya, untuk bertindak penuh kasih, kebijaksanaan dan kesabaran terhadap yang berbeda dalam keadaan sesat atau tidak tahu-menahu mengenai iman". Koreksi persaudaraan dilakukan atas dasar semangat mencintai, menyayangi, menghargai dan menghormati satu sama lain, saling memperbaiki dan menawarkan solusi terbaik. Mengoreksi secara tidak pernah dimotivasi oleh semangat menuduh atau menuntut balas dendam melainkan selalu digerakkan oleh cinta dan belas kasih, tumbuh dari kebaikan yang tulus demi kebaikan sesama. Hal ini mesti dilakukan karena Aubanyak orang tidak bisa menerima jika diperlakukan dengan cara demikianAy 11 Rene Carpentir SJ. Life in the City of God. USA. Benziger Brothers. Inc. , 7. SOCIETAS DEI AVol. No. OKTOBER 2017 Tradisi gereja juga memasukkan "memberi nasihat kepada para pendosa" di antara karya-karya karitatif lainnya. Dengan demikian, kewajiban memperingatkan sesama tidak hanya akan menghidupi kesadaran akan tanggung jawab atas komunitas tertentu tetapi kewajiban ini akan terus-menerus memotivasi untuk memeriksa diri sehingga bila kita memperhatikan selumbar di mata orang lain, kita juga melihat balok di mata kita sendiri (Matius 7:. Tantangan-tantangan Melaksanakan Koreksi Persaudaraan Hakikatnya setiap pribadi itu unik dan berbeda. Ada kekurangan dan kelebihan. Terutama dari sisi kekurangan, semua itu pada titik tertentu menjadi polemis dan problematis jika dikaitkan dengan realitas hidup bersama. Kekurangan ini kemudian menjadi tantangan ketika dibenturkan dengan usaha koreksi persaudaraan. Dan tantangantantangan yang dimaksud adalah. Perbedaan Interpretasi Interpretasi memang penting untuk memperkaya pengetahuan dan pengalaman pribadi. Setiap pribadi tentu memiliki perbedaan Sama halnya dengan komunitas-komunitas orang beriman. Dengan latar belakang kehidupan pribadi yang beragam sangat mungkin terjadi corak interpretasi ketika berhadapan dengan situasi tertentu. satu sisi, interpretasi itu memperkaya namun di sisi lain, bisa menjadi Dalam konteks koreksi persaudaraan, interpretasi kadang memberikan kesulitan memahami maksud koreksi baik dari sisi orang yang mengoreksi maupun orang yang menerima koreksi. Maka saat seorang berusaha menginterpretasi maksud dari sebuah koreksi, di sana akan ada kemungkinan. Pertama, terbuka terhadap koreksi dan kedua, tak terbuka terhadap koreksi yang diberikan. Interpretasi merupakan bagian dari dinamika kehidupan bersama dan memiliki keterkaitan dengan komunikasi . kan dijelaskan pada sub bab beriku. Artinya, apapun KOREKSI PERSAUDARAAN bentuk komunikasi setidaknya berdampak pada tanggapan tiap pribadi. Interpretasi muncul sebagai tanggapan atas realitas yang plural. Sebagai bagian yang integral dengan komunikasi ditegaskan bahwa interpretation is another purpose of any communication and especially intercultural The interpretation of the world of happenings and their consequences are neccesary parts of any intra-cultural and intercultural Interpretasi juga tak lepas dari yang namanya konsekuensi. Interpretasi atas sebuah koreksi bisa memiliki dampak positif dan Jika keliru menginterpretasikan sebuah maksud dan tujuan koreksi berakibat pada perkembangan pribadi yang kurang baik. Sebaliknya, jika itu tanggapan dan analisis yang tepat atas maksud dan tujuan koreksi maka akan berfaedah bagi kemajuan dan perkembangan Perbedaan interpretasi menjadi kesulitan tersendiri dalam mengembangkan usaha koreksi persaudaraan tetapi tidak sepatutnya menyerah pada kondisi ini . erbeda pemahaman antara satu dengan yang lai. Oleh karena