Jurnal Publisitas Vol. No. Oktober 2019 Website: http://ejurnal. id/index. php/JurnalPublisitas ISSN 2252-4150 MAKNA SIMBOL ADAT MBEMBENG DAN NENUROU PADA ETNIS MELAYU ENIM Bianca Virgiana1. Trisia Margareta2 Universitas Baturaja. Palembang. Indonesia, biancavirgiana@fisip. Universitas Baturaja. Palembang. Indonesia, trisiamargareta35@yahoo. DOI: 10. 17605/OSF. IO/5M4BU ABSTRAK Komunikasi erat kaitannya dengan kebudayaan karena kebudayaan memerlukan komunikasi dan dalam komunikasi terdapat simbol-simbol yang harus dipelajari bersama, salah satu kebudayaan yang menggunakan komunikasi yaitu adat pernikahan masyarakat Lubuk Nipis Kecamatan Tanjung Agung Kabupaten Muara Enim. Dalam pelaksanaan prosesi adat masyarakat Lubuk Nipis terdapat beberapa rangkaian komunikasi nonverbal yang memiliki makna simbolik yaitu Mbembeng dan Nenurou. Tujuan penelitian untuk mengetahui makna pesan yang terkandung dalam tradisi mbembeng dan nenurou pada prosesi pernikahan masyarakat Desa Lubuk Nipis. Pendekatan yang digunakan dalam memaknai proses komunikasi nonverbal pada rangkaian prosesi adat pernikahan masyarakat Lubuk Nipis menggunakan Teori Interaksi Simbolik. Teori Interaksi Simbolik berpegang pada individu dalam membentuk sebuah makna melalui interaksi dan komunikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan melakukan wawancara mendalam (Depth Intervie. kepada informan (Key Informa. Hasil dari penelitian ini adalah dari prosesi adat pernikahan Mbembeng dan Nenurou mempunyai makna sebagai ungkapan rasa terimakasih keluarga kepada masyarakat atas kerjasamanya, serta makna mendoakan kehidupan pengantin dan keluarganya agar selalu bahagia dan selalu bersama dalam mengarungi bahtera rumah tangganya. Kemudian Dalam adat pernikahan yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Lubuk Nipis terdapat empat tahapan. Prosesi mbembeng dan nenurou ini diyakini oleh masyarkat Lubuk Nipis mempunyai nilai ritual dan sakral yang terdapat didalamnya. Kata kunci : Makna. Adat Pernikahan Prosesi Mbembeng dan Nenurou. Interaksi Simbolik. ABSTRACT Communication is related to the cultures because they need communication, and there are symbols in communication that should be learnt, one of them is the custom marriage of Lubuk Nipis society Tanjung Agung districts. Muara Enim regency. There is a series of nonverbal communication in the application of Lubuk Nipis customary community procession that has symbolic meaning, namely Mbembeng and Nenurou. The aimed of this research was to find out the meaning of the message in Mbembeng and Nenurou tradition on the procession of customary marriage in Lubuk Nipis. The approach used in this research was Symbolic Interactionism Theory. It depends on the individual in constructing the meaning by interacting and communicating. The method of this research was descriptive qualitative by applying depth interview to the key informant. The result was the meaning of customary marriage of Mbembeng and Nenurou were expression of gratitude of a family to the society because of their cooperation, pray for the brideAos life to always be happy and wading the ark Jurnal Publisitas. Vol. No. Oktober 2019 together. In addition, there are four steps in the customary marriage of Lubuk Nipis. Lubuk Nipis society belief the Mbembeng and Nenurou had a ritual and sacred meaning on it. Keywords: Meaning. Customary Marriage Procession of Mbembeng and Nenurou. Symbolic Interaction. PENDAHULUAN Pada dasarnya semua komunikasi adalah budaya yang mengacu pada cara-cara kita telah belajar untuk berbicara menggunakan katakata atau verbal dan memberikan pesan-pesan Manusia berkomunikasi dengan cara yang sama dari hari ke hari dikarenakan faktor-faktor seperti konteks situasional, keperibadian individu, dan suasana hati berinteraksi dengan berbagai pengaruh budaya kita telah menginternalisasi yang mempengaruhi kita. ( Larry :2010 :. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Selo Soemarjo dan Soelaeman Soemardi kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta manusia (Soekanto, 2006:. Menurut ilmu antropologi,Au Disebutkan ada tujuh unsur-unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa, ketujuh unsur yang kita sebut sebagai isi pokok dari tiap kebudayaan didunia yaitu, sistem religi, sistem kekerabatan, sistem mata pencarian, sistem teknologi, bahasa, dan sistem pengetahuanAy. Koentjoroningrat,2008 : 203-. Bangsa keanekaragaman budaya dimana tiap daerah atau masyarakat mempunyai corak dan masing-masing memperlihatkan ciri khasnya di indonesia, meliputi adat kebiasaan, upacara ritual, bahasa, dan lain-lain. Salah satu bentuk budaya yang dapat dilihat yaitu adat istiadat, setiap daerah memiliki adat istiadat yang berbeda-beda dan nilai-nilai penerapannya dimasyarakat. Seperti halnya saja di provinsi sumatera selatan yang pada umumnya masyarakat sumatera selatan terikat dengan adat dan tradisi suku melayu, dan mempunyai berbagai macam ciri khas seperti bahasa, kebiasaan, tradisi, serta upacara adat. Dari keanekaragaman budaya Indonesia. Sumatera Selatan sendiri memiliki budaya dan adat istiadat yang banyak. Hal ini dapat ditemui dalam berbagai macam kegiatan upacara yaitu upacara pernikahan, kematian. Jurnal Publisitas. Vol. No. Oktober 2019 pelantikan kepala desa, maupun ritual adat, seni pertunjukan dan seni kerajinan. Salah satu yang menarik adalah adat pernikahan yang dilakukan masyarakat di sumatera selatan yang memiliki berbagai macam ritual pernikahan dan tradisi. Setiap daerah memiliki ciri khas tertentu dalam prosesi upacara pernikahan, yang dilihat dari segi pakaian, tata rias, aksesoris dan tata cara pelaksanaan pernikahan dari setiap daerah, salah satunya,adalah Tradisi Mbembeng dan Nenurou pada masyarakat Lubuk Nipis. Kecamatan Tanjung Agung. Kabupaten Muara Enim. Dari sekian banyak adat dan tradisi dalam prosesi pernikahan yang ada di sumatera Masyarakat Lubuk Nipis masih mempertahankan tradisi mbembeng dan nenurou pada prosesi pernikahan yang ada di desa Lubuk Nipis Kecamatan Tanjung Agung Kabupaten Muara Enim. Dimana tradisi ini merupakan Satu diantara unsur budaya bangsa yang mengandung nilai-nilai luhur pernikahan. Prosesi pernikahan Mbembeng dan Nenurou merupakan suatu adat yang terdapat pada masyarakat Lubuk Nipis yang masih berlaku sampai sekarang dan dilaksanakan turun-temurun. Berdasarkan prapenlitian yang peniliti lakukan tradisi Mbembeng dan Nenurou hanya dilakukan di lubuk nipis dengan cara menurunkan tradisi inidari generasi ke generasi dengan cara nyambut . enek-nenek atau orang tua yang menerima tradisi itu diturunkan padany. , tradisi mbembeng dan nenurou ini masih dijalankan oleh masyarakat lubuk nipis karena masyarakat sangat menjunjung tinggi nilainilai luhur kebudayaan yang di buat oleh nenek moyang mereka dan mempercayai bahwa tradisi mbembeng dan Adapun rangkaian acara atau prosesi adat pernikahan Desa Lubuk Nipis dari persiapan pernikahan sampai dengan acara resepsi, terbagi menjadi dua tahap yakni: pada tahap sebelum pernikahan rasan,kemudian dilanjutkan nuoui rasan . ,kemudian dilanjutkan dengan prosesi nunggalkan ading sanak dan kemudian dilanjutkan dengan prosesi ndepatkan calon Tahap yang kedua yaitu tahap pelaksanaan pernikahan yang meliputi prosesi melak dan prosesi melilik ,serta prosesi ngawin. kad nika. serta penyambutan pengantin yang disebut Mbembeng, . Tahap yang ketiga yaitu tahap resepsi meliputi prosesi arak-arakan, prosesi resepsi pada umumnya dan dilanjutkan dengan tradisi (Nenuro. ,serta prosesi yang terahir suapan yang dilakukan oleh kedua orang tua Seperti halnya dengan masyarakat Lubuk Nipis yang masih memegang tradisi kebudayaan adat pernikahan Mbembeng dan Neneurou dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan prapenelitian yang peneliti lakukan dengn Abdurahman selaku tokoh adat desa Lubuk Nipis, adat pernikahan mbembeng dan nenurou tentunya memiliki makna komunikasi yang terkandung pada