Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 hal 1123 - 1136 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 Model Pengelolaan Agrowisata Yang Terintegrasi Dengan Wisata Rohani Salib Kasih Di Tarutung Dharma Putera Simanungkalit1*. Agus Purwoko2. Alief Aththoric3 Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Universitas Sumatera Utara Fakultas Kehutanan. Universitas Sumatera Utara Fakultas MIPA. Universitas Sumatera Utara *Koresponden email : dpsimanungkalit99@gmail. Diterima: 13 Juni 2020 Disetujui: 23 Juni 2020 Abstract Salib Kasih is located in the pine forest area has been made an icon of the city of Tarutung as a religious tourism destinations that visited by many tourists. Geographically, this area has a landscape with a distinctive panorama of fresh pine forests and agricultural cultivation land. The area has great potential in sustainable agro-tourism management and can increase Local Government Revenue (PAD). However although, this potential has not been exploited as one of the agro tourism management models that is integrated with the religious history destination of the Salib Kasih. This study aimed to develop an agritourist management model by analyzing the needs of facilities and infrastructure that are integrated with religious tourism in Salib Kasih areaAos. Based on the results of the research and discussion, it can be concluded there are some alternative agrotourism management models which integrated the religious tourism of Salib Kasih areaAos by paying attention to the local wisdom, cultivation product, cattle farm, and bee keeping. Keyword: Agrotourism management model, agrotourism. Salib Kasih. North Tapanuli. Tarutung Abstrak Salib Kasih yang terletak di kawasan hutan pinus telah dijadikan ikon kota Tarutung sebagai kota wisata rohani yang banyak dikunjungi wisatawan. Secara geografis, kawasan ini memiliki bentang alam dengan panorama khas hutan pinus yang sejuk dan lahan budidaya pertanian. Kawasan Salib Kasih memiliki potensi besar dalam pengelolaan agrowisata yang lestari dan bisa menambah Pendapatan Asli Daerah. Namun hingga saat ini, potensi tersebut belum dimanfaatkan sebagai salah satu model pengelolaan wisata agro yang terintegrasi dengan wisata sejarah rohani Salib Kasih. Tujuan penelitian adalah menyusun model pengelolaan agrowisata dengan menganalisa kebutuhan sarana dan prasarana yang terintegrasi dengan wisata rohani pada Salib Kasih. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa model pengelolaan Kawasan Salib Kasih adalah wisata rohani yang terintegrasi pada sosial budaya masyarakat yang kuat melalui bentuk paket-paket alternatif pengelolaan wisata pertanian masyarakat berupa kebun jeruk, peternakan sapi, dan ternak lebah madu. Kata kunci: Model pengelolaan agrowisata. Salib Kasih, wisata agro. Tarutung. Tapanuli Utara Pendahuluan Pemanfaatan sumber daya alam dapat diukur secara ekonomi maupun non ekonomi. Pemanfaatan tersebut dengan memperhatikan konten pengelolaan potensi lahan yang dapat langsung menjadi produk unggulan ataupun jasa ekologisnya. Disisi lain, pemanfaatan panorama dan keindahan hutan juga dapat diintegrasikan dengan pemanfaatan hasil pertanian, peternakan atau bangunan bersejarah yang dapat dibuat menjadi suatu model pengelolaan agrowisata berbasis obyek wisata religius. Pembangunan pariwisata menjadi prioritas Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara dan menjadi misi pembangunan daerah yaitu meningkatkan destinasi wisata melalui pengembangan kawasan wisata alam dan budaya rohani serta agrowisata. Misi tersebut telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Daerah Jangka Menengah . yang disampaikan dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Tapanuli Utara . Hingga saat ini upaya pemerintah kabupaten dalam mengembangkan kegiatan atau obyek wisata yang berwawasan lingkungan telah mendapat perhatian yang baik. Ibukota kabupaten yaitu Kota Tarutung dalam perspektif kepariwisataan memiliki potensi strategis sebagai kota wisata rohani dimana salah satu lokasinya bernama Salib Kasih, yang merupakan bangunan religius bersejarah. Selain itu, berdasarkan potensi geografis Salib Kasih memiliki keindahan alam dengan ciri khas hutan pinus yang segar serta luasan lahan yang dapat dikelola untuk budidaya pertanian. Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 hal 1123 - 1136 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 Agrowisata dapat didefinisikan sebagai rangkaian kegiatan perjalanan wisata yang memanfaatkan sektor pertanian dan produk pertanian yang menonjolkan nilai rekreasi dan edukasi di bidang pertanian. Adanya pengelolaan agrowisata di perdesaan yang berbasis masyarakat setempat diharapkan dapat memberi manfaat yang banyak, tidak saja bagi masyarakat perdesaan tetapi juga masyarakat perkotaan untuk lebih memahami dan menikmati hasil pertanian dan sarana edukasi . Pengembangan dalam konsep pengelolaan agrowisata dapat meningkatkan persepsi positif petani serta masyarakat akan arti pentingnya pelestarian sumber daya lahan dan lingkungannya. Disamping dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan petani di luar nilai kuantitas produksinya, pengelolaan agrowisata mampu melestarikan sumber daya dan kearifan lokal masyarakat sekitar lokasi agrowisata . Kawasan Salib Kasih yang terletak di Bukit Siatas Barita Tarutung, memberikan peluang dan potensi besar sebagai salah satu pemanfaatan jasa lingkungan berupa obyek wisata rohani, yaitu panorama Salib Kasih yang memberikan keindahan dan kesejukan hutan Pinus. Salib Kasih, merupakan bangunan Salib besar setinggi 31 meter ini telah menjadi ikon Kota Tarutung sebagai kota wisata rohani. Kawasan ini selalu mendapat banyak perhatian wisatawan dari dalam dan luar daerah, terutama pada hari libur nasional maupun hari-hari tertentu. Disamping itu, terdapat lahan pertanian milik masyarakat lokal yang lokasinya berdekatan dengan obyek wisata Salib Kasih, seperti kebun jeruk dan holtikultura, peternakan sapi, dan lebah madu. Lokasi lahan pertanian tersebut dapat dijangkau dengan berjalan kaki ataupun dengan kendaraan bermotor. Namun keadaan ini belum bisa dimanfaatkan sebagai peluang pengelolaan yang baru untuk merubah pola pengelolaan wisata yang monoton, yaitu hanya menikmati wisata rohani untuk melihat monumen Salib Kasih tersebut. Tapanuli Utara merupakan tempat berdiamnya suku Batak yang terkenal dengan keramah tamahan dan pola hidup yang keras. Ciri khas suku Batak menonjol dengan sifatnya yang mengutamakan adat sejak dulu hingga terkenal ke manca negara. Sifat mengutamakan adat bisa menjadi faktor penghalang atau pendukung dalam pengelolaan potensi wisata. Watak keras bisa dianggap sebagai faktor penghalang apabila pengelolaan lokasi tidak bisa diterima adat sebagai pegangan masyarakat. Sebaliknya akan diterima dan didukung apabila pengelolaan lokasi dapat menyesuaikan dengan adat masyarakat dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Penerimaan masyarakat menjadi faktor pendukung dalam pengelolaan agrowisata yang berwawasan lingkungan dan diharapkan dapat menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan menggali potensi agrowisata yang ada di sana. Kondisi ini menarik perhatian peneliti sebagai topik penelitian. Memperhatikan lahan pertanian masyarakat yang berada di sekitar Salib Kasih, akan membuka peluang pengembangan pertanian yang dikelola sebagai daya tarik pengunjung selain untuk melihat Salib Kasih sebagai tempat wisata rohani. Dengan adanya peningkatan kunjungan akan memacu masyarakat untuk membuka peluang ekonomi lainnya. Pengembangan kawasan pertanian menjadi area agrowisata akan meningkatkan kunjungan wisatawan yang akan memberikan kontribusi peningkatan pendapat masyarakat melalui jasa wisata, sebagaimana terjadi desa Cihedeung dan Cikahuripan Kabupaten Bandung Barat . Namun peningkatan kunjungan ke Salib Kasih ini akan semakin baik apabila telah didukung dengan peningkatan fasilitas dan sarana jalan menuju lokasi yang telah baik dan mudah dijangkau. Saat ini terdapat satu akses jalan yang mudah dijangkau sebagai jalur mobilisasi masyarakat dalam menjual hasil bumi dan sebagai jalur transportasi pengunjung menuju Salib Kasih. Pengembangan desa wisata pertanian Tulungrejo Kota Batu Jawa Timur berdampak positif bagi sektor pertanian dan masyarakatnya, sejalan dengan hal tersebut, diperlukan perbaikan jalan dan SDM perdesaan agar peran serta masyarakat lebih besar dalam pengelolaan . Dengan memperhatikan potensi-potensi yang dimiliki Salib Kasih ini sudah sewajarnya lokasi ini menjadi pengembangan tujuan wisata bukan hanya sebagai wisata rohani, namun dikembangkan dengan wisata agro. Dalam upaya pengembangannya menjadi kawasan agrowisata membutuhkan pola dan skema pengelolaan yang tepat sehingga sasaran pengelolaan yang terencana dapat dicapai sesuai dengan tujuan Pengembangan kawasan agrowisata juga membutuhkan strategi yang tepat dalam memanfaatkan berbagai potensi kawasan agrowisata, yaitu berupa objek, karakteristik, dan lahan . Pengelolaan wisata ini akan menjadi lebih menarik apabila dapat berintegrasi sehingga akan menjadi pengelolaan obyek wisata andalan pemerintah daerah maupun masyarakat lokal. Disisi lain bahwa selama ini objek wisata Salib Kasih hanya sebagai ikon yang monoton tanpa adanya perubahan untuk memberi motivasi dan inovasi dalam pengelolaan wisata daerah. Konsep pengelolaan berlanjutan menjadi faktor penting dalam pengelolaan sektor pertanian, mengingat alih fungsi lahan terus terjadi dan mengancam keberlanjutan sistem pertanian. Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 hal 1123 - 1136 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 Hutan Pinus yang mengelilingi Salib Kasih yang dikelilingi hutan Pinus, adalah hasil reboisasi yang telah dilakukan Dinas Kehutanan melalui program rehabilitasi hutan dan lahan. Dewasa ini, hal tersebut dapat memicu konflik sosial dalam pengembangan agrowisata, khususnya lokasi yang memanfaatkan kawasan hutan negara. Masyarakat akan berupaya untuk menguasai lahan yang memilik potensi pengembangan wisata, baik secara perorangan maupun berkelompok. Tindakan masyarakat ini telah banyak terjadi diberbagai wilayah yang bersinggungan dengan kawasan hutan. Perubahan sosial, ekonomi, budaya, dan unsur budaya lainnya dapat mengakibatkan disintegrasi. Realitas ini mengisyaratkan bahwa sesungguhnya perubahan sosial mewarnai dinamika kehidupan Dampak positif yang mengiringinya tentu menjadi harapan masyarakat. Tetapi yang mesti dipahami masyarakat adalah bagaimana mengantisipasi perubahan sosial yang menimbulkan konflik sosial . Masyarakat lokal di Salib Kasih sangat rentan terhadap dinamika perubahan ini. Keadaan dan hidup yang keras telah menjadi sendi kehidupan masyarakat petani. Untuk itulah dengan adanya pengelolaan agrowisata ini membuka harapan baru yang lebih baik dan masyarakat bisa menerimanya sebagai bagian kearifan lokal dalam mengurangi konflik sosial. Dalam mengelola konflik yang terjadi, diperlukan suatu strategi yang menghargai konsep kearifan Salah satunya adalah Ecovillage, yaitu satu konsep keberlanjutan yang sedang berkembang saat ini yang merupakan konsep ideal antara segi ekologis, sosial, dan spiritual dalam hubungan antara manusia dan lingkungan untuk keberlanjutan kehidupan generasi berikutnya. Konsep ideal ini akan lebih nyata dituangkan dalam konsep pengelolaan dan perencanaan sistem lingkungan. Salah satu kebutuhan yang utama dalam konsep pengelolaan dan perencanaan sistem lingkungan adalah untuk memperkirakan kondisi sederhana dan kompleks yang mungkin terjadi di masa yang akan Untuk mempermudah indikasi kebutuhan dapat dilakukan dengan membuat suatu pemodelan pengelolaan agrowisata yang mengarah pada hal-hal yang mendasar untuk dapat dimengerti oleh berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan agrowisata yang diintegrasikan dengan wisata rohani pada suatu kawasan. Adapun pemodelan yang dimaksud dalam hal ini adalah berupa flowchart atau bagan untuk menggambarkan proses pengelolaan agrowisata yang bersinergi dengan wisata rohani yang telah ada. Bagan proses pengelolaan ini dapat berkaitan dengan fasilitas jalan dan fasilitas wisata. Bentuk model tidak harus selalu sulit, rumit, dan kompleks. Model yang baik adalah model yang paling sederhana, konsisten dengan tujuan studi dan dapat diterapkan di lapangan . Dengan penelitian ini diharapkan dapat diperoleh model pengelolaan agrowisata dengan menganalisa kebutuhan sarana dan prasarana yang tepat dan terintegrasi dengan wisata rohani pada Kawasan Salib Kasih. Metode Penelitian Tempat dan Waktu Penelitian Metode penelitian merupakan suatu cara melakukan penyelidikan atau mencari suatu fakta di lapangan yang dilakukan secara sistematis dan obyektif . Penelitian dilakukan di Salib Kasih. Desa Simorangkir Julu. Kecamatan Siatas Barita. Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara, bulan Maret - Desember 2019. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yaitu memberikan penjabaran dengan mendeskripsikan apa yang diperoleh dari lapangan namun bukan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan Auapa adanyaAy tentang variabel, gejala atau keadaan serta tidak memerlukan administrasi atau mengontrolan terhadap sesuatu perlakuan. Observasi dan Wawancara Pengumpulan data primer dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara. Adapun teknik wawancara dilakukan hanya kepada narasumber yang memiliki informasi lebih mendalam dan relevan dengan tujuan penelitian. Wawancara dilakukan dengan teknik depth interview, yaitu melakukan wawancara mendalam dengan narasumber tertentu yang dianggap relevan dan akuntable. Sedangkan pengumpulan data sekunder dilakukan dari beberapa dokumen perencanaan dan literatur terkait lainnya. Perumusan Model Pengelolaan Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis untuk mengetahui model pengelolaan agrowisata di Kawasan Salib Kasih dengan merumuskan potensi agrowisata berwawasan kedalam suatu model pengelolaan yang sesuai dengan karakteristik utama pengelolaan . isata rohan. yang dikaitkan dengan potensi sumber daya alam . yang dikembangkan dan dukungan pemanfaatan fasilitas yang tersedia secara optimal. Perumusan model ini dapat dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu . penyusunan struktur atau bagan model. mengidentifikasi parameter-parameter model yang saling berhubungan, terkait potensi karakteristik, masalah dan peraturan terkait. menganalisa parameter Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 hal 1123 - 1136 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 yang memiliki peran utama dalam struktur model dengan analisis kebutuhan dan manfaat fasilitas yang Hasil dan Pembahasan Perkembangan Salib Kasih Secara administrasi Salib Kasih terletak di Desa Simorangkir Julu. Kecamatan Siatas Barita. Kabupaten Tapanuli Utara. Provinsi Sumatera Utara. Kawasan tersebut berjarak sekitar 6 Km dari Tarutung, ibukota Kabupaten Tapanuli Utara, yang dapat ditempuh dengan menggunakan sarana angkutan kota atau kendaraan bermotor lainnya. Secara astronomis kawasan ini terletak pada 01A54Ao 02A07Ao Lintang Utara dan 98A52Ao - 99A04Ao Bujur Timur seperti terlihat pada Gambar 1. Gambar 1. Peta lokasi penelitian Sumber : Hasil pengolahan peta Arcgis, 2018 Berdasarkan data statistik BPS Tarutung pada Buku Kecamatan Siatas Barita Dalam Angka . Desa Simorangkir Julu memiliki jumlah penduduk sebanyak 1. 249 jiwa. Komposisi penduduknya dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 590 jiwa dan perempuan sebanyak 659 jiwa dari jumlah rumah tangga sebanyak 259 rumah tangga serta kepadatan penduduk sebesar 416 jiwa/ kmA. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan penduduk desa ini cukup besar dan berpotensi terus bertambah dengan mata pencaharian utama adalah bertani. Perkembangan penduduk ini akan terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk. Salib Kasih memiliki panorama hutan pinus yang indah dan mampu memberikan udara segar sebagai wilayah hutan dataran tinggi. Para pengunjung yang datang kesini akan disuguhkan indahnya panorama alam, sehingga akan menghilangkan rasa lelah setelah mendaki gunung untuk menjangkau tujuan utama wisata. Demikian pula dengan kondisi tanah dan iklim udara yang sejuk, relatif membuka peluang besar dalam mengembangkan berbagai komoditas pertaniandengan menerapkan sistem pengelolaan lahan yang ramah lingkungan. Dalam hal ini, pengembangan pertanian lokal harus disesuaikan dengan topologi lahan. Keunikan-keunikan tersebut merupakan aset yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung. Hal tersebut nantinya akan menjadi potensi utama wisata rohani yang sangat menarik. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Utara Nomor 03 Tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2017-2037 bahwa lokasi Salib Kasih merupakan kawasan yang diperuntukan bagi pariwisata minat khusus/rohani . Disamping itu, kawasan tersebut menjadi kawasan strategis dengan penekanan sosial budaya. Sedangkan lokasi di sekitarnya merupakan kawasan pertanian dengan lahan kering. Dengan adanya penetapan ini akan menjadi bagian utama administrasi pengelolaan wisata rohani yang bisa dihubungkan dengan potensi wisata di sekitarnya. Namun demikian, pengaturan kawasan merupakan wewenang dari pemerintah kabupaten dalam pengaturan klasifikasi penataan ruang berdasarkan sistem, fungsi utama kawasan, wilayah administratif, kegiatan kawasan dan nilai strategi kawasan sesuai dengan Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 hal 1123 - 1136 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Nasional . Kawasan Salib Kasih memiliki potensi alam yang sejuk dan indah karena di sekitarnya terdapat hutan Pinus, yaitu tanaman reboisasi yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Tapanuli Utara sejak tahun 1980 yang hingga saat ini masih terjaga dengan cukup baik. Kondisi kawasan Salib Kasih yang dikelilingi dengan hutan pinus yang hijau dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Monumen Salib Kasih Sumber : Dokumentasi pribadi, 2019 Dalam Gambar 2 terlihat bangunan salib yang berdiri sejak tahun 1985 atas kerjasama Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dengan Gereja Nordstand Jerman untuk mengenang sejarah misionaris Dr. Ingwer Ludwig Nommensen di tanah Batak. Mengingat pentingnya sejarah. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara melalui Bupati Lundu Panjaitan mendirikan sebuah bangunan salib setinggi 31 meter pada bulan Oktober 1993. Bangunan salib tersebut dikembangkan menjadi tempat beribadah bagi pengunjung di lokasi Salib Kasih pada tahun 1995 oleh Bupati TMH. Sinaga. Sejak tahun 2000. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara Bupati RE. Nainggolan secara berkesinambungan melakukan pengembangan Salib Kasih dengan berbagai sarana dan prasarana pendukung untuk memperkenalkan Salib Kasih ini sebagai daerah wisata rohani Tarutung melalui berbagai upaya, seperti melakukan promosi baik di dalam atau sampai diluar daerah Tarutung. Seiring dengan peningkatan kunjungan wisatawan ke Salib Kasih tersebut, maka usaha pertanian yang berada di sekitarnya juga ikut berkembang. Usaha pertanian ini dikelola sebagai usaha unit organisasi ataupun sebagai usaha pribadi dan keluarga. Sektor usaha pertanian ini sendiri telah memberikan hasil yang cukup baik karena juga memiliki potensi sebagai wisata alternatif yang layak dikunjungi setelah melihat monumen Salib Kasih. Namun demikian, hingga saat ini peluang wisata ini belum dapat dimanfaatkan menjadi potensi pengelolaan agrowisata. Potensi Masyarakat Sekitar Salib Kasih Mayoritas adat dan budaya masyarakat sekitar Salib Kasih merupakan budaya suku dominan di kabupaten Tapanuli Utara yaitu Suku Batak Toba. Selain Batak Toba, juga terdapat etnis lain seperti Simalungun. Karo. Melayu. Mandailing, dan beberapa etnis pendatang seperti Jawa. Minangkabau, dan Tionghoa. Sementara itu, berdasarkan aspek sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat maka terdapat tiga hal yang saling terkait yakni pertumbuhan penduduk, kegiatan ekonomi masyarakat berbasis pertanian, dan potensi konflik horizontal karena ketidakjelasan batas lahan. Sebagai suku asli daerah Tapanuli. Suku Batak cenderung memiliki sifat yang dominan baik dalam tata kehidupan sosial maupun dalam menjaga kebudayaan di masyarakat. Orang Batak selalu terbuka dan mengutamakan adatnya didalam tata kehidupan bermasyarakat. Adat ini diaplikasikan dalam kehidupan sehara-hari dan telah membudaya, sebagaimana yang dikenal dengan AuDalihan NatoluAy, yaitu manat mardongan tubu, somba marhula-hula. Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 hal 1123 - 1136 dan elek marboru. Bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia adalah tiga aturan dalam kehidupan orang Batak, yaitu menjaga diri atau bersikap lebih hati-hati dengan saudara semarga kita sendiri, hormat kepada keluarga besan atau paman kita, dan menyayangi keluarga pihak dari adik/ kakak perempuan kita. Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar Hutan Salib Kasih ini sebagian besar menggantungkan hidupnya dari sumber daya hutan, baik dalam pemanfaatan hasil hutan kayu dan non kayu, maupun bercocok tanam di kawasan hutan. Di satu sisi, keberadaan masyarakat di dalam hutan cenderung mengancam kelestarian hutan. Namun demikian, mereka merupakan ujung tombak dalam pengelolaan di masa depan apabila dikelola dan diawasi dengan baik dan berwawasan lingkungan. Dewasa ini, pengelolaan kawasan hutan tersebut dihadapkan pada rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan. Hal tersebut menjadi alasan utama bagi masyarakat untuk merambah hutan melalui kegiatan perladangan atau perkebunan dengan memanfaatkan hasil hutan kayu atau menggunakan lahan hutan untuk membangun aktivitas ekonomi yang dapat merusak fungsi hutan dan merubah bentang Dinamika yang terjadi tersebut, secara tidak langsung akan membentuk interaksi sosial ataupun kepentingan kelompok yang sentiasa secara terus menerus mengeksploitasi hutan. Perkembangan perilaku ini dapat memberikan kesepakatan-kesepakatan khusus yang diakui menjadi bagian pola hidup dan adat istiadat masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan hutan, yang biasa disebut sebagai kearifan lokal. Situasi dan kondisi yang berkembang memberikan wacana baru dalam pengelolaan hutan oleh masyarakat sekitar. Hal yang terdapat dalam diri individu/kelompok masyarakat berupa pikiran, perasaan, dan pengalaman-pengalaman hidup dapat menjadi bagian wacana terhadap interaksi dan konflik dalam pemenuhan kebutuhan dan kepentingan pengelolaan hutan. Sebagian masyarakat menganggap bahwa hutan sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat sehingga kelompok ini akan bersifat eksploitatif yang cenderung akan mengurangi manfaat hutan dalam jangka panjang. Apabila fungsi pengelolan tidak dilakukan secara baik, maka kelestarian hutan dan lingkungan kehidupan kelompok masyarakat akan mengalami kerusakan dan berakibat pada pemutusan interaksi yang telah ada selama ini. Situasi ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, sehingga perlu dilakukan pengelolaan hutan dan lingkungannya secara lestari. Sebagian lagi akan menganggap hutan sebagai sumber penyangga kehidupan masyarakat sehingga kelompok ini akan bersifat prepentif yang mengutamakan prinsip perlindungan dan menjaga kerusakan hutan. Dan akan banyak lagi persepsi dan pandangan masyarakat sesuai dengan kondisi perubahan sosial yang terjadi. Perubahan sosial dalam masyarakat ini perlu dikelola sesuai tujuan pengelolaan dan diarahkan menjadi soko guru atau agen perubahan wisata yang positif dalam mewujudkan model pengelolaan. Selanjutnya, pengelolaan aspek perubahan ini diharapkan akan meminimalisir ketidaksetujuan masyarakat sehingga menghindari peluang konflik dalam masyarakat maupun konflik lahan . sebagai bagian dari proses pengelolaan wisata agro. Pengelolaan potensi konflik ini dilakukan dengan pendekatan progresif yang mengutamakan kelestarian lingkungan, kearifan lokal dan norma-norma adat istiadat sebagai aspek pengelolaan. Aspek pengelolaan ini menjadi alur pendekatan untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat serta beberapa pemangku kepentingan. Sarana dan Prasarana Pendukung Kawasan Salib Kasih Menurut data statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Tarutung pada Buku Kecamatan Siatas Barita Dalam Angka . , sarana dan prasarana yang ada di sekitar Kawasan Hutan Salib Kasih cukup memadai, yaitu adanya fasilitas sekolah, kesehatan, peribadatan, dan akses jalan. Keberadaan sarana dan prasarana ini diharapkan dapat menunjang keberhasilan pengelolaan agrowisata Kawasan Hutan Salib Kasih. Pada saat ini di lokasi Salib Kasih telah dibangun berbagai fasilitasi pendukung guna meningkatkan kunjungan wisata rohani Salib Kasih. Keberadaan fasilitas yang menjadi sarana tersebut dapat dilihat dalam Tabel 1. Fasilitas Tugu salib kecil Tugu Salib Kasih Kamar doa Relief Hall terbuka Mimbar doa Auditorium Patung Nommensen Gapura Tabel 1. Fasilitas Sarana dalam Kawasan Salib Kasih Fungsi Tahun Prasasti sejarah awal Salib Kasih Simbol Salib Kasih, tinggi 31 meter Tempat umat berdoa dalam bilik Prasasti sejarah misionaris Nommensen di Tanah Batak Tempat beribadah, kapasitas 600 orang Tempat para petugas kebaktian Tempat pagelaran seni Prasasti tokoh misionaris Pintu masuk Jumlah (Uni. Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 hal 1123 - 1136 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 Shelter Pendukung operasional Taman bermain Sarana bermain lapangan Bangunan toko Sarana penjualan cenderamata Sumber : UPT Salib Kasih Dinas Pariwisata Kabupaten Tapanuli Utara, 2019 Disamping itu Pemerintah Kabupaten Tapanuli telah meningkatkan kualitas sarana jalan sepanjang 5 Km menuju Kawasan Salib Kasih untuk memudahkan mobilitas para pengunjung dari bahan aspal lavent hingga menjadi aspal hotmix. Hal ini menunjukkan salah satu bentuk keseriusan dalam mengembangkan pariwisata rohani Kawasan Salib Kasih. Namun demikian, jalur utama yang dimiliki ini merupakan akses satu-satunya yang tercepat menuju lokasi Salib Kasih. Peningkatan sarana dan prasarana sebagai infrastruktur penunjang Salib Kasih diarahkan untuk mendukung sistem transportasi dan usaha pertanian dalam pengelolaan agrowisata sebagai suatu kesatuan Infra struktur tepat guna yang dibangun baik jenis dan bentuknya harus memiliki rancangan yang baik dengan tidak terlalu mengekploitasi sumber daya alam secara berlebihan, sehingga bisa meminimalisir dampak terhadap lingkungan (AMDAL). Dukungan sarana dan prasarana dalam pengelolaan agrowisata tetap mengedepankan ciri khas lokal, bentuk alami, kemudahan akses, kenyamanan tempat, serta keamanan bagi para pengunjung. Adapun beberapa fasilitas dimaksudantara lain, yaitu fasilitas tempat bermain, bangunan shelter . ermasuk bangunan kamar mandi dan sarana kebersiha. , serta rambu-rambu dan marka jalan. Pemenuhan sarana dan prasarana ini memperhatikan asas manfaat dan pemeliharaannya dimana masih terdapat beberapa fasilitas yang telah dibangun namun tidak terpelihara dengan baik, sehingga menjadi rusak. Hal ini merupakan harapan terbesar dari para Saat ini jalan menuju lokasi Salib Kasih ini hanya memiliki satu akses yaitu dari simpang Salib Kasih-Siatas Barita yang merupakan jalan nasional Tarutung-Sipirok. Akses jalan ini adalah jalan tanjakan curam dari awal simpang hingga tujuan lokasi Salib Kasih. Pengunjung wajib berhati-hati dalam mengendarai kendaraannya. Namun demikian, hal tersebut dapat diminimalisir dengan cara meningkatkan kualitas jalan wisata menjadi lebih baik dari sebelumnya dan memperhatikan keselamatan pemakai jalan dengan penambahan volume marka dan rambu-rambu jalan pada sudut-sudut jalan tertentu yang rawan terjadi kecelakaan. Dengan memperhatikan asas manfaat bahwa infrastruktur ini memang sangat dibutuhkan selain sebagai mobilisasi warga sekitar Salib Kasih juga sebagai alat penunjang jalur produksi dan pemasaran hasil bumi. Dan dalam pengelolaan wisata bahwa peningkatan sarana dan prasarana merupakan salah satu prinsip penyelengaraan kepariwisataan, yaitu menjamin keterpaduan antar sektor, antar daerah, antar pusat dan daerah yang merupakan satu kesatuan sistemik dalam kerangka otonomi daerah serta keterpaduan antar pemangku kepentingan. Upaya ini akan memberikan manfaat yang sangat berarti di Potensi Pengelolaan Agrowisata Perkembangan pariwisata di suatu tempat tidak bisa terjadi begitu saja, melainkan melalui suatu Proses tersebut dapat terjadi secara instan atau lambat tergantung dari pada faktor eksternal . inamika pasar, situasi politik dan ekonomi makr. , faktor internal di tempat yang bersangkutan, kreatifitas dalam mengelola aset yang dimiliki, serta dukungan pemeritah dan masyarakat . Kecenderungan saat ini, wisatawan global lebih tertarik untuk berkunjung ke desa-desa terpencil untuk melihat secara langsung sesuatu yang belum pernah dilihat di negaranya sendiri. Salah satu alternatif potensial yang dapat dikembangkan di daerah pedesaan adalah agrowisata untuk menarik minat para pengunjung dan memberi manfaat ekonomi bagi daerah tujuan wisata. Peluang ini perlu dikemas dalam konsep pemikiran masyarakat pedesaan untuk membentuk wilayah pengelolaan wisata sesuai karakteristik dan keunikan desa masing-masing. Penetapan Salib Kasih sebagai sebagai kawasan yang diperuntukan bagi pariwisata dengan minat khusus dan sebagai Kawasan Strategis dengan penekanan sosial budaya telah diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Utara Nomor 03 Tahun 2017 tentang RTRW Kabupaten Tapanuli Utara. Hal ini sejalan dengan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Sumatera Utara yang dituangkan pula dalam Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 5 Tahun 2018. Selanjutnya akan menjadi salah satu kunci pokok sebagai wilayah pengelolaan wisata yang terintegrasi. Wilayah pengelolaan wisata ini meliputi Salib Kasih dan kawasan sekitarnya termasuk kegiatan pertanian, kegiatan jasa penginapan dan travel, serta kegiatan wisata lainnya yang saling berkaitan. Adapun prinsip pengelolaan wisata yang dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip pola pemanfaatan yang optimal dan lestari. Keberlanjutan pengelolaan wilayah wisata berhubungan dengan aspek ekonomi. Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 hal 1123 - 1136 sosial, dan kelestarian lingkungan hidup atau yang biasa disebut sebagai 3 pilar utama pengelolaan sumber daya alam lestari. Pengelolaan wisata yang dilakukan dengan mengikutsertakan peranan berbagai pemangku Salah satu peranan ini berupa persepsi dan pola pikir untuk membentuk model pengelolaan wisata yang lebih tepat dengan memadukan konsep kearifan lokal dalam pemanfaatan lahan produktif yang terbentuk sebagai potensi agrowisata. Pengelolaan ini juga tetap memperhatikan peraturan dan kebijakan yang berlaku dalam memfasilitasi kelembagaan pengelola dan jejaringan serta meningkatkan promosi wisata untuk mencapai tujuan pengelolaan yang diharapkan. Pengelolaan wisata di Salib Kasih dilakukan dengan konsep agrowisata. Pada konsep dasarnya adalah menggambarkan tujuan pengembangan, potensi wisata, penggunaan lahan dan dukungan sarana dan prasarana yang telah tersedia. Selanjutnya adalah pengaturan lokasi objek wisata sesuai karakteristik lahan dan nilai ekologisnya. Pengembangan kawasan agrowisata diperlukan sebagai salah satu solusi dalam meningkatkan penggunaan lahan yang produktif, meningkatkan perekonomian warga dan ikut serta dalam pembangunan daerah . Berdasarkan wawancara terhadap para responden, beberapa petani menyampaikan kritikan rencana pengelolaan agrowisata. Diantara kritikan tersebut terdapat opini yang dapat dijadikan topik menarik dimana narasumber menyampaikan bahwa Aupengelolaan kawasan Salib Kasih tetap memperhatikan kepemilikan lahan . ebun dan ladan. masyarakat sekitarAy. Masyarakat berpendapat bahwa Ausehebat apapun rencana pengelolaannya bila tidak mengikutsertakan masyarakat lokal, tidak melestarikan budaya dan adat istiadat lokal, serta tidak menjaga lingkungan hidup maka tidak ada gunanyaAy. Warga juga menyampaikan bahwa ternak lebah madu menjadi primadona dan usaha ternak ini telah membantu beberapa daerah diluar Tapanuli Utara mengembangkan induk lebah. Namun disisi lain masih terdapat sejumlah narasumber yang tertutup dalam memberikan pendapatnya dan terkesan belum bisa menerima konsep pengelolaan agrowisata. Hal ini disampaikan karena Salib Kasih hanya sebatas sejarah pengembangan Kristen di tanah Batak . Ada pula yang berpendapat bahwa AuPengelolaan agrowisata ini perlu disebarluaskan melalui media sosial (Facebook. Whatsup. Twiter atau Instagra. agar semakin mudah dikenal masyarakat luasAy. Sementara itu, responden dari kelompok pemerintahan (Bappeda. UPT Salib Kasi. menyampaikan pendapat bersifat dukungan peningkatan fasilitas dan infrastruktur di sekitar lokasi. Responden menyampaikan bahwa perlu penyusunan kembali perencanaan pengelolaan kawasan Salib Kasih yang terintegrasi dengan dokumen perencanaan pembangunan pemerintah kabupaten Tapanuli Utara. Hal ini penting dilakukan agar perencanaan yang dipersiapkan lebih matang dan tetap melibatkan peranan masyarakat lokal. Secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa pendapat dari narasumber pada dasarnya menginginkan adanya pengelolaan wisata yang lebih baik dari sebelumnya di Salib Kasih, walaupun masih terdapat masyarakat yang belum bisa menerima rancangan pengembangan kawasan tersebut. Jika dikaji lebih jauh, sebenarnya penolakan ini dapat memicu konflik internal dalam masyarakat sekitar. Namun demikian, diharapkan penolakan tersebut lambat laun berubah menjadi penerimaan jika pengelolaan wisata mampu menumbuhkan harapan yang nyata meningkatkan pendapatan dan menjaga kelestarian lingkungan alam dengan bantuan dari pemerintah/pihak lainnya. Menurut beberapa narasumber pengelola Salib Kasih memiliki proyeksi pengelolaan wisata strategis Kabupaten Tapanuli Utara, seperti dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Rangkuman hasil wawancara No. Pertanyaan Letak Lokasi Kawasan Hutan Salib Kasih Letak dan Luas Lokasi Kawasan Hutan Salib Kasih Karakteristik Wilayah Kawasan Hutan Salib Kasih Kebijakan Pengelolaan Kawasan Hutan Pengembangan Pengelolaan Agrowisata Kawasan Salib Kasih Potensi budidaya pertanian dan peternakan Hasil Wawancara Desa Simorangkir Julu Kecamatan Siatas Barita Kabupaten Tapanuli Utara. Provinsi Sumatera Utara. Pada 01A54Ao-02A07Ao LU. 98A52Ao-99A04Ao BT seluas 72 Ha. Kawasan hutan Pinus. Potensi pengembangan jasa lingkungan, pertanian lahan kering. SK Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Nomor SK. 925/ Menlhk/ Setjen/ PLA. 0/ 12/ 2016. Diperlukan konsep pengelolaan agrowisata degan melihat sumber daya yang dimiliki Kawasan Salib Kasih. Memiliki potensi budidaya pertanian varietas jeruk/ hortikultura dan ternak sapi dan lebah. Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 hal 1123 - 1136 Pengelolaan sumber daya alam lingkungan Salib Kasih Pengelolaan produksi budidaya pertanian dan peternakan Persepsi masyarakat sekitar dalam konsep agrowisata Harapan pengelolaan Pandangan dan pendapat terkait pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan Pengelolaan Dampak Lingkungan Kerusakan lingkungan yang terjadi Kerugian yang diakibatkan Pengelolaan Dampak Lingkungan Kaitan dengan Pemerintah Menonjolkan budaya dan kearifan lokal dan adaptasi teknologi pengolahan lahan. Perlu bantuan pemerintah dalam menjaga harga produksi di pasar dan menjadi sentra produksi Diperlukan melibatkan masyarakat sekitar, perantau dan pengakuan hak milik lahan masyarakat. Adanya pelatihan pengelolaan agrowisata dengan Pemerintah dan Anak rantau. Membutuhkan waktu dan sosialisasi bagi berbagai pihak . asyarakat, pemerintah, pengunjung dan pengusaha wisat. Pengelolaan dampak lingkungan dipantau secara berkala melalui instansi terkait. Lokasi Kawasan Salib Kasih belum pernah terjadi kejadian kerusakan lingkungan. Belum ada Melakukan upaya sosialisasi terkait konservasi pengelolaan lingkungan hidup melalui instansi Pemerintah. Pengembangan jejaringan dengan LSM Pemerhati Lingkungan untuk memantau dan mengedukasi kepada masyarakat sekitar. Pemerintah memfasilitasi kegiatan pelatihan dalam rangka penguatan kelembagaan petani agrowisata sehingga terbentuk produk unggulan dan kearifan lokal yang dikembangkan dalam model pengelolaan agrowisata kawasan Salib Kasih. Sumber : Data Primer, 2018 Melihat potensi alam di kawasan Salib Kasih peluang pengelolaan agrowisata dengan sentral obyeknya adalah Salib Kasih sangat terbuka lebar. Bentang alam perbukitan dan pemandangan hutan pinus memberikan daya tarik tersendiri bagi pengunjungnya. Potensi tersebut menjadi modal utama dalam merumuskan model pengelolaan agrowisata dan jasa lingkungan. Identifikasi alternatif lokasi wisata yang dimiliki dengan jarak dan waktu tempuh yang diintegrasikan dengan Kawasan Salib Kasih sebagai pusat pengelolaan wisata rohani menjadi keunggulan lokasi ini. Dari data terkumpul, terdapat beberapa lokasi yang dapat menjadi model pengelolaan agrowisata yang dijabarkan sebagai berikut : Rumah Kapal Danau Tiberias Lokasi ini telah memiliki berbagai fasilitas yaitu bangunan rumah kapal Danau Tiberias, kolam renang berukuran kecil, tempat memandang panorama hutan sembari beristirahat dan fasilitas lain yang cukup memadai. Objek wisata alternatif ini terletak di jalan utama menuju Salib Kasih, berjarak sekitar 2 Km dan dapat dilalui dengan kendaraan bermotor. Disana terdapat pula taman bunga dengan suasana asri perbukitan kawasan hutan Pinus. Disamping itu, tersedia wisata kuliner lokal yang sesuai kebutuhan dengan harga terjangkau. Dari lokasi ini kita dapat menikmati pemandangan Kota Tarutung yang berbentuk AubelangaAy atau Aukuali masakAy. Kondisi lokasi rumah kapal dapat dilihat pada Gambar 3. Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 hal 1123 - 1136 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 Gambar 3. Rumah Kapal Danau Tiberias Sumber : Dokumentasi pribadi, 2020 Kebun Jeruk Masyarakat Lokasi ini berjarak sekitar 1 Km dari sebelah kiri arah jalan masuk Kawasan Salib Kasih di Desa Pea Tolong, yang dapat dilalui dengan berjalan kaki atau dengan kendaraan bermotor. Di kebun ini pengunjung dapat menikmati suasana pertanian masyarakat lokal berupa tanaman jeruk dan tanaman Tanaman jeruk sebagian masih dalam tahap permulaan, namun disebagian tempat telah Sedangkan tanaman holtikultura masih dalam proses awal pula dan belum bisa dipanen. Kebun seperti dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Kebun Jeruk Masyarakat Sumber : Dokumentasi pribadi, 2020 Peternakan Sapi di SMP Negeri 3 Muara Kecamatan Siatas Barita Lokasi peternakan ini di SMP Negeri 3 Muara Desa Simorangkir Julu. Kecamatan Siatas Barita yang harus melewati Kawasan Salib Kasih sejauh 4 Km. Di lokasi ini, kita dapat melihat pengelolaan ternak sapi peranakan Freiss Holstein, dari perawatan hingga pemerahan susu. Susu yang dihasilkan nantinya dijual sesuai dengan kebutuhan pasar, namun sebagian diberikan gratis kepada siswa-siswi sekolah tersebut. Pemberian susu gratis ini dilakukan PT. CIFA sebagai salah satu bentuk Community Social Responsibility (CSR). Peternakan Sapi dapat diliat seperti Gambar 5. Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 hal 1123 - 1136 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 Gambar 5. Peternakan di SMP Negeri 3 Muara Sumber : Dokumentasi pribadi, 2019 Peternakan Sapi Australia Lokasi peternakan ini terletak di jalan Simanampang, berjarak sekitar 15 Km dari Kawasan Salib Kasih yang dilalui dengan kendaraan bermotor. Peternakan ini merupakan milik pribadi yang fokus mengembangkan ternak sapi pedaging peranakan jenis Simental, yang dikelola dengan baik oleh beberapa tenaga ahli dari Australia dan lokal. Lokasi ini juga memiliki potensi trayek perjalanan terjauh yang terintegrasi dengan Kawasan Hutan Salib Kasih, seperti pada Gambar 6. Gambar 6. Peternakan Sapi Australia Sumber : Dokumentasi pribadi, 2019 Peternakan Lebah Madu Lokasi peternakan lebah madu ini terletak di Jalan Simanampang Kecamatan Siatas Barita, berjarak sekitar 8 Km dari Kawasan Salib Kasih yang dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor. lokasi ini kita mendapat pengetahuan dan edukasi beternak lebah yang menghasilkan madu asli dari Lokasi peternakan ini juga memiliki potensi sebagai model pengelolaan agrowisata dan menjadi trayek menengah yang terintegrasi dengan Kawasan Hutan Salib Kasih, sehingga bisa menjadi salah satu kombinasi alternatif trayek agrowisata didalam struktur model pengelolaannya. Lokasi peternakan dapat dilihat seperti pada Gambar 7. Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 hal 1123 - 1136 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 Gambar 7. Peternakan lebah madu Sumber : Dokumentasi pribadi, 2019 Model Pengelolaan Agrowisata Bukit Siatas Barita yang dikelilingi hutan Pinus memiliki panorama bentang alam yang indah dengan udara yang sejuk khas hutan Pinus. Dari bukit itu tampak kota Tarutung, yang terlihat seperti bentuk AubelangaAy atau Aukuali masakAy. Disamping itu, terdapat pula bentangan lahan luas yang memiliki potensi pengembangan pertanian. Ketiga hal ini diidentifikasi sebagai bagian kerangka pemikiran untuk menyusun model pengelolaan agrowisata di Kawasan Hutan Salib Kasih. Model ini beralaskan aspek konsep/pola pikir, konsep sosial dan konsep objek dan tujuan akhir dari model itu sendiri. Model ini juga menjadi miniatur pengelolaan agrowisata itu sendiri dan sebagai abstraksi pengelolaan yang akan dilaksanakan dengan menemukan variabel penting dan tepat dari pengelolaan yang bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat dan daerah. Model pengelolaan wisata di Kawasan Salib Kasih diharapkan akan terintegrasi dengan konsep potensi alternatif wisata lokal yang dapat dikelola sedemikian rupa sehingga memiliki daya tarik yang unik dan khas bagi pengunjung domestik maupun manca negara. Disamping itu terdapat peluang usaha jasa travel dan penginapan berupa hotel, rumah singgah maupun rumah tinggal . ome sta. yang akan dibutuhkan dalam pengelolaan berkelanjutan. Penerapan konsep ini akan memberikan efek kepada masyarakat untuk berkreatifitas dengan membuka peluang usaha lain dalam menjual produk kerajinan tangan atau kreatifitas pengembangan pentas budaya adat istidat masyarakat yang kental dengan kesukuannya sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar. Model pengelolaan agrowisata di lokasi penelitian ini adalah wisata rohani yang terintegrasi melalui kombinasi objek alam . , yaitu berupa panorama bentang alam dan hutan pinus. , yaitu berupa upacara keagamaan atau adat. dan buatan manusia . an mad. , yaitu berupa hasil perkebunan jeruk/holtikultura, peternakan dan ternak lebah madu masyarakat sekitar. Dalam implementasinya, pengelolaan ini juga harus mendapat dukungan dari Pemerintah dan masyarakat sekitar serta berbagai pemangku kepentingan . take holder. dengan tujuan memajukan kepariwisataan daerah yang khas, berkelanjutan dan lestari untuk meningkatkan pendapatan daerah. Adapun beberapa potensi alternatif wisata lokal yang dapat menjadi struktur model pengelolaan agrowisata yang terintegrasi dengan wisata rohani pada Kawasan Salib Kasih, yaitu: Alternatif Wisata Jarak Pendek Struktur model pengelolaan ini memanfaatkan jarak yang pendek dan waktu tempuh yang relatif pendek pula serta tidak membutuhkan waktu untuk menginap. Lokasi ini dapat ditempuh dengan berjalanan kaki atau dengan kendaraan bermotor sesuai keinginan kita. Adapun rute wisata ini melewati lokasi Rumah Kapal Danau Tiberias-Kawasan Salib Kasih-Kebun jeruk dan holtikultura masyarakat sekitar atau sebaliknya. Alternatif rute wisata ini akan memberikan kombinasi wisata rohani yang tidak monoton karena memberikan kombinasi wisata rohani Salib Kasih sambil mengunjungi kebun masyarakat terdekat dan beristirahat di rumah kapal untuk menikmati pemandangan kota Tarutung, atau sebaliknya. Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 hal 1123 - 1136 Alternatif Wisata Jarak Menengah Struktur model pengelolaan ini membutuhkan jarak yang cukup panjang dan waktu yang cukup lama namun tidak perlu menambah waktu untuk menginap. Lokasi ini sebaiknya ditempuh dengan kendaraan bermotor. Adapun rute wisata ini melewati lokasi Kawasan Salib Kasih-Peternakan Sapi di SMP Negeri 3 Muara-Rumah Kapal Nabi Nuh. Alternatif rute wisata ini akan memberikan kombinasi wisata rohani Salib Kasih sambil mengunjungi peternakan sapi SMP Negeri 3 Muara dan beristirahat di rumah kapal untuk menikmati pemandangan kota Tarutung, atau sebaliknya. Alternatif Wisata Jarak Jauh Struktur model pengelolaan ini membutuhkan jarak yang jauh dan waktu yang lama dan menambah waktu untuk menginap. Lokasi ini sebaiknya ditempuh dengan kendaraan bermotor. Adapun rute wisata ini melewati Kawasan Salib Kasih-Peternakan Sapi Australia-Peternakan Lebah Madu-Kebun Jeruk Masyarakat-Rumah Kapal Danau Tiberias-Penginapan/home stay. Alternatif rute wisata ini akan memberikan kombinasi wisata rohani Salib Kasih sambil mengunjungi peternakan sapi dan peternakan lebah serta mengunjungi kebun jeruk masyarakat dan beristirahat di rumah kapal untuk menikmati pemandangan kota Tarutung. Rute wisata ini membutuhkan kendaraan dan penginapan atau home stay sesuai kebutuhan, dapat dilihat pada Gambar 8. PENGELOLAAN AGROWISATA KAWASAN HUTAN SALIB KASIH Bangunan Salib Kasih. Panorama. Hutan Pinus. Lahan Pertanian PEMERINTAH PEMANGKU KEPENTINGAN POTENSI SUMBER DAYA LINGKUNGAN Kabupaten Tapanuli Utara Masyarakat sekitar. LSM. Pengunjung. Pelaku Usaha Persepsi dan Pola Pikir KEBIJAKAN PARIWISATA DAERAH - Penguasaan Lahan - Alih Fungsi Lahan - Fasilitas Jalan - Fasilitas Wisata C Peraturan Daerah C Penetapan RTWR C Peraturan Bupati PENGELOLAAN AGROWISATA TERINTEGRASI - Pengelolaan landscape - Pendekatan kearifan lokal - Pembinaan Kelembagaan Desa - Pengembangan Sentra unit Alternatif 2-Menengah Alternatif 1 - Pendek Alternatif 3 - Jauh - Souvenir - Budaya Daerah - Home stay - Jasa penginapan dan travel Pendapatan Masyarakat Dan Daerah Gambar 8. Skema model pengelolaan agrowisata Keterangan : __ garis keterkaitan garis penunjang Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 hal 1123 - 1136 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 Kesimpulan Model pengelolaan di Kawasan Hutan Salib Kasih adalah wisata rohani yang terintegrasi melalui kombinasi objek alam . , yaitu berupa panorama bentang alam dan hutan pinus. , yaitu berupa upacara keagamaan atau adat. dan buatan manusia . an mad. , yaitu berupa hasil perkebunan jeruk/ holtikultura, peternakan dan ternak lebah madu masyarakat sekitar dalam bentuk wisata-wisata alternatif. Sarana dan prasarana pendukung sudah cukup memadai namun tetap memperhatikan asas manfaat dan pemeliharaan terhadap beberapa fasilitas yang telah dibangun. Pengembangan obyek wisata ini memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar dengan pola pembangunan yang terintegrasi. Referensi