Riko Sandra P. Diana H. PENERAPAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK BERMAIN KUARTET (KARTU) PADA PASIEN ISOLASI SOSIAL MENARIK DIRI Riko Sandra Putra1. Diana H. Soebyakto2 Program Studi Di Keperawatan STIKES Mitra Adiguna Palembang Program Studi S1 Keperawatan STIKES Mitra Adiguna Palembang Jl. Kenten Permai Blok J10-12 Bukit Sangkal Palembang Email : rikosandrap@gmail. com1, dianahelda70@gmail. Abstrak Isolasi sosial merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dan hubungan dengan orang Pasien yang mengalami isolasi sosial ditandai dengan adanya afek datar, efek sedih, ingin menyendiri, ketidakmampuan memenuhi harapan orang lain, dan menarik diri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran dari penerapan Terapi Aktivitas Kelompok bermain Kuartet . pada pasien isolasi sosial menarik diri. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitiaan ini kualitatif deskriptif yaitu berupa penelitian dengan metode atau pendekatan study case. Hasil penelitian yang didapatkan berdasarkan lembar observasi yang dinilai dari kedu klien terdapat perbedan dimana klien I Tn AuAAy mengalami peningkatan dimana klien sudah bisa berkenalan dan berinteraksi dengan orang lain walaupun klien masih belum bisa memberikan tanggapan ataupun memberikan penilaian kepada orang lain, sedangkan klien II TnAySAy mengalami peningkatan dimana klien mampuh untuk berkenalan dan berinteraksi dengan orang lain walupun klien masih terlihat gugup dan belum bisa memberikan tanggapan ataupun penilaian kepada orang lain. Untuk terapi aktivitas kelompok permainan kuartet berhasil karena klien telah mempraktikkan dan dilatih cara memperbaiki kemampuan sosialisasi nya. Kesimpulan penelitian ini adalah terjadi peningkatan interaksi pada klien isolasi sosial dengan penerapan TAK bermain kuartet. Hal tersebut dapat menjadi agenda bagi klien isolasi sosial sehingga terjadi peningkatan Kata kunci : Terapi aktivitas kelompok. Bermian kuartet, isolasi sosial Abstract Social isolation is an attempt to avoid interactions and relationships with other people. Patients who experience social isolation are characterized by flat affect, sad effects, wanting to be alone, inability to meet other people's expectations, and withdrawal. The purpose of this study was to find out the description of the application of Quartet Play Group Activity Therapy . in social isolation patients withdrawing. The type of research used in this research is qualitative descriptive, namely in the form of research with a case study method or approach. The research results obtained based on the observation sheet assessed from the two clients showed that there was a difference where client I Mr. "A" experienced an increase where the client was able to get acquainted and interact with other people even though the client was still unable to provide feedback or provide an assessment to other people, while client II Mr "S" experienced an increase where the client was able to get to know and interact with other people even though the client still looked nervous and could not provide feedback or assessments to other For group activity therapy, the quartet game is successful because the client has practiced and been trained how to improve his socialization skills. The conclusion of this study is that there is an increase in interaction with social isolation clients with the application of TAK playing quartet. This can be an agenda for clients of social isolation so that there is an increase in health Keywords: Group activity therapy. Quartet playing, social isolation Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Riko Sandra P. Diana H. PENDAHULUAN Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Menurut UU No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, kesehatan merupakan kondisi seseorang yang sehat secara fisik, mental, spiritual, dan sosial yang memungkinkan seseorang dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Kesehatan jiwa merupakan berbagai karakteristik positif yang daya tilik diri, dan persepsi (Pangestu et al. , n. Gangguan mengalami peningkatan seiring dengan dinamisnya kehidupan masyarakat, sebagai dampak kemampuan individu beradaptasi pada perubahan sosial yang sering berubah-ubah (Cahyaningsih et al. , 2. Isolasi sosial merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dan hubungan dengan orang lain. Pasien yang mengalami isolasi sosial ditandai dengan adanya afek datar, efek sedih, ingin menyendiri, ketidakmampuan memenuhi harapan orang lain, dan menarik diri (Cahyaningsih et al. Menarik diri adalah perilaku pasien gangguan jiwa yang suka menyendiri dan sulit berinteraksi dengan orang lain. Pasien gangguan jiwa awalnya ditandai dengan tidak percaya diri sehingga pasien menutup diri dan menarik diri dari lingkunganya (Novitasari, 2. Menurut WHO regional Asia Pasri ifik (WHO SEARO) jumlah gangguan jiwa terbanyak di India . 969 kasus atau 4,5% dari jumlah populasi ), terendah di Maldives . 737 kasus atau 3,7% dari Indonesia sebanyak 9. 3,7% Berdasarkan dari data Riskesdes tahun 2018 mencatat bahwa prevelensi gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia adalah 7 per 1000. Gangguan jiwa terbanyak berada di Yogyakarta. Aceh. Sulawesi Selatan. Bali dan Jawa Tenga. Riskesdas juga menyebutkan bahwa prevelensi gangguan jiwa emosional pada penduduk jawa tengah adalah 9,8% dari seluruh penduduk Jawa Tengah (Novitasari, 2. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 yang dilakukan ada 1,2 gangguan jiwa berat mencapai 7 permil dimana Bali berada pada urutan pertama dengan prevalensi sebesar 11 permil. Dari data tersebut terjadi peningkatan pasien dengan skizofrenia sebesar 5,3 permil (Riskesdas, 2. Menurut studi yang dilakukan Sinaga . di Medan menunjukkan bahwa jumlah pasien isolasi sosial pada tahun 2018 sebanyak 224 orang . ,6%) dan merupakan diagnosa ketiga terbesar setelah halusinasi . ,8%) dan defisit perawatan diri . ,5%) (Cahyaningsih et al. , 2. Dampak dari perilaku klien isolasi sosial sering tidak dijadikan prioritas karena tidak mengganggu secara nyata. Namun apabila isolasi sosial tidak ditangani, maka akibat yang ditimbulkan dapat berupa risiko halusinasi sebagai bentuk gejala negatif yang tidak tertangani dan dapat memicu terjadinya gejala positif (Cahyaningsih et al. , 2. Pathosikologi pada klien isolasi sosial: menarik diri adalah disebabkan karena klien menilai dirinya rendah, sehingga perasaan malu timbul saat akan berinteraksi dengan orang lain. Apabila tidak dilakukan intervensi lebih lanjut akan menyebabkan perubahan persepsi sensori: halusinasi dan resiko mencederai diri, orang lain, bahkan lingkungan. Perilaku menutup diri dari orang lain juga dapat menyebabkan intoleransi aktifitas yang bisa mempengaruhi pada ketidakmampuan Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Riko Sandra P. Diana H. untuk melakukan perawatan mandiri (Pangestu et al. , n. Terapi Social Skill Training (SST) adalah satu intervensi dengan teknik modifikasi perilaku didasarkan prinsipprinsip bermain peran, praktek dan umpan balik guna meningkatkan kemampuan klien dalam menyelesaikan masalah. SST keterampilan sosial bagi seseorang yang mengalami kesulitan dalam berinteraksi meliputi keterampilan memberikan pujian, menolak permintaan orang lain, tukar menukar pengalaman, menuntut hak pribadi, memberi saran pada orang lain, bekerjasama dengan orang lain, dan beberapa tingkah laku lain yang tidak dimiliki klien (Dwisulistyowati, 2. Peran perawat dalam penanganan gangguan isolasi sosial menarik diri pada pasien gangguan jiwa adalah dengan memberikan asuhan keperawatan yang Asuhan keperawatan yang tepat untuk klien harus dilakukan, untuk meminimalisir terjadinya indikasi serius yang dapat terjadi seiring dengan gangguan yang dialami pasien. Berdasarkan data yang didapat dari Rumah Sakit Ernaldi Bahar Palembang jumlah pasien gangguan jiwa pada bulan November 2019 sebanyak 35 pasien yang mengalami gangguan jiwa, 15 pasien mengalami gangguan halusinasi, 1 pasien mengalami isolasi sosial dan ada 19 pasien mengalami perilaku kekerasan dan deficit perawatan diri . Berdasarkan laporan priode bulan Januari 2021, klien yang dirawat di Rumah Sakit Ernaldi Bahar Palembang terdapat 79 pasien yang mengalami gangguan jiwa, 24 pasien mengalami gangguan halusinasi, 6 pasien mengalami isolasi sosial, 47 pasien mengalami perilaku kekerasan dan 6 pasien mengalami defisit perawatan diri. Berdasarkan laporan priode bulan April 2023 didapatkan diruang merpati klien yang dirawat terdapat 43 pasien yang mengalami gangguan jiwa, 26 pasien mengalami gangguan halusinasi, 4 pasien mengalami solasi sosial, 3 pasien mengalami harga diri rendan dan 10 pasien mengalami perilaku kekerasan. Berdasarkan tersebut, maka penulis tertarik mengambil kasusu ini sebagai bahan studi kasus dengan judul AuPenerapan terapi aktivitas kelompok bermain kuartet . pada pasien isolasi sosial menarik diri di Rumah Sakit Ernaldi Bahar Palembang Tahun 2023. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian Deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan studi kasus. Jenis Penelitian Jenis Penelitian metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kasus yang dilakukan dengan melakukan penerapan terapi aktivitas kelompok bermain kuartet . pada pasien isolasi sosial menarik diri. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian tersebut dilakukan di Rumah Sakit Ernaldi Bahar Palembang. Target/Subjek Penelitian Subjek penelitian yang akan diberikan terapi aktivitas kelompok ada klien isolasi sosial dengan harga diri rendah dan rentang usia 15- 50 tahun. Prosedur Diilakukan dengan melakukan pendokumentasian atau pencatatan asuhan keperawatan secara berkelanjutan dari intervensi, implementasi sampaai dengan evaluasi keperawatan serta TAK bermain kuartet . yang menggunakan metode SOAP Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Riko Sandra P. Diana H. pelaksanaan, dan tahap penyususnan laporan. Data. Intrumen. Teknik Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam studi kasus ini adalah data primer yaitu Wawancara langsung dan lembar observasi dan data sekunder yaitu data rekam medis dan Buku pemeriksaan klien. Alat dan bahan yang digunakan untuk melakukan observasi untuk melihat apakah TAK berhasil dilakukan atau tidak. Teknik Analisis Data Menggunakan jenis pendekatan studi kasus yaitu jenis pendekatan untuk menyelidiki untuk memahami sebuah kejadian atau masalah yang telah terjadi dengan mengumpulkan berbagai macam informasi yang kemudian diolah untuk mendapatkan sebuah solusi agar masalah yang diungkap segera terselesaikan. Tehnik analisa data dalam laporan ini yaitu dari wawancara, kemudian melakukan observasi terhadap terapi yang diberikan kepada klien sesuai dengan kebutuhan HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada tahap evaluasi keperawatan penulis menggunakan lembar observasi pada kedua klien dimana evaluasi dilakukan setelah terapai aktivitas kelompok bermain kartru selelsi diaman lembar observasi terdap 10 item yang harus di nilai dari repon kedua klien. Berdasarkan lembar observasi yang dinilai dari kedu klien terdapat perbedan diman klien I Tn AuAAy mengalami peningkatan dimana klien sudah bisa berkenalan dan berinteraksi dengan orang lain walupun klien masih belum bisa memberikan tanggapan ataupun memberikan penilaian kepada orang lain, sedangkan klien II TnAySAy mengalami peningkatan dimana klien mampuh untuk berkenalan dan berinteraksi dengan orang lain walupun klien masih terlihat gugup dan belum bisa memberikan tanggapan ataupun penilaian kepada orang lain. Adapun evaluasi pada kedu klien setelah dilakukan strategi pelaksan dan terapi aktivitas kelompok bermain kartu yang dimulai dari tanggal 05/04/2023 sampai 13/04/2023 disimpulkan sebagai berikut : dari klien I Tn AuAAy data subjektif : klien mengatakan Sudah bisa berkenalan dengan orang lain secara mandiri, klien mengatakan senang bisa berkenalan dengan orang lain, klien mengatakan senang bisa mengikuti kegian aktivtas kelompok bermain kartu, data objektif : klien tanpak terlihat tenang saat berkenalan dengan orang lain, klien tampak terlihat senang dan gembira bisa berkenalan dengan orang lain, klien tampak terlihat tenang saat mengikuti kegiatan terapi aktivitas kelompok bermain kartu, kontak mata klien . A : Masalah tetatasi sebagian. P : Intervensi Pada klien II Tn AuSAy data subjektif : klien mengatakan masih malumalu untuk berkenalan dengan orang lain, klien mengatakan masih gugup saat berkenalan dengan orang lain, klien mengatakan senang bisa memgikuti kegiatan terapai aktivitas kelompok bermain kartu, klien mengatakan bisa memiliki banyak teman, data objektif : klien tampak terlihat gugup didepan orang lain, klien tampak terlihat senang memiliki banyak teman, klien tampak terlihat sesekali menunduk, kontak mata klien masih kurang. A : masalah teratasi sebagian. P : Intervemsi dipertahankan. Berdasarkan lembar observasi diatas kemampuan sosialiasi mengalami Tn. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Riko Sandra P. Diana H. Dibuktikan melakukan interaksi sosial dengan orang lain, klien dapat menjalin hubungan interpersonal, klien dapat merasakkan Untuk terapi aktivitas kelompok permainan kuartet fokus pada peningkatan kemampuan klien dalam kaitanya sosialisasi dan penurunan tanda dan gejala. Pada peningkatan kemampuan sosialisasi dapat terjadi karena klien telah memperbaiki kemampuan sosialisasi nya. Hasil evaluasi pemberian terapi aktivitas mengatakan senang, klien mengatakan kelompok permainan kuartet temannya menjadi banyak. Sedangkan data objektif klien tampak mengikuti terapi aktivitas kelompok permainan kuartet dengan sungguh, klien tam pak kooperatif, klien tampak berinteraksi dengan yang lain, afek datar berkurang, terdapat kotak mata, dan menggunakan bahasa tubuh yang baik dari awal sampai akhir (Cahyaningsih et al. KESIMPULAN Setelah penulis melakukan penelitian pada kedua klien Tn AuAAy dan Tn AuSAy dengan masalah isolasi sosial menarik diri di Rumah Sakit Ernaldi Bahar Palembang Tahun 2023, yang dilalukan selama kurang lebih 2 minggu dan 3 hari dalam malakukan terapi aktivitas kelompok kesimpulan sebagai berikut : Dari hasil pengkajian kedua klien yaitu Tn AuAAy dan Tn AuSAy yang memiliki masalah yang sama isolasi sosial menaraik diri dimana ada perbedaan dengan teori pengkajian dikarnakan klien sudah pernah melakukan pengobatan dimasa lalu. Ditemukan diagnosa keperawatan pada kedua klien dari 8 diagnosa teori, pada Tn AuAAy ada 4 diagnosa yang sama sedangkan pada Tn AuSAy ada 3 diagnosa yang sama d dan penulis memperiaritaskan diagnose utama yaitu isolasi sosial meneraik diri. intervensi keperawatan pada kedua klien yaitu dengan malakukan strategi pelaksanaan SP I sampai dengan SP VI yaitu mengejarkan kedua klien cara berkenalan dengan orang lain dan terapi aktivitas kelompok bermain Tindakan impelemtasi dapat dilakukan sesuai dengan intervesni yang sudah Dari hasil evaluasi terdapat perbedaan respon kedua klien pada saat impelentasi keperawatan dilakukan. SARAN Penulis menyarakan agar rumah menyediakan fasilitas alat-alat pelaksanaan tindakan keperawatan yang lebih memadai dan lebih lengkap. Selain itu rumah sakit bisa memberikan pelayanan yang lebih baik lagi pada pasien. Diharapkan dapat melakukan tindakan sesuai dengan teori yang ada. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang terlibat dalam pembuatan penelitian ini serta telah memberi dukungan terhadap penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA