Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 6. No 2. Juli 2025 PELAYANAN PASTORAL BAGI SUKU MENANGKI DI TENGAH HARAPAN HIDUP PASCA KONFLIK DI JEMAAT GKI DIASPORA SKOPRO ARSO TIMUR Amelia Waimuri STFT GKI I. S Kijne Jayapura ameliawaimuri5@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk dapat menjawab pertanyaan , bagaimana bentuk pelayanan pastoral terhadap kaum marginal suku Menangki di tengah harapan hidup pascakonflik? Fokus penelitian diarahkan pada peran gereja dalam menggembalakan jemaat marginal yang hidup dalam kondisi trauma, keterbatasan sosial, dan ketidakpastian masa dengan akibat konflik yang mereka alami. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memahami secara mendalam praktik pelayanan pastoral serta dampaknya bagi pemulihan penguatan iman, dan aktualisasi diri kaum marginal dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumen Klasis Kerom dan Jemaat GKI Diaspora Skopro yang melayani jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan pastoral dapat menyentuh aspek spiritual, emosional, sosial dan kultural, sehingga mampu membangun kembali harapan hidup kaum marginal. Pelayanan pastoral tidak hanya menjadi sarana pemulihan spiritual, tetapi juga membuka ruang partisipasi dan pemberdayaan dalam kehidupan sosial. Pembahasan penelitian ini, menekankan pentingnya teologi pastoral yang berpihak pada mereka yang tersisih, serta perang gereja sebagai agen rekonsiliasi dan pengharapan dalam masyarakat pascakonflik. Kata Kunci: Pelayanan Pastoral. Suku Menangki. Pasca konflik. Gereja dan Rekonsiliasi ABSTRACT This research aims to be able to answer the question, how is the form and meaning of pastoral care for the marginalized Menangki tribe in the midst of post-conflict life expectations? The focus of the research is directed at the role of the church in pastoring marginalized congregations who live in conditions of trauma, social limitations, and uncertainty due to the conflict they experienced. The main objective of this research is to deeply understand the practice of pastoral care and its impact on the recovery of faith strengthening, and self-actualization of marginalized people in church and community life. The method used is a qualitative approach with a case study research type. Data were obtained through in-depth interviews, participatory observation, and document study of the Kerom Klasis and the GKI Diaspora Skopro congregation that serves the congregation. The results showed that pastoral care can touch the spiritual, emotional, social and cultural aspects, so as to rebuild the life expectancy of marginalized people. Pastoral care is not only a means of spiritual recovery, but also opens space for participation and empowerment in social life. The discussion of this research emphasizes the importance of pastoral theology that sides with those who are excluded, as well as the war of the church as an agent of reconciliation and hope in post-conflict societies. Keywords: Pastoral Care. Marginalized People. Menangki Tribe. Post-conflict. Church and Reconciliation PENDAHULUAN Wilayah Skopro. Arso Timur, yang dihuni oleh masyarakat Suku Menangki, merupakan bagian dari Wilayah IV Klasis GKI Keerom dan memiliki sejarah panjang sebagai wilayah konflik antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) ,Aysejak tahun 1964-1965 gereja tidak menjalakan tugas Pekabaran Injil di wilayah perbatasan karena wailayah in jadi medan perang politik, masyarakat saat itu mengunsi ke negara PNG distrik Bewani dan Vanimo selama 26 tahun. Ay(Injil, 2. , sejak Daerah Waris Timur adalah daerah DOM ( Daerah operasi milite. sejak dahulu, di kenal sebagai daerah konflik. Arso timur atau waris, di mulai dari daerah kampung Skotiau letak dari AuMarkas VictoriaAy , sedangkan