Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2023 Hubungan Faktor Lingkungan dan Sosiodemografi dengan Kejadian Penyakit Diare pada Balita Nurul Aziza1. Nova Mega Rukmana2 Program Studi Kesehatan Masyarakat. Universitas Mitra Indonesia e-mail: nurul@umitra. Abstract Diarrhea disease is the third main contributor to child morbidity and mortality in Indonesia. The results of surveillance for disease eradication by the Bandar Lampung City Health Service in 2020 with diarrhea were 4,127 cases out of 192,843 residents of Bandar Lampung City as a whole. Cases of diarrheal disease at the Gedong Air Community Health Center in Bandar Lampung City will increase in 2021, 470 cases of diarrhea were found in toddlers, while there were 158 cases of >5 years old. This type of research is quantitative with a cross sectional The population is all mothers who have toddlers who live in the working area of the Gedong Air Health Center in 2022, namely 2867 toddlers and a sample of 97 people, the sampling technique used is the total population technique. Analysis of statistical test data Chisquare (X. The results of the study showed that there was a relationship between sources of drinking water, latrine ownership, mother's education, mother's knowledge and age with the incidence of diarrhea in children under five in the working area of the Gedong Air Health Center. There is no relationship between work and mother's education with the incidence of diarrhea in children under five in the working area of the Gedong Air Health Center. Suggestions, it is necessary to pay attention to the availability of good drinking water, the availability of latrines, increase the mother's knowledge so that it can minimize the incidence of diarrhea and pay attention to the factors of work and mother's education in preventing and caring for children under five with diarrhea. Keywords : Sociodemography, diarrhea, toddler, environment Abstrak Penyakit diare merupakan penyumbang utama ketiga angka kesakitan dan kematian anak di Indonesia. Hasil survelans pemberantasan penyakit Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung tahun 2020 penderita diare sebanyak 4. 127 kasus dari 192. 843 jiwa penduduk Kota Bandar Lampung secara keseluruhan. Kasus penyakit diare di Pukesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung meningkat pada tahun 2021 ditemukan penderita diare sebanyak 470 kasus pada balita sedangkan pada umur >5 tahun terdapat sebanyak 158 kasus. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh ibu yang memiliki balita yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Gedong Air pada Tahun 2022 yaitu 2867 balita dan sampel sebanyak 97 orang, teknik sampling yang digunakan dengan teknik total populasi. Analisis data uji statistik Chi-square (X. Hasil penelitian ada hubungan sumber air minum, kepemilikan jamban, pendidikan ibu, pengetahuan ibu dan usia dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Gedong Air. Tidak ada hubungan pekerjaan dan pendidikan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Gedong Air. Saran, perlu diperhatikan ketersediaan air minum yang baik, ketersediaan jamban, peningkatan pengetahuan ibu sehingga dapat meminimalkan kejadian diare dan memperhatikan faktor pekerjaan dan pendidikan ibu dalam mencegah dan merawat anak balita diare. Kata Kunci : Sosiodemografi, diare, balita, lingkungan PENDAHULUAN Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS), penyakit diare menempati posisi keduater banyak penyebab kematian balita usia 12 -59 bulan setelah Pneumonia. Insident Rate (IR) penyakit diare cenderung meningkat dari tahun ketahun, pada tahun 2000 IR diare sebesar 301/1000 penduduk. Tahun 2016 IR diare menjadi 374/1000 penduduk, tahun 2017 naikmenjadi 423/1000 penduduk dan tahun 2018 menjadi 411/1000 penduduk (RISKESDAS, 2. Berdasarkan 10 penyakit terbesar dinas HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN DAN SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT DIARE PADA BALITA (NURUL AZIZA) Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2023 kesehatan provinsi Lampung tahun 2012 jumlah kasus diare sebanyak 28. 36%). Angka kesakitan diare untuk semua kelompok umur di Provinsi Lampung dari tahun 2015 Ae 2021 cenderung meningkat, yaitu dari 9,8 per 1000 penduduk menjadi 18,24 per 1000 penduduk tahun 2021 (Profil DINKES Prov. Lampung 2. UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyaraka. penyuluhan pembinaan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Seha. merupakan salah satu bentuk upaya untuk penanggulangan diare yang telah dilakukan puskesmas Simpang Pematang. Ada beberapa penyebab yang berkaitan dengan kejadian diare yaitu tentang kepemilikan sanitasi dasar yang tidak memadainya penyediaan air bersih, air tercemar oleh tinja, kekurangan sarana kebersihan, pembuangan tinja yang tidak higienis, kebersihan perorangan dan lingkungan yang jelek, serta penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak semestinya (Sander, 2. Banyak faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menjadi faktor pendorong terjadinya diare, terdiri dari faktor agent, penjamu, lingkungan dan sosiodemografi. Faktor penjamu yang menyebabkan meningkatnya kerentanan terhadap diare, diantaranya tidak memberikan ASI selama 2 tahun, kurang gizi, penyakit campak, dan imunodefisiensi. Sanitasi dasar yang paling dominan yaitu sarana penyediaan air bersih dan pembuangan tinja, kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula, maka penularan diare dengan mudah dapat terjadi. Tujuan Penelitian adalah mengetahui distribusi frekuensi kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung, mengetahui distribusi frekuensi faktor lingkungan . umber air minum dan kepemilikan jamban keluarg. dan distribusi frekuensi faktor sosiodemografi . sia ibu, pengetahuan ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ib. di wilayah kerja Puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung mengetahui hubungan faktor lingkungan . umber air minum dan kepemilikan jamban keluarg. dan faktor sosiodemografi . sia ibu, pengetahuan ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ib. terhadap kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung. Hasil penelitian Yulisa . , diketahui bahwa ada pengaruh tingkat pendidikan, sumber air minum, kualitas fisikair minum, jenis jamban keluarga, jenis lantai rumah serta tidak ada pengaruh jenis pekerjaan dengan kejadian diare pada anak balita. Sedangkan hasil penelitian Irianto,dkk . , diketahui bahwa factor sosiodemografi yang mempengaruhi kejadian diare pada balita yaitu pendidikan orang tua, pekerjaan ibu dan umur anak balita merupakan factor yang dominan dalam mempengaruhi kejadian diare pada balita, sedangkan umur ibu tidak berhubungan dengan kejadian diare pada balita. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui hubungan faktor lingkungan dan factor sosiodemografi dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung METODE PENELITIAN Desain penelitian dengan pendekatan cross sectional yaitu peneliti melakukan observasi atau pengukuran variabel pada satu saat tertentu. Populasi pada penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita di wilayah kerja Puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung sebanyak 2867 disederhanakan menggunakan rumus slovin menjadi 97 orang. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Pengumpulan data dilakukan dengan pengumpulan data primer. Pengukuran faktor lingkungan dan Faktor sosiodemografi dengan kejadian diare pada balita dalam satu saat bukan berarti semua obyek diamati tepat dalam waktu yang sama, tetapi artinya tiap subyek hanya di observasi satu kali saja dan pengukuran variabel subyek dilakukan pada saat pemeriksaan tersebut. Rancangan penelitian ini bersifat studi analitik. Peneliti akan melakukan pengukuran variabel independen dan dependen, kemudian akan menganalisis data yang terkumpul untuk mencari hubungan antara variabel. Menguji hubungan antar variabel independen faktor lingkungan dan faktor sosiodemografi dengan variabel dependen yakni kejadian diare pada balita menggunakan uji analisis Chi Square. Hipotesa penelitian dijawab dengan membandingkan p -value yang didapat dengan nilai yang ditetapkan 0,05. HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN DAN SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT DIARE PADA BALITA (NURUL AZIZA) Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2023 HASIL DAN PEMBAHASAN Kejadian Diare Tabel 1 Distribusi Frekuensi Kejadian Diare Kejadian Diare Jumlah Persentase (%) Tidak diare Diare Jumlah Berdasarkan hasil penelitian kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Gedong Air sebanyak 22 orang . ,7%). Faktor sumber air minum dan pengetahuan ibu merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung tahun 2022. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yulisir . tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit diare pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Dayamurni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Daya Murni tahun 2012 sebanyak 53 orang . ,2%). Sedangkan selebihnya tidak mengalami diare yaitu sebanyak 67 orang . ,8%). Hubungan Sumber Air Minum Dengan Kejadian Diare Tabel 2 Hubungan Sumber Air Minum Dengan Kejadian Diare Kejadian Diare POR Sumber Air Total p-value 95% CI Diare Tidak Diare Minum Tidak Baik 17 32,1 0,029 3,683 Baik . ,232-11,. Jumlah 22 22,7 Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada sebanyak 11,4% responden dengan sumber air yang baik terjadi diare, sedangkan responden yang memiliki sumber air minum tidak baik dan mengalami diare sebanyak 32,1 %. Hasil uji statistik diperoleh nilai p sebesar 0,029 . ebih kecil dari nilai alpha = 0,. yang berarti Ho ditolak sehingga disimpulkan ada hubungan yang bermakna . sumber air minum dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung. Berdasarkan hasil analisis juga diperoleh nilai POR = 3,683 responden dengan sumber air minum yang tidak baik memiliki risiko mengalami diare sebanyak 3,683 kali dibandingkan dengan responden dengan sumber air minum yang baik. Hal ini sejalan dengan penelitian Cahyono . yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sarana air bersih dengan kejadian diare pada Balita. Hubungan Jamban Dengan Kejadian Diare Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada sebanyak 17,3% responden dengan kepemilikan jamban yang baik terjadi diare, sedangkan responden yang memiliki jamban tidak baik dan mengalami diare sebanyak 28,9 %. Hasil uji statistik diperoleh nilai p sebesar 0,026 . ebih kecil dari nilai alpha = 0,. yang berarti Ho ditolak sehingga disimpulkan ada hubungan yang bermakna . kepemilikan jamban dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung. Berdasarkan hasil analisis juga diperoleh nilai POR = 1,941 responden dengan kepemilikan jamban yang tidak baik memiliki risiko mengalami diare sebanyak 1,941 kali dibandingkan dengan responden dengan kepemilikan jamban yang baik. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Novalia . , menyebutkan HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN DAN SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT DIARE PADA BALITA (NURUL AZIZA) Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2023 bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya diare pada balita di Wilayah Puskesmas Kupang Teba Bandar Lampung terdiri dari 2 faktor, yaitu faktor perilaku sehat keluarga dan lingkungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara faktor perilaku sehat keluarga dan lingkungan terhadap terjadinya diare pada balita di Wilayah Puskesmas Kupang Teba Bandar Lampung tahun 2016. Jamban Tidak Baik Baik Jumlah Tabel 3 Hubungan Jamban Dengan Kejadian Diare Kejadian Diare Total p-value Diare Tidak Diare 28,9 32 71,1 45 100 0,026 17,3 43 82,7 52 100 22,7 75 3 97 100 POR 95% CI 1,941 ,739Ae5,. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada sebanyak 17,3% responden dengan kepemilikan jamban yang baik terjadi diare, sedangkan responden yang memiliki jamban tidak baik dan mengalami diare sebanyak 28,9 %. Hasil uji statistik diperoleh nilai p sebesar 0,026 . ebih kecil dari nilai alpha = 0,. yang berarti Ho ditolak sehingga disimpulkan ada hubungan yang bermakna . kepemilikan jamban dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung. Berdasarkan hasil analisis juga diperoleh nilai POR = 1,941 responden dengan kepemilikan jamban yang tidak baik memiliki risiko mengalami diare sebanyak 1,941 kali dibandingkan dengan responden dengan kepemilikan jamban yang baik. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Novalia . , menyebutkan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya diare pada balita di Wilayah Puskesmas Kupang Teba Bandar Lampung terdiri dari 2 faktor, yaitu faktor perilaku sehat keluarga dan lingkungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara faktor perilaku sehat keluarga dan lingkungan terhadap terjadinya diare pada balita di Wilayah Puskesmas Kupang Teba Bandar Lampung tahun 2016. Hubungan Usia Ibu Dengan Kejadian Diare Usia ibu O 18 tahun > 18 tahun Jumlah Tabel 4 Hubungan Usia Ibu Dengan Kejadian Diare Kejadian Diare Total p-value Diare Tidak Diare 0,013 POR 95% CI 1,364 ,136Ae3,. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada sebanyak 35,5% responden dengan usia > 18 tahun yang balitanya mengalami diare, sedangkan responden dengan usia O 18 tahun dan balitanya mengalami diare sebanyak 16,7 %. Hasil uji statistik diperoleh nilai p sebesar 0,013 . ebih kecil dari nilai alpha = 0,. yang berarti Ho ditolak sehingga disimpulkan ada hubungan yang bermakna . usia ibu dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung. Berdasarkan hasil analisis juga diperoleh nilai POR = 1,364 responden dengan usia O 18 tahun memiliki risiko balitanya mengalami diare sebanyak 1,364 kali dibandingkan dengan responden dengan usia > 18 tahun HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN DAN SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT DIARE PADA BALITA (NURUL AZIZA) Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2023 Hubungan Pendidikan Ibu Dengan Kejadian Diare Pendidikan Rendah Tinggi Jumlah Tabel 5 Hubungan Pendidikan Ibu Dengan Kejadian Diare Kejadian Diare POR Total p-value 95% CI Diare Tidak Diare 0,580 1,481 . ,566Ae3,. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada sebanyak 20,0% responden dengan pendidikan tinggi yang balitanya mengalami diare, sedangkan responden dengan pendidikan rendah dan balitanya mengalami diare sebanyak 27,0 %. Hasil uji statistik diperoleh nilai p sebesar 0,580 . ebih besar dari nilai alpha = 0,. yang berarti Ho gagal ditolak sehingga disimpulkan tidak ada hubungan pendidikan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung. Berdasarkan hasil analisis juga diperoleh nilai POR = 1,481 responden dengan pendidikan rendah memiliki risiko balitanya mengalami diare sebanyak 1,481 kali dibandingkan dengan responden yang berpendidkan. Hubungan Pekerjaan Ibu Dengan Kejadian Diare Pekerjaan ibu Bekerja Tidak bekerja Jumlah Tabel 6 Hubungan Pekerjaan Ibu Dengan Kejadian Diare Kejadian Diare Total p-value Diare Tidak Diare 1,000 POR 95% CI 0,905 ,309Ae2,. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada sebanyak 24,0% responden tidak bekerja yang balitanya mengalami diare, sedangkan responden bekerja dan balitanya mengalami diare sebanyak 22,2 %. Hasil uji statistik diperoleh nilai p sebesar 1,000 . ebih besar dari nilai alpha = 0,. yang berarti Ho gagal ditolak sehingga disimpulkan tidak ada hubungan pekerjaan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung. Berdasarkan hasil analisis juga diperoleh nilai POR = 0,905 responden yang bekerja memiliki risiko balitanya mengalami diare sebanyak 0,905 kali dibandingkan dengan responden yang tidak bekerja Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Kejadian Diare Tabel 7 Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Kejadian Diare Kejadian Diare Pengetahuan Total p-value Diare Tidak Diare Ibu Tidak baik 0,000 Baik Jumlah POR 95% CI 9,563 ,916Ae31,. HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN DAN SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT DIARE PADA BALITA (NURUL AZIZA) Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2023 Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada sebanyak 7,3% responden dengan pengetahuan baik yang balitanya mengalami diare, sedangkan responden dengan pengetahuan tidak baik dan balitanya mengalami diare sebanyak 42,9 %. Hasil uji statistik diperoleh nilai p sebesar 0,000 . ebih kecil dari nilai alpha = 0,. yang berarti Ho ditolak sehingga disimpulkan ada hubungan yang bermakna . pengetahuan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Simpang Pematang. Kabupaten Mesuji. Berdasarkan hasil analisis juga diperoleh nilai POR = 9,563 responden dengan pengetahuan tidak baik memiliki risiko balitanya mengalami diare sebanyak 9,563 kali dibandingkan dengan pengetahuan baik. PEMBAHASAN Kejadian Diare Berdasarkan hasil penelitian kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung sebanyak 22 orang . ,7%). Diare merupakan buang air besar lembek atau cair dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya . iasanya tiga kali atau lebih dalam sehari (Kemenkes RI 2. Sedangkan diare adalah perubahan frekuensi dan konsistensi tinja. WHO pada tahun 2008 mendefinisikan diare sebagai berak cair tiga kali atau lebih dalam sehari semalam . para ibu mempunyai istilah tersendiri seperti lembek, cair, berdarah, berlendir, atau dengan muntah . Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yulisir . tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit diare pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Dayamurni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Daya Murni tahun 2012 sebanyak 53 orang . ,2%). Sedangkan selebihnya tidak mengalami diare yaitu sebanyak 67 orang . ,8%). Penyakit diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, hal ini disebabkan karena masih tingginya angka kesakitan diare yang menimbulkan banyak kematian terutama pada balita, seperti halnya kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Gedong Air yang masih cukup tinggi di karenakan masih kurang nya pengetahuan warga sekitar tentang pencegahan diare Hubungan Sumber Air Minum Dengan Kejadian Diare Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada sebanyak 11,4% responden dengan sumber air yang baik terjadi diare, sedangkan responden yang memiliki sumber air minum tidak baik dan mengalami diare sebanyak 32,1 %. Hasil uji statistik diperoleh nilai p sebesar 0,029 . ebih kecil dari nilai alpha = 0,. yang berarti Ho ditolak sehingga disimpulkan ada hubungan yang bermakna . sumber air minum dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung. Air merupakan salah satu kebutuhan hidup yang mendasar,tanpa air berbagai proses kehidupan tidak akan berlangsung. Oleh karena itu penyediaan air merupakan salah satu kebutuhan utama bagi marusia untuk kelangsungan hidup dan faktor penentu dalam kesehatan dan kesejahteraan manusia. Kualitas air bersih ditentukan oleh besarnya perbedaan susunan atau sifat-sifat air, susunan kandungan maupun besarnya setiap jenis unsur yang terkandung, harus tidak menimbulkan gangguan kesehatan yang merugikan secara mendadak atau menahun apabira air tersebut di minum peirduduk (Kusnoputranto, 2. Berdasarkan hasil penelitian Kartini . bahwa balita yang rnempunyai sarana air bersih yang kurang baik beresiko 2,9 kali terhadap diare dibandingkan dengan balita yang mempunyai sarana air bersih yang baik. Hal ini sejalan dengan penelitian Cahyono . yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sarana air bersih dengan kejadian diare pada Balita. Dari hasil penelitian didaptkan bahwa air yang terdapat pada rumah setempat tidak jernih banyak terdapat endapan tanah sehingga perlu dilakukan HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN DAN SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT DIARE PADA BALITA (NURUL AZIZA) Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2023 Hubungan Jamban Dengan Kejadian Diare Berdasarkan hasil penelitiandiketahui bahwa ada sebanyak 17,3% responden dengan kepemilikan jamban yang baik terjadi diare, sedangkan responden yang memiliki jamban tidak baik dan mengalami diare sebanyak 28,9 %. Hasil uji statistik diperoleh nilai p sebesar 0,026 . ebih kecil dari nilai alpha = 0,. yang berarti Ho ditolak sehingga disimpulkan ada hubungan yang bermakna . kepemilikan jamban dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Gedong Air. Kotoran yang dipandang sebagaibenda yang membahayakan kesehatan, sebagai sumber penularan penyakit. Di dalam kotoran manusia terdapat terdapat berbagai macam kuman penyakit seperti: thypus abdominalis, kholera, disentri, serta berbagai cacing. Untuk mencegah penularan dan penyebaran penyakit kotoran tersebut harus dibuang menurut aturan (Kemenkes 2. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Novalia . , menyebutkan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya diare pada balita di Wilayah Puskesmas Kupang Teba Bandar Lampung terdiri dari 2 faktor, yaitu faktor perilaku sehat keluarga dan lingkungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara faktor perilaku sehat keluarga dan lingkungan terhadap terjadinya diare pada balita di Wilayah Puskesmas Kupang Teba Bandar Lampung tahun 2016. Kondisi jamban yang buruk atau tidak memenuhi syarat kesehatan hal ini bisa menjadi tempat perkembangbiakan vektor dan dapat menyebabkan berpindahnya penyakit pada manusia yang dibawa oleh vektor pembawa penyakit sehingga terjadi suatu penyakit tertentu khususnya diare pada anak balita. Selain itu dengan kondisi jamban yang buruk menjadi salah satu penyebaran sumber penyakit dari jamban ke sumber air yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat dan pada akhirnya meningkatkan risiko terjadinya penyakit berbasis lingkungan khususnya diare. Hubungan Usia Ibu Dengan Kejadian Diare Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada sebanyak 35,5% responden dengan usia > 18 tahun yang balitanya mengalamidiare, sedangkan responden dengan usia O 18 tahun dan balitanya mengalami diare sebanyak 16,7 %. Hasil uji statistik diperoleh nilai p sebesar 0,013 . ebih kecil dari nilai alpha = 0,. yang berarti Ho ditolak sehingga disimpulkan ada hubungan yang bermakna . usia ibu dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung. Usia mempunyai lebih banyak efek pengganggu dari pada yang dimiliki karakter tunggal lain. Usia merupakan salah satu variabel terkuat yang dipakai untuk memprediksi perbedaan dalam hal penyakit, kondisi, dan peristiwa kesehatan,dan karena saling diperbandingkan maka kekuatan variabel usia menjadi mudah dilihat (Widyastuti. Hubungan Pendidikan Ibu Dengan Kejadian Diare Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada sebanyak 20,0% responden dengan pendidikan tinggi yang balitanya mengalamidiare, sedangkan responden dengan pendidikan rendah dan balitanya mengalami diare sebanyak 27,0 %. Hasil uji statistik diperoleh nilai p sebesar 0,580 . ebih besar dari nilai alpha = 0,. yang berarti Ho gagal ditolak sehingga disimpulkan tidak ada hubungan pendidikan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung. Pengertian tingkat pendidikan menurut UU No. 20 tahun 2003 yaitu tentang sistem pendidikan nasional yang berupa usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau peserta didiksecara aktif mengembangkan potensi dirinya untukmemiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendaian diri, kepribadian, kecerdasan, akhak mulia serta keterampilan yang diperukan darinya masyarakat, bangsa dan negara. penelitian ini pendidikan tidak mempunyai pengaruh terhadap kejadian diare pada anak balita. Adanya kesenjangan ini disebabkan oleh karena lamanya atau tingginya pendidikan seseorang belum tentu menjamin pengetahuannya pun tinggi khususnya mengenai penanganan diare pada balita. Hal ini terbukti pada pada penelitian ini dimana responden dengan pendidikan yang tinggi masih terdapat anak balitanya yang mengalami HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN DAN SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT DIARE PADA BALITA (NURUL AZIZA) Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2023 Sehingga dalam penelitian ini disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna pendidikan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Simpang Pematang. Kabupaten Mesuji. Hubungan Pekerjaan Ibu Dengan Kejadian Diare Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada sebanyak 24,0% responden tidak bekerja yang balitanya mengalamidiare, sedangkan responden bekerja dan balitanya mengalami diare sebanyak 22,2 %. Hasil uji statistik diperoleh nilai p sebesar 1,000 . ebih besar dari nilai alpha = 0,. yang berarti Ho gagal ditolak sehingga disimpulkan tidak ada hubungan pekerjaan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung Pekerjaan adalah aktifitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi Dalam pembicaraan sehari-hari istilah ini sering dianggap sinonim dengan profesi. Karakteristik pekerjaan seseorang dapat mencerminkan pendapatan, status sosial, pendidikan, status sosialekonomi, risiko cedera atau masalah kesehatan dalam suatu kelompok populasi. Pekerjaan juga merupakan suatu determinan risikodan determinan terpapar yang khusus dalambidang pekerjaan tertentu serta merupakan prediktorstatus kesehatan dan kondisi tempat suatu populasi bekerja (Hasnuddin 2. Ibu yang bekerja memiliki waktu yang lebih sedikit untuk merawat anak balitanya yang terserang diare,dengan adanya aktivitas diluar rumah, menjadikan kegiatan untuk mengasuh dan merawat balita terbatas, responden kemungkinan dibantu oleh keluarganya. Pola asuh yang dilakukan kepada balita selain dari ibu juga dari keluarganya sehingga kemungkinan terjadi perubahan pola pengasuhan. Sehingga hal ini dapat membuktikan ibu yang bekerja belum tentu mempunyai risiko anak balitanya terserang Sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan tidak ada hubungan pekerjaan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Kejadian Diare Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada sebanyak 7,3% responden dengan pengetahuan baik yang balitanya mengalamidiare, sedangkan responden dengan pengetahuan tidak baik dan balitanya mengalami diare sebanyak 42,9 %. Hasil uji statistik diperoleh nilai p sebesar 0,000 . ebih kecil dari nilai alpha = 0,. yang berarti Ho ditolak sehingga disimpulkan ada hubungan yang bermakna . pengetahuan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Gedong Air Kota Bandar Lampung. Menurut pendapat Handoko dan Suharyono dalam Septi . , untuk mendukung upaya penurunan angka kesakitan penyakit diare dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya pendidikan dan pengetahuan Salah satu faktor resiko yang ikut berperan dalam timbulnya diare kebanyakan karena kurang pengetahuan orang tua tentang hal-hal yang dapat menimbulkan diare terutama menyangkut Au4 FAy (Finger. Feces. Food danFl. Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin baik pengetahuan ibu mengenai diare, maka diharapkan perilaku ibu dalam mencergah dan menanggulangi diare pada anak balitanya semakin baik. Pengetahuan ibu ini dapat diperoleh secara formal seperti sekolah dan informasi lain seperti surat kabar, majalah, internet dan hasil konseling dengan tenaga Hal ini terbukti dengan hasil penelitian ini yang menunjukan bahwa disimpulkan ada hubungan yang bermakna . pengetahuan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja puskesmas Simpang Pematang. Kabupaten Mesuji. KESIMPULAN Ada hubungan sumber air minum dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Simpang Pematang. Kabupaten Mesuji . -value = 0,. POR = 3,683. Ada hubungan kepemilikan jamban dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Simpang Pematang. Kabupaten Mesuji . -value = 0,. POR = 1,941. Tidak ada hubungan pendidikan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Simpang Pematang. Kabupaten HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN DAN SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT DIARE PADA BALITA (NURUL AZIZA) Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2023 Mesuji . -value = 0,. POR = 1,481. Ada hubungan pengetahuan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Simpang Pematang. Kabupaten Mesuji . -value = 0,. POR = 9,563. Tidak ada hubungan pekerjaan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Simpang Pematang. Kabupaten Mesuji . -value = 1,. POR = 0,906. Ada hubungan usia ibu dengan kejadian diare pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Simpang Pematang. Kabupaten Mesuji . -value =0,. POR = 1,364. DAFTAR PUSTAKA