setiap tahapannya, dan seperti diketahui bahwa banyak adat dan tradisi pernikahan yang sama dari budaya lain, namun tetapi makna dari setiap tradisi yang sama tidak akan sama maknanya antara budaya satu dengan budaya Dan pada umumnya masih banyak masyarakat Desa Lubuk Nipis Kecamatan Tanjung Agung Kabupaten Muara Enim yang tidak mengerti atau memahami dengan jelas makna komunikasi yang terkandung dalam prosesi adat pernikahan mbembeng dan nenurou tersebut, sehingga nilai-nilai yang terkandung didalamnya hanya di ketahui oleh kalangan tokoh-tokoh adat saja. Ini terlihat bahwa kurangnya pemikiran dari kalangan muda dan remaja untuk mempelajari adat istiadat budayanya sendiri, yang diharapkan dapat menjadi penerus dan pemelihara kelestarian budaya lokal sebagai ciri khas tradisi adat pernikahan di Lubuk Nipis, dikarenakan dizaman sekarang kalangan remaja atau muda mudi di desa Lubuk Nipis tidak lagi menyaksikan lagsung prosesi tradisi mbembeng dan nenurou dilakukan sebab pada prosesi tersebut hanya disaksikan oleh kedua orang tua pengantin, keluarga dekat ,pihak besan serta puncou pengantin atau pagar Jurnal Publisitas. Vol. No. Oktober 2019 Dari latar belakang di atas peneliti tertarik meneliti prosesi adat pernikahan mbembeng dan nenurou yang hanya dilakukan di desa lubuk nipis dimana disetiap tahapannya menggunakan simbol-simbol dan kata-kata yang mengandung makna yang mendalam bagi Karena makna dalam budaya itu merupakan hasil kesepakatan antara individu yang ada di dalamnya,jika makna yang dicerna dan ditangkap tidak sama akan terjadi sikap etnosentrisme terhadap budaya itu Kemudian peneliti mengangkat penelitian tentang tradisi adat pernikahan mbembeng dan nenurou untuk menjadikan kajian ini sebagai literature atau buku dokumentasi desa lubuk nipis demi menjaga dan melestarikan budaya adat pernikahan tradisi mbembeng dan nenurou agar tidak tergerus oleh zaman. KAJIAN LITERATUR Komunikasi Budaya Martin dan Nakayama mendefinisikan budaya . Ausebagai pola yang dipelajari dari perilaku dan sikap yang disebarkan oleh sebuah kelompok masyarakatAy . 7: . Walaupun banyak terdapat perbedaan definisi mengenai budaya, hal tersebut justru lebih menawarkan fleksibilitas dalam melakukan pendekatan pada suatu topik permasalahan, yaitu dengan memahami dan manganalisis kompleksitas konsep-konsep dari prespektif yang berbeda-beda pada komunikasi budaya. Salah satu definisi budaya yang terkait erat dengan pembahasan komunikasi yaitu seperti yang disampaikan oleh Triandis . 4: . yang memandang budaya sebagai: A set of human-made objective and subjective elements that in the past probability of survival and resulted in satisfaction for the participans in an ecological niche, and thus became shared among communicate with each other because they had a common language and the lived in the same time and Kata Auhuman madeAy dari definisi yang diberikan oleh Triandis di atas, membuat suatu pemahaman bahwa budaya tidak saja terkait dengan hal-hal yang bersifat biologis dari kehidupan manusia, melainkan juga memberikan keterangan dari perilaku yang merupakan suatu pembawaan dari lahir dan tidak harus dipelajari, seperti makan, tidur, menangis, cara berbicara, dan rasa takut. Dari definisi Triandis ini juga mempunyai perhatian yang penting dari peran bahasa sebagai sebuah sistem simbol yang memperkenankan budaya untuk ditransmisi dan dibagi diantara para pelaku interaksi Pada satu sisi komunikasi merupakan suatu mekanisme untuk mensosialisasikan norma-norma masyarakat,baik secaraAyhorizontalAy dari suatu masyarakat kepada masyarakat lainya,ataupun secara vertikal dari generasi ke generasi berikutnya. Sedangkan pada sisi lain,budaya merupakan norma-norma atau nilai-nilai yang di anggap sesuai untuk kelompok tertentu Cangara, 2010:. Karena pada dasarnya komunikasi dan budaya memiliki hubungan yang erat dimana komunikasi sebagai media untuk mengembangkan dan memelihara budaya. Sedangkan budaya merupakan bagian