KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. PENERAPAN MODEL TRIPLE HELIX DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF SEBAGAI PENGGERAK INKLUSIVITAS EKONOMI NASIONAL: STUDI KASUS KOREA SELATAN Dhiya Aulia Hanifah1. Dingot Hamonangan Ismail2 Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi. UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta. Indonesia Fakultas Administrasi Bisnis. Politeknik LP3i. Jakarta. Indonesia email: dhiya. aulia24@mhs. id1, visiaulia@gmail. ABSTRAK Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis model kolaborasi Triple Helix di Korea Selatan dengan menyoroti peran dan strategi masing-masing aktor. Analisis ini bertujuan untuk menarik pelajaran yang dapat diterapkan di Indonesia untuk mengembangkan industri kreatif dan menjadikannya salah satu pendorong inklusivitas ekonomi nasional. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan menganalisis jurnal dan publikasi akademik yang membahas penerapan model Triple Helix dan pengembangan industri kreatif di Korea Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan pesat industri kreatif di Korea Selatan sangat dipengaruhi oleh kejelasan peran, sinergi yang kuat, dan keselarasan strategis antara universitas, industri, dan Koordinasi yang solid dan visi jangka panjang di antara ketiga aktor memungkinkan pertumbuhan dan inovasi berkelanjutan di sektor ini. Penelitian ini memberikan wawasan praktis bagi para pembuat kebijakan dan akademisi di Indonesia untuk mengadopsi dan mengadaptasi model Triple Helix seperti yang diterapkan di Korea Selatan. Dengan meningkatkan kolaborasi antara universitas, industri, dan pemerintah. Indonesia dapat mempercepat pengembangan industri kreatif dan menjadikannya sektor strategis untuk pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif. Kata Kunci: Triple Helix. Industri Kreatif. Inklusivitas Ekonomi AU PENDAHULUAN Industri kreatif telah menjadi salah satu sektor strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis inovasi. Di berbagai negara, sektor ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga memperkuat identitas budaya serta meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Korea Selatan merupakan salah satu contoh negara yang berhasil menjadikan industri kreatif sebagai penggerak utama pembangunan ekonomi melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku industri dalam kerangka Triple Helix. Kolaborasi ini memungkinkan terciptanya ekosistem inovasi yang dinamis dan terintegrasi secara global, yang turut memperkuat inklusivitas ekonomi melalui pelibatan berbagai kelompok masyarakat. Keberhasilan Korea Selatan dalam mendorong industri kreatif melalui model Triple Helix mencerminkan pentingnya sinergi antar aktor. Pemerintah berperan strategis melalui kebijakan budaya, diplomasi kreatif, dan pendanaan publik. perguruan tinggi berfungsi sebagai pusat pengembangan riset dan sumber daya manusia. sementara pelaku industri fokus pada inovasi, ekspansi pasar, dan integrasi teknologi. Di Indonesia, potensi industri kreatif juga sangat besar, namun penerapan model Triple Helix masih menghadapi tantangan. Lemahnya koordinasi antar KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. aktor, kebijakan yang belum terintegrasi, serta minimnya kontribusi riset dari akademisi menjadi kendala utama dalam optimalisasi sektor ini. Oleh karena itu, adaptasi strategi Triple Helix yang telah terbukti efektif di Korea Selatan menjadi relevan untuk dikaji dan diterapkan dalam konteks Indonesia. Beberapa studi sebelumnya telah menelusuri penerapan model Triple Helix di Indonesia. Penelitian oleh Izzati . menunjukkan bahwa di Kota Malang, peran pemerintah, akademisi, dan pelaku bisnis telah terbentuk, tetapi belum seimbangAikhususnya