Jurnal Ilmiah IKIP Mataram https://ojs. id/index. php/jiim September 2021. Vol. No. p-ISSN: 2355-6358 e-ISSN: 2774-938X Isolasi Antosianin dalam Kulit Terung Ungu Sebagai Biosensor Kandungan Boraks Pada Cilok . Andri Sahria, . Nadia Febriani, . Ahmad Aris Arifin, . *Dwi Sabda Budi Prasetya 1 & . Program Studi Pendidikan Fisika. FSTT. UNDIKMA . Program Studi Pendidikan Kimia. FSTT. UNDIKMA . Program Studi Pendidikan Biologi. FSTT. UNDIKMA *Corresponding Author e-mail: dwisabda@ikipmataram. Diterima: September 2021. Direvisi: September 2021. Dipublikasi: September 2021 Abstrak Cilok merupakan salah satu makanan yang sangat digemari oleh masyarakat di Pulau Lombok khususnya di Kota Mataram. Kepopuleran makanan ini sering kali dimanfaatkan oleh para pedagang yang tidak bertanggung jawab dengan menambahkan bahan pengawet yaitu boraks agar cilok yang dijual dapat tahan lama. Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada tahun 2011 mengadakan pengujian laboratorium mencangkup wilayah Bandung. Jakarta. Surabaya, dan salah satunya Mataram dengan pengambilan sebanyak 20. Hasil uji laboratorium menunjukkan 14,15% sampel tidak memenuhi persayaratan, diantaranya 138 sampel mengandung boraks. Kandungan boraks pada cilok dapat dideteksi menggunakan senyawa antosianin yang terdapat pada beberapa sayuran seperti terung ungu (Solanum molongena L. Berdasarkan kondisi di atas, maka telah dilakukan penelitian dengan tujuan melakukan isolasi senyawa antosianin dalam kulit terung ungu (Solanum melongena L. ) yang akan digunakan sebagai biosensor alami untuk mendeteksi kandungan boraks pada cilok. Untuk mencapai tujuan tersebut, dalam penelitian ini dilakukan Kulit terung ungu di maserasi sehingga didapatkan ekstrak kental berwarna oranye kecoklatan. Ekstrak antosianin kulit terong ungu yang telah diperoleh kemudian diaplikasikan untuk mendeteksi kandungan Dilakukan dengan pengabsorpsian ekstrak antosianin kulit terong ungu ke dalam indikator kertas saring dengan cara merendamnya selama 20 menit, dalam hal ini digunakan dua jenis kertas saring yang berbeda, yakni kertas saring biasa dan kertas saring whatmann No. 42 yang dipotong kecil berukuran 2x3 cm. Dan Berdasarkan hasil pengujian tersebut, di dapatkan hasil bahwa kertas yang cocok untuk dijadikan indikator kandungan boraks yakni kertas saring whatmann No. 42 dengan konsentrasi boraks 10%. Kata kunci: Terong. Antosianin. Boraks. Cilok. Biosensor. Sitasi: Sahria. Febriani. Arifin. Prasetya. Isolasi Antosianin dalam Kulit Terung Ungu Sebagai Biosensor Kandungan Boraks Pada Cilok: Jurnal Ilmiah IKIP Mataram. PENDAHULUAN Cilok merupakan salah satu makanan yang sangat digemari oleh masyarakat di Pulau Lombok khususnya di Kota Mataram. Makanan ini memiliki tekstur kenyal karena terbuat dari tepung tapioka, telur, dan gilingan Meski berasal dari Jawa Barat, tidak dapat dipungkiri jika tingkat konsumsi makanan yang menyerupai bakso ini sangat tinggi ditandai dengan menjamurnya para pedagang cilok di pinggiran jalan. Hal ini sering kali dimanfaatkan oleh para pedagang yang tidak bertanggung jawab dengan menambahkan bahan pengawet yaitu boraks agar cilok yang dijual dapat tahan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada tahun 2011 Jurnal Ilmiah IKIP Mataram | Volume 8. Nomor 2, 2021 mengadakan pengujian laboratorium