dari komunikasi karena dari komunikasilah Kemudian Huntington menyatakan AuHal bahasa,agama,tradisi, dan kebiasaan Au . alam Samovar,dkk 2014 : . Bahasa :alat untuk berbagi pikiran dan penyebarluasan budaya. Agama : sebagai kontrol sosial . Tradisi: segala sesuatu yang disalurkan atau diwariskan dari masa lalu ke masa kini atau sekarang. Selain hal penting yang dikemukakan oleh Huntington tentang bahasa, agama, tradisi, dan Ahli filsafat Amerika,Thoreau juga mengatakan budaya itu juga diturunkan dari generasi ke generasi,Aysemua masa lalu ada disiniAy. Budaya itu dibagikan,seperti yang telah disebut sebelumnya,jika suatu budaya ingin dipertahankan,harus dipastikan apakah pesan dan elemen penting budaya tersebut tidak hanya dibagikan tetapi juga diturunkan pada Jurnal Publisitas. Vol. No. Oktober 2019 generasi yang akan datang. Dengan cara ini,masalalu menjadi masa kini,dan menolong utuk memepersiapkan masa yang akan (Samovar,dkk,2014 :. Selanjutnya Charon. alam Samovar,dkk ,2014: . menambahkan, proses penurunan budaya ini dapat dilihat sebagaiAypewarisan sosial,Ay Charon mengembangkan pandangan ini dalam tulisanya : Budaya adalah pewarisan sosial yang mengandung dikembangkan jauh sebelum kita lahir. Masyarakat kita, misalnya memiliki sejarah yang melampaui kehidupan seseorang, pandangan yang waktu yang diajarkan pada AukebenaranAy dilabuhkan dalam sebelum mereka meninggal. Sebagaimana telah dikemukakan oleh ahli-ahli sebelumnya sama dengan yang dikemukakan oleh Charon mengenai budaya bahwa budaya itu selalu diturunkan atau mewariskan secara turun temurun melalui generasi ke generasi. Ikatan antara generasi menyatakan hubungan yang jelas antara budaya dan komunikasi. Komunikasilah yang membuat budaya berkelanjutan, ketika kebiasaan budaya, prinsip, nilai, tingkah laku,dan sebagainya di formulasikan, mereka mengkomunikasikan hal ini kepada anggota yang lainya. Karena ikatan generasi di masalalu dan masa depan sangat perlu, sehingga keasingan berkata. Aysatu ikatan yang putus akan mengarah pada musnahnya suatu Ay Larry . 0 :44-. Dalam kajian budaya, ada beberapa menginterpretasikan makna simbol dalam suatu budaya yaitu dengan menggunakan teori interaksi simbolik menurut Mead. LaRossa dan Reitzes (West dan Turner, 2008:. mengatakan bahwa tujuh asumsi mendasari Interaksi Simbolik dan bahwa asumsi-asumsi ini memperlibatkan tiga tema besar yaitu, pentingnya makna bagi perilaku manusia, pentingnya konsep mengenal diri, hubungan antara individu dengan masyarakat. Komunikasi adalah Proses Simbolik Salah satu kebutuhan pokok manusia, seperti dikatakan Sussane K. Langer, . alam West,2010:. adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang. Manusia memang satu-satunya hewan yang menggunakan lambang, dari itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainya. Ernst Cassier mengatakan bahwa keunggulan manusia atas makhluk lainya adalah keistimewaan mereka sebagai animal symbolicum. Salah satu kebutuhan pokok manusia, seperti dikatakan Sussane K. Langer, . alam West,2010:. adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang. Manusia memang satu-satunya hewan yang menggunakan lambang dan itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainya. Simbol tercipta dari sebuah instrumen pemikiran. Simbol merupakan konseptualisasi manusia tentang suatu hal. sebuah simbol ada untuk Kemudian simbol merupakan inti dari kehidupan manusia dan proses simbolisasi. Sebuah simbol atau kumpulan simbol- simbol bekerja dengan menghubungkan sebuah konsep, ide umum, pola atau bentuk. Langer memandang makna sebagai sebuah hubungan kompleks diantara sebuh simbol, objek dan manusia yang melibatkan denotasi . akna bersam. dan konotasi . akna pribad. Menurut Mulyana . 