kampung Skopro, adalah daerah tempat pembantaian yang di kenal di kenal dengan Au wilayah BuayaAy, artinya, masuk akan habis, keluar belum tentu semua. Daerah Skopro adalah daerah operasi dan tempat pembantaian akibat konflik antara TNI dan OPM. Tempat-tempat pembantaian masal dikenal dengan sebutan nama yang diberikan para pemimpin OPM. Para pejuang Papua Merdeka saat itu. Markas OPM saat itu ada di daerah suku Mnangki dan sekarang dikenal dengan kampung Skopro. Tempat ini adalah situs pertempuran di sekitar kampung Skopro dan kali serta sungai tempat pembantaian dan membuang mayat. Akibat dari kondisi ini, banyak warga Suku Menangki dan juga suku-suku lain yang ada di Arso harus lari ke Papua Nugini untuk mencari perlindungan dan meninggalkan daerah tempat tinggal mereka menjalani hidup sebagai pengungsi. Menjalani kehidupan sebagai pengungsi dalam suatu pengembaraan yang sangat panjang , selama 26 tahun hidup mengembara karena tidak diberikan hak sebagai warga negara dan dapat menikmati Pekerjaan mereka Bertani, namun di atas tanah bukan milik mereka secara sah. Begitu juga dalam pendidikan, anak-anak mereka sulit mendapat Pendidikan yang layak. Mereka mengalami kehilangan akar budaya serta struktur sosialnya. Hal ini dampak dari kehidupan mereka hari ini. Sebagian besar dari masyarakat masih menggunakan Bahasa Inggris Fiji dalam berkomunikasi sehari-hari. Menurut (Pugu et al. AuPengungsi menghadapi kesulitan beradaptasi, seperti integrasi sosial, mencari pekerjaan, mendukung pendidikan anak-anak, dan masalah tanah. Pemerintah belum memberikan bantuan yang memuaskan selama beberapa tahun pertama setelah pemulangan, oleh karena itu proses reintegrasi menjadi sulit. Ay Pada tahun 1990-1991 dengan masuknya Perusahaan Perkebunan kelapa sawit dibuka di atas tanah adat mereka, maka masyarakat mulai sadar dan kembali ke kampung mereka untuk membangun perkampungan kembali 2004 Ae 2005. Kesadaran mereka untuk kembali ke Indonesia karena masalah ekonomi, kesehatan bahkan pendidikan. Kehidupan yang buruk memaksakan mereka harus kembali ke Indonesia, sebab mereka bukan suku asli dan kehidupan mereka yang tidak menetap dan mengembara, tidak memiliki tanah Orang yang pertama kembali ke Indonesia adalah Yakub Kamar, kepala suku Menangki. Awalnya ia tinggal di kampung Yetti, dengan harapan anak-anaknya bisa mendapat pendidikan. Alasannya, di PNG mereka sulit mendapat pendidikan juga kebutuhan kehidupan rohani. Kemudian Kamar dan keluarga berpindah ke kampung Kriku. akhirnya mereka kembali ke Skopro dan membangun rumah tinggal, kemudian lalu ia memanggil satu persatu saudara dan keluarganya masih tinggal di kampung Sktiau dan yang ada di PNG untuk kembali ke kampung tanah milik mereka. Beberapa saudara yang pertama datang Manasye Kamar adalah adik dari Yakub Kamar, bapak Yosias Krom . , bapak Soleman Krom, serta bapak Samuel Krom. keempat tua-tua kampung masih ada sampai saat ini, dan kerinduan mereka adalah bagaimana kehidupan keluarga mereka mendapatkan kesejahteraan. Karena mereka telah meninggalkan masa sulit dalam waktu yang lama terlibat sebagai anggota gerakan Papua Merdeka, kini mereka ingin mendapatkan kehidupan yang sejahtera baik secara ekonomi, sosial, bahkan pendidikan dan pekerjaan di atas tanah milik mereka sendiri sebagai masyarakat suku asli. Mereka mengalami konteks sejarah yang penuh trauma sekaligus kehidupan masa kini yang terpinggirkan di tanah milik mereka sendiri. Situasi ini membutuhkan pendekatan pelayanan yang khusus agar secara pastoral mereka mengalami hidup yang lebih baik . Pelayanan pastoral menjadi sangat relevan sebagai wujud kepedulian dan pemulihan kehadiran gereja, khususnya bagi kaum marjinal yang selama ini tidak pernah diperlakukan dengan baik. Penelitian ini didasarkan pada beberapa isu yang diangkat oleh GKI Diaspora Skopro yang relevan dengan konteks pembangunan manusia dan yang memperkuat identitas dan cara hidup komunitas Suku Menangki. oleh karena itu, penelitian ini menawarkan kebaharuan dengan mengkaji pelayanan pastoral yang didasarkan pada konteks trauma kolektif, marjinalisasi, dan perkembangan sosial dalam kehidupan Kristen. Pertanyaan utama yang ingin dijawab adalah: Bagaimana bentuk pelayanan pastoral terhadap kaum marginal suku Menangki di tengah harapan hidup pascakonflik? Penelitian ini bertujuan untuk memahami praktik dan dinamika pendampingan pastoral yang dilakukan oleh gereja, serta bagaimana pendampingan tersebut menjadi sarana penguatan iman, pemulihan martabat, dan pemberdayaan sosial umat. Secara khusus, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan teoretis dan praktis bagi pengembangan pelayanan pastoral yang berpihak pada mereka yang tertindas dan terpinggirkan. Penelitian ini dilakukan di wilayah pelayanan jemaat GKI Diaspora Skopro dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif sehingga fokus pada dinamika lokal yang kompleks. Melalui penelitian ini, diharapkan gereja dapat menegaskan kembali identitasnya sebagai agen rekonsiliasi, penyembuhan dan pengharapan di tengah masyarakat yang terluka pascakonflik. METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan menurut (Zaluchu, 2020 hl. AuSalah satu metode dalam pendekatan kualitatif yang digunakan untuk meneliti secara menyeluruh sebuah fenomena dalam konteks kehidupan sehari-hari adalah studi kasus. Ay Teknik pengumpulan data yaitu, wawancara kepada tokoh gereja yaitu pendeta dan majelis jemaat GKI Diaspora Skofro dan tokoh adat, pemudan dan kepala Dengan melakukan observasi Partisipasi bersama jemaat dan masyarakat, serta diskusi dengan mereka yang kembali dari terutama mereka yang pernah mengalami pengungsian dan saat ini sedang dalam proses membangun kehidupan baru. HASIL DAN PEMBAHASAN Akibat konflik antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di wilayah Arso Timur, masyarakat Suku Menangki harus berjuang keras untuk mempertahankan kehidupan mereka yang hidup dan berada di wilayah operasi militer yang dikenal sebagai Auwilayah buayaAy, adalah daerah sekitar kampung Skopro yang penduduknya mengalami kekerasan sistematis, pembantaian massal, dan tekanan psikososial yang meluas, sehingga menyebabkan mereka harus mnnyelamatkan diri dengan mengungsi ke Papua New Guinea (PNG) adalah negara tetangga terdekat, untuk mencari suaka. Kondisi marjinalisasi masyarakat Suku Menangki di (PNG) tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga struktural dan spiritual. Sebagai bangsa lintas batas, status hukum mereka berada dalam ketidakpastian, membuat mereka menjadi kelompok yang tidak memiliki perlindungan hukum yang aman baik dari negara asal maupun negara baru mereka. Karena tidak adanya tindakan hukum, mereka tidak dapat mengakses layanan penting seperti pendidikan formal, perawatan kesehatan, atau bahkan kepemilikan properti yang berfungsi sebagai sumber utama identitas dan fondasi cara hidup masyarakat adat. Dalam waktu yang Panjang, selama 26 tahun, dengan cara hidup pengungsian memiliki dampak transformatif dan terkadang destruktif terhadap struktur sosial dan kehidupan sehari-hari masyarakat Suku Menangki. Pengalaman hidup di luar tanah leluhur, terutama dalam konteks keterasingan di Papua New Guinea, mempengaruhi simbol-simbol lain yang dulunya digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi diri sebagai sebuah kelompok Masyarakat adat dari sisi bahasa dan budaya, kini mereka mengalami kehilangan bahasa dan adat, komunitas ini mengalami disintegrasi sosial dan berpencar tanpa struktur komunitas yang utuh dan pola hidup mereka tercerai-berai. Ketika masyarakat tercerabut dari tanah, bahasa, dan hubungan sosial yang membentuk identitas mereka, mereka secara teologis berada dalam kondisi kehidupan di pengasingan telah menciptakan krisis makna, arah, dan harapan. Kepulangan ke tanah air merupakan faktor eskatologis yang signifikan bagi komunitas Suku Menangki, tidak hanya sebagai refleksi sosial-politik tetapi juga sebagai sumber identitas dan iman kolektif. Setelah beberapa tahun hidup di tanah asing sebagai pengungsi tanpa tanah, pendidikan, dan adat yang jelas, mereka kembali ke tanah leluhur di Skopro, mengucapkan selamat tinggal pada bahaya yang baru dan spesifik. Inilah pengakuan dari bapak Yakob Kamar bawa, kerinduan mereka adalah kehidupan keluarga mereka mendapatkan kesejahteraan. Karena mereka telah meninggalkan masa sulit dalam waktu yang lama, kini mereka ingin mendapatkan kehidupan yang sejahtera baik secara ekonomi, sosial, bahkan pendidikan dan pekerjaan di atas tanah milik mereka sendiri sebagai masyarakat suku asli. Inisiatif ini tidak datang dari intervensi eksternal, melainkan dari kesadaran internal dan kerinduan spiritual komunitas itu sendiri, yang dipelopori oleh para tokoh adat seperti bapak Yakub Kamar, bapak Manasye Kamar, bapak Yosias Krom . , bapak Soleman Krom, dan bapak Samuel Krom. Mereka menjadi pionir gerakan kembalinya komunitas Suku Menangki ke Indonesia secara sukarela pada awal tahun 1990-an. Dorongan kepulangan ini bertolak dari informasi tentang dibukanya lahan perkebunan kelapa sawit oleh pemerintah di Arso Timur, yang memberikan harapan baru bagi pemulihan ekonomi dan keberlanjutan hidup di tanah sendiri. Tanah leluhur bukanlah sebuah batas geografis, melainkan sebuah tempat di mana nilai-nilai seperti spiritualitas, adat, dan kehidupan dapat diapresiasi dan dihargai. Oleh karena itu, kembalinya mereka ke Skopro tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan teologis: menegaskan kembali cara hidup sebelumnya, membangun rumah dan komunitas baru sebagai tanda keimanan, dan menegaskan kembali martabat sebagai umat Allah yang memiliki tempat dan masa depan. Dalam konteks ini, inisiatif para tokoh adat merupakan pernyataan yang jelas tentang harapan dan ketangguhan yang muncul dari bawah, dan menjadi landasan bagi rekonstruksi sosial, agama, dan spiritual di kampung Skopro. Poin-poin di atas menyoroti kompleksitas cara hidup Suku Menangki dalam situasi konflik, penggembaraan panjang, dan kembalinya mereka ke tanah air. Namun, di luar ranah narasi penderitaan dan pemulangan, hal ini juga mencakup dimensi pastoral dan teologis yang relevan. Oleh karena itu, bagian berikut ini akan membahas bagaimana kemunculan kepulangan dari kolektif masyarakat-khususnya tokoh adat-dapat dipahami sebagai sebuah tindakan transformatif pastoral. Krisis Harapan Tampah Identitas Pengalaman pengungsian masyarakat Suku Menangki selama lebih dari dua dekade di Papua New Guinea merupakan peristiwa yang bukan hanya bersifat geopolitik, tetapi juga merupakan krisis pastoral yang mendalam, menurut (Tiba et al. , 2025, hlm. AuGereja mengalami krisis dalam kapasitas pastoral karena kegagalan sumber daya manusia, keuangan, dan intelektual yang menghambat dalam memahami masalah migrasi dan pengungsi. Ay Sehingga sangat penting memahami dan mengenal identitas, harapan dan makna hidup dari komunitas marginal dalam pelayanan pastoral. Dari perspektif teologi pastoral, keterasingan ini menggambarkan sebuah Aukrisis eksistensialAy di mana orang mengalami litan karena struktur agama, spiritual, dan sosial yang pada gilirannya memengaruhi kemampuan mereka untuk berfungsi sebagai komunitas adat dan iman. Seperti yang dinyatakan dalam pendekatan konseling pastoral. Auadalah sebuah pendekatan yang menggabungkan prinsip-prinsip agama dan spiritual dengan teknik konseling untuk membantu orang bertumbuh, belajar, dan berkembang, serta membantu mereka mengatasi berbagai tantangan. (Sapoh. Awalo. Baraa, 2024. Sejak perjalanan Panjang masa penggembaraan mereka di tempat pengungsian, mereka telah banyak mengalami luka batin karena mengalami banyak kehilangan. Mereka mempunyai tanah leluhur yang sangat luas di Indonesia, namun hidup sebagai pengungsi di PNG, mereka tidak mempunya hak ulayat untuk memiliki tanah, untuk bercocok tanah, tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dalam bahasa Ibu dari suku Menangki, bahkan kehidupan masa depan anak cucu tidak Berdasarkan wawancara peneliti, mereka mengungkapkan bahwa meskipun secara fisik masih hidup, namun secara batin mereka merasa tidak lagi mengenal jati diri mereka sendiri, menggambarkan diri mereka seperti "orang asing", yang hidup di tengah komunitas tetapi kehilangan pegangan budaya dan identitas asli sebagai orang Menangki. Temuan ini menegaskan bahwa selama masa pengungsian, terjadi keretakan spiritual dan kekosongan identitas, semua ini berdampak pada hilangnya harapan secara kolektif dalam suatu Hal ini terdengar dari ungkapan perasaan yang di sampaikan oleh mereka yang mengalami langsung hidup dalam masa pengungsian, mereka merasa terjebak dalam ketidakpastian hukum, dan menjadi Aumanusia tanpa negaraAy, ini sesuatu yang sangat menyedihkan. Menurut. (Ballentyne et al. AuPersepsi masyarakat tentang Aumanusia tanpa negaraAy dipengaruhi oleh stigma pengungsi. Kondisi ketidakpastian hukum dan status menjelaskan bagaimana identitas kolektif menjadi rapuh. Ay Ada banyak terjadi ketimpangan structural sehingga hidup sebagai pengungsi tampa status yang tepat dan diakui. MenurutA(Maier et al. , 2. Aupentingnya kebutuhan spiritual dan mekanisme koping religius dalam membina kesehatan mental. Dalam konteks spiritualitas dan identitas, hasil penelitian ini mendukung gagasan bahwa spiritualitas dapat bertindak sebagai mediator harapan kolektif. Ay Secara teologis, kondisi ini dapat dipahami sebagai cara hidup Audi padang gurunAy, sebuah metafora yang digunakan dalam Alkitab untuk menggambarkan masa-masa krisis dan kehilangan arah yang bersifat sementara, tetapi juga masa-masa iman dan kebergantungan terhadap kehendak Allah. Situasi Aupadang gurunAy ini mengindikasikan bahwa pengasingan bukan hanya hambatan terhadap waktu, tetapi juga terhadap orientasi hidup. Ay (Guerra, 2. Jurnal ini menjelaskan bagaimana pengalaman migran memungkinkan rekonstruksi spiritual dan identitas melalui konteks transnasional. Hal ini menggambarkan bagaimana padang gurun spiritual memungkinkan pengembangan iman dan bergantung pada kekuatan transendental. Ay. ada kekuatan untuk bangkit kembali dari keadaan yang sulit untuk membangun pengharapan hidup, ini terjadi lewat para pemimpin komunitas dari suku Menangki yang mau pulang kembali untuk membangun kehidupan mereka dan anak cucu di tanah milik mereka. Au(Klaasen, 2. menyatakan bahwa komunitas iman ( peziara. berperan penting dalam memberi identitas kembali bagi migran-mengubah AoasingAo menjadi Aotuan rumaAo. Ay Tantangan yang dihadapi oleh komunitas Suku Menangki lebih dari sekedar masalah geografis, tetapi juga mencakup spiritualitas dan eksistensi komunitas. Dalam tatanan pastoral, peristiwa ini mengindikasikan terjadinya krisis identitas dan harapan kehampaan, yang harus dibicarakan sebagai sebuah luka spiritual kolektif. Untuk itu, gereja haru memiliki aksi pastoral yang peka terhadap realitas dan trauma sejarah menjadi sangat penting. AuKrisis identitas yang dialami individu dapat mengganggu keseimbangan spiritual dan mentalnya, dan dalam konteks ini, konseling pastoral memegang peranan penting sebagai bentuk pelayanan yang tidak hanya menawarkan dukungan emosional, tetapi juga menuntun pemulihan makna dan identitas yang hilang akibat krisis tersebutAy (Taruh et al. , 2025,hlm. Dalam konteks komunitas Menangki, pendekatan ini menuntut gereja untuk tidak hanya hadir sebagai institusi pengajaran, tetapi juga sebagai komunitas yang mengakui dan mendampingi proses pemulihan identitas yang retak akibat keterasingan budaya dan kehilangan orientasi hidup. Selanjutnya, (Emiliana Javanika Abid Oko et al. , 2. Perawatan pastoral selalu mengintegrasikan kepekaan agama dan ikatan spiritual dan psikologis, penting dalam menangani trauma dan membangun kembali rehabilitasi korban yang holistik dan sehat. Ay Hal ini relevan dengan konteks Menangki, karena proses pendampingan tidak hanya bersifat spiritual tetapi juga mencakup aspek sosial, sejarah, dan politik. Untuk membantu masyarakat memahami diri mereka sendiri sebagai suku Menangki, gereja harus aktif. Hal ini tidak terbatas pada ritus gerejawi, tetapi juga mencakup kehidupan sehari-hari, bahasa, dan struktur Masyarakat adat. Dalam konteks pastoral lintas budaya, proses ingatan dan konflik dalam kehidupan sehari-hari dilakukan dengan memeriksa identitas dan pengalaman unik setiap individu atau kelompok. AuKarena adanya konflik antara agama dan budaya, pengembangan ingatan melalui karya pastoral antar budaya dan antar agama menciptakan peluang baru untuk hidup berdampingan secara damai dan harmonis, di mana hidup berdampingan tidak hanya dihargai tetapi juga dievaluasi dengan cara yang relevan dengan tujuan Masyarakat. Ay (Natar, 2020,hlm. Dalam konteks suku Menangki, hal ini menjadi dorongan bagi gereja untuk menciptakan ruang bagi perayaan lokal sebagai bagian dari pelayanan pastoral. Sebagai bagian dari narasi pemulihan kolektif, spiritualitas Menangki yang terpinggirkan saat ini perlu ditinjau kembali. Secara teologis, pengalaman pengasingan juga dapat dipahami melalui metafora Aupadang gurunAy yang ditemukan kisah Alkitab. Padang gurun tidak hanya merupakan tempat keterasingan dan arah kehilangan, tetapi juga tempat di mana Allah membangun kembali hubungan dengan umat-Nya . Kel. Oleh karena itu, krisis yang dialami oleh masyarakat Menangki dapat dilihat sebagai sebuah jenis Aupadang gurun pastoralAy yang memberikan dukungan bagi proses pengembangan iman, rekonsiliasi sejarah, dan harapan pemulihan. Dengan menempatkan semua ini dalam perspektif, dapat dikatakan bahwa tanggapan pastoral dari masyarakat Menangki adalah empati, kontekstual, dan Gereja menjadi agen perubahan bagi identitas dan penyembuhan melalui kegiatankegiatan yang tidak hanya bersifat liturgis tetapi juga transformatif. Seperti yang dinyatakan dalam salah satu pernyataan berikut: AuKami ingin gereja tidak hanya memberikan kotbah, tetapi juga membantu kami kembali menjadi orang yang MenangkiAy adalah sebuah pernyataan yang menyoroti pentingnya ketahanan identitas sebagai komponen misi pastoral kontemporer dalam komunitas yang Kepulangan sebagai Proses Pemulihan dari Krisis Indentitas Kembalinya Suku Menangki menuju tanah leluhur di kampung Skopro, bukan hanya sebagai sebuah perjalanan fisik dari bangsa PNG ke Indonesia. Proses ini merupakan perjalanan spiritual yang bersifat eskatologis dan pastoral. Pemulihan martabat, identitas, dan iman komunitas yang selama bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian sebagai pengungsi di wilayah Papua New Guinea. Bagi masyarakat Menangki, tanah Skopro bukan hanya sebidang tanah, tetapi juga tempat di mana mereka dapat kembali mengingat diri mereka sebagai orang-orang yang dikasihi Allah. Hasil pelayanan pastoral di lapangan menunjukkan bahwa narasi kepulangan ini disebabkan oleh kerinduan spiritual yang mendalam. Dalam kata-kata seorang tokoh adat yang ikut serta dalam pemulangan tahap pertama pada tahun 2004-2005. Auhidup sebagai pengungsi membuat kami lupa siapa diri kami, tetapi ketika kami menginjakkan kaki di Skopro, kami seperti dilahirkan kembali. Ay Pernyataan ini menggambarkan dimensi eskatologis dari kepulangan: tidak hanya sekedar pulang ke rumah, tetapi juga mengalami fase kehidupan baru yang ditandai dengan harapan dan kekaguman kepada Allah dalam kehidupan seharihari. Lebih lanjut, data dari observasi partisipatif menunjukkan bahwa setibanya di Skopro, keempat tua-tua adat dari Suku Menangki segera membangun kembali rumah tinggal dan memanggil keluarga mereka yang masi berada di PNG untuk segera Kembali, mereka membangun Kembali kampung Skopro dan juga membangun gereja sebagai tempat beribadah Bersama. (April et al. ,2. Aymenyoroti bagaimana kekerasan, kehilangan identitas, dan kecemasan yang berkelanjutan membentuk narasi komunitas mereka. Studi ini menunjukkan trauma yang diturunkan dari generasi ke generasi dan bagaimana ritual komunal membantu membangun kembali identitas. Ini juga menghubungkan paparan trauma secara langsung dengan seberapa erat komunitas tetap terjalin. Ay Ini adalah bentuk konkret dari proses reintegrasi spiritual yang merupakan bagian integral dari pendidikan pastoral. Proses reintegrasi spiritual sebagai salah satu komponen pendidikan pastoral merupakan metode yang mengintegrasikan dimensi spiritual dan psikologis untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan individu secara Dalam konteks pendidikan pastoral, reintegrasi spiritual bertujuan untuk membantu individu, seperti anggota binaan atau komunitas yang mengalami trauma, dalam menemukan kekuatan, kelemahan, dan potensi diri melalui pendampingan rohani, membentuk komunitas yang memperkuat resiliensi, karena AuPelayanan pastoral holistik yang diberikan gereja dapat memperkuat iman, menyediakan lingkungan yang aman bagi semua orang, dan mendukung perkembangan spiritual dan moral individu atau kelompok yang dilayani. Ay(Lukas, 2024, hlm. Selain itu, dimensi pastoral dalam proses kepulangan ini tampak melalui keterlibatan gereja lokal yaitu Gereja Kristen Injili di tanah Papua, khususnya Klasis GKI Keerom, selalu memberikan perhatian khusus bagi jemaat-jemaat yang berada di sekitar pelayanan Arso Timur sebagai daerah wilayah Pekabaran Injil bagi Masyarakat suku asli. Salah satu adalah suku Menangki berasal dari kampung Skopro. Salah satu yang menjadi perhatian gereja dalam laporan hasil studi kelayakan oleh Tim. 17 dari Bakal Klasis Keerom februari 2017 yang menyatakan. Aukonseling pastoral terhadap masa lalu jemaat dalam hubungan dengannya dengan stabilitas wilayah perbatasan dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) juga belum mendapatkan pendampingan yang serius. Ay(XIIV, 2017, hlm. Teologi pastoral bukan hanya tentang bagaimana manusia menjalani hidup mereka di masa kini, tetapi juga tentang bagaimana manusia dibawa kepada tujuan penebusan Allah yang dinyatakan dalam kitab Kristus. Ausebab penebusan yang dikerjakan Kristus tidak hanya memulihkan relasi manusia dengan Allah, tetapi juga mengarahkan seluruh ciptaan kepada rekonsiliasi dan pemulihan eskatologis, di mana manusia dipanggil menjadi agen Kerajaan Allah untuk menghadirkan damai bagi semua Ay. Migrasi komunitas Menangki dari Papua Nugini ke Skopro bukan sekadar eksperimen sosial atau Namun, hal ini mengandung argumen teologis yang menarik yang menyoroti peran karya Allah di dunia. Kepulangan ini dapat dimaknai sebagai sebuah tindakan iman kolektif yang merefleksikan gerakan Allah untuk memulihkan martabat dan identitas umat-Nya di tengah-tengah dunia yang terpecah belah, menurut teologi pastoral. Ada tiga kebenaran yang dapat kita temui di sini. Pertama. kembalinya mereka sebagai AutandaAy bahwa Tuhan masih bekerja di dunia, bahkan mungkin dalam kesulitan dan pengasingan. Para pemimpin suku Menangki tampil sebagai agen pastoral yang membangkitkan harapan dan menggerakkan Masyarakatnya menuju pemulihan. Pilihan untuk tidak melakukan pemaksaan dari luar menandakan bahwa mereka telah menangkap kehendak Tuhan dalam sejarah hidup mereka, ini sebuah bentuk kearifan kolektif yang profesional. Kedua. Pembangunan rumah dan kampung serta rumah ibadah di atas tanah milik mereka, telah menjadi simbol eskatologis yang menunjukkan era baru. Menurut eskatologi Kristen, istilah Aumasa depanAy tidak merujuk pada akhir zaman, melainkan manifestasi Allah dalam periode waktu tertentu. Tindakan membani kembali rumah dan buatah adalah pernyataan iman bahwa Allah tidak meninggalkan umat-Nya dalam reruntuhan sejarah, tetapi hadir untuk membentuk kembali komunitas sebagai tanda Kerajaan Allah yang dimulai di bumi. Ketiga. pendidikan pastoral dalam bentuk reintegrasi spiritual menciptakan ruang bagi identitas baru yang tidak terbatas pada rasa sakit dan kesulitan, yang mencakup kasih, penerimaan, dan harapan. Ini adalah proses pengembangan keluarga yang penuh kasih dan memperkuat keyakinan diri seseorang sebagai seorang yang bertuhan. Pendidikan ini bersifat eksistensial, bukan hanya kognitif, dengan maksud menghidupkan kembali makna mengikuti Kristus, umat ditebus dan dipanggil untuk hidup dalam pengharapan dan solidaritas. Oleh karena itu, setiap langkah dalam perjalanan ini harus dilihat bukan hanya sebagai kembalinya tubuh ke tanah kematian, tetapi juga sebagai kembalinya tubuh manusia kepada narasi ilahi tentang mengapa mereka sebenarnya berada di hadirat Allah. Dalam konteks ini, teologi pastoral berfungsi sebagai jembatan antara luka yang teringat dan keselamatan janji, serta antara kehilangan identitas dan pemahaman yang baru. Dalam kisah tersebut. Gereja disebut sebagai pelayan penyembuhan dan pemulihan, yang membantu suku Menangki tidak hanya membangun kembali kampung mereka secara fisik, tetapi juga mengekspresikan rasa memiliki yang kuat sebagai sebuah komunitas yang didukung dan dipelihara oleh Kristus. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa konflik antara TNI dan OPM telah mengakibatkan dampak negatif terhadap kehidupan sosial, spiritual, dan identitas masyarakat Suku Menangki. Selama lebih dari dua dekade menjadi warga Papua Nugini, mereka telah mengalami pergolakan total dalam bahasa, budaya, dan sistem sosial mereka. Masalah ini bukan hanya krisis manusia, tetapi juga krisis pastoral yang mempengaruhi kesejahteraan dan kesejahteraan komunitas. Selama periode ini, struktur identitas mereka lemah, gaya hidup mereka tidak menentu, dan eksistensi spiritual mereka terpengaruh. Sebagai lembaga pastoral. Gereja dibutuhkan tidak hanya sebagai guru iman tetapi juga sebagai pendamping yang kontekstual dan partisipatif dalam membangun kembali identitas dan spiritualitas masyarakat pinggiran ini. Kembalinya orang Menangki ke rumah leluhur mereka di Skopro menyerupai peristiwa eskatologis yang menandai kebangkitan identitas kolektif, pemulihan martabat sebagai umat Tuhan, awal pembangunan komunitas dalam pengharapan, iman dan adat. Ideologi ini merupakan hasil dari kesadaran spiritual internal dan kepemimpinan tokoh-tokoh dengan visi transformatif. Proses ini menunjukkan bahwa perkembangan pastoral tidak hanya terjadi dalam lingkungan liturgis tetapi juga dalam proses sosial dan sekuler yang membantu orang kembali ke tempat mereka masing-masing di dunia sebagai manusia seutuhnya. Oleh karena itu, pelayanan pastoral harus diimplementasikan untuk mengatasi kompleksitas trauma masa kanak-kanak, disintegrasi sosial, dan apatisme spiritual dengan menciptakan ruang komunitas yang aman, sehat, dan suportif untuk membangun kembali masa lalu. DAFTAR PUSTAKA