mencangkup wilayah Bandung. Jakarta. Surabaya, dan salah satunya Mataram dengan pengambilan sebanyak 20. sampel pangan lalu melakukan pengujian di laboratorium. Secara keseluruhan sebanyak 14,15% sampel tidak memenuhi persayaratan, dimana salah satunya 138 sampel mengandung boraks (Supardan, 2. Kementrian Kesehatan RI No. 235/Menkes/VI/1983 telah melarang penggunaan Natrium Tetraborate (Borak. dalam makanan, agar makanan menjadi kenyal, kesat, dan tahan lama. Terung Ungu (Solanum melongena L. ) merupakan salah satu jenis sayursayuran yang mudah di jumpai di Indonesia sejak zaman dahulu . Adanya senyawa antosianin yang cukup mendominasi pada bagian kulit berpengaruh dalam pemberian pigmen warna ungu pada terung ungu. Penelitian yang dilakukan oleh (Silitonga dan Sitorus, 2. disimpulkan bahwa pigmen antosianin dalam terung ungu berada pada kondisi optimum enkapsulasi pada konstrasi maltodekstrin 50% . dalam pelarut pembawa dimana diperoleh efisiensi tertinggi yaitu 63,85%. Di Indonesia, pemanfaatan terung ungu belum dimanfaatkan dengan baik terutama pada bagian kulit. Jika merujuk pada kandungan senyawa yang terkandung, senyawa antosianin sensitif terhadap boraks dengan sensitivitas deteksi pada kisaran 50-500 ppm (Sunarti, dkk. Sehingga melihat potensi senyawa antosianin pada kulit terung ungu dan banyaknya pedagang cilok yang menggunakan boraks pada dagangannya, sehingga perlu dilakukan riset mengenai AuIsolasi Antosianin dalam Kulit Terung Ungu Sebagai Biosensor Kandungan Boraks Pada CilokAy Untuk memudahkan masyarakat dalam mendeteksi dan menyeleksi cilok yang tidak dapat dikonsumsi. Serta melalui penelitian ini diharapkan dapat mnghasilkan indikator uji baru dari bahan alami sebagai pendeteksi adanya kandungan boraks pada makanan cilok. METODE PENELITIAN Tahapan Penelitian Persiapan Alat Dan Bahan Preparasi Sampel Ekstraksi Sample Pembuatan Indikator dengan kerts saring biasa dan No. Pengukuran pH Pembuatan Larutan Boraks Pengujian Indikator kertas terhadap boraks Pengujian kandungan antosianin hasil ekstraksi dengan UV-VIS Uji Kandungan Analisis Data Boraks Pada Cilok Gambar 1. Alur Tahapan Penelitian Prosedur Penelitian Persiapan Alat Dan Bahan Bahan yang diperlukan adalah kulit terung ungu, asam asetat, boraks . atrium tetrabora. aquades, etanol 96%. Alat yang diperlukan adalah Jurnal Ilmiah IKIP Mataram | Volume 8. Nomor 2, 2021 blender . , spektrofotometer UV-VIS (Thermo Scientific. Genesys 10S. Jerma. , magnetic stirerr, kertas saring biasa, kertas saring whatmann No. 42, penangas air, pH meter (Beckma. , gelas arloji, gelas ukur, erlenmeyer, kamera digital, botol kaca gelap, dan bejana kaca digunakan untuk analisis. Preparasi sampel dan ekstraksi antosianin kulit terung ungu Langkah pertama preparasi sampel adalah memisahkan bagian kulit terung ungu dari dagingnya, lalu dicuci hingga bersih. Kulit terung ungu kemudian dimasak selama 7 menit, setelah itu dihaluskan dan dibekukan pada suhu -27oC. Sampel beku sebanyak 350 g dihaluskan dengan blender selama 3 menit dengan penambahan 700 mL pelarut . elarut : sampel = 1:. Pelarut terdiri dari etanol 96%, asam asetat, dan akuades dengan perbandingan masing-masing 25:1:5. Selanjutnya ekstrak ditiriskan dengan kain. Filtrat dipanaskan dalam penangas air pada suhu 50oC untuk menguapkan etanol sehingga diperoleh filtrat