Aukesulitan dapat bermanfaat. Kesulitan tidak selalu negatif. Kesulitan dapat dipahami sebagai pemerkayaan, suatu motivasi tambahan dan sumber kepaduan. Jikalau demikian halnya, maka orang sulit dapat menjadi sumber rangsangan yang memperkaya dan memperdalam hubungan. Memang kesulitan dapat bersifat destruktifAy13. Jika diterapkan maka hambatan usaha mengoreksi dalam konteks perbedaan intrpretasi, maka kesulitan itu harus diubah menjadi motivasi tambahan memperkaya seseorang untuk berani melakukan tindakan baik demi keharmonisan hidup bersama. Komunikasi Komunikasi berkaitan erat dengan cara berbahasa. Dalam Franz-Josef Eilers. Communicating Between Cultures: An Introduction to Intercultural Communication (Manila: Logos Pblication Inc. , 2. , 148. Charles J. Keating. Bagaimana Menghadapi Orang Sulit (Yogyakarta: Kanisius, 1. , 77. SOCIETAS DEI AVol. No. OKTOBER 2017 komunitas heterogen ada bermacam latar belakang maka dalam memberi koreksi perlu diperhatikan cara penyampaian apalagi cara berbahasa itu sendiri tidak lepas dari ekspresi tubuh. Bahwasannya, bahasa itu penting karena secara fungsional language expresses our own view of ourselves and by making us part of a social grouping, relates us to our friends, to our fellow citizens as well as to foreigners. Language is used to transfer of cultural goods, of cultural conditions and feelings14. Mengomunikasikan bahasa dalam upaya mengoreksi tentu perlu dilakukan dengan cara yang baik. Jika komunikasi yang kurang efektif akan mereduksi efisiensi esensi koreksi itu sendiri. Dampaknya adalah kekeliruan interpretasi atas maksud dan tujuan koreksi yang berujung pada tidak berkembangnya pribadi. Dalam konteks koreksi, mengomunikasikan gagasan atas sebuah realitas, katakanlah kesalahan, mestinya dikonsepkan dalam cara-cara yang efektif. Dalam tradisi lama gereja, dijabarkan melalui Matius 18:1517: Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Matius 18:15-17 dapat disimpulkan demikian. Bahwa ada tiga cara mengoreksi kesalahan sesama, yaitu pertama, memberi peringatan secara pribadi oleh orang yang mengetahuinya. Yang kedua, memanggil dua atau tiga orang saksi dan yang ketiga, memanggil banyak orang untuk mengatakan kesalahan pribadi yang bersangkutan. Namun cara ketiga ini hanya mungkin terjadi jika yang bersalah tidak menunjukkan perubahan sikap. Franz-Josef Eilers. Communicating Between Cultures: An Introduction to Intercultural Communication, 93. KOREKSI PERSAUDARAAN Keengganan Mengoreksi Dengan Agustinus mengoreksi saudara atau saudari yang melakukan penyimpangan agar kesalahan yang diperbuat tidak tumbuh menjadi lebih serius. Akan tetapi yang seharusnya, berseberangan dengan yang sesungguhnya di Persoalannya adalah keengganan mengoreksi disebabkan oleh alasan seperti keharmonisan, teman akrab, sanak, satu suku dan sebagainya. Orang sulit menerapkan prinsip segera mengoreksi dengan melihat realitas yang Orang memilih untuk diam sebagai bentuk pertimbangan berkompromi dengan mentalitas yang umum dari pada mengingatkan saudara dan saudarinya terhadap cara berpikir dan bertindak yang bertentangan dengan kebenaran dan yang tidak mengikuti jalan Padahal Agustinus sendiri menegaskan ada tujuan baik dengan segera mengoreksi yakni mencegah kejahatan menjadi lebih Tidak segan-segan dikatakan dengan mengabaikan koreksi persaudaraan kita secara pribadi telah gagal melaksanakan tugas secara serius untuk kebaikan saudara-saudara kita terutama untuk kebaikan Perihal koreksi persaudaraan merupakan prasyarat yang mau tidak mau harus dilakukan. Sayangnya dalam praktek, ini masih jauh dari harapan. Kecenderungan untuk enggan mengoreksi dengan beragam alasan menjadi batu sandungan. Merefleksikan kembali idealnya koreksi persaudaraan maka setiap orang Kristen disarankan mencari jalan keluar terbaik terutama dikontraskan dengan berbagai macam alasan pembiaran. Ini pun tidak lepas dari sikap "menjaga Maksudnya, menghindari konflik di antara teman akrab. Bahwa sangat mungkin dalam sebuah komunitas kristiani terdapat Segera dalam konteks koreksi persaudaraan adalah secepatnya menegur. Atau dengan kata lain, tidak membiarkan berlama-lama atau sampai tidak mengoreksi sama sekali. SOCIETAS DEI AVol. No. OKTOBER 2017 kelompok-kelompok kecil atau khusus yang dikenal dengan sebutan peer Realitas selalu menunjukkan bahwa solidritas di antara kelompokkelompok kecil ini adalah dengan mendiamkan kesalahan. Meskipun harusnya dikoreksi tetapi oleh karena alasan nilai "kebersamaan" maka kesalahan itu dibiarkan demi menjaga nama baik. Peer group menjadi salah satu ancaman bagi usaha koreksi persaudaraan karena selalu ada kekompakan yang sebetulnya keliru demi kenyamanan kelompok Apalagi keseringan bertemu dan bergaul maka selalu ada "norma-norma" khusus yang harus dijaga apapun alasannya. Berkaitan dengan peer group dikatakan bahwa when individuals who are no established relationship are brought together to interact in group activities with common goals, they produce a group structure that contains hieraechical statuses and Dengan berbagai macam faktor seperti yang dipaparkan di atas, rupa-rupanya prinsip segera mengoreksi mengalami pergeseran yang cukup signifikan menjadi keengganan yang berujung pada pembiaran demi menjaga nilai-nilai harmonis yang naif. Koreksi Persaudaraan bagi Hidup Bersama Usaha melaksanakan koreksi persaudaraan tentu tak lepas dari Meskipun demikian --beragam tantangan yang ada-- tak bisa menampik esensi koreksi persaudaraan sebagai praktek yang bermanfaat untuk merajut dan mengembangkan kehidupan bersama dalam masyarakat terutama untuk orang Kristen sendiri yang secara hakiki memiliki tradisi ini . oreksi persaudaraa. dan sudah berakar kuat dalam Kitab Suci. Jika terus-menerus digemakan, koreksi persaudaraan sesungguhnya memiliki dampak positif untuk membangun dan mengembangkan relasi dalam hidup bersama. Dua poin penting yang menjadi representasi esensi koreksi persaudaraan adalah. Paul G. Swingle (Edi. Social Psychology in Everyday Life (Chicago. USA and Harmondsworth: Penguin Education, 1. , 171. KOREKSI PERSAUDARAAN Membangun Hidup Bersama Dengan saling mengoreksi, kerendahan hati untuk mau membuka diri dan mau diperkaya oleh Allah melalui sesama semakin bertumbuh. Dengan saling mengoreksi orang akan mampu memaafkan. Mengoreksi menghadirkan kepedulian terhadap sesama terutama yang menyimpang. Mengoreksi perkembangan orang lain tetapi simbol kerelaan untuk berkorban. Dikatakan berkorban karena usaha ini tidak pernah berkesudahan dan selalu berbenturan dengan realitas yang pluralis baik dalam konteks bermasyarakat maupun beragama. Melihat lebih dalam, ungkapan segera menegur mengidentifikasi sebuah itikad baik seorang terhadap yang lain yang melakukan kesalahan. Mengoreksi terhadap kesalahan menjadi kepedulian akan kebaikan sebagai pengejawantahan usaha membawa sesama pada keselamatan. Dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat dan beragama, tidak pernah disalahkan untuk mengoreksi apalagi melampau batas-batas jabatan, kedudukan karena semua orang adalah saudara. Mengoreksi berarti mau mengungkapkan kebenaran. Oleh sebab itu, mengapa mesti takut mengatakan kebenaran demi kehidupan bersama yang harmonis dalam beragam konteks kehidupan. Meskipun bukan sebuah kesalahan, namun dalam mengoreksi perlu dipertimbangkan aspek individu dan sosial. Pentingnya koreksi persaudaraan sangat jelas termaktub dalam refleksi Agustinus sejak zamannya, dalam hal ini konteks hidup Tetapi kemudian kebiasaan baik ini menjadi inspirasi hidup menuju kehidupan yang harmonis sehati, sejiwa tertuju pada Allah. Tidak kalah penting juga adalah kesediaan dan membuka diri menerima Jika seorang dikatakan bersalah, kesadaran untuk membuka diri, merefleksi diri dan siap mengubah diri mesti menjadi spirit yang Sisi lain adalah melihat koreksi sebagai hal yang tidak menakutkan dan menyudutkan namun kesadaran dari dalam hati untuk membawa pada perubahan hidup menjadi lebih baik. SOCIETAS DEI AVol. No. OKTOBER 2017 Membawa Metanoia Jika seorang melakukan kesalahan bukan hanya dirinya yang terluka tetapi juga orang di sekitarnya. Begitupun dalam konteks kebersamaan di berbagai ruang lingkup kehidupan. Untuk itu tanggung jawab dan saling memperhatikan diserahkan kepada semua individu. Di dalam kehidupan beragama pada umumnya tidak boleh terjadi sikap tidak peduli akan tanggung jawab spiritual. Tentu saja menegur pendosa adalah bagian dari perbuatan pengampunan spiritual. Dengan begitu, orang harus memperingatkan saudaranya melawan cara berpikir dan bertindak kontradiktif pada kebenaran dan jalan kebaikan. Keberadaan seseorang selalu berhubungan dengan orang lain dalam segala suasana hidup. Oleh karena itu, dosa dan kasih memiliki dimensi Itulah maksudnya mengapa setiap orang harus punya sikap perhatian bukan acuh tak acuh terhadap orang lain. Keterbukaan mengampuni akan membawa pertobataban . individu yang juga Kalau seorang sungguh mengasihi saudaranya, ia akan tumbuh dalam keprihatinan sejati untuk memikirkan kebaikan dan keselamatan sesamanya. Hanya dalam konteks cinta kasih sejati koreksi boleh dilakukan17 Dengan koreksi persaudaraan diharapkan adanya perubahan sikap hidup menuju sikap hidup yang baik, benar dan kudus. Dikatakan bahwa suatu relasi dengan para saudara yang diresapi dengan kerendahan hati tanpa usaha membuktikan pendapat kita benar, tak peduli betapa baiknya itu dan terutama mencoba membebankannya pada saudara-saudara kita yang lain. Roh dan semangat persaudaraan itu terletak pada saling menerima dengan ramah dan hal ini tidak didasarkan pada dominasi seorang saudara pada yang lain. Kerendahan Albertus Sujoko. MSC. Identitas Yesus dan Misteri Manusia (Ulasan Tema-tema Teologi Moral Fundamenta. , 433. KOREKSI PERSAUDARAAN hati dalam relasi dengan orang lain membuka kemungkinan terjadinya pencarian diri yang memberikan lebih banyak ruang Tuhan dan sesuatu kesediaan diri yang lebih baik untuk menerima seorang saudara dengan baik kendati berbeda dengan diri saya. Dengan demikian secara sederhana dikatakan demikian. Jika seorang saudara yang dengan terbuka dan rendah menerima koreksi berarti terwujud kesadaran untuk berubah, bertumbuh dan berkembang secara positif. Jika ada kesadaran maka sikap acuh tak acuh dan balas dendam tidak akan tumbuh. Kesadaran ini akan membawa perubahan radikal dalam hidup. Ada perubahan dari sikap hidup lama menuju hidup baru . Kesadaran akan kasih dan perhatian sesama saudara membawa kesadaran seseorang pada kasih Allah yang dinyatakan-Nya kepada pendosa lewat sahabat sekaligus saudara Cara lain yang juga efektif untuk mengoreksi orang lain adalah melalui doa. AuKita harus menyadari bahwa tidak hanya kata-kata baik dan bagus dari kita yang mengubah hati, bukan hanya kata-kata indah kita yang mengubah orang, tetapi pertama-tama yang mengubah orang adalah rahmat Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat mengubah orang. Hanya rahmat Tuhan yang membuat hati bertobat, bukan kita. Itulah sebabnya, doa adalah sangat penting, sarana paling vital dalam koreksi persaudaraanAy18. Komunitas akan menjadi indah kalau hari demi hari kita saling mendoakan, saling memberi koreksi persaudaraan apabila ada yang berdosa. Agustinus setidaknya mengharapkan untuk saling memikul beban satu dan yang lain. Artinya, tidak hanya sekadar siap untuk memikul tetapi lebih dari itu, turut mengalami dan merasakan situasi yang sedang dialami oleh sesama kita. Jika mau berkorban . eskipun dalam skala keci. maka kesediaan tersebut akan menjadi tanda kasih yang tidak ingat diri. Tawaran untuk memikul beban sebagaimana Pasjon. Koreksi Persaudaraan. Remah Harian, 16 Agustus 2017, https://heypasjon. com/2017/08/16/koreksi-persaudaraan/ diakses 22 Agustus 2017, pukul SOCIETAS DEI AVol. No. OKTOBER 2017 dimaksudkan oleh Agustinus adalah Aupenyakit, kehilangan semangat, kesalahpahaman atau kemarahan, iri hati, ketidaksabaran, kesombongan dan kata lainnya beban dosa itu sendiri yang ada dalam kehidupanAy 19. Dengan mau memikul beban setidaknya kita membantu meringankan sesama kita. Ini menjadi salah satu bagian dari koreksi persaudaraan itu Rasa dendam dan iri hati akan hilang, asalkan orang itu tidak sombong, mau rendah hati untuk menerima koreksi persaudaraan. Banyak orang sulit menerima koreksi persaudaraan, karena sikap Di lain pihak, ada juga orang suka memberi koreksi tetapi dirinya sulit untuk menerima koreksi persaudaraan. Inilah realitas hidup maka Tuhan perlu menjadi andalan hidup kita. Penutup Koreksi persaudaraan merupakan keharusan bagi setiap orang terutama dalam ranah kehidupan yang beragam karena di dalamnya kasih mengalir. Selain menjadi ungkapan kepedulian atas dasar kasih, koreksi persaudaraan sekaligus menjadi inspirasi pribadi untuk melihat perkembangan diri sebagai orang beriman. Agustinus, secara khusus, komentarnya tentang koreksi persaudaraan memang sangat "keras" namun di balik itu semua hanyalah gambaran kasih yang total, kasih yang tak terbatas. Dalam pelaksanaan koreksi persaudaraan acapkali tak se-ideal teori atau konsep yang dirumuskan. Selalu ada tantangan sebagaimana yang dipaparkan di atas yaitu perbedaan interpretasi, komunikasi dan keengganan mengoreksi. Benar bahwa koreksi persaudaraan menjadi bukti kasih namun dianggap menjadi ancaman keharmonisan oleh sebab alasan berikut. Pertama, perbedaan interpretasi seringkali mempengaruhi relasi tiap individu. Di sisi lain, besar kemungkinan hilangnya sense of collectivity yang berujung pada adanya Aukomunitas-komunitasAy . eer Theodoro Tack. If Augustine Were Alive, 42. KOREKSI PERSAUDARAAN dalam komunitas. Kedua, komunikasi memang penting namun komunikasi yang kurang efektif akan mereduksi efisiensi esensi koreksi itu sendiri. Dampaknya adalah kekeliruan interpretasi atas maksud dan tujuan koreksi. Ketiga, keengganan mengoreksi yang berujung pada pembiaran yang justru bertentangan dengan prinsip "segera menegur" dari Agustinus. Dengan beragam tantangan yang ada, boleh dikatakan bahwa praksis koreksi persaudaraan --sejauh ini-- belum berjalan dengan efektif. Tantangan di atas menjadi beberapa dari banyak alasan yang ingin menegaskan bahwa pada satu sisi koreksi persaudaraan memang dianggap menjadi ancaman keharmonisan yang dibangun dalam habitus keseharian hidup bersama. Hal signifikan lainnya adalah koreksi persaudaraan belum efektif dipraktekkan dalam hidup bersama terutama dalam komunitas kristiani jika melihat atau dibenturkan dengan beragam tantangan dalam pelaksanaan koreksi persaudaraan di Bagaimanapun alasan mendasar mengapa koreksi persaudaraan harus ditawarkan adalah karena berakar pada prinsip kasih maka tidak Sebaliknya harus dilakukan atas dasar ketulusan karena menjadi bagian dari masalah moral dan keselamatan . ang Juga tidak hanya tergantung pada niat baik tapi harus dilakukan sedemikian rupa bahwa orang yang dikoreksi bersedia untuk menerima Praktek koreksi persaudaraan sebetulnya membawa banyak keuntungan bagi yang memberi dan menerima. Sebagai sebuah tindakan spesifik dari kemurahan hati, koreksi persaudaraan menghasilkan buahbuah kegembiraan, kedamaian, kerendahan hati, kebijaksanaan. Koreksi persaudaraan meningkatkan formasi kita tentang manusia, membuat kita lebih sopan, meningkatkan relasi antara pribadi, mencegah gosip yang kurang baik, lelucon yang kurang sopan tentang tingkah laku dan sikap sesama, menguatkan kesatuan gereja dan institusinya pada setiap SOCIETAS DEI AVol. No. OKTOBER 2017 tingkatan, juga memberi efektivitas pada evangelisasi misi, menjamin kesetiaan kepada Yesus Kristus dan memampukan umat kristiani pada jaminan tegas akan pengetahuan bahwa kita dapat menghitung pertolongan saudara dan saudari kita dalam iman: seorang saudara ditolong oleh saudara lainnya diumpamakan seperti sebuah kota yang kuat"20. Dikatakan juga bahwa: Nevertheless. I believe that this notion of fraternal correction needs to be applied to our era with some caution for the reason that I mentioned above when speaking of ideas drawn from a period when people held presuppostions very different from our own. For presupposed by this notion of fraternal correction are interpersonal relation akin to those of a family rather than of a voluntary association. Likewise, there are presumptions of objectivity in moral judgment, of moralityAos application to human beings as such, and of moral knowledge being naturally available to Setiap orang dalam kesehariannya terutama orang kristiani diharapkan mampu menghayati tradisi gereja ini dalam hidup mereka. Memang sulit karena berbagai alasan yang ada namun usaha ini mesti diperjuangkan. Koreksi berkesudahan kendati merupakan tradisi lama namun makna dan nilainya akan selalu relevan hingga hari ini untuk mengembangkan hidup bersama. Oleh karena itu, sebagai bentuk rekomendasi agar koreksi persaudaraan tidak menjadi ancaman keharmonisan dan kembali efektif dalam hidup bersama komunitas maka perlu. Pertama, sikap saling terbuka pada interpretasi pribadi melalui sharing dan pertemuan rutin. Kedua, kebiasaan mendiamkan kesalahan rekan apalagi sahabat perlu segera dihindari karena akan berpengaruh buruk pada individu dan Ketiga, perlu menanti saat yang tepat untuk dapat memberikan koreksi supaya berdaya guna. Artinya bukan hanya soal http://w. info/docs/fraternal-correction. pdf, diakses Selasa, 22 Agustus 2017, pukul 10: 47. John Haldane. Practical Philosophy: Ethics. Society and Culture (USA: Imprint Academic. KOREKSI PERSAUDARAAN waktu yang penting tetapi juga soal ketepatan mengerti duduk Ini kesalahpahaman yang lebih ruwet. Dengan demikian ketika koreksi persaudaraan bisa menjadi praksis yang hidup, dihayati dan digemakan terus-menerus, maka hidup bersama, sehati dan sejiwa akan bisa terwujud.