1 :. Au Lambang atau simbol adalah suatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata . esan verba. , perilaku nonverbal, dan objek yang maknanya disepakati bersamaAy. Lambang pada dasarnya tidak mempunyai makna, namun kitalah yang memberi makna pada lambang. Makna sebenarnya ada dalam kepala kita, bukan terletak pada lambang itu sendiri. Kalaupun ada orang yang mengatakan bahwa kata-kata mempunyai makna, yang ia maksudkan sebenarnya bahwa kata-kata itu mendorong orang untuk memberi makna . ang telah disepakati bersam. terhadap kata-kata itu. Persoalan akan timbul bila para peserta komunikasi tidak memberi makna yang sama pada suatu kata. Hal demikianlah yang akan peneliti teliti mengenai makna dari adat Jurnal Publisitas. Vol. No. Oktober 2019 pernikahan di desa Lubuk Nipis tentang tradisi Mbembeng dan Nenurou. Interaksionisme Simbolik Menurut teoritis interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah Auinteraksi manusia dengan menggunakan simbol-simbolAy. (Mulyana,2001:. Komunikasi melibatkan proses verbal dan Komunikasi verbal adalah proses penyampaian makna secara lisan maupun tulisan yaitu berupaka kata, frase atau kalimat yang diucapkan dan didengar. Komunikasi nonverbal adalah proses yang dijalani seseorang saat menyampaikan makna dengan isyarat non verbal yang akan dimaknai oleh orang lain. Proses non verbal meliputi isyarat, ekspresi wajah, kontak mata, postur, dan gerakan tubuhsentuhan, pakaian, artefak, diam, temporalitas dan cirri paralinguistik. (Mulayana, 2001:. Makna itu tidak ada artinya, sampai pada akhirnya dikonstruksi secara interpretif oleh individu melalui proses interaksi, untuk menciptakan makna yang dapat disepakati secara bersama. Hal ini sesuai dengan tiga dari tujuh asumsi karya Harbert Blumer . dalam West-Turner . dimana asumsiasumsi itu adalah sebagai berikut: Manusia berdasarkan makna yang diberikan orang lain kepada mereka. Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia. Makna dimodifikasi melalui proses interpretatife. Hubungan antara kebebasan individu dan masyarakat, dimana asumsi ini mengakui bahwa norma-norma sosial membatasi perilaku tiap individunya, tapi pada akhirnya tiap individulah yang menentukan pilihan yang ada dalam sosial kemasyarakatannya. Fokus dari tema ini adalah untuk menjelaskan mengenai penciptaan makna dalam proses Asumsi-asumsi yang berkaitan dengan tema ini adalah orang dan kelompok masyarakat dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial, struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial. Teori interaksi simbolik (Herbert Blumer,1. dapat menjelaskan proses penciptaan makna yang terjadi pada individu penerima pesan melalui interaksi antar sesama METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini menggunakan paradigm konstruktivisme. Paradigma ini memandang realitas kehidupan sosial bukanlah realitas yang natural, tetapi terbentuk dari hasil konstruksi. karenanya, konsentrasi analisis pada paradigma konstruktivisme adalah menemukan bagaimana peristiwa atau realitas tersebut dikonstruksi, dengan cara apa konstruksi itu dibentuk. Dalam studi komunikasi paradigma ini sering sekali disebut sebagai paradigma produksi dan pertukaran Penelitian ini bermaksud untuk memperoleh pemahaman tentang makna komunikasi yang terkandung dalam adat pernikahan tradisi Mbembeng dan Nenurou Desa Lubuk Nipis Kecamatan Tanjung Agung Kabupaten Muara Enim. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan paradigma Paradigma ini secara tidak langsung berfokus pada sebuah scope khusus, dalam artian hanya melihat bagaimana bahasa dan simbol diproduksi dan direproduksi dihasilkan lewat berbagai hubungan yang terbatas antara sumber dan narasumber yang menyertai proses hubungan tersebut. Penelitian pendekatan kualitatif . ualitative metho. mengharuskan para peneliti menganalisis topik kajiannya melalui alat bantu pemahaman seperti cerita, mitos, dan tema. Alat-alat ini membantu para peneliti untuk memahami bagaimana orang memaknai pengalamannya, karena metode kualitatif tidak tergantung pada analisis statistik untuk mendukung sebuah intepretasi tetapi lebih mengarahkan para peneliti untuk membuat sebuah pernyatan retoris atau argument yang masuk akal mengenai temuannya (West & Turner, 2008: Informan pada penelitian ini dipilih secara purposive sampling dan snowball kepentingan penelitian. Menurut Faisal . Purposive Sampling adalah sampel yang ditetapkan dengan sengaja oleh peneliti dan lazimnya didasarkan atas pertimbangan Jurnal Publisitas. Vol. No. Oktober 2019 informan dalam penelitian ini dipilih berdasarkan pertimbangan peneliti karena dianggap mengetahui tentang kebudayaan yang ada pada masyarakat Desa Lubuk Nipis Kecamatan Tanjung Agung Kabupaten Muara Enim. HASIL ANALISIS Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti tentang adat pernikahan prosesi Mbembeng dan Nenurou di Desa Lubuk Nipis Kecamatan Tanjung Agung Kabupaten Muara Enim, dapat diketahui bahwa terdapat makna komunikasi dalam prosesi adat pernikahan tersebut. Di Desa Lubuk Nipis yang sebagian masyarakatnya merupakan Suku Melayu Enim dan memiliki banyak kebudayaan dan tradisi, namun yang masih sangat kental dan kuat yang di gunakan pada zaman modern seperti ini yakini Tradisi Mbembeng dan Nenurou walaupun sedikit banyaknya telah mengalami beberapa perubahan terutama pada tradisi mbembeng. Pada adat pernikahan masyarakat Lubuk Nipis tradisi Mbembeng dan Nenurou selalu dipakai pada setiap adat pernikahan sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran agama islam dan peraturan pemerintah, karena semuanya murni dari leluhur tidak tidak ada yang ditambah ataupun diganti hanya saja mungkin dibuat menjadi lebih mudah dan praktis. Berdasarkan pengelompokan data informan yang sudah dikelompokan pada hasil penelitian, kelompok pertama peneliti mengklasifikasikan tentang pandangan atau makna dari tradisi Mbembenng dan Nenurou yang di pakai pada adat pernikahan desa Lubuk Nipis. Mengenai arti atau makna tradisi mbembeng ini dapat peneliti simpulkan bahwa Mbembeng merupakan proses pemanggilan wali dan penjemputan pengantin sebelum akad nikah dilaksanakan, dengan membawa sejenis salam pembuka kepada keluarga salah satu pengantin seperti. ibat nasi, ibat juadah, dan penjemputan pengantin dirumah utama atau rumah yang akan dijadikan tempat akad nikah maka kedua pengantin disambut atau nerimou pengantin( bahasa masyarakat lubuk nipi. dengan pantun atau rejungan yang menggunakan kain panjang untuk menyelimuti pengantin. Sedangkan tradisi Nenurou disini diartikan atau dimaknai sebagai pemadaman sumpah bujang gadis yang diiringi dengan pantun atau rejungan dan juga menggunakan simbol seperti . ang sedang berkembang bia. , beras kunyit, dan memban . utih Dari pengelompokan data dari keempat informan terdapat kesamaan makna pada tradisi mbembeng dan nenurou. Jelas sekali dalam hal pemaknaan tradisi mbembeng dan nenurou berkaitan dengan Teori Interaksionisme Simbolik dimana makna didapat ketika dua individu berinteraksi, dalam hal ini Mead mengemukakan individu memknai sesuatu dipengaruhi oeh self . , mind. , dan society . Berdasarkan data keempat informan bahwa tradisi mbembeng dan nenurou diciptakan oleh nenek moyang kemudian dimaknai oleh satu individu, kemudian individu melakukan interaksi dengan masyarakat, kemudian dari invidu proses pemaknaan juga di stimulasi oleh pikiran, hingga terciptanya makna tradisi Aupenyambutan pengantin dan pemadaman sumpah bujang gadisAy yang disepakati oleh masyarakat pada saat itu hingga sekarang masyarakat masih memaknai tradisi ini sebgaai suau penyambutan dan pemadaman sumpah bujang gadis. Selanjutnya pengklasifikasian yang kedua yakni tentang simbol-simbol yang digunakan pada tradisi mbembeng dan Dari penjelasan kelima informan diatas dapat peneliti simpulkan bahwa simbol yang digunakan pada tradisi mbembeng dan nenurou seperti ibat nasi, ibat juadah, lauk pauk, dan selendang atau kain panjang, kemudian juga ayam . ang sedang berkembang bia. , beras kunyit, dan memban . ilah bamb. Berdasarkan penjelasan informan bahwa . ibat nasi : diartikan sebagai salam pembuka untuk penjemputan pengantin yang akan dibawa ke tempat pernikahan berlangsung. Ibat juadah : merupakan makanan khas masyarakat sumatera selatan khususnya suku melayu yang dimaknai sebagai salam pembuka dan simbol kekelurgaan bahwa Jurnal Publisitas. Vol. No. Oktober 2019 anaknya memang sudah di tunang. Lauk pauk : sebagai pelengkapa makanan poko yanki ibat nasi Kain panjang: digunakan untuk dimaknai sebagi simbol penyatu pengantin yang akan menikah keluarganya sebagai anggota kelurga baru . Beras kunyit: beras merupakan sumber kehidupan atau makanan pokok, dan maknai semoga dalam kehidupan berumah tangganya sumber makanan atau rezeki keduanya akan selalu tercukupi Ayam( berkembang bia. : dimaknai oleh masyarakat sebagai doa kelak dikehidupan rumah tangganya pengantin akan segera memiliki Memban . ang dibakar dan di padamka. : disimbolkan oleh masyarakat sebagai ujung tombak pemadaman sumpah bujang gadis. Dalam prosesi adat pernikahan di Lubuk Nipis terdapat empat tahapan yang memiliki makna simbolik disetiap prosesnya. Adapun makna simbolik yang terkandung dalam adat pernikahan masyarakat Lubuk Nipis hingga prosesi mbembeng dan nenurou adalah sebagai Tahap ke 1 yaitu sebelum pernikahan, adapun makna simbolik yang terkandung dalam tahap ini adalah prosesiprosesi sebagai berikut : Masati Rasan yaitu dimana setelah lakilaki menghaturkan kehendaknya untuk menikah dengan gadis kepada orang tuanya, barulah orang tuanya mulai masati rasan ( pertemuan keluarg. Makna simbolik dari prosesi ini adalaah bahwa sesama manusia haruslah menjunjung rasa kekeluargaan dalam A Selanjutnya proses Nuwouii Rasan berarti kedua belah pihak keluarga sudah sepakat ngeruankan ( memastika. tanggal berapa akan megakad nikahkan anaknya dengan membawa pring sirih, juadah . , ibat nasi . asi di bungkus dengan dau. , serta dengan lauk pauk satu ekor ikan. Piring sirih, juadah, dan ibat nasi disini mempunyai makna sebagai pembuka kata dalam proses Tahap ke 2 yaitu tahap mbembeng dan pelaksanaan pernikahan, adapun makna simbolik yang disampaikan pada prosesi ini : Tahap kedua yaitu tahap mbembeng, sebulan atau beberapa bulan kemudian setelah Nuwoii rasan, keluarga akan ndepatkan ( menjempu. calon pengantin wanita ataupun laki-laki yang akan dirumahnya, sesuai dengan apa saja yang dikerjakan dirumah tempat calon pengantin tinggal dengan membawa pelak ( dodo. dan ibat nasi ( nasi yang dibungkus daun pisan. Makna simbolik yang disampaikan pada prosesi ini bahwaa kedua mempelai telah siap mengikuti segala adat dan kebiasaan dirumah dimana tempat dia akan tinggal dengan suami/istrinya nanti, simbol pelak, dan ibat nasi yakni sebagai pesan pembuka dalam penjemputan mempelai laki-laki/perempuan. Selanjutnya prosesi akad nikah dimana pada hari akad nikah keluarga serta masyarakat bergotong royong untuk menyiapkan pernikahan . elak, ngukus, dan melili. Sesampainya pengantin pernikahan. pengantin disambut dengan pantun atau rejungan dan diselimutu dengan kain oleh neneknya atau si penembang sebagai tanda mereka akan bersatu dalam mengarungi bahtera rumah tangganya, dan telah diterima dalam keluarganya. Makna simbolik dari penyambutan pengantin oleh keluarga dengan kehangatan, dimana pada hari itu juga keluarga besar dan masyarakat berkumpul saling bergotong royong Jurnal Publisitas. Vol. No. Oktober 2019 saling membantu agar acara pernikahan berjalan lancar. Tahap yang ketiga yakni tahap resepsi, adapun makna simbolik yang terkandung dalam prosesi ini yakni : Tahap Resepsi sekaligus Pemadaman sumpah Bujang Gadis( Nenuro. , pada tahap ini, apabila keluarga mengadakan resepsi maka prosesi Nenurou dilakuakan di tempat resepsi ( bawah panggun. tetapi jika tidak ada resepsi pernikahan acara Nenurou dilakukan langsung di depan rumah atau dibawah tangga. Makna dari prosesi Nenurou yakni pemadaman sumpah bujang gadis yang berrti bahwa keduanya sudah memasuki kehidupan yang baru yakni kehidupan rumah tangga masing-masingnya mengikuti tatacara bagaimana perempuan dan laki-laki yang sudah menikah di tempatnya tinggal. prosesi yang terahir yaitu prosesi suapsuapan, pada prosesi inipengantin di suapi bergilir oleh anggota keluarganya dimulai dari orang tua pengantin yang menyelamati pernikahan anaknya sampai dengan anggota keluarga lainya. Makna yang simbolik yang terkandung pada prosesi ini yakni rasa bahagia kedua orang tua dan pengantin serta ini merupakn suapan terahir dari orang tuanya karena selepas ini mereka harus mencari nafkah Tahap yang keempat yakni nyembah antu, dimana pada tahap ini kedua pengantin berziarah kepada leluhur dan anggota keluarga mereka yang telah meninggal dunia dan pada malam harinya akan mebaca yasin dirumah Makna simbolik yang ada pada prosesi ini yakni bahwa pengantin dan keluarga meminta restu kepada anggota keluarga mereka yang sudah meninggal dan tidak lupa juga mereka mengirimkan doa sebagai tanda mereka selalu ingat pada Prosesi adat pernikahan masyarakat Lubuk Nipis tradisi mbembeng dan nenurou selalu dilakukan oleh masyarakat Lubuk Nipis terutama untuk masyarakatnya yang akan mengadakan resepsi meriah, dan adat ini tidak bisa digunakan untuk mereka kawin lari karena mereka sudah menyalahi aturan dan tidak mengikuti jalan baik yang dilakukan oleh nenek moyang dahulu. Secara keseluruhan pada setiap prosesi adat pernikahan masyarakat Lubuk Nipis mengandung banyak makna simbolik yang terdapat didalamnya terutama pada prosesi mbembeng dan nenurou, diantaranya simbol ibatan dan kain panjang pada prosesi mbembeng, kemudian simbol ayam, beras kunyit dan memban yang dibakar pada prosesi nenurou. Dan pada setiap prosesinya diyakini oleh masyarakat Lubuk Nipis mempunyai nilai yang sakral hingga masih digunakan ada saat ini. Kemudian pada tradisi mbembeng tidak terjadinya pergeseran budaya yang berarti kesalahpahaman saja oleh sedikit orang, dikatakan tidak terjadinya pergeseran budaya yang berarti pada tradisi mbembeng karena setiap simbol dan tata caranya masih mengikuti tradisi dari nenek moyang dahulu, serta pergeseran budaya tradisi mbembeng ini dikarenakan modernisasi waktu yang sudah dibuat sedemikian simple dan tidak sulit. Pada waktu pelaksanaan Mbembeng mbembeng . enerima penganti. dan menjemput pengantin dilakukan seminggu sebelum akad nikah, namun sekarang dikarenakan sudah banyak pasangan yang menikah dengan orang jauh maka penerimaan pengantin dilaksanakan pada pengantin sudah sampai tempat akad nikah baru di lakukan tradisi mbembeng( penerimaan penganti. KESIMPULAN Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap perolehan data penelitian dan merujuk pada pertanyaan penelitian maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut: Dari prosesi adat pernikahan Mbembeng dan Nenurou mempunyai makna sebagai ungkapan rasa terimakasih keluarga kepada masyarakat atas kerjasamanya, serta makna mendoakan kehidupan pengantin dan keluarganya agar selalu bahagia dan selalu bersama dalam mengarungi bahtera rumah tangganya. Dalam prosesi adat pernikahan tradisi Mbembeng dan Nenurou yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Lubuk Nipis terdapat empat tahapan yaitu tahap ke 1 atau tahap sebelum pernikahan yang Jurnal Publisitas. Vol. No. Oktober 2019 meliputi dua prosesi yaitu prosesi masati rasan dan nuwoui rasan . Tahap yang ke 2 atau tahap pelaksanaan pernikahan, dalam tahap ini terdapat 2 prosesi yakni prosesi mbembeng dan akad nikah . Tahap yang ketiga yakni tahap resepsi terdapat satu prosesi yakni Nenurou. Dan tahap yang ke 4 yakni tahap nyembah antu Dalam setiap prosesi adat pernikahan tradisi mbembeng dan nenurou itu memiliki makna simbolik yang diyakini oleh masyarakat Lubuk nipis memiliki nilai ritual, baik dari segi perlengkapan, alat-alat yang digunakan, tembangan pengiring atau rejungan, sampai dengan komunikasi nonverbal yang dilakukan. Masyarakat desa Lubuk Nipis tidak meninggalkan kebudayaan yang dimiliki yang merupakan warisan leluhur dan tidak ada pergeseran budaya yang begitu DAFTAR PUSTAKA