yang lebih pekat. Filtrat pigmen kemudian disaring menggunakan kertas saring. Selanjutnya filtrate diputar dengan magnetic stirerr selama 15 menit. Setelah itu, supernatant . asil dari diputar dengan magnetic stirerr dengan bobot jenis yang lebih renda. disimpan dalam botol kaca gelap di lemari es untuk analisis lebih lanjut. Identifikasi Kandungan Antosianin Dengan Spektrofotometer UV-VIS Pengujian kandungan antosianin dalam ekstrak kulit terong ungu yang telah diperoleh dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan pengenceran 2 kali dan 10 kali. Pembuatan Larutan Boraks Dan Pengukuran pH Boraks disiapkan sebagai larutan dengan konsentrasi 2% dan10% dan diukur dengan pH meter. Pengujian Antosianin Terhadap Boraks Dengan Indikator Kertas Ekstrak Antosianin kulit terung ungu diabsorpsikan kedalam indikator kertas, jenis kertas yang digunakan adalah kertas saring biasa dan kertas saring Whatmann No. 42 yang dipotong kecil kecil ukuran 2x3 cm, teknik pengabsorpsian dilakukan dengan metode perendaman dengan waktu 20 menit kemudian setelah itu ditiriskan dengan bantuan pinset dan ditunggu 15 menit hingga mengering. Hasil pengabsorpsian ekstraksi antosianin kedalam 2 variasi kertas saring kemudian direaksikan dengan boraks konsentrasi 2 % dan 10 % dengan cara meletakan kertas indikator di dalam gelas arloji kemudian ditetesi boraks sebanyak 1 tetes dan 2 tetes tengah tengah indikator kertas , kemudian tunggu 2 menit dan diamati perubahan warnanya. Uji Kandungan Boraks Pada Cilok Pengujian kandungan boraks pada cilok dilakukan dengan meneteskan ekstrak antosianin kulit terong ungu terhadap sample cilok yang digunakan. Perubahan yang terjadi sebelum dan sesudah di tetesi ekstrak antosianin kulit terong ungu, merujuk pada hasil pengujian yang telah dilakukan dengan indikator kertas saring whatmann No. Jurnal Ilmiah IKIP Mataram | Volume 8. Nomor 2, 2021 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Ekstraksi Antosianin Berdasarkan hasil ekstraksi senyawa antosianin pada kulit terong Ungu sebanyak 350 gram, yang dilakukan dengan metode blanching dan penambahan 700 ml pelarut yang terdiri dari etanol, asam asetat, dan aquades dengan perbandingan 24:1:5, didapatkan hasil ekstrak larutan berwarna oranye Hasil ekstrak yang berwarna oranye kocoklatan ini disebabkan adanya kandungan antosianin dengan jenis pelagornidin, dimana hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh novita sari dan Zidni . , yang menunjukkan warna hasil ekstraksi yang sama yakni berwarna oranye Antosianin dengan jenis pelagornidin tersebut berperan dalam member warna oranye, juga oranye merah hingga oranye kecoklatan. Gambar 2. Hasil ekstraksi antosianin kulit terong Ungu Identifikasi Kandungan Antosianin Dengan Spektrofotometer UV-VIS Untuk mengetahui ada tidaknya kandungan antosianin dalam ekstrak kulit terong ungu yang telah diperoleh, maka dilakukan pembuktian dengan pengujian kandungan antosianin menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, pengujian dilakukan sebanyak 3 kali dengan pengenceran 2 kali dan 10 kali, dan pada panjang gelombang yang Untuk pengenceran 2 kali pada panjang gelombang 400 nm Ae 700 nm, menunjukkan hasil absorbansi pada angka 0. 