JURNAL RADIOGRAFER INDONESIA e-ISSN 2807-7415, p-ISSN 2620-9950 Prosedur Pemeriksaan Retrograde Urethrography pada Pasien Post Internal Urethrotomy Aditya Pratama Putra1 ADepartment of Radiodiagnostic and Radiotherapy Techniques. Poltekkes Kemenkes Semarang. Indonesia Corresponding author: Aditya Pratama Putra Email: adityapratamaputra2004@gmail. ABSTRACT Background: Retrograde urethrography (RUG) is a key imaging technique in the evaluation of urethral strictures, especially after internal urethrotomy. Although standard practice uses plain radiograph AP and RPO post-contrast projection, an additional AP post-contrast projection is applied at RSUD Dr. Adhyatma. MPH Central Java Province. This study aimed to describe the RUG procedure in post-internal urethrotomy patients and the rationale for using the AP post-contrast projection. Methods: This qualitative case study involved interviews with radiographers and radiologists, field observations, documentation, and literature review. Data were analyzed descriptively. Results: The RUG procedure in post-internal urethrotomy patients at RSUD Dr. Adhyatma. MPH uses three projections. AP plain. AP post-contrast, and RPO post-contrast. Conclusions: The addition of the AP post-contrast projection aids in differentiating air from true strictures by enhancing the accuracy of filling defect interpretation when combined with the RPO projection. Keywords : Retrograde urethrography. Internal urethrotomy. Anteroposterior (AP) post contrast Pendahuluan Uretra merupakan saluran muskulomembran yang sempit dengan jenis otot sfringter di bagian leher kandung kemih dan berfungsi untuk mengeluarkan urine (Long et al. , 2. Uretra pria membentang dari kandung kemih hingga ujung penis dan terbagi menjadi pars prostatica, pars membranecea, dan pars spongiosa (Long et al. Rata-rata uretra pria memiliki panjang 18 hingga 20 cm dan memiliki dua fungsi. mengeluarkan urin dan sebagai saluran air mani, serta dibagi menjadi bagian anterior dan posterior (Pavlica et al. , 2. (Kim et al. , 2. Indikasi dari pemeriksaan retrograde urethrography meliputi striktur uretra, trauma, infeksi, dan tumor (Kawashima et al. , 2. Namun, patologi paling umum yang terjadi pada uretra yaitu striktur uretra. Striktur uretra terjadi ketika lumen pada uretra mengalami striktur atau penyempitan karena adanya jaringan parut sehingga menyebabkan terjadinya obstruksi sistem urinaria bagian bawah (Singgih, 2. Salah satu prosedur penanganan striktur uretra yang paling umum dilakukan yaitu internal Pada prosedur internal urethrotomy ini, dilakukan penyayatan pada jaringan yang meradang untuk membuka striktur (Singgih, 2. Sebelum melakukan prosedur, dokter akan meminta pengambilan citra retrograde urethrography. Retrograde urethrography merupakan pemeriksaan radiologi yang bertujuan untuk melihat uretra lakilaki secara menyeluruh menggunakan media kontras (Lampignano & Kendrick, 2. Selama prosedur retrograde urethrography, media kontras diinjeksikan secara retrograde melalui meatus uretra eksternal untuk memperjelas lumen uretra (Ayoob et al. , 2. Setelah itu, akan dilakukan foto uretrogram kembali pasca internal urethrotomy untuk evaluasi. Uretrogram pasca tindakan operasi ini dapat mengevaluasi kebocoran pasca operasi dan penyempitan yang berulang pada uretra (Ayoob et , 2. Sebelum pemeriksaan dimulai, radiografer harus meminta persetujuan tertulis dari pasien dan menjelaskan prosedur dalam bentuk informed consent (Harrison et al. , 2. Menurut Lampignano & Kendrick . , prosedur pemeriksaan retrograde urethrography tidak memerlukan persiapan pasien khusus, hanya memastikan bahwa tidak ada benda yang berpotensi menimbulkan artefak pada radiograf. Media kontras yang digunakan yaitu iodine water soluble (Maciejewski & Rourke, 2. Penggunaan media kontras water soluble ini dinilai lebih aman dibanding menggunakan media kontras barium sulfat untuk meminimalisir risiko apabila pasien JURNAL RADIOGRAFER INDONESIA e-ISSN 2807-7415, p-ISSN 2620-9950 terdapat fistula dan juga apabila pasien terdapat reaksi hipersensitivitas akibat bahan aditif yang terdapat dalam barium sulfat (Speck, 2. Sebelum pemasukan media kontras, penis diberikan pelumas lidokain sebagai anestesi lokal dan kenyamanan pasien (Harrison et al. , 2. Setelah itu, dilakukan pemasukan media kontras secara retrograde menggunakan brodney clamp atau kateter khusus yang dipasang pada bagian penis distal (Lampignano & Kendrick, 2. Disarankan menggunakan media kontras water soluble dengan konsentrasi 18% dan diinjeksikan secara perlahan ke dalam uretra (Hota et al. , 2. Namun, pemilihan konsentrasi media kontras menyesuaikan kebijakan dokter radiologi yang akan memeriksa (Elsingergy et al. , 2. Proyeksi yang digunakan dalam pemeriksaan retrograde urethrography menurut Lampignano & Kendrick . , yaitu foto polos pelvis Anteroposterior (AP) dan Right Posterior Oblique (RPO) post contrast. Posisi pasien pada saat pemeriksaan merupakan hal yang penting. Pada posisi RPO, pasien harus dalam keadaan miring 3545 derajat dengan penis diletakkan di bidang yang berorientasi lateral di atas femur proksimal dan dilanjutkan dengan sterilisasi meatus uretra dengan iodine (Hota et al. , 2. Pemosisian ini bertujuan agar uretra bulbar tervisualisasi dengan jelas. Posisi RPO yang tepat . rue RPO) dapat dilihat dari foramen obturatorium kanan yang tertutup (Maciejewski & Rourke, 2. Prosedur urethrography pada pasien post internal urethrotomy di Instalasi Radiologi RSUD dr. Adhyatma. MPH Provinsi Jawa Tengah menggunakan media kontras water soluble non ionic yang dimasukkan secara retrograde melalui distal penis. Proyeksi yang digunakan, yaitu foto polos pelvis Anteroposterior (AP). Anteroposterior (AP) post contrast, dan Right Posterior Oblique (RPO) post contrast. Pada teori yang disampaikan oleh Lampignano & Kendrick . , tidak terdapat proyeksi AP post contrast sebagaimana yang dilakukan di Instalasi Radiologi RSUD dr. Adhyatma. MPH Provinsi Jawa Tengah, melainkan hanya proyeksi RPO post contrast. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengetahui dan mengkaji lebih lanjut mengenai prosedur pemeriksaan retrograde urethrography pada pasien post internal urethrotomy serta alasan penggunaan proyeksi AP post contrast. Metode Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendeketan studi kasus. Waktu penelitian ini pada bulan Mei - Juni 2024. Subjek penelitian ini yaitu pemeriksaan retrograde urethrography pada pasien post internal urethrotomy di Instalasi Radiologi RSUD dr. Adhyatma. MPH Provinsi Jawa Tengah. Adapun responden dalam penelitian ini yaitu Radiografer dan Radiolog. Metode akumulasi data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, dan studi Proses analisis data dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data. Hasil dan Pembahasan Prosedur Pemeriksaan Retrograde urethrography pada Pasien post internal urethrotomy di Instalasi Radiologi RSUD dr. Adhyatma. MPH Provinsi Jawa Tengah Berdasarkan pemeriksaan retrograde urethrography pada pasien post internal urethrotomy di Instalasi Radiologi RSUD dr. Adhyatma. MPH Provinsi Jawa Tengah didapatkan data sebagai berikut. Tabel 1. Deskripsi Data Pasien Uraian Pasien Nama Tn. Umur 41 Tahun Tanggal Diagnosis Striktur uretra . ost internal urethrotom. Jenis Pemeriksaan Retrograde Prosedur urethrography pada pasien post internal urethrotomy di Instalasi Radiologi RSUD dr. Adhyatma. MPH Provinsi Jawa Tengah meliputi persiapan pasien, persiapan alat dan bahan, persiapan media kontras, dan teknik Persiapan pasien yang dilakukan di Instalasi Radiologi RSUD dr. Adhyatma. MPH Provinsi Jawa Tengah diawali dengan mengidentifikasi pasien ketika datang ke ruang pemeriksaan dilanjutkan dengan melakukan informed consent kepada pasien dan pasien diminta menandatangani informed consent Setelah itu. Radiografer meminta pasien untuk mengganti baju pemeriksaan dan melepas pakaian bagian bawah dan barang62 JURNAL RADIOGRAFER INDONESIA e-ISSN 2807-7415, p-ISSN 2620-9950 barang yang berpotensi menjadi artefak. Radiografer kemudian memastikan kembali agar tidak ada benda-benda di sekitar organ yang diperiksa . ekitar pelvis dan peni. Menurut peneliti, pesiapan pasien yang dilakukan di Instalasi Radiologi RSUD dr. Adhyatma. MPH Provinsi Jawa Tengah sudah sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Lampignano & Kendrick, . yaitu tidak memerlukan persiapan pasien khusus, hanya memastikan bahwa tidak ada benda yang berpotensi menimbulkan artefak pada radiograf. Persiapan alat dan bahan yang digunakan dalam pemeriksaan retrograde urethrography pada pasien post internal urethrotomy Instalasi Radiologi RSUD dr. Adhyatma. MPH Provinsi Jawa Tengah meliputi pesawat sinar-X dengan merk Siemens, image receptor berupa kaset DR, spuit 20 cc, abbocath 18G, gel, media kontras water soluble . , larutan NaCl, handscoon, mangkuk, dan tisu. Hal ini sudah sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Lampignano & Kendrick, . Media kontras yang digunakan pada pemeriksaan retrograde urethrography pada pasien post internal urethrotomy menggunakan media kontras water soluble non ionic yaitu merk iohexol dengan konsentrasi 300 mg I/ml yang dicampur dengan larutan NaCl dengan total volume yaitu 20 cc. Peneliti menyimpulkan bahwa persiapan media kontras dalam pemeriksaan ini sudah sesuai dengan teori Lampignano & Kendrick, . Teknik urethrography pada pasien post internal urethrotomy di Instalasi Radiologi RSUD dr. Adhyatma. MPH Provinsi Jawa Tengah dilakukan dengan menggunakan tiga proyeksi, yaitu foto polos pelvis Anteroposterior (AP). Anteroposterior (AP) post contrast, dan Right Posterior Oblique (RPO) post contrast. Pada proyeksi AP, baik foto polos maupun post contrast, pasien supine di atas meja pemeriksaan. MSP tegak lurus, batas atas kaset krista iliaka, central ray vertikal tegak lurus, central point pada pertengahan symphisis pubis, dan FFD 100 cm. Sedangkan pada proyeksi RPO post contrast, pasien supine dengan daerah panggul diatur miring kira-kira 35 derajat ke kanan, batas atas kaset krista iliaka, central ray vertikal tegak lurus, central point pada pertengahan symphisis pubis, dan FFD 100 cm. Secara ringkas, setelah dilakukan foto polos, media kontras selanjutnya diinjeksikan melalui abbocath yang telah diberi gel dan terpasang di spuit yang kemudian dimasukan ke dalam uretra distal. Setelah itu dimasukan media kontras water soluble . sebanyak 20 cc secara berkala, dimulai dengan 15 cc untuk proyeksi AP post contrast kemudian Lalu 5 cc lagi untuk proyeksi RPO post contrast kemudian dieksposi kembali. Gambar 1. Radiograf proyeksi AP Polos. Gambar 2. Radiograf proyeksi AP post Gambar 3. Radiograf proyeksi RPO post Alasan Penggunaan Proyeksi AP post contrast dalam Pemeriksaan Retrograde urethrography pada Pasien post Internal Urethrotomy Prosedur urethrography pada pasien post internal JURNAL RADIOGRAFER INDONESIA e-ISSN 2807-7415, p-ISSN 2620-9950 urethrotomy di Instalasi Radiologi RSUD dr. Adhyatma. MPH Provinsi Jawa Tengah terdapat perbedaan dengan teori yang disampaikan Lampignano & Kendrick, . pada proyeksi yang digunakan. Pada teori, tidak terdapat proyeksi AP post contrast sebagaimana yang dilakukan di Instalasi Radiologi RSUD dr. Adhyatma. MPH Provinsi Jawa Tengah, melainkan hanya proyeksi RPO post contrast. Menurut wawancara mendalam dengan Radiolog, penggunaan kombinasi dari proyeksi AP post contrast dan RPO post contrast dapat membantu dokter dalam mengidentifikasi perbedaan filling defect apabila terdapat udara dalam uretra yang dapat disangka striktur. Hal inilah yang membuat kombinasi dari proyeksi AP dan RPO akan lebih informatif dan akurat dalam diagnosis kelainan. Kemudian untuk proyeksi lainnya, proyeksi AP Polos digunakan untuk menampakkan gambaran umum dari rongga pelvis termasuk uretra . Sedangkan proyeksi RPO post contrast digunakan untuk menampakkan keadaan anatomi uretra dan vesica urinaria agar tidak superpoisisi dengan symphisis pubis serta untuk mengetahui panjang uretra yang terisi media Dalam proyeksi RPO post contrast ini, gambaran uretra akan terlihat lebih panjang. Peneliti sependapat dengan penambahan proyeksi AP post contrast yang dikombinasikan dengan RPO post contrast karena akan lebih informatif sehingga Radiolog akan lebih tepat dalam mendiagnosis suatu penyakit. Kesimpulan Prosedur urethrography pada pasien post internal urethrotomy di Instalasi Radiologi RSUD dr. Adhyatma. MPH Provinsi Jawa Tengah tidak memerlukan persiapan pasien khusus, hanya memastikan bahwa tidak ada benda yang berpotensi menimbulkan artefak pada radiograf dan juga pemberian informed consent. Persiapan alat dan bahan yang digunakan yaitu pesawat sinar-X, image receptor berupa kaset DR, spuit 20 cc, abbocath 18G, gel, media kontras water soluble . , larutan NaCl, handscoon, mangkuk, dan tisu. Media kontras yang digunakan adalah iodine merk iohexol dengan konsentrasi 300 mg I/ml yang dicampur dengan larutan NaCl dengan total volume yaitu 20 Proyeksi yang digunakan yaitu foto polos pelvis Anteroposterior (AP). Anteroposterior (AP) post contrast, dan Right Posterior Oblique (RPO) post Alasan penggunaan proyeksi AP post urethrography pada pasien post internal urethrotomy di Instalasi Radiologi RSUD dr. Adhyatma. MPH Provinsi Jawa Tengah karena penggunaan kombinasi dari proyeksi AP post contrast dan RPO post contrast dapat membantu dokter dalam mengidentifikasi perbedaan filling defect apabila terdapat udara dalam uretra yang dapat disangka striktur sehingga akan lebih informatif dan akurat dalam diagnosis kelainan. Daftar Pustaka