peran akademisi yang masih Supeni . menyimpulkan bahwa keberhasilan model ini sangat bergantung pada sinergi yang efektif, dengan keunggulan bersaing sebagai faktor pendukung utama. Di sisi lain, kajian terhadap Triple Helix di Korea Selatan, seperti yang dikemukakan oleh Yoon . , menunjukkan bahwa meskipun struktur kolaborasi telah terbentuk, hubungan tripartit antara pemerintah, industri, dan universitas masih belum optimal, dengan dominasi hubungan industri dan Temuan ini memberikan konteks bahwa efektivitas Triple Helix sangat dipengaruhi oleh sektor penerapannya, yang dalam hal ini menunjukkan potensi kuat justru dalam sektor industri kreatif yang menjadi fokus utama penelitian ini. Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan menganalisis secara spesifik peran dan strategi masing-masing aktor dalam model Triple Helix di sektor industri kreatif Korea Selatan, serta dampaknya terhadap inklusivitas ekonomi. Tidak seperti penelitian sebelumnya yang hanya mengulas struktur atau penerapan umum, kajian ini mengangkat praktik konkret dan keberhasilan kolaborasi di sektor kreatif, yang kemudian dijadikan dasar penyusunan rekomendasi strategis bagi Indonesia. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana model Triple Helix dapat diadaptasi dan diimplementasikan dalam konteks industri kreatif di Indonesia guna mempercepat pembangunan ekonomi yang inklusif dan berbasis inovasi. AU METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka . iterature revie. , yaitu pendekatan sistematis dengan mengumpulkan, menganalisis, dan menyintesis informasi dari berbagai sumber literatur yang relevan. Metode ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian yang berfokus pada analisis konseptual dan teoritis tanpa melibatkan data primer. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas artikel jurnal ilmiah, buku akademik, laporan penelitian, serta dokumen resmi yang relevan dengan topik penelitian. Adapun kriteria seleksi literatur yang digunakan adalah sebagai berikut: AU Relevansi dengan tema penelitian. AU Dipublikasikan dalam kurun waktu 15 tahun terakhir . 0Ae2. untuk memastikan kebaruan informasi. AU Memiliki kredibilitas tinggi, yang ditandai dengan penerbitan oleh lembaga atau jurnal bereputasi, serta tingkat sitasi yang signifikan. Prosedur Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui pencarian literatur di database daring, termasuk Scopus dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian mencakup kombinasi istilah Seperti "Triple Helix", "Perekonomian dan Industri Kreatif", dan "Korea Selatan", yang disesuaikan dengan fokus penelitian. Selain itu, literatur pendukung tambahan diambil dari referensi buku dan dokumen yang diakui kredibilitasnya. Prosedur Analisis Data Data yang terkumpul dianalisis menggunakan pendekatan analisis isi . ontent analysi. untuk mengidentifikasi tema-tema utama, pola-pola tertentu, serta kesenjangan dalam literatur yang Proses analisis melibatkan tahapan berikut: KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. AU Klasifikasi: Mengelompokkan literatur berdasarkan topik utama yang relevan dengan pertanyaan penelitian. AU Sintesis: Mengintegrasikan informasi dari berbagai sumber untuk menyusun narasi yang koheren dan mendalam. AU Evaluasi Kritis: Menilai kekuatan dan kelemahan setiap sumber untuk menghasilkan kesimpulan yang valid. Upaya Validasi dan Kredibilitas Data Untuk menjamin validitas dan kredibilitas data, sumber literatur dievaluasi secara kritis berdasarkan reputasi penerbit, rekam jejak penulis, serta tingkat pengakuan akademik . itunjukkan oleh jumlah sitas. Selain itu, data yang digunakan dipastikan berasal dari sumber yang sesuai dengan standar etika akademik. HASIL DAN ANALISIS Analisis Interaksi Model