048 dengan panjang gelombang puncak sebesar 598. Sedangkan pada pengenceran 10 kali, pada panjang gelombang 250 nm Ae 400 nm, menunjukkan hasil absorbansi pada angka 4,538 dengan panjang gelombang puncak sebesar 282. Dan pada pengenceran 10 kali dengan panjang gelombang 250 nm - 700 nm, menunjukkan hasil absorbansi pada angka 4,238 dengan panjang gelombang puncak sebesar 283. Sehingga berdasarkan hasil pengujian pada panjang gelombang 250 nm - 700 nm dengan panjang gelombang puncak sebesar 283, dapat membuktikan bahwa adanya kandungan antosianin dari ekstrak kulit terong ungu yang telah Karena hasil yang diperoleh mendekati berdasarkan hasil penelitian Jurnal Ilmiah IKIP Mataram | Volume 8. Nomor 2, 2021 Priska, dkk . yang mengatakan bahwa antosianin terserap pada panjang gelombang 250 nm - 700 nm dengan panjang gelombang puncak sebesar 278. Gambar 3. Panjang Glombang (PG) 250 Ae 700. Absorbansi 4,238. PG Puncak 283 Hasil Uji Antosianin Terhadap Boraks Pengabsorpsian Ekstrak Kulit Terong Ungu Ke Dalam Indikator Kertas Kertas Saring Biasa Kertas Saring Whatmann No. Setelah Diabsorpsikan Setelah Diabsorpsikan Gambar 4. Ekstrak Kulit Terong Tabel 1. Indikator warna pada ekstrak antosianin Jenis Ekstrak Antosianin Warna Kertas Indikator Sebelum Diabsorpsikan Kulit Terong Ungu Putih Warna Sesudah Diabsorpsikan Kedalam Kertas Indikator Biasa Whatmann No. Gelap Kehijauan Putih Kehijauan Ekstrak antosianin kulit terong ungu yang telah diperoleh kemudian diaplikasikan untuk mendeteksi kandungan boraks. Dilakukan dengan pengabsorpsian ekstrak antosianin kulit terong ungu ke dalam indikator kertas saring dengan cara merendamnya selama 20 menit, dalam hal ini digunakan dua jenis kertas saring yang berbeda, yakni kertas saring biasa dan kertas saring whatmann No. 42 yang dipotong kecil berukuran 2x3 cm. Tujuan Jurnal Ilmiah IKIP Mataram | Volume 8. Nomor 2, 2021 Pengabsorpsian ekstrak antosianin kulit terong ungu ke dalam kertas saring yang berbeda, bertujuan untuk mengetahui kertas saring jenis yang mana, yang dapat digunakan serta menunjukkan perubahan yang lebih signifikan ketika direaksikan dengan boraks, sehingga nantinya dapat digunakan sebagai kertas indikator pendeteksi kandungan boraks. Hasil Pengabsorpsian ekstrak kulit terong ungu ke dalam kertas indikator, menunjukkan bahwa, terdapat adanya perbedaan warna kertas indikator sebelum diabsorpsikan dan setelah diabsorpsikan dengan perendaman menggunakan ekstrak kulit terong ungu selama 20 menit. Pada jenis kertas saring biasa, sebelum diabsorpsikan berwarna putih, dan setelah diabsorpsikan berubah warna menjadi gelap kehijauan. sedangkan pada jenis kertas whatman No. 42 sebelum diabsorpsi kan berwarna putih dan setelah diabstraksikan berubah warna menjadipucat kehijauan. Perbedaan warna dari hasil pengabsorpsian pada kedua jenis kertas saring yang digunakan, disebabkan karena perbedaan ukuran pori-pori pada kertas saring biasa dengan kertas saring whatmann No. Seperti yang dijelaskan pada penelitian Novitasari dan Zidni . , kertas saring biasa memiliki pori-pori 20 m dan kertas saring whatmann No. 42 memiliki pori-pori sebesar 2,5 m. Hasil Uji Reaksi Indikator Kertas Dengan Boraks . Kertas saring biasa Boraks Konsentrasi 2% 1 Tetes Boraks Konsentrasi 2% 2 Tetes Boraks Konsentrasi 10% 1 Tetes Boraks Konsentrasi 10% 2 Tetes Gambar 5. Uji reaksi indikator kertas saring biasa dengan boraks Jurnal Ilmiah IKIP Mataram | Volume 8. Nomor 2, 2021 . Kertas saring Whatmann Boraks Konsentrasi 2% 1 Tetes Boraks Konsentrasi 2% 2 Tetes Boraks Konsentrasi 10% 1 Tetes Boraks Konsentrasi 10% 2 Tetes Gambar 6. Uji reaksi indikator kertas saring whatmann dengan boraks Tabel 2. Indikator warna sebelum dan sesudah diabsorpsikan Jenis kertas Biasa Whatmann No. Warna kertas indikator setelah dengan boraks Biasa Whatmann No. Warna kertas indikator sebelum diabsorpsikan Putih Putih Konsentrasi Boraks 2 % 1 Tetes 2 Tetes Tidak Ada Perubahan Terlihat bercak, namun sedikit buram Terlihat bercak tipis, namun kurang jelas Terlihat bercak, namun sedikit Warna sesudah diabsorpsikan kedalam kertas indikator Gelap Kehijauan Pucat Kehijauan Konsentrasi Boraks 10 % 1 Tetes 2 Tetes Terlihat bercak, namun sedikit Terlihat bercak yang jelas Terlihat yang jelas Terlihat yang jelas Setelah diperoleh indikator kertas saring biasa dan wathmann No. yang telah diabsorpsikan dengan ekstrak antosianin kulit terong ungu, selanjutnya adalah dengan menguji reaksi kertas indikator terhadap boraks. mana dalam hal ini digunakan boraks dengan konsentrasi 2% dan boraks dengan konsentrasi 10%,kemudianditetesi ke dalam kertas indikator masingmasing 1 tetes dan 2 tetes. Jurnal Ilmiah IKIP Mataram | Volume 8. Nomor 2, 2021 Pengujian reaksi pada kertas saring biasadengan konsentrasi larutan borax 2% 1 Tetes tidak menunjukkan perubahan apapun, danpada konsentrasi boraks 2% 2 tetes, terlihat bercak tipis namun kurang jelas. Sedangkan pada konsentrasi boraks 10% 1 Tetes terlihat bercak namun sedikit buram, dan pada konsentrasi boraks 10% 2 tetes terlihat bercak yang jelas. Pengujian reaksi pada kertas saring whatmann no. 42 pada konsentrasi boraks 2% 1 tetes terlihat bercak namun sedikit buram, begitu juga dengan konsentrasi boraks 2% 2 tetes terlihat bercak namun sedikit buram. Sedangkan pada konsentrasi boraks 10% baik percobaan1 Tetes maupun2 tetes masing-masing terlihat bercak yang jelas. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tentang pemanfaatan ekstrak dari kulit terong ungu yang mengandung antosianin sebagai biosensor kandungan boraks, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : ekstrak antosianin yang diperoleh dari kulit terong ungu berwarna oranye kecokelatan dan dapat digunakan sebagai indikator untuk mendeteksi kandungan boraks, yakni menggunakan indikator kertas saring dengan metode pengabsorpsian. Dan Berdasarkan hasil pengujian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kertas yang cocok untuk dijadikan indikator kandungan boraks, yakni kertas saring whatmann No. 42 dengan konsentrasi boraks 10%, baik satu tetes maupun dengan pengujian dua tetes menunjukkan hasil yang sama. Karena sama-sama memberikan pengaruh dan adanya perbedaan yang cukup bisa dibedakan sebelum dan sesudah di tetesi dengan boraks. UCAPAN TERIMAKASIH Penyusun mengucapkan banyak terimakasih kepada Dirktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Kementrian Pendidikan. Kebudayaan. Riset Dan Teknologi, karena telah menunjang pendanaan sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik, disamping itu tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada laboran laboratorium kimia dan Bapak dosen pendamping karena telah memberikan arahan dan masukan dalam pelaksanaan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA