Paradigma. Volume 14. Number 02, 2025 pp. SOSIALISASI KOMPETENSI SOSIAL SISWA PENYANDANG DISABILITAS DI SMALB SISWA BUDHI SURABAYA Rani Assyifa Fairuz BintamurA* dan Moh. MudzakkirA A,2Program Studi Sosiologi. Jurusan Ilmu Sosial. FISIPOL-Unesa Rani. 19072@mhs. Ab s trac t Education is very important for all members of society, including people with disabilities. People with disabilities receive education to develop themselves and their social skills in society. In the development and social skills, socialization is needed and they must also be able to meet social competencies. In socialization, there are stages that must be fulfilled, namely the preparatory stage, play stage, game stage, and generalized other. Additionally, in social competence, there are components of assertiveness, cooperation, empathy, responsibility, and self-control that are expected to be fulfilled by students with disabilities. The purpose of this research is to analyze the socialization process and social competence of disabled students at SMALB Siswa Budhi Surabaya. This research uses qualitative methodownsyndrome and data collection through purposive sampling techniques. The theories used in this research are the theory of socialization by George H. Mead and Social Competence by Gresham and Elliot. The research results show that in fulfilling socialization and social competence among disabled students at Siswa Budhi, hearingimpaired students become students who are able to meet socialization and social competence. For autistic and downsyndrome students, they have not yet been able to meet socialization and social competence. However, for intellectual disability students, it was found that the ability to fulfill socialization and social competence varies at each level of intellectual disability possessed by the Ke y w o rd o w n s y n d ro m e : Socialization. Social Competence. Students with Disabilities Abstrak terkecuali pada masyarakat penyandang disabilitas. Masyarakat penyandang disablitas mendapatkan pendidikan untuk bisa mengembangan dirinya dan juga kemampuan sosialnya di masyarakat. Pada pengembangan dan kemampuan sosialnya membutuhkan sosialisasi dan juga juga mampu memenuhi kompetensi sosial. Dalam sosialisasi terdapat tahapan yang harus di penuhi yaitu preparatrory stage, play stage, game stage dan generelized other, serta dalam kompetensi sosial terdapat komponen asertif, kerjasama, empati tanggungjawab dan kontrol diri yang diharapkan bisa dipenuhi oleh peserta didik penyandang disabilitas. Tujuan penelitian ini untuk menganalisi proses sosialisasi dan kompetensi sosial pada peserta didik penyandang disabilitas di SMALB Siswa Budhi Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan penambilan data dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sosialisasi oleh George H. Mead dan Kompetensi Sosial oleh Gresham dan Elliot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalm pemenuhan sosialisasi dan kompetensi sosial pada peserta didik penyandang disabilitas di Siswa Budhi bahwa siswa tunarungu menjadi siswa yang mampu memenuhi sosialisasi dan kompetensi sosial, untuk siswa autis dan downsyndrome belum mampu memenuhi sosialisasi dan kompetensi sosial, namun untuk siswa tuagrahita kemampuan dalam pemenuhan sosialisasi dan kompetensi sosial ditemukan bahwa tiap tingkatan tuagrahita yang dimilik siswa berbeda-beda. Kata Kunci: Sosialisasi. Kompetensi Sosial. Siswa penyandang disabilitas Pendahuluan Pendidikan menjadi salah satu cara bagi seseorang untuk dapat meningkatan kualitas dalam diri mereka, terutama dalam kehidupan sosial setiap individu. Pendidikan itu proses yang akan terus terjadi dan tidak memiliki akhir, yang kemudian proses tersebut dapat menciptakan manusia yang memiliki nilai-nilai yang sesuai pada setiap diri manusia (Sujana, 2. Proses tanpa akhir dalam kehidupan manusia inilah selain dapat menicptakan manusia yang memiliki nilai pada setiap diri manusia, namun juga menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas yang kemudian mampu untuk bersaing dengan baik dan tidak melupakan nilai-nilai yang sudah tertanamkan (Alpin. Dkk. Peningkatan kualitas setiap individu tersebut direalisasikan melalui pembelajaran formal di Paradigma. Volume 14. Number 02, 2025 pp. sekolah terutama pada masyarakat muda yang kemudian melalui pendidikan mereka mampu menjadi manusia yang berdaya (Wafroturrohman dan Sulistuyawati, 2. Setiap masyarakat indonesia memiliki kewajiban dalam melaksanakan pendidikan, hal ini seperti tertulis pada Undang-Undang Nomor 47 tahun 2008 tentang wajib belajar. Berdasarkan Undang-Undang tentang wajib belajar yang menjelaskan bahwa pendidikan dibentuk untuk seluruh kalangan masyarakat tidak terkecuali pada masyarakat penyandang disabilitas. Pada kenyataannya masyarakat disabilitas masih banyak mendapatkan diskriminasi yang tidak perlu, terkhususnya pada bidang pendidikan. Sekolah luar biasa (SLB) sama seperti layanan pendidikan pembelajaran formal yang lainnya, namun pada Sekolah Luar Biasa (SLB) memberikan layanan yang lebih khusus kepada masyarakat SLB banyak di bangun bagi masyarakat penyandang disabilitas yang lebih membutuhkan perhatian yang khusus sehingga anak penyandang disabilitas mampu mendapatkan pendidikan dan pembelajaran yang lebih maksimal (Al-Faiq dan Suryaningsih: 2. kompetensi sosial menjadi sangat penting terutama bagi anak disabilitas. Kompetensi sosial merupakan sutau kemampuan atau keterampilan yang dimiliki oleh setiap individu, kompetensi sosial ini menjadi salah satu cara bagi individu dalam menjalankan hubungan interaksi dengan lingkungan sekitar. Kompetensi sosial penting dimiliki oleh setiap individu tidak terkecuali peserta didik penyandang disabilitas. Kompetensi sosial penting dimiliki oleh setiap individu tidak terkecuali peserta didik penyandang disabilitas. Menumbuhkan kemampuan kompetensi sosial pada anak penyandang disabilitas ini membantu anak penyandang disabilitas memberikan keterampilan pada dalam dirinya yang mana mereka mampu untuk mepersiapkan diri mereka untuk berhadapan langsung dengan masyarakat luas dan mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian diatas dalam penelitian ini ingin melihat bagaimana sosialisasi yang dilakukan sekolah luar biasa pada anak penyandang disabilitas di SMALB SISWA Budhi dalam menumbuhkan kompetensi sosial dan menjadi persiapan para siswa dalam mempersiapkan diri mereka dalam menghadapi dunia baru di lingkungan sosialnya. Oleh karena itu peneliti ingin meneliti dengan judul AuSosialisasi Kompetensi Sosial Siswa Penyadang Disabilitas di SMALB Siswa Budhi SurabayaAy Kajian Pustaka 1 Penelitian Terdahulu Adapun penelitian terdahulu yang di tulis oleh maayang Armita Kusuma Wardhani . mengenai pemelitiannya dengan judul Implementasi Modifikasi Kulikulum Upaya pengembangan Kemampuan Bersosialisasi pada Anak Autism. Dalam penelitiannya mayang menjelaskann bahwa dengan mengimplementasikan kurikulum ini dengan merancang sebuah program Pembelajaran Individual(PPI). Program ini dirancang dalam pengembangan kemampuan bersosialisasi anak dengan autism. Program ini memeberikan sebuah kegiatan kebersamaan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan baik akademik maupun non akademik, sehingga dalam impelementasinya program kebersamaan ini juga mengasah kemampuan bersosialisasi pada anak autism, dan menumbuhkan kepribadian pada diri siswa autism dengan baik. Adapuan penelitain terdahulu yang membahas mengenai keterampialan sosial pada anak berkebutuhan khusus. Penelitian yang dilakukan oleh Gusliya Devi . , dalam peneliatain Devi ini membahasa mengenai bagaimana bimbingan yang diberikan oleh sekolah luar biasa Dharma Bhakti Pertiwi ini pada keterampilan yang dimiliki oleh anak tunarungu. Devi menjelaskan bahwa dengan pembimbingan dengan metode Home room program ini dapat memberikan tanggung jawab pada pelaksanaan keterampilan yang di berikan kepada anak tunarungu. Bimbingan yang diberikan ini bersifat direktif yang lebih mengutamakan pada setiap individu anak tunarungu. Diharapkan dengan keterampilan yang diberikan mampu menumbuhkan kemandirian pada diri anak tunarungu. Paradigma. Volume 14. Number 02, 2025 pp. 2 Konsep Sekolah Sekolah pada dasarnya menjadi tempat bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan. Sekolah dapat diartikan sebagai lembaga yang bersifat formal, nonformal, dan juga informal. Pada hal ini sekolah dapat dikelola oleh lembaga swasta maupun lembaga negara (Ibeng, 2. Sekolah menjadi sarana bagi masyarakat dalam mendapatkan pengajaran yang sesuai oleh tenaga pendidik atau guru. sekoah juga memiliki fungisnya dalam hal ini sekolah memiliki fungsi sebagai lembaga yang memberikan wadah kepada peserta didik untuk mendapatkan pemahaman pengetahuanpengetahuan umum kepada peserta didik di sekolah, fungsi selanjutnya adalah sebagai wadah bagi perserta didik untuk medapatkan pembelajaran keterampilan dasar, jadi sekolah tidak hanya sebagai tempat bagi peserta didik untuk mendapatkan pengetahuan umum saja namun juga keterampilan Selanjutnya sekolah sebagai wadah nagi peserta didik untuk menumbuhkan dan memebntuk pribadi sosial, dalam hal ini sekolah sebagai tempat dalam mengajarkan siswa untuk mampu menumbuhkan sifat sosial mereka di dalam kehidupan bermasyarakat. Fungsi terakhir sekolah menjadi tempat untuk menjadikan sumber daya manusia yang bermutu bagi masyarakat (Ibeng, 2. 3 Macam Sekolah Sekolah Inklusi Sekolah Inklusi ini sendiri berbeda dengan sekolah pada umumnya, sekolah inklusi ini menjadi lembaga sekolah yang juga memfasilitasi peserta didik dengan disabilitas. Pelaksanaan sekolah inklusi di Indonesia disepakati berdasarkan dari dokumen internaasional. sekolah inklusi juga dijalankannya Pendidikan inklusi dimana seluruh lapiasan masyarakat dapat mendaptkan Pendidikan yang layak dan juga merata (Indah dan Binhayati, 2. Adapun model-model pelaksanan sekolah inklus di Indonesia, diantaraya adalah Kelas Reguler Aktifitas pelaksanaan pembelaaran dalam satu kelas yang diisi oleh anak disabilitas dan nondisabilitas dengan kurikulum yang sama Kelas Reguler dengan Cluster Aktifitas pengajaran dalam satu kelas yang diisi oleh anak nondisabilitas dan disabilitas yang memiliki kelompok khusus. Kelas Reguler dengan Pull Out Bentuk pembelajaran dalam satu kelas yang diisi oleh anak nondisabilitas dan disabilitas, namun pada waktu tertentu anak disabilitas akan di tempatkan pada kelas khusus dengan pembimbing khusus Kelas Reguler dengan Cluster dan Pull Out Pembelajaran dalam satu kelas dengan anak nondisabilitas dan disanilitas dalam kelompok khusus dan pada waktu tertentu anak diabilitas akan di tempatkan dalam kelas khusus Kelas Khusus dengan berbagai Pengintegrasian Anak disabilitas belajar di kelas khusus dan pada waku tertentu dapat belajar dengan anak Kelas Khusus Penuh Pembelajaran yang diisi oleh Anak disabilitas saja. Paradigma. Volume 14. Number 02, 2025 pp. Sekolah Luar Biasa (SLB) Menurut Suparno . dalam Nasution dan Anggraeni . pengertian Sekolah Luar Biasa (SLB) adalah lembaga yang diperuntukkan pada peserta didik yang memiliki perbedaan dan juga tingkat kesulitan dalam proses Pendidikan, karena adanya kelainan fisik ataupun emosional. Sedangkan menurut Mangunsong . , sekolah luar biasa adalah bagian dari sistem Pendidikan yang secara khusus diperuntukkan kepada peserta didik dengan disabilitas baik fisik maupun perilaku. Sekolah Luar Biasa ini memiliki banyak unsur yang dibuat agar keberlangsungan Pendidikan bagi anak disabilitas dapat mencapai tujuannya. 4 Teori Sosialisasi george herbert Mead Sosialisasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan dalam rangka mengajarkan mengenai normanorma dan juga nilai yang ada dalam masyarakat (Sugeng. H, 2. Berdasarkan dari pemahaman menganai sosialisai bahwa terdapat beberapa tokoh yang menjelaskan mengenai teori sosialisasi, salah satu tokoh yang menjelaskan menegnai sosialisasai adalah George Herbert Mead dimana Mead menjelasakan bahwa dalam sosialisasi terdapat berapa tahapan dalam pengembangan diri manusia. tahapan tersebut dibagi menjadi 4 tahapan yatitu, . preparation stage. Pada tahap ini anak belum memahami akan peran yang dimiliki dan cenderung meniru orang lain tanpa memahami makna dari peran tersebut. pada tahap ini anak juga cenderung belum memiliki kemampuan linguistik yang mampu menjelaskan objek atau kegiatan sosial (Angus, 2. Play stage, pada tahap ini mead menjelaskan tahap ini merupakan tahap di mana seorang anak akan menunjukan perilaku meniru dimana dalam hal ini seorang anak hanya dapat mengambil perannya satu persatu dari orang lain. Melalui dari asumsi dalam menirukan peran tersebut berasal dari rangsangan diri melalui gerakan dan vokal dari orang lain, . Game stage. Pada tahap ini anak sudah tidak lagi hanya menjalankan satu peran, dimana harus terlibat dalam aktivitas bersama dalam masyarakat sehingga mereka dapat menjalankan perannya dengan baik. Anak juga sudah mulai memahami peran yang di jalankan individu secara luas tidak hanya memahami peran individu tertentu, tetapi seluruh individu yang yang berada dalam suatu aktivitas, . Generelize other, dalam tahap ini anak sudah memahami mengenai perannya secara individu dan memahami peran peran yang di jalani oleh orang lain, selain itu anak juga sudah memahami nilai dan juga norma yang ada dalam suatu masyarakat, dan juga mampu untuk berinteraksi dengan individu lain dalam lingkungannya. 5 Teori Kompetensi Sosial Gresham dan Elliot Gresham dan Elliott . dalam Smart dan Sansons . menjelaskan mengenai kompetensi sosial sebagai keahlian yang dimiliki oleh individu yang bisa diterima secara sosial dan kemudian mampu untuk mengembangakan dalam hal perilaku individu yang kemudian mampu berinteraksi dengan baik dengan orang lain di lingkungannya. Sosial kompetensi yang dijelaskan oleh Greshamn dan Elliott ini adalah sosial kompetensi yang dimiliki oleh anak dan remaja. Gresham dan Elliott menjelaskan bahwa terdapat beberapa model dalam kompetensi sosial anak dan remaja. Gresham dan Elliot . dalam Smart dan Sansons . menjelaskan model dari kompetensi anak dan remaja terdiri dari 5 indikator yakni yaitu . , yaitu perilaku yang dimiliki individu dalam menunjukkan sifat inisiatif dan mampu menanggapi individu lain dalam kelompok masyarakatnya, . Cooperation . , yaitu perilaku yang dimiliki oleh individu yang mana menunjukkan perilaku saling tolong menolong antar sesama, saling berbagi, dan mampu mematuhi suatu aturan dan permintaan, . , yaitu perilaku yang dimiliki individu dalam menunjukkan sifat kepedulian dan juga mampu dalam meghormati juga memahami perasaan orang lain dalam masyarakat, . anggung jawa. , yaitu perilaku yang mampu menunjukkan kemampuan individu dalam berkomunikasi dengan orang dewasa dan mampau memperhatikan segala pekerjaannya dengan bertanggungjawab, . self-control . engendalian dir. , yaitu perilaku kontrol diri yang muncul saat adanya suatu konflik, dimana individu jika dihadapkan dengan masalah mampu untuk menghadapi permasalahan dengan menggiring permasalahan tersebut ke arah yang lebih positif, dan mampu mengontrol diri untuk dapat bernegosisasi saat terjadi pertentangan. Paradigma. Volume 14. Number 02, 2025 pp. Metode Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan Pendekatan kualitatif ini pendekatan yang memfokuskan pada pemahaman realitas masalah dan fenomena yang ada di dalam kehidupan sosial masyarakat itu sendiri (Fadli, 2. Pendekatan Kualitatif menjelaskan dan menginterpretasi suatu fenomena yang ada dengan cara mengumpulkan data secara mendalam kemudian dapat diteliti dan menunjukkan pentingnya suatu fenomena berdasarkan data-data yang telah didapat. Lokasi penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti ini berada di Kota Surabaya, yang bertempatan di SMALB Siswa Budhi dan beralamat di Jl. Gayungan Manggis 25. Gayungan . Kec. Gayungan. Kota Surabaya. Pemilihan lokasi SMALB Siswa Budhi Surabaya ini berdasarkan observasi yang telah di pilih oleh peneliti sebelumnya yang memenuhi kriteria yang telah peneliti tentukan sebelumnya. Teknik pengumpulan data merupakan tahapan yang dilakukan oleh peneliti dalam mengumpulkan data-data yang relevan dengan permasalahan yang dicari oleh peneliti dalam Dalam hal ini penting bagi peneliti untuk menentukan teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data guna mendapatkan data yang relevan dan empiris. Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data melalui data primer dan Sekunder. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik observasi dan teknik wawancara. Teknik pengumpulan data yang diguanakn oleh peneliti selain menggunakan Teknik pengumpulan primer adalah dengan menggunakan Teknik pengumpula data sekunder. Data sekunder meruapakn data yang digunakan dalam pengumpulan data yang diperoleh secara tidak langsung atau berasal dari data data yang bukan berasal dari informan utama, data sekunder boleh didapat melalui literasi seperti jurnal, buku, atau sumber data relevan yang lainnya utama (Otok dan ratnaningsih: 2. Teknik analisis data ini menjadi tahapan yang dilakukan oleh peneliti untuk mengolah data yang telah diperoleh di lapangan. Teknik analisi data menjadi tahapan yang sangat penting, karena dalam tahapan ini menjadi proses analisis yang dilakukan pada data-data yang telah didapat secara keseluuhan, sehingga dapat ditarik kesimpulan dari data tersebut (Muhson, 2. Penelitian ini menggunakan tiga tahapan Analisi Data menurut Miles dan Huberman . dalam Agusta . Pertama. Reduksi Data. Kedua. Penyajian Data. Ketiga. Verifikasi data atau penarikan kesimpulan. Hasil dan pembahasan 1 Sosialisasi Siswa Didik SMALB Siswa Budhi Kondisi proses sosialisasi pada setiap siswa didik di SMALB Siswa Budhi memiliki proses dan kondisi yang berbeda beda, hal tersebut berdasarkan faktor perbedaan ketunaan yang dimiliki oleh siswa. Sehingga pemenuhan proses sosialisasi tahapan berdasarkan dari George Herbert Mead pada setiap siswa juga berbeda beda. SMALB Siswa Budhi terdiri dari siswa dengan ketunaan tunarungu, tunagrahita, autis dan downsyndrome. Tunarungu tahapan awal ini sosialisasi preparatory stage yaitu memahami peran dan juga meniru sudah mampu di dijalankan oleh siswa tunarungu. Hal ini dikarenakan siswa tunarungu hanya memiliki keterbatasan pada pendengaran dan tidak mempengaruhi IQ yang di miliki oleh siswa. bergitu pula dengan kemampuan dalam meniru, meniru adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh siswa tunarungu karena mereka adalah individu pemata, yaitu mereka banyak menggunakan indra penglihatan sebagai alat komunikasi dan juga sebagai bentuk siswa tunarungu dalam memahami sesuatu. linguistik siswa tunarungu, dimana berdasarkan penjelasan yang di berikan siswa tunarungu bahwa, siswa tunarungu adalah siswa yang menggunakan bahasa isyarat sebagai komunikasi total mereka sehari hari. Tahap kedua play stage rangsangan diri atau stimulsi dalam diri siswa untuk bisa menjalankan suatu peran di sekolah masih membutuhkan dorongan dari guru, sehingga dalam proses pembelajarannya siswa tunarungu cenderung memiliki refleks yang rendah untuk bisa mengikuti suatu bentuk peran yang harus dimilikinya. Tahapan ketiga Game stage bahwa dalam keterlibatan siswa pada suatu kegiatan adalah sesuatu yang masih membutuhkan dorongan dari luar, dimana keinginan tersebut tidak muncul secara langsung dari dalam diri siswa melainkan keterlibatan yang Paradigma. Volume 14. Number 02, 2025 pp. dilibatkan oleh guru pada kegiatan sekolah sehingga mereka bisa memaknai arti dari suatu kegiatan Berikutnya mengenai pemahaman peran individu lainnya siswa tunarungu mampu untuk memenuhi pemahaman peran orang lain di sekolah. Tahap terakhir generelize other pada siswa tunarungu selain sudah paham akan peran dirinya dan peran orang lain, pengimplementasian nilai dan norma juga telah dipenuhi oleh siswa tunarungu, dimana siswa paham akan aturan atau norma dan juga bisa memahami makna atau nilai di balik dari norma yang dijalankan oleh siswa. Tunagrahita Siswa tunagrahita di SMALB Siswa Budhi terdapat beberapa tingkatan atau level dalam tunagrahita yang berbeda yaitu tunagrahita ringan, tunagrahita sedang, dan tunagrahita berat, dan pada tunagrahita ringan, sedang dan berat SMALB Siswa Budhi juga kembali mengklasifikasikan pada setiap siswa berdasarkan dari kebutuhan yang perlu di maksimalkan pada setiap siswa. Dalam hal ini bahwa siswa didik tunagrahita di SMALB Siswa Budhi memiliki kemampuan sosialisasi yang berbeda beda, hal ini dikarenakan tunagrahita di bedakan menjadi beberapa tingkatan yang mana pada setiap tingkatan tersebut memiliki kemamupuan IQ yang berbeda beda, dimana tunagrahita ringan bisa dikatakan mampu dan memenuhi tahapan sosialisasi karena kemampuan kognitif yang lebih tinggi, dan untuk tunagrahita pada tingkatan sedang bisa dikatakan hanya memenuhi sebagian dari tahapan sosialisasi, dimana hal ini dikarenakan kemampuan kognitif yang cukup rendah menjadikan siswa belum bisa memenuhi sosialisasi menurut George H. Mead. Kemudian, yang terakhir adalah untuk siswa dengan tingkatan berat bisa dikatakan belum sama sekali memenuhi tahapan sosialisasi Mead karena siswa tunagrahita berat tidak memenuhi tahapan sosialisasi tersebut. Namun harus kembali diingat bahwa sifat siswa tunagrahita membutuhkan pengulangan secara berkala dan penanaman kebiasaan secara konkrit. Autis Autis atau autism menurut WHO adalah kondisi dimana individu menlamai kesulitan dalam menjalankan interaksi sosial dan juga mempertahankan komunikasi. Selain itu autis juga ditandai dengan kesulitan dalam pola perilaku yang tidak sesuai seperti kesulitan dalam berpindah aktifitas satu ke aktifitas lainnya, juga sensitif terhadap sensasi yang dirasakan. Pada siswa autis di SMALB Siswa Budhi bahwa siswa autis belum mampu untuk memenuhi tahapan sosialisasi oleh George H. Mead. Hal ini dikarenakan siswa autis yang cenderung lebih susah untuk diarahkan, dan dalam kasus ini siswa autis lebih banyak berfokus kepada hal yang di gemari dan cenderung tidak mampu memertahankan interaksi dan juga tidak mampu untuk memahami kondisi yang ada di sekitarnya. Downsyndrome Downsyndrome individu yang memiliki perkembangan dan fisik yang berbeda, individu downsyndrome juga mempengaruhi kondisi mental dalam diri individu downsyndrome, hal ini juga terjadi pada siswa di SMALB Siswa Budhi, terdapat empat siswa dengan downsyndrome dan setiap perkembangan diri dari siswa downsyndrome berbeda beda, dan hal itu juga mempengaruhi pada perkembangan kognitif siswa. Diantara dari 4 siswa downsyndrome yang ada di SMALB Siswa Budhi bahwa terdapat siswa downsyndrome yang mampu berkomunikasi dengan baik dan mampu mengerjakan tugas yang di berikan oleh guru, namun juga terdapat siswa downsyndrome yang tidak mampu berbicara dengan baik atau membeo dan tidak dapat mengerjakan tugas yang di berikan oleh guru, hal ini menjadikan proses sosialisasi siswa downsyndrome tidak mampu terpebuhi dengan baik, walaupun terdapat siswa downsyndrome yang mampu berkomunikasi dan menjalankan tugasnya tetapi hal tersebut adalah bentuk dari dorongan yang di berikan oleh guru. Oleh karena itu siswa downsyndrome dalam proses tahapan sosialisasi oleh George H. Mead belum bisa dipenuhi oleh siswa didik downsyndrome. 2 Kompetensi Sosial Siswa Didik di Sekolah Siswa Budhi Kompentensi sosial menjadi salah satu keterampilan yang kemudian menjadi cara bagi individu untuk bisa saling berinteraksi dengan lingkungannya di masyarakat. Pada penelitian ini teori kompetensi sosial menggunakan pendekatan oleh Gersham dan Elliot, dimana dalam teori ini terdapat beberapa kompetensi yang menjadi indikasi bahwa seseorang telah memenuhi kompetensi atau keterampilannya memperisapkan diri untuk kehidupan bermasyarakatnya. kompetensi tersebut di bagi menjadi 5 kopetensi yang berbeda yaitu 1. Asertif 2. Kerjasama 3. Empati 4. Tanggungjawab Paradigma. Volume 14. Number 02, 2025 pp. Kontrol diri. Pada siswa disabilitas di SMALB Siswa Budhi menunjukkan level kompetensi sosial yang berbeda beda berdasarkan dari ketunaan yang dimiliki oleh setiap siswa didik di sekolah. Tunarungu Berdasarkan hasil temuadn data bahwa pada siswa tunarungu siswa mampu memenuhi 5 kompetensi yang di jabarkan oleh Gresham dan Elliot, siswa tunarungu tidak memiliki kesusahan dalam menjalankan kompetensi sosial Gresham dan Elliot, namun di sisi lain peran guru sebagai pengajar dan juga berperan dalam membimbing siswa tunarungu tidak lepas, artinya dalam menjalankan kelima kompetensi sosial tersebut guru masih harus menjadi pengajar yang mengingatkan siswa tunarungu terutama dalam memudahkan siswa tunarungu untuk memahami suatu kata atau tindakan, hal ini dikarenakan siswa tunarungu yang tidak mampu mendengar membuat siswa kesulitan dalam memahami suatu hal jika tidak diperlihatkan secara konkrit dan tidak dijelaskan menggunakan bahasa yang sederhana. Namun dari semua hal tersebut selama guru mampu menunjukkan secara konkrit dan mampu menjelaskan dengan mudah maka mudah bagi siswa tunarungu untuk menjalankan kelima kompetensi sosial oleh Gresham dan Elliot. Tunagrahita Kemampuan kompetensi sosial siswa tunagrahita didasarkan dari tingkatan dari ketunaan yang dimiliki oleh siswa tunagrahita, hal tersebut juga di pegaruhi pada kecepatan siswa dan karakteristik siswa dalam memahami suatu ajaran yang diajarkan kepada siswa di sekolah. Siswa tunagrhita ringan menjadi siswa yang memiliki kemampuan dalam memenuhi kompetensi sosial, namun tidak semua kompetensi sosial mampu di laksanakan oleh siswa dikarenakan siswa tunagrahita ringan masih membutuhkan arahan oleh guru dan kompetensi sosial yang mampu dijalankan oleh siswa tunagrahita ringan merupakan bentuk kebiasaan dan juga pengingatan secara terus menerus oleh guru kepada siswa tunagrahita ringan. Tunagrahita sedang dan berat masih belum bisa dikatakan mampu untuk memenuhi kompetensi sosial Gresham dan Elliot. Autis Kemampuan Kompetensi sosial pada siswa autis di SMALB Sisa Budhi ditemukan bahwa siswa belum mampu untuk meemnuhi kometensi sosial Gresham dan Elliot, sehinga di sekolah siswa autis cenderung membutuhkan arahan dan juga bimbingan yang di berikan oleh guru agar siswa autis mampu memunculkan kemampuan kompetensi sosialnya, namun hal tersebut tidak bisa dipaksakan kepada siswa autis, karena hal tersebut adalah sesuatu yang berasal dari dalam diri siswa Downsyndrome Kemampuan kompetensi sosial pada siswa Downsyndrome di SMALB Siswa Budhi bahwa ditunjukkan dengan kurangnya pemahaman siswa dalam menjalankan kompetensi sosial yang dijelaskan oleh Gresham dan Elliot. Siswa Downsyndromw di SMALB Siswa Budhi cenderung membutuhkan perhatian oleh guru seperti pelaksanaan pembelajaran, dimana siswa membutuhkan bimbingan dari guru untuk bisa mengerjakan tugasnya. Selain itu siswa downsyndrome juga akan cenderung diam jika tidak dirangsang oleh guru untuk melakukan suatu kegiatan. Siswa downsyndrome di SMALB Siswa Budhi juga belum memiliki kemampuan untuk bisa mengontrol dirinya jika dihadapkan oleh permaslahan. Oleh karena itu sulit bagi siswa downsyndrome di SMALB Siswa Budhi unuk bisa meemnuhi kelima kompetensi sosial tersebut. 3 Strategi Sekolah Dalam Menyikapi Perbedaan Disabilitas Dalam Pengajaran Di Sekolah SMALB Siswa Budhi ini memilik keberagaman disabilitas yang dimiliki oleh setiap siswa, dimana Sekolah Siswa Budhi memiliki siswa tunarungu, tunagrahita, autis, dan juga downsyndrome dimana pada setiap disabilitas memiliki caranya masing masing dalam mengajar di sekolah. Maka dibutuhkannya strategi yang dijalankan oleh sekolah guna untuk menanamkan sosialisasi dan juga kompetensi sosial siswa didik di sekolah. Pada hal ini sekolah lebih menekankan pada guru pengajar sebagai individu pertama yang langsung mengajar siswa di kelas. siswa yang mampu untuk dikembangkan sosialisasinya dimana guru masih mampu untuk mengembangkan kemampuan pemahaman peran, lingusitik, penanaman nilai norma dan kemampuan berinteraksi dan juga kemampuan akademis, sehingga strategi guru dalam mengajarkan hal tersebut adalah dengan Paradigma. Volume 14. Number 02, 2025 pp. menunjukkan cara yang konkrit atau jelas, dan berulang ulang sehingga bisa menancap pada diri siswa dan juga menjadi kebiasaan pada diri siswa. Guru memiliki cara yang digunakan untuk mendisplinkan siswa yang ada di sekolah, bentuk dispilin guru beragam contohnya sesuai dengan ketunaan yang dimiliki oleh siswa, dalam sekolah guru menggunakan cara yang sesuai dengan setiap siswa. Cara yang digunakan dalam mendisplinkan adalah dengan dengan mengingatkan dan kemudian mencontohkan, namun jika hal tersebut tidak berjalan dengan baik maka guru akan melakukan dengan cara represif atau shock teraphy. Dalam proses kompetensi sosial di sekolah pada setiap ketunaan siswa membutuhkan program yang sama progtam tersebut bernama program bina diri, dimana dalam program ini sekolah mengajarkan keterampilan di luar akademis, seperti jual beli, membatik, atau keterampilan lainnya sehingga siswa bisa memiliki sesuatu di dalam diri yang kemudian bisa digunakan saat siswa sudah berada di dalam kelompok masyatakat. Namun kembali lagi pada kemampuan diri setiap individu siswa jika sosialisasi dan kompetensi sosial tidak mampu di penuhi oleh siswa maka di sini sekolah akan bekerjasama dengan orang tua, dengan memberikan pemahaman pemahaman pada orang tua dalam mengajari siswa di rumah, dengan membantu hal hal kecil seperti melibatkan siswa dalam kegiatan di rumah bersih bersih, mencuci piring dan sebagainya. Sehingga setidaknya siswa mampu mengerjakan hal hal kecil di rumah dan tidak dibairkan tidak berdaya. 4 Proses Sosialisasi Kompetensi Sosial Siswa Didik Dalam proses sosialisasi guru akan selalu mengulang pembelajaran dan juga akan sering mengulang kembali dan menanamkan pemahaman pada siswa jika posisi mereka di sekolah adalah sebagai seorang murid yang harus belajar, hal tersebut akan terus guru ingatkan dan sosialisasikan kembali, namun di Sekolah Siswa Budhi tidak semua siswa mampu untuk bisa memahami apa yang dijelaksan oleh guru karena hal tersebut berkaitan dengan kemampuan diri dan juga tingkatan ketunaan yang dimiliki oleh setiap pribadi siswa, sehingga hal tersebut adalah bawaan pribadi dari siswa itu sendiri. Strategi yang selanjutnya dilakukan oleh sekolah untuk pengembangan diri siswa strategi yang di berikan oleh sekolah adalah dengan memberikan Program Pembelajaran Individu (PPI) dimana setiap siswa memiliki program pembelajarannya masing masing disesuaikan dengan kemampuan dan ketunaan yang dimiliki oleh siswa. Namun berdasakan dari penjelasan subjek penelitian bahwa nyantanya di lapangan dalam menjalankan program tersebut dapat dikatakan cukup sulit, dikarenakan jumlah guru yang kurang sehingga strategi yang di berikan oleh sekolah adalah dengan mengelompkkan siswa bukan berdasarkan dari ketunaan tetapi dari kemampuan yang dimiliki oleh siswa, seperti jika siswa Tunarungu dan tunagrahita memiliki kesamaan kemampuan maka akan di kelompokkan bersama. Dalam proses sosialisasi kompetensi sosial ini siswa dibutuhkannya bina diri dan juga pemahaman pramuka dengan melaksanakan kegiatan outing class dimana, siswa tidak hanya di beri pelajaran berdasarkan dari yang di terangkan oleh guru di sekolah, tetapi juga mengajak siswa untuk belajar di luar kelas sehingga siswa bisa mengetahui bentuk asli dari kehidupan bermasyarakat yang sebenarnya dengan bentuk yang konkrit, sehingga siswa memiliki pengalaman melalui kegiatan tersebut yang kemudian sekolah mengharapkan dari kegiatan tersebut siswa bisa memahami dan juga mempraktikan secara langsung pembelajaran dari luar kelas tersebut. Selain itu siswa juga diajarkan bentuk bentuk keterampilan yang kemudian bisa dikembangkan dalam diri siswa untuk bisa digunakan saat siswa sudah terjun langsung dalam masyarakat, namun dalam hal ini keterampilan siswa sekolah membutuhkan kolaborasi bersama orang tua dimana sekolah terus menghimbau dan melaksanakan sosialisasi kepada orang tua sehingga orang tua bisa melibatkan siswa didik dalam kehidupan sehari hari, keterlibatan siswa dalam kehidupan sehari hari adalah dengan melibatkan siswa dalam membersihkan rumah atau melibatkan siswa dalam kegiatan jual beli sehingga siswa mampu mengenal mata uang. Sekolah juga menjalankan bentuk strategi yaitu bina diri dimana dalam bina diri ini siswa akan dilatih dalam keterampilan diri siswa dan bisa dikembangkan, salah satu bentuknya adalah dalam mengenalkan mata uang juga pada kegiatan koperasi, dimana siswa yang dianggap mampu mengenai jual beli akan di tempatkan pada koperasi tersebut, dan siswa mampu bertransaksi di koperasi Paradigma. Volume 14. Number 02, 2025 pp. sekolah tersebut. Penggunaan program tersebut merupakan bentuk dari harapan sekolah bahwa setelah siswa lulus dari SMALB siswa mampu berdaya bagi dirinya, taget yang diberikan oleh sekolah terkait siswa adalah siswa mampu melakukan Baca, tulis dan hitung . dan juga paham akan Namun subjek penelitian pak David menjelaskan bahwa faktanya setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda, terdapat siswa yang cakap dan tanggap ada juga siswa yang sangat slow maka strategi selanjutnya yang bisa di berikan oleh siswa adalah menurunkan target awal yang diharapkan sekolah menjadi dimana paling tidak siswa bisa menjaga dan memenuhi kebutuhan dasar pada dirinya. Namun tidak menutup kemungkinan terdapat siswa yang masih harus dibantu oleh orang lain untuk menjalankan kegiatan sehari harinya. Strategi yang selanjutnya adalah komunikasi yang dijalanknn oleh guru dengan orang tua terus terjalin, sehingga sekolah sebisa mungkin untuk bisa membantu siswa untuk bisa tetap berdaya untuk dirinya sendiri. Sehingga proses sekolah dalam sosialisasi dan kompetensi sosial siswa adalah melalui pembelajaran di kelas dengan mengusahakan menggunakan program pembelajaran individu dan juga bina diri, hasil akhir bagaimana dari siswa yang menjadi mampu dan memiliki keterampilan kembali lagi kepada kemampuan diri siswa dan juga kontribusi dari orang tua sebagai agen yang sangat penting bagi perkembangan diri siswa di masyarakat. SLB menjadi sekolah yang baik untuk siswa dengan disabilitas, karena sekolah SLB menjadi tempat bagi siswa untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri tiap siswa. Sama halnya dengan SMALB Siwa Budhi yang mengajarakan siswanya tidak hanya pemahaman akademis namun bentuk keterampilan yang kemudian bisa dikembangakan oleh siswa berdasarkan dari potensi potensi yang dimiliki tiap siswa didik. Dalam pembelajaran tersebut juga dibutuhkannya penanaman sosialisasi dalam diri siswa untuk bisa berkembang menjadi pribadi yang baik, selain itu sekolah tidak hanya menanamkan sosialisasi untuk mengembangkan pribadi siswa tetapi juga menyiapkan keterampilan yang diperlukan oleh siswa untuk siap bermasyarakat nantinya. Pada pemenuhan tahapan sosialisasi george Herbert mead terlihat bahwa yang mampu menjalankan tahapan tersebut adalah siswa tunarungu, untuk siswa tunagrahta kemampuan pemenuhan tahapan ini disesuaikan berdasarkan dari tingkatan tunagrahita yang dimiliki oleh siswa, selanjutnya pada siswa autis dan downsyndrome belum mampu memenuhi tahapan sosialisasi George Herbert Mead. Hal ini juga berlaku kepada kompetensi sosial oleh Gresham dan Elliot. Strategi sekolah dalam menyikapi perbedaan disbalilitas yang dimilik oleh siswa adalah dengan membagi kelas berdasarkan kemampuan dalam diri siswa bukan dari ketunaan, hal ini dilakukan oleh sekolah dimana sekola mengharapkan agar guru mudah dalam mengajar siswa dengan disabilitas yang berbeda beda. selanjutnya dengan mengajari dan mencontohkan secara langsung sehingga siswa bisa memahami dengan baik dari contoh yang sederhana hingga bentuk represif seperti shock therapy agar siswa bisa berperilaku dengan baik. Proses sosialisasi kompetensi sosial di SMALB Siswa Budhi Bahwa sekolah menjalankan suatu bentuk kegiatan seperti bina diri dimana siswa akan dibina sesuai dengan potensi dan kemampuan diri siswa, dimana siswa yang mampu diajarkan dalam memenuhi kebutuhan diri dan mampu menjalankan kegiatan kegiatan yang banyak dilakukan di masyatakat, selain itu sekolah juga menjalankan kegiatan seperti outing class dimana siswa akan diajarkan hal hal mendasar di Selain itu juga kolaborasi yang dijalankan oleh sekolah dengan orang tua terkait perkembangan siswa didik di sekolah dan di rumah. Daftar Pustaka