Triple Helix di Korea Selatan Penelitian yang secara eksplisit membahas penerapan model Triple Helix dalam industri kreatif Korea Selatan masih relatif terbatas. Namun, dinamika kolaboratif antara pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor industri dalam mendorong perkembangan sektor ini dapat diamati melalui kebijakan budaya, peran institusi pendidikan, serta strategi ekspansi industri hiburan yang terintegrasi secara global. Di Korea Selatan, pemerintah sangat mendukung dalam pengembangan Industri kreatif. Dukungan pemerintah yang diberikan oleh kebijakan budaya berbasis industri kreatif entah bagaimana tampaknya benar-benar berhasil (Kim, 2. Salah satu bentuk dukungan kuat adalah dengan diplomasi. Pemerintah korea sangat mengoptimalisasi diplomasi budaya sehingga dapat menjajaki dunia, termasuk Indonesia, dan mendapat respon penerimaan yang baik (Teguh Puja Pramadya, 2. Selain itu, dukungan pemerintah juga datang melalui pendanaan publik, yang dapat dibagi menjadi pendanaan langsung dan pendanaan tidak langsung. Pendanaan publik langsung dicirikan oleh transfer uang langsung dari dana publik ke sektor budaya melalui hibah, hadiah, sumbangan. Sementara pendanaan tidak langsung dilakukan melalui langkah-langkah fiskal dan kebijakan stimulasi keuangan yang menguntungkan organisasi dan proyek budaya dan dapat mencakup pengurangan pajak dan manfaat. Pendanaan tidak langsung dapat melibatkan berbagai jenis kebijakan dan dukungan keuangan seperti dukungan perangkat lunak untuk pengembangan program dan digitalisasi sumber daya konten budaya, dukungan perangkat keras untuk infrastruktur budaya, pendidikan, dan pelatihan, dukungan untuk inovasi dan R&D (Park, 2008, dikutip dalam Esti, 2. Ada tiga strategi yang digunakan oleh pemerintah korea selatan untuk menyebarluaskan atau mengekspor Industri Kreatif. Strategi pertama, berupa upaya pengembangan pertumbuhan domestik melalui pengembangan SDM, pembangunan infrastruktur publik dan teknologi yang Strategi kedua, yaitu berusaha menghubungkan Korea Selatan dan negara lain melalui pembentukan badan-badan khusus, seperti KOFICE. KOCIS. KOCCA, dan KCC yang memudahkan dalam mengakses informasi terkait industri kreatif. Pemerintah Korea Selatan secara sadar dan aktif mendukung pertumbuhan industri K-Pop melalui kebijakan kebudayaan, pembentukan badan promosi seperti Korean Culture and Information Service (KOCIS), dan kerjasama dengan duta-duta budaya seperti artis K-Pop untuk dapat membangun citra nasional yang kuat dan positif (Putri & Widhiandono, 2. Strategi ketiga, yaitu menjadikan Korea Selatan aktif di kancah internasional, dimana Korean wave digunakan pemerintah Korea Selatan untuk membangun diplomasi dengan negara lain, serta mempromosikan dan menyebarkan industri kreatif lainnya (Berliantika, 2. Di sisi lain, sektor industri di Korea Selatan memainkan peran aktif dalam membangun ekosistem bisnis kreatif yang kompetitif. Peran ini diwujudkan melalui kehadiran agensi hiburan KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. besar, rumah produksi, serta platform digital yang mengintegrasikan teknologi dalam proses penciptaan dan distribusi karya kreatif. Salah satu contoh utamanya adalah CJ Entertainment & Media (CJ E&M), perusahaan hiburan yang berkontribusi signifikan terhadap penyebaran gelombang Hallyu secara global. E&M bergerak dalam berbagai bidang seperti produksi film, musik, investasi, distribusi, dan Selain menjadi pelaku utama industri, perusahaan ini juga turut memperkuat strategi diplomasi budaya pemerintah Korea Selatan melalui distribusi konten kreatif ke berbagai negara (Kumalaningrum, 2. Selain itu, kekuatan sektor industri juga tercermin dari bagaimana selebritas Korea digunakan sebagai representasi budaya sekaligus aset komersial. Popularitas K-pop dan K- drama menjadikan para artis Korea figur yang sangat berpengaruh di kancah internasional. Banyak merek mewah dunia menunjuk mereka sebagai duta global, memanfaatkan daya tarik mereka di kalangan generasi milenial dan Gen Z yang aktif di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa artis Korea tidak hanya mewakili nilai budaya, tetapi juga memperkuat posisi ekonomi dan diplomasi Korea Selatan di pasar global (Nadila & Windasari, 2. Perusahaan yang secara strategis memanfaatkan potensi ini adalah SM Entertainment (SME). Dalam produksinya SME membangun kualitas Industri menggunakan tiga strategi penting, pertama yaitu dengan menerapkan Traineeship system yaitu proses perekrutan individu dari berbagai negara untuk menjalani pelatihan intensif guna menghasilkan artis berkualitas tinggi. Strategi ini tidak hanya menguntungkan pihak industri namun juga berhasil menarik perhatian global, khususnya di kalangan remaja. Kedua yaitu dengan B2C . usiness-to-consumer. strategy, yaitu dengan melakukan fanservice seperti menjual album fisik, kemudian music digital, konser, membuat produk hingga membangun komunitas fans resmi. Dengan cara itu mereka berhasil membuat para fandom memisahkan mereka dari industri lain dengan kata lain mereka berhasil membangun image istimewa di mata fandom. Tidak berhenti sampai disitu SME juga membangun strategi mereka yang ketiga, yaitu B2B . usiness-to-busines. strategy dengan membangun kerjasama dengan para komposer dan koreografer terkenal dari berbagai negara juga dengan perusahaan multinasional seperti youtube dan google, selain itu SME juga membuat kerjasama dengan Avex Music. Sony Music Entertainment, dan EMI yang berada di Jepang (Pratamasari, 10 C. Kemudian, dalam kerangka Triple Helix. Peran intelektual adalah menyebarluaskan dan menerapkan ilmu pengetahuan, seni, dan teknologi serta membentuk nilai-nilai yang membangun bagi pengembangan industri kreatif di masyarakat. Intelektual berkaitan dengan kegiatan penciptaan baru yang memiliki daya tawar terhadap pasar dan pembentukan manusia kreatif. Akademisi sebagai bagian dari intelektual memiliki tiga peran, yaitu peran pendidikan yang bertujuan untuk mendorong lahirnya generasi kreatif masa depan yang mendukung penciptaan, inovasi, dan karya dalam industri kreatif. Peran penelitian dilakukan untuk memberikan masukan terhadap model kebijakan pengembangan industri kreatif dan instrumen yang dibutuhkan, mengelola pembaharuan gagasan, proses kreatif yang akan menghasilkan produk dan layanan baru serta menghasilkan teknologi yang mendukung efisiensi kerja dan pemanfaatan sumber daya serta menjadikan industri kreatif nasional yang berdaya saing. Peran pengabdian kepada masyarakat dilakukan untuk membentuk masyarakat dengan pranata/tatanan sosial yang mendukung pertumbuhan industri kreatif nasional. Menyadari pentingnya kinerja inovasi dalam industri kreatif, maka perlu dilakukan pengukuran kinerja inovasi yang tepat bagi pelaku usaha di industri kreatif. Aktor intelektual bukan hanya akademisi, tetapi juga budayawan, seniman, sastrawan, pelopor, tokoh di bidang seni, budaya, dan ilmu pengetahuan yang berperan dalam melahirkan ide-ide kreatif, inovasi dalam industri kreatif (Wijayanti et al. Di Korea Selatan, peran ini semakin diperkuat pasca krisis finansial 1997, saat pemerintah mendorong reformasi besar-besaran dalam sistem pendidikan tinggi untuk meningkatkan daya KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. saing global. Salah satu kebijakan utama dalam proses ini adalah peluncuran program Brain Korea 21 (BK. , yang bertujuan untuk memperkuat kapasitas riset universitas, khususnya di kalangan dosen muda dan mahasiswa pascasarjana. BK21 diluncurkan terutama untuk mendorong peneliti universitas, khususnya anggota fakultas muda dan mahasiswa pascasarjana, untuk menghasilkan hasil penelitian berkualitas tinggi yang dapat dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional yang ditinjau sejawat. (Moon & Kim, 2001 dalam Woo & Leydesdorff, 2. Program BK21 mendorong universitas untuk membangun ekosistem riset yang kompetitif dan menghasilkan publikasi ilmiah yang diakui secara internasional. Meskipun BK21 tidak secara eksplisit ditujukan untuk sektor industri kreatif, penguatan kapasitas riset di bidang humaniora, seni, dan media memungkinkan universitas menyediakan sumber daya manusia dan basis pengetahuan yang relevan bagi sektor tersebut. Jumlah makalah yang tercantum di SCI meningkat 765 pada 1998 menjadi 7. 281 pada 2005 (Park & Leydesdorff, 2. , yang menunjukkan kemajuan signifikan dalam kualitas dan kuantitas riset. Dengan demikian, kontribusi universitas terhadap industri kreatif dapat dipahami secara struktural dan tidak selalu bersifat langsung atau Dengan kata lain, meskipun belum banyak diteliti secara eksplisit dalam kerangka Triple Helix, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan universitas dalam membentuk ekosistem industri kreatif Korea Selatan sudah berjalan secara nyata. Hal ini justru membuka peluang bagi peneliti untuk mengkaji lebih dalam dinamika kolaboratif ini secara akademik dan sistematis, khususnya melalui pendekatan Triple Helix maupun pengembangan lanjutannya seperti Quadruple Helix. Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan kolaborasi Triple Helix di Korea Selatan Keberhasilan model Triple Helix di Korea Selatan dalam mengembangkan industri kreatif dan inovasi nasional dipengaruhi oleh beberapa faktor utama sebagai berikut: AUKebijakan Pemerintah yang Konsisten dan Terintegrasi Pemerintah Korea Selatan menjalankan kebijakan yang terarah dan berkelanjutan dalam mendukung riset, inovasi, dan pengembangan industri kreatif. Contohnya, peluncuran program Brain Korea 21 (BK. yang fokus memperkuat kapasitas riset perguruan tinggi dan mendorong publikasi ilmiah berkualitas internasional. AUInvestasi Besar dalam Pendidikan dan Riset Perguruan Tinggi Universitas-universitas Korea Selatan secara aktif meningkatkan kualitas pendidikan dan riset, terutama dengan mendorong dosen muda dan mahasiswa pascasarjana untuk menghasilkan karya ilmiah bereputasi global. Hal ini memperkuat basis pengetahuan dan SDM yang inovatif, yang menjadi fondasi pengembangan industri kreatif. AUPeran Aktif Industri dalam Kolaborasi dan Pengembangan SDM Perusahaan besar seperti SM Entertainment dan CJ E&M tidak hanya berperan sebagai pelaku bisnis, tetapi juga aktif dalam pengembangan talenta melalui sistem pelatihan dan kemitraan internasional. Strategi B2C dan B2B yang dijalankan membantu membangun ekosistem bisnis kreatif yang kompetitif dan inovatif. AUDiplomasi Budaya sebagai Instrumen Strategis Ekonomi Kreatif Pemerintah Korea secara sistematis memanfaatkan diplomasi budaya melalui lembaga seperti KOCCA untuk mempromosikan industri kreatif ke pasar global. Ini tidak hanya memperkuat posisi Korea di kancah internasional, tetapi juga membuka peluang ekspansi ekonomi bagi produk budaya dan kreatif mereka. AUKolaborasi Sinergis Antara Pemerintah. Universitas, dan Industri Koordinasi yang erat antar aktor Triple Helix memastikan dukungan menyeluruh mulai dari kebijakan, riset, pengembangan teknologi, hingga pemasaran dan distribusi produk kreatif. Sinergi ini menciptakan ekosistem inovasi yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan pasar global. KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. Implikasi dan Rekomendasi Penerapan di Indonesia Berdasarkan analisis terhadap keberhasilan model Triple Helix dalam pengembangan industri kreatif di Korea Selatan, terdapat sejumlah implikasi penting yang dapat diambil sebagai pelajaran bagi Indonesia, khususnya dalam konteks mendorong inklusivitas ekonomi nasional melalui sektor kreatif. Pertama, peran pemerintah sebagai fasilitator dan pemberi insentif terbukti sangat krusial. Indonesia perlu memperkuat kebijakan yang mendukung riset dan inovasi di perguruan tinggi serta memberikan insentif bagi industri yang berkolaborasi dengan akademisi. Kebijakan yang terintegrasi dan berkelanjutan akan menciptakan ekosistem yang kondusif bagi perkembangan industri kreatif. Kedua, investasi dalam pengembangan sumber daya manusia dan riset di perguruan tinggi harus menjadi prioritas. Indonesia dapat mengadopsi model pendanaan riset dan pelatihan yang mendorong dosen muda dan mahasiswa pascasarjana untuk menghasilkan riset berkualitas tinggi yang relevan dengan kebutuhan industri kreatif nasional. Ketiga, penguatan hubungan antara industri dan akademisi melalui program pelatihan dan kemitraan strategis dapat meningkatkan kualitas produk dan daya saing industri kreatif Indonesia. Praktik yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar di Korea Selatan, seperti sistem traineeship dan kolaborasi lintas negara, dapat dijadikan inspirasi untuk membangun talenta unggul di Indonesia. Keempat, diplomasi budaya sebagai strategi penetrasi pasar global perlu dioptimalkan. Indonesia memiliki kekayaan budaya yang melimpah dan beragam yang dapat dijadikan modal utama dalam mempromosikan industri kreatif di tingkat internasional melalui program diplomasi budaya yang terstruktur dan strategis. Kelima, kolaborasi aktif dan sinergi yang terorganisir antara pemerintah, universitas, dan industri sangat penting untuk menciptakan inovasi yang berkelanjutan dan inklusif. Pembangunan platform komunikasi dan koordinasi antar aktor ini harus didorong agar pertukaran informasi dan pengembangan proyek kolaboratif dapat berjalan efektif. Dengan menerapkan rekomendasi tersebut. Indonesia dapat memperkuat peran industri kreatif sebagai penggerak inklusivitas ekonomi nasional dan meningkatkan daya saing di kancah Studi ini menegaskan pentingnya pembelajaran dari pengalaman Korea Selatan sebagai pijakan strategis dalam merumuskan kebijakan dan praktik pengembangan industri kreatif di Indonesia. KESIMPULAN Ditemukan bahwa Model Triple Helix di Korea Selatan terbukti menjadi faktor utama dalam perkembangan pesat industri kreatif. Pemerintah berperan melalui kebijakan pendanaan dan program riset seperti BK21, universitas memperkuat kapasitas riset dan pengembangan SDM, sementara industri berinovasi dan menyerap hasil riset. Kolaborasi ini menciptakan ekosistem kreatif yang kompetitif dan inklusif, serta memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan. Hasil ini menunjukkan pendekatan kolaboratif antar aktor dapat menjadi strategi efektif dalam pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan. Bagi Indonesia, hal ini membuka peluang untuk mengadaptasi model serupa dalam mengembangkan industri kreatif sebagai sektor strategis guna mendorong inklusivitas ekonomi nasional. Indonesia perlu memperkuat kolaborasi antara pemerintah, universitas, dan industri. Pemerintah dapat mengambil peran aktif melalui kebijakan pendanaan, pembentukan lembaga promosi budaya, dan diplomasi budaya berbasis figur publik. Universitas dan industri harus diberdayakan sebagai pusat inovasi dan pengembangan SDM, sehingga tercipta kesinambungan antara produksi pengetahuan, aplikasi teknologi, dan ekspansi pasar kreatif nasional. Strategi ini diharapkan mampu menjadikan industri kreatif sebagai penggerak utama inklusivitas ekonomi di Indonesia. KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. REFERENSI